Anda di halaman 1dari 14

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gigitiruan Sebagian Lepasan

2.1.1 Definisi

Gigitiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigitiruan yang menggantikan

satu atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat

dibuka pasang oleh pasien. 1 Perawatan dengan gigitiruan sebagian lepasan adalah

perawatan yang dapat dipilih untuk merestorasi kehilangan gigi oleh sebagian besar

pasien yang kehilangan gigi sebagian karena biayanya yang lebih terjangkau. 3,25

Beberapa akibat kehilangan gigi sebagian yang tidak digantikan adalah

migrasi dan rotasi gigi asli yang masih ada, erupsi berlebih, penurunan efisiensi

kunyah, gangguan pada sendi temporomandibular, beban berlebih pada jaringan

pendukung, gangguan bicara, estetis yang buruk, terganggunya kebersihan mulut,

atrisi, dan efek yang tidak diinginkan pada jaringan lunak. Fungsi gigitiruan sebagian

lepasan antara lain memperbaiki fungsi pengunyahan, memulihkan fungsi estetik,

meningkatkan fungsi fonetik, serta mempertahankan jaringan mulut yang masih ada

agar tetap sehat. 1

2.1.2 Keuntungan dan Kerugian

Rehabilitasi keadaan rongga mulut dengan gigitiruan, baik cekat maupun

lepasan, memiliki peranan yang penting untuk menjaga kesehatan rongga mulut dan

sistemik pasien yang mengalami kehilangan gigi. Keuntungan perawatan gigitiruan

sebagian lepasan dibandingkan dengan gigitiruan cekat adalah biaya yang lebih

Universitas Sumatera Utara

terjangkau dan prosedur pemeliharaan kebersihan yang lebih mudah dilakukan karena

gigitiruan jenis ini dapat dibuka pasang. 26

Salah

satu

kerugian

pemakaian

gigitiruan

sebagian

lepasan

yaitu

dapat

merusak jaringan mulut yang tersisa. Desain kerangka gigitiruan sebagian lepasan

meningkatkan

penumpukan

sisa makanan

pada

bagian yang

berkontak

dengan

permukaan gigi asli, yang mengganggu aksi self-cleansing oleh lidah dan bukal

selama proses pengunyahan. 4 Desain kerangka gigitiruan sebagian lepasan juga

berperan dalam perkembangan bakteri pada rongga mulut dan pembentukan plak. 27

Plak

gigitiruan

mengakibatkan

dampak

yang

tidak

diinginkan

terhadap

gigi

penyangga yang sangat penting perannya terhadap perawatan gigitiruan sebagian

lepasan. Penumpukan plak pada gigi penyangga lebih banyak daripada gigi asli yang

lain. Hal ini disebabkan terhambatnya aksi self-cleansing oleh cangkolan yang

terdapat

pada

gigitiruan

sebagian

lepasan. 28 Gigitiruan

sebagian

lepasan

harus

didesain untuk dapat mengurangi penumpukan sisa makanan serta plak pada gigi dan

tepi gingiva dari gigi penyangga. 29

2.2 Pemeliharaan Kebersihan Gigitiruan Setelah Pemasangan

Pemakaian gigitiruan terbukti berkaitan erat dengan pemeliharaan kesehatan

rongga mulut. 1 Pemeliharaan gigitiruan yang baik dan benar sangat penting bagi

pasien, tidak hanya untuk memperbaiki estetis dan fungsional, tetapi juga untuk

kesehatan jaringan pendukung dan perlindungan terhadap gigitiruan itu sendiri. 11

Pemeliharaan kebersihan gigitiruan sebagian lepasan yang tidak baik adalah alasan

utama meningkatnya pembentukan plak gigitiruan. 30 Plak memegang peranan penting

dalam proses kerusakan jaringan gigi dan dalam proses inflamasi jaringan lunak

Universitas Sumatera Utara

sekitar gigi. 31 Evaluasi terhadap 74 pasien yang telah memakai gigitiruan sebagian

lepasan selama 10 tahun menemukan bahwa hanya 36% pemakai gigitiruan yang

bebas dari segala masalah kesehatan rongga mulut. (Wagner dan Kern cit. Preshaw

dkk, 2011). Pemeliharaan kesehatan rongga mulut sangat penting sekali untuk

keberhasilan perawatan gigitiruan sebagian lepasan. 29

2.2.1 Tujuan/Manfaat

Plak

dapat

melekat

pada

permukaan

gigitiruan

secepat

dan

semudah

perlekatannya terhadap permukaan gigi asli, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan

terhadap gigitiruan sebagian lepasan. Cara pemeliharaan gigitiruan sebagian lepasan

meliputi

cara

penyimpanan

dan

pembersihan.

