Anda di halaman 1dari 21

1

Pendahuluan
Osteoarthritis adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan degenerasi tulang dan
kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut.
1
Osteoarthritis yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif, arthritis degeneratif,
osteoarthrosis, atau arthritis hipertrofik, merupakan salah satu masalah kedokteran yang paling
sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang orang usia lanjut maupun setengah baya.
Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering mengenai wanita, dan merupakan penyebab
tersering disabilitas jangka panjang pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun. Lebih dari
sepertiga orang dengan usia lebih dari 45 tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi
mulai sensasi kekakuan sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan
aktivitas, sampai kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap, biasanya dirasakan
akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi.
2
Degenerasi sendi yang menyebabkan sindrom klinis osteoartritis muncul paling sering pada
sendi tangan, kaki, panggul, dan spine, meskipun dapat terjadi pada sendi synovial mana pun.
Prevalensi kerusakan sendi synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia.
1

Anamesis
a. Identitas pasien
b. Keluhan utama
Pada kasus di atas keluhan utama pasien adalah nyeri pada lutut kanan dan kiri sejak 2 tahun
yang lalu.
c. Riwayat penyakit dahulu
i. Keadaan umum kesehatan
ii. Penyakit terdahulu
Adakah kelainan sendi atau tulang sebelumnya?
iii. Cedera
Pernahkah pasien menjalani operasi seperti penggantian sendi?
iv. Obat-obatan
Tanyakan pada pasien mengenai analgesic, OAINS, kortikosteroid, imunosupresan lain,
penisilamin, emas, dan klorokuin.
d. Riwayat pekerjaan dan lingkungan
e. Riwayat keluarga
2


Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan meliputi look (inspeksi), feel (palpasi) dan move
(menggerakan sendi-sendi). Pemeriksaan osteoarthritis difokuskan pada sendi-sendi dengan
kemungkinan terbesar terkena penyakit ini, yaitu sendi pangkal paha, lutut serta pergelangan
kaki.
3
Pada persendian di daerah pangkal paha pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
Inspeksi
Pemeriksaan sendi pangkal paha dapat dimulai ketika pasien memasuki ruang periksa. Yang
perlu diperhatikan ialah fase berdiri dan fase mengayun. Fase berdiri ialah pada saat kaki
mengenai tanah dan menyangga beban tubuh. Sedangkan fase mengayun ialah fase disaat
kaki bergerak ke depan dan tidak menyangga beban tubuh. Cara berjalannya harus terlihat
lancar dengan irama yang berkesinambungan. Selain itu dapat dilihat pemukaan anterior dan
posterior sendi pangkal paha untuk menemukan bagian yang mengalami atrofi otot maupun
memar.
3

Gambar 1 : Fase Berjalan Normal

Palpasi
Pada perabaan dapat ditemukan bagian-bagian os coxae seperti SIAS, krista illiaka, dan
tuberkulum illiaka di permukaan anterior sendi. Pada permukaan posterior ditemukan
trokanter mayor dan tuber iskiadikum.
Jika terasa nyeri pada sendi pangkal paha dapat dilakukan palpasi bursa illiopektineal yang
berada pada bidang yang lebih dalam dari ligamentum inguinalis.
3

Kisaran gerak dan manuver
Gerakan pada sendi pangkal pada meliputi fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi dan rotasi.
Khusus untuk osteoarthritis biasanya dijumpai keterbatasan pada abduksi. Selain itu
gangguan pada rotasi internal merupakan suatu indikator yang sensitif terhadap penyakit
sendi pangkal paha. Biasanya hal ini juga diikuti dengan gangguan pada rotasi eksternal.
3
Pada sendi lutut dan tungkai bawah juga dapat dilakukan pemeriksaan yang dengan pola yang
sama, yaitu:
Inspeksi
Perhatikan aliran gerak pasien saat berjalan memasuki ruang periksa. Lutut harus
diekstensikan ketika tumit menyentuh tanah dan difleksikan pada siklus berdiri dan
mengayun. Pada penderita osteoarthritis sering terdapat pembengkakan sendi lutut dan
kantong suprapatela sehingga cekungan normal di sekitar patela menghilang.
3
Palpasi
Pada posisi duduk palpasi akan lebih mudah dilakukan karena semua patokan tulang terlihat
dengan lebih jelas. Ibu jari dapat digunakan untuk meraba cekungan lunak yang terletak di
kedua sisi patela. Selain itu dapat juga diraba kondilus medialis femur serta tepi atas plateau
medialis tibia.
Pada perabaan juga tanyakan pada pasien apakah ada nyeri tekan. Rasa nyeri dan krepitasi
merupakan indikasi adanya pergesekan antara os tibia dan os femur. Hal ini dapat terjadi
akibat berkurangnya cairan sendi maupun pembentukan spur/osteofit yang kerapkali dapat
ditemukan pada penderita osteoarthritis.
3

Pada osteoarthritis terjadi efusi banyak di sendi. Hal ini dapat menyebabkan kompresi sendi
sehingga cairan tersebut dapat menyemprot ke dalam rongga yang berada di dekat patella.
Gelombang cairan dapat dideteksi dengan tes tertentu seperti tes balon.
Kisaran gerak dan manuver
Gerakan sendi lutut yang terutama adalah fleksi, ekstensi, rotasi internal dan eksternal. Pada
penderita osteoarthritis biasanya ditemukan pengurangan range of movemen / ROM.
Terutama pada gerakan fleksi-ekstensi. Normalnya pada pergerakan ini pasien setidaknya
dapat mencapai ROM sebesar 120
o
. Namun sudut ini dapat menurun pada penderita
osteoarthritis. Umumnya pasien akan kesulitan melakukan fleksi yang dalam seperti pada
saat berlutut.
3
4

