Anda di halaman 1dari 22

1

TINJAUAN PUSTAKA

Askariasis pada Anak
Gusna Ridha
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
.Arjuna Utara no 6. Jakarta Barat
gusna.ridha@yahoo.com

Skenario
Seorang ibu membawa anaknya yang berusia 5 tahun ke puskesmas dengan keluhan 1
hari yang lalu saat buang air besar disertai keluar cacing berbentuk bulat dan panjang dengan
ukuran 25 cm. nafsu makan anak juga berkurang . pada pemeriksaan anak tampak sakit ringan,
berat badan 12 kg.
Pendahuluan
Pada kondisi yang berat, cacingan bisa menimbulkan berbagai gangguan yang sulit
disembuhkan. Namun begitu, perlu waktu untuk melihat gejalanya. Mungkin saja setelah
beberapa waktu, gejala klinik penyakit cacingannya baru nampak. Di hari-hari berikutnya,
mereka akan berkembang biak dalam tubuh. Sekali bertelur bisa mencapai ribuan. Penyakit yang
sering terjadi ini sangat menganggu tumbuh kembang anak. Sehingga sangat penting untuk
mengenali dan mencegah penyakit cacing pada anak sejak dini. Gangguan yang
ditimbulkan mulai dari yang ringan tanpa gejala hingga sampai yang berat bahkan
sampai mengancam jiwa.
Secara umum, gangguan nutrisi atau anemia dapat terjadi pada penderita, Sekitar 60
persen orang Indonesia mengalami infeksi cacing. Kelompok umur terbanyak adalah pada usia
2

5-14 tahun. Penderita tersebar di seluruh daerah, baik dipedesaan maupun perkotaan. Karena itu,
cacingan masih menjadi masalah kesehatan mendasar di negeri ini.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memengetahui seluk beluk mengenai
penyakit cacingan atau kecacingan pada anak. Mencoba memahami tentang penyebab cacingan,
gejala yang ditimbulkan, cara mencegah dan mengatasi penyakit cacingan, dan yang terpenting
adalah mengetahui dan memahami dampak penyakit cacingan pada anak-anak.
Makalah ini juga sekaligus untuk memenuhi tugas PBL yang diberikan dan membuktikan
mengenai hipotesa yang telah dibuat.
Anamnesis
Anamnesis yaitu suatu proses wawancara dua arah antara dokter dengan pasiennya untuk
menadapatkan informasi mengenai keluhan yang membuatnya datang ke dokter. Karna pasien
masih belum mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya, biasanya kita dapat menggali
informasi secara alloanamnesi, yaitu anamnesis yang kita lakukan dengan pendamping pasien
yang mengerti benar mengenai riwayat perjalanan penyakit pasien. Dalam lingkup untuk
mendiagnosis penyakit kecacingan ini ada beberapa pertanyaan yang diperlukan, diantaranya
mengenai:
1


Tinja
o Diare/konstipasi?
o Melena?
o Bau?
o Terdapat materi atau tidak?

Nafsu makan
o Baik/buruk?
o Perubahan yang baru terjadi
atau sudah lama?
o Ada intoleransi makanan
spesifik?

Disfagia
o Adanya kesulitan menelan?
o Kapan terjadinya
o Karena nyeri atau ada
tahanan?
o Jenis makanan padat atau
cair?
o Keadaan yang menyebabkan
hambatan?
3

Berat badan
o Berkurang/bertambah/tetap?
o Berapa banyak dan berapa
lama?

Nyeri abdominal/dispepsia/gangguan
pencernaan
o Keadaan?
o Lokasi?
o Penjalaran?
o Efek masa?
Muntah
o Berapa banyak?
o Berapa sering?
o Isi?
o Rasa?
o Ada materi atau tidak ?

Diet dan obat-obatan
Gejala lain (sesak nafas? Rasa
begah? Gatal pada anus? Dll)

Pemeriksaan Fisik
Pertama tama kita harus melihat keadaan umum anak , bila keadaan umum baik atau
tidak dalam keadaan gawatm kita dapat melanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang lebih
spesifik. Pemeriksaan abdomen paling baik dilakukan pada pasien dalam keadaan berbaring dan
relaks, kedua lengan berada disamping, dan pasien bernapas melalui mulut. Pasien diminta untuk
menekukkan kedua lutut dan pinggulnya sehingga otot-otot abdomen menjadi relaks. Tangan
pemeriksa harus hangat untuk menghindari terjadinya refleks tahanan otot oleh pasien.
1

Inspeksi
Setelah melakukan inspeksi menyeluruh dan keadaan sekitarnya dengan cepat, perhatikan
abdomen untuk memeriksa hal berikut ini:
1

Bentuk abdomen?
Bergerak tanpa hambatan ketika pasien bernapas?
Gerakan peristaltik yang terlihat?
Kelainan-kelainan lain yang dapat terlihat?


