Anda di halaman 1dari 18

PAPER

OSTEOMYELITIS


Pembimbing :
drg.Luciana Maria K.D.




Disusun oleh :
Albert Yap ( 1015143 )




Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Rumah Sakit Immanuel
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha
Bandung
2014

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi .............................................................................................................. 3
2.2 Klasifikasi ......................................................................................................... 3
2.3 Faktor Predisposisi ............................................................................................ 4
2.4 Etiopatogenesis ................................................................................................. 4
2.5 Gejala Klinis .................................................................................................... 10
2.6 Pengobatan ....................................................................................................... 11
2.7 Komplikasi ....................................................................................................... 14
2.8 Prognosis .......................................................................................................... 14

BAB III Kesimpulan ............................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 16
















BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Osteomyelitis merupakan suatu peradangan difus yang mengenai periosteum, tulang
kortikal, dan komponen-komponen tulang kanselus. Osteomyelitis dikelompokkan menjadi
akut atau kronis, supuratif atau non-supuratif, sklerotik, dan berdasarkan etiologi spesifiknya
(tuberculosis, aktinomikosis, atau radiasi). Invasi bacterial pada tulang berasal dari organisme
yang terdapat pada abses atau selulitis yang terjadi di dekatnya, inokulasi melalui tindakan
bedah atau trauma atau penyebaran hematogen. Organisme penyebab adalah staphylococcus,
dan osteomyelitis dahulu diduga merupakan furunkel pada tulang. Pemeriksaan kultur yang
lebih lengkap sering mengungkapkan adanya infeksi polibakterial dan kemungkinan
terlibatnya kuman anaerob.
Secara Klinis osteomyelitis disebut juga suatu infeksi tulang yang dimulai dari kavitas
medula dan sistem Havers, melibatkan tulang kanselus kemudian menyebar ke dalam tulang
kortikal dan akhirnya mencapai periosteum tulang. Invasi bakteri ke tulang kanselus, yang
dikarenakan oleh inflamasi dan oedema pada rongga sumsum tulang, sebagai akibatnya
terjadi tekanan yang berlebihan pada pembuluh darah sehingga terjadi gangguan suplai darah
di dalam tulang. Terjadinya kegagalan mikrosirkulasi pada tulang kanselus merupakan faktor
utama terjadinya osteomielitis, karena daerah yang terlibat menjadi iskemia, tulang menjadi
nekrose dan akhirnya terjadi sequester yang merupakan tanda umum dari osteomielitis.
Osteomyelitis rahang adalah suatu infeksi yang ekstensif pada tulang rahang, yang
mengenai spongiosa, sumsum tulang, kortex, dan periosteum. Infeksi terjadi pada bagian
tulang yang terkalsifikasi ketika cairan dalam rongga medullary atau dibawah periosteum
mengganggu suplai darah. Tulang yang terinfeksi menjadi nekrosis ketika ischemia
terbentuk.
Osteomyelitis lebih banyak dijumpai pada mandibula daripada maksila. Alasan
utamanya adalah karena suplai darah pada maksila lebih banyak dan darah didapatkan dari
beberapa arteri, dimana darah didapat dari saluran pembuluh darah yang kompleks. Suplai
darah utama pada mandibula hanya berasal dari arteri alveolaris inferior dan tulang kortikal
mandibula lebih tebal sehingga mencegah penetrasi dari pembuluh darah ke dalam periosteal
tulang dan tulang kanselus mandibula lebih mudah mengalami iskemik jika terinfeksi.
Beberapa faktor etiologi terjadinya osteomielitis, seperti luka karena trauma, radiasi
dan bahan-bahan kimia, dapat menyebabkan inflamasi pada rongga medula tulang, meskipun
osteomielitis akut dan kronis sekunder secara umum disebabkan oleh mikroorganisme
piogenik.
Komplikasi yang terjadi akibat osteomyelitis, serupa dengan komplikasi yang
disebabkan oleh infeksi odontogen, dapat merupakan komplikasi ringan sampai terjadinya
kematian akibat septicemia, pneumonia, meningitis dan thrombosis pada sinus kavernosus.
Diagnosis yang tepat amat penting untuk pemberian terapi yang efektif, sehingga dapat
memberikan prognosis lebih baik.



























