Anda di halaman 1dari 13

1

Mata Tenang Visus Turun Mendadak


Celina Manna
NIM : 102011047
Kelompok F8


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta
ninamanna97@yahoo.co.id


Pendahuluan
Penglihatan turun mendadak tanpa tanda radang ekstraokular dapat disebabkan oleh
beberapa kelainan. Kelainan ini dapat terlihat pada neuritis optic, ablasi retina, obstruksi vena
retina sentral, oklusi arteri retina sentral, perdarahan badan kaca, ambliopia toksik, hysteria,
retinopati serosa sentral, amaurosis fugaks dan koroiditis.
1

Anamnesis
Anamnesis didahului dengan menanyakan identitas pasien seperti nama, usia, pekerjaan
dan tempat tinggal.
2

Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan mata kanan mendadak kabur.
Riwayat penyakit sekarang
2

Sejak kapan keluahan timbul?
Timbulnya secara mendadak atau perlahan?
Mata yang terkena sebelah mana?
Apakah ada rasa nyeri bola mata, nyeri kepala, secret dan sebagiannya?
Apakah ada merah di mata?
Riwayat penyakit dahulu
2

Adakah riwayat masalah penglihatan sebelumnya?
Adakah riwayat diabetes melitus?
2

Adakah riwayat hipertensi?
Adakah riwayat penyakit neurologis?
Pernahkah pasien menjalani terapi mata tertentu (misalnya laser?)
Riwayat obat-obatan
2

Adakah riwayat pemakaian obat yang mungkin menyebabkan gejala gangguan
penglihatan atau pemakaian obat untuk mengobati penyakit mata (misalnya tetes mata)?
Riwayat keluarga dan sosial
2

Adakah riwayat masalah penglihatan turunan dalam keluarga?
Adakah riwayat gejala gangguan mata dalam keluarga (misalnya penularan konjungtivitis
infektif)?
Bagaimana tingkat ketidakmampuan penglihatan pasien?
Adakah pasien teregistrasi sebagai orang buta?
Pernahkan pasien menjalani adaptasi dirumah?
Apakah kehidupan pasien lebih stres, paparan terhadap kejahatan lebih tinggi, jam kerja
yang lebih panjang, tanggung jawab keuangan yang lebih besar dan pekerjaan yang lebih
berbahaya?
Pemeriksaan Fisik
Bagaimana keadaan umum pasien? Apakah pasien tampak sakit ringan, sedang atau
berat?
2

Apakah pasien sadar atau tidak sadar?
2

Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, suhu, dan
pernapasan.
2

Lakukan inspeksi pada mata
2

Adakah kelainan yang terlihat jelas ?
Lihat konjungtiva, kornea, iris, pupil, dan kelopak mata.
Apakah pupil simetris? Bagaimana ukurannya? Apakah keduanya merespons normal dan
seimbang pada cahaya dan akomodasi?
Adakah ptosis? Periksa menutupnya kelopak mata.


3

Lakukan palpasi
Dengan melakukan test tonometri yang menekan kelopak mata dengan kedua jari untuk
menilai tekanan bola mata.
2

Pemeriksaan Visus
3

Penderita dan pemeriksa berhadapan.
Penderita duduk pada jarak 6 m dari Optotype Snellen, mata yang satu ditutup.
Penderita dipersilahkan untuk membaca huruf/gambar yang terdapat pada Optotype, dari
yang paling besar sampai pada huruf/gambar yang dapat terlihat oleh mata normal.
Apabila penderita tak dapat melihat gambar yang terdapat pada Optotype, maka kita
mempergunakan jari kita.
Penderita diminta untuk menghitung jari pemeriksa, pada jarak 1 m, 2 m, sampai dengan
6 m.
Dalam hal demikian maka visus dari penderita dinyatakan dalam per-60.
Apabila penderita tak dapat menghitung jari, maka dipergunakan lambaian tangan
pemeriksa pada jarak 1m sampai 6 m.
Dalam hal ini, maka visus penderita dinyatakan dalam per 300.
Apabila lambaian tangan tak terlihat oleh penderita, maka kita periksa visusnya dengan
cahaya (sinar baterai).
Untuk ini maka visus dinyatakan dalam per tak terhingga.