4

Palpasi
Lakukan palpasi pada setiap kuadran secara berurutan, awalnya tanpa penekanan yang
berlebihan dan dilanjutkan dengan palpasi secara dalam (jika tidak terdapat area nyeri yang
diderita atau diketahui). Kemudian, lakukan palpasi secara khusus terhadap beberapa organ.
1

Nyeri ?
Abdomen harus diperiksa secara sistematis, terutama jika pasien menderita nyeri
abdomen. Selalu tanyakan letak nyeri yang dirasa maksimal dan periksa bagian tersebut
paling akhir.
Teraba masa padat?
Tahanan abdomen?
Tahanan abdomen merupakan suatu refleks penegangan otot-otot abdominal yang
terlokalisasi yang tidak dapat dihindari oleh pasien dengan sengaja.

Perkusi
Perkusi berguna (khususnya pada pasien yang gemuk) untuk memastikan adanya
pembesaran beberapa organ, khususnya hati, limpa, atau kandung kemih. Lakukan selalu perkusi
dari daerah resonan ke daerah pekak, dengan jari pemeriksa yang sejajar dengan bagian tepi
organ.
1

Auskultasi
Bising usus normal, menurun, meningkat?
Hanya pengalaman klinis yang dapat memberitahu bising usus yang normal. Seorang
pemeriksa mungkin membutuhkan waktu selama beberapa menit sebelum dapat mengatakan
dengan yakin bahwa bising usus tidak terdengar. Bising usus yang meningkat dapat ditemukan
pada obstruksi usus, diare, dan jika terdapat darah dalam pencernaan yang berasal dari saluran
cerna atas (keadaan yang menyebabkan peningkatan peristaltik).



5

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium:
1. Pemeriksaan mikroskopik feses dapat digunakan untuk memeriksa sejumlah besar telur
yang diekskresikan melalui anus. Telur yang khas dapat terlihat secara langsung pada
pemeriksaan feses. Namun telur tidak terlihat di feses sebelum 40 hari paska infeksi,
sehingga pemeriksan telur cacing tidak dapat digunakan untuk diagnosis awal askariasis.
2

2. Pada pemeriksaan darah kadang ditemukan eosinofilia terutama pada fasemigrasi larva
melalui paru-paru. Kadar eosinofil biasanya berkisar antara 5sampai 12%, tetapi dapat
mencapai 30 sampai 50%. Kadar IgG dan IgE serum sering meningkat pada awal
infeksi.
2-3

3. Ditemukan larva pada lambung atau saluran pernafasan pada penyakit paru.
3

4. Ditemukannya larva atau kristal Charcot-Leyden pada pemeriksaan sputum bila terjadi
Sindroma Loeffler.
2-3


Rontgen abdomen
Pada anak dengan infeksi yang parah, dapat terdeteksi adanya kumpulan cacing
pada foto polos abdomen. Massa cacing terlihat kontras dengan udara dalam usus yang
menimbulkan efek "whirlpool " dan gambaran air fluid level. Cacing dewasa terdeteksi
dengan adanya elongated filling defects pada pemeriksaan Barium enema usus halus.
Obstruksi usus juga terlihat pada gambaran radiologis.
3

Narrow-based air fluid levels tanpa pelebaran loop usus dapat didugaa
danya obstruksi parsial. Wide-based air fluid levels dengan pelebaran
loopmenunjukkan adanya obstruksi komplit.
3


6


Rontgen menunjukkan multiple air fluid level
dengan cigar bundle appearance dar i askar i s
USG abdomen
Digunakan bila pada foto polos abdomen maupun dengan kontras ti dak terlihat
adanya pelebaran loop usus dan air fluid level. USG abdomen merupakan pemeriksaan
yang cepat, aman, non invasif, namun relatif mahal untuk melihat askariasis bilier. Pada USG
akan tampak berbagaimacam gambaran askaris yaitu:
(a) Strip echogenik tebal dengan central anechoic tube
(b) strip echogenik multipel panjang, linier, paralel tanpa acoustic shadowing dan
(c) Overlapping longitudinal interfaces pada duktus biliaris utama akibat gulungan seekor
atau beberapa cacing dalam duktus biliaris.
4


CT scan abdomen
Untuk meli hat gambaran lebih jelas. Dapat digunakan kontras untuk
penderita dengan gejala akut abdomen yang diperkirakan adanya obstruksi intestinal.
3

Rontgen thoraks
Digunakan untuk melihat manifestasi askariasis pada paru- paru, sering terlihat adanya
gambaran opak pada lapang pandang paru seperti pada sindroma Loeffler.
2- 3

7

Ova Dan Parasit Dalam Tinja
Pemeriksaan specimen tinja dapat mendekati beberapa jenis parasit usus. Beberapa
dalam parasit ini hidup dalam simbiosis non pathogen. Sedangkan, yang lainnya menyebabkan
penyakit usus. Diantaranya yang paling sering adalah Ascaris lumbricoides dan Necator
americanus (cacing tambang); cacing pita Diphyllobothirium latum, taenia saginata, dan Taenia
solium (jarang), amuba Entamoeba histolytica; dan flagelata Giardia lamblia. Siklospora juga
dapat dideteksi dalam pemeriksaan feses untuk ova dan parasit.
1

Tujuan
Untuk memastikan atau menyingkirkan infeksi dan penyakit parasit usus.
1

Persiapan pasien
1

Jelaskan kepada pasien bahwa uji ini mendeteksi parasit usus.
Sebagaimana diminta, perintahkan pasien untuk menghindari pengobatan dengan minyak
mineral atau jarak, bismuth, senyawa antidiare atau magnesium, enema barium, dan
antibiotic selama 7 sampai 10 hari sebelum uji.
Beritahukan kepada pasien bahwa uji ini memerlukan 3 spesimen tinja, yaitu selang sehari
atau setiap hari ke tiga. Dapat diperlukan sampai enam specimen untuk memastikan adanya
E.histolytica.
Catat riwayat perjalanan dan diet terbaru bila pasien menderita diare. Periksa riwayat pasien
terhadap obat antiparasit, seperti karbason, tetrasiklin, kromomisin, metronidazol. Dan
diiodohidroksikuin, dalam 2 minggu sebelum uji.