Pergelangan kaki dan kaki juga merupakan tempat yang sering terjadi perubahan radiografi
akibat terjadinya proses peradagan. Oleh karena itu pemeriksaan di daerah ini tidak kalah
pentingnya.
Inspeksi
Amati apakah ada deformitas, noduli maupun pembengkakan di daerah pergelangan kaki.
Palpasi
Pemeriksaan dengan menggunakan kedua ibu jari di daerah anterior setiap sendi
pergelangan kaki dengan memperhatikan adanya pembengkakan serta nyeri tekan. Selain itu
dapat dilakukan perabaan pada daerah posterior yaitu pada tendon Achiles untuk
menemukan adanya noduli dan nyeri tekan. Selain itu lakukan pula palpasi pada artikulasio
metatarsofalangeal. Nyeri pada daerah ini lebih mengindikasikan ke arah penyakit arthritis
gout.
3
Kisaran gerak dan manuver
Pergerakan pada pergelangan kaki meliputi gerakan fleksi dan ekstensi serta gerakan inversi
dan eversi.
Secara umum pada pemeriksaan osteoarthritis didapatkan nyeri sendi yang dapat disertai
dengan gangguan pergerakan pada sendi yang terkena peradangan.

Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan artosentesis sebagai suatu indikasi untuk
memastikan diagnosis. Namun perlu diperhatikan kontraindikasi yaitu pada sendi yang tidak
stabil. Hal ini biasanya terjadi pada tingkat ostearthritis yang lebih tinggi dimana terjadi
deformitas. Selain itu pada osteoarthritis yang sudah parah juga dapat ditemukan gangguan sendi
celah sendi menyempit dan jmlah cairan sendi berkurang. Pengambilan cairan sendi akan
semakin memperburuk keadaan pada kondisi ini.
4
Pada artrosentesis dapat dilakukan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, tes mikrobiologi,
tes kimia serta tes imunologi. Pada pemeriksaan makroskopik yang dapat dilihat ialah warna
cairan sendi, tes musin, tes viskositas dan melihat bekuan dalam sendi. Diantara keempat jenis
tes tersebut hanya tes warna yang masih bisa digunakan untuk kasus osteoarthritis. Pada tes
warna umumnya didapatkan perubahan warna cairan sendi dari bening menjadi warna kuning
jernih. Tes yang lain umumnya tetap terlihat seperti keadaan normal.

5


Gambar 2: Warna Cairan Sendi Pada Penderita Osteoarthritis

Selain itu angka normal juga ditunjukan pada pemeriksaan hitung sel darah dan laju endap
darah darah. Pemeriksaan imunologi seperti pemeriksaan C-Reactive Protein, Anti Nuclear
Antibodies serta Rheumatoid Factor juga tidak banyak membantu karena hasilnya tetap normal.
Akan tetapi ketiga pemeriksaan ini bisa digunakan untuk membedakan osteoarthritis terhadap
jenis penyakit sendi yang lain seperti rheumatoid arthritis.
4
C-Reactive Protein ialah suatu protein yang dilepaskan secara cepat pada proses peradangan
akut. Pada 70-80 % penderita rheumatoid arthritis didapatkan peningkatan kadar CRP.
Sedangkan Rheumatoid Factor merupakan antibodi terhadap bagian Fc (constant region) dari
immunoglobulin G yang ditemukan pada 80% penderita rheumatoid arthritis. Tes Anti Nuclear
Antibodies umumnya meningkat pada 70% penderita Sistemic Lupus Eritomatosus dan pada
20% penderita rheumatoid arthritis. Sehingga ketiga tes tadi bisa digunakan untuk
menyingkirkan kemungkinan pasien terkena osteoarthritis bila didapatkan hasil yang positif.
4
Lantas jenis pemeriksaan apa yang dapat kita gunakan untuk memastikan diagnosis
osteoarthritis? Pemeriksaan radiologi ialah jenis pemeriksaan yang cukup akurat dan meyakinkan
dalam diagnosis penyakit ini. Pada pemeriksaan radiologi umumnya didapatkan penyempitan
pada rongga sendi yang disertai dengan sklerosis tepi persendian. Mungkin pula terdapat
deformitas, pembentukan kista juksta artikular serta pembentukan spur/osteofit. Kadang bisa
didapatkan liping pada tepi tulang serta adanya tulang yang lepas.
5


6

Berdasarkan gambaran radiologisnya, dua orang ahli yaitu Kellgren dan Lawrance
menetapkan lima derajat osteoarthritis, yaitu:
Derajat 0 : normal, celah sendi baik, tidak ada osteofit dan kista subkondral.
Derajat 1 : adanya penyempitan celah sendi yang meragukan dan adanya kemungkinan
pembentukan osteofit.
Derajat 2 : adanya osteofit yang disertai dengan kemungkinan penyempitan pada celah
sendi.
Derajat 3 : jumlah osteofit yang lebih dari satu, penyempitan celah sendi, beberapa
gambaran sklerotik pada tulang yang disertai dengan kemungkinan adanya
deformitas tulang.
Derajat 4 : osteofit yang besar, celah sendi yang menyempit, sklerosis dalam tingkatan yang
parah serta didapatkan adanya deformitas pada tulang.