Pemeriksaan Penunjang
Oftalmoskopi indirek
Tampak ada penonjolan retina didaerah macula retina yang berbentuk bulat lonjong
dengan batas yang jelas. Pada kasus yang jarang terjadi dimana CSR dapat menyebabkan
gumpalan yang memisahkan lapisan retina, mengakibatkan peningkatan cairan subretina.
Akan tampak cairan eksudat berwarna putih kekuning-kuningan.

Pada kasus tipikal telah
menunjukkan lingkaran dangkal atau peninggian oval pada retina sensoris pada kutub
posterior. Lepasnya lapisan serosa retina neurosensoris, peninggian kubah jernih biasanya
pada daerah perifovea, menyebabkan peningkatan relatif dalam hiperopia, penurunan
yang dihubungkan pada ketajaman penglihatan tak terkoreksi dan mengubah refleks
4

membran limitans interna. Lesi ini biasanya menghilang secara spontan dalam 3 4
bulan.
3

Biomikroskopi slitlamp
Perlu sekali dilakukan dalam menegakkan diagnosa dan menyingkirkan penyebab lain
lepasnya retina sensoris (misal lubang diskus optikus, koloboma diskus optikus, tumor
koroid dan membran neovaskuler subretina). Biomikroskopi menunjukkan retina sensoris
yang terlepas sebagai sesuatu yang transparan dengan ketebalan yang normal.
Terpisahnya retina sensoris yang terlepas tersebut dari epitel pigmen retina yang
mendasarinya dapat diketahui dengan menandai bayangan semu diatas epitel pigmen
retina oleh pembuluh darah retina. Pada kasus tertentu, presipitat-presipitat kecil dapat
dilihat pada permukaan posterior retina sensoris yang terlepas. Kadang-kadang daerah
abnormal pada epitel pigmen retina dapat juga dijumpai melalui cairan yang bocor dari
koriokapiler ke dalam ruang subretina dan pada beberapa kasus terlepasnya epitel pigmen
retina yang kecil dapat dijumpai dalam lapisan serosa yang lepas. Cairan subretina dapat
jernih maupun keruh.
3

Angiografi fluorosens
3

Walaupun dalam banyak kasus diagnosa dibuat secara klinis, angiografi fluoresens
membantu dalam membuat diagnosa pasti retinopati serosa sentral, dan dalam
menyingkirkan munculnya membran neovaskuler subretina dalam kasus-kasus atipikal.
Pada retinopati serosa sentral terdapat kerusakan sawar retina-darah bagian luar yang
memungkinkan lewatnya molekul fluoresens bebas ke dalam ruang subretina.

Pada
angiografi ada 2 pola yang terlihat :
a. Gambaran kumpulan-asap (smoke-stack)
Selama fase awal perpindahan zat kontras, bintik hiperfluoresens muncul yang
kemudian membesar secara vertikal. Selama fase vena lambat, cairan memasuki ruang
subretina dan naik secara vertikal (seperti kumpulan asap) dari titik kebocoran sampai
mencapai batas atas lepasannya. Zat kontras kemudian menyebar ke lateral mengambil
bentuk mushroom atau payung, sampai keseluruhan area yang lepas terisi.

b. Gambaran noda tinta (ink-blot)
Kadang-kadang dapat terlihat pada bintik hiperfluoresens pertama yang berangsur-angsur
bertambah ukurannya sampai seluruh ruang subretina terisi.
5


Gambar. 5 Fluorescein angiography pada awal fase recirculation pasien dengan neurosensory
terlokalisasi detasemen di makula dari pusat serosa chorioretinopathy. Catatan
hyperfluorescence fokus.
4


Gambar. 6 Fluorescein angiography pada akhir fase recirculation pasien yang sama seperti pada
gambar di atas. Perhatikan kebocoran distribusi fluorescein pewarna dalam neurosensory
detasemen.
4