Perlengkapan
1

Sarung tangan, wadah kedap air dengan tutup rapat, pispot (bila perlu), spatel lidah.
Prosedur dan Perawatan Pasca Uji
1


Pakai sarung tangan dan kumpulkan specimen tinja langsung kedalam wadah.
Kumpulkan specimen kedalam pispot bila pasien terbaring ditempat tidur, kemudian
pindahkan feces kedalam wadah yang telah dilabel dengan menggunakan spatel lidah.
8

Catatlah tanggal dan waktu pengumpulan serta konsistensi spesimennya.
Catat juga setiap terapi antimikroba baru baru ini serta setiap riwayat perjalan atau makanaan
yang berhubungan
Saat ini tersedia piranti pengumpulan tinja dan pengawet yang dijual bebas untuk deteksi ova
dan parasit
Beritahukan pasien bahwa ia dapat menjalankan kembali jadwal obat obatan seperti biasa.
Specimen yang telah diobati harus diperiksa 3 sampai 4 minggu setelah pengobatan untuk
memastikan eradikasinya.

Perhatian
1

Jangan mencemari specimen tinja dengan urin, yang dapat menghancurkan trofozoit
Jangan mengumpulkan tinja dari jamban, karena air bersifat toksik untuk trofozoit serta dapat
mengandung organisme yang mengganggu hasil uji
Kirimkan segera specimen ke laboratorium setelah pengumpulan, bila specimen cairan atau
tinja lunak tidak dapat diperiksa dalam 30 menit setelah dikeluarkan, letakkan dalam
pengawet. Bila specimen tinja yang terbentuk tidak dapat diperiksa segera, dinginkan atau
letakkan pada pengawet.
Bila keseluruhan tinja tidak dapat dikirim ke laboratorium, masukkan cacing, atau segmen
cacing makroskopik serta bagian specimen yang berdarah dan mukoid.
Gunakan sarung tangan saat melakukan prosedur san menangani specimen. Buang peralatan,
tutup rapat wadah, dan kirimkan. Buang sarung tangan setelah pengumpulan specimen.

Temuan normal
1

Tidak terdapat parasit atau ova dalam tinja
Temuan Abnormal
Adanya E. histolytica memastikan amebiasis; g. lamblia, giardiasis. Meskipun demikian,
luasnya infeksi bergantung pada derajat invasi jaringan. Bila menvcurigai amebiasis tetapi
pemeriksaan tinja negative, mungkin diperlukan pengumpulan specimen setelah katartik salin
dengan menggunakan natrium bifosfat buffer atau selama sigmoidoskopi. Bila mencurigai
9

giardiasis atau adanya Strongyloides stercoralis tetapi pemeriksaaan tinja negative, mungkin
diperlukan pemeriksaan isi duodenum.
1

Cidera pada penjamu sulit dideteksi, meskipun tampak larva atau ovum cacing, dengan
demikian jumlah cacing biasanya bersesuaian dengan gejala klinis pasien untuk membedakan
antara infestasi cacing san penyakit cacing. Eosinofilia juga dapat menunjukkan infeksi parasit.
1

Cacing dapat berpindah dari saluran cerna, dengan memberikan perubahan patologis pada
bagian lain tubuh . misalnya cacing gelang Ascaris lumbricoides dapat menembus dinding usus
yang menyebabkan peritonitis, atau berpindah ke paru paru, yang menyebabkan pneumonitis.
Cacing tambang dapat menyebabkan anemia mikrositik hipokrom akibat pengisapan darah dan
pendarahan, terutama pada pasien dengan diet kurang besi. Cacing pita D. latum dapat
menyebabkan anemia megaloblastik dengan mengeluarkan vitamin B12.
1

Faktor yang Mempengaruhi
Minyak mineral atau kastroli, bismuth, senyawa antidiare ayau magnesium, dan enema
barium
Tidak berpuasa sebelum uji.
Teknik pengumpulan yang tidak benar, specimen yang dikumpulkan terlalu sedikit, atau
kontaminasi sempel dengan urin (negative palsu)
Tidak mengirimkan specimen ke laboraturium segera atau tidak mendinginkan atau
mengawetkan specimen.
Specimen terkena panas atau dingin berlebihan.
Media kontras radiografi yang diberikan pada pasien dalam 5 sampai 10 hari sebelum
pengumpulan specimen.
Penegakan Diagnosis