Gambar 3: Osteoarthritis Sendi Lutut Derajat 3

Derajat ini digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit serta penanganan yang
tepat terhadap tingkat penyakit tersebut. Selain pemeriksaan radiologi, dapat pula dilakukan
pemeriksaan resonansi magnetik (MRI) serta artoskopi untuk mendukung diagnosis
osteoarthritis.
4

Terdapat bermacam-macam marker molekular yang dapat ditemukan pada cairan sinovial
maupun dalam serum pasien OA yang berasal dari komponen ekstraartikular matriks yang dapat
digunakan sebagai penanda biokimia timbulnya penyakit ini. Contohnya ialah core protein
7

epitopes, keratan sulfate epitopes, cartilage matrix proteins dan type II colagen C-propeptide.
Semua biomarker tadi akan meningkat kadarnya dalam cairan sendi penderita osteoarthritis.
4

Gejala Klinis
Pada umumnya pasien osteoartritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah
berlangsung lama tetapi berkembang secara perlahan-lahan.
6

1. Nyeri sendi.
6

Keluhan ini merupakan keluhan utama yang seringkali membawa pasien ke dokter (meskipun
mungkin sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya). Nyeri biasanya bertambah
dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-
kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibanding gerakan yang lain. Nyeri pada
osteoartritis juga dapat berupa penjalaran atau akibat radikulopati, misalnya pada osteoartritis
servikal dan lumbal. Osteoartritis lumbal yang menimbulkan stenosis spinal mungkin
menimbulkan keluhan nyeri di betis, yang biasa disebut dengan claudicatio intermitten.
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertumbuhnya rasa nyeri.
6

3. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk di
kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur.
6

4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.

5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (seringkali terlihat di lutut atau
tangan) secara pelan-pelan membesar.
6. Perubahan gaya berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir semua pasien osteosrtritis
pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan
dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian
pasien osteoartritis yang umumnya tua.
7



8

Diagnosis Kerja
Pada kasus diatas pasien didiagnosis osteoartritis.
Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronik, berjalan
progresif lambat, tidak meradang dan ditandai oleh adanya pembentukan tulang baru pada
permukaan persendian.
6

Osteoartritis adalah bentuk artritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit
melampaui separuh jumlah pasien artritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada perempuan
daripada laki-laki dan terutama ditemukan pada orang-orang yang berusia lebih dari 45 tahun.
Penyakit ini pernah dianggap sebagai suatu proses penuaan normal, sebab insidens bertambah
dengan meningkatnya usia. Osteoartritis dahulu diberi artritis yang rusak karena dipakai
karena sendi menjadi aus dengan bertambahnya usia. Tetapi, temuan-temuan yang lebih baru
dalam bidang biokimia dan biomekanik telah menyanggah teori ini.
6

Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan kolagen pada rawan sendi.
Dengan alasan-alasan yang masih belum diketahui, sintesis proteoglikan dan kolagen
meningkatan tajam pasa osteoartritis. Tetapi, substansi ini juga dihancurkan dengan kecepatan
yang lebih tinggi, sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan. Sejumlah kecil
kartilago tipe I menggantikan tipe II yang normal, sehingga terjadi perubahan pada diameter dan
orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanik dari kartilago. Rawan sendi kemudian
kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik. Walaupun penyebab yang sebenarnya dari
osteoartritis tetap tidak diketahui, tetapi kelihatannya proses penuaan ada hubungannya dengan
perubahan-perubahan dalam fungsi kondrosit, menimbulkan perubahan pada komposisi rawan
sendi yang mengarah pada perkembangan osteoartritis.
Faktor-faktor genetik memainkan peranan pada beberapa bentuk osteoartritis. Perkembangan
osteoartritis sendi-sendi interfalang distal tangan (nodus Heberden) dipengaruhi oleh jenis
kelamin dan lebih dominan pada perempuan. Nodus Heberden 10 kali lebih sering ditemukan
pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Hormon seks dan faktor-faktor hormonal lain juga kelihatannya berkaitan dengan
perkembangan osteoartritis. Hubungan antara estrogen dan pembentukan tulang dan prevelansi
osteoartritis pada perempuan menunjukkan bahwa hormon memainkan peranan aktif dalam
perkembangan dan progresicitas penyakit ini.
Sendi yang paling sering terserang oleh osteoartritis adalah sendi-sendi yang harus memikul
beban tubuh, antara lain lutut, panggul, vertrebra lumbal dan servikal, dan sendi-sendi pada
9

sendi. Gambaran osteoartritis yang khas adalah labih seringnya keterlibatan sendi falang distal
dan proksimal dan sendi metakarpal keduanya terserang, namun sendi interfalang distal tidak
terlibat.

Diagnosis Banding
1. Artritis Gout.
8

Pirai atau gout adalah suatu penyakit yang ditandai dengan serangan mendadak dan berulang
dari artritis yang terasa sangat nyeri karena adanya endapan kristal monosodium urat, yang
terkumpul di dalam sendi sebagai akibat dari tingginya kadar asam urat di
dalam darah (hiperurisemia).