Optical Coherence Tomography (OCT)
OCT merupakan pemeriksan yang sangat akurat untuk mendiagnosa CSR, terutama bila
pemisahan lapisan retina yang dangkal. Bahkan pada beberapa kasus dapat
memperlihatkan titik kebocoran.
3


Diffrentian Diagnosis
1. Neuritis Optik
Neuritis disebabkan idiopatik, sklerosis multiple sedang pada anak oleh marbili, parotitis,
dan cacar air. Neuritis optik dapat merupakan gejala dini atau permulaan penyakit
multiple sklerosis. Neuritis optik ideopatik lebih sering terjadi pada perempuan berusia
6

20-40 tahun. Biasanya bersifat unilateral. Perjalan penyakit biasanya menjadi normal
setelah beberapa minggu dengan penglihatan merasa sedikit redup, dan papil akan terlihat
pucat. Perjalan penyakit mendadak dengan turunnnya ketajaman penglihatan yang dapat
berlangsung intermiten dan sembuh kembali dengan sempurna. Pada neuritis optik akan
terdapat kehilangan penglihatan dalam beberapa jam sampai beberapa hari yang
mengenai satu atau kedua mata, dengan usia yang khusus 18-45 tahun, sakit pada rongga
orbita terutama pada pergerakan mata, penglihatan warna terganggu, tanda Uhthoff
(penglihatan turun setelah olahraga atau suhu tubuh naik). Pada neuritis optik tajam
penglihatan turun maksimal dalam 2 minggu. Pada sebagian besar neuritis optik tajam
penglihatan kemabli normal sesudah beberapa minggu. Gangguan lapang pandang sentral
atau sekosentral.
1

2. Ablasia Retina Regmatogenosa
Ablasi retina regmantomentosa dimana ablasi terjadi akibat adanya robekan pada retina
sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen dengan epitel retina. Ablasi retina
akan memberikan gejala terdapatnya gangguan penglihatan yang kadang-kadang terlihat
sebagai tabir yang menutup. Terdapat riwayat adanya pijaran api (fotopsia) pada
lapangan penglihatan. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasi retina bila
dilepasnya retina mengenai makula lutea. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat
retina yang terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat
adanya robekan retina berwarba merah. Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi
bila terjadi neurovaskular glaukoma pada ablasi yang telah lama.
1

3. Edema Makula
Edema Makula Kistoid, yang juga dikenal sebagai CME, adalah kondisi medis yang
ditandai dengan timbulnya beberapa kista yang terisi cairan pada makula, bagian
berwarna kuning, pada daerah tengah dari retina. Gejala termasuk penglihatan buram dan
pembengkakan atau peradangan tanpa nyeri, tetapi penyebab dari kondisi ini masih
belum dapat diketahui. Akan tetapi, tercatat kondisi ini berhubungan dengan diabetes dan
seringkali terjadi setelah operasi katarak. Prognosis akan bervariasi sesuai dengan repson
terhadap penanganan; secara umum, semakin responsif terhadap pengobatan, prognosis
akan semakin baik. Secara umum, gejala dari CME tidak terlalu spesifik; maka dari itu
7

direkomendasikan pada individu dengan gejala seperti ini berkonsultasi langsung dengan
seorang dokter.
5

4. Retinopati Serosa Sentral
Retinopati serosa sentral ( CSR ) merupakan kelainan pada makula lutea berupa
penimbunan cairan yang mengakibatkan edema makula. Retinopati serosa sentral
terutama terdapat pada dewasa muda. Laki-laki lebih banyak terkena dibanding wanita
terutama yang sedang menderita stress berat, dimana tajam penglihatan akan turun secara
mendadak dengan terdapatnya skotoma sentral dengan metamorfopsia.Pasien biasanya
mengeluh adanya penurunan ketajaman penglihatan, melihat benda serasa menjadi lebih
kecil, penurunan penglihatan warna dan kontras. Karena penyebab pasti belum diketahui,
dan diduga berhubungan dengan stress dalam kehidupan, maka edukasi pada pasien
Central Serous Retinopathy adalah jika memungkinkan, pasien harus menghindari situasi
yang menekan. Pasien berpartisipasi dalam kegiatan mengurangi stres (misalnya,
olahraga, meditasi, yoga) sangat dianjurkan.
5


