Anda di halaman 1dari 15

1.1.

Definisi
Campak, juga dikenal sebagai rubeola, adalah penyakit akut yang sangat
menular, disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak. Campak
memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing
mempunyai ciri khusus yaitu stadium prodormal, erupsi dan konvalesens.

Gambar 1.1 Pasien Campak
Penyakit ini umumnya menyerang anak dan sangat mudah menular.
Seseorang yang menderita campak dapat menularkan pada 90% orang yang belum
mendapat imunisasi apabila kontak dengannya. Cara penularan melalui droplet
dan kontak, yakni karena menghirup percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut
maupun tenggorokan penderita morbili/campak Meskipun dianggap terutama
penyakit masa kanak-kanak , campak dapat mempengaruhi orang dari segala usia.
2.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus campak dari famili Paramyxovirus
genus Morbilivirus. Virus ini merupakan virus RNA serat negatif yang
berenvelop.
4
RNA virus ini mempunyai 2 fungsi yaitu: (1) Sebagai
template/cetakan untuk mensintesis mRNA (2) Sebagai template/ cetakan untuk
mensintesis serat anti genom (+).
5
Virus campak berada di sekret nasofaring dan
di dalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat
sesudah timbulnya ruam.
Virus campak berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan bergaris tengah
140 nm, dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di
dalamnya terdapat nukleokapsid yang berbentuk bulat lonjong, terdiri dari bagian
protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA) yang merupakan struktur heliks
nucleoprotein dari myxovirus. Pada selubung luar seringkali terdapat tonjolan
pendek. Salah satu protein yang berada di selubung luar berfungsi sebagai
hemaglutinin.
Virus campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi.
Apabila berada di luar tubuh manusia, keberadaannya tidak kekal. Pada
temperatur kamar ia akan kehilangan 60% sifat infektivitasnya setelah 3-5 hari,
pada suhu 37C waktu paruh usianya 2 jam, sedangkan pada suhu 56C hanya satu
jam. Sebaliknya virus ini mampu bertahan dalam keadaan dingin. Pada suhu -
70C dengan media protein ia dapat hidup selama 5,5 tahun, sedangkan dalam
lemari pendingin dengan suhu 4-6C, dapat hidup selama 5 bulan. Tetapi bila
tanpa media protein, virus ini hanya mampu bertahan selama 2 minggu, dan dapat
dengan mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet.
3
2.3 Epidemiologi
Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih
tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian pula frekuensi terjadinya kejadian
luar biasa tampak meningkat dari 23 kali per tahun menjadi 174. Namun case
fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%. Di indonesia,
menurut survei Kesehatan Rumah Tangga Morbili menduduki tempat ke-5 dalam
urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke-5 dalam urutan
10 macam penyakit utama pada anak umur 1-4 tahun (0,77%).
Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah
terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus
pertahun. Kejadian luar biasa campak lebih sering terjadi di daerah pedesaan
terutama di daerah yang sulit di jangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya
dalam program imunisasi. Di daerah transmigrasi sering terjadi wabah dengan
angka kematian yang tinggi. Di daerah perkotaan khusus, kasus campak tidak
terlihat, kecuali dari laporan rumah sakit. Hal ini tidak berarti bahwa daerah urban
terlepas dari campak. Daerah urban yang padat dan kumuh merupakan daerah
rawan terhadap penyakit yang sangat menular seperti campak. Daerah semacam
ini dapat merupakan sumber kejadian luar biasa penyakit campak.
2.4 Penularan
Virulensi campak sangat tinggi terutama pada anak yang rentan dengan
kontak keluarga yang menderita campak. Campak dapat ditularkan melalui
droplet di udara oleh penderita sejak 1 hari sebelum timbulnya gejala klinis
sampai 4 hari sesudah munculnya ruam. Masa inkubasinya antara 10-12 hari. Ibu
yang pernah menderita campak akan menurunkan kekebalannya kepada janin
yang dikandungnya melalui plasenta, dan kekebalan ini bisa bertahan sampai
bayinya berusia 4-6 bulan. Pada usia 9 bulan bayi diharapkan membentuk
antibodinya sendiri secara aktif setelah menerima vaksinasi campak. Dalam waktu
12 hari setelah infeksi campak sampai puncak titer sekitar 21 hari, IgM akan
terbentuk dan akan cepat menghilang untuk kemudian digantikan oleh IgG.
2


