Anda di halaman 1dari 27

Tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu diinginkan agar

didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum. Beberapa variabel


operasi yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui
transesterifikasi adalah sebagai berikut (Freedman, 198!"
1. #engaruh air dan asam lemak bebas
$inyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam yang lebih
ke%il dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan asam lemak bebas
lebih ke%il dari &.'( ()&.'(!. *elain itu, semua bahan yang akan digunakan harus
bebas dari air. +arena air akan bereaksi dengan katalis, sehingga jumlah katalis
menjadi berkurang.
,. #engaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah
*e%ara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah - mol untuk
setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh - mol alkil ester dan 1 mol gliserol.
#erbandingan alkohol dengan minyak nabati ,8"1 dapat menghasilkan konversi 98(
(Bradsha. and $euly, 19!. *e%ara umum ditunjukkan bah.a semakin banyak
jumlah alkohol yang digunakan, maka konversi yang diperoleh juga akan semakin
bertambah. #ada rasio molar /"1, setelah 1 jam konversi yang dihasilkan adalah 980
99(, sedangkan pada -"1 adalah 1089(. 2ilai perbandingan yang terbaik adalah /"1
karena dapat memberikan konversi yang maksimum.
-. #engaruh katalis
+atalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi sehingga
pada suhu tertentu harga konstanta ke%epatan reaksi semakin besar. 3lkali katalis
(katalis basa! akan memper%epat reaksi transesterifikasi bila dibandingkan dengan
katalis asam. +atalis basa yang paling populer untuk reaksi transesterifikasi adalah
natrium hidroksida (2a45! (Fukuda,,&&1!. #enambahan katalis 2a45 sebesar 1& ml
memberikan yield tinggi sebesar 9/,,1 ( dibandingan dengan katalis 2a45 sebesar 8
ml yield yang diperoleh 9,11 ( (6iski, ,&&9!
. #engaruh temperatur
6eaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur -& 0 /'7 8 (titik didih
metanol sekitar /'7 8!. *emakin tinggi temperatur, konversi yang diperoleh akan
semakin tinggi untuk .aktu yang lebih singkat. #ada suhu /& &8 merupakan suhu
optimum untuk produksi biodiesel (9ulandari, ,&&9!.
2.1 Penelitian Sebelumnya
6a%himoellah (,&&9! dalam jurnalnya yang berjudul :Pembuatan Biodiesel
Dari Minyak Alpukat (Persea gratissima) Dengan Proses Transesterifikasi:
melakukan penelitian dengan tujuan untuk membuat biodiesel dari minyak biji
alpukat sehingga dapat dijadikan alternatif bahan bakar diesel serta mempelajari
pengaruh rasio mol minyak terhadap metanol dan suhu reaksi untuk memperoleh
kadar metil ester tertinggi. 5asil penelitian menunjukkan bah.a biodiesel minyak biji
alpukat memenuhi standar sebagai bahan bakar alternatif. *uhu reaksi pada
pembentukan ester yang optimum adalah /& 78, hal ini dikarenakan suhu tersebut
masih diba.ah titik didih metanol (/,1 78! sehingga metanol dapat bereaksi
seluruhnya dan sempurna memberikan hasil ester yang maksimal. *uhu yang lebih
tinggi dari /& 78 akan menguapkan metanol dan menghasilkan kadar metil ester yang
lebih rendah. *edangkan untuk pengaruh mol minyak terhadap metanol diketahui
bah.a pada suhu /& 78 dengan metanol yang berlebih akan menurunkan kadar metil
ester karena metanol yang berlebih akan menyebabkan sulitnya pemisahan gliserol.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Sebelumnya
6a%himoellah (,&&9! dalam jurnalnya yang berjudul :Pembuatan Biodiesel
Dari Minyak Alpukat (Persea gratissima) Dengan Proses Transesterifikasi:
melakukan penelitian dengan tujuan untuk membuat biodiesel dari minyak biji
alpukat sehingga dapat dijadikan alternatif bahan bakar diesel serta mempelajari
pengaruh rasio mol minyak terhadap metanol dan suhu reaksi untuk memperoleh
kadar metil ester tertinggi. 5asil penelitian menunjukkan bah.a biodiesel minyak biji
alpukat memenuhi standar sebagai bahan bakar alternatif. *uhu reaksi pada
pembentukan ester yang optimum adalah /& 78, hal ini dikarenakan suhu tersebut
masih diba.ah titik didih metanol (/,1 78! sehingga metanol dapat bereaksi
seluruhnya dan sempurna memberikan hasil ester yang maksimal. *uhu yang lebih
tinggi dari /& 78 akan menguapkan metanol dan menghasilkan kadar metil ester yang
lebih rendah. *edangkan untuk pengaruh mol minyak terhadap metanol diketahui
bah.a pada suhu /& 78 dengan metanol yang berlebih akan menurunkan kadar metil
ester karena metanol yang berlebih akan menyebabkan sulitnya pemisahan gliserol.
2.2 Minyak Nabati
$inyak nabati adalah minyak yang diperoleh dari tumbuh0tumbuhan atau
tanaman. Tumbuh0tumbuhan menyimpan energi dalam lemak dan minyak. $inyak
umumnya terkandung dalam biji0bijian tanaman, yaitu pada tanaman kelapa sa.it,
jarak, kedelai, ka%ang tanah, alpukat dan lain sebagainya. ;adi, minyak dari
tumbuhtumbuhan
biasanya dapat diperoleh dengan %ara memeras bijinya atau melalui proses
ekstraksi. #ada tabel ,.1 berikut ini akan ditunjukkan beberapa ma%am tanaman
penghasil minyak nabati serta produktifitas yang dihasilkannya.
'
Tabel ,.1 Tanaman penghasil minyak nabati serta produktifitasnya
Tanaman Perolehan [kgha! Perolehan [literha!
kedelai -1' /
jarak 1'9& 189,
bunga matahari 8&& 9',
alpukat ,,11 ,/-8
ka%ang tanah 89& 1&'9
sa.it '&&& '9'&
*umber " http"<<....avo%adosour%e.%om<9381<938 1 p1'9.pdf
$inyak nabati dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif, dan nantinya
akan tergolong ke dalam bahan bakar nabati. $inyak nabati dapat dijadikan sebagai
bahan bakar alternatif karena tersusun dari molekul0molekul trigliserida yang
mengandung atom0atom karbon dan hidrogen dengan hanya / atom oksigen per
molekul.
*emua minyak nabati dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar namun
dengan proses0proses pengolahan tertentu (=.$ 8hoo, 1981!. *alah satu proses
pengolahan minyak nabati agar menjadi bahan bakar alternatif adalah dengan proses
transesterifikasi. #ada proses transesterifikasi ini nantinya minyak nabati akan
diproses dan diolah menjadi biodiesel yang berkekentalan mirip solar, berangka
setana lebih tinggi dan relatif lebih stabil terhadap perengkahan. $inyak nabati
membutuhkan perlakuan berupa proses transesterifikasi terlebih dahulu untuk
menjadi biodiesel sebagai kandidat bahan bakar mesin diesel karena memiliki
beberapa kelemahan yaitu"
1. $inyak nabati (trigliserida! berberat molekul besar, jauh lebih besar dari biodiesel
(metil ester!. 3kibatnya, minyak nabati relatif mudah mengalami perengkahan
(cracking! menjadi aneka molekul ke%il, jika terpanaskan tanpa kontak dengan
udara (oksigen!.
,. $inyak nabati memiliki kekentalan (viskositas! yang jauh lebih besar dari solar
maupun biodiesel, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel
/
tak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization! yang baik ketika minyak
nabati disemprotkan ke dalam ruang pembakaran.
-. $olekul minyak nabati relatif lebih ber%abang dibanding metil ester (biodiesel!.