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Istilah osteomyelitis pada literatur berarti inflamasi sumsum tulang. Secara klinis,
osteomyelitis biasanya diartikan infeksi tulang. Dimulai dari cavitas medulla (medullary
cavity), melibatkan tulang spongiosa (concellous bone) yang kemudian meyebar ke tulang
kortikal bahkan sampai ke periosteum. Osteomyelitis dental atau disebut osteomyelitis rahang
adalah keadaan infeksi akut atau kronik pada tulang rahang, biasanya disebabkan karena
bakteri.

2.2. Klasifikasi
Bertahun-tahun banyak cara untuk menemukan klasifikasi osteomyelitis. Sistem
klasifikasi yang paling kompleks ditemukan oleh Cierny,dkk. Osteomyelitis diklasifikasikan
berdasarkan suppurative dan nonsuppurative oleh Lewd van Waldvogel. Klasifikasi ini
kemudian di modifikasi oleh Topazian:

Ostemomyelitis Supuratif Osteomyelitis Nonsupuratif
Osteomyelitis Supuratif Akut Osteomyelitis Sclerosis Kronik
- Fokal
- Difus
Osteomyelitis Supuratif Kronis
- Primer
- Sekunder
Osteomyelitis Garre
Osteomyelitis pada anak Osteomyelitis Aktinimikosa
Osteomyelitis Radiasi





Sistem lainya dikemukakan oleh Hudson yang membagi osteomyelitis menjadi bentuk akut
dan kronis :
Acute Osteomyelitis Chronic Osteomyelitis
Contigos focus Reccurent multifocal
Progressive Garres
Hematogenous Suppurative / nonsuppurative
Sclerosing

2. 3 Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi utamanya ialah fraktur manndibula dan didahului oleh infeksi
odontogenik. Dua kejadian menyebabkan infeksi pada tulang kecuali jika ketahanan tubuh
host mengalami gangguan seperti alcoholism malnutritional syndrome, diabetes, kemoterapi
penyakit kanker yang dapat menurunkan sistem imun pada seseorang, penyakit
myeloproliferative seperti leukemia. Pengobatan yang berhubungan dengan osteomyelitis
adalah steroid, agen kemoterapi, dan biosphonate. Kondisi lokal yang kurang baik
mempengaruhi suplai darah dapat menjadi predisposisi host pada infeksi tulang. Terapi
radiasi, osteopetrosis, dan pathologi tulang dapat memberikan kedudukan yang potensial bagi
osteomyelitis.

2.4 Etiopatogenesis
Penyebab utama : infeksi pada jaringan pulpa atau periapikal.
Penyebab sekunder: Trauma,terutama pada compound fraktur yang tidak dirawat.
Penyebab lain : infeksi dari periostitis setelah ulcer gingiva, lymphnodes, furunkel
yang terinfeksi atau laserasi.
Kondisi sistemik yang dapat mengubah resistensi host dan mempengaruhi penyebaran
penyakit :
- Diabetes Mellitus, gangguan autoimun, agranulositosis, anemia terutama
sickle cell,,leukimia, AIDS, syphilis, malnutrisi, kemoterapi untuk penderita
kanker,pengguna obat steroid.
- Pecandu alkohol dan pengguna tobacco biasanya mudah berhubungan
dengan osteomyelitis.
Kondisi yang mengubah vaskularisasi tulang. Kondisi yang dimaksud adalah: radiasi,
osteoporosis, osteopetrosis, keganasan pada tulang, dan nekrosis tulang yang
disebabkan oleh merkuri, bismuth, dan arsenik.

Mikrobiologi

- Staphylococcus sp
- Bakteri anaerobik (umumnya bakteriodes dan peptostreptococcus) dan
- Streprococcous sp
Lebih sering infeksi ini disebabkan oleh lebih dari dua jenis bakteri.