Diagnosis askariasis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti askariasis ditegakkan apabila
ditemukan telur ascaris lumbricoides pada pemeriksaan tinja atau ditemukannya cacing dewasa
yang keluar melalui anus. Hidung, atau mulut. Dari anamnesis ditemukan riwayat feses
bercampur cacing yang panjangnya 25 cm, yaitu Asacaris lumbricoides. Dapat disertai
10

juga gangguan yang lainnya misalnya berkurangnya nafsu makan, keluhan nyeri perut terutama
periumbilikus yang timbulnya intermiten, konstipasi atau obstipasi, dan diare. Pada anak-
anak dengan infeksi askariasis kronis dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
3,5


Kecacingan (Askariasis)

Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing.
Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Infeksi kecacingan adalah infeksi
yang disebabkan oleh cacing kelas nematode usus khususnya yang penularan melalui tanah,
diantaranya Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang (Ancylostoma
duodenale dan Necator americanus) dan Strongyloides stercoralis.
3,6

Etiologi

Askariasis adalah infeksi parasit pada saluran cerna yang disebabkan oleh Ascaris
lumbricoides atau lebih dikenal dengan cacing gelang (roundworm) yang penularannya melalui
perantaraan tanah (Soil Transmited Helminths).
7-8


Morfologi

Ascaris lumbricoides adalah nematoda terbesar pada manusia. Cacing betina
lebih besar dari cacing jantan, panjang cacing betina bervariasi dari 25-40 cm dan cacing jantan
rata-rata 15-25 cm dengan diameter antara 3-5 mm. cacing betina dewasa mempunyai bentuk
tubuh posterior yang membulat, berwarna putih kemerah merahan dan mempunyai ekor lurus
tidak melengkung, sementara cacing jantan dewasa mempunyai warna yang sama
dengan cacing betina, tetapi ekornya melengkung ke arah ventral Kepalanya mempunyai tiga
bibir pada ujung anterior (bagian depan) dan mempunyai gigi-gigi kecil atau dentikel pada
pinggirnya. Cacing netina dapat menghasilkan telur 200.000 perhari yang di ekskresikan
melalui feses.
7



11

Siklus Hidup

Manusia adalah satu-satunya host definitif Ascaris lumbricoides. Cacing dewasa menetap
pada lumen usus halus, biasanya pada jejunum atau ileum. Cacing ini mempunyai lama hidup
1 tahun sampai 2 tahun dengan terus berdiam diri diusus halus atau berpindah dari
satu organ ke organ lainnya, dan kemudian keluar bersama dengan feses. Askaris
lumbricoides dapat menghasilkan telur sebanyak 200.000 per hari, baik telur fertil maupun
telur infertil. Hanya telur fertil yang dapat menjadi infeksius. Tidak adanya telur fertile dalam
pemeriksaan feses menunjukkan bahwa hanya ada cacing betina di dalam usus.
7

Panjang terlur cacing 60-70 mikro meter dengan lebar 40-50 mikro meter dengan adanya
mamillated outer coat . Telur keluar melaluifeses dan berkembang menjadi telur yang infektif
berisi larva pada tanah dalam waktu 18 hari sampai beberapa minggu (tergantung kondisi
lingkungan). Iklimtropis dengan suhu optimal adalah 23o C sampai 30oC merupakan lingkungan
yang sangat cocok untuk perkembangan telur dan larva cacing.
7

Secara skematis siklus Ascaris lumbricoides dapat dilihat pada sebagai
berikut:
6,7

1 . Caing dewasa hidup dalam lumen usus halus
2 . Cacing betina dapat menghasilkan sekitar 200.000 telur perhari yang akan dikeluarkan
melalui feses
3 . telur yang tidak fertile dapat tertelan namun tidak infeksius. Telur yang fertile akan
menjadi infeksius setelah 18 hari sampai beberapa minggu tergantung pada kondisi
lingkungan (optimum: lembab, hangat).
4 . Telur yang infektif tertelan
5 . Larva menempel dan menginvaginasi mukosa usus
6 . Dan terbawa melalui vena porta menuju ke paru paru
7 . larva matur dalam paru paru (10-14 hari) akan penetrasi ke dinding alveoli, setelah masuk
rongga alveolus, kemudia naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea
larva akan menuju faring. Penderita akan batuk karena rangsangan tersebut dan larva
akan tertelan ke dalam esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larba berubah
menjadi cacing dewasa (kembali kesiklus 1).
12


Diperlukan waktu antara 2-3 bulan dari mulai tertelannya telur infeksius menjadi
cacing dewasa

Siklus hidup Askaris lumbrocoides

Epidemiologi

Askariasis paling sering terjadi di negara-negara tropis dan subtropis dengan iklim
lembab dan hangat, terutama dipengaruhi oleh kemiskinan, kurangnya persediaan air bersih,
serta kebersihan lingkungan yang buruk. Di Indonesia, prevalensi Askariasis pada anak-anak
sebesar 60-80%. Askariasis dapat terjadi pada semua usia, namun paling sering terjadi pada anak
usia 2 sampai 10 tahun dan prevalensinya turun setelah usia 15 tahun.
7


Cara penularan
Penularan askariasis terutama terjadi melalui tertelannya telur Ascaris lumbricoides yang
terdapat pada makanan atau minuman yang terkontaminasi. Pada anak anak biasanya terjadi
13

akibat tertelannya telur melalui tangan yang kotor dan terhirupnya telur infektif bersama debu di
udara.
6