Working Diagnosis
1

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan :
1. Visus: Penglihatan kabur, turun menjadi 6/9 sampai 6/12, dengan koreksi lensa
positif akan lebih terang atau mendekati normal (hipermetrop).
2. Pemeriksaan eksterna: Konjungtiva, kornea, iris, lensa tampak normal.
3. Tekanan bola mata: Normal.
4. Pasien mempunyai masalah yang cukup berat didalam pekerjaannya.

Manifestasi Klinis
Retinopati serosa sentral ( CSR ) merupakan kelainan pada makula lutea berupa
penimbunan cairan yang mengakibatkan edema makula. Retinopati serosa sentral terutama
terdapat pada dewasa muda. Laki-laki lebih banyak terkena dibanding wanita terutama yang
sedang menderita stress berat, dimana tajam penglihatan akan turun secara mendadak dengan
terdapatnya skotoma sentral dengan metamorfopsia.
5

8

Retinopati serosa sentral atau korioretinopati serosa sentral adalah sebuah penyakit
dimana terdapat ablasio serosa retina neurosensorik sebagai akibat dari kebocoran cairan
setempat dari koriokapilaris melalui suatu defek di epitel pigmen retina.
5

Penyebab-penyebab lain bocornya epitel pigmen retina, seperti neovaskularisasi koroid,
inflamasi atau tumor harus dipisahkan untuk membuat diagnosis.
5

Retinopati serosa sentral dapat dibagi menjadi dua gambaran klinis yang berbeda. Secara klasik,
retinopati serosa sentral disebabkan oleh satu atau lebih kebocoran terpisah yang berlainan pada
tingkat epitel pigmen retina yang terlihat pada angiografi fluoresens. Bagaimanapun, saat ini
diketahui bahwa retinopati serosa sentral dapat muncul sebagai disfungsi epitel pigmen retina
difus (misal epiteliopati pigmen retina difus, retinopati serosa sentral kronik, epitel pigmen retina
terdekompensasi) yang ditandai dengan lepasnya retina neurosensorik melewati area atrofi epitel
pigmen retina dan pigmen mottling. Selama angiografi fluoresens area hiperfluoresens granular
yang luas berisi satu atau beberapa kebocoran halus yang terlihat.
5


Penatalaksanaan
Medikamentosa
1. Karena CSR ini merupakan self limited desease, maka tanpa pengobatan pun akan
sembuh sendiri. Obat yang diberikan pun hanya obat yang dapat mempercepat
menutupnya lubang kebocoran dilapisan epitel pigmen. Obat yang diberikan adalah
vitamin dalam dosis yang cukup. Penatalaksanaan CSR yang banyak dianut saat ini
adalah observasi selama 3-4 bulan sambil menunggu resolusi spontan. Biasanya penyakit
ini akan sembuh dalam waktu 8-12 minggu.
6

2. Asetazolamid sebagai terapi pertama kali dikemukakan oleh Pikkel pada tahun 2002.
percobaan ini didasarkan pada fakta bahwa asetazolamid terbukti efektif untuk
mengurangi edema macula yang disebabkan oleh tindakan operasi dan berbagai kelainan
intraocular lainnya. Penelitian pikkel ini membuktikan asetazolamid dapat
memperpendek waktu resolusi klinis, tetapi tidak berdampak terhadap tajam penglihatan
akhir dan rekurensi CSR.
6




9

Non Medikamentosa
Jika penderita belum sembuh, maka dilakukan pengobatan dengan koagulasi sinar laser
yang bertujuan untuk menutup lobang kebocoran dilapisan epitel pigmen. Keuntungan
melakukan koagulasi ini adalah memperpendek perjalanan penyakit dan mengurangi
kemungkinan kekambuhan tetapi tidak berpengaruh terhadap tajam penglihatan akhir.
6