Tujuan

pemeliharaan

kebersihan

gigitiruan sebagian lepasan antara lain agar gigitiruan sebagian lepasan dapat tahan

lama, mencegah penumpukan plak, memelihara kesehatan rongga mulut, mencegah

penyakit mulut dan bau mulut yang tidak enak. 29 Pentingnya memelihara kebersihan

gigi asli yang masih ada, mukosa jaringan rongga mulut, dan gigitiruan harus

ditegaskan

berkali-kali

kepada

pasien

untuk

keberhasilan

perawatan

jangka

panjang. 32

2.2.1.1 Kesehatan Rongga Mulut

Pemakaian gigitiruan sebagian lepasan dapat menyebabkan kerusakan pada

jaringan mulut yang ada. Penumpukan

stein

lepasan dapat menimbulkan efek yang tidak

dan

debris pada gigitiruan sebagian

diinginkan

pada kesehatan rongga

mulut pasien. 4 Pemakaian gigitiruan sebagian lepasan dikaitkan dengan meningkatnya

penumpukan plak, tidak hanya pada permukaan gigi asli yang secara langsung

berkontak dengan permukaan gigitiruan, tetapi juga pada gigi asli yang ada di

Universitas Sumatera Utara

lengkung

rahang

yang

berlawanan,

dan

bahkan

dalam

beberapa

kasus,

pada

permukaan bukal gigi asli yang masih ada. 27 Penumpukan plak pada sekeliling gigi

asli yang masih ada dan pada gigitiruan dapat menyebabkan karies, dekalsifikasi

enamel, dan gingivitis. 4

Perawatan

prostodontik

dapat

meningkatkan

resiko

karies

pada

pasien.

Aktivitas karies yang tinggi ditemukan pada pasien pemakai gigitiruan sebagian

lepasan lebih berhubungan dengan buruknya pemeliharaan kesehatan rongga mulut

oleh pasien daripada akibat secara langsung dari pemakaian gigitiruan itu sendiri.

Skor plak, resiko karies, dan resiko kerusakan gigi penyangga meningkat secara

signifikan pada pemakai gigitiruan sebagian lepasan. 33

Moimas

dkk

(2006)

menyatakan

bahwa

pemakaian

gigitiruan

sebagian

lepasan berhubungan dengan terjadinya penyakit periodontal. Hal ini dikaitkan

dengan kebersihan rongga mulut yang buruk, meningkatnya plak dan kalkulus, dan

transmisi kekuatan transversal yang berlebihan pada struktur periodontal gigi asli dari

permukaan oklusal gigitiruan. 27

Menurut Sesma dkk (2005), stomatitis akibat gigitiruan adalah salah satu

infeksi rongga mulut yang berhubungan dengan pemakaian gigitiruan. Stomatitis

akibat gigitiruan adalah inflamasi kronis yang terlokalisasi/generalisasi atau inflamasi

hiperplasia papiler yang dapat terjadi pada pemakai gigitiruan sebagian lepasan. 34