Patogenesis dan Gejala Klinik
Pada umumnya penderita tidak menunjukkan gejala. Gejala klinis akan timbul bila
jumlah cacing cukup banyak, disetkan bahwa usus dapat menampung lebih dari 5000 cacing
tanpa menimbulkan gejala klinis
Patogenesis dan gejala klinis askariasis disebabkan oleh: respon imun host, efek migrasi
larva, efek mekanis cacing dewasa, dan defisiensi nutrisi yang disebabkan cacing dewasa.
Pada anak-anak gejala utamanya adalah nyeri abdomen, hilangnya nafsu makan, diare, dan
gangguan pertumbuhan pada infeksi askaris kronis. Secara umum, gejala klinis dan
komplikasi askariasis dapat dibagi menjadi: Manifestasi pada paru-paru dan hipersensitivitas,
Manifestasi pada usus, Obstruksi usus, dan Gejala hepatobilier dan pankreatik.
8

1. Manifestasi pada paru-paru dan hipersensitivitas

Larva askaris yang mempenetrasi mukosa usus dan secara hematogen di transport
menuju paru-paru dapat menimbulkan manifestasi pada paru-paru. Manifestasi pada paru-paru
bervariasi, terjadi pada 5-26 hari setelah tertelannya telur askaris. Ascaris pneumonia dapat
terjadi, yang akan menyebabkan reaksi inflamasi lokal alveoli. Askariasis paru merupakan
penyebab tersering Loefflers syndrome yang ditandai oleh demam, batuk, sputum,
asma, eosinofilia, dan terlihat adanya infiltrat pada rontgen thoraks.
6,9

Manifestasi pada paru-paru ini bersifat sementara dan akan mengjilang setelah beberapa
minggu. Kristal Charcot-Leyden, dan larva dapat ditemukan pada pemeriksaan sputum. Beratnya
gejala memiliki korelasi dengan banyaknya larva, tetapi gejala pulmoner lebih jarang pada
negara dengan penularan Ascaris lumbricoides yang terus menerus.
6,9

Askaris menginduksi respon humoral yang kuat, ditandai dengan peningkatan IL 4
respon humoral yang kuat, ditandai dengan peningkatan IL-4, IL-5, eosinofilia dan Ascaris
- specific IgE, yang merupakan tanda respon imun dari Th2. Manifestasi alergi yang terjadi
diakibatkan oleh IgE-mediated hypersensitivity,meliputi rinitis alergi (hay fever), eczema, asma
14

dan alergi berbagai macam makanan. Manifestasi ini dapat didiagnosis dengan skintest atau
ditemukannya allergen-specific IgE dalam serum. Biasanya terjadi pada
akhir periode migrasi melalui paru-paru dan berlanjut selama fase intestinal askariasis.
6,9


2. Manifestasi pada usus

Gejala utama askariasis pada anak-anak adalah nyeri abdomen, anoreksia, kegagalan
pertumbuhan dan diare. Nyeri perut yang disebabkan oleh obtruksi intestinal
oleh parasit dirasakan di daerah periumbilikal. Bila cacing masuk kesaluran empedu maka dapat
menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum
atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen. Gastroentritis eosinofilik merupakan
inflamasi yang ditandai oleh infiltrasi eosinofil pada saluran cerna yang menyebabkan berbagai
gejala abdomen dan biasanya berupa eosinofilia perifer.
6,9

Ascaris lumbricoides akan mendiami usus manusia dan menyerap makanan disana,
disamping tumbuh dan berkembang biak. Inilah yang menyebabkan seseorang menderita kurang
gizi karena makanan yang masuk diserap terus oleh Ascaris lumbricoides.
6,9

Pada anak balita, jumlah cacing yang banyak dapat menyebabkan malnutrisi berat akibat
kegagalan absorpsi protein, laktose dan vitamin A, Serta dapat terjadi steatorrhea.
Malabsorpsi terjadi akibat kerusakan mukosa usus karena infeksi cacing dewasa dan lesi pada
usus setelah cacing keluar. Efek jangka panjangnya dapat menyebabkan hambatan
pertumbuhan dan perkembangan anak termasuk perkembangan kognitif saat usia sekolah.
6,9

3. Obstruksi Usus
Obstruksi usus adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada anak usia 1sampai 5
tahun, sekitar 38%-88% dari seluruh komplikasi. Gejala obstruksi usus berupa kolik abdomen,
mual, dan konstipasi. Obstruksi paling sering terjadi diileum terminal walaupun jumlah besar
cacing ditemukan di jejunum.
6,9

Ada 4 faktor utama terjadinya obstruksi usus pada askariasis; kumpulan cacing dapat
membentuk bolus besar yang mengakibatkan obstruksi mekanis lumen usus,
inimerupakan penyebab yang tersering. Bolus cacing dapat menjadi sebabterjadinya volvulus
15

atau intususepsi usus halus, kontraksi spasmodik usus halus terhadap massa cacing dengan
akibat obstruksi pada katup ileosaekal, dan inflamasi usus yang cukup berat pada tempat dimana
cacing berada. Komplikasi berupa volvulus, intususepsi ileosekal, gangren, dan perforasiusus
dapat merupakan komplikasi dari obstruksi usus
6,9