2.5 Patofisiologi
Penyakit campak adalah penyakit pada manusia terutama menyerang aak-
anak melalui saluran nafas. Penyakit ini mempunyai masa inkubasi 10-14 hari.
4

Virus menyebar melalui udara dan masuk ke saluran nafas dan mungkin hanya
butuh jumlah virus yang sedikit untuk dapat menginfeksi orang yang rentan
terhadap penyakit.
Virus bereplikasi pada saluran nafas kemudian virus menginfeksi sel
sistem imun yang ada di sekitar saluran nafas yang mempunyai SLAM+ seperti
sel monosit, sel dendritik dan limfosit. Setelah itu virus menyebar ke jaringan
limfe. Karena jumlah virus bertambah banyak maka timbullah viremia primer,
kemudian virus dapat menyebar ke berbagai jaringan dan organ limfoid termasuk
kulit, saluran cerna, hati dan ginjal. Virus melakukan replikasi pada sel
endothelial, epitelial dan monosit/makrofag, infeksi virus campak pada makrofag
dapat meningkatkan ekspresi LFA-1 yang merupakan molekul penempel yang
dapat mendorong masuknya sel ke dalam jaringan sehingga turut berpartisipasi
dalam menyebarkan virus.
Kemudian terjadi pembentukan sel raksasa retikuloendothelial (Warthin-
Finkeldey) yang ukurannya mencapai lebih dari 100 nm dan di dekat pusat selnya
mengandung lebih dari 100 agregat nukleus. Sel raksasa retikuloendothelial
(Warthin-Finkeldey) inilah yang nantinya menjadi sumber utama penyebaran
virus ke jaringan lain. Sel ini banyak ditemukan pada saat munculnya ruam pada
kulit dan dengan mudah ditemukan pada sekresi hidung dan konjungtiva pada saat
masa prodromal dan hari pertama timbulnya ruam. Sel epitel yang diinfeksi virus
campak pada periode ini juga ditemukan pada saluran genitalia dan urine.











Gambar 1. Patogenesis
Sel endothelial pada pembuluh darah kecil yang diinfeksi oleh virus
campak akan memperlihatkan bukti adanya infeksi campak pada saat gejala
prodromal dan muculnya ruam pada kulit. Hal ini disertai dengan pelebaran
pembuluh darah, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, infiltrasi sel
mononuklear dan terjadinya infeksi di jaringan sekitar. Sel endotel yang diinfeksi
ini tampaknya memegang peranan utama dalam patogenesis dalam perubahan
pada kulit, konjungtiva dan membran mukosa.






Tabel 1. Patogenesis infeksi campak tanpa penyulit
Hari Manifestasi
0 Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel nasofaring
atau kemungkinan konjungtiva
Infeksi pada sel epitel dan multiplikasi virus
1-2 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional
2-3 Viremia primer
3-5 Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi
pertama, dan pada RES regional maupun daerah yang jauh
5-7 Viremia sekunder
7-11 Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk saluran
nafas
11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain
15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang
Sumber :Feigin et al.2004.Textbook of Pediatric Infectious Diseases 5
th
edition
2.6 Manifestasi Klinis
Sekitar 10 hari setelah infeksi akan muncul demam yang biasanya tinggi,
diikuti dengan koriza/pilek, batuk dan peradangan pada mata
5
. Gejala penyakit
campak dikategorikan dalam tiga stadium:
1,4