3kibatnya, angka setana minyak nabati lebih rendah daripada angka setana
biodiesel. 3ngka setana adalah tolok ukur kemudahan menyala<terbakar dari suatu
bahan bakar di dalam mesin diesel.
$inyak nabati dan biodiesel tergolong ke dalam kelas besar senya.a0senya.a
organik yang sama, yaitu kelas ester asam0asam lemak. 3kan tetapi, minyak nabati
adalah triester asam0asam lemak dengan gliserol atau trigliserida, sedangkan
biodiesel adalah monoester asam0asam lemak.
2.2.1 Kom"o#i#i $alam Minyak Nabati
+omposisi yang terdapat dalam minyak nabati terdiri dari trigliseridatrigliserida
asam lemak (mempunyai kandungan terbanyak dalam minyak nabati,
men%apai sekitar 9'(!, asam lemak bebas (Free Fatty Acid atau biasa disingkat
dengan FF3!, monogliserida dan digliserida, serta beberapa komponen0komponen
lain seperti phosphoglycerides, vitamin, mineral atau sulfur.
2.2.1.1 Trigli#eri$a
Trigliserida adalah triester dari gliserol dengan asam0asam lemak. $olekulmolekul
trigliserida terdiri dari gliserol yakni alkohol dengan rantai - karbon sebagai
tulang punggung (rantai utama! dan - %abang asam lemak dengan rantai 18 karbon
atau 1/ karbon. 3sam lemak merupakan rantai hidrokarbon lurus dan panjang yang
berisi 1, sampai , atom karbon. *alah satu ujung molekul asam lemak berisi
kelompok asam karboksilat (8445!. >ari kelompok asam karboksilat ini bisa
dihitung jumlah atom karbon asam lemak. 3sam lemak dari tumbuhan merupakan
ikatan tak jenuh dengan satu atau lebih ikatan rangkap diantara atom karbonnya dan
ber.ujud %air pada suhu ruang. 3sam lemak dengan satu ikatan rangkap disebut tak
jenuh mono (mono0unsaturated! dan yang memiliki lebih dari satu ikatan rangkap
disebut tak jenuh poli (poly0unsaturated!, sedangkan yang tidak memiliki ikatan
1
rangkap disebut jenuh (saturated!. ?ambar ,.1 adalah %ontoh sebuah struktur ikatan
molekul trigliserida.
?ambar ,.1 *truktur ikatan molekul trigliserida
*umber " 9ardana, ,&&8" -8
#ada struktur dalam gambar ,.1 ketiga asam lemak memiliki nama yang
berbeda tergantung struktur rantai karbonnya. 3sam steari% adalah jenuh karena
semua ikatan pada rantainya adalah ikatan tunggal. 3sam olei% adalah takjenuh mono
karena terdapat satu ikatan rangkap di antara karbon ke 9 da 1&. 3sam @inolei%
adalah takjenuh poly dengan dua ikatan rangkap pada molekulnya.
3pabila hanya ada satu ikatan rangkap dalam rantai karbon asam lemak,
ikatan tersebut biasanya mun%ul antara karbon ke 9 dan 1&. ;ika terdapat dua ikatan
rangkap, maka ikatan rangkap yang ke dua selalu mun%ul antara atom karbon ke 1,
dan 1- seperti terlihat pada gambar ,.1. *ementara ikatan rangkap ketiga umumnya
mun%ul antara atom karbon ke 1' dan 1/.
Trigliserida banyak dikandung dalam minyak dan lemak serta merupakan
komponen terbesar penyusun minyak nabati. *elain trigliserida, terdapat juga
monogliserida dan digliserida. *truktur molekul dari ketiga ma%am gliserid tersebut
dapat dilihat pada ?ambar ,.,.
8
?ambar ,., *truktur molekul monogliserida, digliserida dan trigliserida
*umber " Aandy, ,&&1" 1
2.2.1.2 A#am %emak Beba#
3sam lemak bebas (FF3! adalah asam lemak yang terpisahkan dari
trigliserida, digliserida, monogliserida, dan gliserin bebas. 5al ini dapat disebabkan
oleh pemanasan dan terdapatnya air sehingga terjadi proses hidrolisis. 4ksidasi juga
dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam minyak nabati. >alam proses
konversi trigliserida menjadi metil ester melalui reaksi transesterifikasi dengan katalis
basa, asam lemak bebas harus dipisahkan atau dikonversi menjadi alkil ester terlebih
dahulu karena asam lemak bebas akan mengkonsumsi katalis. +andungan asam
lemak bebas dalam biodiesel akan mengakibatkan terbentuknya suasana asam yang
dapat mengakibatkan korosi pada peralatan injeksi bahan bakar, membuat filter
tersumbat dan terjadi sedimentasi pada injektor.
2.2.2 Minyak Nabati $ari Bi&i Al"ukat
$inyak biji alpukat adalah minyak nabati yang diperoleh dari biji buah
alpukat (Persea gratissima!. $enurut 9idioko (,&&9!, disamping daging buahnya
biji alpukat juga memiliki potensi karena kandungan proteinnya tinggi bahkan
kandungan minyaknya hampir sama dengan kedelai. >ari penelitiannya diketahui
bah.a rendemen yang diperoleh melalui proses ekstraksi biji alpukat dengan
menggunakan pelarut Bso #ropil 3lkohol dan n0heCane sebesar 11,8/8( dan
18,/89(. $enurut 6a%himoellah (,&&9!, Biji alpukat dapat dijadikan sebagai sumber
9
minyak nabati yang nantinya diolah untuk menghasilkan biodiesel dengan proses
transesterifikasi karena mengandung trigliserida serta kandungan asam lemak bebas
(FF3! yang rendah yakni &,-/1( 0 &,8,(, seperti yang ter%antum pada tabel ,.,
berikut ini"
Tabel ,., +arakteristik fisika dan kimia minyak biji alpukat
Karakteri#tik Jumlah
'ISIKA
pesific !ra"ity (#$%&) &,91' D &,91/
Melting Point 1&,'&78
Flash Point ,'78
'efracti"e (nde) 1,/,
*iscosity &,-'1 poise
KIMIA
FF3 &,-/1( D &,8,(
Bilangan *aponifikasi (mg +45<g! ,/,8&
Bilangan Bodin (mg iodine<g! ,,//
Bilangan 3sam (mg +45<g! ',,&&
Bilangan Ester ,1,/&
Bilangan #eroksida ($illi
eFuivalents #eroksida<1&&& g oil!
-,-
Bahan yang tak tersabunkan 1',,'&(
*umber " 6a%himoellah, ,&&9" -
Berikut ini merupakan gambar buah alpukat beserta bijinya yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan minyak biji alpukat.
?ambar ,.- Buah alpukat (Persea gratissima ?aerth < Persea americana $ill!
*umber " http"<<....ristek.go.id
1&
$inyak nabati yang memiliki kandungan FF3 rendah dapat menghasilkan
rendemen minyak yang besar. #ada per%obaan dengan perlakuan kandungan FF3
menunjukkan semakin besar kandungan asam lemak bebas maka semakin ke%il
konversi biodiesel yang dihasilkan. 3danya kandungan FF3 yang tinggi akan
menyebabkan pembentukan sabun yang selanjutnya akan ter%ampur dengan bahan
baku, sehingga menghambat proses tansesterifikasi dan memperke%il produksi
biodiesel (*usilo,,&&/!.
$inyak biji alpukat memiliki komposisi asam lemak yang tersusun oleh 1&
asam lemak dengan kandungan asam lemak terbesar adalah asam oleat
(8115--8445! sebesar 1&,'( dan asam palmetat (81'5-18445! sebesar
11,8'(.
+omposisi asam lemak minyak biji alpukat selengkapnya dapat terlihat pada tabel
,.-.