Fotokoagulasi laser Argon yang diarahkan kebagian yang bocor akan secara bermakna
mempersingkat durasi pelepasan retina sensorik dan mempercepat pemulihan penglihatan
sentral, tetapi tidak terdapat bukti bahwa fotokoagulasi yang segera dilakukan akan menurunkan
kemungkinan gangguan penglihatn permanent. Walaupun penyulit fotokoagulasi laser retina
sedikit, terapi fotokoagulasi laser segera sebaiknya tidak dianjurkan untuk semua pasien CSR.
Lama dan letak penyakit, keadaan mata yang lain, dan kebutuhan visual okupasional merupakan
factor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memutuskan pengobatan.
6

Dalam menggunakan fotokagulasi laser, dilakukan dua sampai tiga kali penyinaran tepat
di sisi yang bocor, dengan ukuran titik sinarnya adalah 200m. dilakukan penyinaran selama 0,2
detik dan dengan intensitas yang ringan untuk menghindari kerusakan RPE yang lebih lanjut.
Kontraindikasi pengobatan ini adalah apabila sisi kebocorannya dekat dengan FAZ atau tepat di
bagian FAZ.
6

Indikasi fotokoagulasi laser adalah :
6

1. CSR yang berulang
2. CSR sesudah 12 minggu belum membaik
3. Visus penderita semakin terganggu dan penderita tidak bisa bekerja untuk
melakukan pekerjaan yang penting.
4. Timbulnya deficit visual permanent pada mata disebelahnya
5. Munculnya tanda-tanda kronik seperti perubahan kistik pada retina sensorik atau
abnormalitas RPE ( retina eigment epithelium ) yang luas.
Etiologi
Retinopati serosa sentral sering disebut retinopati serosa sentral idiopatik yang artinya
penyebabnya tidak diketahui.

Kemungkinan berkaitan dengan kejadian-kejadian stress
kehidupan.

Retinopati serosa sentral juga dihubungkan dengan kortisol dan kortikosteroid, dan
orang dengan tingkat kortisol lebih tinggi daripada normal juga memiliki kecenderungan untuk
menderita retinopati serosa sentral.

Kepribadian tipe A dan hipertensi sistemik dapat
10

berhubungan dengan CSR, diperkirakan karena peningkatan sirkulasi kortisol dan epinefrin,
yang mempengaruhi autoregulasi dari choroidal sirkulasi.

Faktor resiko lainnya adalah
pemakaian antibiotik, konsumsi alkohol, hipertensi yang tidak terkontrol, dan penyakit saluran
nafas alergik.
5


Patofisiologi
Kebocoran (leakage) pada lapisan epitel pigmen diduga disebabkan oleh kelainan
hormonal dan infeksi oleh virus. Lubang kebocoran ini merupakan suatu pintu masuk untuk
mengalirnya cairan dari bawah lapisan epitel pigmen ke ruangan dibawah retina sehingga terjadi
pengumpulan cairan dibawah retina. Pengumpulan cairan dibawah retina didaerah macula retina
ini menyebabkan penglihatan penderita sangat terganggu.
5,6

Baru sejak ditemukannya ICGA pada tahun 1993, patogenesis CSR telah diketahui
dengan pasti. Kelainan ini disebabkan oleh abnormalitas sirkulasi koroid yang selanjutnya
menyebabkan iskemia koroid, hiperpermeabilitas vascular koroid, RPE (retinal pigment
epithelium) detachment, dan ablasio retina sensorik. Abnormalitas sirkulasi koroid ini
dihubungkan dengan kondisi hiperkortisolisme seperti kehamilan, stress dan kepribadian tipe-A,
sindrom Cushing, dan pemakaian glukokortikoid.
5,6

Pada awalnya glukokortikoid merupakan obat pertama yang digunakan secara luas
sebagai terapi CSR. Namun dengan beberapa penelitian didapatkan fakta bahwa glukokortikoid
merupakan suatu factor resiko yang bermakna dalam timbulnya CSR. Mekanisme
patofisiologinya belum diketahui. Penjelasan yang diterima saat ini adalah pengaruh
glukokortikoid terhadap sirkulasi koroid. Aliran darah koroid diketahui diatur oleh system
simpatis dan secara antagonis dengan system parasimpatik untuk menghambat produksi nitric
oxide synthase, suatu modulator vascular. Interaksi ini menyebabkan spasme pembuluh darah
koroid dan iskemia koroid.
5,6


