Anda di halaman 1dari 31

LABORATORIUM SATUAN PROSES 2

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015




MODUL : Saponifikasi
PEMBIMBING : Iwan Ridwan, ST.MT





Oleh :

Kelompok : VII
Nama : 1. Rita Inayah NIM 131424025
2. Wynne Raphaela NIM 131424027

Kelas : 2A Teknik Kimia Produksi Bersih


PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2014
Tanggal Praktikum : 30 September 2014
Tanggal Penyerahan : 8 Oktober 2014
(Laporan)
1. TUJUAN


Menjelaskan variable-variable yang berpengaruh terhadap proses saponifikasi
menentukan komposisi yang tepat dalam pembuatan sabun padat dan bahan aditif yang
ditambahkan
menganalisis produk sabun padat yang didapat pada variasi bahan antara KOH dan
NaOH serta variasi suhu reaksi antara 60
o
C dan 70
o
C .

II. DASAR TEORI
Trigliserida terdiri dari tiga gugus asam lemak yang terikat pada gugus gliserol.Asam lemak
terdiri dari rantai karbon panjang yang berakhir dengan gugus asam karboksilat pada
ujungnya.Gugus asam karboksilat terdiri dari sebuah atom karbon yang berikatan dengan dua
buah atom oksigen.Satu ikatannya terdiri dari ikatan rangkap dua dan satunya merupakan ikatan
tunggal.Setiap atom karbon memiliki gugus asam karboksilat yang melekat, maka dinamakan
tri-gliserida.
Apabila trigliserida direaksikan dengan alkali (sodium hidroksida atau kalium hidroksida),
maka ikatan antara atom oksigen pada gugus karboksilat dan atom karbon pada gliserol akan
terpisah. Proses ini disebut saponifikasi. Atom oksigen mengikat sodium yang berasal dari
sodium hidroksida sehingga ujung dari rantai asam karboksilat akan larut dalam air. Garam
sodium dari asam lemak inilah yang kemudian disebut sabun. Sedangkan gugus OH dalam
hidroksida akan berikatan dengan molekul gliserol, apabila ketiga gugus asam lemak tersebut
lepas maka reaksi saponifikasi dinyatakan selesai.




Reaksi tersebut sebagai berikut :
Persamaan Reaksi :
O

CH2- O C C17H35
CH2 OH
O O

CH O C C17H35 + 3 NaOH 3 C17H35 C + CH2 - OH O
O Na
CH2 O C C17H35 CH2 OH

Secara singkat reksi ditulis sebagai berikut :
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR
Trigliserida biasanya disebut juga fat atau lemak jika berbentuk padat pada suhu kamar,
dan disebut minyak (oil) bila pada suhu kamar berbentuk cair. Trigliserida tidak larut dalam air,
hal ini dapat dibuktikan bila kita mencampurkan air dan minyak, akan terlihat keduanya tidak
akan bercampur.
Struktur kimia sabun adalah sebagai berikut :

H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
C
H
H
CO2
-
Na
+

Sabun disebut sodium stearat dengan rumus kimia C17H35COO

Na
+
dan merupakan
hydrocarbon rantai panjang dengan 10 sampai 20 atom Carbon.dapat digunakan untuk
membersihkan karena kepala yang bersifat polar, merupakan komponen ionik yang larut
dalam air dan tidak larut dalam larutan organik, yaitu minyak (hidrofilik). Ekor dari
molekul adalah kovalen dan larut dalam minyak tetapi tidak larutdalamair (hidrofobik).








