Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebijakan adalah suatu keputusan yang diikuti oleh langkah-langkah tindakan
pelaksanaan yang bersasaran mencapai tujuan yang dimaksudkan. Setiap orang yang
terlibat dalam proses pembuatan maupun analisis kebijakan pertanian harus memiliki
pemahaman atau pemikiran yang jelas dalam mengevaluasi sebuah keputusan. Apa
dasarnya sebuah alternatif kebijakan dinyatakan lebih baik dari alternatif kebijakan
lainnya? Bagaimana sebuah kebijakan dikatakan memadai? Apakah efisiensi
ekonomi merupakan satu-satunya yang harus dipertimbangkan?
Untuk menghasilkan sebuah kebijakan yang rasional, kita harus memiliki cara
yang jelas dan logis dalam berbagai pilihan alternatif kebijakan. Idealnya, setiap
orang yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan memiliki pendekatan yang
sama, sehingga kalaupun ada perbedaan, seyogyanya perbedaan tersebut terbatas
pada perbedaan pandangan semata, bukan pada pendekatan dalam memecahkan
masalah.
Pemahaman yang baik tentang kerangka analisis kebijakan pertanian amat
dibutuhkan oleh para pembuat kebijakan dan kelompok-kelompok masyarakat yang
terlibat, untuk memahami konsekuensi dari berbagai kebijakan. Kejelasan dari
berbagai definisi yang digunakan amat penting dalam melakukan analisis kebijakan.
Kebijakan pemerintah merupakan bentuk intervensi atau tindakan yang
dilakukan pemerintah terhadap pasar. Kebijakan pemerintah pun keberadaannya
mengganggu mekanisme pasar karena suatu kebijakan diberlakukan ketika pasar
dianggap tidak mampu mencapai tujuannya. Oleh karena itu, dibutuhkan regulasi
2

perilaku ekonomi yang akan mengontrol pasar. Semua pelaku pasar harus terikat
dengan kebijakan pemerintah.
Dalam implementasinya, tentu pemerintah mengalami sejumlah kendala
termasuk didalamnya tantangan penegakkan hukum yang seadil-adilnya bagi
rakyatnya. Karena tujuan kebijakan pemerintah semata-mata untuk kesejahteraan
rakyatnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah analisis yang mendalam dalam
merumuskan sebuah kebijakan. Dalam makalah ini, akan dibahas bagaimana
kerangka proses berfikir sebuah kebijakan pemerintah khususnya di bidang pertanian
tercipta. Dengan menggunakan teori Tinbergen Policy analisis frame work policy
yang memiliki tujuan utama mencapai kesejahteraan sosial (social welfare), akan
didapatkan suatu analisis yang akan mengantarkan pada terciptanya sebuah
kebijakan.
Sebuah kerangka analisis kebijakan (framework) adalah pendekatan atau
metode yang tersususn baik dan konsisten dalam rangka menghasilkan pemikiran-
pemikiran yang jelas. Sebuah framework dirancang sedemikian rupa agar mampu
menelaah berbagai hubungan yang terjadi dalam sebuah sistem. Sesuai teori
Tinbergen, dalam mencapai tujuannya, maka harus dianalisis apa saja yang menjadi
variabel endogenousnya, dalam analisis ini adalah objectives atau tujuan. Sehingga
dari sana akan membutuhkan analisis lainnya sebagai variabel eksogenous. Variabel
eksogenous terdiri dari policy instruments (instrumen kebijakan) yang kan
berhadapan dengan constraints (kendala) dalam implementasinya. Bukan hanya
kendala yang dihadapi, namun faktor-faktor di luar kendali manusia (beyond control)
pun menjadi hal yang diperhatikan dalam proses berfikir ini karena kendala dan
faktor-faktor diluar kendali manusia akan mempengaruhi tujuan.
Ketiga variabel eksogenous di atas bukan hanya akan mempengaruhi tujuan,
namun lebih jauh akan menciptakan side effect (efek samping). Tetapi jika dianalisis
3

dengan mendalam dan pengkajian fakta yang akurat, akan menghasilkan tujuan
jangka panjang yaitu social welfare (kesejahteraan sosial).
Masalah pertanian berhubungan dengan masalah produksi dan konsumsi dari
berbagai komoditas, sebagai hasil dari sebuah usahatani. Sebuah kebijakan adalah
sebuah intervensi pemerintah, dimaksudkan untuk merubah perilaku konsumen dan
produsen. Analisis merupakan evaluasi dari berbagai keputusan pemerintah yang
merubah perekonomian. Oleh karena itu, sebuah framework analisis kebijakan
pertanian dapat diartikan sebagai sebuah sistem untuk menganalisis kebijakan publik
yang mempengaruhi produsen, pedagang dan konsumen dari berbagai produk
pertanian.

1.2 Identifikasi Masalah
Masalah yang akan dijawab pada makalah ini adalah:
1. Empat Komponen Kerangka Kebijakan (Policy Framework)
2. Tujuan Dasar dari Analisis Kebijakan
3. Kendala-kendala yang Membatasi Kebijakan Pertanian
4. Kategori Kebijakan yang Mempengaruhi Pertanian
5. Instrumen Kebijakan Harga Pertanian
6. Kebijakan Makroekonomi yang Mempengaruhi Pertanian.
7. Kebijakan Investasi Publik yang Mempengaruhi Pertanian
8. Kerangka Kebijakan Perberasan Indonesia Masa Lalu
9. Analisis Kebijakan Perberasan Saat Ini
10. Dampak Kebijakan Perberasan Saat ini Terhadap Tujuan Kebijakan

1.3 Tujuan
Berdasarkan ulasan diatas, maka yang menjadi tujuan dari penyusunan
makalah ini adalah mendeskripsikan kerangka kerja analisis kebijakan pertanian dan
mengidentifikasikan kebijakan-kebijakan yang telah ada terkait dengan pertanian.
4