Gambar 4: Gout.
6

2. Bursitis
Peradangan pada bursa yang disertai rasa nyeri. Bursa adalah kantong datar yang
mengandung cairan sinovial, yang memudahkan pergerakan normal dari beberapa sendi pada
otot dan mengurangi gesekan. Bursa terletak pada sisi yang mengalami gesekan, terutama di
tempat dimana tendon atau otot melewati tulang. Dalam keadaan normal, sebuah bursa
mengandung sangat sedikit cairan. Tetapi jika terluka, bursa akan meradang dan terisi oleh
cairan.





10

Etiologi
Faktor umum yang mempengaruhi peningkatan resiko osteoarhritis ialah:
Umur
Faktor ini merupakan faktor dengan hubungan terbesar terhadap osteoarthritis.
Ditemukan sekitar 80% individu berusia diatas 75 tahun yang menderita osteoarthritis
dengan progresivitas penyakit hampir mengenai seluruh sendi. Perubahan radiologis
yang menunjukan gejala OA umumnya makin nyata ditemukan pada usia lanjut
meskipun perubahan ini tidak selalu berkorelasi dengan gejala klinik yang muncul.
4
Perubahan morfologis dan struktural yang berkaitan dengan kartilago pada sendi ialah
semakin menipis dan melembutnya permukaan kartilago. Selain itu berkurangnya
ukuran dan agregasi matriks proteoglikan juga dapat terlihat pada usia tua. Hal ini
mungkin disebabkan oleh penurunan kemampuan kondrosit dalam memperbaiki
jaringan akibat proses degenerasi yang terjadi. Selain itu pada usia tua sering ditemukan
penurunan sensitivitas kondrosit terhadap insulin growth factor 1 yang berperan dalam
stimulasi produksi proteoglikan, kolagen dan reseptor sel integrin.
4,5
Didapatkan pula korelasi langsung antara apoptosis pada kondrosit dan degradasi
kartilago pada usia lanjut dengan peningkatan resiko timbulnya osteoarthritis.

Lokasi Sendi
Seperti yang kita ketahui bersama, ostearthritis kerap kali terjadi pada persendian antara
tulang-tulang yang menyangga badan, seperti pada persendian pangkal paha, lutut dan
pergelangan kaki. Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh umur yang mempercepat
penurunan fungsi persendian dalam menyangga badan. Sebuah studi menunjukkan
bahwa daerah pangkal paha dan lutut lebih tinggi kemungkinannya untuk terkena
osteoarthritis. Pada kedua daerah ini ditemukan lebih banyak reseptor terhadap
interleukin 1 dan lebih banyak kondrosit yang mengekspresikan Mrna pembentuk
metalloproteinase dibanding daerah pergelangan kaki. Hal ini diduga turut berperan
dalam mempercepat degenerasi yang terjadi dalam persendian tersebut.
4,5

Obesitas
Obesitas juga merupakan suatu predisposisi terhadap peningkatan resiko terkena
osteoarthritis. Seseorang dikatakan mengalami obesitas apabila indeks massa tubuhnya
11

melebihi 25,0 (indeks massa tubuh ialah hasil pembagian berat badan dalam kilogram
terhadap kuadrat tinggi badan dalam meter). Obesitas menyebabkan tulang-tulang
penyangga badan bekerja lebih keras dalam menyangga badan sehingga meningkatkan
gaya mekanik pada persendian antar tulang tersebut.
4
Apalagi bila kondisi ini ditambah dengan aktivitas fisik yang terlalu keras. Hal ini tentu
saja dapat memperberat keadaan tersebut. Oleh karena itu harus dijaga agar penderita
osteoarthritis tidak melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Pada penderita OA yang
menurunkan berat badannya didapati peningkatan status fungsional yang berarti bahkan
didapati perbaikan yang setara dengan pasien yang telah mengalami operasi
penggantian sendi.
5

Genetik
Studi populasi yang diikuti pasien dengan perubahan radiografis khas osteoarthritis
menemukan kontribusi genetik terhadap penyakit ini, yaitu gen resesif dan komponen
multifaktorial. Ada beberapa gen struktural yang berperan penting dalam pengelolaan
serta perbaikan kartilago sendi dan berperan dalam pengaturan proliferasi kondrosit
serta ekspresi gen. Beberapa gen untuk kode protein pembentukan matriks ekstraselular
yang mengalami mutasi telah dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya
osteoarthritis. Contohnya ialah mutasi titik yang terjadi pada gen yang berperan dalam
pembentukan protein kolagen tipe II. Mutasi ini diwariskan dalam keluarga yang
memiliki riwayat spondyloepifisial displasia dan poliartikular osteoarthritis. Gangguan
ini pada gilirannya akan menghasilkan protein yang salah sehingga protein yang
terbentuk tidak dapat bekerja dengan tepat dalam perbaikan kartilago sendi. Hal ini
meningkatkan resiko timbulnya osteoarthritis.
4,5



Trauma
Terjadinya trauma dapat menyebabkan peningkatan terjadinya osteoarthritis secara
cepat maupun dapat menginisiasi suatu proses lambat yang menghasilkan gejala
osteoarthritis beberapa tahun kemudian. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya suplai
darah periartikular pasca trauma maupun berkurangnya proses remodelling pada
osteochondral junction. Faktor lokal lainnya seperti stress yang berkaitan dengan
12

frekuensi penggunaan sendi dan deformitas sendi juga mempunyai pengaruh atas
timbulnya osteoarthritis.
5

