Anda di halaman 1dari 22

1

Pendahuluan
Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari
pematangan.
Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ
dan sistem yang berkembang sedemikian rupa perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku
sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.

Pemeriksaan Fisik
1

Antropometri Anak
Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan, dan ukuran komposisi tubuh
yang dibagi menjadi pengukuran lemak tubuh dan massa tubuh yang bebas lemak. Penilaian
pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hampir
setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain sosial dapat
memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat yang sangat penting untuk penilaian
pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan (growth chart) pada gambar terlampir, dilengkapi
dengan alat timbangan yang akurat, papan pengukur, stadiometer dan pita pengukur.
1


Berat badan dan tinggi/panjang badan
Pengukuran antropometri sesuai dengan cara-cara yang baku, beberapa kali secara
berkala misalnya berat badan anak diukur tanpa baju, mengukur panjang bayi dilakukan
oleh 2 orang pemeriksa pada papan pengukur (infantometer), tinggi badan anak diatas 2
tahun dengan berdiri diukur dengan stadiometer.
Lingkar kepala (untuk anak usia di bawah 2 tahun)
Yang diukur adalah lingkar kepala terbesar. Dengan meletakkan pita melingkari
kepala melalui glabela hingga bagian belakang kepala yang menonjol, yaitu protuberensia
oksipitalis.Pada waktu lahir lingkar kepala adalah sekitar 35 cm; umur 6 bulan 43,5 cm;
umur 1 tahun bertambah 12cm dari waktu lahir (sekitar 47cm); dan umur 6 tahun
bertambah sekitar 6cm (sekitar 53cm). Lingkar kepala dewasa sekitar 55 cm.

2


Lingkar lengan atas
Yang diukur adalah lengan atas. Daerah lengan yang diukur yaitu bagian tengah
lengan antara acromion dengan olecranon. Pengukuran antropometri pada anak sering
kali digunakan untuk mengetahui keseimbangan berat dengan tinggi badan. Di Indonesia
sendiri terdapat kartu pencatat yang biasa disebut KMS (Kartu Menuju Sehat).

Tes Denver II
2

Skrining perkembangan merupakan prosedur yang didesain untuk mengidentifikasi anak yang
harus mendapatkan penilaian yang lebih intensif. Skrining digunakan untuk mendeteksi deviasi
yang tak terduga dari perkembangan normal yang tidak seharusnya ada. Skrining digunakan
untuk deteksi dini kelainan perkembangan anak, agar diagnosis dan pemulihannya dapat
dilakukan lebih awal, sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin.
Pencapaian suatu kemampuan pada setiap anak bisa berbeda-beda, namun demikian ada patokan
umur tentang kemampuan apa saja yang perlu dicapai seorang anak pada umur tertentu.
Penilaian perkembangan anak meliputi identifikasi masalah-masalah perkembangan anak dengan
screening (skrining/penapisan/penjaringan) dan surveillance ukuran standar atau non standar,
yang juga digabungkan dengan informasi tentang perkembangan sosial, riwayat keluarga,
riwayat medik dan hasil pemeriksaan mediknya. Tes yang paling sering digunakan untuk menilai
perkembangan anak adalah Denver Developmental Screening Test-II (Denver II). Denver II
memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah
dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang tinggi.


a. Aspek perkembangan yang dinilai
Terdapat 125 tugas perkembangan untuk semua aspek perkembangan. Semua tugas
perkembangan itu disusun berdasarkan urutan perkembangan dan diatur dalam 4 kelompok
besar yang disebut sektor perkembangan, yang meliputi :
personal social (perilaku sosial),
fine motor adaptive (gerakan motorik halus),
language (bahasa)
3

gross motor (gerakan motorik kasar).

b. Alat yang dipergunakan dalam pengukuran perkembangan
Alat peraga meliputi benang wool merah, kismis atau manik-manik, kubus warna merah-
kuning-hijau-biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas dan pensil.
Lembar formulir Denver II.
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara
penilaiannya.
c. Prosedur Denver II terdiri dari dua tahap antara lain :
Tahap pertama, secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:
3 6 bulan
9 12 bulan
18 24 bulan
3 tahun
4 tahun
5 tahun
Tahap kedua, dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada
tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.
d. Cara pemeriksaan Denver II :
Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan
patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan
atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas
perkembangan pada formulir Denver II.
Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada mulai dari
motorik kasar, bahasa, motorik halus dan personal sosial. Setelah itu dihitung pada masing-
masing sektor, berapa yang P (Pass) dan berapa yang F (Fail).
Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan
dan tidak dapat dites.