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Empat Komponen Kerangka Kebijakan (Policy Framework)
Empat komponen utama dari framework kebijakan pertanian yang dibahas
dalam makalah ini adalah tujuan (objectives), kendala (constraints), kebijakan
(policies), dan strategi (strategies). Yang dimaksudkan dengan objectives adalah
tujuan yang diharapkan akan dicapai oleh sebuah kebijakan ekonomi yang dibuat oleh
para pembuat kebijakan. Constraints adalah suatu keadaan (ekonomi) yang membuat
apa yang bisa dicapai menjadi terbatas. Bila sebidang lahan digunakan untuk
menanam padi, berarti hilangnya kemungkinan untuk menanam komoditas lainnya
pada saat yang sama. Kebijakan terdiri atas berbagai instrumen yang bisa digunakan
pemerintah untuk merubah outcome perekonomian. Sebuah kebijakan yang efektif
akan merubah perilaku produsen, pedagang, dan konsumen dan menciptakan outcome
baru dari sebuah perekonomian. Strategy adalah seperangkat instrumen kebijakan
yang digunakan oleh pemerintah untuk mencapai objective yang telah ditetapkan.
Setiap strategi dilaksanakan melalui penerapan berbagai kebijakan yang terkordinasi
dengan baik.
Kerangka kebijakan, seperti disajikan pada gambar dibawah digambarkan
seperti sebuah alur lingkar (mengikuti arah jarum jam) dari sejumlah hubungan
kausal dari keempat komponen tersebut diatas. Strategi para pengambil kebijakan
terdiri atas seperangkat kebijakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan outcome
ekonomi (yang telah ditetapkan oleh para pengambil kebijakan). Berbagai kebijakan
tersebut pada pelaksanaannya akan menghadapi berbagai kendala ekonomi baik yang
diakibatkan oleh aspek supply, demand, serta harga dunia yang bisa meningkatkan
atau menghambat tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Penilaian dampak
kebijakan terhadap pencapaian tujuan memungkinkan untuk melakukan penyesuaian
5

strategi yang telah ditetapkan bila memang diperlukan. Singkatnya, pemerintah
membuat strategi pembangunan pertanian dengan menentukan seperangkat kebijakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dengan mempertimbangkan berbagai
kendala ekonomi pada sektor pertanian. Uraian lebih rinci tentang hubungan antar
keempat komponen kerangka kerja tersebut disajikan pada bahasan selanjutnya.


2.2 Tujuan Dasar dari Analisis Kebijakan
Secara umum tujuan kebijakan pemerintah dapat dibagi kedalam tiga tujuan
utama yaitu efisiensi (efficiency), pemerataan (equity), dan ketahanan (security).
Efisiensi tercapai apabila alokasi sumberdaya ekonomi yang langka adanya mampu
menghasilkan pendapatan maksimum, serta alokasi barang dan jasa yang
menghasilkan tingkat kepuasan konsumen yang paling tinggi. Pemerataan diartikan
sebagai distribusi pendapatan diantara kelompok masyarakat atau wilayah yang
menjadi target pembuat kebijakan. Biasanya, pemerataan yang lebih baik akan
6

dicapai melalui distribusi pendapatan yang lebih baik atau lebih merata. Namun,
karena kebijakan adalah aktivitas pemerintah, maka para penentu kebijakanlah
(secara tidak langsung juga voters dalam sebuah sistem demokrasi) yang menentukan
definisi pemerataan itu. Ketahanan (pangan) akan meningkat apabila stabilitas politik
maupun ekonomi memungkinkan produsen maupun konsumen meminimumkan
adjustment costs. Ketahanan pangan diartikan sebagai ketersediaan pangan pada
tingkat harga yang stabil dan terjangkau. Di dalam kerangka ini, setiap tujuan yang
ingin dicapai oleh intervesi pemerintah akan terkait dengan paling tidak salah satu
dari ketika tujuan dasar yang telah disebutkan di atas yaitu efisiensi, pemerataan, dan
ketahanan.
Trade-offs akan terjadi ketika salah satu tujuan bisa dicapai hanya dengan
mengorbankan tujuan lainnya. Yakni, mencapai tujuan yang satu, mengorbankan
tujuan lainnya. Apabila terjadi trade-offs, maka pembuat kebijakan harus memberikan
bobot atas setiap tujuan yang saling bertentangan itu, dengan menentukan berapa
manfaat yang bisa diraih dari suatu tujuan dibandingkan dengan kerugian yang harus
diderita oleh tujuan lainnya. Pembuat kebijakan, yang seringkali bukan seorang
ekonom, berkewajiban untuk melakukan penilaian (value judgement) untuk
menentukan bobot bagi setiap tujuan. Para pajabat pemerintah (pembuat kebijakan)
inilah yang akhirnya akan bertanggungjawab atas akuntabilitas kebijakan yang
dibuatnya. Segalanya akan menjadi mudah, baik bagi analis kebijakan maupun
pembuat kebijakan, bila tidak terjadi trade-offs. Namun, keadaan ini umumnya jarang
terjadi. Hasil yang diharapkan adalah tercapainya keadaan yang lebih baik sesuai
dengan keterbatasan sumberdaya. Namun, biasanya trade-offs selalu saja terjadi.
Singkatnya, para analis bertugas melakukan evaluasi atas kebijakan, sementara
pembuat kebijakan mengambil keputusan dengan menentukan bobot atas setiap
tujuan kebijakan. Seluruh bobot yang diberikan kepada setiap tujuan bila dijumlahkan
harus sama dengan satu (misalnya, pengambil kebijakan memberikan bobot 0,6 untuk
efisiensi, 0,3 untuk pemerataan, dan 0,1 untuk ketahanan).

7


2.3 Kendala-kendala yang Membatasi Kebijakan Pertanian
Ada tiga kendala utama yang membatasi gerak sebuah kebijakan yaitu
penawaran, permintaan, dan harga dunia. Penawaran, produksi nasional, dibatasi oleh
ketersediaan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, dan modal), teknologi, harga input, dan
kemampuan manajemen. Parameter-paremeter ini merupakan komponen dari fungsi
produksi sehingga membatasi kemampuan perekonomian dalam menghasilkan
komoditas pertanian. Permintaan, konsumsi nasional, dibatasi atau dipengaruhi oleh
jumlah penduduk, pendapatan, selera, dan harga output. Parameter-parameter ini
merupakan komponen dari fungsi permintaan sehingga membatasi kemampuan
perekonomian dalam mengkonsumsi produk-produk pertanian.
Harga dunia, untuk komoditas yang diperdagangkan secara internasional baik
input maupun output, menentukan dan membatasi peluang untuk mengimpor dalam
rangka meningkatkan supply domestik, dan mengekspor dalam rangka memperluas
pasar bagi produk domestik. Ketiga parameter ekonomi ini menentukan pasar bagi
sebuah komoditas pertanian dan merupakan kekuatan utama dalam mempengaruhi
terbentuknya harga serta alokasi sumberdaya. Kendala-kendala ekonomi bisa
mengarah kepada terjadinya trade-offs dalam pembuatan kebijakan.
2.4 Kategori Kebijakan yang Mempengaruhi Pertanian
Kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi sektor pertanian dapat digolongkan
kepada tiga kategori yaitu kebijakan harga, kebijakan makroekonomi dan kebijakan
investasi publik. Kebijakan harga komoditas pertanian merupakan kebijakan yag
bersifat sepesifik komoditas. Setiap kebijakan diterapkan untuk satu komoditas
(misalnya, beras). Kebijakan harga juga bisa mempengaruhi input pertanian.
Kebijakan makroekonomi mencakup seluruh wilayah dalam satu negara, sehingga
kebijakan makroekonomi akan mempengaruhi seluruh komoditas. Kebijakan
investasi publik mengalokasikan pengeluaran investasi (modal) yang bersumber dari
anggaran belanja negara. Kebijakan ini bisa mempengaruhi berbagai kelompok,
8