1. Stadium masa inkubasi, berlangsung 10-14 hari.
2. Stadium masa prodromal.
Biasanya berlangsung 2-5 hari. Gejala utama yang muncul adalah demam
yang terus meningkat hingga mencapai puncaknya suhu 39,4 40,6
o
C
pada hari ke 4 atau 5 yaitu pada saat ruam muncul. Selain itu biasanya
terdapat lemas, anoreksia, batuk yang makin berat, koriza/pilek,
peradangan mata dan muncul bercak putih pada mukosa pipi yang
merupakan tanda diagnostik dini penyakit campak yang disebut Kopliks
spots. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum
dikelilingi eritema. Kopliks spot pertama muncul pada mukosa pipi yang
berhadapan dengan molar, selanjutnya menyebar dengan arah sentrifugal
dan menutupi seluruh permukaan mukosa pipi dan labialis.







Gambar 2. Kopliks Spot

3. Erupsi (Rash)
Terjadinya eritema berbentuk makulopapular disertai meningkatnya suhu
badan. Ruam ini muncul pertama kali pada daerah batas rambut dan dahi,
serta belakang telinga kemudian menyebar dengan cepat pada seluruh
muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada pada sekitar 24 jam pertama.
Selama 24 jam berikutnya ruam menyebar ke seluruh punggung, abdomen,
seluruh lengan, dan paha. Ruam tersebut dapat bertahan selama 5-6 hari.
Suhu meningkat dengan mendadak ketika ruam muncul dan sering
mencapai 40C.









Gambar 3. Stadium Erupsi

Dapat timbul batuk dan diare yang berat, sehingga anak bisa
mengalami sesak nafas atau dehidrasi. Tidak jarang pula disertai muntah,
anoreksia dan perdarahan ringan pada kulit. Dua hari kemudian biasanya
suhu akan menurun dan gejala penyakit mereda. Ruam kulit akan
mengalami hiperpigmentasi (berubah warna menjadi lebih gelap) dan
mungkin mengelupas. Keterlibatan jaringan limfe secara menyeluruh
dapat mengakibatkan terjadinya limfadenopati, splenomegali ringan dan
apendisitis.
6
















Gambar 4. Manifestasi Klinis




1.2.Diagnosis
Penyakit campak dapat didiagnosis berdasarkan gejala klinis yang klasik
menurut CDC (Centre for Disease Control and Prevention) dengan kriteria
sebagai berikut:
2

1. Terdapat ruam papulomakuler menyeluruh yang terjadi dalam waktu 3 hari
atau lebih.
2. Demam 38,3
o
C (101
o
F).
3. Terdapat salah satu dari gejala berikut, batuk, koriza/pilek atau
konjungtivitis

Tetapi gejala klinis pada penyakit campak sering mengalami modifikasi
misalnya penyakit campak dapat timbul tanpa disertai demam dan tanpa timbul
ruam-ruam pada kulit. Hal seperti ini sering terjadi pada anak atau bayi yang
sangat muda, penderita dengan immunocompromised, anak dengan malnutrisi
atau bisa pada anak yang sebelumnya telah mendapat imunisasi campak.
4
Karena
banyak penderita menunjukkan gejala yang tidak jelas, maka untuk memastikan
diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.
2


1. Pemeriksaan darah rutin
Biasanya ditemukan lekositosis dan peningkatan LED namun jarang
ditemukan.

2. Deteksi virus
a. Virus campak dapat ditemukan pada sel mononuklear darah tepi, sekresi
saluran nafas, usapan konjungtiva dan dalam urine. Tetapi virus campak
sangat sulit ditemukan, sehingga pemeriksaan untuk menemukan virus
jarang digunakan untuk menegakkan diagnosis penyakit campak.
b. Sel epitel yang berasal dari nasofaring, mukosa bukalis, konjungtiva
atau urine dapat digunakan untuk pemeriksaan sitologi secara langsung
untuk melihat sel raksasa dan mendeteksi antigen dengan menggunakan
antibodi terhadap proten N virus. Protein ini paling banyak ditemukan
pada sel yang terinfeksi.
c. Pemeriksaan jaringan langsung pada penderita dengan
imunocompromised karena respon antibodinya tidak terbentuk.
d. RNA virus dapat dideteksi dengan reverse transcription dan
diamplifikasi memakai PCR, teknik ini belum digunakan secara luas untuk
menegakkan diagnosis.

