Anda di halaman 1dari 16

Abstrak

Eklampsia dengan gejala utama berupa kejang yang merupakan kelanjutan dari preeklampsia yang tidak
ditangani secara adekuat. Dapat timbul 10 hari setelah postpartum. Mekanisme berkaitan dengan
vasospasme akibat dari kegagalan invasi trofoblas ke dalam lapisan otot polos pembuluh darah, reaksi
imunologi, maupun radikal bebas. Selain kejang dapat ditemukan peningkatan tekanan darah >140/90
mmHg, proteinuria dan edema. Merupakan gejala kedaruratan maka perlu penanganan khusus saat timbul
serangan seperti melindungi bagian tubuh terutama kepala dan pencegahan terjadi gigitan lidah.
Pencegahan dini dimulai dari pencegahan preeklampsia. Jika preeklampsia sudah diderita maka
pencegahan dilakukan dengan penanganan secara adekuat. Komplikasi meliputi edema paru, kebutaan
dan kematian.
Kata kunci : eklampsia, vasospasme, kejang
Eclampsia with major symptoms such as seizures which is a continuation of pre-eclampsia is not treated
adequately. Can occur after 10 days postpartum. Mechanisms associated with vasospasm resulting from
the failure of trophoblast invasion into the vascular smooth muscle layer, immunological reactions, as
well as free radicals. In addition to seizures can be found increased blood pressure> 140/90 mmHg,
proteinuria and edema. An emergency symptoms need special handling when it arises attacks such as
protecting the body especially the head and tongue bite prevention occurs. Prevention starts early
prevention of preeclampsia. If you've suffered preeclampsia prevention is done by handling it
adequately. Complications include pulmonary edema, blindness and death.
Keyword : eclampsia, vasospasm, seizures

Pendahuluan
Wanita yang hamil memerlukan perhatian yang lebih daripada wanita yang tidak hamil. Oleh
sebab itu, perlu pemantauan dan pengawasan yang lebih sehingga apabila timbul tanda tanda
atau gejala diluar perubahan fisiologis maka akan lebih cepat di evaluasi dari dini. Sehingga
mencegah timbulnya komplikasi yang dapat merugikan baik bagi ibu maupun janin.
Anamnesis
Identitas pasien
Nama pasien, alamat , tempat tinggal, pekerjaan , umur, status perkawinan, nama
suami
Keluhan utama?
Keluhan tambahan seperti nyeri kepala, sakit pada epigastrium
Apakah ada bengkak pada mata, muka atau kaki? Sejak kapan?
Frekuensi kencing seberapa banyak ?
Riwayat haid
- Pertama kali haid pada usia berapa?
- Siklus haid teratur atau tidak?
- Kapan hari pertama haid terakhir?
- Selama haid apakah nyeri?
- Apakah jumlah darah selama haid banyak atau sedikit?
Riwayat kehamilan (apabila sudah pernah hamil sebelumnya)
- Sudah berapa kali hamil?
- Apakah pernah hamil kembar atau dalam keluarga ada riwayat kehamilan
kembar?
- Apakah ada gangguan selama kehamilan seperti infeksi, trauma, dll?
Riwayat persalinan
- Apakah sudah pernah melahirkan?
- Jika sudah, persalinan tersebut di bantu oleh siapa?
- Apakah melalui operasi atau pervaginam? Jika melalui operasi, kenapa?
Riwayat perkawinan
- Merupakan perkawinan yang keberapa?
Apakah ada riwayat epilepsi (kejang berulang) ? adakah obat yang dikonsumsi ?
Bagaimana perawatan antenatal nya?
Adakah penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, alergi, asma dan
penyakit jantung? Bagaimana dengan keluarganya? Apakah ada obat yang di
konsumsi?
Apakah pengguna obat obatan, alkohol atau merokok?

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan keadaan umum juga tanda tanda vital (tekanan darah diukur lebih dari sekali,
suhu, frekuensi napas, denyut nadi). Kemudian dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik
obstetrik:
Inspeksi
Melihat striae juga linea yang fisiologis, bekas apabila sebelumnya pernah melakukan
pembedahan (misalnya, apendisitis).