Pada proses pencucian sabun, partikel minyak dikelilingi oleh molekul sabun. Bagian
yang hidrofobik melekat pada kotoran minyak dan meninggalkan bagian yang hidrofilik untuk
dapat dihilangkan oleh air. Hal ini menyebabkan kotoran minyak dapat bergerak dalam air, dan
kemudian dapat dibilas denganair.Hal inidapatdigambarkansebagaiberikut :

C
n
H
2n+1
COO

Na
+

(larut dalam minyak) (larut dalam air)

Dalam air dan minyak sabun akan bersifat sebagai berikut :
Sabun
Minyak
Air

Bila campuran ini diaduk, rantai sabun akan menguraikan minyak dalam air. Rantai
hydrokarbon dilarutkan dalam tetesan minyak dan kepala CO2 pada permukaan air. Kotoran
pada minyak dan bagian berminyak akan dijerat sehingga dapat dibersihkan. Mencuci tangan dan
membersihkan pakaian kotor dalam air sabun mengakibatkan kotoran tertinggal dalam air sabun.
Minyak
Sabun
Air


Pada air sadah sabun tidak berbusa karena ion stearat bereaksi dengan calsium dan
magnesium, sehingga menjadi keras dan membentuk komponen yang disebut scum yang tidak
larut dalam calsium dan magnesium stearat, reaksi :

Ca
2+
+ 2 St
-
CaSt
2(s)
(St = ion stearat)

Mg
2+
+ 2 St
-
MgSt
2(s)
= C
17
H
35
COO
-

Tanpa ion stearat tidak mempunyai daya membersihkan.Salah satu pemecahan masalah
dalam menggunakan larutan pembersih, yaitu tidak bereaksi dengan ion yang menyebab-kan
kesadahan.
Lemak dan minyak yang digunakan untuk membuat sabun terdiri dari 7 asam lemak yang
berbeda.Apabila semua ikatan karbon dalam asam lemak terdiri dari ikatan tunggal disebut asam
lemak jenuh, sedangkan bila semua atom karbon berikatan dengan ikatan rangkap disebut asam
lemak tak jenuh.Asam lemak tak jenuh dapat dikonversikan menjadi asam lemak jenuh dengan
menambahkan atom hydrogen pada lokasi ikatan rangkap. Jumlah asam lemak yang tak jenuh
dalam pembuatan sabun akan memberikan pengaruh kelembutan pada sabun yang dibuat.


III. PERCOBAAN
3.1 Alat yang digunakan :
No. Alat Spesifikasi
1. Penangas air 1 buah
2. Gelas ukur 50 ml 1 buah
3. Batang pengaduk 1 buah
4. Thermometer 2 buah
5. Spatula 1 buah
6. Beaker gelas volume 250 ml 2 buah
7. Beaker gelas volume 50 ml 3 buah
8. Buret 1buah
9. Labu Erlenmeyer 2 buah



3.2 Bahan yang digunakan :
No. Bahan Spesifikasi
1. Minyak kelapa/sawit 20 ml
2. Alkali (KOH) 10 gr
3 Alkali (NaOH)
4. Air mendidih 10 ml
5. NaCl 0,1 gr
6. Amylum 0,5 gr
7. Indikator PP 1 tetes
8. HCl 0,5 N 50 ml
9. Bahan tambahan pewangi secukupnya


3.3 Prosedur Percobaan
1. Pembuatan Larutan KOH dan NaOH




Menimbang 10 gram KOH dan
NaOH
Melarutkannya dalam 10 mL air
mendidih

2. Pembuatan HCl 0,5 N



3. Proses Pembuatan Sabun (Saponifikasi)

a.proses pembuatan sabun pada suhu 60
o
C









b.proses pembuatan sabun pada suhu 70
o
C









Minyak 20 mL ke gelas kimia
dan dipanaskan hingga suhu 60
o
C
Menyiapkan KOH 10 gr dan
dipanaskan hingga suhu 60
o
C
Mengambil 3,125ml HCl 36%
Melarutkannya dalam 200 mL air
Menyiapkan KOH 10 gr dan
dipanaskan hingga suhu 70
o
C
Minyak 20 mL ke gelas kimia
dan dipanaskan hingga suhu 70
o
C
Prosedur diulang untuk
bahan NaOH
Prosedur diulang untuk
bahan NaOH

