4



e. Penilaian
Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer. Pada
anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun.
Interpretasi dari nilai Denver II adalah sebaga berikut.
P untuk Pass
Anak sukses melakukan item tersebut atau care giver melaporkan bahwa anak dapat
melakukan item tersebut.
F untuk Fail
Anak tidak dapat melakukan item tersebut atau care giver melaporkan bahwa anak tidak
dapat melakukan item tersebut.
N.O untuk No Opportunity
Anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan item tersebut.
R untuk Refusal
Anak menolak untuk mencoba item tersebut.

5


Gambar 1. Contoh Formulir Denver

6

Klasifikasi hasil tes :
1) Abnormal
- Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
- Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan plus 1 sektor atau lebih
dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak
yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
2) Meragukan
- Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih.
- Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak
ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
3) Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
4) Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.


Pemeriksaan penunjang lain yang harus dilakukan
Pemeriksaan fungsi penglihatan. Bayi dengan berat lahir kurang dari 1700 gram, 50 %
menderita ROP dan 5 % di antaranya ROP berat. Semua bayi dengan resiko tinggi harus
dilakukan pemeriksaan mata pada umur 4-6 minggu. Bila ditemukan kelainan, diperlukan
pemeriksaan berkala tiap 2 minggu, sehingga progesivitas penyakit dapat sangat
diketahui. Bila tidak ditemukan kelainan, pemeriksaan mata diulangi pada umur 12-24
bulan.
Pemeriksaan fungsi pendengaran. Tuli kongenital lebih sering ditemukan pada bayi
beresiko tinggi, termasuk bayi prematur. Intervensi dini akan memberikan perubahan
bermakna pada kesempatan bicara. Fungsi pendengaran perlu dievaluasi ulang pada umur
12-24 bulan
Pemantauan Gangguan lainnya. Bayi prematur mempunyai kemungkinan empat kali lebih
tinggi untuk dirawat kembali di rumah sakit dalam usia pertama kehidupan. Gangguan
yang mungkin timbul adalah gangguan hipersensitifitas saluran cerna, resiko penyakit
alergi meningkat, anemia defisiensi besi dan hipertensi.
7


Perkembangan Psikososial Teori Erikson
3
Erikson mengembangkan teori psikososial sebagai pengembangan teori psikoanalisis dari Freud.
Di dalam teori psikososial disebutkan bahwa tahap perkembangan individu selama siklus
hidupnya, dibentuk oleh pengaruh sosial yang berinteraksi dengan individu yang menjadi matang
secara fisik dan psikologis.
Inti teori Erik Erikson, yaitu:
1. Perkembangan emosional sejajar dengan pertumbuhan fisik.
2. Adanya interaksi antara pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis.
3. Adanya keteraturan yang sama antara pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis.
4. Dalam menuju kedewasaan, perkembangan psikologis, biologis, dan sosial akan menyatu.
5. Pada setiap saat anak adalah gabungan dari organisme, ego, dan makhluk sosial.
6. Perkembangan manusia dari sejak lahir hingga akhir hayat dibagi dalam 8 fase, dengan
tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada setiap fase.

Calvin S. Hall dan Gardner Lindsey (2000) menyatakan bahwa Erik Erickson membagi
perkembangan kepribadian individu menjadi 8 (delapan) tahap yang secara garis besar terbagi
menjadi:
1. Empat tahap pertama terjadi pada fase bayi dan fase kanak-kanak.
2. Tahap kelima terjadi pada fase remaja, yang memiliki arti sangat penting dalam teori
Erickson. Pada fase ini terjadi peralihan dari fase kanak-kanak ke fase dewasa, dan apa
yang terjadi pada fase remaja sangat menentukan terbentuknya kepribadian pada fase
dewasa, yaitu: identitas, krisis identitas, dan kekacauan identitas.
3. Tiga tahap terakhir terjadi pada fase dewasa dan fase tua.

