Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Abad ke 18 M. hingga awal abad ke 19 M. Dunia Islam berada dalam situasi yang sangat
kritis. Hampir seluruh negara atau wilayah Islam jatuh ke tangan para penjajah Barat. Penjajahan
yang dilakukan oleh Barat atas dunia Islam, menyadarkan bangsa-bangsa muslim dari
keterlenaan mereka terhadap pengaruh yang dibawa.

Kaum muslimin mulai menyadari kelemahan dan ketertinggalan umat Islam. Bangsa
yang pertama merasakan ketertinggalan itu adalah Turki Usmani. Itu disebabkan karena kerajaan
ini yang pertama dan yang utama menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa para
penguasa dan pejuang Turki Usmani untuk belajar dari kemajuan bangsa-bangsa Barat.

Pembaharuan yang dilakukan oleh kerajaan Turki Usmani pada masa itu, bukan dalam
bidang pemikiran, tetapi lebih diutamakan pada persoalan pranata sosial politik dan militer.
Untuk itu, kerajaan Turki Usmani mendatangkan seorang pelatih militer dari Perancis bernama
De Rochefort tahun 1717 M. Kemudian pada tahun 1729 M. Datang lagi seorang perwira militer
dari Perancis bernama Comte De Bonneval. Karena sering berkenalan dengan para penguasa dan
tentara Islam, ia kemudian memutuskan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi
Humbaraci Pasha.

Kerja keras para penguasa dalam upaya memodernisasi kerajaan Turki Usmani membawa
dampak yang lebih baik bagi gerakan modern di negaranegara Islam lainnya, seperti Mesir.
Untuk menggapai lebih dari itu semua, maka umat Islam harus lebih kreatif berpikir secara
objektif dan realistis, bahwa Barat telah maju. Oleh karena itu, perlu diadakan gerakan
modernisasi dalam dunia Islam yang harus diekplorasi secara menyeluruh.

Kehadiran para tokoh modernis Islam itu pada umumnya untuk membangkitkan
kesadaran keagamaan dan intelektual umat Islam, salah satu diantaranya adalah Jamaluddin Al-
Afghani yang akan kita bedah dan kaji dalam makalah ini.
2

Berawal dari sepak terjang Jamaluddin al-Afghani, gerakan pembaharuan Islam abad
modern di mulai. Sebagai tokoh dengan kepribadian menarik, berhasil menghipnotis pribadi-
pribadi pembaharu pada abad tersebut karena sosok seperti dialah yang sangat dibutuhkan yang
mampu bersuara dengan lantang membangunkan tidur panjang dan mengembalikan harapan
lama yang telah hilang direnggut penjajahan. Penjajahan yang membuat umat Islam pasrah,
putus asa dan rela dengan takdirnya untuk tidak bisa bangkit dari kepeterpurukannya. Maka
datanglah Jamaluddin al-Afghani memberikan semangat dan membangkitkan optimisme dan
kepercayaan mereka pada kemampuan umat Islam untuk bangkit kembali.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi singkat Jamaluddin Al-Afghani?
2. Apa saja karya-karya Jamaluddin Al-Afghani?
3. Bagaimana pemikiran politik Jamaluddin Al-Afghani?
4. Apa saja gerakan pembaharuan islam di abad modern menurut Jamaluddin Al-Afghani?
5. Bagaimana akhir riwayat Jamaluddin Al-Afghani?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami biografi singkat Jamaluddin Al-Afghani.
2. Supaya dapat mengetahui karya-karya Jamaluddin Al-Afghani.
3. Untuk memahami pemikiran politik Jamaluddin Al-Afghani.
4. Agar dapat memahami gerakan pembaharuan islam di abad modern menurut Jamaluddin
Al-Afghani.
5. Agar dapat mengetahui akhir riwayat Jamaluddin Al-Afghani.