Gender
Wanita memiliki resiko dua kali lebih besar dibanding pria untuk terkena osteoarthritis.
Sebelum usia 50 tahun, lebih banyak didapati pria penderita OA dibanding wanita.
Diatas 50 tahun, hal ini menjadi berkebalikan. Hal ini dikaitkan dengan berkurangnya
kadar estrogen pasca menopause pada wanita berusia di atas 50 tahun. Kondrosit pada
daerah persendian memiliki reseptor terhadap estrogen yang mengindikasikan bahwa
sebenarnya sel-sel diregulasi oleh estrogen. Peningkatan kadar estrogen juga sebanding
dengan peningkatan proteoglikan yang sangat diperlukan untuk menunjang matriks
ekstraselular.
5
Sebuah studi juga menunjukkan bahwa konsumsi estrogen oral selama 10 tahun berturut
pada wanita pasca menopause menghindarkan mereka terhadap resiko terkena
osteoarthritis di daerah pangkal paha.

Patofisiologi
Secara umum berdasarkan patogenesisnya osteoarthritis dibagi menjadi dua, yaitu OA primer
dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik yaitu jenis OA yang penyebabnya tidak
diketahui dan tidak ada hubungan dengan penyakit sistemik serta perubahan lokal yang terjadi
pada sendi. Sedangkan yang disebut sebagai OA sekunder ialah OA yang didasari pada kelainan
endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisasi
yang terjadi dalam waktu yang lama. Kasus primer lebih sering ditemukan dalam kenyataannya
dibanding dengan kasus sekunder.
4
Para ahli menyatakan bahwa OA merupakan penyakit dengan gangguan metabolisme pada
kartilago yang juga diikuti dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago yang belum
diketahui mekanismenya. Terjadinya jejas mekanik dan kimiawi pada sinovial sendi umumnya
disebabkan oleh banyak faktor dan jejas ini dapat merangsang pembentukan molekul yang
abnormal serta menyebabkan adanya produk dari hasil degradasi kartilago yang berada di dalam
persendian yang memicu terjadinya inflamasi sendi, kerusakan kondrosit serta nyeri. Pada OA
juga didapati hipertrofi kartilago berupa peningkatan terbatas dari sintesis matriks makromolekul
13

oleh kondrosit yang diduga merupakan suatu mekanisme kompensasi terhadap degradasi rawan
sendi, remodelling tulang dan inflamasi pada cairan sendi.
4

Secara fisiologis didapatkan bahwa rawan sendi mampu melakukan perbaikan sendiri dimana
akan terjadi replikasi pada kondrosit untuk memproduksi matriks yang baru. Proses perbaikan ini
dibantu oleh oleh suatu polipeptida yang mengontrol proliferasi sel serta membantu proses
komunikasi antar sel. Polipeptida ini merupakan suatu faktor pertumbuhan yang menginduksi
proses sintesis DNA dan protein serta kolagen dan proteoglikan. Contoh faktor pertumbuhan
tersebut ialah insulin-like growth factor (IGF-1), growth hormon, transforming growth factor
(TGF- ) dan coloni stimulating factors (CSFs). Namun pada keadaan inflamasi terjadi suatu
kondisi dimana sensitivitas sel terhadap faktor pertumbuhan menurun. Selain faktor-faktor
pertumbuhan tadi, hormon seperti testosteron, -estradiol dan kalsitonin juga memiliki peranan
dalam sintesis komponen kartilago.
5
Proses degradasi pada kolagen akan terjadi oleh berbagai macam faktor (yang terutama ialah
usia). Seiring dengan laju degradasi yang makin cepat ini maka hasil degradasi matriks tulang
rawan sendi cenderung berkumpul di dalam cairan sendi. Hal ini akan mengawali terjadinya
inflamasi sendi. Hal ini juga didukung dengan data bahwa perbandingan sintesis dan pemecahan
matriks tulang rawan sendi pada pasien penderita OA ialah sekitar 0,29 berbanding 1.
4
Pada penderita OA juga terjadi gangguan suplai darah. Gangguan ini disebabkan oleh
peningkatan aktivitas fibrinogenik sekaligus penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses ini akan
menyebabkan menumpuknya trombus dan kompleks lipid pada pembuluh darah daerah
subkondral yang berujung pada iskemia dan nekrosis pada jaringan subkondral tersebut. Seperti
kita ketahui bersama saat terjadi nekrosis, sel akan melepaskan mediator kimiawi seperti
prostaglandin dan interleukin yang dapat memicu rasa sakit karena dihantar oleh saraf sensibel.
Selain dilepaskannya mediator kimiawi, adanya peradangan pada tendo atau ligamen serta
spasme otot ekstra artikuler juga dapat memicu terjadinya rasa sakit. Sakit pada sendi juga dapat
disebabkan oleh adanya penekanan periosteum dan radiks saraf oleh osteofit serta peningkatan
tekanan intramedular akibat statisnya aliran darah vena intramedular karena proses remodelling
pada trabekula dan subkondral.
4,5
Pada saat terjadi jejas yang menyebabkan nekrosis sel, material hasil nekrosis (yang dikenal
sebagai CSFs) akan memproduksi suatu sitokin aktivator plasminogen yang disebut sebagai
katabolin. Sitokin ini terdiri dari interleukin, tumor necrosis factor dan interferon. Sitokin ini
akan merangsang pembentukan CSFs tambahan yang akan mempengaruhi monosit untuk
14