4. Gejala hepatobilier dan pankreatik
Gejala berhubungan dengan migrasi cacing dewasa ke dalam cabang bilier
yangdapat menyebabkan nyeri abdomen, kolik bilier, kolesistitis akalkulus,
kolangitisasendens, ikterus obstruktif, atau perforasi duktus biliaris dengan peritonitis. Dapat
terjadi striktura bilier. Askariasis hepatoblier dan pankreatik jarang pada anak-anak karena
duktus hepatobilier pada anak-anak lebih kecil sehingga cacing sulit masuk.
6,9


Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atau pengobatan askariasis dapat dilakukan secara perorangan atau
secara masal. Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya piperasin,
pirantel pamoat 10mg/kgBB, dosis tunggal mebendazol 500mg atau albendazol 400mg.
Oksantel-pirantel pamoat adalah obat yang dapat digunakan untuk infeksi campuran Ascaris
lumbricoides dan Trichuris trichiura. Untuk beberapa pengobatan masal perlu beberapa syarat
yaitu :
7-8

- Obat mudah diterima masyarakat
- Aturan pemakaian sederhana
- Mempunyai efek samping yang minim
- Bersifat polivalen, sehingga berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing
- Harganya murah
Pengobatan masal dilakukan oleh pemerintah pada anak sekolah dasar dengan pemberian
albendazol 400 mg 2x setahun


16


Penatalaksanaan Medika mentosa
Anthelmintic Drugs
Obat-obatan yang menjadi pilihan utama (Drug of Choice)untuk askariasis adalah
Albendazole, Pirantel Pamoat, dan Mebendazole. Alternatif lainnya adalah Piperazine.
10-11

1. Albendazole
Albendazol merupakan anthelmintic oral spektrum yang luas, merupakan DOC untuk
mengatasi askariasis, trichuriasis, strongyloidiasis.
10

Farmako kinetik
Albendazole merupakan benzimidazole carbamater. Obat ini diserap dalam salurang
cerna (penyerapannya akan meningkat dengan makanan yang berlemak) dan dengan ce[at
melewati first-pass metabolisme di hati menjadi bentuk metabolit aktifnya yaitu albendazole
sulfoxide. Obat ini akan mencapai kadar maksimum di plasma setelah 3 jam dengan menelam
400 mg dosis oral, dan bertahan selama 8-12 jam. Sulfoxide kebanyakan berikatan dengan
protein dan tersebar luas di jaringan dan LCS. Metabolit albendazole pada akhirnya akan
diekskresi lewat urinl.
10

Cara kerja
Cara kerjanya akan bekerja dengan melawan nematoda dengan menghambat
pembentukan mikrotubule. Albendazole juga bisa membunuh stadium larva dan telur dari
askariasis sehingga efektif dalam pemakaiannya untuk mengatasi askariasis.
10

Penggunaan klinik
Albendazole diberikan pada perut kosong untuk mengatasi parasit yang berada di
intraluminal, namun dikonsumsi bersama dengan lemak apabila digunakan untuk melawan
parasit yang ada di jaringan.
10

17

Dosis yang diberikan untuk anak >2 tahun dan orang dewasa adalah dosis tunggal 400
mg secara oral. Untuk askariasis dengan infeksi berat diberikan berulang selama 2-3 hari.
Pengobatan ini memberikan hasil kesembuhan yang tinggi.
10

Efek Samping, KI, dan Peringatan
Penggunaan untuk 1-3 hari umumnya tidak menunjukkan adanya efek samping. Namin
diare, sakit kepala, mual, dizziness, dan insomnia bisa muncul. Namun obat ini kontraindikasi
pada orang yang diketahui sensitif terhadap pbat benzimidalzole atau yang menderita sirosis.
Keamanan albendazole pada ibu hamil dan anak dibawah 2 tahun belum diketahui.
10

2. Pirantel Pamoat
Anthelmintic dengan spektrum luas dan kefektivitasan yang tinggi salah satunya untuk
penanganan askariasis.
10

Farmakokinetik
Pirantel pamoat merupakan turunan tetrahidropirimidine. Penyerapan pada saluran cerna
sangat rendah dan lebih aktif untuk membunuh parasit pada lumen usus. Kadar di dalam plasma
tertinggi seletah 1-3 jam. Tidak menyebabkan perubahan pada feses.
10

Sangat baik untuk mengatasi cacing dalam bentuk dewasa maupun yang belum
sepenuhnya dewasa yang ada dalam saluran cerna namun tidak bisa melawan parasit yang
bermigrasi ke jaringan atau telur cacing. Obat ini bersifat neuromuskular blocking agent yang
menyebabkan pelepasan asetilkolin dan menghambat kolinesterase sehingga menyebabkan
paralisis yang diikuti dengan kematian cacing.
10

Penggunaan klinik
Dosis yang diberikan adalah 11mg / kgBB (batas maksimum 1 gram), diberikan secara
oral satu kali, dengan atau tanpa makanan. Untuk askariasis, dengan dosis tunggal kemungkinan
kesembuhannya 85-100%. Pengobatan harus diulang apabila telur masih ditemukan 2 minggu
setelah pengobatan.
10