Epidemiologi
5

Mortalitas/Morbiditas; Lepasnya lapisan serosa retina biasanya dapat sembuh secara
spontan, pada kebanyakan pasien (80-90%) visusnya menjadi 6/9 atau lebih baik lagi.
Bahkan dengan kembali nya ketajaman penglihatan sentral pasien masih mengeluh
dyschromatopsia, hilangnya sensitifitas kontras, metamorphosia, atau jarang myctalopia.


11

Pasien dengan chorioretinopathy serosa sentral klasik (CSCR) (ditandai dengan
kebocoran satu sisi bola saja) memiliki risiko kekambuhan 40-50% pada mata yang sama.
Risiko neovaskularisasi Choroidal dari CSCR sebelumnya dianggap kecil (<5%) tetapi
frekuensinya meningkat pada pasien yang terdiagnosis CSR pada usia lanjut. Sebagian
kecil dari pasien (5-10%) mungkin gagal untuk mencapai pemulihan visus 20. Sebuah
subset dari pasien (5-10%) mungkin gagal untuk mencapai ketajaman visual 20/30 atau
lebih. Lepasnya serosa retina sering berulang hal ini menyebabkan atrofi EPR yang
progresif dan dapat menyebabkan terjadinya penurunan ketajaman penglihatan yang
permanen untuk 6/60 atau lebih buruk.
Ras; CSR jarang muncul pada orang Afrika dan Amerika tetapi mungkin sangat parah
pada orang Hispanik dan Asia.
Jenis kelamin; Secara klasik, retinopati serosa sentral lebih sering mengenai laki-laki.
Kondisi ini mempengaruhi laki-laki 6-10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan.
Usia; Biasanya terjadi pada usia 20-55 tahun.

Komplikasi

1.
Sebagian kecil pasien mengalami neovaskularisasi koroid pada tempat kebocoran dan bekas
laser. Pengamatan retrospektif kasus ini menunjukkan bahwa setengah dari pasien-pasien
tersebut mungkin memiliki tanda-tanda neovaskularisasi koroid semu pada saat pengobatan.
Pada pasien yang lain, resiko neovaskularisasi koroid mungkin meningkat dengan
pengobatan laser.
5
2.
Ablasio retina bulosa akut dapat muncul sebaliknya pada pasien sehat dengan retinopati
serosa sentral. Gambarannya dapat menyerupai penyakit Vogt-Koyanagi-Harada, ablasio
retina regmatogenus, atau efusi uvea. Sebuah laporan kasus telah melibatkan penggunaan
kortikosteroid pada retinopati serosa sentral sebagai faktor yang meningkatkan kemungkinan
pembentukan fibrin subretina. Mengurangi dosis kortikosteroid secara bertahap akan
menghasilkan perbaikan pada ablasio retina serosa.
5
3.
Dekompensasi epitel pigmen retina akibat serangan berulang akan berakibat atrofi epitel
pigmen retina dan berikutnya atrofi retina. Dekompensasi epitel pigmen retina adalah
manifestasi retinopati serosa sentral namun dapat juga dianggap sebagai komplikasi jangka
panjang.
5
12

Prognosis


Sekitar 80 % mata dengan CSR mengalami resorpsi spontan cairan subretina dan
pemulihan ketajaman penglihatan normal dalam waktu 6 bulan setelah awitan gejala . Namun,
walaupun ketajaman penglihatan normal, banyak pasien mengalami defek penglihatan
permanent, misalnya penurunan ketajaman kepekaan terhadap warna, mikropsia, dan skotoma
relative. 20% 30 % akan mengalami sekali atau lebih kekambuhan penyakit, dan pernah
dilaporkan adanya penyulit termasuk neovaskularisasi subretina dan edema macula sistoid kronik
pada pasien yang sering dan berkepanjangan mengalami pelepasan serosa.
7