Etiologi dari penyakit stomatitis akibat gigitiruan antara lain terdiri dari trauma akibat

gigitiruan,

pemeliharaan

kebersihan

rongga

mulut

dan

gigitiruan

yang

buruk,

pemakaian

gigitiruan

secara

terus-menerus,

infeksi

jamur,

dan

hipersensitifitas

Universitas Sumatera Utara

terhadap bahan basis gigitiruan. Pasien dengan kebersihan gigitiruan yang baik sangat

jarang terkena stomatitis akibat gigitiruan. 35

2.2.1.2 Kebersihan Gigitiruan

Gigitiruan

sebagian

lepasan

yang

tidak

terjaga

kebersihannya

dapat

mengendapkan berbagai deposit yang berasal dari saliva dan substansi lain termasuk

sisa makanan dan bakteri rongga mulut. Deposit yang menumpuk pada gigitiruan

tersebut selain memberikan kesan kotor pada gigitiruan, juga akan mengeluarkan bau

yang

kurang

enak. 4

Plak

yang

melekat

pada

gigitiruan

berhubungan

dengan

penampilan yang tidak estetis, serta rasa dan bau tidak enak yang timbul. 36

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Dokter gigi dan pasien pemakai gigitiruan sebagian lepasan harus menyadari

pentingnya

kebutuhan

untuk

menjaga

kesehatan

rongga

mulut

dan

kebersihan

gigitiruannya. 9

Usaha-usaha

untuk

memberikan

edukasi

tentang

pemeliharaan

kebersihan gigitiruan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan dokter

gigi dan pasien akan pentingnya pemeliharaan gigitiruan setelah pemasangan agar

gigitiruan sebagian lepasan dapat dipelihara dengan baik dan dapat digantikan segera

apabila timbul indikasi. 3 Selain dokter gigi dan pasien, bahan basis gigitiruan

sebagian

lepasan

juga

merupakan

kebersihan gigitiruan. 17

2.2.2.1 Dokter Gigi

faktor

yang

mempengaruhi

pemeliharaan

Pengetahuan seorang dokter gigi tentang pemeliharaan gigi asli yang masih

ada, akar, tulang alveolar, dan mukosa rongga mulut adalah faktor yang penting

untuk keberhasilan perawatan gigitiruan sebagian lepasan. 3 Tanggung jawab utama

Universitas Sumatera Utara

dokter gigi adalah menjamin bahwa gigi dan jaringan yang masih tinggal telah

dirawat dalam keadaan sehat. 1 Dokter gigi harus memberikan instruksi kepada pasien

setelah pemasangan gigitiruan dilakukan. 35 Instruksi lisan dan tulisan sangat efektif

untuk menambah pengetahuan pasien tentang menjaga kebersihan gigitiruan dan

jaringan mulut yang tersisa. Salinan ringkas dari informasi dan instruksi tersebut

harus diberikan kepada pasien. Instruksi tulisan tersebut termasuk penjelasan kepada

pasien tentang terbatasnya penggunaan gigitiruan dan pentingnya peran pasien untuk

keberhasilan perawatan, instruksi untuk membersihkan gigi asli yang masih ada,

instruksi untuk melepaskan gigitiruan selama 6-8 jam per hari, instruksi untuk

membersihkan gigitiruan, dan instruksi untuk melakukan kontrol berkala minimal

setahun sekali. Instruksi tulisan ini harus ditambah dengan instruksi lisan yang sesuai

dengan kebutuhan individu, yang diberikan oleh dokter gigi apabila diperlukan. Telah

ditemukan

bahwa

pengetahuan

dan

kebiasaan

yang

positif

meningkat

karena

pemberian

instruksi

tulisan

kepada

pasien. 11

Pasien

perlu

diinstruksikan

untuk

membersihkan gigitiruan dan rongga mulut mereka setiap setelah makan, merendam

gigitiruannya

dalam

larutan

pembersih

non-bleaching,

dan

untuk

menghindari

memakai

gigitiruan

mereka

selama

tidur. 35 Apabila

pasien

responsif

terhadap

instruksi

pemeliharaan

kesehatan

dan

kebersihan

mulutnya,

resiko

pemakaian

gigitiruan sebagian lepasan menjadi berkurang. 1

2.2.2.2 Pasien

Edukasi dan motivasi kepada pasien untuk memelihara kesehatan rongga

mulut merupakan faktor yang penting untuk keberhasilan perawatan gigitiruan

sebagian

lepasan. 3 Pasien

dengan

daya

tahan

dan

adaptasi

yang

tinggi

dapat

Universitas Sumatera Utara

mentoleransi desain gigitiruan sebagian lepasan yang kurang baik, tetapi tetap harus