Palpasi
Pada pemeriksaan palpasi dapat dilakukan pemeriksaan Leopold yang terdiri dari
Leopold I, Leopold II, Leopold III, dan Leopold IV. Pemeriksaan dilakukan dengan ibu hamil
berbaring dengan posisi litotomi (kaki ditekuk). Pada pemeriksaan Leopold I,II dan III pemeriksa
menghadap kearah kepala ibu sedangkan pada Leopold IV pemeriksa menghadap kaki ibu hamil.
1. Leopold I
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur ketinggian fundus. Dari ketinggian
fundus dapat ditentukan usia kehamilan. Pemeriksa menggunakan 2 tangan mengukur
ketinggian fundus serta menentukan presentasi bokong atau kepala (dengan
menggunakan 1 tangan).
2. Leopold II
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan posisi punggung apakah di kiri
atau di kanan dengan menggunakan kedua tangan.
3. Leopold III
Pemeriksaan ini untuk menentukan apakah yang menjadi bagian terbawah
janin dan apakah sudah masuk ke rongga panggul dengan menggunakan 1 tangan.
Leopold IV dapat dilakukan apabila bagian terbawah janin telah masuk ke rongga
panggul.
4. Leopold IV
Pemeriksaan ini untuk menentukan seberapa jauh masuknya bagian terbawah
janin ke rongga panggul, dengan menggunakan 2 tangan. Apabila konvergen maka
bagian yang masuk hanya sedikit, jika posisi kedua tangan sejajar maka kemungkinan
sudah masuk setengah bagian dan apabila divergen maka kemungkinan sebagian
besar sudah masuk ke rongga panggul.
Auskultasi
Auskultasi dilakukan dengan menggunakan doopler atau fetoskop. Posisi letak fetoskop
atau Doppler mengikuti presentasi punggung janin. Normal frekuensi denyut bati 120
160x/menit, apabila kurang dari atau lebih dari nilai tersebut maka janin dalam keadaan asfiksia.

Pemeriksaan pitting edema
Dilakukan penekanan yang umumnya pada bagian tibia.
Pemeriksaan neurologis
Untuk pemeriksaan ini dapat dilakukan pemeriksaan tanda kernig maupun kaku kuduk.

Pemeriksaan penunjang
Tes urin
1. Urinalisis +2 protein atau proteinuria >300mg/24jam
2. Kultur untuk kemungkinan ada infeksi
Tes darah
1. FBC : peningkatan hb dan ht mengacu pada hemokonsentrasi atau penurunan hb
mengacu pada hemolisis. Platelet juga dapat rendah.
2. Analisis urea dan elektrolit : dapat menunjukkan peningkatan urea dan kreatinin
3. Fungsi hati : transaminase dapat meningkat, AST > 2000 IU/L berhubungan dengan
penyakit mental, ikterus, dan hipertensi yang ekstrim.
4. Kadar asam urat normal pada 30 minggu <0,30 mmol/L, <0,34 mmol/L pada minggu ke
34. Tetapi pada preeklampsia meningkat.
5. Laktat dehidrogenase (LDH) meningkat pada hemolisis (>600 IU/L)
6. Pungsi lumbal jika diduga infeksi atau pendarahan subaraknoid.
7. Gas darah arteri membantu dalam diagnosis alkalosis atau asidosis. Nilainya penting
untuk menilai respon pasien terhadap terapi.
Pada eklampsia, periksa juga kadar serum glukosa, ca2+ dan Mg2+.
Radiologi : ultrasound fetus dapat memperlihatkan keterbatasan pertumbuhan (terhambat),
pengurangan cairan amnion. pada eklampsia, X-ray dada dapat jadi indikasi jika ada penurunan
saturasi O2 atau untuk mengecek apakah ada aspirasi setelah kejang.
CT/MRI kepala di indikasi apabila ada gejala fokal neurologic sebagai penyebab kejang.
Working diagnosis
1. Eklampsia merupakan kelanjutan dari preeklampsia yang tidak terkontrol atau tidak
ditangugulangi dengan benar sehingga mengakibatkan timbulnya kejang berupa
kejang tonik-klonik.
2. Hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistole, yang tingginya tergantung umur
individu yang terkena. Tekanan darah dapat meningkat ataupun menurun tergantung
pada posisi tubuh, umur, dan tingkat stress yang dialami. Dapat dogolongkan sebagai
ringan apabila tekanan darah diastole 95-104, hipertensi sedang dengan tekanan
diastole nya 105-114, dan hipertensi berat dengan tekanan diastole >115. Hipertensi
juga dapat dikelompokkan menjadi hipertensi esensial atau idiopatik dimana tanpa
etiologi yang spesifik, dan ada hipertensi sekunder dimana ada penyebab jelas yang
mendasarinya. Selanjutnya ada yang disebut hipertensi benigna apabila perjalan
penyakitnya bertahap dan ada pula yang disebut hipertensi maligna dimana
peningkatan tekanan darah yang terjadi progresif.
Usia Normal (mmHg) Hipertensi (mmHg)
Bayi 80/40 90/60
Anak 7-11 tahun 100/60 120/80
Remaja 12-17 tahun 115/70 130/80
Dewasa 20-45 tahun 120-125/75-80 135/90
45-65 tahun 135-140/85 140/90-160/95
65 tahun 150/85 160/95
Gambaran klinik hipertensi biasanya asimptomatik, sampai terjadi kerusakan
organ target. Sebagian besar nyeri kepala pada hipertensi tidak berhubungan dengan
tekanan darah. fase hipertensi yang berbahaya dapat ditandai dengan nyeri kepala dan
hilangnya penglihatan (papiledema).
Hipertensi dalam kehamilan merupakan peningkatan tekanan darah > 140/90
mmHg yang dapat terjadi sebelum ataupun saat kehamilan.

Differential diagnosis
1. Epilepsi
Epilepsi menjadi penyulit sekitar 1 dari 200 kehamilan. Meningkatnya frekuensi
kejang sering berkaitan dengan kadar antikonvulsan yang subterapeutik, penurunan
ambang kejang atau keduanya. Kadar yang subterapeutik tersebut berkaitan dengan
perubahan fisiologis ibu yang beradaptasi dengan kehamilan. Penyebab penyebabnya
antara lain:
Ibu yang mual dan muntah sehingga tidak minum obat;
Penurunan motilitas saluran cerna dan pemakaian antasid yang menyebabkan
penurunan penyerapan obat;
Peningkatan volume intravascular yang menurunkan kadar obat dalam serum;
Induksi enzim hati, plasma, dan plasenta yang meningkatkan metabolisme obat;
Meningkatnya filtrasi glomerulus yang mempercepat klirens obat.
Penatalaksanaan pada kejadian kejang yang disebabkan epilepsi :
Jika pasien kejang, berikan 10 mg diazepam selam 2 menit intravena.
Jika diketahui sebelumnya pasien tersebut epilepsi, pengobatan yang selama ini
diberikan dapat diteruskan. Beri asam folat suplemen dan berikan 1 mg vitamin K
kepada bayi baru lahir.
Jika pengobatan selama ini tidak diketahui,beri fenitoin 100 mg 2-3 kali sehari
peroral. Beri suplemen asam folat dan vitamin K seperti diatas. Lakukan evaluasi
terhadap epilepsi, jika epilepsi tersebut baru muncul dalam kehamilan ini.
2. Ensefalitis merupakan infeksi virus pada otak, sering ditularkan melalui nyamuk atau
berkaitan dengan infeksi oleh virus herpes simpleks 1 atau sitomegalovirus. Terjadi
degenerasi sel saraf yang meluas dan disertai dengan edema dan pembengkakan hebat.
Meningitis merupakan infeksi pada SSP yang biasanya disebabkan oleh bakteri
atau virus maupun jamur, protozoa dan toksin juga dapat menjadi penyebabnya. Sering
merupakan akibat dari penyebaran infeksi dari tempat lain di tubuh misalnya sinus,
telinga atau saluran napas bagian atas.