Ketajaman penglihatan cenderung kembali normal. Jika gejala secara khusus
mengganggu, fotokoagulasi laser dapat menurunkan lamanya waktu untuk resolusi.
7

Kesimpulan
Retinopati serosa sentral ( CSR ) merupakan kelainan pada makula lutea berupa
penimbunan cairan yang mengakibatkan edema makula. Retinopati serosa sentral terutama
terdapat pada dewasa muda. Laki-laki lebih banyak terkena dibanding wanita terutama yang
sedang menderita stress berat, dimana tajam penglihatan akan turun secara mendadak dengan
terdapatnya skotoma sentral dengan metamorfopsia.
Pasien biasanya mengeluh adanya penurunan ketajaman penglihatan, melihat benda
serasa menjadi lebih kecil, penurunan penglihatan warna dan kontras dan lain-lain.
Karena penyebab pasti belum diketahui, dan diduga berhubungan dengan stress dalam
kehidupan, maka edukasi pada pasien Central Serous Retinopathy adalah jika memungkinkan,
pasien harus menghindari situasi yang menekan. Pasien berpartisipasi dalam kegiatan
mengurangi stres (misalnya, olahraga, meditasi, yoga) sangat dianjurkan. Walaupun harus
diwaspadai juga penyebab lainnya seperti penggunaan kortikosteroid dalam waktu lama,
hipertensi sistemik, kehamilan, kepribadian tipe A, pemakaian antibiotik, konsumsi alkohol,
hipertensi yang tidak terkontrol, dan penyakit saluran nafas alergik.
Adapun penatalaksanaannya meliputi non medikamentosa dan medikamentosa.Karena
CSR ini merupakan self limited desease, maka tanpa pengobatan pun akan sembuh sendiri. Obat
yang diberikan pun hanya obat yang dapat mempercepat menutupnya lubang kebocoran
dilapisan epitel pigmen. Obat yang diberikan adalah vitamin dalam dosis yang cukup. Juga
Asetazolamide efektif untuk mengurangi edema macula yang disebabkan oleh tindakan operasi
dan berbagai kelainan intraocular lainnya.
13

Untuk terapi non medikamentosa adalah koagulasi sinar laser yang bertujuan untuk menutup
lobang kebocoran dilapisan epitel pigmen. Serta memanajemen stress serta faktor penyebab lain
dari penyakit ini.
Prognosis dari Central Serous Retinopathy adalah sekitar 80 % mata dengan CSR
mengalami resorpsi spontan cairan subretina dan pemulihan ketajaman penglihatan normal
dalam waktu 6 bulan setelah awitan gejala . Namun, walaupun ketajaman penglihatan normal,
banyak pasien mengalami defek penglihatan permanent,misalnya penurunan ketajaman kepekaan
terhadap warna, mikropsia, dan skotoma relative. 20% 30 % akan mengalami sekali atau lebih
kekambuhan penyakit, dan pernah dilaporkan adanya penyulit termasuk neovaskularisasi
subretina dan edema macula sistoid kronik pada pasien yang sering dan berkepanjangan
mengalami pelepasan serosa.

Daftar Pustaka

1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Ed 4. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran; 2013.h. 183-9.
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2007.h. 44-5.
3. James B, Chew C, Bron A. Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2003.h. 30-
5.
4. Kanski. Central serous retinopathy: clinical ophthalmology. 3
rd
edition. Butterworth:
Heinemann; 2004.p. 398-9.
5. Theng MD, Folk MD. Chorioretinopathy central serous. Diunduh dari
www.emedicine.com, medscape, 17 Maret 2013.
6. Khurana AK. Central Serous Retinopathy. 3
rd
edition. Reprint: India; 2008:p. 272
7. Vaughan DG. Retina (Anatomi& Embriologi Mata) & Korioretinopati Serosa Sentralis
(Retina & Tumor Intraokular) : Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Penerbit Widya;
2000.h. 13-14, 197-200.

Anda mungkin juga menyukai