3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat Jamaluddin Al-Afghani

Nama lengkapnya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afghani. Ia lahir di Asadabad, dekat
Kanar di Distrik Kabul, Afghanistas tahun 1839 dan meninggal di Istambul tahun 1897. Tetapi
penelitian para sarjana menunjukkan bahawa ia sebenarnya lahir di kota yang bernama sama
(Asadabad) tetapi bukan di Afghanistan, melainkan di Iran. Ini menyebabkan banyak orang,
khususnya mereka di Iran lebih suka menyebut pemikir pejuang muslim modernis itu Al-
Asadabi, bukan Al-Afghani, walaupun dunia telah terlanjur mengenalnya sebagaimana
dikehendaki oleh yang bersangkutan sendiri, dengan sebutan Al-Afghani. Ia mempunyai
pertalian darah dengan Husein bin Ali melalui Ali At-Tirmizi, ahli hadis terkenal. Keluarganya
mengikuti mazhab Hanafi. Ia adalah seorang pembaharu yang berpengaruh di Mesir. Ia
menguasai bahasa-bahasa Afghan, Turki, Persia, Perancis dan Rusia

Hingga pada usia 8 tahun Jamaluddin al-Afghani telah memperlihatkan kecerdasannya
yang sangat luar biasa, ia sangat tekun mempelajari bahasa Arab, sejarah, matematika, filsafat,
dan ilmu-ilmu keislaman. Hingga akhirnya Jamaluddin al-Afghani dikenal karena kejeniusannya.
Pendidikannya sejak kecil sudah diajarkan mengaji Al-Quran dari ayahnya sendiri. Ayahnya
mendatangkan seorang guru ilmu tafsir, hadits, dan fiqih yang dilengkapi dengan ilmu tasawuf
dan ilmu ketuhanan, kemudian dikirim ke India untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern
(Eropa).
Sampai usia 18 tahun, ia dibesarkan dan belajar di Kabul. Pada usia ini ia sangat tertarik
kepada studi falsafat dan matematika. Menjelang usia 19 tahun, ia pergi ke India selama lebih
dari satu tahun. Dari sana ia menuju Mekkah untuk beribadah haji. Dari Mekkah ia kembali ke
tanah airnya. Ketika berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu bagi pangeran Dost Muhammad
Khan di Afghanistan. Di tahun 1864 ia menjadi penasihat Sher Ali Khan. Beberapa tahun
kemudia ia diangkat oleh Muhammad Azam Khan menjadi perdana menteri. Ketika itu Inggris
sudah ikut campur dalam urusan negeri Afghanistan, maka Jamaluddin termasuk salah satu
4