1. Kepercayaan Dasar vs Ketidakpercayaan/Kecurigaan Dasar (masa bayi tahun pertama)
Timbulnya kepercayaan dasar diawali dari tahap sensorik-oral, ditandai bayi dengan tidur
tenang dan nyenyak, menyantap makanan dengan nikmat, dan defekasi dengan mudah dan
lancar.
Hal-penting yang perlu dipaparkan pada fase ini, yaitu:
- Timbulnya rasa aman pada diri anak yang terjadi akibat intraksi erat antara anak dan ibu.
8

- Dasar perkembangan rasa aman adalah pengaruh kualitas hubungan ibu dan anak bukan
kuantitas makanan atau bentuk kasih sayang yang berlebihan dari ibu kepada anak.
- Dari rasa aman, tumbuh kepercayaan dasar terhadap dunia luar.
- Apabila hubungan ibu dan anak tidak berkualitas akan timbul rasa tidak aman dan selanjutnya
tidak percaya terhadap dunia luar ataupun sesama manusia sehingga timbul kecurigaan dasar.
- Apabila tidak memperoleh kepercayaan dasar akan timbul gangguan kepribadian skizofrenia.
- Apabila tidak memperoleh kepercayaan terhadap dunia luar akan mengalami kepribadian
skizoid, yaitu hanya melihat dirinya sendiri (introvert) dan akan terjadi depresi apabila
mendapatkan stres.

2. Kemandirian (Otonomi) vs Perasaan Malu dan Keragu-raguan (masa bayi tahun
kedua)
Fase ini kurang lebih sejajar dengan fase anal menurut Freud. Hal-hal penting yang perlu
diketahui pada fase ini, yaitu:
- Individu mulai belajar menegakkan otonomi, namun belum dapat berpikir diskriminatif
(membedakan) sehingga diperlukan adanya bimbingan.
- Di satu sisi, lingkungan mengharapkan anak dapat mandiri, akan tetapi disisi lain ia
mendapatkan perlindungan dengan maksud agar anak terhindar dari rasa malu dan ragu.
- Anak secara bertahap berusaha untuk belajar mengendalikan diri secara mandiri.
Apabila berhasil tanpa kehilangan harga diri akan timbul rasa kebanggaan dan percaya diri.
- Apabila ia tidak diberikan kesempatan dan terlalu banyak dikendalikan dari luar akan timbul
bibit rasa malu dan ragu yang berlebihan.
- Gangguan kepribadian akibat ketidakberhasilan pada fase ini adalah anak memiliki
kepribadian obsesif-kompulsif dan bila parah memiliki kepribadian paranoid.


3. Inisiatif vs Rasa Bersalah (3-5 tahun)
Pada fase ini, anak sangat aktif dan banyak bergerak serta mulai mengembangkan
kemampuan untuk hidup bermasyarakat. Hal-hal penting yang perlu dipahami pada fase ini,
yaitu:
9

- Timbul inisiatif, yang ditandai anak sudah mulai merencanakan permainan bersama teman
sebaya yang dilakukan dengan gembira.
- Adanya keseimbangan perkembangan fisik dan psikologis.
- Sudah tertanam norma masyarakat yang diajarkan oleh orang tua maupun lingkungannya.
- Timbul rasa bersalah karena terjadi persaingan dengan orang tua sejenis. Terjadi setelah
dipahaminya norma masyarakat.
- Timbul kebencian kepada orang tua karena orang tua melakukan hal-hal yang semula dilarang
dilakukan anak.
- Sisa konflik yang dijumpai pada fase ini adalah reaksi histeris dan psikosomatik.

4. Berkarya vs Rasa Rendah Diri (6-12 tahun)
Fase ini kurang lebih sejajar dengan fase laten menurut Freud. Anak mulai memasuki
pendidikan formal. Anak berusaha merebut perhatian dan penghargaan atas karyanya.
Hal-hal penting yang perlu diketahui pada fase ini bahwa pada diri anak akan dijumpai:
Belajar menyelesaikan tugas yang diberikan guru atau orang lain.
- Mulai timbul rasa tanggung jawab.
- Mulai senang belajar bersama.
- Timbul perasaan rendah diri apabila dirinya kurang mampu dibanding temannya.

5. Identitas vs Kekacauan Identitas (12 - 18/20 tahun)
Fase ini sejajar dengan fase remaja menurut Freud. Pada fase ini dijumpai hal-hal sebagai
berikut.
- Berakhirnya fase kanak-kanak dan memasuki fase remaja.
- Pertumbuhan fisik yang pesat dan mencapai taraf dewasa.
- Orang tua sebagai figur identifikasi mulai luntur dan mencari figur identifikasi lain.
- Mulai ragu terhadap nilai-nilai yang selama ini diyakini dan dianutnya.
- Sering terjadi konflik pada saat mencari identitas diri sehingga apa yang dialami pada fase
anak muncul kembali.
- Dalam mencari identitas diri, anak sering mencoba berbagai macam peran untuk mencari
peran yang cocok dengan dirinya.
- Sikap coba-coba ini tidak jarang menjerumuskan remaja ke hal-hal negatif.
10

- Kebingungan peran diri dapat menimbulkan kelainan perilaku, yaitu kenakalan remaja dan
mungkin juga psikotik.