Kaitan fraktur dengan Osteomyelitis

o Open/ compound Fraktur = Luka yg terbuka Kontak dgn lingkungan luar
Mikroba masuk ke aliran darah Menyebar sampai ke tulang
osteomyelitis
o Close/simple fraktur= Bisa terjadi infeksi jika melakukan perawatan open
reduksi dimana terjadi kontak dengan lingkungan luar Masuk ke aliran
darah Infeksi sampai ke tulang osteomyelitis

Sebaliknya osteomyelitis kronis bisa menyebabkan fraktur. Karena Dalam keadaan
kronis dapat menyebabkan resorbsi tulang alveolar yang melibatkan jaringan tulang
cukup besar sehinggamenyebabkan fraktur.

Empat faktor utama yang bertanggung jawab untuk invasi bakteri ke rongga medullar
dan tulang kortikal dan menyebabkan infeksi :
1 . Jumlah patogen
2 . Virulensi pathogen
3 . Lokal dan sistemik imunitas inang


4 . Perfusi jaringan lokal



Penyebab utama yang paling sering dari osteomyelitis adalah penyakit-penyakit
periodontal (seperti gingivitis, pyorrhea, atau periodontitis, tergantung seberapa berat
penyakitnya). Bakteri yang berperan menyebabkan osteomyelitis sama dengan yang
menyebabkan infeksi odontogenik, seperti streptococcus, anaerobic streptococcus seperti
Peptostreptococcus spp, dan batang gram negative genus Fusobacterium dan Prevotella.
Cara membedakan osteomyelitis mandibula dengan osteomyelitis pada tulang lain ialah dari
pus yang mengandung Staphylococcus sehingga staphylococci merupakan bakteri
predominan.
Penyebab osteomyelitis yang lain adalah tertinggalnya bakteri di dalam tulang rahang
setelah dilakukannya pencabutan gigi. Ini terjadi karena kebersihan operasi yang buruk pada
daerah gigi yang diekstraksi dan tertinggalnya bakteri di dalamnya. Hal tersebut
menyebabkan tulang rahang membentuk tulang baru diatas lubang sebagai pengganti
pembentukan tulang baru didalam lubang, dimana akan meninggalkan lubang kosong pada
tulang rahang (disebut kavitas). Kavitas ini ditemukan jaringan iskemik (berkurangnya
vaskularisasi), nekrotik, osteomyelitik, gangrene dan bahkan sangat toksik. Kavitas tersebut
akan bertahan, memproduksi toksin dan menghancurkan tulang disekitarnya, dan membuat
toksin terrimbun dalam sistem imun. Bila sudah sampai keadaan seperti ini maka harus
ditangani oleh ahli bedah mulut.
Penyebab umum ketiga dari osteomyelitis dental adalah gangrene radix. Setelah gigi
menjadi gangrenn radix yang terinfeksi, diperlukan satu prosedur pengambilan, etapi
seringnya tidak komplit diambil dan tertinggal didalam tulang rahang, selanjutnya akan
memproduksi toksin yang merusak tulang dan sekitarnya sampai gigi dan tulang nekrotik
disekitarnya hilang.
Pada pembedahan gigi, trauma wajah yang melibatkan gigi, pemakaian kawat gigi,
atau pemasangan kawat lain yang berfungsi sebagai jembatan yang akan membuat tekanan
pada gigi (apapun yang dapat menarik gigi dari socketnya) dapat menyebabkan bermulanya
osteomyelitis.
Selain penyebab osteomyelitis diatas, infeksi ini juga bisa disebabkan trauma berupa
patah tulang yang terbuka, penyebaran dari stomatitis, tonsillitis, infeksi sinus, furukolosis
maupun infeksi yang hematogen (menyebar melalui aliran darah). Inflamasi yang disebabkan
bakteri pyogenin ini meliputi seluruh stuktur yang membentuk tulang, mulai dari medulla,
kortex da periosteum da semakin parah pada keadaan penderita dengan daya tahan tubuh
rendah.