3. Mendeteksi antibody
Diagnosis penyakit campak paling sering ditegakkan dengan pemeriksaan
serologi. Menggunakan sampel saliva atau serum. Antibodi IgM muncul
bersamaan dengan munculnya ruam pada kulit dan sebagian besar
dideteksi 3 hari sesudah munculnya ruam. Antibodi IgM meningkat cepat
dan kemudian menurun hingga tidak dapat dideteksi setelah 4-12 minggu.
IgG sebaiknya diperiksa pada sampel yang sama untuk mengetahui apakah
sudah pernah terinfeksi atau sudah pernah mendapat imunisasi.

Saat pengambilan serum yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan
laboratorium adalah:
a. Usapan tenggorokan dan saliva diambil dalam 6 minggu sesudah
munculnya gejala untuk pemeriksaan antibodi IgM spesifik campak
dan mendeteksi RNA virus.
b. Sampel darah diambil dalam 6 minggu sesudah munulnya gejala
untuk mendeteksi antibodi IgM spesifik virus dan RNA virus.
c. Sampel darah umumnya diambil pada fase akut (1-7 hari setelah
munculnya ruam pada kulit) dan pada fasse konvalesen untuk
mendeteksi antibodi IgG spesifik campak. Positif jika terjadi
kenaikan titer antar fase akut dan konvalesen 4 kali lipat.

1.3.Penyulit
Campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak berumur
lebih kecil. Kebanyakan penyulit campak terjadi bila ada infeksi sekunder oleh
bakteri. Beberapa penyulit campak adalah :
1. Bronkopneumonia
Merupakan salah satu penyulit tersering pada infeksi campak.
Dapat disebabkan oleh invasi langsung virus campak maupun infeksi
sekunder oleh bakteri (Pneumococcus, Streptococcus,
Staphylococcus, dan Haemophyllus influenza). Ditandai dengan adanya
ronki basah halus, batuk, dan meningkatnya frekuensi nafas. Pada saat
suhu menurun, gejala pneumonia karena virus campak akan menghilang
kecuali batuk yang masih akan bertahan selama beberapa lama. Bila gejala
tidak berkurang, perlu dicurigai adanya infeksi sekunder oleh bakteri yang
menginvasi mukosa saluran nafas yang telah dirusak oleh virus campak.
Penanganan dengan antibiotik diperlukan agar tidak muncul akibat yang
fatal.
2. Encephalitis
Komplikasi neurologis tidak jarang terjadi pada infeksi campak.
Gejala encephalitis biasanya timbul pada stadium erupsi dan dalam 8 hari
setelah onset penyakit. Biasanya gejala komplikasi neurologis dari infeksi
campak akan timbul pada stadium prodromal. Tanda dari encephalitis
yang dapat muncul adalah : kejang, letargi, koma, nyeri kepala, kelainan
frekuensi nafas, twitching dan disorientasi. Dugaan penyebab timbulnya
komplikasi ini antara lain adalah adanya proses autoimun maupun akibat
virus campak tersebut.
3. Subacute Slcerosing Panencephalitis (SSPE)
Merupakan suatu proses degenerasi susunan syaraf pusat dengan
karakteristik gejala terjadinya deteriorisasi tingkah laku dan intelektual
yang diikuti kejang. Merupakan penyulit campak onset lambat yang rata-
rata baru muncul 7 tahun setelah infeksi campak pertama kali. Insidensi
pada anak laki-laki 3x lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan.
Terjadi pada 1/25.000 kasus dan menyebabkan kerusakan otak progresif
dan fatal. Anak yang belum mendapat vaksinansi memiliki risiko 10x
lebih tinggi untuk terkena SSPE dibandingkan dengan anak yang telah
mendapat vaksinasi
4. Konjungtivitis
Konjungtivitis terjadi pada hampir semua kasus campak. Dapat
terjadi infeksi sekunder oleh bakteri yang dapat menimbulkan hipopion,
pan oftalmitis dan pada akhirnya dapat menyebabkan kebutaan.
5. Otitis Media
Gendang telinga biasanya hiperemi pada fase prodromal dan
stadium erupsi.
6. Diare
Diare dapat terjadi akibat invasi virus campak ke mukosa saluran
cerna sehingga mengganggu fungsi normalnya maupun sebagai akibat
menurunnya daya tahan penderita campak (Soegeng Soegijanto, 2002)
7. Laringotrakheitis
Penyulit ini sering muncul dan kadang dapat sangat berat sehingga
dibutuhkan tindakan trakeotomi.
8. Jantung
Miokarditis dan perikarditis dapat menjadi penyulit campak.
Walaupun jantung seringkali terpengaruh efek dari infeksi campak, jarang
terlihat gejala kliniknya.
9. Black measles
Merupakan bentuk berat dan sering berakibat fatal dari infeksi
campak yang ditandai dengan ruam kulit konfluen yang bersifat
hemoragik. Penderita menunjukkan gejala encephalitis atau encephalopati
dan pneumonia. Terjadi perdarahan ekstensif dari mulut, hidung dan usus.
Dapat pula terjadi koagulasi intravaskuler diseminata