produsen, pedagang, dan konsumen, dengan dampak yang berbeda karena dampak
tersebut bersifat spesifik pada wilayah dimana investasi itu terjadi.
2.5 Instrumen Kebijakan Harga Pertanian
Setiap instrumen kebijakan harga pertanian akan menimbulkan transfer baik
dari produsen kepada konsumen dari komoditas bersangkutan, maupun anggaran
pemerintah, atau sebaliknya. Beberapa kebijakan harga hanya mempengaruhi dua dari
ketiga kelompok tersebut, sementara instrumen yang lain mempengaruhi seluruh dari
ketiga kelompok tersebut. Secara umum, paling tidak satu kelompok menderita
kerugian atau menjadi korban, dan paling tidak satu kelompok lainnya menerima
manfaat dari kebijakan. Ada tiga jenis instrumen kebijakan yang umum diterapkan
pada sektor perberasan yaitu, pajak dan subsidi, hambatan perdagangan internasional,
dan pengendalian langsung (direct controls).
Pajak dan subsidi atas komoditas pertanian menyebabkan terjadinya transfer
antara anggaran negara (publik) dengan produsen dan konsumen. Dalam hal pajak,
transfer sumberdaya mengalir kepada pemerintah sementara dalam hal subsidi
transfer sumberdaya berasal dari pemerintah. Sebagai contoh, subsidi produksi
merupakan transfer dari anggaran pemerintah kepada produsen.
Hambatan perdagangan internasional adalah pajak atau kuota yang sifatnya
membatasi impor atau ekspor. Dengan melakukan hambatan perdagangan, instrumen
kebijakan harga ini merubah tingkat harga dalam negeri. Hambatan impor menaikkan
harga dalam negeri diatas rata-rata harga dunia, sementara hambatan ekspor
menurunkan harga dalam negeri menjadi lebih rendah dibandingkan dengan harga
dunia.
Pengendalian langsung adalah peraturan pemerintah atas harga, marjin
pemasaran, atau pilihan tanaman. Biasanya, pengendalian langsung harus disertai
dengan hambatan perdagangan atau pajak/subsidi agar kebijakan tersebut bisa efektif.
Bila tidak, pasar gelap akan menyebabkan kebijakan pengandalian langsung
9

menjadi tidak efektif. Bisa juga terjadi, sebuah pemerintahan mempunyai kemampuan
yang cukup untuk melaksanakan pengandalian langsung secara efektif meskipun
tanpa dilengkapi dengan hambatan perdagangan. Sebagai contoh, kebijakan
pengendalian langsung dalam bentuk penentuan jenis komoditas yang harus ditanam
bisa efektif apabila pemerintah menyediakan fasilitas atau kemudahan dalam hal
penyediaan air irigasi atau input yang harus dibeli petani.
2.6 Kebijakan Makroekonomi yang Mempengaruhi Pertanian.
Produsen dan konsumen komoditas pertanian amat dipengaruhi oleh
kebijakan makroekonomi meskipun seringkali mereka tidak terlibat dalam proses
pembuatan kebijakan yang bersifat nasional ini. Ada tiga kategori kebijakan
makroekonomi yang mempengaruhi sektor pertanian yaitu kebijakan fiskal dan
moneter, kebijakan nilai tukar, dan kebijakan harga faktor domestik, sumberdaya
alam, dan tataguna lahan.
Kebijakan fiskal dan moneter merupakan inti dari kebijakan makroekonomi,
karena secara bersama-sama mereka mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi dan
tingkat inflasi dalam perekonomian nasional, yang diukur melalui peningkatan indeks
harga konsumen dan indeks harga produsen. Kebijakan moneter diartikan sebagai
pengendalian pemerintah dalam pasokan (supply) uang dan kemudian permintaan
aggregat. Bila supply uang meningkat lebih tinggi dari pertumbuhan agregat barang
dan jasa, maka akan timbul tekanan inflasi. Kebijakan fiskal berhubungan dengan
keseimbangan antara kebijakan pajak pemerintah yang meningkatkan pendapatan
pemerintah dan kebijakan belanja publik yang menggunakan pendapatan tersebut.
Apabila belanja pemerintah lebih besar dari pendapatannya, maka pemerintah
mengalami fiskal defisit. Keadaan ini akan menimbulkan inflasi bila defisit tersebut
ditutup dengan menambah supply uang.
Kebijakan nilai tukar secara langsung berpengaruh terhadap harga output dan
biaya produksi pertanian. Nilai tukar adalah nilai konversi mata uang domestik
terhadap mata uang asing. Sebagian besar komoditas pertanian diperdagangkan
10