menyadari bahaya kerusakan yang mungkin timbul, sehingga ia harus selalu berupaya

melaksanakan instruksi pemeliharaan dan kesehatan mulutnya. 1 Pentingnya kebiasaan

pasien untuk melakukan usaha menjaga kesehatan rongga mulut di rumah dan

seringnya

melakukan

kontrol

berkala,

mempengaruhi

keberhasilan

perawatan

gigitiruan sebagian lepasan. 37 Penumpukan plak dan perubahan yang terjadi pada

jaringan mulut yang tersisa, seperti karies gigi, penyakit periodontal, dan lesi pada

mukosa, berhubungan dengan pemakaian gigitiruan sebagian lepasan. Efek yang

tidak diinginkan pada gigi asli dan jaringan

pasien

melakukan

program

pemeliharaan

pendukung ini akan berkurang apabila

kebersihan,

mencakup

motivasi

dan

instruksi kebersihan yang diberikan, sama halnya dengan melakukan kontrol berkala

ke dokter gigi. 26 Pasien yang dapat termotivasi untuk menjaga tingkat kebersihan

yang tinggi, dan dengan program pemeliharaan kebersihan gigitiruan yang baik

dilakukan, indeks plak, indeks gingiva, skor kalkulus dan stein dari gigitiruan

sebagian lepasan dapat dijaga tetap dalam level atau tingkatan yang rendah. 12

2.2.2.3 Bahan Basis Gigitiruan Sebagian Lepasan

Bahan basis gigitiruan sebagian lepasan terdiri atas logam atau akrilik. 17

Semua jenis gigitiruan sebagian lepasan harus dilepaskan dari mulut setiap setelah

makan untuk dibersihkan. Memelihara gigitiruan sebagian lepasan kerangka logam

pada

dasarnya

sama

dengan

memelihara

gigitiruan

sebagian

lepasan

resin

akrilik. Gigitiruan kerangka logam memiliki keuntungan dimana gigitiruan sebagian

lepasan jenis ini lebih mudah dibersihkan daripada gigitiruan sebagian lepasan resin

Universitas Sumatera Utara

akrilik. 38 Penelitian yang dilakukan terhadap 74 pasien pemakai gigitiruan sebagian

lepasan,

pada

36%

pasien

terdapat

kalkulus

pada

permukaan

gigitiruan

resin

akriliknya, dan hanya pada 14% pasien terdapat kalkulus pada permukaan gigitiruan

kerangka logamnya (Wagner dan Kern cit. Preshaw dkk, 2011).

2.2.2.3.1 Resin Akrilik

Sampai saat ini resin akrilik masih digunakan sebagai bahan basis gigitiruan

di bidang kedokteran gigi karena resin akrilik mempunyai sifat estetik dan kekuatan

relatif baik serta mudah dimanipulasi, tetapi kekurangannya, resin akrilik mempunyai

sifat

porus. 39 Resin

akrilik

memiliki

pori-pori yang

irregular

dan

mikroskopis

yang dapat menjadi tempat penumpukan plak serta berkembangnya koloni bakteri

dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan rongga mulut. 34,38 Menurut Silva dkk

(2009), gigitiruan dengan basis resin akrilik dapat menjadi tempat berkumpulnya

stein dan plak disebabkan oleh sifat akrilik yang porus dan menyerap air, sehingga

mudah terjadi akumulasi sisa makanan dan minuman sehingga akan berpengaruh

buruk terhadap kesehatan rongga mulut si pemakai. Permukaan gigitiruan yang tidak

dilakukan pemolesan juga mempermudah melekatnya plak dan merupakan tempat

yang

baik

untuk

perkembangbiakan

mikroorganisme

yang

dapat

menyebabkan

inflamasi. Inflamasi yang terjadi dapat menjadi lebih buruk apabila gigitiruan tersebut

kotor, oleh karena itu pemakai gigitiruan sebagian lepasan harus benar-benar menjaga

kebersihan gigitiruannya. 40

2.2.2.3.2 Logam

Logam adalah bahan yang tahan terhadap abrasi, sehingga permukaannya

tetap licin dan mengkilat, serta tidak menyerap cairan mulut. Sifat ini membuat

Universitas Sumatera Utara

deposit

makanan

dan

kalkulus

sulit

melekat,

sehingga

dapat

dengan

mudah

dibersihkan

secara

mekanis.

