Anda di halaman 1dari 3

Para Aktor dan Peranannya dalam Hubungan Internasional

Hubungan Internasional memiliki tiga esensi utama yang menjadi identitas Hubungan
Internasional itu sendiri dan membedakannya dari studi ilmu yang lain. Tiga esensi tersebut
adalah actor, interest, dan power.
Kemunculan actor dalam hubungan internasional dilatarbelakangi adanya kompleksitas
permasalahan dan kebutuhan yang ada pada dunia internasional saat ini, dapat kita ambil
contoh bagaimana perkembangan yang terjadi pada dunia industri , banyak negara
berkembang yang sangat bergantung pada negara negara maju karena kemajuan industri
mereka.
Actor merupakan pelaku dalam Hubungan Internasional atau dapat dikatakan actor
merupakan subjek utama dalam Hubungan Internasional. Actor memiliki peran penting dalam
Hubungan Internasional karena actor inilah yang menjalankan peran-peran penting dalam
aktivitas Hubungan Internasional, misalnya negosiasi dan diplomasi. Walaupun peran actor
ini sangat penting tetapi kita tidak dapat mengabaikan peran dari esensi Hubungan
Internasional yang lain, yakni interest dan power karena ketiga esensi tersebut saling
berakaitan satu sama lain.
Lalu siapa actor dalam Hubungan Internasional? Ada dua paham yang berbeda dalam
menjwab pertanyaan ini. Yang pertama adalah paham realis yang berpandangan bahawa
negara memegang peranan utama dalam menjalankan Hubungan Internasional. Yang kedua
adalah paham liberalis yang berpandangan bahwa negara bukan satu-satunya aktor dalam
Hubungan Internasional. Para pelaku Hubungan Internasional yang paling dasar adalah
Negara. Negara bisa jadi aktor yang paling penting dalam Hubungan Internasional, tetapi
mereka sangat bergantung, terbatasi dan dipengaruhi oleh aktor bukan negara (Goldstein,
2005 : 12). Jadi ada dua pelaku dalam Hubungan Internasional yaitu state actor(negara) dan
non state actor (aktor bukan negara).
Negara memiliki peran penting dalam Hubungan Internasional karena negara lah yang
menjalankan pemerintahan dan menentukan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan
hubungan suatu negara dengan negara lain. Misalnya saat pemerintah Indonesia
mengeluarkan kebijakan politik bebas aktif, kebijakan ini sangat mempengaruhi hubungan
Indonesia dengan negara-negara lain. Negara juga memiliki perwakilan secara resmi untuk
menjalankan Hubungan Internasional yaitu Presiden yang memiliki kewenangan untuk
membuat kebijakan-kebijakan luar negeri dan duta besar di negara lain. Duta besar inilah
yang akan memperkenalkan suatu negara ke dunia internasional secara resmi. Duta besar juga
akan mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan suatu negara dengan
negara lain. Sebenarnya perwakilan negara itu tidak hanya duta besar saja tetapi semua pihak
yang mendapatkan tugas dari negara untuk menjalankan Hubungan Internasional. Perwakilan
negara ini baik duta besar, diplomat maupun untusan negara yang lain memiliki tujuan yang
sama yaitu mempertahankan pertahanan dan keamanan negara. Jadi negara memiliki peran
yang bersifat dominan.
Aktor bukan negara adalah para pelaku Hubungan Internasional yang tidak terlibat dalam
pemerintahan, misalnya perusahaan multinasional. Aktor bukan negara tidak memiliki
kewenangan untuk membuat kebijakan yang menentukan bagaimana suatu negara
berhubungan dengan negara lain tetapi aktor bukan negara justru memiliki peran yang lebih
dirasakan efeknya oleh orang banyak dan bersinggungan langsung dengan kehidupan
khalayak umum. Aktor bukan negara menyediakan banyak akses dalam berbagai bidang.
Contohnya akses transportasi, ekonomi, dan komunikasi.
Seperti yang kita ketahui bahwa aktor-aktor dalam Hubungan Internasional tidak hanya
mencakup pada lingkup pemerintahan saja. Dalam hal ini, perusahaan transnasional yang
dikategorikan dalam non-governmental organizations bisa menjadi aktor pula dalam dunia
Hubungan Internasional. Perusahaan transnasional atau yang lebih disingkat dengan sebutan
TNCs adalah perusahaan yang terlibat banyak di dalam bisnis internasional dimana sistem
pengelolaannya di setiap negara dilakukan secara mandiri, contohnya adalah pabrik Nestle.
Dalam hal ini, pembukaan cabang di seluruh dunia dianggap dapat menekan cost sehingga
akan menghasilkan keuntungan yang lebih banyak. Oleh sebab itulah, seluruh perusahaan-
perusahaan yang bergerak dibidang import dan export pasti terlibat dalam kegiatan ekonomi
transnasional (Willets, 2001 : 362).
Adanya beberapa peran dari perusahaan transnasional jika di tinjau dari aspek ekonomi yang
salah satunya adalah membangun kerjasama dibidang ekonomi suatu negara dengan negara