Invasi bakteri pada tulang spongiosa menyebabkan inflamasi dan edema dirongga
sumsum (marrow spaces) sehingga menekan pembuluh darah tulang dan selanjutnya
menghambat suplai darah. Kegagalan mikrosirkulasi pada tulang spongiosa merupakan faktor
utama terjadinya osteomyelitis, karena area yang terkena menjadi iskemik dan tulang
bernekrosis. Selanjutnya bakteri berproliferasi karena mekanisme pertahanan yang banyak
berasal dari darah tidak sampai pada jaringan dan osteomyelitis akan meyebar sampai
dihentikan oleh tindakan medis. Pada region maxillofasial, osteomyelitis terutama terjadi
sebagai hasil dari penyebaran infeksi odontogenik atau sebagai hasildari trauma.
Hematogenous osteomyelitis primer langka dalam region maxillofasial, umumnya terjadi
pada remaja. Proses dewasa diinisiasi oleh suntikan bakteri kedalam tulang rahang. Ini dapat
terjadi dengan ekstraksi gigi, terapi saluran akar atau fraktur mandibula/maksila. Awalnya
menghasilkan dalam bakteri yang diinduksi oleh proses inflamasi. Dalam tubuh host yang
sehat, proses ini dapat self-limiting dan component dapat dihilangkan. Terkadang dalam host
normal dan compromised host, hal ini potensial untuk proses dalam kemajuan kepada titik
dimana mempertimbangkan patologik. Dengan inflamasi, terdapat hyperemia dan
peningkatan aliran darah ke area yang terinfeksi. Tambahan leukosit didapat kearea ini untuk
melawan infeksi. Pus dibentuk ketika suplai bakteri berlimpah dan debris sel tidak dapat
dieliminasi oleh mekanisme pertahanan tubuh. Ketika pus dan respon inflamasi yang
berikutnya terjadi di sumsum tulang, tekanan inttramedullary ditingkatkan dibuat dengan
menurunkan suplai darah ke region ini. Pus dapat berjalan melewatti haversian dan
volkmanns canal untuk menyebarkan diseluruh tulang medulla dan cortical. Point terakhir
yang terjadi adalah ketika pus keluar jaringan lunak dan intraoral atau ektraoral fistulas.
Walaupun maksila dapat terkena osteomyelitis, hal itu sangat jarang bila
dibandingkan dengan mandibula. Alas an utamanya adalah bahwa peredaran darah menuju
maksila lebih banyak dan terbagi atas beberapa arteri, dimana membentuk hubungan
kompleks dengan pembuluh darah utama. Dibandingkan dengan maksila, mandibula
cendrung mendapat suplai darag dari arteri alveolar inferior. Alas an lainnya adalah padatnya
overlying cortical bone mandible mengambat penetrasi pembuluh daerah periosteal.

2.5. Gejala Klinis
Gejala awalnya seperti sakit gigi dan terjadi pembengkakan disekitar pipi, kemudian
pembengkakan ini mereda, selanjutnya penyakitnya bersifat kronis membentuk fistel kadang
tidak menimbulkan sakit yang membuat menderita.
Pasien dengan osteomyelitis region maxillofacial dapat memperlihatkan gejala klasik,
yaitu:
- Sakit
- Pembengkakan dan erythema dari overlying tissues
- Adenophaty
- Demam intermittent
- Paresthesia pembuluh darah alveolar inferior
- Gigi goyang
- Trismus
- Malaise
- Fistulas/fistel (saluran nanah yang bermuara dibawah kulit )