Tabel ,.- +omposisi asam lemak minyak biji alpukat
A#am %emak (
Palmetic Acid 81/ " 1 11,8'
Palmitoleic Acid 81/ " 1 -,98
tearic Acid 818 " & &,81
+leic Acid 818 " 1 1&,'
,inoleic Acid 818 " , 9,'
,inolenic Acid 818 " - &,81
Arachidic Acid 8,& " & &,'&
-liosenoic Acid 8,& " 1 &,-9
Behenic Acid 8,, " & &,/1
,ignoceric Acid 8, " & &,-
*umber " 6a%himoellah, ,&&9" -
2.) Tran#e#teri*ika#i
Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis! adalah tahap konversi dari
trigliserida (minyak nabati! menjadi metil ester, melalui reaksi dengan alkohol yang
telah di%ampur katalis terlebih dahulu, dan menghasilkan produk samping yaitu
gliserol. >i antara alkohol0alkohol monohidrik yang menjadi kandidat
sumber<pemasok gugus alkil serta paling umum digunakan adalah metanol, karena
harganya murah dan reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut
11
ROH + B RO- + BH+ (1)
RCOO CH2 RCOO CH2
RCOO CH + -OR RCOO CH OR (2)
H2C OCR H2C O C R
O O-
RCOO CH2 RCOO CH2
RCOO CH OR RCOO CH + ROOCR (3)
H2C O C R H2C O-
O-
RCOO CH2 RCOO CH2
RCOO CH + BH+ RCOO CH + B (4)
H2C O- H2C OH
metanolisis!. ;adi, di sebagian besar dunia ini, biodiesel praktis identik dengan metil
ester asam0asam lemak (Fatty Acids Metil -ster, F3$E!. 6eaksi transesterifikasi
trigliserida menjadi metil ester dapat dilihat pada ?ambar ,. berikut ini"
?ambar ,. 6eaksi transesterifikasi menjadi metil ester asam0asam lemak
*umber " 9ardana, ,&&8" &
Transesterifikasi merupakan metode yang saat ini paling umum digunakan
untuk memproduksi biodiesel dari refined fatty oil. $etode ini menghasilkan
konversi biodiesel hingga 98( dari bahan baku minyak nabati (Bouaid, ,&&'!.
$ekanisme yang terjadi saat reaksi transesterifikasi dengan menggunakan katalis
basa dapat dilihat pada gambar ,.' berikut ini"
?ambar ,.' $ekanisme reaksi transesterifikasi
*umber " *%hu%hardt, 1998" ,&1
1,
6eaksi yang terjadi pada gambar ,.'(1! yaitu antara metanol (645! dengan
katalis +45 (disimbolkan B!. Gnsur 450 pada katalis +45 akan bereaksi dengan 5H
pada senya.a 645. 5al ini akan menyebabkan unsur 4 pada 645 akan kelebihan
elektron sehingga unsur 4 bermuatan negatif menjadi 640. 6eaksi pada gambar
,.'(,!, 640 yang bersifat negatif merupakan nukleofil (suka akan inti! sehingga
4akan
menyerang inti pada senya.a trigliserida. #ada reaksi gambar ,.'(-!,
penyerangan inti 8 oleh 40 akan menyebabkan ikatan rangkap elektron antara 8 dan
4 pada trigliserida akan berpindah pada 40 dan akan membentuk ikatan senya.a
antara tetrahedral. Bkatan tetrahedral merupakan ikatan tidak stabil, untuk men%apai
kestabilan muatan negatif 4 akan membentuk ikatan rangkap kembali. +arena 8
kelebihan elektron maka akan memutus ikatan dari 4 dan akan membentuk ikatan
metil ester, sedangkan trigliserida menjadi digliserida, seperti terlihat pada gambar
,.'(!.
#roses perubahan trigliserida menjadi metil ester akan melalui - tingkatan
dimana trigliserida berubah menjadi digliserida kemudian monogliserida dan
akhirnya menjadi metil ester. 3lur proses perubahan tersebut ditunjukkan pada
gambar ,./ berikut ini"
?ambar ,./ 3lur reaksi transesterifikasi
*umber " 9ardana, ,&&8"
catalyst
TG + 3ROH 3RCO2R + GL (1)
Stepwse !eact"#s a!e$
k1
TG + ROH %G + RCO2R (2)
k2
k2
%G + ROH &G + RCO2R (3)
k3
k3
&G + ROH GL + RCO2R (4)
k4
1-
#ada gambar ,./(1! dimana satu mol trigliserida (T?! bereaksi dengan tiga
mol alkohol (645! dengan bantuan katalis menghasilkan tiga mol senya.a ester
(6I84,6! dan satu mol gliserol (?@!. #ada gambar ,./(,!, satu mol alkohol akan
mengubah trigliserida menjadi digliserida (>?! dan senya.a ester. #ada gambar
,./(-!, satu mol alkohol selanjutnya bereaksi dengan digliserida dan menghasilkan
monogliserida dan senya.a ester. #ada gambar ,./(!, satu mol alkohol terakhir akan
bereaksi dengan monogliserida ($?! akan menghasilkan gliserol (?@! dan senya.a
ester.
Transesterifikasi merupakan suatu reaksi kesetimbangan. +etika reaktan
produk men%apai titik kesetimbangan, reaksi akan berhenti. Bni dikarenakan minyak
tidak akan mengalami perubahan lagi. Gntuk mendorong reaksi agar kesetimbangan
bergerak %ondong kearah produk dapat dilakukan dengan %ara"
a. $enambahkan metanol ke dalam reaksi.
b. $emisahkan gliserol.
%. $enurunkan temperatur reaksi agar tidak melebihi titik didih alkohol yang dipakai
(transesterifikasi merupakan reaksi endoterm!.
2.).1 +aktu Tran#e#teri*ika#i
#enelitian ini memiliki tujuan yang salah satunya untuk mengetahui pengaruh
.aktu transesterifikasi minyak biji alpukat terhadap sifat fisik biodiesel yang meliputi
massa jenis, viskositas, nilai kalor, titik nyala api, titik tuang dan indeks setana. @aju
konversi transesterifikasi dipengaruhi oleh .aktu reaksi dan temperatur ( 9ardana,
,&&8!. Jariasi .aktu transesterifikasi disertai dengan variasi temperatur dapat
menyebabkan perubahan nilai konversi dari minyak nabati menjadi biodiesel seperti
terlihat pada gambar ,.1. 5al ini dikarenakan gerakan molekul0molekul bahan bakar
dan pengoksidasi menjadi lebih %epat dan tumbukan molekul0molekul menjadi sangat
keras, akibatnya beberapa atom dengan ikatan lemah lepas (9ardana, ,&&8!.
#enjelasan ini sesuai dengan grafik pengaruh .aktu dan temperatur terhadap kadar
metil ester seperti yang terlihat pada gambar ,.1 berikut ini"
1
?ambar ,.1 ?rafik pengaruh .aktu dan temperatur terhadap kadar metil ester
*umber " Aandy, ,&&1" 1-
Biasanya laju konversi trigliserida, digliserida, dan monogliserida meningkat
se%ara kuadratik sampai sekitar -& menit dengan konstanta laju reaksi sekitar &,19 <
((berat.menit! (9ardana, ,&&8!. >engan .aktu yang %ukup, reaksi akan berjalan
sempurna sehingga trigliserida akan mengalami transesterifikasi pada tekanan
atmosfer dan suhu sekitar /&01& 78 (5ui, 199/!. #ada penelitian ini menggunakan
variasi .aktu transesterifikasi (menit! yaitu" -&K 'K /&K 1'K 9&.
2.).2 Metanol
#ada transesterifikasi, metanol berfungsi untuk memutus ikatan0akatan
molekul dari minyak nabati (trigliserida! se%ara reaksi kimia menjadi metil ester dan
gliserol. $etanol merupakan salah satu jenis alkanol (sering disebut alkohol!.