secara internasional dan sebagian besar negara mengimpor atau mengekspor sebagian
dari kebutuhan atau hasil produk komoditas pertanian mereka. Untuk produk-produk
yang diperdagangkan secara internasional, harga dunia akan sama dengan harga
dalam negeri apabila tidak ada hambatan perdagangan. Dengan sendirinya, nilai tukar
secara langsung mempengaruhi harga produk pertanian karena harga domestik
(dinilai dalam mata uang dalam negeri) produk yang diperdagangkan sama dengan
harga dunia (dinilai dalam mata uang asing) dikalikan dengan nilai tukarnya (rasio
antara mata uang dalam negeri dengan mata uang asing).
Kebijakan harga faktor domestik secara langsung mempengaruhi biaya
produksi pertanian. Faktor domestik utama terdiri atas lahan, tenaga kerja dan modal.
Biaya lahan dan tenaga kerja biasanya merupakan porsi terbesar dari biaya produksi
pertanian di negara berkembang. Pemerintah seringkali menerapkan kebijakan
makroekonomi yang mempengaruhi nilai sewa lahan, upah tenaga kerja, atau tingkat
bunga yang berlaku diseluruh wilayah negara tersebut. Kebijakan faktor dometik
lainnya seperti upah minimum atau tingkat bunga maksimum, lebih mempengaruhi
salah satu sektor dibanding sektor lainnya. Beberapa negara melaksanakan kebijakan
khusus dalam upaya mengendalikan penggunaan lahan atau pengendalian ekploitasi
sumberdaya alam, seperti air dan bahan mineral. Kebijakan makro tersebut bisa juga
mempengaruhi biaya produksi pertanian.
2.7 Kebijakan Investasi Publik yang Mempengaruhi Pertanian
Kategori ketiga dari kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi sektor pertanian
adalah investasi publik dalam bentuk barang-barang modal pada infrastruktur,
sumberdaya manusia, dan penelitian dan pengembangan teknologi. Investasi publik
dalam bentuk infrastruktur bisa meningkatkan pendapatan produsen pertanian atau
menurunkan biaya produksi. Yang dimaksud dengan infrastruktur adalah barang
modal penting, seperti jalan, pelabuhan, dan jaringan irigasi yang amat sulit dibangun
oleh sektor swasta. Barang modal tersebut dikenal sebagai barang-barang publik,
yang biayanya bersumber dari anggaran pemerintah. Investasi dalam bentuk
11

infrastruktur sifatnya spesifik wilayah serta manfaatnya sebagian besar akan
dinikmati oleh produsen dan konsumen diwilayah tersebut. Kebijakan investasi
publik amat rumit karena infrastruktur tersebut harus dipelihara dan diperbaharui dari
waktu ke waktu.
Investasi publik dalam sumberdaya manusia termasuk didalamnya berbagai
jenis pengeluaran pemerintah untuk meningkatkan tingkat keakhlian atau
keterampilan serta kondisi kesehatan produsen dan konsumen. Investasi dalam bentuk
sekolah-sekolah formal, pusat-pusat pelatihan dan penyuluhan, fasilitas kesehatan
masyarakat, pendidikan gizi masyarakat, klinik dan rumah sakit merupakan contoh-
contoh investasi publik yang dapat meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia
sektor pertanian. Investasi-investasi seperti ini amat menentukan dalam pembangunan
jangka panjang, tetapi hasilnya memang baru akan terlihat dalam waktu yang lama.
Investasi publik dalam bentuk penelitian dan pengembangan teknologi
merupakan contoh lain dari barang-barang publik yang secara langsung memberikan
manfaat bagi produsen dan konsumen pertanian. Negara-negara yang mengalami
pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi biasanya melakukan investasi yang besar di
bidang riset budidaya pertanian untuk mengdopsi teknologi yang dihasilkan oleh
lembaga-lembaga riset internasional, seperti penggunaan benih unggul baik untuk
tanaman pangan maupun tanaman tahunan. Benih-benih unggul ini seringkali
memerlukan penggunaan teknologi baru, pengaturan air yang lebih baik, dan
penggunaan input yang lebih banyak. Untuk beberapa komoditas, terobosan teknologi
yang dibiayai oleh dana publik, biasanya lebih pada teknologi pengolahan dibanding
teknologi usahatani atau budi daya.
2.8 Kerangka Kebijakan Perberasan Indonesia Masa Lalu
Studi yang dilakukan the Food Research Institute, Stanford University pada
akhir 1980-an memperjelas gambaran aplikasi kerangka kebijakan yang telah
diuraikan di muka. Kerangka tersebut meliputi sasaran strategy perberasan
(strategy), instrumen kebijakan perberasan (kebijakan), peubah-peubah ekonomi
12

utama (kendala), dan tujuan utama kebijakan pangan (tujuan). Gambar 1.2.
disarikan dari studi tersebut.
Sasaran kebijakan perberasan Indonesia, seperti tertera pada gambar diatas,
terdiri atas tiga alternatif. Pertama, menjadi pengekspor beras dengan berupaya untuk
mencapai tingkat pertumbuhan produksi beras sebesar 4% per tahun. Kedua, tetap
melakukan impor dengan mengupayakan tingkat pertumbuhan produksi sebesar 1%
per tahun. Ketiga, pertumbuhan produksi 2,5% per tahun dengan sasaran
mempertahankan swasembada on trend (mengimpor beras ketika produksi jelek dan
mengekspor ketika produksi bagus). Studi tersebut mengkaji kemungkian dampak
dari ketiga strategi tersebut.
Buku RPI menelaah faktor-faktor penyebab keberhasilan Indonesia dalam
melakukan Revolusi Hijau (the Green Revolution) pada periode 1970-an dan 1980-
an. Selama periode tersebut secara gradual Indonesia berubah, dari yang semula
sebagai negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negara yang mampu
berswasembada (on trend) beras selama kurang lebih satu dekade, mulai tahun 1984.
Diantara lima instrumen kebijakan perberasan yang tertera pada Gambar diatas,
empat diantaranya amat berperanan dalam pencapaian keberhasilan tersebut.
Instrumen kebijakan harga merubah tingkat harga beras dalam negeri.
Kebijakan stabilisasi harga mengurangi tingkat fluktuasi harga beras dalam negeri.
Investasi publik, terutama dalam infrastruktur dan riset, mempengaruhi harga, biaya,
dan produktivitas sistem produksi beras. Kebijakan makroekonomi, terutama yang
mempengaruhi inflasi dan nilai tukar, mempengaruhi biaya dan nilai produksi padi.
Namun, beberapa regulasi pedesaan saat itu menjadi faktor penghambat.
Kebijakan harga beras saat itu merupakan kebijakan yang bersifat netral.
Pemerintah saat itu berkeinginan untuk memiliki sistem perberasan yang efisien.
Searah dengan itu, pemerintah senantiasa menjaga agar harga beras dalam negeri
tidak terlalu jauh dari trend harga beras dunia, sehingga dapat dikatakan bahwa
kebijakan itu tidak mem-proteksi petani, tetapi juga tidak men-disproteksi-nya.
13