Karakteristik

ini

membuat

basis

logam

disebut

naturally cleaner” dibandingkan dengan resin akrilik. 1 Keuntungan lain yang juga

dimiliki gigitiruan sebagian lepasan kerangka logam adalah dapat mencegah bau tak

sedap pada rongga mulut karena gigitiruan jenis ini tidak memiliki mikroporus yang

dapat menjadi tempat melekatnya plak dan bakteri yang dapat menghasilkan bau

mulut. 38

2.3 Kondisi Kebersihan Gigitiruan

Plak,

stein,

kalkulus,

dan

deposit

lain

yang

melekat

pada

gigitiruan

menyebabkan beberapa efek yang tidak diinginkan antara lain kondisi gigitiruan

menjadi kotor, dan adanya rasa serta bau yang tidak menyenangkan. 22 Dikbas dkk.

(2006) dalam penelitiannya menetapkan kondisi kebersihan gigitiruan berdasarkan

ada atau tidaknya debris, stein dan kalkulus pada gigitiruan dengan kategori sebagai

berikut: gigitiruan bersih dimana tidak terdapat debris lunak, kalkulus atau stein pada

gigitiruan; gigitiruan kotor dimana terdapat debris lunak di antara anasir gigitiruan

setelah dicuci di bawah air mengalir dan atau terdapat kalkulus atau stein di sekeliling

tepi gingiva anasir gigitiruan; dan gigitiruan sangat kotor dimana debris lunak

terdapat di antara anasir gigitiruan dan di atas permukaan basis, dan atau terdapat

kalkulus serta stein pada anasir gigitiruan dan permukaan basis gigitiruan yang

menutupi

mukosa

rongga

mulut

dan

palatum. 10

Kondisi

gigitiruan

yang

kotor

berhubungan dengan kurangnya instruksi kebersihan yang diterima, desain gigitiruan

yang

buruk,

kurangnya

kemampuan

pasien

untuk

memelihara

kebersihan

gigitiruannya, dan tidak tersedianya bahan pembersih gigitiruan di pasaran. 22 Dikbas

Universitas Sumatera Utara

dkk (2006), Baran dan Nalcaci (2009), serta Amjad dkk (2010) menemukan bahwa

kebanyakan pasien pemakai gigitiruan tidak dapat menjaga kebersihan gigitiruan

mereka secara teratur dan terus memakai gigitiruan dengan kondisi yang kotor. 10,16,19

2.4 Kebiasaan Memelihara Kebersihan Gigitiruan

Kebiasaan

pasien

memelihara

kebersihan

gigitiruan

sebagian

lepasan,

frekuensi, waktu, dan cara yang digunakan untuk membersihkan gigitiruan bervariasi

pada

setiap

individu

dan

masyarakat

yang

berbeda. 7

Beberapa

faktor

yang

berhubungan dengan kondisi gigitiruan yang buruk adalah bertambahnya usia, pasien

berjenis kelamin laki-laki, ras, lingkungan tempat tinggal, terbatasnya interaksi dan

dukungan

sosial,

kesehatan

umum

yang

buruk,

serta

tingkat

pendidikan

dan

penghasilan yang rendah. 18 Lansia tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk

memelihara kebersihan rongga mulut dan gigitiruannya, dimana hal ini merupakan

kunci keberhasilan perawatan gigitiruan, baik cekat maupun lepasan (Strayer dkk cit.

Barreiro dkk, 2009). Efek preventif yang didapatkan dari memelihara kebersihan

rongga mulut oleh lansia tidak sebaik yang didapatkan oleh pasien yang lebih muda.