3lkohol adalah salah satu homolog senya.a turunan alkana yang satu atom 50nya
diganti dengan gugus hidroksil atau gugus D45 sehingga mempunyai rumus struktur
6045. $etanol yang mempunyai rumus empiris 85-45 merupakan senya.a
turunan dari alkana yang mempunyai rumus empiris 85.
$etanol sangat umum digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama
ribuan tahun. #embuatannya sangat mudah dan murah karena bahan pembuatannya
32'C
4('C
)('C
React"#s C"#*t"#s$
1+ Catalyst (S"*,-
Hy*!".*e)
1'
melimpah. $etanol dihasilkan dengan prose fermentasi atau peragian bahan makanan
yang mengandung pati atau karbohidrat, seperti beras dan umbi. $etanol yang
dihasilkan dari proses fermentasi biasanya berkadar rendah. Gntuk mendapatkan
metanol dengan kadar yang lebih tinggi diperlukan proses pemurnian melalui
penyulingan atau distilasi. Gntuk jenis metanol bagi keperluan industri dalam skala
lebih besar dihasilkan dari fermentasi tetes, yaitu hasil samping dari industri gula
tebu.
*ifat metanol antara lain bersifat asam lemah sampai0sampai bisa dianggap
bukan sebagai asam. *elain itu metanol memiliki sifat mudah terbakar dan
mempunyai energi pembakaran yang tinggi yaitu 19 k; per mol 4,, sedikit lebih
besar dari energi yang dilepaskan oleh bahan bakar fosil (....%hem0is0try.org,
,&&-!. *elain itu, metanol mempunyai massa molar -,,& g<mol, densitas &,1918
g<%m- dalam fase liFuid, melting point 091 78 (11/ +!, boiling point /,1 78 (--1,8
+!, viskositas &,'9 m#a.s pada ,& 78 dan titik nyala (flash piont! 11 78.
2.).) Katali# Kalium ,i$rok#i$a -K.,/
$enambahkan katalis merupakan %ara yang digunakan untuk memper%epat
reaksi, dengan merangsang elektron yang mengikat atom0atom dalam molekul untuk
meninggalkan molekul sehingga ikatan atom akan putus, molekul menjadi pe%ah dan
bermuatan. >engan katalis, reaksi yang umumnya se%ara konvensional membutuhkan
energi aktivasi (panas! tinggi bisa dilakukan dengan panas yang rendah seperti halnya
reaksi di dalam tubuh kita bisa berlangsung pada suhu yang sangat rendah akibat
kerja katalis dalam bentuk enLim. #ada transesterifikasi, katalis mereaksikan antara
minyak nabati (trigliserida! dengan metanol tanpa ikut bereaksi. ;adi sebelum dan
sesudah reaksi, jumlah katalis tidak berubah.
#ada penelitian ini, katalis yang digunakan adalah katalis yang bersifat basa
kuat yaitu kalium hidroksida (+45! karena akan memper%epat reaksi transesterifikasi
bila dibandingkan dengan katalis asam. +alium merupakan senya.a kimia kuat yang
mudah larut dalam air, ber.arna putih, tidak berbau dan dapat memberikan rasa
panas. 6eaktif dengan asam dan korosif pada seng dan aluminium. +alium hidroksida
1/
memiliki massa molar '/,1&'/ g<mol, melting point -/& 78, boiling point 1-,& 78
dan densitas ,,&& g<%m- pada fase solid.
2.0 Bio$ie#el
Transesterifikasi minyak nabati menghasilkan biodiesel. Biodiesel merupakan
biofuel yang dapat menggantikan posisi solar sebagai bahan bakar diesel. Gmumnya
biodiesel terbuat dari minyak tumbuh0tumbuhan maupun lemak he.an. 2amun tidak
semua minyak tumbuhan dapat dikategorikan minyak diesel, minyak tumbuhan murni
tidak masuk dalam kategori biodiesel. $enurut 8haurasia (,&&-!, biodiesel
didefinisikan sebagai mono alkil ester dari asam lemak rantai panjang yang berasal
dari lemak yang dapat diperbaharui.
Biodiesel pada dasarnya diproduksi dari reaksi transesterifikassi minyak
tumbuhan atau lemak he.ani dengan alkohol dan dengan bantuan katalis untuk
menghasilkan gliserol dan biodiesel (metil ester!. Biodiesel memiliki beberapa
keunggulan sebagai bahan bakar alternatif (+ementerian 2egara 6iset dan Teknologi,
,&&/!, yaitu"
1. 3ngka cetane tinggi. $akin tinggi bilangan cetane. makin %epat pembakaran dan
makin baik efisiensi termodinamisnya
,. Titik nyala tinggi, yakni suhu terendah yang dapat menyebabkan uap biodiesel
menyala. *ehingga biodiesel lebih aman dari bahaya kebakaran pada saat disimpan
maupun didistribusikan daripada solar.
-. Tidak mengandung sulfur dan benLena, serta dapat diuraikan se%ara alami.
. $enambah pelumasan mesin yang lebih baik daipada solar sehingga
memperpanjang umur pemakaian mesin.
'. $udah di%ampur dengan solar biasa dalam berbagai komposisi dan tidak
memerlukan modifikasi mesin apapun.
/. $engurangi se%ara signifikan asap hitam dari gas buang mesin diesel, .alaupun
penambahan biodiesel ke dalam solar hanya '01&(.
11
2.1 Si*at 'i#ik Bio$ie#el
*ifat fisik biodiesel yang perlu diketahui untuk menilai kelayakan biodiesel
sebagai subtitusi solar antara lain massa jenis, viskositas, titik nyala, nilai kalor, titik
tuang dan indeks setana.
2.1.1 Ma##a Jeni# -Density/
$assa jenis adalah perbandingan jumlah massa yang dimiliki suatu Lat dalam
suatu volume tertentu. >alam suatu volume yang sama setiap Lat memiliki massa
jenis yang berbeda. $assa jenis menunjukkan kerapatan molekul suatu Lat dalam
suatu volume yang sama. *emakin rapat molekul suatu Lat, maka Lat tersebut
memiliki massa jenis yang besar. $assa jenis mempunyai satuan kilogram per meter
kubik (kg<m-!. $assa jenis diukur dengan suatu alat yang disebut hydrometer.
#engetahuan tentang massa jenis ini berguna untuk perhitungan kuantitatif dan
pengkajian kualitas penyalaan. $assa jenis berkaitan dengan nilai kalor dan daya
yang dihasilkan oleh mesin diesel per satuan volume bahan bakar.
2.1.2 2i#ko#ita# -Viscosity/
Jiskositas (kekentalan! fluida adalah besaran yang menggambarkan sukarnya
fluida tersebut mengalir, besarnya viskositas fluida dapat didefinisikan sebagai
berikut"
(5olman, 198'" -1! (,.1!
+eterangan" v M viskositas kinematik fluida (m,<s!
N M viskositas dinamik fluida (kg<m.s!
O M densitas fluida (kg<m-!
Fluida yang kental sekali memiliki viskositas yang tinggi. Jiskositas
mempengaruhi kerja injektor pada mesin diesel, jika viskositas bahan bakar tinggi
maka pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tak mampu
menghasilkan pengkabutan (atomization! yang baik. Jiskositas juga menunjukkan
18
sifat pelumasan atau lubrikasi pada bahan bakar. Jiskositas yang relatif tinggi
mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik. Tetapi pada umumnya, bahan bakar
harus mempunyai viskositas yang relatif rendah agar dapat dengan mudah mengalir
dan teratomisasi. 5al ini dikarenakan putaran mesin yang %epat membutuhkan injeksi
bahan bakar yang %epat pula, namun tetap ada batas minimal karena diperlukan sifat
pelumasan yang %ukup baik untuk men%egah terjadinya keausan akibat gerakan
piston yang %epat. 5al inilah yang mendasari perlu dilakukannya proses
transesterifikasi untuk menurunkan nilai viskositas minyak nabati sehingga
mendekati viskositas solar. #engukuran viskositas dilakukan dengan suatu alat yang
disebut viskometer. Jiskositas yang didapatkan dari pengukuran pada viskometer
adalah viskositas kinematik.