6. Keintiman vs Isolasi (masa awal dewasa 18/19 - 30 tahun)
Dapat disejajarkan dengan fase dewasa awal, yaitu berakhirnya fase remaja. Hal-hal penting
pada fase ini, yaitu:
- Terjadi hubungan yang intim dengan pasangannya.
- Terjadi hubungan tertutup dengan kedua orang tuanya.

7. Perhatian terhadap Apa yang Diturunkan vs Kemandekan (masa pertengahan dewasa
antara 20-50 tahun)
Hal-hal yang penting pada fase ini, yaitu:
- Adanya perhatian terhadap keturunan.
- Adanya perhatian terhadap apa yang dihasilkan (produk-produk).
- Adanya perhatian terhadap ide-ide.
- Pembentukan garis pedoman untuk generasi mendatang.
- Tumbuh nilai pemeliharaan, yang ditandai dengan adanya kepedulian, keinginan memberi
perhatian, berbagi dan membagi pengetahuan, serta pengalaman kepada orang lain.
- Apabila pada fase ini pembentukan garis pedoman untuk generasi yang akan datang lemah,
individu akan mengalami kemiskinan, kemunduran bahkan mungkin mengalami kemandekan
kepribadian.
- Tugas perkembangan yang harus diselesaikan adalah kreativitas berperan sebagai orang tua.

8. Integritas vs Keputusasaan (masa akhir dewasa 60 tahunan)
Integritas adalah keberhasilan dalam menyesuaikan diri terhadap keberhasilan dan kegagalan
dalam hidup. Hal-hal yang perlu dimengerti pada fase ini, yaitu:
- Apabila integritas tercapai, individu akan dapat menikmati keuntungan dari ketujuh tahap
sebelumnya dan merasa bahwa kehidupan itu bermakna.
- Individu menyadari gaya hidup individu lain, namun ia tetap memelihara dan
mempertahankan gaya hidupnya sendiri.
- Gaya hidup dan integritas kebudayaan merupakan warisan jiwa.
11

- Dapat timbul juga keputusasaan dalam menghadapi perubahan siklus kehidupan, kondisi
sosial dan historis, dan kefanaan hidup di hadapan kekekalan hidup (kematian) sehingga
kadang-kadang timbul perasaan bahwa hidup tidak berarti bahwa ajal sudah dekat, ketakutan
atau bahkan keinginan untuk mati.
- Tugas perkembangan yang harus diselesaikan, seperti penyesuaian terhadap perubahan-
perubahan dalam siklus hidupnya dan menyiapkan diri untuk menuju alam baka (kematian).

Teori Piaget - Tahap Perkembangan Kognitif
4
Piaget membagi tahap perkembangan kognitif ke dalam empat tahap, yaitu tahap sensorimotor,
tahap pra-operasional, tahap konkret operasional, dan tahap formal operasional.

Tahap 1: Sensorimotor (0-2 tahun).
Pada tahap ini anak menggunakan penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal
lingkungannya. Diawali dengan modifikasi refleks yang semakin lebih efisien dan terarah,
dilanjutkan dengan reaksi pengulangan gerakan yang menarik pada tubuhnya dan keadaan atau
objek yang menarik, koordinasi reaksi dengan cara menggabungkan beberapa skema untuk
memperoleh sesuatu, reaksi pengulangan untuk memperoleh hal-hal yang baru, serta permulaan
berpikir dengan adanya ketetapan objek. Pada masa sensorimotor, berkembang pengertian bahwa
dirinya terpisah dan berbeda dengan lingkungannya. Anak berusaha mengkoordinasikan
tindakannya dan berusaha memperoleh pengalaman melalui eksplorasi dengan indera dan gerak
motorik. Jadi, perkembangan skema kognitif anak dilakukan melalui gerakan refleks, motorik,
dan aktivitas indera. Selanjutnya, anak juga mulai mampu mempersepsi ketetapan objek.