Namun, untuk merangsang petani agar mampu mengadopsi penggunaan teknologi
baru, termasuk di dalamnya pengunaan varitas ungggul, pemerintah memberikan
subsidi harga pupuk kimia yang amat besar untuk menurunkan biaya produksi.\
Kebijakan stabilisasi harga beras memiliki dampak yang amat positif. Badan
Urusan Logistik Nasional (Bulog), menstabilkan harga dalam negeri sehingga
fluktuasi harga beras di dalam negeri lebih kecil dibandingkan dengan fluktuasi harga
yang terjadi di pasar internasional. Pada saat itu, Bulog memiliki hak monopoli dalam
perdagangan beras internasional Indonesia, serta ekspor dan impor beberapa
komoditas lainnya, dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri. Badan tersebut
memelihara stok penyangga (buffer stock) beras melalui pembelian padi dari petani
pada tingkat harga dasar dan melepaskannya ke pasaran, ketika harga beras di pasar
dalam negeri mengalami kenaikan sampai pada tingkat harga tertentu. Kebijakan
stabilisasi harga ini memang amat mahal, namun secara umum dapat dikatakan
berhasil.
Investasi publik di bidang infrastruktur pedesaan, fasilitas kesehatan dan
pendidikan, penelitian dan pengembangan serta penyuluhan pertanian merupakan
komponen kunci dari keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan produksi dan
produktivitas padi sampai tiga kali lipat, dan dengan sendirinya berpengaruh terhadap
pencapaian swasembada beras meskipun swasembada tersebut hanya berjalan selama
kurang lebih sepuluh tahun. Pemerintah melakukan investasi yang amat besar dalam
bentuk jalan di pedesaan, pelabuhan, jaringan irigasi, dan pada periode tertentu
investasi untuk infrastruktur pedesaan dan penelitian pertanian mencapai 30 persen
dari seluruh investasi.
Kebijakan makroekonomi pada periode 1970-an dan 1980-an secara tepat
dirancang untuk bersifat relatif netral. Tingkat inflasi dijaga di bawah 10 persen per
tahun, dan nilai tukar di devaluasi secara berkala untuk menghilangkan pengaruh
perbedaan antara tingkat inflasi di Indonesia dengan tingkat inflasi di negara patner
dagang utama. Dengan kebijakan itu, petani produsen padi secara implisit tidak
14

diproteksi maupun disubsidi, dan dalam kondisi makroekonomi yang stabil mereka
dapat melakukan perencanaan investasi dan input produksi.
Diantara lima instrumen kebijakan yang diterapkan pada saat itu, regulasi
pemilihan tanaman merupakan satu-satunya kebijakan yang memiliki dampak negatif
terhadap produksi padi di era 1970an dan 1980an. Di sebagian Jawa Timur dan Jawa
Tengah, para petani dipaksa menanam tebu meskipun sebenarnya mereka lebih
suka menanam padi. Kebijakan ini menyebabkan produksi menjadi turun, pendapatan
yang lebih rendah, dan kesempatan kerja yang lebih rendah dibandingkan dengan
ketika petani diberikan kebebasan untuk memilih pola tanam yang mereka sukai.
Semua instrumen kebijakan diatas mempengaruhi tingkat produksi beras
melalui pengaruhnya atas tiga peubah ekonomi, yaitu jumlah beras yang diproduksi
di dalam negeri, tingkat pendapatan pedesaan yang secara langsung dihasilkan oleh
peningkatan produksi beras ataupun secara tidak langsung melalui invesati ataupun
konsumsi dari produk-produk yang ada hubungannya dengan beras, serta tingkat
kesempatan kerja pedesaan yang baik secara langsung maupun tidak langsung
diciptakan oleh proses produksi padi. Masing-masing dari ketiga peubah ekonomi ini
pada gilirannya mempengaruhi ketiga tujuan utama kebijakan pangan. Peningkatan
produksi padi dalam negeri berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan stabilitas
harga, dengan mengurangi dampak fluktuasi harga yang terjadi di pasar dunia.
Penciptaan pendapatan dengan cara yang efisien melalui pengembangan usahatani
padi mengarah kepada peningkatan pendapatan yang cepat, baik lokal maupun
nasional. Penciptaan lapangan kerja di pedesaan, secara langsung dari proses
produksi padi, maupun secara tidak langsung dari aktivitas yang berhubungan dengan
produksi padi, meningkatkan distribusi pendapatan antara daerah pedesaan dan
perkotaan.
Buku RPI menyimpulkan bahwa strategi kebijakan swasembada on trend
merupakan kebijakan yang lebih sesuai di awal 1990an. Strategi kebijakan dengan
sasaran menjadi negara pengekspor beras akan tidak efisien dan membutuhkan
15

subsidi terus menerus, sementara strategi dengan sasaran menjadi pengimpor seperti
diawal 1990-an akan membuat cita-cita menjadi produsen yang efisien tidak tercapai.
2.9 Analisis Kebijakan Perberasan Saat Ini
Kebijakan perberasan Indonesia saat ini berupaya menciptakan harga beras
dalam negeri 30 persen lebih tinggi dibanding harga yang membebaskan impor.
Strategi ini dimaksudkan untuk membantu produsen pada saat harga dunia sedang
rendah, yaitu seperempat dari trend harga jangka panjang. Namun, strategi ini sama
dengan menghalangi konsumen beras dalam negeri dari manfaat yang mungkin
diterima dari rendahnya harga dunia, dan dengan sendirinya bisa berdampak buruk
terhadap tingkat gizi serta pengentasan kemiskinan.
Instrumen kebijakan yang digunakan untuk menjalankan strategi ini adalah
tarif impor (spesifik) sebesar Rp. 430/kilogram. Bila tarif bea masuk ini dapat
diterapkan secara efektif harga beras dalam negeri akan 30 persen lebih tinggi dari
tingkat harga tanpa kebijakan tersebut dan ternyata harga beras dalam negeri yang
terjadi saat ini sekitar 25-30 persen lebih tinggi. Namun, ini tidak berarti bahwa
kebijakan tarif bea masuk ini dapat diterapkan secara efektif, dan penyelundupan
tidak terjadi. Tingginya ketidak-pastian, baik ekonomi maupun politik, menyebabkan
para importir beras membebankan biaya tambahan sebesar 10-20 persen untuk
menanggulangi resiko perubahan nilai tukar dan tambahan biaya perbankan.
Kebijakan memproteksi beras diterapkan dalam rangka meningkatkan
pendapatan petani, searah dengan tujuan pemerataan. Namun, kebijakan ini
menimbulkan trade-off karena merugikan penduduk miskin di pedesaan maupun
konsumen beras di perkotaan. Tarif bea masuk tidak meningkatkan efisiensi ekonomi
karena kebijakan tersebut akan menyebabkan sumberdaya digunakan secara tidak
efisien. Pada saat harga dunia sedang stabil pada tingkat harga yang rendah seperti
saat ini, tarif impor hampir tidak memberikan kontribusi apapun pada ketahanan
pangan. Meningkatkan harga beras juga mempunyai konsekuensi yang serius pada
tingkat gizi penduduk miskin, serta akan menambah jumlah penduduk miskin.
16