2.1.) Titik Nyala -'lash Point/
Titik nyala adalah temperatur terendah dimana bahan bakar dalam
%ampurannya dengan udara dapat menyala. Titik nyala yang terlampau tinggi dapat
menyebabkan keterlambatan penyalaan, sementara apabila titik nyala terlampau
rendah akan menyebabkan timbulnya ledakan Dledakan yang terjadi sebelum bahan
bakar masuk ruang bakar (detonasi!. Titik nyala juga berkaitan dengan keamanan di
dalam penyimpanan dan pendistribusian bahan bakar.
2.1.0 Nilai Kalor -,eating Value/
2ilai kalor adalah suatu sifat yang menunjukkan jumlah energi panas yang
terkandung dalam suatu massa atau volume bahan bakar melalui proses pembakaran
sempurna. 2ilai kalor didapat dengan %ara selisih antara energi yang dilepaskan untuk
memutus ikatan kimia reaktan dan energi yang dilepas oleh pembentukan ikatan
kimia di dalam produk. 2ilai kalor dapat diukur dengan bomb calorimeter. Beberapa
istilah yang sering digunakan berkaitan dengan nilai kalor"
1. 2ilai kalor tertinggi (/igher /eating *alue<55J! adalah jumlah kalor yang
dihasilkan oleh reaksi pembakaran jika semua air di dalam produk terkondensasi
19
menjadi %air. Besarnya 55J dapat dihitung dengan persamaan yang
dikembangkan oleh >G@42? D #ETBT, yaitu"
55JM1'8H/,&,8(504<8!H&'&* Btu<@b bahan bakar (9ardana,,&&8"-,! (,.,!
55JM8&8&8H-/&(504<8!H,,'&* kkal<+g bahan bakar (9ardana,,&&8"-,! (,.-!
55JM--9'&8H1,&&(504<8!H9&&* k;<+g bahan bakar (9ardana,,&&8"-,! (,.!
+eterangan" 8 M kandungan karbon dalam bahan bakar
5 M kandungan hidrogen dalam bahan bakar
4 M kandungan oksigen dalam bahan bakar
* M kandungan belerang dalam bahan bakar
,. 2ilai kalor terendah (,o0er /eating *alue<@5J! adalah jumlah kalor pada
kondisi dimana air dalam produk berbentuk uap (gas!. Besarnya @5J dapat
dihitung dengan persamaan"
@5J M 55J D C@5 (9ardana,,&&8"-,! (,.'!
+eterangan" C M massa 5,4 yang terbentuk dalam proses pembakaran<satuan
massa bahan bakar
@5 M panas latent penguapan 5,4
M 1&8& Btu<@b 5,4
M /&& kkal<+g 5,4
M ,&& k;<+g 5,4
2.1.1 Titik Tuang -Pour Point/
Titik tuang adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan
bakar minyak dimana minyak tersebut masih dapat mengalir apabila didinginkan
pada kondisi tertentu karena gaya gravitasi. Titik tuang ini diperlukan sehubungan
dengan adanya persyaratan praktis dari prosedur penimbunan dan pemakaian dari
bahan bakar minyak, dikarenakan bahan bakar sering sulit dipompa apabila suhunya
telah diba.ah titik tuang. Titik tuang juga penting untuk keperluan pada saat
penyimpanan.
,&
2.1.3 In$ek# Setana -Cetane Index/
Bndeks setana adalah suatu parameter mutu penyalaan pada bahan bakar mesin
diesel selain angka setana. $utu penyalaan dapat diartikan sebagai .aktu yang
diperlukan bahan bakar untuk dapat menyala di ruang pembakaran dan diukur setelah
penyalaan terjadi. Bndeks setana adalah nilai yang dapat ditentukan dengan %ara
perhitungan berdasarkan temperatur destilasi pada reco"ery '&( volume dan densitas
minyak pada suhu 1'78. Besarnya indeks setana dapat dihitung dengan persamaan
perhitungan indeks setana berikut ini"
88B M ',1 D 1/1,1/ > H 11,1 >, D &,'' B H 91,8&- (log B!, (3*T$ >91/!
(,./!
+eterangan"
88B M &alculated &etane (nde) (perhitungan indeks setana!
> M >ensitas pada 1'78 (kg<m-!, berdasarkan metode uji > 1,98 or > &',
B M Temperatur destilasi pada reco"ery '&( volume (78!, berdasarkan
metode uji > 8/
2.3 ,i"ote#i#
>engan bertambahnya .aktu transesterifikasi minyak biji alpukat dan adanya
variasi persentase metanol akan mempengaruhi tumbukan molekul0molekul minyak
biji alpukat dan metanol yang menyebabkan pemutusan ikatan0ikatan molekul
minyak biji alpukat menjadi metil ester tidak selalu berlangsung sempurna, sehingga
dapat menyebabkan perubahan sifat fisik biodiesel yang meliputi massa jenis,
viskositas, nilai kalor, titik nyala, titik tuang dan indeks setana.
$inyak nabati merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan
baku pembuatan biodiesel karena sifat biodiesel yang rene.able (dapat diperbarui!,
sumber daya hayati dengan emisi yang ramah lingkungan dan biodegradable. *alah
satu sumber penghasil minyak nabati yang sangat potensial di Bndonesia yaitu biji
alpukat. 5al ini karena Bndonesia adalah salah satu 2egara penghasil alpukat dan
bijinya masih jarang dimanfaatkan. Tujuan dari peneltian ini adalah membuat
biodiesel dari minyak biji alpukat melalui proses transesterifikasi. #embuatan
biodiesel dari biji alpukat meliputi empat tahap proses. Tahap pertama adalah
pembuatan minyak dari biji alpukat menggunakan proses ekstraksi. Tahap kedua
adalah pembuatan biodiesel dari minyak biji alpukat menggunakan proses
transesterifikasi. Tahap ketiga adalah pemurnian hasil dan tahap keempat adalah
analisis dari biodiesel yang dihasilkan. Gntuk memperoleh biodiesel, terlebih dahulu
dilakukan proses ekstraksi pada biji alpukat menggunakan pelarut n0heksana,
selanjutnya melakukan proses distilasi untuk memisahkan minyak biji alpukat dengan
pelarut n0heksana. $inyak biji alpukat yang dihasilkan lalu ditransesterifikasi dengan
metanol dengan rasio volume metanol dengan minyak yaitu 1"/. *uhu 8 pada tekanan
atmosfer dan menggunakanreaksi yang digunakan /& katalis +45, kemudian
didiamkan selama beberapa hari dan akan terbentuk , lapisan. @apisan atas
merupakan metil ester atau biodiesel, lapisan ba.ah adalah gliserol. *etelah itu,
pengotor diadsorbsi dengan magnesium silikat. 5asil analisis menunjukan bah.a
karakteristik biodiesel dari minyak biji alpukat telah memenuhi standar sebagai bahan
bakar alternatif. 6endemen biodiesel yang dihasilkan adalah 8-,/(. 5asil analisis
menunjukkan bah.a biodiesel yang dihasilkan se%ara umum telah memenuhi standar
spesifikasi *2B &0118,0,&&/
(8andra Tri $eisandi!. #embuatan Biodiesel >ari Biji 3lpukat (#ersea 3meri%ana!
$elalui #roses Transesterifikasi. G2*0F.Teknik #rog. > BBB Teknik +imia0B8-1&&19
0,&1-. BB4>BE*E@. @aporan Tugas 3khir (> BBB!