Tahap 2: Pra-Operasional (2-7 tahun).
Pada fase ini anak belajar mengenal lingkungan dengan menggunakan simbol bahasa,
peniruan, dan permainan. Anak belajar melalui permainan dalam menyusun benda menurut
urutannya dan mengelompokan sesuatu. Jadi, pada masa pra-operasional anak mulai
menggunakan bahasa dan pemikiran simbolik. Mereka mulai mengerti adanya hubungan sebab-
akibat meskipun logika hubungannya belum tepat, mampu mengemukakan alasan dalam
menyatakan pendapat atau ide, mulai dapat mengelompokan sesuatu, serta perbuatan rasionalnya
belum didukung oleh pemikiran tetapi oleh perasaan.
12


Tahap 3: Konkret Operasional (7-11 tahun).
Pada masa ini anak sudah bisa melakukan berbagai macam tugas mengkonservasi angka
melalui tiga macam proses operasi, yaitu:
a). negasi sebagai kemampuan anak dalam mengerti proses yang terjadi di antara kegiatan dan
memahami hubungan antara keduanya;
b). resiprokasi sebagai kemampuan untuk melihat hubungan timbal balik; serta
c). identitas dalam mengenali benda-benda yang ada.
Dengan demikian, pada tahap ini anak sudah mampu berpikir konkret dalam memahami
sesuatu sebagaimana kenyataannya, mampu mengkonservasi angka, serta memahami konsep
melalui pengalaman sendiri dan lebih objektif.

Tahap 4: Formal Operasional (11 tahun dewasa).
Pada fase ini anak sudah dapat berpikir abstrak, hipotetis, dan sistematis mengenai sesuatu
yang abstrak dan memikirkan hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Jadi, pada tahap ini anak
sudah mampu meninjau masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan
alternatif/kemungkinan dalam memecahkan masalah, bernalar berdasarkan hipotesis,
menggabungkan sejumlah informasi secara sistematis, menggunakan rasio dan logika dalam
abstraksi, memahami arti simbolik, dan membuat perkiraan di masa depan.







Teori Perkembangan Moral Menurut Kolhberg
5
A. Makna Perkembangan Moral
Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang
anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung
sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social
13

self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya.
Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral, sebab perilaku
moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seorang
siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadahi apabila menguasai pemikiran
norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang
diperlukan. Seperti dalam proses perkembangan yang lainnya, proses perkembangan sosial dan
moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan
sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik
dilingkungan sekolah,keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa
proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang
selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku
dalam masyarakat. Dalam dunia psikologi belajar terdapat aneka ragam mazhab (aliran
pemikiran) yang berhubungan dengan perkembangan moral. Diantara ragam mazhab
perkembangan sosial ini paling menonjol dan layak dijadikan rujukan adalah :
1. Aliran teori cognitive Psychology dengan tokoh utama Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg.
2. Aliran teori Social Learning dengan tokoh utama Albert. Bandura dan R.H Walters.
Pada tokoh-tokoh psikologi tersebut telah banyak melakukan penelitian yang mana
pada penelitiannya setiap tahapan perkembangan sosial anak selalu dihubungkan
dengan perkembangan perilaku moral yaitu perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat. Salah satu teori perkembangan moral adalah teori menurut Kohlberg.

B. Teori Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
Menurut teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan
terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Dalam Teori Kohlberg
mendasarkan teori perkembangan moral pada prinsip-prinsip dasar hasil temuan Piaget. Menurut
Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan
anak-anak. Dalam wawancara , anak-anak diberi serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya
menghadapi dilema-dilema moral. Berikut ini ialah dilema Kohlberg yang paling populer:
Setelah membaca cerita, anak-anak yang menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan
tentang dilema moral. Berdasarkan penalaran-penalaran yang diberikan oleh responden dalam
merespon dilemma moral ini dan dilema moral lain. Dengan adanya cerita di atas menurut
14

Kohlberg menyimpulkan terdapat 3 tingkat perkembangan moral, yang masing-masing ditandai
oleh 2 tahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg,
ialah internalisasi yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara
eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
Teori Perkembangan moral dalam psikologi umum menurut Kohlberg terdapat 3 tingkat dan 6
tahap pada masing-masing tingkat terdapat 2 tahap diantaranya sebagai berikut:

Tingkat Satu : Penalaran Prakonvensional.
Penalaran Prakonvensional adalah : tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan
moralKohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral-
penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Dengan kata lain
aturan dikontrol oleh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah
dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman.
Tahap I. Orientasi hukuman dan ketaatan
Yaitu : tahap pertama yang mana pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman
dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat.
Tahap II. Individualisme dan tujuan
Pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri.
Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah
taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan
hadiah.

Tingkat Dua : Penalaran Konvensional
Penalaran Konvensional merupakan suatu tingkat internalisasi individual menengah dimana
seseorang tersebut menaati stndar-stndar (Internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati
stndar-stndar orang lain (eksternal) seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.
Tahap III. Norma-norma Interpersonal
Yaitu : dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian dan kesetiaan kepada orang lain
sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang anak mengharapkan dihargai oleh
orang tuanya sebagai yang terbaik.
Tingkat IV. Moralitas Sistem Sosial
15

Yaitu : dimana suatu pertimbangan itu didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-
hukum, keadilan, dan kewajiban.