Secara teoritis, pemerintah bisa membantu petani padi dengan instrumen
kebijakan yang lain subsidi produksi langsung, dimana petani akan menerima
subsidi yang nilainya sesuai dengan jumlah produksi yang dipasarkan. Kebijakan ini
tidak akan menyebabkan naiknya harga beras dalam negeri dan dengan sendirinya
akan menghilangkan trade-off antara produsen dan konsumen. Namun, kebijakan ini
akan sulit diterapkan dan akan memberikan beban yang amat besar kepada anggaran
pemerintah, apalagi pada saat pemerintah sedang mengalami kesulitan keuangan
seperti saat ini. Beberapa analis berpendapat bahwa anggaran pemerintah yang
terbatas ini sebaiknya digunakan untuk membiayai upaya-upaya membantu petani
beralih secara gradual kepada komoditas bernilai tinggi (high value commodities).
2.10 Dampak Kebijakan Perberasan Saat ini Terhadap Tujuan Kebijakan
Berbeda dengan kebijakan perberasan selama periode Revolusi Hijau di tahun
1970-an dan 1980-an, kebijakan perberasaan saat ini tidak terlalu berhasil. Kebijakan
perberasan telah menjadi pembicaraan hangat sejak pertengan 1990an, dan terutama
sejak krisis ekonomi terjadi di pertengahan tahun 1997.
Kebijakan untuk menaikkan harga beras telah menundang perdebatan. Tarif
bea masuk sebesar Rp. 430/kg beras serta risk premium pedagang telah meningkatkan
harga beras dalam negeri 25-30% diatas harga paritas impornya. Banyak pejabat
pemerintah yang merasa bahwa manfaat yang diterima produsen lebih besar dari
beban atau kerugian yang harus ditanggung oleh konsumen dan masyarakat miskin.
Namun kebenaran pendapatan tersebut masih sering dipertanyakan.
Kebijakan stabilitas harga tidak memperlihatkan hasil yang diharapkan. Sejak
1997, Bulog, lembaga yang bertanggungjawab atas stabilitas harga, tidak mampu lagi
menstabilkan harga beras dalam negeri. Pada tahun 1998, lembaga ini telah gagal
menjaga kenaikan harga beras, dan harga beras dalam negeri meningkat dua kali lipat
hanya dalam waktu empat bulan. Pada Desember 1998, pemerintah menetapkan
harga dasar gabah yang tinggi dan tidak realistis, dan Bulog tidak pernah bisa
mempertahankannya. Sebaliknya, lembaga tersebut hanya membeli beras dalam
17

jumlah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan gagal
mempertahankan harga dasar (floor price) maupun harga tertinggi (ceiling price).
Dengan pertimbangan bahwa kebijakan stabilisasi harga tidak dapat dijalankan secara
efektif, maka pada tahun 1999 pemerintah telah mencabut hak monopoli impor beras
yang dipegang oleh Bulog.
Kebijakan investasi publik untuk sektor perberasan masih tetap dijalankan
seperti sebelumnya, namun dalam jumlah dan tingkat efektivitas yang jauh lebih
rendah. Banyak jaringan irigasi dan sarana transportasi yang harus direhabilitasi dan
dipelihara namun membutuhkan biaya yang amat besar. Kesulitan dana karena krisis
ekonomi membuat pemerintah menemui kesulitan untuk mengembangkan
infrastruktur pedesaan.
Kebijakan makroekonomi menjadi semakin tidak menentu karena krisis
makroekonomi. Kecuali untuk 1998 (ketika tingkat inflasi mencapai 80 persen
setahun), kebijakan fiskal dan moneter pemerintah telah mampu menjaga tingkat
inflasi pada tingkat yang cukup baik (8-12% per tahun). Ketidakpastian
perekonomian Indonesia bersumber dari nilai tukar yang amat berfluktuasi,
terdepresiasi dari sekitar Rp. 2.500/US$ pada pertengahan 1997 menjadi lebih dari
Rp. 16.000/US$ pada awal 1998, sebelum kemudian stabil pada kisaran Rp. 8.000
Rp. 12,000/US$.
Regulasi pola tanam di pedesaan telah dihapuskan. Petani padi di Jawa Timur
dan Jawa Tengah tidak lagi diharuskan menanam tebu untuk kemudian digiling oleh
pabrik-pabrik milik pemerintah. Namun, beberapa petani di Jawa mengeluh bahwa
beberapa pejabat pemerintah daerah masih mencoba untuk tetap meregulasi pilihan
petani dalam menentukan pola tanamnya.
Kebijakan Perberasan Dalam Kerangka Analisis Kebijakan Pertanian
Pada prinsipnya, pemerintah membuat strategi pembangunan pertanian dengan
memilih seperangkat kebijakan untuk mencapai berbagai tujuan yang ditetapkan,
dengan memperhitungkan kendala-kendala ekonomi yang ada. Kerangka konseptual
18