Biodiesel merupakan turunan minyak1lemak tumbuhan
yang direaksikan menggunakan alkohol dengan bantuan katalis2
Biodiesel men3adi bahan baku pengganti bahan bakar minyak
(BBM) yang dari tahun ke tahun akan mengalami penurunan
kuantitas dan akan men3adi habis karena naiknya permintaan2
Banyak bahan yang dapat digunakan sebagai sumber bahan baku
biodiesel. salah satunya adalah bi3i alpukat2 Bahan baku ini
seringkali dibuang begitu sa3a setelah dimanfaatkan daging
buahnya2 Dengan dimanfaatkannya bi3i alpukat. buah alpukat
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi selain dapat digunakan
untuk bahan pangan1konsumsi. dapat 3uga dipakai untuk membuat
biodiesel2
Tu3uan penelitian ini adalah membuat biodiesel dari
minyak bi3i alpukat (Persea gratissima) sehingga dapat di3adikan
alternatif bahan bakar diesel. mempela3ari pengaruh rasio mol
minyak bi3i alpukat terhadap metanol dan suhu reaksi untuk
memperoleh kadar metil ester yang tertinggi dalam pembuatan
biodiesel dari minyak bi3i alpukat serta mempela3ari pengaruh
metode pencucian dan membandingkan antara metode
kon"ensional (dengan air) dengan dry 0ashing untuk memperoleh
kadar metil ester tertinggi2
Dalam penelitian ini "ariabel yang digunakan adalah
rasio mol minyak terhadap metanol 456. 45$. 457. 458 dan 459.
ii
suhu reaksi yang digunakan 6: ;&. $: ;&. dan 7: ;& dan metode
pencucian dengan air dan tanpa air (dry 0ashing)2 <ondisi
operasi yang dipakai adalah 0aktu reaksi selama 7: menit dan
rasio berat =a+/ yang digunakan terhadap minyak bi3i alpukat
sebesar 4>2
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bah0a
karakteristik biodiesel dari minyak bi3i alpukat memenuhi standar
sebagai bahan bakar alternatif. kondisi optimum dalam
pembuatan biodiesel dari minyak bi3i alpukat didapatkan pada
rasio mol minyak terhadap metanol 457 dan pada suhu reaksi
transesterifikasi sebesar 7: :&2 Metode pencucian dengan air
menghasilkan kadar metil ester sebesar 9#.84 >.sedangkan
metode dry 0ashing diperoleh kadar metil ester sebesar 96.$8 >2
ehingga metode pencucian terbaik adalah metode dry 0ashing
dengan perbedaan kadar sebesar 4.97 >2
#E$BG3T32 BB4>BE*E@ >36B $B2=3+ BB;B 3@#G+3T (#ersea gratissima!
$E2??G23+32 +3T3@B* 5ETE64?E2 +3@*BG$ 4+*B>3 (8a4!
Pro$u4tion o* Bio$ie#el 'rom A5o4a$o -Per#ea grati##ima/ See$ .il U#ing
6al4ium .7i$e -6a./ a# a ,eterogeneou# 6ataly#t
Tuga# Akhir8 99: 2912 TKI
Gndergraduate Theses from ;B#T##4@B32 < ,&1-0110&1 1"'1",
4leh " 3yu 9ulansari 0 &9111&-9 P Eka #utri Bndriani 0 &9111&,
>ibuat " ,&1-0&90,/, dengan file
Key;or$ < Transesterifikasi minyak biji alpukat, katalis heterogen,kalsium oksida
(8a4!
Sub&ek < Transesterifi%ation avo%ado seed oil , heterogeneous %atalyst, %al%ium oCide
(8a4!
Biodiesel merupakan bahan bakar alternative terbarukan yang dibuat dari minyak
nabati. >alam penelitian ini, minyak nabati yang digunakan untuk pembuatan
biodiesel adalah minyak biji alpukat (#ersea gratissima! yang diperoleh dari proses
ekstraksi menggunakan pelarut n05eksana pada suhu /'Q78 dengan ' siklus. Tujuan
dari penelitian ini yaitu uji %oba produksi biodiesel dari minyak biji alpukat (#ersea
gratissima! melalui reaksi transesterifikasi se%ara bat%h menggunakan katalis
heterogen kalsium oksida (8a4! untuk memperoleh kondisi operasi optimum. #roses
transesterifikasi dilakukan pada suhu /&Q78 dengan .aktu proses selama 1 jam
dengan perbandingan molar minyak dan metanol 1"/ serta variasi konsentrasi katalis
8a4 yaitu , dan /(<b0minyak. Berdasarkan hasil analisis fisika dan kimia kondisi
optimum proses transesterifikasi pada suhu /&Q78 dengan rasio molar minyak dan
metanol 1"/ selama 1 jam dengan konsentrasi katalis 8a4 /(<b0minyak. *ifat fisika
dan kimia biodiesel yang diperoleh pada kondisi optimum memiliki nilai p5 1, massa
jenis (&Q78! &,8/- g<%m-, viskositas kinematik (&Q78! ,,&' %*t, heating value
-,/1 ;<kg, (FF3 1,&-(, angka asam ,,& mg +45<g, kandungan metil ester
sebesar 8,&,(, dan angka yang tidak tersabunkan ,1,99( dengan yield &,,9'- g
biodiesel<g minyak. Berdasarkan perolehan di atas maka biodiesel yang dihasilkan
dari kondisi optimumnya mendekati *yarat $utu Biodiesel Bndonesia. +ata kun%i "
Transesterifikasi minyak biji alpukat, katalis heterogen,kalsium oksida (8a4!
T=ANS>ST>=I'IKASI IN SITU BIJI JA=AK PA?A=< P>N?A=U, J>NIS
P>=>AKSI8
K>6>PATAN P>N?A@UKAN @AN SU,U =>AKSI T>=,A@AP
=>N@>M>N @AN KUA%ITAS BI.@I>S>%
IN SITU TRANSESTERIFICATION OF ATROP!A SEEDS" EFFECT OF
REACTANT T#PE$
STIRRIN% SPEED AND REACTION TE&PERATURE ON #IE'D AND
(UA'IT# OF )IODIESE'
Ika Amalia Kartika1/A8 Mohama$ Bani1/8 @e$e ,erma;an2/
1!>epartemen Teknologi Bndustri #ertanian, Fakultas Teknologi #ertanian, Bnstitut
#ertanian Bogor
+ampus B#B >armaga #.4. BoC ,,&, Bogor 1/&&,
Email" ikatkRyahoo.%om
,!>epartemen Teknologi 5asil 5utan, Fakultas +ehutanan, Bnstitut #ertanian Bogor
A)STRACT
+egiatan penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses produksi biodiesel se%ara
langsung dari biji jarak pagar melalui proses transesterifikasi in situ. Jariabel kondisi
proses yang dipelajari adalah jenis pereaksi (metanol dan etanol!, ke%epatan
pengadukan (1&&, 8&& dan 9&& rpm! dan suhu reaksi (&, '& dan /&78!, dan diamati
pengaruhnya terhadap parameter rendemen biodiesel dan kualitasnya. +e%epatan
pengadukan dan suhu reaksi berpengaruh nyata terhadap rendemen biodiesel.
*emakin tinggi ke%epatan pengadukan dan suhu reaksi, rendemen biodiesel dan
efektifitas proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar semakin meningkat. ;enis
pereaksi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen biodiesel. 6endemen biodiesel
tertinggi untuk pereaksi metanol (8,,,(! dan etanol (8,,'(! masing0masing
diperoleh dari perlakuan ke%epatan pengadukan 8&& dan 9&& rpm, dan suhu reaksi
'&78. Biodiesel yang dihasilkan dari proses transesterifikasi in situ biji jarak pagar
mempunyai bilangan asam, viskositas, kadar air dan sedimen yang relatif rendah,
yaitu ) &,' mg +45<g biodiesel, ) -,/ %*t dan ) &,&'(, serta memenuhi *tandar
Biodiesel Bndonesia. Biodiesel yang dihasilkan dari proses transesterifikasi in situ biji
jarak pagar juga mempunyai bilangan penyabunan dan ester yang %ukup tinggi, yaitu
S 18& mg +45<g biodiesel. ;enis pereaksi dan suhu reaksi berpengaruh nyata
terhadap kualitas biodiesel yang dihasilkan, sedangkan ke%epatan pengadukan tidak
menunjukkan pengaruh yang nyata.