memanaskannya masing-
masing hingga 60C dan 70 C
KOH 10 gr/
NaOH 10 gr
gram
Memasukkan 10 gr KOH/NaOH dan
memanaskannya hingga 60C/70C
Memasukkan larutan KOH/NaOH ke
dalam minyak dengan pipet tetes pada
suhu 60C/70 C
Disertai
pengadukan
Mengamati perubahannya
Mengulangi
langkah ini
pada NaOH
yang tersisa
pada suhu 70C
Mengaduknya selama 10 menit
Memasukkan 0,1 gram garam aduk sampai 10 menit
10 ml air
mendidih
Memasukkan 0,5 gram amilum aduk sampai 10 menit
Tambahkan 0,04 cc parfum aduk sampai 5 menit dan
masukan pada cetakan


3.Analisa sabun Padat
a. Alkali bebas (%) dihitung sebagai KOH






















Mengambil 1gr zat+alcohol netral
Panaskan 10 menit
HCl 0,5 N sampai tidak berwarna
Menitrasi gliserol dengan HCl
Menambahkan indikator PP 2 tetes
Titrasi


b. Asam lemak bebas
prosedur penetapan





















Mengambil 5-10gr zat+alcohol
netral 50 ml ke erleneyer 250 ml
Panaskan 10 menit
NaOH 0,5 N sampai warna
kembali bening
Menambahkan indikator PP 2 tetes
Titrasi
Dinginkan 10 menit

c. lemak tak tersabunkan
prosedur penerapan









4. Tabel Data

Data Persiapan
No. Bahan Berat/Volume
Massa Molekul
(gr/mol)
Rumus
1.
Larutan kalium
hidroksida (KOH)
10 gram 56 KOH
2
Larutan natrium
hidroksida (NaOH)
10 gram 40 NaOH
2.
Minyak kelapa/
asam stearat
20 ml 807.35 (C17H35COO)3C3H5
3.
Natrium Klorida
(NaCl)
0,1 gram 58,5 NaCl
4. Amylum 0,5 gram 162 (C6H10O5)x
5. Parfum - - -

Pipet 10 ml KOH
alkoholik dari 0,5 N
Larutan bekas
penetapan asam lemak
bebas
Panaskan sampai 1 jam
Dinginkan
Titrasi HCl 0.5 N
indicator PP
Penetapan blanko
dengan KOH
Proses Pencampuran pada suhu 60
o
C
a. KOH

Bahan Tempat Pengamatan Keterangan

KOH + 10 ml air

Beaker glass

KOH dipanaskan
sampai suhu 60
o
C



KOH warna bening saat
mendidih

Larutan KOH 10
gr + Minyak
Kelapa 20 ml

Beaker glass

Larutan mula-mula
mulai tercampur tetapi
minyak kelapa dengan
larutan KOH tidak
tercampur sempurna.
Dan lama untuk
mengental





Pengadukan kontinyu selama
10 menit.
Kondisi pencampuran larutan
dalam keadaan panas dengan
suhu tetap 60
o
C.

+NaCl 0,1 gr

Beaker glass

Campuran mulai
sedikit kental

Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan suhu tetap


+Amilum 0,5 gr


Beaker glass


Campuran minyak dan
KOH tidak tercampur
sempurna, masih
terlihat minyak kelapa
di atas permukaan.


Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan hangat dan suhu
tetap

penambahan 2
semprot parfum





Beaker glass


Campuran sedikit cair
dan sedikit kental.

Pengadukan secara kontinyu
selama 5 menit , kondisi
pencampuran dalam keadaan
hangat dan suhu tetap.



Cetak



Gelas



Campuran menjadi
sedikit padat.


Cetak pada tempat yang
disediakan dan didiamkan.

b. NaOH

Bahan Tempat Pengamatan Keterangan

NaOH + 10 ml air

Beaker glass

NaOH dipanaskan
sampai suhu 60
o
C



NaOH warna bening saat
mendidih

Larutan NaOH 10
gr + Minyak

Beaker glass

Larutan mula-mula
mulai tercampur tetapi



Kelapa 20 ml minyak kelapa dengan
larutan NaOH tidak
tercampur sempurna.
Dan lama untuk
mengental


Pengadukan kontinyu selama
10 menit.
Kondisi pencampuran larutan
dalam keadaan panas dengan
suhu tetap 60
o
C.