18

Efek Samping, KI, dan Peringatan
Efek samping biasanya sedang dan tidak sering. Efek samping yang paling sering adalah
mual, muntah, diare, keram perut, dizziness, ngantuk, sakit kepala, insomnia, demam, dan lemah.
Penggunaannya harus hati-hati pada pasien dengan gangguan liver. Pengunaannya pada ibu
hamil dan anak dibawah 2 tahun masih dibatasi.
10

3. Mebendazole
Mebendsazole merupakan sintetik benzimidazole yang memiliki anthelmintic spektrum
luas dan insiden efek samping yang jarang.
10

Farmakokinetik
Kurang dari 10% yang diminum secara oral akan diserap. Ikatan protein plasmanya
>90% sehingga langsung diikat oleh protein, dengan cepat dikonversi menjadi metabolit yang
inaktifnya (saat di liver) dan bertahan selama 2-6 jam. Sebagian besar diekskresikan lewat urin.
Sebagian lainnya dikskresikan lewat empedu. Absorpsi meningkat bila dicerna bersamaan
dengan lemak.
10

Mebendazole diperkirakan bekerja dengan menghambat sintesis mikrotubul pada cacing.
Keefektivitasannya variatif tergantung pada waktu transitnya di salurang cerna tersebut, besarnya
infeksi, dan mungkin juga strain dari parasit tersebut. Selain membunuh cacing dewasanya, juga
membunuh telurnya.
10

Penggunaan Klinik
Bisa diminum sebelum atau sesudah makan, tabletnya harus dikunyah sebelum dimakan.
Dosis yang diberikan adalah 100 mg 2x sehari selama 3 hari atau 500mg untuk 1x pemakaian
untuk dewasa dan anak yang umurnya lebih dari 2 tahun. Tingkat kesembuhannya 90-100%.
10

Efek Samping, KI, dan Peringatan
Untuk pengobatan mebendazole jangka pendek biasanya tidak menimbulkan efek
samping. Mual, muntah, diare, dan nyeri abdomen biasanya yang paling sering dilaporkan. Efek
samping yang jarang ditemukan, biasanya akibat dosis tinggi, adalah alopesia, agranulocytosis,
19

dan peningkatan enzim liver. Akan meningkat kadarnya di plasma apabila dimakan bersamaan
dengan cimetidine dan berkurang apabila dimakan bersamaan dengan karbamazepin atau
fenitoin.
10

Mebendazol bersifat teratogenis sehingga kontraindikasi untuk ibu hamil. Pemakaiannya
pada anak dibawah 2 tahun perlu hati-hati karena pada grup umur tersebut jarang diujikan.
Mebendazole harus hati-hati juga apda pasien dengan sirosis.
10

4. Piperazine
Merupakan obat alternatif bagi askariasis, dengan tingkat kesembuhan 90% yang
diberikan selama 2 hari, tapi tidak direkomendasikan untuk penyakit parasit cacing lainnya.
Piperazine bisa diabsorpsi dalam saluran cerna dan kadarnya di plasma maksimum dicapai dalam
2-4 jam. Kebanyakan obat ini disekresikan tidak berubah di dalam urin setelah 2-6 jam, dan
ekskresi seluruhnya dalam 24 jam.
10

Piperazine bekerja dengan membuat cacing askaris paralisis atau lumpuh dengan
menghambat asetilkolin di myoneural junstion (GABA reseptor agonis) sehingga cacing askaris
tidak bisa lagi bertahan di dalam tubuh hospes dan dengan gerakan peristaltik saluran cerna akan
dikeluarkan dengan BAB.
10

Dosis dari piperazine yang diberikan adalah 75mg/kgBB (maksimum 3,5 gram) diberikan
secara oral 1x sehari selama 2 hari. Untuk infeksi yang berat, maka pengobatan dilanjutkan lagi
selama 3-4 hari atau diulang setelah 1 minggu.
10

Efek yang bisa dirasakan adalah mual, muntah, diare, nyeri abdomen, sakit kepada, dan
dizziness. Alergi dan neurotoksis sangat jarang. Kontra indikasi pada ibu hamil dan pasien
dengan gangguan ginjal atau hati, atau pasien dengan riwayat penyakit epilepsi atau chronic
neurologic disease
10

Penatalaksanaan Non Medika Mentosa
Pencegahan Untuk Askariasis
Askirasis merupakan penyakit akibat cacing denga prevalensi tertinggi di dunia.
Sekarang sudah menjadi perhatian karena berhubungan dengan kesehatan umum masyarakat dan
20

juga kemampuan transmisi menulanya yang sangat mudah. Pencegahan yang bisa dilakukan
adalah dengan melakukan kegiatan dengan skrinning yang bisa dilakukan dengan 3 cara :
8,11

1. Menawarkan pengobatan masal kepada individu-individu yang kemungkinan
endemisnya tinggi
2. Menawarkan pengobatan yang difokuskan pada sekelompok dengan kemungkinan
infeksi tinggi, seperti anak yang akan memasuki sekolah
3. Menawarkan pengobatan berdasarkan intensitas dari infeksi sekarang maupun masa lalu.
Menjaga kebersihan dan sarana WC umum, pemberhentian penggunaan feses manusia
sebagai pupuk, dan pendidikan untuk pencegahan yang jangka panjang.
8