mendegradasi rawan sendi secara lebih lanjut. Selain itu adanya sitokin ini juga akan
mempercepat proses resorpsi matriks rawan sendi. Adanya interlekuin-1 juga memiliki efek yang
banyak terhadap cairan sendi, yaitu meningkatkan sintesis enzim yang mendegradasi rawan sendi
seperti stromelisin dan kolagenosa. Selain mendegradasi rawan sendi, enzim ini juga
menghambat proses sintesis dan perbaikan normal kondrosit.
5
Efek antagonis dapat terlihat antara sitokin terhadap faktor pertumbuhan. Sitokin cenderung
merangsang degradasi komponen matriks rawan sendi, sebaliknya faktor pertumbuhan
merangsang sintesis. Namun yang menjadi permasalahan adalah pada penderita OA seringkali
didapatkan penurunan kadar faktor pertumbuhan seperti insulin-like growth factor 1/IGF-1.
4


Penatalaksanaan
Pengelolaan osteoartritis berdasarkan atas distribusinya (sendi mana yang terkena) dan berat
ringannya sendi yang terkena. Pengelolaannya terdiri dari 3 hal :
1. Terapi Non-Farmakologis.
9

a. Penerangan
Adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk beluk tentang penyakitnya, bagaimana
menjaganya agar penyakitnya tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat
dipakai.
b. Terapi fisik dan rehabilitasi.
9

Terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien
untuk melindungi sendi yang sakit.
c. Penurunan berat badan
Berat badan yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang akan memperberat penyakit
osteoartritis. Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan.
Apabila berat badan berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat badan, bila
mungkin mendekati berat badan ideal.

2. Terapi Farmakologis.
9

a. Analgesik oral non-opiat
Pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri penyakitnya, terutama
dalam hal mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Banyak sekali obat-obatan yang
15

dijual bebas yang mampu mengurangi rasa sakit. Pada umumnya pasien mengetahui hal
ini dari iklan pada media massa, baik cetak (koran), radio maupun televisi. Seperti :
Aspirin
Parasetamol
b. Analgesik topikal
Analgesik topikal dengan mudah dapat kita dapatkan di pasaran dan banyak sekali yang
dijual bebas. Pada umumnya pasien telah mencoba terapi dengan cara ini, sebelum
memakai obat-obatan peroral lainnya.
Sediaan yang mengandung analgesik dan antiinflamasi topikal dapat digunakan untuk
menghilangkan rasa sakit, radang (bengkak), nyeri otot, kaku otot, radang sendi dan otot
terkilir.

c. OAINS (obat anti inflamasi non steroid)
Apabila cara-cara tersebut di atas tidak berhasil, pada umumnya pasien mulai datang ke
dokter. Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian OAINS, oleh karena obat
golongan ini di samping mempunyai efek analgesik juga mempunyai efek imflamasi.
Oleh karena pasien osteoartritis kebanyakan usia lanjut, maka pemberian obat-obatan
jenis harus sangat hati-hati. Jadi pilihlah obat yang efek sampingnya minimal dan dengan
cara pemakaian yang sederhana, di samping itu pengawasan terhadap kemungkinan
timbulnya efek samping selalu harus dilakukan.

d. Chrondroprotective agent
Adalah obat-obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan tulang rawan sendi
pada pasien osteoartritis. Sebagian peneliti menggolongkan obat-obatan tersebut dalam
Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini adalah :
Tetrasiklin
Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai kemampuan untuk menghambat kerja enzim
MMP dengan cara menghambatnya. Salah satu contoh adalah doxycycline,
sayangnya obat ini baru dipakai pada hewan dan belum dipakai pada manusia.
Asam hialuronat
Disebut juga sebagai viscosupplement oleh karena salah satu manfaat obat ini
adalah dapat memperbaiki viskositas cairan sinoval, obat ini diberikan secara intra-
16

artikular. Asam hialuronat ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan
matriks tulang rawan melalui agregasi dengan proteoglikan. Di samping itu pada
binatang percobaan, asam hialuronat dapat mengurangi inflamasi pasa sinovium,
menghambat angiogenesis dan khemotaksis sel-sel inflamasi.
Glikosaminoglikan
Dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang
rawan, antara lain : hialuronidase, protease, elastase dan capthepsin B1 in vitro dan
juga merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang
rawan sendi manusia. Dari penelitian Rejholec tahun 1987 pemakaian
glikosaminoglikan selama 5 tahun dapat memberikan perbaikan dalam rasa sakit
pada lutut, naik tangga, kehilangan jam kerja, yang secara statistik bermakna. Juga
dilaporkan pada pemeriksaan radiologis menunjukkan progresivitas kerusakan
tulang rawan yang menurun dibandingkan dengan kontrol.
Kondroitin sulfat
Merupakan komponen penting pada jaringan kelompok vertebrata dan terutama
terdapat pada matriks ekstrakular sekeliling sel. Salah satu jaringan yang
mengandung kondroitin sulfat adalah tulang rawan sendi dan zat ini merupakan
bagian dari proteoglikan. Menurut Hardingham , tulang rawan sendi terdiri dari 2%
sel dan 98% matriks ekstraselular yang terdiri dari kolagen dan proteoglikan.
Matriks ini membentuk satu struktur yang utuh sehingga mampu menerima beban
tubuh. Pada penyakit sendi degeneratif seperti osteoartritis terjadi kerusakan tulang
rawan sendi dan salah satu penyebabnya adalah hilangnya atau berkurangnya
proteoglikan pada tulang rawan tersebut. pemberian kondroitin sulfat pada kasus
osteoartritis mempunyai efek protektif terhadap terjadinya kerusakan tulang rawan
sendi. telah mengambil kesimpulan dalam penelitiannya tentang kondroitin sulfat
sebagai berikut : efektivitas kondroitin sulfat pada pasien osteoartritis mungkin
melalui 3 mekanisme utama, yaitu : 1) anti inflamasi; 2) efek metabolik terhadap
sintesis hialuronat dan proteoglikan; 3) anti degradasi melalui hambatan enzim
proteolitik dan menghambat efek oksigen reaktif.
Vitamin C
Dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas enzim lisozim. Pada
pengamatan ternyata vitamin C mempunyai manfaat dalam terapi osteoartritis
17