Pada pemeriksaan fisik, bekas luka atau kelainan pada penyembuhan luka dapat
dicatat sebagai tanda dari inflamasi. Jarak pergerakan (range of motion), deformitas, dan
tanda lokal seperti gangguan vaskularisasi dapat dilihat pada ekstremitas yang bersangkutan.
Diagnosis dari osteomyelitis dapat ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan penunjang
seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, biopsi tulang. Pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan mencakup hematologi lengkap, kultur darah. Untuk
pemeriksaan radiologi dapat dilakukan foto rontgen, CT scan, MRI, bahkan kedokteran
nuklir. Biopsi tulang yang dilakukan umumnya adalah open bone biopsy dengan pemeriksaan
histopatologik untuk menentukan organisme penyebab osteomyelitis.
Pada osteomyelitis akut sering terjadi pembengkakan dan erythema jaringan. Demam
sering muncul dalam osteomyelitis akut. Paresthesia inferior alveolar nerve adalah tanda
klasik dari tekanan pada inferior alveolar nerve dari proses inflamasi dalam tulang medulla
mandibula. Trismus mungkin ada jika ada respon inflamasi dalam otot mastikasi dari region
maxillofacial. Pasien biasanya malaise dan lelah, yang akan menyertai beberapa infeksi
sistemik. Akhirnya baik intraoral maupun ektraoral, fistulas bisa terjadi pada fase kronik
osteomyelitis region maxillofacial.
Pada fase akut osteomyelitis, terlihat leukocytosis dengan left shift, bisa alam
beberapa infeksi akut. Leukocytosis relative banyak dalam fase kronis osteomyelitis. Pasien
juga mungkin menunjukan erythrocyte sedimentation rate (ESR) dan C-reactive protein
(CRP) yang tinggi. Baik ESR maupun CRP adalah indicator yang sangat sensistif dari
inflamasi tubuh dan sangat tidak spesifik. Oleh karena itu, keduanya digunakan mengikuti
kemmajuan klinis osteomyelitis.
Acute suppurative osteomyelitis menunjukan perubahan radiograffik yang sedikit atau
tidak sama sekali, sebab membutuhkan 10-12 hari untuk dapat melihat perubahan kerusakan
tulang secara radiografi. Chronic osteomyelitis menunjukan destruksi tulang pada area yang
terinfeksi. Hal ini ditandai dengan banyaknya darah daerah radiolusen yang bentuknya
biasanya seragam. Juga bisa terdapat daerah radiopak didalam daerah radiolusen. Daerah
radiopak ini seperti sebuah pulau yang merupakan tulang yang tidak mengalami resorbsi yang
disebut sequestra (moth-eaten appearance).

2.6 Pengobatan
Terapi osteomyelitis terdiri dari medis dan pembedahan. Acute osteomyelitis rahang
utamanya diobati dengan pemberian antibiotic yang sesuai. Antibiotika ditentukan
berdasarkan hasil pemeriksaan sensitivitas bakteri, dan selama menunggu sebelum ada
hasilnya, dapat diberikan penisilin sebagai drug of choice. Bila pasien menderita
osteomyelitis akut yang hebat, perlu dirawat inap untuk dapat diberikan antibiotika intra
vena. Pilihan antibiotic biasanya clindamycin, karena sangat efektif melawan streptococci
dan bakteri anaerob yang biasanya ada pada osteomyelitis.
Pembedahan pada acute suppurative osteomyelitis biasanya terbatas. Biasanya hanya
dilakukan pencabutan gigi yang nonvital pada sekitar daerah yang terinfeksi. Terapi pada
chronic osteomyelitis membutuhkan tidak hanya antibiotic tetapi juga terapi pembedahan.
Clindamycin merupakan pilihan obat utama. Mengkultur material penginfeksi juga sebaiknya
dilakukan agar dapat diberikan antibiotic yang lebih spesifik.
Pemberian antibiotic pada terapi untuk akut dan kronis osteomyelitis ini lebih lama
dibandingkan infeksi odontogenik yang biasa. Untuk akut osteomyelitis yang ringan,
antibiotic diberikan hingga 4 minggu. Akan tetapi akut osteomyelitis berat, antibiotic terus
diberikan hingga 6 bulan.