+NaCl 0,1 gr

Beaker glass

Campuran mulai
sedikit kental

Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan suhu tetap


+Amilum 0,5 gr


Beaker glass


Campuran minyak dan
NaOH tidak tercampur
sempurna, masih
terlihat minyak kelapa
di atas permukaan.


Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan hangat dan suhu
tetap

penambahan 2
semprot parfum





Beaker glass


Campuran sedikit cair
dan sedikit kental.

Pengadukan secara kontinyu
selama 5 menit , kondisi
pencampuran dalam keadaan
hangat dan suhu tetap.



Cetak



Gelas



Campuran menjadi
sedikit padat.


Cetak pada tempat yang
disediakan dan didiamkan.


Proses pencampuran pada suhu 70
o
C
a. KOH
Bahan Tempat Pengamatan Keterangan


KOH + 10 air
mendidih


Beaker glass


KOH +air dipanaskan
sampai suhu 70
o
C




KOH warna bening
Larutan KOH 10
gr + Minyak
Kelapa 20 ml
Beaker glass Larutan mula-mula
tercampur
membentuk 2 layer
yang kemudian
dengan pengadukkan
10 menit berubah
menjadi seperti kental
.
Pengadukan kontinyu selama
10 menit.
Kondisi pencampuran larutan
dalam keadaan panas dengan
suhu tetap 70
o
C.
+NaCl 0,1 gr Beaker glass Campuran larutan
menjadi kental
Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan suhu tetap
+Amilum 0,5 gr Beaker glass
Campuran menjadi
lebih kental
Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan hangat dan suhu
tetap
Tambah 2
semprot parfum





Beaker glass


Campuran
menggumpal/memadat.

Pengadukan secara kontinyu
selama 5 menit , kondisi
pencampuran dalam keadaan
hangat dan suhu tetap.



Cetak


Gelas



Campuran mengeras
atau terbentuk.


Sabun yang dibuat sudah
mengeras dan terbentuk.

b. NaOH
Bahan Tempat Pengamatan Keterangan


NaOH + 10 air
mendidih


Beaker glass


NaOH +air dipanaskan
sampai suhu 70
o
C




NaOH warna bening
Larutan NaOH 10
gr + Minyak
Kelapa 20 ml
Beaker glass Larutan mula-mula
tercampur
membentuk 2 layer
yang kemudian
dengan pengadukkan
10 menit berubah
menjadi seperti kental
.
Pengadukan kontinyu selama
10 menit.
Kondisi pencampuran larutan
dalam keadaan panas dengan
suhu tetap 70
o
C.
+NaCl 0,1 gr Beaker glass Campuran larutan
menjadi kental
Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan suhu tetap
+Amilum 0,5 gr Beaker glass
Campuran menjadi
lebih kental
Pengadukkan kontinyu selama
10 menit, kondisi pencampuran
dalam keadaan hangat dan suhu
tetap
Tambah 2
semprot parfum





Beaker glass


Campuran
menggumpal/memadat.

Pengadukan secara kontinyu
selama 5 menit , kondisi
pencampuran dalam keadaan
hangat dan suhu tetap.



Cetak


Gelas



Campuran mengeras
atau terbentuk.


Sabun yang dibuat sudah
mengeras dan terbentuk.


Analisa Sabun Padat :
a. Proses Analisa Alkali Bebas
Proses Tempat Pengamatan Keterangan
Dititrasi
( 1,01 gr
gliserol+alcohol
netral) pada suhu
60
o
C


Gelas kimia + PP
Terjadi perubahan warna
menjadi pink. Setelah
dititrasi dengan HCl 0,5 N
warnanya menjadi bening.
Volume HCl 4,4 ml.