ini telah diuraikan dengan membandingkan dua periode kebijakan perberasan
Indonesia, yaitu periode Revolusi Hijau 1970an dan 1980an dengan periode krisis
ekonomi 1997 sampai sekarang. Kebijakan pada periode pertama telah dianalisis pada
buku RPI, sementara kebijakan pada periode terakhir ini telah dikaji dalam
berbabagai artikel yang ditulis oleh tim the Food Policy Support Activity (FPSA).
Semua analisis tersebut disajikan pada bagian Food Policy Agenda pada situs
(www.macrofoodpolicy.com).
Strategi pembangunan perberasan pada masa Revolusi Hijau adalah
memperkenalkan teknologi baru dalam bentuk varitas unggul, perbaikan pengelolaan
sistem pengairan, penggunaan pupuk kimia, sistem pemasaran yang lebih baik, serta
pembangunan irigasi.
Subsidi pupuk, harga beras yang stabil, air irigasi tanpa bayar, jalan yang
lebih baik, dan kondisi makroekonomi yang stabil melengkapi pengenalan teknologi
baru, dan merangsang penyebaran teknologi tersebut secara cepat. Kebijakan-
kebijakan tersebut telah memecahkan kendala-kendala ekonomi yang ada, dan
memungkinkan terjadinya peningkatan produksi dan pendapatan dari sektor
perberasan menjadi tiga kali lipat.
Kondisi diatas telah memungkinkan tercapainya ketiga tujuan kebijakan yaitu
effisiensi, equity dan security. Peningkatan produksi beras ini terjadi berkat perbaikan
teknologi, bukan policy transfer. Harga beras dijaga untuk tetap berada disekitar
harga dunia, dan efisiensi telah meningkat. Manfaat dari teknologi telah
memungkinkan terjadinya peningkatan keuntungan petani, sementara konsumen
diuntungkan dengan menurunnya harga beras dunia dan dalam negeri secara gradual.
Oleh karena itu trade-off dalam aspek pemerataan menjadi kecil. Ketahanan pangan
meningkat sejalan dengan menurunnya impor, bahkan tidak ada lagi, melalui
peningkatan produksi secara efisien dalam situasi harga beras dalam negeri yang
relatif stabil. Dengan kata lain, strategi untuk meningkatkan penyebaran teknologi
varitas unggul telah berhasil pada hampir segala segi.
19

Selama periode setelah krisis ekonomi baru-baru ini, strategi perberasan tidak
lagi tersusun dengan baik. Strategi perberasan ditujukan untuk membantu
meningkatkan pendapatan petani dalam situasi harga dunia yang luar biasa
rendahnya. Berbeda dengan masa sebelumnya, strategi kali ini tidak ada teknologi
baru yang disebarkan. Saat ini hampir seluruh petani padi Indonesia telah
menggunakan varitas unggul. Beban berat yang dialami anggaran negara, yang
berkibat pada ketatnya belanja negara, telah menghambat kemampuan pemerintah
untuk meningkatkan kemampuan pembangunan sarana irigasi dan transportasi.
Terganjal oleh keterbatasan fiskal, kebijakan yang kontradiktif, serta beban yang
timbul dari korupsi dan salah-urus, Bulog tidak mampu menstabilkan harga beras.
Turunnya nilai tukar rupiah yang besar dan dalam waktu yang singkat telah
meningkatkan ketidakpastian produksi dan pemasaran beras.
Kebijakan perberasan saat ini mengahadapi trade-off yang amat sulit.
Instrumen kebijakan utama yang dilakukan saat ini adalah bea masuk impor, yang
telah meningkatkan harga beras dalam negeri sebesar 25-30 persen, serta subsidi
konsumsi beras terbatas bagi kelompok miskin di pedesaan dan perkotaan melalui
program raskin (beras untuk orang miskin). Kelompok miskin di pedesaan dan
perkotaan hanya menerima kompensasi sebagian saja dari peningkatan harga beras
yang diakibatkan oleh kebijakan perberasan tersebut.
Opini publik yang berpihak kepada petani beras berargumen untuk
mempertahankan, atau bahkan meningkatkan, tarif bea masuk terutama untuk
menghilangkan pengaruh dari menurunnya harga beras dunia yang amat luar biasa
tersebut. Pendapat publik yang bersebrangan, berpihak kepada konsumen miskin,
berargumentasi bahwa pemerintah harus mengambil manfaat dari menurunnya harga
beras dunia tersebut demi perbaikan gizi masyarakat miskin dan pengentasan
kemiskinan. Ke arah mana para pengambil kebijakan akan berpihak dalam tujuan
yang amat bersebrangan ini telah menjadi perdebatan hangat dalam rangka Indonesia
memilih strategi yang konsisten dan berhasil.
20

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Empat komponen utama dari framework kebijakan pertanian yang dibahas
dalam makalah ini adalah tujuan (objectives), kendala (constraints), kebijakan
(policies), dan strategi (strategies). Yang dimaksudkan dengan objectives adalah
tujuan yang diharapkan akan dicapai oleh sebuah kebijakan ekonomi yang dibuat oleh
para pembuat kebijakan. Constraints adalah suatu keadaan (ekonomi) yang membuat
apa yang bisa dicapai menjadi terbatas. Bila sebidang lahan digunakan untuk
menanam padi, berarti hilangnya kemungkinan untuk menanam komoditas lainnya
pada saat yang sama. Kebijakan terdiri atas berbagai instrumen yang bisa digunakan
pemerintah untuk merubah outcome perekonomian. Sebuah kebijakan yang efektif
akan merubah perilaku produsen, pedagang, dan konsumen dan menciptakan outcome
baru dari sebuah perekonomian. Strategy adalah seperangkat instrumen kebijakan
yang digunakan oleh pemerintah untuk mencapai objective yang telah ditetapkan.
Setiap strategi dilaksanakan melalui penerapan berbagai kebijakan yang terkordinasi
dengan baik.
Secara umum tujuan kebijakan pemerintah dapat dibagi kedalam tiga tujuan
utama yaitu efisiensi (efficiency), pemerataan (equity), dan ketahanan (security).
Efisiensi tercapai apabila alokasi sumberdaya ekonomi yang langka adanya mampu
menghasilkan pendapatan maksimum, serta alokasi barang dan jasa yang
menghasilkan tingkat kepuasan konsumen yang paling tinggi.
Produsen dan konsumen komoditas pertanian amat dipengaruhi oleh
kebijakan makroekonomi meskipun seringkali mereka tidak terlibat dalam proses
pembuatan kebijakan yang bersifat nasional ini. Ada tiga kategori kebijakan
21