Pencegahan

Edukasi yang dapat juga kita berikan agar anak anak usia rentan tidak sampai mengalami
cacingan :
11

Ajari anak-anak untuk selalu menggunakan alas kaki ketika bermain diluar rumah.
Ajari anak-anak untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan
Minum obat cacing dosis sekali minum setiap 6 bulan sekali, khususnya di masa
libur sekolah dimana anak-anak cenderung lebih sering bermain di luar rumah
Jagalah selalu jari kuku untuk selalu bersih & terawat.
hindari kebiasaan menggigit kuku/menggaruk bagian anus (terutama untuk infeksi cacingkremi).
Biasakan untuk selalu mandi di pagi hari (terlebih apabila mengalami infeksi cacing
kremi)
Biasakan untuk membuka jendela kamar sepanjang hari, karena telur cacing
sensitif terhadap sinar matahari (terutama untuk cacing kremi)
Jagalah selalu kebersihan makanan yang dikonsumsi
Biasakan untuk selalu mengkonsumsi daging yang telah dimasak dengan sempurna




21

Komplikasi
Komplikasi dari askariasis meliputi pankreatitis, kolesistitis, abses hati, obstruksiusus,
dan perforasi. Obstruksi usus adalah komplikasi askariasis terbanyak, yaitu2 per 1.000 kasus
askariasis.
12


Prognosis
Secara keseluruhan, askariasis mempunya prognosis yang baik. Bila tanpa pengobatan,
penyakit dapat sembuh sendiri dalam jangka waktu 1,5 tahun karena matinya cacing dan
kemudian keluar lewat anus saat BAB (jangka waktu umur cacing hanya berkisar 1-2 tahun
saja). Bila dengan pengobatan, angka kesembuhan 70-99%.
2


Kesimpulan
Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing.
Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Infeksi kecacingan adalah infeksi
yang disebabkan oleh cacing kelas nematode usus khususnya yang penularan melalui tanah,
diantaranya Ascaris lumbricoides. Untuk memastikan infeksi ini selain melakukan anamnesis
dan pemeriksaan fisik, kita dapat memeriksa feses yang nanti akan ditemukannya telur cacing
ataupun cacing dewasanya sendiri. Infeksi ini paling sering pada anak usia sekolah dimana pada
usia ini anak lebih aktif dan sering terpapar dengan media penularan.
Infeksi ini dapat menyebabkan kurang gizi karena terjadinya proses penyerapan
makanan oleh cacing dlm usus, terbentuknya bolus bolus ascariasis yang membuat obstruksi
usus yang menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut penderita, sehingga nafsu makanpun ikut
berkurang. Setelah kita mengobati infeksi cacing ini, kita dapat memberikan nutrisi adekuat
secara berangsur angsur pada anak, untuk mendukung pertumbuhannya kembali. Prognosisnya
sendiri cukup baik.


22

Daftar Pustaka
1. Kowalak JP, Welsh W, Buku pegangan uji diagnostik. Ed. 3. Jakarta: EGC, 2009. hal.
77, 83-5.
2. Gandahusada. Parasitologi kedokteran. Jakarta : FKUI, 2006. hal. 13
3. Vincent WF, editor Ascaris lumbricoides: The giant roundworm of man:
Quest diagnostics infectious disease Update. 2005. P. 28-30
4. Sharma UK, Rauniyar RK , Bhatta N. Roundworm infestation presenting as
acute abdomen in four cases - sonographic diagnosis. Kathmandu University Medical
Journal. 2005. P. 87-90
5. Soegijanto S. Ascariasis. In: Soegijanto S (editor). Kumpulan MakalahPenyakit Tropis
dan Infeksi di Indonesia. Surabaya: Airlangga University Press, 2005. page. 1-6
6. Soedarmo SSP, Garna H,Hadinegoro SRS, Satari HI (editors). Askariasis (Infeksi
Cacing Gelang). Dalam : Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi Kedua.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008. Hal. 370-75
7. Staf Pengajar Departemen Parsitologi, FKUI. Buku ajar parasitologi kedokteran. Ed 4.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. hal.6-9
8. Rasmaliah. Ascariasis dan upaya Penanggulangannya. USU Digital Library.
2001. [Cited 2009 Dec 7]. Available from:
http://www.library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-rasmaliah.pdf.
9. Shoff WH. Ascariasis. 2008. (Cited 2009 Dec 8). Available from:
http://www.emedicine.medscape.com.
10. Bertam G. Basic and clinical pharmacology. Ed 10. United States: McGram-Hill
Medical; 2007
11. Kleigman R, Behrman R. Nelson textbook of Pediatrics. 18 Ed. Philadelphia: Saunders
Elsevier, 2007
12. Khan EA, Khalid A, Hashmi I, Jan IA. Gastrointestinal Obstruction due toAscariasis-
Management Issues. Infectious Diseases Journal of Pakistan. 2008. p.17, 72-4

Anda mungkin juga menyukai