Volume yang
didapatkan
Dititrasi
( 0,99 gr
gliserol+alcohol
netral) pada suhu
70
o
C


Gelas kimia + PP
Terjadi perubahan warna
menjadi pink. Setelah
dititrasi dengan HCl 0,5 N
warnanya menjadi bening.
Volume HCl 4 ml.


Volume yang
didapatkan


b. Asam lemak bebas
Proses Tempat Pengamatan Keterangan
Dititrasi
( 5,02 gr gliserol
pada suhu 60
o
C)+
alcohol netral


Gelas kimia + PP

Terjadi perubahan warna
menjadi pink setelah
penambahan indicator pp.
Setelah dititrasi dengan HCl 0,5
N warnanya menjadi bening.
Volume HCl 7,8 ml.



Volume yang
didapatkan

Dititrasi
( 5,02 gr gliserol
pada suhu 70
o
C)+
alcohol netral


Gelas kimia + PP
Terjadi perubahan warna
menjadi pink setelah
penambahan indicator pp.
Setelah dititrasi dengan HCl 0,5
N warnanya menjadi bening.
Volume HCl 6 ml.




Volume yang
didapatkan

IV. PENGOLAHAN DATA
a. Perhitungan mol NaOH
Mencari mol NaOH
Larutan NaOH
10 gram NaOH dala 10 ml air
Mr NaOH = 40 gram/mol
Mr NaOH = 40 gram/mol
mol NaOH =



= 0,25 mol
b. Membuat larutan HCl 0,5 N
HCl 36% = 1,18 gram/mL
Mr HCl = 36,5 gram/mol
n =


n =


n = 0,032 mol/mL
n = 32 mol/L

HCl 0,5 N = 0,5 mol/L
V1 N1 = V2 N2
X. 32 mol/L = 0,1 L. 0,5 mol/L
X = 1,5625 mL

c. Perhitungan mol Minyak Nabati (Trigliserida Stearat)
minyak = 0.8572 gram/ml
Berat minyak = x V
Berat minyak = 0.8572 gram/ml x 20 ml
= 17,144 gram

Mol minyak =



=



= 0,02123 mol

(C
17
H
35
COO)
3
C
3
H
5
+ 3NaOH 3(C
17
H
35
COO)Na + C
3
H
5
(OH)
3

Awal 0,02123 mol 0, 25 mol - -
-
Reaksi 0,02123 mol 0,06369 mol 0,02123 mol 0,02123 mol
Sisa - 0,18631 mol 0,02123 mol 0,02123 mol

Berat sabun teori NaOH = mol x Mrsabun
= 0,06369 mol x 918 gr/mol
= 58,467 gram

(C
17
H
35
COO)
3
C
3
H
5
+ 3KOH 3(C
17
H
35
COO)K + C
3
H
5
(OH)
3

Awal 0,02123 mol 0, 1786 mol - -
-
Reaksi 0,02123 mol 0,06369 mol 0,02123 mol 0,02123 mol
Sisa - 0,11491 mol 0,02123 mol 0,02123 mol


Berat sabun teori KOH= mol x Mrsabun
= 0,06369 mol x 918 gr/mol
= 58,467 gram
Berat Sabun Teori NaOH = mol x Mrsabun
= 0,06369 mol x 918 gr/mol
= 58,467

Menentukan % Yield
Berat sabun KOH 60
o
C yang dihasilkan = 42,156 gram
Berat sabun teori = 58,467 gram
% yield =



= 72,102 %
Berat Sabun KOH 70
O
C yang dihasilkan
Berat sabun KOH 70
o
C yang dihasilkan = 49,218 gram
Berat sabun teori = 58,467 gram
% yield =


=



=84,18 %]
Berat Sabun NaOH 60
O
C yang dihasilkan = 41,45 gram
Berat sabun teori = 58,467 gram
% yield =


=



=70,97 %



Berat Sabun NaOH 70
O
C yang dihasilkan
Berat sabun NaOH 70
o
C yang dihasilkan = 42,145 gram
Berat sabun teori = 58,467 gram
% yield =