Pada ensefalitis dan meningitis terdapat gejala peningkatan tekanan intrakranial
berupa sakit kepalam penurunan kesadaran dan muntah. Papiledema dapat timbul pada
kasus yang berat. Demam, fotofobia serta kejang dan gerakan abnormal dapat timbul.
Hipertensi dalam masa kehamilan
Hipertensi dalam kehamilan diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Hipertensi gestasional
Peningkatan tekanan darah > 140/90 yang pertama kali timbul setelah 20 minggu
kehamilan dan tidak mempunyai riwayat hipertensi sebelumnya dan akan kembali normal
< 12 minggu postpartum.
2. Preeklamsia eklamsia
Preeklamsia merupakan peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg yang timbul
setelah 20 minggu kehailan yang disertai dengan proteinuria 300mg/24jam.
3. Hipertensi kronik
Merupakan peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg yang timbul sebelum 20
minggu kehamilan dan sebelumnya punya riwayat hipertensi tanpa disertai proteinuria.
Umumnya terjadi pada multipara serta ada riwayat hipertensi dalam keluarga.
Faktor penyebab antara lain:
1. Hipertensi esensial familial
2. Keelainan arteri
3. Kelainan endokrin
4. Glomerulonefritis akut dan kronis
5. Hipertensi yang berhubungan dengan kelainan ginjal.
6. Kegemukan
Kematian yang terjadi bisa karena terjadinya payah jantung atau komplikasi
serebrovaskular (CVA). Dalam kehamilan sering kali disertai dengan komplikasi solution
plasenta, pertumbuhan janin terhambat, dan kematian janin.
Hipertensi esensial adalah penyakit hipertensi kronis yang disebabkan oleh
kelainan vaskular (arteriosklerosis). Komplikasi yang terjadi bisa berupa penyakit
jantung, iskemia jantung, gagal ginjal, maupun pendarahan pada retina. Penyakit ini
terutama terjadi pada wanita usia lanjut yang gemuk. Biasanya disertau dengan gejala
diabetes. Dalam kehamilan, dapat berlanjut menjadi preeklamsia dan atau eklampsia,
gagal jantung, gagal ginjal, solution plasenta, gangguan pertumbuhan janin, maupun
kematian janin. Semakin dini munculnya hipertensi dalam kehamilan, semakin berat
penyakitnya dan semakin buruk prognosisnya.Jika tidak diperberat dengan preeklampsia
atau eklampsia maka pasien akan dapat melewati kehamilan dengan baik. Semakin dini
munculnya hipertensi dalam kehamilan, amkaa akan semakin buruk prognosisnya.
Penanganan sesuai keadaan pasien. Apabila keadaan pada pemeriksaan seperti
tekanan darah, jantung, ginjal dan pemeriksaan retina jelek, maka dapat dipertimbangkan
untuk melakukan abortus terapeutik dan sterilisasi.
4. Hipertensi kronik dengan preeklamsia
Merupakan peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg yang timbul sebelum 20
minggu kehamilan dan sebelumnya punya riwayat hipertensi dengan disertai proteinuria.
Gejala umum hipertensi dalam kehamilan adalah tekanan darah yang >140/90 mmHg.
Perbedaan klasifikasi tersebut diatas didasarkan pada kapan mulai timbulnya peningkatan
tekanan darah (onset) serta gejala dan hasil laboratorium.
Epidemiologi
Preeklamsia-eklampsia merupakan penyakit kedua terbanyak menjadi penyebab kematian
maternal pada negara berkembang dan sekitar 50.000 kematian maternal pertahun di seluruh
dunia. HELLP terjadi pada 20% kehamilan sebagai komplikasi preeklamsia berat. Eklampsia
merupakan komplikasi pada sekitar 1 sampai 2000 (1 2% dari seluruhkasus preeklampsia).
Preeklamsia
Pada preeklamsia dapat ditemukan peningkatan tekanan darah, proteinuria dan edema. Selain
itu, dapat pula ditemukan keluhan pasien seperti scotomata, penglihatan kabur, ataupun nyeri
epigastrium. Faktor predisposisi preeklamsia antara lain :
1. Usia <20 tahun atau >35 tahun
2. Nulipara
3. Kehamilan ganda
4. Mola hidatinosa
5. Diabetes melitus
6. Thyroid disease
7. Hipertensi kronik
8. Penyakit ginjal
9. Sindrom antifosfolipid
10. Riwayat keluarga preeklamsia
11. Sering ditemukan pada primigravida
Eklampsia
Merupakan komplikasi atau kelanjutan dari penanganan preeklampsia yang tidak
adekuat. Klinsnya timbul kejang tipe tonik klonik generalisata, yang terjadi pada wanita hamil.