lainnya sehingga menimbulkan sifat ketergantungan antar kedua negara. Tetapi seiring
dengan perkembangan zaman, peran perusahaan transnasional tidak hanya berkembang pada
sektor ekonomi saja tetapi mulai masuk pada sektor politik.
Dalam hal ini, banyak sekali peran yang mendalam dari semakin meluasnya kinerja
perusahaan transnasional apabila dibandingkan dengan pemerintah. Berikut adalah peran-
peran dari TNCs. Pertama, kemampuan TNCs untuk mengubah harga pengalihan memberi
arti bahwa mereka dapat menghindari pajak atas kontrol pemerintah terhadap transaksi
keuangan internasional. Kedua, kemampuan TNCs untuk menggunakan triangulasi memberi
arti masing-masing pemerintah tidak bisa mengendalikan perdagangan internasional di
negara mereka. Apabila salah satu dari pihak pemerintahan memaksa untuk melakukan
boikot terhadap suatu perdagangan, ini akan mustahil bagi pemerintah sendiri untuk
mencegah adanya pergerakan informasi dari orang-orang yang ingin melakukan tujuan bisnis
(Willets, 2001 : 364). Terakhir adalah kemampuan TNCs untuk terlibat dalam peraturan
arbitrase, dengan cara memindahkan produksi dari satu negara ke negara lain, dalam hal ini
masing-masing pemerintah dibatasi dalam urusan mengatur perusahaan.
Organisasi antar negara merupakan kerjasama antara dua negara atau lebih untuk memenuhi
kepentingan negara itu sendiri. Contohnya ASEAN. ASEAN beranggotakan negara-negara di
Asia Tenggara dan memiliki tujuan untuk menciptakan stabilitas keamanan, ekonomi, dan
politik di kawasan Asia Tenggara meskipun tak dapat dipungkiri bahwa setiap negara
memiliki ego untuk memenuhi kebutuhan negaranya masing-masing.
Etnonasionalist merupakan etnis yang menginginkan untuk berdiri sendiri dan lepas dari
kewenangan negara. Hal ini sangat berbahaya bagi suatu negara karena dapat mengancam
kesatuan negara itu sendiri. Contoh dari etno-nasionalisme adalah etnik Kurdi di Turki.
Seringkali kelompok etnonasionalist ini kemudian memunculkan adanya gerakan teroris.
Gerakan terorisme menggunakan kekerasan dan bentuk-bentuk ancaman lain untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai notabene bersifat negatif,
menciptakan perpecahan serta menganggap ideologi kelompoknya adalah absolut benar.
Contoh dari gerakan teroris misalnya gerakan Mujahidin di Maroko.
Gerakan keagamaan merupakan salah satu aktor bukan negara yang menjadikan agama
sebagai dasar. Yang menjadi masalah adalah bahwa di dunia ini terdapat banyak agama yang
memiliki kepercayaan yang berbeda-beda. Setiap agama tentunya menganggap bahwa agama
nya lah yang paling benar. Sehingga gerakan keagamaan ini menimbulkan konflik tersendiri.
Contoh dari gerakan keagamaan adalah Al Qaeda.
Individu juga merupakan aktor dalam Hubungan Internasional. Tanpa kita sadari kita adalah
aktor dalam Hubungan Internasional, yang mampu terlibat baik menjadi state actor maupun
non state actor yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam peranan menjadi state actor, kita
berkecimpung dalam pemerintahan untuk mewakili negara kita dalam melakukan interaksi
global, baik menganalisis, bernegosiasi, maupun berdiplomasi yang dilakukan dalam skala
internasional. Contoh konkritnya adalah duta besar atau diplomat. Sedangkan contoh peran
individu yang termasuk dalam non state actor adalah partisipasi kita dalam interaksi
internasional melalui perusahaan non pemerintahan yang berkecimpung misalnya dalam
bidang ekonomi, ekspor-impor, dsb. Honda, Nokia, Samsung, adalah beberapa contoh
perusaahan internasional dimana jika kita menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan
internasional, kita otomatis memiliki peran individu dalam Hubungan Internasional.
Jadi dapat disimpulkan bahwa para pelaku (actor) dalam Hubungan Internasional, baik state
actor (negara) maupun non state actor (aktor bukan negara) memiliki peran yang penting
dalam menjalankan Hubungan Internasional. Keduanya menjalankan perannya dalam bidang
dan skala yang berbeda tetapi saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Tujuan yang
secara umum ingin diraih oleh keduanya yaitu menjadikan Hubungan Internasional sebagai
suatu akses untuk mewujudkan kepentingan bersama dan memecahkan masalah-masalah
global.




Referensi :
Minix, Dean A. & Hawley, Sandra M. (1998) Global Politics. West/Wadsworth, [Chapter 4].
Willets, Peter. (2001) Transnational Actors and International Organizations in Global
Politics in Baylis, John & Smith, Steve (eds) (2001) The Globalization of World Politics,
2nd edition, Oxford University Press. [Chapter 17]
Goldstein, Joshua S. 2005. International Relations. Pearson/Longman.