Superoxide dismutase
Dapat dijumpai pada setiap sel mamalia dan mempunyai kemampuan untuk
menghilangkan superoxide dan hydroxil radicals. Secara in vitro, radikal
superoxide mampu merusak asam hiuluronat, kolagen dan proteoglikan sedang
hydrogen peroxyde dapat merusak kondrosit secara langsung. Dalam percobaan
klinis dilaporkan bahwa pemberian superoxide dismutase ini dapat mengurangi
keluhan-keluhan pada pasien osteoartritis.

e. Steroid intra-artikular
Pada penyakit artritis reumatoid menunjukkan hasil yang baik. Kejadian inflamasi
kadang-kadang dijumpai pada pasien osteoartritis, oleh karena itu kortikosteroid intra
artikular telah dipakai dan mampu mengurangi rasa sakit, walaupun hanya dalam
waktu yang singkat. Penelitian selanjutnya tidak menunjukkan keuntungan yang nyata
pada pasien osteoartritis, sehingga pemakaiannya dalam hal ini masih kontroversial.

3. Terapi Bedah
Pembedahan dilakukan bila penatalaksanaan dengan terapi non farmakologis dan terapi
farmakologis tidak berhasil dengan baik. Selain itu pembedahan juga dapat dilakukan juga
pasien mengalami keluhan seperti nyeri, kaku dan deformitas bengkok yang semakin
bertambah parah seiring dengan perjalanan penyakit. Keluhan ini sangat mengganggu pasien
karena membatasi aktivitas sehari-hari pasien seperti berjalan, naik turun tangga dan
bekerja.
Secara umum ada 2 tindakan yang dilakukan dalam pembedahan yaitu artroskopi dan total
joint replacement. Tindakan ini diindikasikan sesuai dengan derajat keparahan radiologis
penderita OA menurun Kellgren dan Lawrance (Pembagian derajat Kellgren Lawrance dapat
dilihat pada bagian pemeriksaan penunjang). Untuk OA derajat 1 dan 2 dilakukan artroskopi
sedangkan untuk OA derajat 3 dan 4 dilakukan total joint replacement. Berikut ini akan
dideskripsikan mengenai kedua bentuk pembedahan tersebut.

Artroskopi
Artroskopi merupakan prosedur pembedahan tanpa operasi terbuka dengan cara melihat
sendi melalui kabel serat optik sambil melakukan proses pembedahan dengan semacam
18

selang kecil yang ditusukan ke dalam persendian. Indikasi dilakukannya artroskopi ialah
bila ada peradangan tiba-tiba serta keluhan terkunci (locking), tertahan (catching), dan
sempoyongan (giving way). Selain itu artroskopi dapat dilakukan untuk memperbaiki
robekan meniskus/bantalan sendi. Pada artroskopi dapat dikeluarkan benda asing dan
pencucian sendi. Umumnya pasca operasi nyeri dapat hilang hingga 2-5 tahun pada 50-
85% pasien.
9
Ada dua bentuk artroskopi yang dipakai saat ini yaitu lavage dan debridement. Lavage
merupakan proses pencucian cairan sendi dengan memakai larutan garam yang kemudian
dikeluarkan lagi bersama benda asing dari dalam sendi beserta dengan cairan sendi yang
berlebihan. Sedangkan debridement merupakan proses yang sama namun ditambah
dengan proses penipisan dan pelembutan kartilago sendi yang telah keras dan meradang
serta pengambilan serpihan tulang rawan yang ada dari persendian. Selain itu pada
debridement dapat pula dilakukan synovectomy yaitu tindakan membuang selaput
sinovial yang meradang.
9
Berdasarkan prospective study yang dilakukan Jackson pada tahun 1982, ditemukan
bahwa debridement memiliki angka keberhasilan yang lebih baik dibandingkan lavage
dalam jangka waktu 3 tahun pasca operasi.