orang yang menentangnya. Karena kalah melawan Inggris ia lebih baik meninggalkan negerinya
dan pergi menuju India pada tahun 1869. Di negeri jiran inipun ia tidak tenang karena karena
negeri itu dikuasai oleh Inggris, maka ia pindah ke Mesir pada tahun 1871. Ia menetap di Kairo
dan menjauhkan urusan politik untuk berkonsentrasi ke bidang ilmiah dan sastra Arab. Rumah
tempat tinggalnya menjadi pusat pertemuan bagi para mahasiswa, diantaranya adalah
Muhammad Abduh.
Di Mesir Al-Afghani dapat mempengaruhi massa intelektual dengan pikiran-pikiran barat
antara lain mengenai ide trias politika melalui terjemahan bahasa Arab yang berasal dari bahasa
Perancis yang dilakukan oleh At-Tahthawi. Ia berhasil membentuk Partai Nasional (Al-Hizbu al-
Watani) disana dan mendengungkan Mesir untuk bangsa Mesir, memperjuangkan pendidikan
universal, kemerdekaan pers, dan memasukkan unsur-unsur Mesir dalam bidang militer. Al-
Afghani berusaha menumbangkan penguasa Mesir Khadewi Ismail dan menggantikannya
dengan putera mahkota, Tawfiq yang ingin mengadakan pembaharuan di Mesir. Tetapi setelah
Tauwfik berkuasa, ia tidak dapat melaksanakan programnya, bahkan penguasa baru yang
didukung oleh Al-Afghani itu mengusirnya karena tekanan dari pihak Inggris, tahun 1879.
Jamaluddin Al-Afghani meninggalkan Mesir menuju Paris dan mendirikan perkumpulan
Al-Urwatul Wustqa, sesuai dengan majalah yang diterbitkan oleh kelompok itu, yang
pengaruhnya tersebar di dunia sampai ke Indonesia. Majalah ini terbit hanya 18 nomor saja
selama 8 bulan dari tanggal 13 Maret 1884 17 Oktober 1884. Tujuan diterbitkannya majalah itu
antara lain untuk mendorong bangsa-bangsa timur dalam memperbaiki keadaan, mencapai
kemenangan dan menghilangkan rasa putus asa, mengajak berpegang pada ajaran yang telah
diwariskan oleh nenek moyangnya, dan menolak anggapan yang dituduhkan kepada umat Islam
bahwa mereka tidak akan maju bila masih berpegang pada agamanya, menyebarkan informasi
tentang peristiwa politik dan untuk memperkokoh persahabatan di antara umat Islam. Akhirnya
majalah tersebut dilarang beredar di dunia Islam yang berada di bawah pengaruh barat.
Pada tahun 1889, Al-Afghani diundang ke Persia untuk suatu urusan persengketaan
politik antara Persia dengan Rusia yang timbul karena politik pro-Inggris yang dianut
pemerintah Persia ketika itu. Bersamaan dengan itu Afghani melihat ketidakberesan politik
dalam negeri Persia sendiri. Karenanya dia mengajurkan perombakan sistem politik-nya yang
5

masih otokratis, sehingga timbul pertikaian antara Al-Afghani dan Syah Nasir al-Din. Pada
tahun 1892, undangan yang sama dari penguasa Turki, Sultan Abdul Hamid, untuk kepentingan
politik Islam Istambul dalam menghadapi kekuatan Erofa. Menurut Afghani, sebelum
menangani politik luar negeri harus dibenahi dahulu sistem politik dalam negerinya. Rupanya,
pandangan politik Afghani yang sangat demokratis tidak bertemu dengan kepentingan politik
Sultan yang otokratis. Sejak itu sampai akhir hayatnya, 9 Maret 1897, Afghani dicabut izin
keluar negerinya. Kelihatannya Jamaluddin Al-Afghani menjadi tamu terhormat kerajaan Turki
Usmani tetapi hakikatnya ia menjadi tawanan Sultan Abdul Hamid II yang berdiam di sangkar
emas istananya.
Melihat kepada kegiatan politik yang demikian besar dan daerah yang demikian luas,
maka dapat dikatakan bahwa Al-Afghani lebih banyak bersifat pemimpin politik daripada
pemimpin dan pemikir pembaharuan dalam Islam, tetapi kegiatan yang dijalankan Al-Afghani
sebenarnya didasarkan pada ide-idenya tentang pembaharuan dalam Islam.
B. Karya-Karya Jamaluddin Al-Afghani