Tingkat Tiga : Penalaran Pascakonvensional
Yaitu : Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas benar-benar diinternalisasikan dan
tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral
alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.
Tahap V. Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual
Yaitu : nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda
dari satu orang ke orang lain.
Tahap VI. Prinsip-prinsip Etis Universal
Yaitu : seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-
hak manusia universal. Dalam artian bila sseorang itu menghadapi konflik antara hukum dan
suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati.

Pada perkembangan moral menurut Kohlberg menekankan dan yakin bahwa dalam ketentuan
diatas terjadi dalam suatu urutan berkaitan dengan usia. Pada masa usia sebelum 9 tahun
anak cenderung pada prakonvensional. Pada masa awal remaja cenderung pada konvensional dan
pada awal masa dewasa cenderung pada pascakonvensional. Demikian hasil teori perkembangan
moral menurut kohlberg dalam psikologi umum. Ketika kita khususkan dalam memandang teori
perkembangan moral dari sisi pendidikan pada peserta didik yang dikembangkan pada
lingkungan sekolah maka terdapat 3 tingkat dan 6 tahap yaitu :

Tingkat Satu : Moralitas Prakonvensional
Yaitu : ketika manusia berada dalam fase perkembangan prayuwana mulai dari usia 4-10
tahun yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.Yang aman dimasa ini
anak masih belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada tingkat pertama
ini terdapat 2 tahap yaitu :
Tahap 1. Orientasi kepatuhan dan hukuman.
Adalah penalaran moral yang yang didasarkan atas hukuman dan anak-anak taat karena
orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Dengan kata lain sangat memperhatikan
16

ketaatan danhukum. Dalam konsep moral menurut Kohlberg ini anak menentukan keburukan
perilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut. Sedangkan perilaku baik akan
dihubungkan dengan penghindaran dari hukuman.
Tahap 2. Memperhatikan Pemuasan kebutuhan.
Yang bermakna perilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan
sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.

Tingkat Dua : Moralitas Konvensional
Yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana pada usia
10-13 tahun yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada Tingkat II
ini terdapat 2 tahap yaitu :
Tahap 3. Memperhatikan Citra Anak yang Baik
Maksudnya : anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral agar dapat
memperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk menghindari hukuman. Semua perbuatan
baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya, jadi ada perkembangan kesadaran terhadap
perlunya aturan. Dalam hal ini terdapat pada pendidikan anak. Pada tahap 3 ini disebut juga
dengan Norma-Norma Interpernasional ialah : dimana seseorang menghargai kebenaran,
keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan
moral. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya sambil mengharapkan
dihargai oleh orang tuanya sebagi seorang anak yang baik.
Tahap 4. Memperhatikan Hukum dan Peraturan.
Anak dan remaja memiliki sikap yang pasti terhadap wewenang dan aturan. Hukum harus
ditaati oleh semua orang.



Tingkat Tiga : Moralitas Pascakonvensional
Yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana dari
mulai usia 13 tahun ke atas yang memandang moral lebih dari sekadar kesepakatan tradisi sosial.
Dalam artian disini mematuhi peraturan yang tanpa syarat dan moral itu sendiri adalah nilai yang
harus dipakai dalam segala situasi. Pada perkembangan moral di tingkat 3 terdapat 2 tahap yaitu :
17

Tahap 5. Memperhatikan Hak Perseorangan.
Maksudnya dalam dunia pendidikan itu lebih baiknya adalah remaja dan dewasa
mengartikan perilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan ddan patokan sosial.
Perubahan hukum dengan aturan dapat diterima jika ditentukan untuk mencapai hal-hal
yang paling baik. Pelanggaran hukum dengan aturan dapat terjadi karena alsan-alasan tertentu.

Tahap 6. Memperhatikan Prinsip-Prinsip Etika
Maksudnya : Keputusan mengenai perilaku-perilaku sosial berdasarkan atas prinsip-prinsip
moral, pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan
kepentingan orang lain.
Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat meskipun sewaktu-
waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk menetapkan aturan sosial. Contoh : Seorang
suamiyang tidak punya uang boleh jadi akan mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa
istrinyadengan keyakinan bahwa melestarikan kehidupan manusia merupakan kewajiban moral
yanglebih tinggi daripada mencuri itu sendiri

Tumbuh Kembang Anak Sehat
6
Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi
saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan
berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur dengan
ukuran berat (gram, kilogram) dan ukuran panjang (cm, meter), sedangkan perkembangan adalah
bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh
bagian tubuh sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga
perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil berinteraksi dengan
lingkungannya.

Secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu:
1. Faktor genetik
Faktor genetik ini yang menentukan sifat bawaan anak tersebut. Kemampuan anak merupakan
ciri-ciri yang khas yang diturunkan dari orang tuanya.
2. Faktor lingkungan
18

Yang dimaksud lingkungan yaitu suasana di mana anak itu berada. Dalam hal ini lingkungan
berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang sejak dalam
kandungan sampai dewasa. Lingkungan yang baik akan menunjang tumbuh kembang anak,
sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat tumbuh kembangnya.

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum dibagi menjadi 3 kebutuhan
dasar yaitu:
1. Kebutuhan fisik-biomedis (ASUH)
Meliputi:
pangan/gizi
perawatan kesehatan dasar: imunisasi, pemberian ASI, penimbangan yang teratur,
pengobatan
pemukiman yang layak
kebersihan perseorangan, sanitasi lingkungan
pakaian
rekreasi, kesegaran jasmani
2. Kebutuhan emosi/kasih sayang (ASIH)
Kasih sayang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk
menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental, atau psikososial.
3. Kebutuhan akan stimulasi mental (ASAH)
Stimulasi mental mengembangkan perkembangan kecerdasan, kemandirian, kreativitas,
agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas dan sebagainya.
Anak yang mendapat ASUH, ASIH, dan ASAH yang memadai akan mengalami tumbuh
kembang yang optimal sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya.


Stimulasi Dalam Tumbuh Kembang Anak
Kemampuan dan tumbuh kembang anak perlu dirangsang oleh orang tua agar anak dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai umurnya. Stimulasi adalah perangsangan
(penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang
19

mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang
bahkan tidak mendapat stimulasi.
Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak.
Berbagai macam stimulasi seperti stimulasi visual (penglihatan), verbal (bicara), auditif
(pendengaran), taktil (sentuhan) dll dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan kebutuhan anak
sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Pada tahap perkembangan awal anak berada pada
tahap sensori motorik. Pemberian stimulasi visual pada ranjang bayi akan meningkatkan
perhatian anak terhadap lingkungannya, bayi akan gembira dengan tertawa-tawa dan menggerak-
gerakkan seluruh tubuhnya. Tetapi bila rangsangan itu terlalu banyak, reaksi dapat sebaliknya
yaitu perhatian anak akan berkurang dan anak akan menangis.
Pada tahun-tahun pertama anak belajar mendengarkan. Stimulus verbal pada periode ini
sangat penting untuk perkembangan bahasa anak pada tahun pertama kehidupannya. Kualitas
dan kuantitas vokal seorang anak dapat bertambah dengan stimulasi verbal dan anak akan belajar
menirukan kata-kata yang didengarnya. Tetapi bila simulasi auditif terlalu banyak (lingkungan
ribut) anak akan mengalami kesukaran dalam membedakan berbagai macam suara.
Stimulasi visual dan verbal pada permulaan perkembangan anak merupakan stimulasi awal
yang penting, karena dapat menimbulkan sifat-sifat ekspresif misalnya mengangkat alis,
membuka mulut dan mata seperti ekspresi keheranan, dan lain-lain.
Selain itu anak juga memerlukan stimulasi taktil, kurangnya stimulasi taktil dapat
menimbulkan penyimpangan perilaku sosial, emosional dan motorik.
Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang diperlukan anak, misalnya dengan
bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain dan lain-lain. Stimulasi ini akan menimbulkan
rasa aman dan rasa percaya diri pada anak, sehingga anak akan lebih responsif terhadap
lingkungannya dan lebih berkembang.
Pada anak yang lebih besar yang sudah mampu berjalan dan berbicara, akan senang
melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap lingkungannya. Motif ini dapat diperkuat atau
diperlemah oleh lingkungannya melalui sejumlah reaksi yang diberikan terhapap perilaku anak
tersebut. Misalnya anak akan belajar untuk mengetahui perilaku mana yang membuat ibu
senang/mendapat pujian dari ibu, dan perilaku mana yang mendapat marah dari ibu. Anak yang
20