P>N@A,U%UAN
Biodiesel adalah bahan bakar yang
diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sa.it,
minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak
jarak, dan lain0lain atau minyak he.ani melalui
proses transesterifikasi dengan pereaksi metanol atau
etanol dan katalisator basa atau asam. Biodiesel dari
minyak nabati pada umumnya mempunyai
karakteristik yang mendekati bahan bakar yang
berasal dari minyak bumi, sehingga dapat dijadikan
sebagai energi alternatif bagi bahan bakar minyak
bumi yang ketersediaannya semakin menipis ($a
dan 5anna, 1999!. *aat ini, pengembangan biodiesel
dari minyak nabati melonjak pesat sejalan dengan
krisis energi yang melanda dunia tahun0tahun
terakhir ini dan penurunan kualitas lingkungan hidup
akibat polusi. *elain itu, biodiesel dari minyak
nabati bersifat dapat diperbaharui (rene0able!
sehingga ketersediaannya lebih terjamin dan
produksinya dapat terus ditingkatkan.
>i Bndonesia, pengembangan biodiesel dari
bahan0bahan nabati, khususnya biji jarak pagar,
telah mendapat perhatian banyak pihak.
#engembangan pesat biodiesel berbahan baku jarak
pagar ini tidak terlepas dari keunggulan0keunggulan
yang dimilikinya dibandingkan dengan biodiesel
dari bahan nabati lainnya seperti sifat fisikokimianya
yang lebih baik. *elain itu, tanaman jarak pagar
dapat dibudidayakan dengan mudah, tidak
memerlukan lahan yang subur dan biaya yang mahal
(4pensha., ,&&&K 3%hten et al., ,&&8K +umar dan
*harma, ,&&8!.
#roses produksi biodiesel dari biji jarak pagar
umumnya dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap
ekstraksi minyak dari biji jarak dan tahap
transesterifikasi minyak jarak menjadi biodiesel.
Ekstraksi minyak nabati umumnya dilakukan se%ara
mekanik menggunakan e)peller atau hydraulic press
yang kemudian diikuti oleh ekstraksi dengan heksan
(8ampbell, 198-!. 3dapun transesterifikasi minyak
nabati menjadi biodiesel umumnya dilakukan
melalui proses transformasi kimia dengan
menggunakan pereaksi metanol atau etanol dan
katalisator asam atau basa (Foidl et al., 199/!.
+edua tahapan tersebut dilakukan se%ara terpisah
dan diskontinyu, sehingga proses produksi biodiesel
menjadi kurang efisien dan mengkonsumsi banyak
energi. *elain itu, proses produksi minyak dari biji
membebani 1&( dari total biaya proses produksi
biodiesel (5arrington dan >I3r%y0Evans, 198'K
5aas et al., ,&&!.
>i lain pihak, penelitian0penelitian tentang
proses produksi biodiesel melalui transesterifikasi in
situ berbasis bahan0bahan nabati telah memberikan
hasil yang memuaskan dengan faktor konversi lebih
tinggi dibandingkan proses transesterifikasi
konvensional (5arrington dan >I3r%y0Evans 198'K
*iler0$arinkovi% dan Tomasevi%, 1998K 4Lgul0
=u%el dan Turkay, ,&&-K 5aas et al., ,&&K
?eorgogianni et al., ,&&8K Tian et al., ,&&8!. #roses
transesterifikasi in situ biji bunga matahari pada
perbandingan molar metanol<trigliserida yang
terkandung dalam bahan<5,*4 sebesar '/&"1"1,
menghasilkan rendemen ester lebih tinggi ,&(
dibandingkan dengan rendemen ester yang
dihasilkan dari transesterifikasi minyak bunga
matahari. +adar air dan ukuran partikel bahan
merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
efektifitas proses transesterifikasi in situ biji bunga
matahari, selain perbandingan molar bahan dengan
metanol dan katalis (5arrington dan >I3r%y0Evans,
198'!.
4Lgul0=u%el dan Turkay (,&&-! pada
penelitiannya tentang transesterifikasi in situ rice
bran dengan katalis asam (5,*4! menunjukkan
bah.a pereaksi metanol memberikan rendemen ester
yang lebih tinggi dibandingkan dengan etanol,
propanol dan butanol. #ada kasus transesterifikasi
in situ biji kedelai dengan katalis basa (2a45!, 5aas
et al. (,&&! menunjukkan bah.a rendemen ester
tertinggi dapat diperoleh pada suhu reaksi /&78
dengan perbandingan molar metanol<
trigliserida<2a45 sebesar ,,/"1"1./ dan .aktu
reaksi 8 jam. Transesterifikasi in situ biji bunga
matahari dengan katalis 2a45 ,( pada suhu /&78
dan ke%epatan pengadukan /&& rpm memberikan
rendemen metil ester sebesar 9'(. 6endemen
tersebut dapat di%apai pada .aktu reaksi ,& menit
dan perbandingan massa bahan<metanol sebesar 1"1&
(?eorgogianni et al., ,&&8!. #ada kasus
transesterifikasi in situ biji kapas, konversi minyak
menjadi metil ester dapat men%apai 98( pada
kondisi proses kadar air biji ) ,(, ukuran partikel
bahan &,-0&,--' mm, konsentrasi 2a45 &,1 mol<@,
perbandingan molar metanol<minyak 1-'"1, serta
suhu dan .aktu reaksi masing0masing &78 dan -
jam (Tian et al., ,&&8!.
#enelitian ini mempunyai tujuan umum untuk
mempelajari proses produksi biodiesel se%ara
langsung dari biji jarak pagar melalui proses
transesterifikasi in situ, sehingga proses produksi
biodiesel menjadi lebih sederhana, efisien dan hemat
energi, serta penerapannya di dunia industri pun
tidak memerlukan biaya yang mahal dan dapat
menghasilkan biodiesel berkualitas tinggi. 3dapun
tujuan khususnya adalah untuk mempelajari proses
transesterifikasi in situ biji jarak pagar pada berbagai
kondisi proses. Jariabel proses yang dipelajari
adalah jenis pereaksi (metanol dan etanol!,
ke%epatan pengadukan (1&&, 8&& dan 9&& rpm! dan
suhu reaksi (&, '& dan /&8! yang diamati
pengaruhnya terhadap parameter rendemen biodiesel
dan kualitasnya. ?2 Tek2 (nd2 Pert2 *ol2 #4 (4). #6@AA
;urnal Teknik <imia, Jol.8, 2o.1, *eptember ,&1-
/
BI.@I>S>% @A=I MINBAK BIJI P>PABA @>N?AN
T=ANS>ST>=I'IKASI INSITU
>l5ianto @;i @aryono
;urusan Teknik +imia, Fakultas Teknologi Bndustri, Bnstitut Teknologi 2asional $alang
;l. Bendungan *igura0gura 2o. , $alang, /'1', Telp<Faks " (&-1!''1-1<''-&1'
email " elviantoUitnRyahoo.%o.id
A*stra+
<egiatan penelitian ini bertu3uan untuk mempela3ari proses produksi biodiesel secara langsung dari
bi3i pepaya melalui proses transesterifikasi in situ2 *ariabel berubah kondisi proses yang dipela3ari
adalah "olume metanol (#::. A:: dan 6:: m,) dan 0aktu proses transesterifikasi in situ (A:. 7:. B:.