Eklampsia dapat terjadi hingga 10 hari pasca partum. Eklampsia Menurut saat terjadinya,
eklampsia dapat dibedakan menjadi:
1. Eklampsi antepartum
2. Eklampsi intrapartum
3. Eklampsi pasca persalinan
Eklampsia pasca persalinan dapat terjadi segera yaitu 24 jam sampai 7 hari pasca
persalinan atau terjadi lambat yaitu setelah 7 hari pascapersalinan.
Serangan kejang dapat dibagi dalam beberapa tahapan :
1. Tingkat invasi (permulaan)
Mata terpaku, kepala berpaling sebelah dan kejang halus pada muka. Tahap ini
berlangsung beberapa detik.
2. Tingkat kontraksi (kejang tonis)
Seluruh badan menjadi kaku, kadang epistotonus. Tahap ini berlangsung selama 15 20
detik.
3. Tingkat konvulsi (tingkat kejang klonis)
Rahang membuka dan menutup secara bergantian, begitu pula dengan mata. Otot muka
dan badan berkontraksi dan berelaksasi berulang. Kejang ini sangat kuat hingga pasien
dapat terlempar dari tempat tidur atau lidahnya yang dapat tergigit. Tahap ini
berlangsung kurang lebih 1 menit.
4. Tingkat koma
Setelah kejang klonis, pasien akan jatuh dalam koma. Bervariasi dalam menit sampai
berjam jam. Ketika pasien sadar, ia tidak ingat sama sekali mengenai kejadian yang
terjadi (amnesia retrograd).
Selang beberapa waktu dari kejang yang terjadi, akan dapat timbul serangan kejang baru.
Penyebab kematian yang dapat terjadi oleh eklampsia merupakan edema paru, apopleksia dan
asidosis. Selain itu, dapat juga dikarenakan pneumoni aspirasi, kerusakan hati, atau gangguan
faal ginjal. Proteinuria hampir selalu ada bahkan bisa sangat banyak begitu pula dengan edema.
Setelah persalinan, keadaan pasien akan membaik dalam kurang lebih 12 24 jam. Hal
yang sama juga terjadi apabila janin mati intrauterine. Proteinuria akan menghilang dalam waktu
4 5 hari, sedangkan tekanan darah akan kembali normal sekitar 2 minggu.
Etiologi
Etiologi preeklamsia-eklampsia belum diketahui. Namun diduga cedera endotel
pembuluh darah memegang peranan penyakit ini. Kerusakan endothelial pada preeklamsia
menyebabkan penurunan produksi prostaglandin I
2
(prostasiklin), sebagai vasodilator poten dan
penghambat agregasi platelet.
Patofisisiologi
Teori mengenai patofisiologi preeklampsia mempertimbangkan pengamatan bahwa
gangguan hipertensif akibat kehamilan jauh lebih besar kemungkinan terjadi pada wanita yang:
1. Terpajang vilus korion pertama kali
2. Terpajang vilus korion dalam jumlah besar
3. Mengidap penyakit vaskular
4. Secara genetis memiliki predisposisi mengalami hipertensi yang timbul selama
kehamilan
Vasospasme dapat merupakan akibat dari kegagalan invasi trofoblas ke dalam lapisan
otot polos pembuluh darah, reaksi imunologi, maupun radikal bebas. Hal hal tersebut akan
menyebabkan terjadinya kerusakan endotel yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan
keseimbangan antara kadar vasokonstriktor (endotelin, tromboksan, angiostensin dll) dan
vasodilator (nitritoksida, prostasiklin dll) serta gangguan pada sistem pembuluh darah.