makroekonomi yang mempengaruhi sektor pertanian yaitu kebijakan fiskal dan
moneter, kebijakan nilai tukar, dan kebijakan harga faktor domestik, sumberdaya
alam, dan tataguna lahan.
Kategori ketiga dari kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi sektor pertanian
adalah investasi publik dalam bentuk barang-barang modal pada infrastruktur,
sumberdaya manusia, dan penelitian dan pengembangan teknologi. Investasi publik
dalam bentuk infrastruktur bisa meningkatkan pendapatan produsen pertanian atau
menurunkan biaya produksi. Yang dimaksud dengan infrastruktur adalah barang
modal penting, seperti jalan, pelabuhan, dan jaringan irigasi yang amat sulit dibangun
oleh sektor swasta. Barang modal tersebut dikenal sebagai barang-barang publik
Kebijakan harga beras saat itu merupakan kebijakan yang bersifat netral.
Pemerintah saat itu berkeinginan untuk memiliki sistem perberasan yang efisien.
Searah dengan itu, pemerintah senantiasa menjaga agar harga beras dalam negeri
tidak terlalu jauh dari trend harga beras dunia, sehingga dapat dikatakan bahwa
kebijakan itu tidak mem-proteksi petani, tetapi juga tidak men-disproteksi-nya.
Namun, untuk merangsang petani agar mampu mengadopsi penggunaan teknologi
baru, termasuk di dalamnya pengunaan varitas ungggul, pemerintah memberikan
subsidi harga pupuk kimia yang amat besar untuk menurunkan biaya produksi.
Kebijakan perberasan Indonesia saat ini berupaya menciptakan harga beras
dalam negeri 30 persen lebih tinggi dibanding harga yang membebaskan impor.
Strategi ini dimaksudkan untuk membantu produsen pada saat harga dunia sedang
rendah, yaitu seperempat dari trend harga jangka panjang. Namun, strategi ini sama
dengan menghalangi konsumen beras dalam negeri dari manfaat yang mungkin
diterima dari rendahnya harga dunia, dan dengan sendirinya bisa berdampak buruk
terhadap tingkat gizi serta pengentasan kemiskinan.
Instrumen kebijakan yang digunakan untuk menjalankan strategi ini adalah
tarif impor (spesifik) sebesar Rp. 430/kilogram. Bila tarif bea masuk ini dapat
diterapkan secara efektif harga beras dalam negeri akan 30 persen lebih tinggi dari
22

tingkat harga tanpa kebijakan tersebut dan ternyata harga beras dalam negeri yang
terjadi saat ini sekitar 25-30 persen lebih tinggi. Namun, ini tidak berarti bahwa
kebijakan tarif bea masuk ini dapat diterapkan secara efektif, dan penyelundupan
tidak terjadi. Tingginya ketidak-pastian, baik ekonomi maupun politik, menyebabkan
para importir beras membebankan biaya tambahan sebesar 10-20 persen untuk
menanggulangi resiko perubahan nilai tukar dan tambahan biaya perbankan.
Secara teoritis, pemerintah bisa membantu petani padi dengan instrumen
kebijakan yang lain subsidi produksi langsung, dimana petani akan menerima
subsidi yang nilainya sesuai dengan jumlah produksi yang dipasarkan. Kebijakan ini
tidak akan menyebabkan naiknya harga beras dalam negeri dan dengan sendirinya
akan menghilangkan trade-off antara produsen dan konsumen. Namun, kebijakan ini
akan sulit diterapkan dan akan memberikan beban yang amat besar kepada anggaran
pemerintah, apalagi pada saat pemerintah sedang mengalami kesulitan keuangan
seperti saat ini. Beberapa analis berpendapat bahwa anggaran pemerintah yang
terbatas ini sebaiknya digunakan untuk membiayai upaya-upaya membantu petani.
Kebijakan Perberasan Dalam Kerangka Analisis Kebijakan Pertanian
Pada prinsipnya, pemerintah membuat strategi pembangunan pertanian dengan
memilih seperangkat kebijakan untuk mencapai berbagai tujuan yang ditetapkan,
dengan memperhitungkan kendala-kendala ekonomi yang ada. Kerangka konseptual
ini telah diuraikan dengan membandingkan dua periode kebijakan perberasan
Indonesia.
Subsidi pupuk, harga beras yang stabil, air irigasi tanpa bayar, jalan yang
lebih baik, dan kondisi makroekonomi yang stabil melengkapi pengenalan teknologi
baru, dan merangsang penyebaran teknologi tersebut secara cepat. Kebijakan-
kebijakan tersebut telah memecahkan kendala-kendala ekonomi yang ada, dan
memungkinkan terjadinya peningkatan produksi dan pendapatan dari sektor
perberasan menjadi tiga kali lipat.
23

Kondisi diatas telah memungkinkan tercapainya ketiga tujuan kebijakan yaitu
effisiensi, equity dan security. Peningkatan produksi beras ini terjadi berkat perbaikan
teknologi, bukan policy transfer. Harga beras dijaga untuk tetap berada disekitar
harga dunia, dan efisiensi telah meningkat. Manfaat dari teknologi telah
memungkinkan terjadinya peningkatan keuntungan petani, sementara konsumen
diuntungkan dengan menurunnya harga beras dunia dan dalam negeri secara gradual.
Oleh karena itu trade-off dalam aspek pemerataan menjadi kecil. Ketahanan pangan
meningkat sejalan dengan menurunnya impor, bahkan tidak ada lagi, melalui
peningkatan produksi secara efisien dalam situasi harga beras dalam negeri yang
relatif stabil. Dengan kata lain, strategi untuk meningkatkan penyebaran teknologi
varitas unggul telah berhasil pada hampir segala segi.
3.2 Saran
Untuk menghasilkan sebuah kebijakan yang rasional, kita harus memiliki cara
yang jelas dan logis dalam berbagai pilihan alternatif kebijakan. Idealnya, setiap
orang yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan memiliki pendekatan yang
sama, sehingga kalaupun ada perbedaan, seyogyanya perbedaan tersebut terbatas
pada perbedaan pandangan semata, bukan pada pendekatan dalam memecahkan
masalah.







24

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2014. Pertanian Berlanjut. Melalui
http://www.tanah.ub.ac.id/Kuliah/Pertanian%20Berlanjut/Bab%2014.%20Pert
anian%20Berlanjut/Bab%2014%20Kebijakan%20Pemerintah.pdf. Diakses
tanggal 9 Maret 2014 pukul 20.00 wib
Widotono, Hendri. 2009. Kerangka Analisis Kebijakan Pertanian. Melalui
http://hendri-wd.blogspot.com/2009/02/kerangka-analisis-kebijakan-
pertanian.html. Diakses tanggal 9 Maret 2014 pukul 19.00 wib
Kantri. Kebijakan Agraria, Konservasi Lahan Dalam Peningkatan Pendapatan Petani
(Pendekatan Tinbergen Policy Analysis Framework). Melalui
http://mahasiswaabadikampuskehidupan.blogspot.com/2011/07/tugas-
semester-2.html. Diakses tanggal 11 Maret 2014 pukul 17.00 wib

Anda mungkin juga menyukai