Total Joint Replacement
Merupakan operasi penggantian permukaan sendi yang rusak dengan metal dan plastik.
Operasi ini telah dimulai sejak tahun 1950. Saat ini dilakukan penelitian untuk
mendapatkan material yang lebih baik sehingga sendi buatan ini bertahan lebih lama.
Operasi penggantian sendi secara total diindikasikan pada orang yang mengalami
ostearthritis derajat 3 dan 4. Operasi ini jarang dilakukan pada usia muda. Kontraindikasi
dilakukannya total joint replacement ialah adanya penyakit tambahan seperti diabetes dan
jantung yang dapat memperparah keadaan pasien.
10
Operasi ini dilakukan pada penderita yang mengalami nyeri lutut parah hingga terjadi
deformitas (seperti varus dan valgus pada lutut), kegagalan pengobatan serta keterbatasan
dalam melakukan gerakan / penurunan range of movement yang berujung pada
kehilangan fungsi sendi seperti ketidakmampuan berjalan dan berjongkok.
10
Sendi yang paling sering dilakukan total joint replacement adalah sendi lutut dan pangkal
paha. Umumnya keluhan nyeri berkurang setelah operasi dan terdapat koreksi pada
19

deformitas. Pada lutut didapati fleksi hingga 120 derajat bahkan dengan desain implant
high flex knee fleksi hingga 155 derajat bisa tercapai. Hal ini akan sangat membantu
pasien dalam melakukan gerakan yang melibatkan fleksi yang dalam seperti berlutut pada
saat berdoa. Selain itu tingkat keberhasilan operasi ini cukup tinggi, yaitu mencapai lebih
dari 95% dalam kurun waktu 10-15 tahun pasca operasi.
10


Gambar 5 : Total Knee Joint Replacement

Namun, ada komplikasi yang dapat timbul dari operasi total joint replacement, yaitu
infeksi akibat operasi terbuka, trombosis vena-vena dalam, keterbatasan gerakan sendi,
nyeri lutut yang menetap dan keausan implant dalam jangka panjang. Untuk mengatasi
berbagai kekurangan ini dikembangkan suatu sistem operasi dengan bantuan komputer.
Sistem ini dikenal sebagai Computer Assisted Surgery. Sistem ini memiliki tingkat
akurasi yang lebih tinggi dibanding operasi yang dikerjakan secara manual. Selain itu
resiko infeksi dan penggunaan tourniquet dapat diturunkan dalam penggunaan operasi
ini.
10


Pencegahan
Untuk mencegah oateoartritis, lakukanlah hal-hal berikut :
1. Konsumsi makanan sehat seperti buah-buahan, sayur dan kacang-kacangan.
2. Minum obat yang direkomendasikan dokter.
3. Pertimbangkan untuk menggunakan alat bantu saat beraktivitas untuk mengurangi
bahaya.
4. Jaga gerakan yang dapat menyebabkan cidera tulang.
20

5. Jika mengangkat benda, usahakan beban terbagi rata pada seluruh sambungan tulang.
6. Pilih sepatu yang tepat.
7. Ketahui batas kemampuan gerakan dan kemampuan mengangkat beban.
8. Teknik relaksasi juga dapat membantu, seperti mengambil napas dalam dan hipnosis.

Komplikasi
Penurunan fungsi tulang ini akan berlanjut terus, beberapa penderita bahkan mengalami
penurunan fungsi yang cukup signifikan, bahkan penderita akan berujung pada kehilangan
kemampuan berdiri atau berjalan.
6


Prognosis
Umumnya baik. Sebagian besar nyeri dapat ditangani dengan obat-obat konservatif. Hanya
pada kasus yang berat dan sangat mengganggu aktivitas pasien saja baru dilakukan operasi.
Operasi yang dilakukan pun memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Kuncinya bergantung
kepada penanganan yang cepat dan tepat terhadap penyakit ini.
4
Kesimpulan
Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif dengan etiologi dan patogenesis belum
jelas, yang ditandai dengan kehilangan tulang rawan sendi secara bertingkat. Osteoartritis
umumnya menyerang penderita berusia lanjut pada sendi-sendi penopang berat badan, seperti
sendi lutut, panggul (koksa), lumbal dan servikal. Lutut merupakan sendi yang paling sering
dijumpai terserang OA dari sekian banyak sendi yang dapat terserang OA. Osteoartritis lutut
merupakan penyebab utama rasa sakit dan ketidakmampuan dibandingkan OA pada bagian sendi
lainnya.






21

Daftar Pustaka
1. Harijanto, Gunawan P. N., Buku ajar ilmu penyakit dalam. Pusat penerbitan
departemen ilmu penyakit dalam fakultas kedokteran universitas indonesia, 2008; 4 :
1736 40
2. Sudoya A.W, Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata M., Setiati S. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Pusat penerbitan ilmu penyakit dalam, 2009; 5: 2403-930.
3. Bickley LS, Szilagyi PG. Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan. edisi 8.
Jakarta: EGC; 2009.h.516-30.
4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. edisi 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2538-49.
5. Firestein GS, Budd RC, Harris ED, etc. Kelleys textbook of rheumatology. 8
th
edition.
Philadelphia: Elsevier Publisher; 2009.p.1525-73.
6. Fauci dan Braunwald. Harissons Principle of Internal Medicine 17 th ed . New York: McGraw-Hill;
2008.
7. William C, Sheiel Jr., MD, FACP, FACR. Journal osteoarthritis March 28, 2011.
8. Graber A. M, Toth P. P, dan Herting R. L. Buku Saku Dokter Keluarga Universitas Of
IOWA. Jakarta:EGC;2006:273-4.
9. Halter JB, Ouslander JG, Tinetti ME, etc. Hazzards geriatri medicine and gerontology.
6
th
edition. New York: McGraw-Hill Medical Publisher; 2009.p.1411-9.
10. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, etc. Schwartzs principles of surgery. 8
th

edition. New York: McGraw-Hill Medical Publisher; 2005.p.1703-6.