Vasokonstriksi yang meluas akan menimbulkan perubahan perubahan pada banyak organ
seperti :
1. Kardiovaskular
Berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi, cedera endotel disertai
ekstravasasi ke dalam ruang ekstrasel, terutama paru.
Hipertensi
Pengurangan curah jantung
Pengurangan volume plasma
Permeabilitas pembuluh darah meningkat
Edema
Trombositopeni
Gangguan pembuluh darah
Pendarahan
Disseminated intravascular coagulation (DIC)
2. Plasenta
Nekrosis
Pertumbuhan janin terhambat
Gawat janin
Solutio plasenta
3. Ginjal
Penurunan laju filtrasi glomerulus
Penurunan klirens asam urat
Oliguri
Proteinuri
Gagal ginjal
4. Otak
Edema
Hipoksia
Kejang
Gangguan pembuluh darah otak
5. Hati
Gangguan fungsi hati
Peninggian kadar enzim hati
Ikterus
6. Mata
Edema papil
Iskemia
Pendarahan
Ablation retina
7. Paru
Edema, iskemia, nekrosis
Pendarahan
Gangguan pernapasan hingga apneu
Patologi
Pada penderita yang meninggal karena eklampsia, dapat ditemukan kelainan
kelainan pada hati, ginjal, otak, paru dan jantung. Pada umumnya akan terlihat nekrosis,
pendarahan, edema, hiperemi atau iskemi, dan thrombosis. Pada plasenta dapat
ditemukan adanya infark infark karena degenerasi lapisan trofoblas. Selain itu,
perubahan lainnya adalah retensi air dan natrium, hemokonsentrasi serta kadang asidosis.
Manifestasi klinik
1. Hipertensi
2. Edema tidak hilang dengan istirahat
3. Proteinuria diperkirakan karena vasospasme pemuluh darah ginjal
4. Sakit kepala
5. Nyeri epigastrium
6. Gangguan penglihatan
Preeklamsia berat jika :
1) Peningkatan tekanan darah >160/110 mmHg
2) Proteinuria 5 gr/24 jam
3) Oliguria
4) Gangguan serebral atau penglihatan
5) Edema paru atau sianosis
Diagnosis
Apabila ditemukan gejala hipertensi, proteinuria, atau edema pada kehamilan dengan umur 20
minggu atau lebih. Membedakan dengan hipertensi esensial dengan gejala sebagai berikut :
1. Tekanan darah sistolik >200
2. Pembesaran jantung
3. Multiparitas
4. Ada riwayat preeklamsia
5. Tidak ada edema dan proteinuria
6. Pendarahan dalam retina
Harus sudah mengesampingkan keadaan lain dengan klinis kejang dan koma seperti
uremia, keracunan, tetanus, epilepsi, ensefalitis, meningitis, tumor otak, pecahnya aneurisma
otak. Pada riwayat dapat diketahui bahwa pasien menderita preeklampsia.
Prognosis
Bergantung pada terjadinya eklampsi. Jika timbul eklampsi maka prognosisnya menjadi
kurang baik. Dengan prenatal care yang baik, preeklampsi dapat di deteksi sedini mungkin
sehingga dapat dicegah kemungkinan terjadinya komplikasi yang lebih berat berupa preeklampsi
berat, eklampsi sampai kematian ibu dan anak.
Eklampsia sebagai suatu keadaan yang berbahaya. Prognosis nya buruk baik bagi ibu dan
anak. Prognosis dapat dipengaruhi oleh paritas dan umur ibu yaitu semakin memburuk pada
multipara dan umur ibu yang melebihi 35 tahun.
Penatalaksanaan
1. Pada preeklampsia
- Preeklampsia ringan : Perbaikan dengan istirahat dan pemberian sedatif.
- Preeklampsia berat :
o Tujuan pengobatan nya adalah :
1) Mencegah eklampsia
2) Menurangi komplikasi yang lebih lanjut seperti HELLP sindrom dan
kematian ibu serta janin
3) Cegah hipertensi yang menetap
Dasar pengobatan istirahat, diet, sedatif, obat antihipertensi dan induksi
persalinan. Tersiri dari pengobatan konservatif dan aktif. Pada perawatan konservatif,
kehamilan dipertahankan dengan bantukan obat sedangkan pada perawatan aktif,
kehamilan segera diakhiri dengan pemberian obatan.