Beberapa buku yang ditulis oleh Afghani antara lain Tatimmat al-bayan (Cairo, 1879).
Buku sejarah politik, sosial dan budaya Afghanistan. Hakikati Madhhabi Naychari wa Bayani
Hali Naychariyan. Pertama kali diterbitkan di Haydarabad-Deccan, 1298 H/1881 M, ini adalah
karya intelektual Afghani paling utama yang diterbitkan selama hidupnya. Merupakan suatu
kritik pedas dan penolakan total terhadap materialisme. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam
Arab oleh Muhammad Abduh dengan judul Al-Radd 'ala al-dahriyyin (Bantahan terhadap
Materialisme).
Kemudian Al-Ta'Liqat 'ala sharh al-Dawwani li'l-'aqa'id al-'adudiyyah (Cairo, 1968).
Berupa catatan Afghani atas komentar Dawwani terhadap buku kalam yang terkenal dari Adud
al-Din al-'Iji yang berjudul Al-Aqaid al-Adudiyyah. Berikutnya Risalat al-Waridat fi Sirr al-
Tajalliyat (Cairo, 1968). Suatu tulisan yang didiktekan oleh Afghani kepada siswanya
Muhammad 'Abduh ketika ia di Mesir. Khatirat Jamal al-Din al-Afghani al-Husayni (Beirut,
1931). Suatu buku hasil kompilasi oleh Muhammad Pasha al-Mahzumi wartawan Libanon.
Mahzumi hadir dalam kebanyakan forum pembicaraan Afghani pada bagian akhir dari hidupnya
Buku berisi informasi yang penting tentang gagasan dan hidup Afghani.
6

C. Pemikiran Politik Jamaluddin Al-Afghani
Al-Afghani berpendapat bahwa kemunduran umat Islam disebabkan antara lain karena
umat telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, perpecahan di kalangan umat
Islam sendiri, lemahnya persaudaraan antara umat Islam dan lain-lain. Ajaran qada dan qadar
telah berubah menjadi ajaran fatalisme yang menjadikan umat menjadi statis. Untuk mengatasi
semua hal itu antara lain menurut pendapatnya ialah umat Islam harus kembali kepada ajaran
Islam yang benar, mensucikan hati, memuliakan akhlak, berkorban untuk kepentingan umat,
pemerintah otokratis harus diubah menjadi demokratis, dan persatuan umat Islam harus
diwujudkan sehingga umat akan maju sesuai dengan tuntutan zaman.
Ia juga menganjurkan umat Islam untuk mengembangkan pendidikan secara umum, yang
tujuan akhirnya untuk memperkuat dunia Islam secara politis dalam menghadapi dominasi dunia
barat. Ia berpendapat tidak ada sesuatu dalam ajaran Islam yang tidak sesuai dengan akal/ilmu
pengetahuan, atau dengan kata lain Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya bagaimana ide-ide pembaharuan dan pemikiran politik Al-Afghani tentang negara
dan sistem pemerintahan akan diuraikan berikut ini :
1. Bentuk Negara dan Pemerintahan
Menurut Al-Afghani, Islam menhendaki bahwa bentuk pemerintahan adalah republik.
Sebab, di dalamnya terdapat kebebasan berpendapat dan kepala negara harus tunduk kepada
Undang-Undang Dasar. Pendapat seperti ini baru dalam sejarah politik Islam yang selama ini
pemikirnya hanya mengenal bentuk khalifah yang mempunyai kekuasaan absulot. Pendapat ini
tampak dipengaruhi oleh pemikiran barat, sebab barat lebih dahulu mengenal pemerintahan
republik, meskipun pemahaman Al-Afghani tidak lepas terhadap prinsip-prinsip ajaran Islam
yang berkaitan dengan dengan kemasyarakatan dan kenegaraan. Pemunculan ide Al-Afghani
tersebut sebagai reaksi kepada salah satu sebab kemunduran politis yaitu pemerintah absulot.
2. Sistem Demokrasi
Di dalam pemerintahan yang absulot dan otokratis tidak ada kebebasan berpendapat,
kebebasan hanya ada pada raja/kepala negara untuk bertindak yang tidak diatur oleh Undang-
7