1.4.Penatalaksanaan
Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan, anak harus diberikan
cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan
pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan anti konvulsan bila diperluan.
Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Di rumah
sakit pasien campak dirawat di bangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan
perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang
memadai. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila terdapat
malnutrisi dilanjutkan 1500 IU perhari.
1,3
Parasetamol untuk menurunkan demam
dosis 10-15mg/kg BB.

1.5.Pencegahan
a. Imunisasi aktif
Diberikan vaksin campak pada umur 9 bulan dan 6 tahun dengan dosis
1000 TCID50 atau sebanyak 0,5 ml secara subkutan.
b. Imunisasi Pasif (Imunoglobulin)
Indikasi :
Anak usia > 12 bulan dengan immunocompromised belum mendapat
imunisasi, kontak dengan pasien campak, dan vaksin MMR merupakan
kontraindikasi.
Bayi berusia < 12 bulan yang terpapar langsung dengan pasien campak
mempunyai resiko yang tinggi untuk berkembangnya komplikasi
penyakit ini, maka harus diberikan imunoglobulin sesegera mungkin
dalam waktu 7 hari paparan. Setelah itu vaksin MMR diberikan
sesegera mungkin sampai usia 12 bulan, dengan interval 3 bulan
setelah pemberian imunoglobulin.
7

Pemberian imunisasi campak pada usia kurang dari 12 bulan
memerlukan imunisasi ulang pada usia 15 bulan karena vaksin dinetralisasi
oleh antibodi maternal sedang pemberian imunisasi campak pada usia lebih
dari 12 bulan atau 15 bulan tidak perlu imunisasi ulang, karena dapat
memperlihatkan serokonversi yang maksimum dan daya proteksi vaksin
mencapai 95-100 persen jika diberikan pada usia lebih dari 12 bulan.
8


1.6.Prognosis
Pada penyakit campak yang tidak disertai dengan komplikasi maka
prognosisnya baik. Sedangkan pada campak yang disertai komplikasi (misal
ensefalitis dan pneumonia) maka prognosisnya buruk karena dapat menimbulkan
kecacatan seumur hidup meskipun jarang ditemukan. Penyakit campak juga
merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada anak-anak
yang mengalami malnutrisi sehingga harus diwaspadai.