Hal ini disebabkan menurunnya penglihatan, kepikunan yang berat (demensia), dan

menurunnya keadaan fisik yang mempengaruhi kemampuan untuk mengurus diri

sendiri. Pasien lansia mengerti bahwa mereka harus menjaga kebersihan rongga

mulutnya dengan baik, namun tidak mengetahui bahwa usaha mereka kurang dapat

membuahkan hasil yang baik. 9 Maupome dkk (1998) menyatakan bahwa kesehatan

rongga mulut yang lebih baik biasanya ditemukan pada pasien yang lebih muda dan

pada pasien yang mendapatkan dukungan dari teman, sahabat, dan keluarganya. 41

Universitas Sumatera Utara

Baran dan Nalcaci (2009) serta Amjad dkk (2010) menemukan bahwa pasien

perempuan lebih banyak memakai gigitiruan yang bersih dibandingkan dengan pasien

laki-laki. 16,19 Hal ini disebabkan pasien perempuan lebih mementingkan estetis dan

cenderung memiliki kesehatan rongga mulut yang lebih baik. 16 Dalam Third National

Health and Nutrition Examination Survey (NHANES III), etnis dan ras berhubungan

dengan kehilangan gigi selain usia dan jenis kelamin, dimana pasien non-Hispanic

yang berkulit gelap merupakan yang paling banyak mengalami kehilangan gigi

dibandingkan pasien yang berkulit terang, karena tidak menjaga kesehatan rongga

mulutnya. 42 Pasien yang bertempat tinggal di daerah pedesaan mengalami lebih

banyak kerusakan pada gigi seperti lesi karies (Jamieson dkk cit. Willershausen dkk,

2010). Pasien dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang rendah memiliki

kesehatan rongga mulut yang lebih buruk daripada pasien dengan tingkat pendidikan

dan penghasilan yang tinggi (Chavers dkk cit. Willershausen dkk, 2010). Pasien

dengan tingkat pendidikan yang tinggi lebih peduli terhadap kebersihan rongga

mulut, dimana mereka lebih sering pergi ke dokter gigi untuk melakukan kontrol

berkala. Penelitian yang dilakukan pada pasien dewasa berusia 35-44 dan 64-75

tahun, pasien dengan latar belakang pendidikan yang rendah lebih sering menderita

penyakit periodontal daripada pasien dengan latar belakang pendidikan yang lebih

tinggi (Krustrup dan Petersen cit. Willershausen dkk, 2010).

2.4.1 Frekuensi Pembersihan

Setiap satu kali sehari sebelum tidur, sangat penting untuk melepas gigitiruan

dari rongga mulut dan merendamnya dalam larutan pembersih untuk membunuh

Universitas Sumatera Utara

mikroorganisme

pada

gigitiruan

dan

membersihkan

stein

yang

ada,

yang

diikuti menyikat dengan pasta gigi setiap selesai makan. 14,24 Hasil penelitian Barbosa

dkk (2008) menyatakan bahwa 98% pasien membersihkan gigitiruannya setiap hari

dan 62,6% pasien melakukannya 3 kali sehari atau lebih, dimana hal ini cukup

memuaskan. Frekuensi tidak mengindikasikan prosedur pembersihan yang efisien.

(Nevalainen dkk cit. Barbosa dkk, 2008). Kualitas dari pembersihan jauh lebih

penting

daripada

frekuensi

pembersihan

dalam

usaha

menjaga

kesehatan

dan

kebersihan rongga mulut (Bellini dkk cit. Watt dan Roy, 1984).

2.4.2 Waktu Pembersihan

Gigitiruan dan rongga mulut harus dibersihkan setiap setelah makan. Pada

malam

hari,

gigitiruan

harus

dilepas

dan

direndam

dalam

larutan

pembersih

gigitiruan. 4,5,13 Perendaman gigitiruan dalam larutan pembersih dapat dilakukan

sepanjang malam, 2 jam, 1 jam atau 30 menit tergantung dari bahan pembersih yang

digunakan. 34

2.4.3 Cara Pembersihan

Cara pembersihan yang tepat harus dilakukan untuk kebersihan gigitiruan itu

sendiri dan mencegah kerusakan bahan basis gigitiruan. 12 Gigitiruan sebagian lepasan

dapat dibersihkan secara mekanis, kemis, atau gabungan keduanya. 13 Cara yang

sering dilakukan untuk pembersihan gigitiruan, yaitu cara mekanis dilakukan dengan

sikat

gigi

atau

alat

pembersih

ultrasonik.