undang. Karena itu Al-Afghani menghendaki agar corak pemerintahan absulot diganti dengan
dengan corak pemerintahan demokrasi.
Pemerintahan demokratis merupakan salah satu identitas yang paling khas dari dari
pemerintahan yang berbentuk republik. Demokrasi adalah pasangan pemerintahan republik
sebagaimana dalam pemerintahan negara yang demokratis, kepala negara harus mengadakan
syura dengan pemimpin-pemimpin masyarakat yang berpengalaman karena pengetahuan
manusia secara individual terbatas sekali dan syura diperintahkan oleh Allah dalam Al-Quran
agar dapat dipraktekkan dalam berbagai urusan.
Selanjutnya ia berpendapat pemerintahan otokrasi yang cenderung meniadakan hak-hak
individu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sangat menghargai hak-hak individu. Maka
pemerintahan otokrasi harus diganti dengan pemerintahan yang bercorak demokrasi yang
menjunjung tinggi hak-hak individu.
Selanjutnya, para pemegang kekuasaan haruslah orang-orang yang paling taat kepada
undang-undang. Kekuasaan yang diperoleh tidak lantaran kehebatan suku, ras, kekuatan material
dan kekayaan. Baginya kekuasaan itu harus diperoleh melalui pemilihan dan disepakati oleh
rakyat. Dengan demikian orang yang terpilih memiliki dasar hukum untuk melaksanakan
kekuasaan itu.
Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa sumber kekuasaan menurut Al-Afghani adalah
rakyat, karena dalam pemerintahan republik, kekuasaan atau kedaulatan rakyat terlembaga dalam
perwakilan rakyat yang anggotanya dipilih oleh rakyat.
3. Pan Islamisme / Solidaritas Islam
Al-Afghani menginginkan adanya persatuan umat Islam baik yang sudah merdeka
maupun masih jajahan. Gagasannya ini terkenal dengan Pan Islamisme. Ide besar ini
menghendaki terjalinnya kerjasama antara negara-negara Islam dalam masalah keagamaan,
kerjasama antara kepala negara Islam. Kerjasama itu menuntut adanya rasa tanggung jawab
bersama dari tiap negara terhadap umat Islam dimana saja mereka berada, dan menumbuhkan
keinginan hidup bersama dalam suatu komunitas serta mewujudkan kesejahteraan umat Islam.
8

Kesatuan benar-benar menjadi tema pokok pada tulisan Al-Afghani. Ia menginginkan
agar umat Islam harus mengatasi perbedaan doktrin dan kebiasaan permusuhan. Perbedaan sekte
tidak perlu menjadi hambatan dalam politik. Bahkan perbedaan besar dalam doktrin wilayah
teluk, antara sunni dan syiah, dapat dijembatani sehingga ia menyerukan kepada bangsa Persia
dan Afghan supaya bersatu.
Meskipun semua ide Al-Afghani bertujuan untuk mempersatukan umat Islam guna
menanggulangi penetrasi barat dan kekuasaan Turki Usmani yang dipandangnya menyimpang
dari Islam, tapi ide Pan-Islamnya itu tidak jelas. Apakah bentuk-bentuk kerjasama tersebut dalam
rangka mempersatukan umat Islam dalam bentuk asosiasi, atau bentuk federasi yang dipimpin
oleh seseorang atau badan yang mengkoordinasi kerjasama tersebut, dan atau seperti negara
persemakmuran di bawah negara Inggris. Sebab ia mengetahui adanya kepala negara di setiap
negara Islam.
Tapi, menurut Munawwir Sjadzali, Pan-Islamismenya Al-Afghani itu adalah suatu
asosiasi antar negara-negara Islam dan umat Islam di wilayah jajahan untuk menentang
kezaliman interen, para pengusaha muslim yang lalim, menentang kolonialisme dan
imperialisme barat serta mewujudkan keadilan.
Al-Afghani menekankan solidaritas sesama muslim karena ikatan agama, bukan ikatan
teknik atau rasial. Penguasa itu hendaknya dipilih dari orang-orang yang paling taat dalam
agamanya, bukan karena pewarisan, kehebatan sukunya atau kekayaan materialnya, dan
disepakati oleh anggota masyarakatnya.
Inilah ide pemikir orisinil yang merupakan solidaritas umat yang dikenal dengan Pan-
Islamisme atau Al-Jamiah al Islamiyah (Persaudaraan sesama umat Islam sedunia). Namun usaha
Al-Afghani tentang Pan-Islamismenya ini tidak berhasil.