dibesarkan dalam lingkungan yang responsif akan memperlihatkan perilaku eksploratif yang
tinggi.
Stimulasi verbal juga dibutuhkan pada tahap perkembangan ini. Dengan penguasaan bahasa,
anak akan mengembangkan ide-idenya melalui pertanyaan-pertanyaan, yang selanjutnya akan
mempengaruhi perkembangan kognitifnya (kecerdasan).
Pada masa sekolah, perhatian anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, perhatian mulai
teralih ke teman sebayanya. Akan sangat menguntungkan apabila anak mempunyai banyak
kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Melalui sosialisasi anak akan
memperoleh lebih banyak stimulasi sosial yang bermanfaat bagi perkembangan sosial anak.
Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program untuk anak-anak prasekolah yang
bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak sedini mungkin, dengan menggunakan APE
(alat permainan edukatif). APE adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna
untuk pengembangan aspek fisik (kegiatan-kegiatan yang menunjang atau merangsang
pertumbuhan fisik anak), aspek bahasa (dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang
benar), aspek kecerdasan (dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna dll.), dan aspek
sosial (khususnya dalam hubungannya dengan interaksi antara ibu dan anak, keluarga, dan
masyarakat).
Bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang adalah makanan yang penting untuk
perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan makan untuk pertumbuhan badan. Bermain bagi
anak tidak sekedar mengisi waktu luang saja, tetapi melalui bermain anak belajar mengendalikan
dan mengkoordinasikan otot-ototnya, melibatkan perasaan, emosi, dan pikirannya. Sehingga
dengan bermain anak mendapat berbagai pengalaman hidup, selain itu bila dikakukan bersama
orang tuanya hubungan orang tua dan anak menjadi semakin akrab dan orang tua juga akan
segera mengetahui kalau terdapat gangguan perkembangan anak secara dini.
Buku bacaan anak juga penting karena akan menambah kemampuan berbahasa,
berkomunikasi, serta menambah wawasan terhadap lingkungannya.
Untuk perkembangan motorik serta pertumbuhan otot-otot tubuh diperlukan stimulasi yang
terarah dengan bermain, latihan-latihan atau olah raga. Anak perlu diperkenalkan dengan olah
raga sedini mungkin, misalnya melempar/menangkap bola, melompat, main tali, naik sepeda dll).
21

Seorang ahli mengatakan bahwa prioritas untuk anak adalah makanan, perawatan kesehatan,
dan bermain. Makanan yang baik, pertumbuhan yang adekuat, dan kesehatan yang terpelihara
adalah penting, tetapi perkembangan intelektual juga diperlukan. Bermain merupakan sekolah
yang berharga bagi anak sehingga perkembangan intelektualnya optimal.
Di bawah ini ada beberapa contoh alat permainan balita dan perkembangan yang distimuli:
1. Pertumbuhan fisisk/motorik kasar:
Sepeda roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik atau didorong
2. Motorik halus:
Gunting, pensil, bola, balok, lilin.
3. Kecerdasan/kognitif:
Buku bergambar, buku cerita, puzzle, lego, boneka, pensil warna, radio.
4. Bahasa:
Buku bergambar, buku cerita, majalah, radio tape, TV
5. Menolong diri sendiri:
Gelas/piring plastik, sendok, baju, sepatu, kaos kaki
6. Tingkah laku social:
Alat permainan yang dapat dipakai bersama, misalnya congklak, kotak pasir,
bola, tali.

Kesimpulan
Bahwa setiap tahap-tahap dari teori yang ada telah ditentukan sesuai dengan umur anak akan
sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhannya, dan juga setiap pemeriksaan-
pemeriksaan seperti antropometri dan test denver sangat berguna terhadap anak sehingga
pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan dengan baik. Tidak terlepas juga dari orang
tua yang memiliki peran penting dan orang-orang di sekitar anak ini dalam membimbing apa
yang akan lakukan untuk dapat membimbing dan menuntun anak tersebut


Daftar pustaka
1. Matondang Corry S, Wahidiyat Iskandar, Sastroasmoro Sudigdo. Diagnosis fisis pada
Anak. Jakarta: PT Sagung Seto; 2003.h.1-33.
22

2. Abdoerrachman MH, Affandi M.B, Alatas H, etc. Ilmu kesehatan anak 3. Jakarta: FK
Universitas Indonesia; 2009. h.1149
3. Sunaryo. Psiologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC; 2004.h.49-54
4. Wong DL, Eaton MH, Wilson D, etc. Buku ajar keperawatan pediatric wong. Ed 6.
Jakarta: EGC; 2009.h.119-20
5. Parson PJ. Etika public relations paduan praktik terbaik. Jakarta: Erlangga; 2004.h.50-3
6. Gibney MJ, Margetts BM, Kearney JM, etc. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC;
2009. h. 325-47.
.