4#:
dan 4$: menit) dengan "ariabel tetap berat dan kadar air bahan baku. katalis. kecepatan pengadukan.
suhu. dan diamati pengaruhnya terhadap yield minyak terekstrak yang membentuk FAM-2 *olume
metanol dan 0aktu reaksi berpengaruh nyata terhadap yield FAM-2 Cield tertinggi didapatkan pada
"olume metanol 6:: m, dan 0aktu 4#: menit (88.79>)2
,ata +unci5 minyak bi3i pepaya. produksi biodiesel. transesterifikasi in situ
P>N@A,U%UAN
*umber minyak nabati dari biodiesel yang paling
disosialisasikan di Bndonesia saat ini adalah minyak
kelapa sa.it (8#4! dan minyak jarak pagar. 3kan tetapi
kedua bahan tersebut memiliki keterbatasan, seperti pada
minyak kelapa sa.it, kebutuhan 8#4 sebagai bahan
pangan (minyak goreng! masih relatif tinggi dan masih
memiliki nilai jual yang tinggi sehingga kurang ekonomis
untuk dikonversi sebagai biodiesel. #ada jarak pagar, kurangnya
lahan penanaman jarak pagar dan .aktu yang
relatif lama untuk pemanenan biji jarak pagar menyebabkan
pembuatan minyak jarak pagar kurang kontinyu.
*elain itu minyak jarak pagar bersifat ra%un. 4leh karena
itu diperlukan usaha untuk men%ari bahan baku alternatif
sehingga dihasilkan biodiesel dengan harga yang
terjangkau dan mudah diaplikasikan ke masyarakat.
Tanaman pepaya termasuk komoditas utama dari
kelompok buah0buahan yang mendapat prioritas penelitiElvianto
>.i >aryono" BB4>BE*E@ >36B $B2=3+ BB;B #E#3=3 >E2?32 T632*E*TE6BFB+3*B
B2*BTG
0
an dan pengembangan di lingkungan #uslitbang 5oltikultura.
Tanaman ini layak disebut multiguna, antara lain
digunakan sebagai bahan makanan dan minuman, obat
tradisional, pakan ternak, industri penyamakan kulit,
pelunak daging dan sebagai bahan kosmetik. >iantara
susunan buah pepaya yang diduga memiliki potensi yang
%ukup besar dan belum banyak dikembangkan adalah
bijinya karena terdapat kandungan minyak dan protein
yang %ukup tinggi. >alam berat kering biji pepaya
mengandung minyak hingga -&( (#uangsri dkk, ,&&'!.
;ika dibandingkan dengan kedelai 19,/-(, biji bunga
matahari ,,,,-( dan kelapa ',1( maka kandungan
minyak dalam biji pepaya relatif besar (?usmar.ani,
,&&9!, sehingga sangat prospek untuk dikembangkan
menjadi bahan bakar alternatif.Buah pepaya tidak
diproduksi musiman, sehingga .aktu panennya dapat
dilakukan setiap .aktunya. Buah pepaya di Bndonesia
sangat berlimpah. >ari data B#* tahun ,&1&, Bndonesia
memproduksi buah pepaya sebanyak /1'.8&1 ton. >engan
kandungan biji sekitar 1'( (8harvet et al, ,&11! dapat
dikatakan bah.a Bndonesia juga menghasilkan
1&1.-1&,1' ton biji pepaya, dengan kandungan minyak
sekitar -&( (#uangsri dkk, ,&&'! berarti Bndonesia juga
dapat memproduksi -&.11,&' ton minyak biji pepaya.
8ukup banyak untuk diolah menjadi biodiesel.*elain itu,
limbah biji pepaya akan terbuang jika tidak dimanfaatkan.
Tidak seperti dedak yang dapat digunakan sebagai pakan
ternak dan biji labu yang dapat dimanfaatkan untuk
pembuatan makanan ringan.$inyak pada biji pepaya
tidak dapat digunakan sebagai minyak goreng karena
adanya senya.a benzyl isothiocyanate (*ammarphet,
,&&8!. 3sam lemak pada minyak biji pepaya meliputi
asam oleat (1,018(!, asam palmitat (1,01(!, asam
stearat (0'(! dan asam linoleat (,,'0-,'(! (#uangsri
dkk, ,&&'!. Biodiesel dari minyak biji pepaya memenuhi
standard Philippine =ational tandard (#2* ,&,&",&&-!,
American ociety for Testing and Materials (3*T$
>/1'10&8! dan -uropean tandards (E21,1! (8harvet
et al, ,&11!.
#roses produksi biodiesel umumnya dilakukan melalui
dua tahap yaitu tahap ekstraksi minyak dari bahan baku
dan tahap transesterifikasi minyak menjadi biodiesel.
Ekstraksi minyak nabati umumnya dilakukan se%ara
mekanik menggunakan e)peller atau hydraulic press yang
kemudian diikuti oleh ekstraksi dengan n0heksana.
3dapun transesterifikasi minyak nabati menjadi biodiesel
umumnya dilakukan melalui proses transformasi kimia
dengan menggunakan pereaksi metanol atau etanol dan
katalisator asam atau basa. +edua tahapan tersebut
dilakukan se%ara terpisah dan diskontinyu, sehingga
proses produksi biodiesel menjadi kurang efisien dan
mengkonsumsi banyak energi. *elain itu, proses produksi
minyak dari biji membebani 1&( dari total biaya proses
produksi biodiesel (+artika dkk, ,&&9!.
#roses transesterifikasi insitu adalah metode dimana
proses ekstraksi ditiadakan. #ada reaksi transesterifikasi
in situ proses ekstraksi minyak dan reaksi transesterifikasi
minyak menjadi biodiesel terjadi se%ara simultan dalam
satu kali proses. #roses transesterifikasi insitu biji bunga
matahari pada perbandingan molar metanol<trigliserida
yang terkandung dalam bahan<5,*4 sebesar '/&"1"1,
menghasilkan yield ester lebih tinggi ,&( dibandingkan
dengan yield ester yang dihasilkan dari transesterifikasi
minyak bunga matahari. +adar air dan ukuran partikel
bahan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
efektifitas proses transesterifikasi insitu biji bunga
matahari, selain perbandingan molar bahan dengan
metanol dan katalis (5arrington dan >I3r%y0Evans,
198'!. ?eorgogianni dkk (,&&8! juga telah melakukan
per%obaan transesterifikasi insitu pada biji bunga matahari
menggunakan katalis 2a45 ,(, pada suhu /& V8, dan
ke%epatan pengadukan /&& rpm. =ield biodiesel yang
diperoleh sebesar 9'( pada .aktu reaksi ,& menit
dengan perbandingan massa antara bahan dengan pereaksi
(metanol! sebesar 1"1&. Tian dkk (,&&8! melakukan
transesterifikasi insitu biji kapas dan mendapatkan
konversi minyak menjadi biodiesel sebesar 98( dengan
konsentrasi 2a45 &,1 mol<@, perbandingan molar
pereaksi (metanol<minyak! 1-'"1, kadar air biji ) ,(,
ukuran partikel &,-0&,--' mm, suhu dan .aktu reaksi
masing0masing & V8 dan - jam. +artika dkk (,&&9!
melakukan transesterifikasi in situ biji jarak pagar pada
suhu reaksi /& o8, .aktu reaksi ,& menit dan ke%epatan
pengadukan 8&& rpm. 6endemen biodiesel tertinggi
(11(! didapatkan pada kadar air &,'( dan ukuran
partikel bahan -' mesh. Biodiesel yang dihasilkan
mempunyai bilangan asam &,,1 mg +45<g dan viskositas
) -,' %*t, serta memenuhi *tandar Biodiesel Bndonesia.
#ada transesterifikasi insitu biji kedelai dengan katalis
basa (2a45!, 5aas dkk (,&&!menghasilkan yield ester
tertinggi pada suhu reaksi /& 78 dengan perbandingan
molar methanol<trigliserida<2a45 sebesar ,,/"1"1,/ dan
.aktu reaksi 8 jam. >idapatkan konversi 8( metil ester
dari minyak yang terekstrak.