9

D. Gerakan Jamaluddin Al-Afghani
1. Gerakan Pembaharuan Islam di abad Modern
Afghani memang bukan seorang hakim, tapi dia punya syarat dan kapabilitas untuk
menjadi seorang hakim dan diapun bukan seorang faqih yang menguasai dunia literatur fiqh,
walaupun dia bukan pula orang yang buta dan taklid dalam berfiqih. Tetapi dia adalah seorang
revolusioner islamis, seorang penggugah dalam tidur yang berkepanjangan, seorang pengilham
bagi jiwa-jiwa pesimisme.

Dialah orang pertama kali yang mengatakan bahwa Misr lilmasriyyin dan perintis
pertama Hizb Wathan hingga dengan gerakan pembaharuannya berhasil melahirkan tuntutan
adanya undang-undang negara dan pembentukan majelis perwakilan. Dan ini semua telah
tercapai dengan hasil yang tidak sedikit, bahkan jika saja intervensi Inggris yang dimotori oleh
Khadevi tidak turut serta, maka gerakan ini pun bisa mencapai pada kemerdekaan Mesir pada
saat itu.

Dan suatu kelebihan dari diri Afghani ialah kemampuanya untuk menghentak kesadaran
Bangsa Mesir saat itu untuk secara kesuluruhan sadar kembali dalam menghadapi cengkraman
penjajahan Eropa dalam kepemimpinan Ratu Victoria. Adapun perjuangan Afghani dibagi dalam
dua tahap, merombak sistem yang ada saat itu dan membangun kembali sistem yang baru.
Sepeninggal Afghani muncul beberapa upaya untuk meragukan kembali perjuangan dan
kontribusi Afghani bagi umat Islam saat itu, namun semua itu mengalami kegagalan dan jauh
yang diharapkan.
2. Gerakan Pan Islamisme
Dari sudut pandang ide secara umum gerakan pembaharuan di Indonesia dipengaruhi
secara kuat oleh pemikiran dan usaha tokoh-tokoh pembaharu Timur Tengah pada akhir abad ke-
19, khususnya Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Sheikh Muhammad Abduh. Pemikiran dan
usaha mereka bertumpu pada keyakinan bahwa Islam adalah agama yang sangat mendorong
penggunaan akal sehingga keharusan ijtihad tidak pernah tertutup.
10

Gerakan Jamaluddin Al-Afghani dengan Pan Islamismenya mempunyai dua tujuan
utama,yaitu membangun dunia Islam di bawah satu pemerintahan dan mengusir penjajahan dunia
Barat atas dunia Islam (Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam). Al-Afghani melihat di antara
sebab kemunduran Islam adalah lemahnya persaudaraan antara sesama umat Islam. Karena itu
harus dibangun solidaritas umat Islam sedunia (Pan Islamisme) sehingga umat Islam berada
dalam pemerintahan yang demokratis. Dengan cara demikian umat Islam akan memperoleh
kemerdekaannya kembali dari penjajah Barat.

Di Indonesia, hampir berbarengan dengan Gerakan Pan Islam berdiri perkumpulan
Jamiatul Kheir di Pekojan, Batavia, pada 1901 sebagai organiasi sosial yang membawa semangat
tolong menolong. Jamiatul Kheir dibentuk dengan tujuan utama mendirikan satu model sekolah
modern yang terbuka luas untuk umat Islam. Perkumpulan ini lebih menitikberatkan pada
semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern. Pramudya Ananta Toer dalam
bukunya, Rumah Kaca, menyebut Jamiatul Kheir yang didirikan sejak 1901 merupakan
organisasi politik yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang telah menginspirasi
lahirnya Boedi Oetomo.
3. Tarbiyah Pemikiran Syaikh Jamaluddin Al-Afghani
Afghani menggabungkan ilmu-ilmu tradisional Islamnya dengan berbagai ilmu
pengetahauan yang diperolehnya dari Eropa dan pengetahuan modern. Ia mengembangkan
pemikiran (dan gerakan) salafiyah, yakni aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat
memulihkan kejayaannya, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni
seperti yang dahulu diamalkan oleh generasi pertama Islam, yang juga biasa disebut salaf
(pendahulu) yang saleh.