2.6.1 Osteomyelitis supuratif akut
Pengelolaannya terdiri dari :
a. Pengobatan antibiotika yang efektif
Obat harus diberikan secepat mungkin dengan dosis massif secara parenteral.
Mikroorganisma penyebab diperiksa sensitifitasnya. Sebelum ada hasil tes, Penisilin dapat
diberikan sebagai obat pilihan pertama. Lama pemberian antibiotika tidak terbatas, waktu
yang definitive biasanya selama 2 minggu dan diteruskan sesuai dengan keparahan
penyakitnya.
b. Drainase
Pada fase akut dilakukan pengompresan panas dapat mempercepat terlokalisasinya
infeksi. Sealiknya kompres dingin merupakan kontra indikasi. Drainase harus segera dibuat
untuk mengeluarkan pus sehinga mengurangi rasa sakit, mengurangi absorbsi bahan-
bahantoksik dan mencegah penyebaran infeksi. Tindakan ini tidak diperkenankan tanpa
perlindungan antibiotika, bila mungkin antibiotika diberikan selama 3 hari sebelum dilakukan
tindakan drainase. Drainase dapat berupa pencabutan gigi yang terlibat, insisi pada daerah
yang tidak bergigi diikuti dengan pemasangan drain karet untuk memberikan jalan pus.
Perawatan selanjutnya adalah irigasi dengan larutan garam fisiologis hangat dan penggantian
drain setiap hari.
c. Pengobatan Suportif
Sebaiknya penderita dirawat inap agar dapat istirahat cukup, diet makanan tinggi
katlori protein dan polivitamin yang memadai. Pemberian infuse NaCl dan dektrose serta
transfuse darah bila diperlukan.
d. Sequesterektomi
Tindakan ini dilakukan bila sequester telah benar-benar tampak pada gambaran
radiologist atau penyakit ini sudah menjadi kronis.

2.6.2 Osteomyelitis supuratif kronis
Pada osteomyelitis supuratif kronis yang menjadi masalah adalah adanya sequester di
dalam tulang yang persisten dan tidak bias dicapai antibiotic secara sistemik. Karena itu harus
dilakukan tindakan sequesterektomi, kadang-kadang diikuti tindakan sauserisasi atau bone
graft.
Pengobatan dan pengelolaanya sebagai berikut :
a. Perawatan prabedah
Biasanya keadaan umum penderita sudah jauh lebih baik daripada waktu dalam
keadaan akut. Pengobatan umum sebelumnya sudah diberikan menjelang dilakukan
pembedahan. Antibiotika diberikan sebelumnya untuk mencegah penyebaran penyakit.
b. Prosedur pembedahan
Pada rahang bawah insisi intraoral dapat dilakukan dan cukup memadai bila penyakit
hanya mengenai tulang alveolar saja. Insisi dibuat pada gingival kemudian gingival
dipisahnkan dari tulang, jaringan tulang yang nekrotik diangkat bersama gigi yang terlibat,
bekas luka dibersihkan dan diirigasi kemudian ditutup jahitan. Fistula yang ada mulai dari
muara sampai seluruh salurannya dieksisi. Penutupan luka operasi bias dijahit rapat bila
sequester kecil dan tidak memerlukan drainase. Bila luka besar diperlukan drainase dengan
karet yang dimasukkan ke dalam bekas sequester untuk keluarnya pus.
Bila penyakit melibatkan tepi bawah korpus mandibula insisi ekstra oral diperlukan, diatas
kulit, 1 cm dibawah tepi tulang. Jaringan granulasi dan jaringan nekrotik dibersihkan dengan
kuret sampai tulang sehat terasa dan terlihat. Tindakan lainya yang mungkin adalah
sausarisasi yaitu tindakan untuk menghilangkan kavitas yang besar dengan jalan membuang
dinding kavitas bekas sequester yang overhange sehinga pada penutupan luka, periosteum
dan jaringan lunak dapat berkontak dengan tulang untuk mempercepat penyembuhan. Luka
operasi ditutup lapis demi lapis secara anatomis dengan jahitan primer. Pemasangan drain
diperlukan pada luka yang besar dimana masih ada supurasi, dan jaringan nekrotik.
c. Perawatan pasca bedah
Pemberian antibiotika diteruskan paling sedikit 10 hari sampai 2 mingu atau lebih
lama bila ternyata tanda-tanda infeksi masih ada. Pada pembedahan mandibula ini, rahang
diimobilisasi dengan elastic bandage dan dihindari makanan padat. Bila dipasang drain karet,
drain ini diambil pada hari ke dua jika hanya terdapat cairan serosanguinus. Tetapi jika cairan
pus, drain dipertahankan sampai cairan berhenti keluar.