=



=72,08 %]



Alkali Bebas
a. Sabun hasil percobaan
Alkali Bebas sabun KOH 60
o
C =



=



Alkali Bebas sabun KOH 70
o
C =



=



Alkali Bebas sabun NaOH 60
o
C =



=


Alkali Bebas sabun NaOH 70
o
C =



=








b. Asam Lemak bebas
Asam lemak bebas KOH 60
o
C =



=



Asam lemak bebas KOH 70
o
C =



=


Asam lemak bebas NaOH 60
o
C =



=


Asam lemak bebas NaOH 70
o
C =



=






pH sabun yang dihasilkan 13
Tabel Hasil Percobaan

Massa Yield pH Alkali bebas
Asam lemak Bebas
Hasil
percobaan
42,156 gr
49,218 gr
72,102%
84,18 %
13
60
o
C = 8,713%
70
o
C= 8,08 %
60
o
C = 15,54%
70
o
C= 11,95 %
Hasil
perhitungan
58.467 gr 100% - -

-

*praktikan tidak melakukan pengujian kadar lemak tak tersabunkan dikarenakan peralatan
yang dibutuhkan (buret) tidak ada atau pecah semua, sehingga praktikan tidak bisa
melanjutkan praktikum uji kualitatif sabun yaitu perhitungan kadar lemak tak tersabunkan.







V.PEMBAHASAN
Nama : Rita Inayah
Nim : 131424025
.
Pada Percobaan kali ini yaitu reaksi saponifikasi, Saponifikasi merupakan proses pembuatan
sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali
yang menghasilkan sabun dan hasil samping berupa gliserol. Sabun adalah garam logam alkali
yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang dari asam-asam lemak, dimana dalam
percobaan kali ini praktikan menggunakan alkali yang dimaksud adalah KOH dan NaOH dari
basa kuat. Sabun memiliki sifat yang unik, yaitu pada strukturnya dimana kedua ujung dari
strukturnya memiliki sifat yang berbeda. Ada beberapa variable yang harus diperhatikan dalam
proses saponifikasi ini, yaitu : pemanasan, pengadukan dan jenis minyak kelapa yang digunakan.
Pada salah satu ujungnya terdiri dari rantai hidrokarbon asam lemak yang bersifat lipofilik
(tertarik pada atau larut lemak dan minyak) atau basa yang disebut ujung nonpolar sedangkan pada ujung
lainnya merupakan ion karboksilat yang bersifat hidrofilik (tertarik pada atau larut dalam air) atau
ujung polar.
Reaksi saponifikasi yang terjadi adalah sebagai berikut :
(C
17
H
35
COO)
3
C
3
H
5
+ 3KOH 3(C
17
H
35
COO)K + C
3
H
5
(OH)
3