Sebenarnya Afghani bukanlah pemikir Islam yang pertama yang mempelopori aliran
salafiyah (revivalis). Ibnu Taymiyah telah mengajarkan teori yang serupa, begitu pula Syeikh
Mohammd Abdul Wahab pada abad ke-18. Tetapi salafiyah (baru) dari Afghani terdiri dari tiga
komponen utama, yakni; Pertama, keyakinan bahwa kebangunan dan kejayaan kembali Islam
hanya mungkin terwujud kalau umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang masih murni, dan
meneladani pola hidup para sahabat Nabi. Kedua, perlawanan terhadap kolonialisme dan
11

dominasi Barat, baik politik, ekonomi maupun kebudayaan. Ketiga, pengakuan terhadap
keunggulan barat dalam bidang ilmu dan teknologi, dan karenanya umat Islam harus belajar dari
barat dalam dua bidang tersebut.

Afghani mendiagnosa penyebab kemunduran di dunia Islam, adalah tidak adanya
keadilan dan syura (dewan) serta tidak setianya pemerintah pada konstitusi dikarenakan
pemerintahan yang sewenang-wenang (despotik). Pemerintahan republik, merupakan sumber
dari kebahagiaan dan kebanggaan. Mereka yang diatur oleh pemerintahan republik yang diatur
oleh hukum yang didasari oleh keadilan dan mengatur gerakan, tindakan, transaksi dan hubungan
dengan orang yang lain yang dapat mengangkat masyarakat ke puncak kebahagiaan.

Tujuan utama gerakan Afghani ialah menyatukan pendapat semua negara-negara Islam
dibawah satu kekhalifahan, untuk mendirikan sebuah imperium Islam yang kuat dan mampu
berhadapan dengan campur tangan bangsa Eropa. Afghani adalah pembaharu muslim pertama
yang menggunakan term Islam dan Barat sebagai dua fenomena yang selalu bertentangan.
Sebuah pertentangan yang justru harus dijadikan patokan berpikir kaum muslim, yaitu untuk
membebaskan kaum muslim dari ketakutan dan eksploitasi yang dilakukan oleh orang-orang
Eropa.
E. Akhir Riwayat Jamaluddin Al-Afghani
Jamaluddin Al-Afghani merupakan tokoh besar dalam dunia Muslim. Afghani begitu
menekankan bahawa Islam dalam faham yang benar, untuk menangkis serangan-serangan Barat,
dan sekaligus berupaya untuk meningkatkan kembali solidariti kaum Muslim. Seruannya jelas
menuntut perubahan dalam sistem politik Islam. Di samping itu, Afghani mengkritik kepada
mereka yang memihak terhadap imperialisme Barat atau apa saja yang boleh memecah-belah
umat Islam. Ini semuanya diantara masalah-masalah yang diperjuangkannya sepanjang
hidupnya.
Ia menyadarkan umat Islam adalah satu, memiliki kiblat, aqidah, arah dan tujuan hidup
yang satu pula. Perjalanan hidup dan pemikirannya tampak di dalam majalah "al-Urwah al-
Wutsqa" yang diterbitkan olehnya dan murid sekaligus kawannya, yaitu Syaikh Muhammad
Abduh, pada tahun 1884 selama tujuh bulan dan mencapai 18 nomor. Pengaruh pemikirannya
12