Pembersihan

dengan

cara

mekanis

menggunakan sikat gigi dengan atau tanpa bahan abrasif bersifat efektif dalam

menghilangkan

plak,

tetapi

jika

dilakukan

berulang-ulang

dapat

menyebabkan

Universitas Sumatera Utara

keausan pada plat gigitiruan sebagian lepasan resin akrilik yang nantinya dapat

menyebabkan gigitiruan menjadi tidak retentif. 34 Pembersihan dengan cara ini mudah

dilakukan, efektif jika digunakan dengan keahlian yang tepat dan tidak mahal, namun

teknik penyikatan dengan penuh antusias dan kasar dapat menyebabkan kerusakan

basis gigitiruan. Kerugian lainnya adalah cara ini tidak dapat dilakukan oleh orang-

orang dengan ketidakmampuan manual, misalnya cacat, dimana pembersih ultrasonik

atau pembersih kemis merupakan pilihan yang tepat. 15 Pembersihan dengan energi

ultrasonik merupakan salah satu cara pembersihan secara mekanis yang jarang

digunakan karena masih sedikitnya pengetahuan tentang cara ini dan biayanya yang

relatif

mahal. 22

Pembersih

ultrasonik

ini

dapat

membersihkan

bagian-bagian

gigitiruan yang tidak terjangkau oleh sikat biasa dan dapat membersihkan gigitiruan

hanya dalam waktu beberapa menit saja. 43

gigitiruan hanya dalam waktu beberapa menit saja. 4 3 Cara Gambar 1. pembersihan kemis Ultrasonik (

Cara

Gambar 1.

pembersihan

kemis

Ultrasonik

Pembersih

adalah

perendaman

dengan

larutan

pembersih,

pemaparan oksigen dengan air-drying, dan radiasi microwave. 22 Bahan pembersih

kimia dapat diklasifikasikan ke dalam lima kelompok yaitu alkalin peroksida, alkalin

Universitas Sumatera Utara

hipoklorit, asam, desinfektan, dan enzim. 15 Pemaparan oksigen dengan air-drying

jarang digunakan oleh pemakai gigitiruan sebagian lepasan karena dua alasan, yang

pertama karena gigitiruan yang kotor jika dibiarkan terpapar dengan udara akan

membuat deposit yang melekat menjadi lebih lengket sehingga akan sangat susah

membersihkan antigen mikrobial yang ada di permukaan gigitiruan, dan alasan yang

kedua adalah karena pemaparan terhadap udara akan merusak kontur gigitiruan

tersebut. Desinfeksi gigitiruan lepasan menggunakan radiasi microwave merupakan

cara yang efektif, cepat, mudah, dan biayanya tidak mahal serta dapat dilakukan oleh

dokter gigi, tekniker, dan pasien untuk membunuh mikroorganisme yang tidak aktif.

Radiasi

microwave

bekerja

efektif

untuk

menurunkan

jumlah

organisme

pada

permukaan

gigitiruan (Webb

dkk

cit.

Garg, 2010).

Pembersihan secara

kemis

memiliki keuntungan yaitu sangat mudah digunakan, tetapi kerugiannya pembersih

kemis ini harganya relatif mahal dan dapat menyebabkan korosi pada gigitiruan

lepasan basis logam dan juga bleaching pada gigitiruan lepasan basis resin akrilik. 6

Idealnya, cara pembersihan mekanis dan kemis harus dilakukan bersamaan

untuk kontrol plak yang lebih baik. 10 Cara pembersihan gigitiruan lepasan secara

gabungan mekanis dan kemis lebih efektif. Contohnya adalah menyikat gigitiruan

lebih dulu kemudian direndam dalam larutan kimia sebagai pembersih gigitiruan. 44

Menurut penelitian Silva dkk (2009), penyikatan yang diikuti dengan

perendaman

cukup efektif dan efisien untuk membunuh bakteri dan jamur. 40

Universitas Sumatera Utara