(C
17
H
35
COO)
3
C
3
H
5
+ 3NaOH 3(C
17
H
35
COO)Na + C
3
H
5
(OH)
3


Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menjelaskan variable-variabel yang berpengaruh
dalam saponifikasi, menetukan komposisi yang tepat dalam pembuatan sabun padat dan bahan
aditif yang ditambahkan, serta menganalisis produk sabun padat yang didapat.
Langkah yang dilakukan adalah mereaksikan NaOH 10 gr dan KOH 10 gr pada masing-masing
suhunya 60
o
C dan 70
o
C yang telah dilarutkan dalam air mendidih dengan minyak kelapa 20 ml
dan dilakukan pengadukan agar larutan cepat bereaksi. Pada saat dicampurkan, campuran
membentuk 2 lapisan yang kemudian campuran berubah wujud seperti susu kental dan tidak ada
minyak yang mengapung di atasnya dan berwarna kekuning-kuningan. Tetapi pada KOH suhu
70
o
C belum bercampur rata pada waktu 10 menit pertama dan pada beberapa saat kemudian
larutan mulai mencampur tetapi tidak sempurna masih terdapat minyak diatas permukaan.hal ini
disebabkan karena suhu yang tidak stabil dalam proses pemanasan sehingga hasilnya tidak
mengeras melainkan sedikit cair. Kemudian ditambahkan garam halus, perlahan warna
kekuningan berubah menjadi putih dan semakin kental. Penambahan garam ini bertujuan untuk
memisahkan antara sabun dengan gliserin yang mengakibatkan sabun akan menggumpal.
konsentrasi NaOH dan KOH berpengaruh pada produk sabun yang akan didapat. Tahap berikut
penambahan amylum, juga bertujuan untuk menggumpalkan sabun dan sebagai zat pengisi
sabun. Selama proses berlangsung pengadukkan terus dilakukan. campuran perlahan memadat
dan kemudian ditambahkan sedikit parfum sebagai pengharum agar produk sabun yang
dihasilkan berbau wangi. Setelah tahap diatas kemudian praktikan memisahkan stearat yang
terbentuk secara manual ( dengan sendok ) dari gliserinnya. Kemudian langsung mencetak sabun
tersebut tanpa membilasnya terlebih dahulu dikarenakan jika pembilasan dilakukan stearat yang
ada akan berkurang.

Nama : Wynne Raphaela
NIM : 131424027

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sabun secara sederhana (saponifikasi).
Prinsip dasar saponifikasi adalah pencampuran antara asam lemak trigliserida (minyak kelapa)
dengan basa kuat NaOH/KOH yang direaksikan pada suhu pemanasan 60-80
0
C. Praktikum ini
bertujuan untuk menghasilkan produk sabun dengan prinsip pembuatan yang sangat dasar.
Praktikum saponifikasi kali ini mengggunakan 2 macam variasi, yaitu variasi suhu pencampuran
dan variasi basa kuat (alkali ) yang digunakan. Sabun yang dihasilkan belum layak digunakan
dan tidak bisa di komersialkan. Sabun yang dihasilkan hanya sabun lab, karena bahan-bahan
yang digunakannya pun terbatas dan sederhana, tidak menggunakan pewangi, pembersih, anti
sadah, anti kuman dan yang lainnya. Tetapi secara prinsip, metode pembuatannya sama.
Adapun asam lemak (trigliserida) yang digunakan pada praktikum ini adalah minyak
kelapa dan basa kuat yang digunakan adalah KOH dan NaOH. Karena tujuan saponifkisi kali ini
ingin mengetahui pengaruh suhu pencampuran dan basa kuat. oleh karena itu praktikan membuat
4 macam sabun yaitu sebagai berikut :
1. Sabun dengan basa kuat NaOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 60
o
C
2. Sabun dengan basa kuat NaOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 70
o
C
3. Sabun dengan basa kuat KOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 60
o
C
4. Sabun dengan basa kuat KOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 70
o
C
Pertama-tama 10 ml air dipanaskan sampai 60/70
o
C (sesuai variasi suhu yang digunakan)
lalu dimasukkan KOH/NaOH suhu diperthankan. disaat yang bersamaan minyak kelapa juga
dididihkan sampai 60/70
o
C (sesuai variasi suhu yang digunakan). Setelah tercapai suhu yang
diinginkan minyak kelapa dimasukkan ke dalam larutan NaOH/KOH dan suhunya tetap
dipertahankan 60/70
o
C (sesuai variasi suhu yang digunakan) sambil diaduk hingga mengental
seperti susu kental manis dan larutan menjadi 1 lapis. Setelah mengental pada campuran
ditambahkan NaCl, amilum dan perfume sambil terus diaduk hingga terbentuk suspensi yang
sangat kental. Setelah terjadi reaksi antara NaOH/KOH dan Minyak yang ditandai dengan
larutan yang menggumpal, penambahan garam halus (NaCl sekitar 0,1 Gram). Penambahan
NaCl bertujuan untuk memisahkan antara sabun dan gliserin yang masih bercampur sehingga
sabun akan tergumpalkan sebagai sabun padat yang memisah dari gliserin. Sedikitnya NaCl yang
ditambahkan (0,1 gram) karena hanya untuk memisahkan saja, sementara bila yang
ditambahkannya banyak, bisa mempengaruhi kandungan Na dalam sabun sekaligus merubah
struktur sabun itu sendiri. Kemudian penambahan amilum setelahnya, berfungsi untuk
mempercepat penggumpalan dan akhirnya produk yang terbentuk bisa di tuangkan dalam
cetakan. Setelah itu sabun dicetak dna ditunggu hingga sabun mengeras.
Dengan menggunakan 4 variasi ini akan diketahui pengaruh suhu dan basa kuat yang
digunakan. Prinsip saponifikasi adalah ketika Na atau K yang menempel di gugus R-COO
berfungsi sebagai pelarut air (hidrofil) dan gugus R-COO nya berfungsi sebagai pelarut Lemak
(Hidrofob), sehingga secara keseluruhan pada sabun ada 2 fungsi, sebagai pelarut air sekaligus
pelarut lemak (atau kotoran). Itulah mengapa sabun digunakan untuk membersihkan kotoran
(yang berasal dari lemak). Reaksinya adalah, sebagai berikut :
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR
C3H5(OOCR)3 + 3 KOH -> C3H5(OH)3 + 3 KOOCR