meliputi Iran, Afghanistan, India, Negara-negara Arab, Turki, bahkan Eropa Barat. Adapun tugas
utamanya adalah menghimpun kembali kekuatan dunia Islam yang tercecer, serta menyingkirkan
kesulitan yang dialami oleh kaum muslim pada zamannya.
Afghani menghabiskan sisa umurnya dengan bertualang keliling Eropa untuk berdakwah.
Bapak pembaharu Islam ini memang tak memiliki rintangan bahasa karena ia menguasai enam
bahasa dunia (Arab, Inggris, Perancis, Turki, Persia, dan Rusia). Afghani menghembuskan
nafasnya yang terakhir karena kanker yang dideritanya sejak tahun 1896. Beliau pulang
keharibaan Allah pada tanggal 9 Maret 1897 di Istambul Turki dan dikubur di sana. Jasadnya
dipindahkan ke Afghanistan pada tahun 1944. Ustad Abu Rayyah dalam bukunya Al-Afghani;
Sejarah, Risalah dan Prinsip-prinsipnya, menyatakan, bahwa Al-Afghani meninggal akibat
diracun dan ada pendapat kedua yang menyatakan bahwa ada rencana Sultan untuk
membinasakannya.


















13

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan sebelumnya maka dapat disimpulkan, bahwa al-Afgani
merupakan seorang pemikiran pembaharuan dalam hubungannya dengan keagamaan dan juga
politik. Gagasan besar yang dimiliki al-Afgani dituangkannya dalam bentuk Pan-Islamisme,
yang dipropaganda melalui makalah Al-Urwah al-Wutsqa, yang kemudian juga sebagai
organisasi gerakan yang rahasia.

Kemudian, gerakan ini bertolak dari keyakian bahwa kebangkitan dan kejayaan kembali
Islam hanya mungkin terwujud kalau umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni, dan
meneladani pola hidup islami, serta mengadakan persatuan umat Islam seluruh dunia, baik pada
tataran ulama maupun umara.

Dalam rangka memelihara kemurnian akidah dan pemahaman umat Islam dari pengaruh
asing, al-Afgani memberikan perlawanan dan memprovokasi umat Islam untuk mengadakan
perlawanan terhadap kolonislisme dan dominasi Barat. Dia juga menentang praktek-praktek
keislaman yang bertentangan dengan ortodoksi, dan kesewenang-wenangan pemerintahan Islam
di dalam membuat kebijakan, baik itu karena menyalahi ajaran Islam ortodoks, ataupun karena
kebijakan untuk tidak berpihak kepada masyarakat awam.










14

DAFTAR PUSTAKA

Saiful Hadi, 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah, Jakarta : Insan Cemerlang.
Nikki R. Keddie, merupakan professor sejarah di UCLA. Ia juga telah menulis beberapa buku,
salah satu diantaranya adalah Sayyid Jamaluddin Al-Afghani: A Political Biography ; An
Islamic Response to Imperialism; Roots of Revolution. Lihat juga Ali Rahnema, Para
Perintis Zaman Baru Islam, (Cet.III. Bandung : Mizan, 1998).
Ali Rahnema, Para Perintis Zaman Baru Islam, (Cet.III. Bandung : Mizan, 1998).
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam untuk Kelas 3 MA, (Kurikulum 1994. Semarang : Karya
Toha Putra, 2003).
John J. Dnohu dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan, Eksiklopedi Masalah-Masalah
(Terjemahan Machnun Husein), (Jakarta : Rajawali, 1984).
Black, Antony. 2006. Pemikiran Politik Islam. Jakarta: Serambi.
Nasution, Prof. Dr. Harun. 1992. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Azzam, Dr. S. Tamini.1982. Democracy in Islami Political Thought. Cairo.
Husayn Ahmad Amin. 2000. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Munawir Sajdzali. 1993. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: UI
Press.
RA Gunadi & M Shoelhi (Penyunting), 2002. Dari Penakluk Jerusalem hingga Angka Nol.
Jakarta: Penerbit Republika.
Alex MA. Kamus Ilmiah Populer Internasional. Disertai Data-data dan Singkatan. Surabaya:
PT. Alfa.