2. Pada eklampsia
Profilaksis melalui pencegahan (manipulasi diet, aspirin dosis rendah, antioksidan)
eklampsia yang dilakukan dengan cara menemukan kasus preeklampsia sedini
mungkin dan mengobatinya dengan adekuat.
Eklampsia merupakan penyakit yang disebabkan oleh kehamilan. Oleh karena itu,
pengobatan yang terbaik adalah dengan persalinan.
Terapi kedaruratan pada eklampsia
1. Jalan pernapasan, oksigenasi adekuat sangat penting. Sekresi mukus dikeluarkan dengan
kateter isap, dan diberi oksigen. Cegah aspirasi muntahan.
2. Perlindungan dari bahaya fisik, pasien harus ditempatkan terlentang pada permukaan
yang rata dengan kepala diputar ke satu sisi. Spatel lidah dimasukkan ke dalam mulut
untuk mencegah trauma lidah dan membran mukosa mulut.
3. Cairan intravena harus diberikan.
4. Obat anti kejang. Magnesium sulfat, diazepam 10 mg (dapat melewati plasenta dan dapat
sebabkan hipotonia umum dan depresi pernapasan pada neonatus), fenobarbital 120 240
mg.
Perawatan serangan kejang dan koma
1. Kamar isolasi yang cukup terang dan tenang.
2. Memasukkan sudip lidah ke dalam mulut penderita.
3. Fiksasi badan, hindari fraktur.
4. Pada saat kejang dapat diberikan suntikan benxodiazepin, fenitoin atau diazepam.
5. Pemantauan.
6. Cegah dekubitus.
7. Pemberian nutrisi melalui NGT.
Sastrawinata S. Ilmu Kesehatan Reproduksi : Obstetri Patologi. Ed.2. J akarta : EGC, 2004.
Komplikasi
1. Edema paru
Edema paru pada eklampsia dapat terjadi akibat aspirasi pneumonia tau kombinasi
hipertensi berat dan pemberian cairan intravena dalam jumlah besar dapat menyebabkan
gagal jantung. Pemberian cairan intravascular dalam jumlah sedang dan pencegahan
ekspansi volume dapat membatasi timbulnya komplikasi ini.
2. Kebutaan
Sekitar 10% wanita dengan kejang eklampsia diikuti dengan kebutaan. Penyebabnya
dapat merupakan ablation retina dengan derajat yang bervariasi diskemia, infark, atau
edema lobus oksipitalis. Sekitar 5% pasien akan mengalami perubahan kesadaran yang
substansial, termasuk koma menetap setelah kejang. Hal ini dikarenakan oleh edema otak
yang luas.
3. Kematian
Pada sebagian kasus eklampsia, pasien meninggal mendadak bersamaan dengan kejang
atau segera sesudahnya diakibatkan pendarahan otak yang luas. Pendarahan otak yang
lebih besar kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua dengan hipertensi
kronis.

Daftar pustaka
1. Preeklampsia, eklampsia, terapi
Eliastam M, Strenbach GL, Bresler MJ. Penuntuk Kedaruratan Medis. Ed.5. Jakarta:
EGC, 1998.
2. Eklampsia lengkap sampai terapi
Dewanto G. Panduan Praktis Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC,
2009.
3. Eklampsia, preeklampsia.
Farrer H. Perawatan Maternitas. Ed.2. Jakarta : EGC,1999.
4. Epilepsi
Leveno KJ. Obstetri Williams : Panduan Ringkas. Ed.21. Jakarta : EGC, 2009.
5. Definisi pre eklamps, epide, etio, PP
Arulkumaran S, Regan L, Papageorghiou AT, Monga A, Farquharson DIM. Oxford Desk
Reference: Obstetrics and Gynaecology. NY, 2011.
6. Hipertensi
Davey P. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga, 2005.
7. Hipertensi
Tamboyang J. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC, 2000.
8. Corwin EJ. Buku Saku : Patofisiologi. Ed.3. Jakarta : EGC, 2009.