Berdasarkan praktikum didapat hasil sebagai berikut :
1. Sabun NaOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 60
0
C menghasilkan sabun
padat berwarna
2. Sabun NaOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 70
0
C menghasilkan sabun
padat berwarna
3. Sabun KOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 60
0
C menghasilkan sabun
Lunak berwarna putih tetapi masih ada minyak di lapisan atas, tetapi tidak bergumpal.
Pembuatan sabun pada variasi ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Karena pada
pencampuran minyak dan KOH tidak kunjung membentuk suspense kental seperti susu
kental manis dan pada menit ke-20 baru terbentuk suspense kental walaupun
sebenarnya masih terlalu encer Untuk dicampurkan dengan NaCl. Sehingga pada
akhirnya sabun yang dihasilkan masih ada lapisan minyak diatasnya. Pengaruh KOH
pada hasilakhir sabun menunjukkan bahwa penggunaan KOH akan menghasilkan
sabun yang lunak dan cenderung cair, hal itu disebabkan KOH lebih larut dalam air
daripada NaOH.
% yield sabun KOH ini adalah 72,102% dengan kadar alkali bebas sebanyak 8,713%
serta kadar asam lemak bebas sebanyak 15,54%.

4. Sabun KOH dengan suhu pencampuran dan suhu reaksi 70
0
C menghasilkan sabun
padat berwarna putih, tidak ada lapisan minyak diatsnya dan sabun bentuknya
bergumpal-gumpal dan keras. Pembuatan sabun pada variasi ini hanya membutuhkan
waktu sekitar 20 menit. Sabun bergumpal karena saat pencampuran minyak dan KOH,
sangat cepat membentuk suspense seperti susu kental manis dan saat dicampur dengan
NaCl, amilum dan parfume sabun semakin kental dan pada saat mau dicetak akhirnya
sabun telah terlanjur menggumpal. % yield sabun pada variasi ke-3 ini adalah 84,18%,
kadar alkali bebas 8,08% serta kadar asam lemak bebas 11,95%.
Berdasarkan 4 variasi ini diketahui bahwa sabun dengan bahan baku basa kuat () dan suhu
pencampuran () adalah sabun dengan kulaitas paling baik. Hal ini disebabkan











VI.KESIMPULAN























LAMPIRAN
















DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Satuan Proses 2.Bandung : Politeknik Negeri Bandung
Reynolds, S., & Stanley, R. 2000.Chemistry 2000, year 11.Melbourne : Oxford University
Press.
Staff Pengajar Politeknik. 1996. Petunjuk Praktikum Kimia Organik. Politeknik Negeri
Bandung.