2.7 Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi karena osteomyelitis rahang bawah antara
lain :
- Parestesi bibir bawah unilateral karena penyebaran infeksi pada nervus alveolaris
inferior
- Fraktur patologis, karena kerusakan tuang sudah sedemikian besarnya.
- Bila penyakit mengenai ramus ascendens dan melibatkan kondilus, akan terjadi
deviasi kea rah sisi yang terkena.
- Komplikasi yang lebih parah adalah terbentuknya thrombus yang sepsis, sehingga
dapat mengakibatkan septicemia, dan penderita dapat meninggal.

2.8 Prognosis
Prognosa osteomyelitis tergantung dari diagnosa yang tepat, daya tahan tubuh
penderita, pemberian antibiotic yang tepat, perawatan yang sempurnya serta luasnya
penjalaran penyakit.
















Bab III
KESIMPULAN
Osteomyelitis keadaan inflamasi pada tulang yang diawali dengan infeksi pada rongga
medulla dan sistem havers kemudian meluas kebagian periosteum ke bagian yang
mengalami kerusakan.
Osteomyelitis dibagi menjadi osteomyelitis supuratif dan nonsupuratif.
Faktor penyebab osteomyelitis adalah Jumlah patogen, Virulensi pathogen, Lokal dan
sistemik imunitas inang, Gangguan perfusi lokal.
Penyebab-penyebab utama osteomyelitis dental adalah penyakit-penyakit periodontal,
tertinggalnya bakteri di dalam tulang rahang setelah dilakukannya pencabutan gigi,
gangrene radix.
Terapi osteomyelitis terdiri dari medis dan pembedahan. Acute osteomyelitis rahang
utamanya diobati dengan pemberian antibiotic yang sesuai. Terapi pada chronic
osteomyelitis membutuhkan tidak hanya antibiotic tetapi juga terapi pembedahan.
Prognosa osteomyelitis tergantung dari diagnosa yang tepat, daya tahan tubuh penderita,
pemberian antibiotic yang tepat, perawatan yang sempurnya serta luasnya penjalaran
penyakit.
















DAFTAR PUSTAKA
Balaji, SM. Textbook of oral and maxillofacial surgery. New Delhi : Elsevier, 2007. p. 137-
141.
Petersons principles of oral and maxillofacial surgery. Second Edition. Ontario : BC Decker
Inc; 2004. p. 313-8.
Fragiskos, FD. Oral surgery. Berlin : Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 2007. p. 360-1.
Retrieved may 16, 2014, from http://www.share-
pdf.com/2014/1/17/6f3ab01e016a4d9d80bc72fdf484c342/125890897-Osteomyelitis-
Rahang.htm
Retrieved may 16, 2014, from
http://ikextx.weebly.com/uploads/4/6/9/3/469349/osteomyelitis_ind.doc
Retrieved may 16, 2014, from
http://www.scribd.com/document_downloads/direct/134877642?extension=pdf&ft=1
400244120&lt=1400247730&user_id=249445334&uahk=OeqVl6DXqYj7jM8yBO7J
JeONP5Y
Retrieved May 16, 2014, from http://www.exodontia.info/Osteomyelitis.html
Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara. Retrieved may 16, 2014, from
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29710/3/Chapter%20II.pdf
Baltensperger, M., & Gerold Eyrich. (2009). Osteomyelitis of the Jaws: Definition and
Classification. In M. Baltensperger, & G. Eyrich, Osteomyelitis of the Jaws. Springer.

Anda mungkin juga menyukai