Anda di halaman 1dari 11

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,

Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 1



UNSTABLE ANGINA PECTORIS
NAMA : ADIBAH HAMRAN
NIM : 102009280
KELOMPOK : A7
ALAMAT KORESPONDENSI: FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
KRISTEN KRIDA WACANA , JL. TERUSAN ARJUNA NO.6 JAKARTA 11510

PENDAHULUAN
Angina pectoris adalah suatu sindroma yang ditandai dengan rasa tidak enak yang
berulang di dada dan daerah lain sekitarnya yang berkaitan yang disebabkan oleh ischemia
miokard tetapi tidak sampai terjadi nekrosis. Rasa tidak enak tersebut biasanya berkisar 1
15 menit di daerah retrosternal, tetapi dapat juga menjalar ke rahang, leher, bahu,
punggung dan lengan kiri dan sering kali digambarkan sebagai rasa tertekan, rasa terjerat,
rasa kemeng, rasa penuh, rasa terbakar, rasa bengkak dan rasa seperti sakit gigi. Kadang-
kadang keluhannya dapat berupa cepat lelah, sesak nafas pada saat aktivitas, yang
disebabkan oleh gangguan fungsi akibat ischemia miokard. Umumnya angina terbagi
kepada dua yaitu stable dan unstable. Bedanya adalah pada unstable angina pectoris,
serangan bisa terjadi pada waktu istirahat.
1

PERBAHASAN
1. PEMERIKSAAN
1.1.ANAMNESIS
Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui
riwayat penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan
teliti, teratur dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari
anamnesis untuk menegakkan diagnosis.
Anamnesis yang baik terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat obstetri dan ginekologi (khusus
wanita), riwayat penyakit dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 2

anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-
obatan, lingkungan).
Pada kasus didapatkan seorang laki-laki 56 tahun merasakan nyeri di dada
kirinya sejak 5 jam yang lalu. Nyeri seperti ditusuk-tusuk terutama timbul saat
bekerja dan disertai keringat dingin, pasien juga merasa mual dan muntah. Pasien
mempunyai riwayat darah tinggi dan seorang perokok.
1.2.PEMERIKSAAN FISIK
TD : 180/90mmHg, FN : 82x/menit, suhu : afebris, FP : 20x/menit.
1.3.PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto rontgen dada
Foto rontgen dada sering menunjukkan bentuk jantung yang normal. Dari hasil
rontgen dapat dilihat apakah adanya cardiomegali kadang-kadang tampak
adanya pengapuran pembuluh darah aorta.
2. Elektrokardiogram (EKG)
Gambaran EKG saat istirahat dan bukan pada saat serangan angina sering
masih normal. Hasil EKG yang dilakukan pada pasien adalah seperti berikut :

Dari hasil EKG didapatkan, irama jantung sinus, frekuensi 75x/menit,
gelombang P normal, aksis jantung berada pada posisi normal dan tidak
ditemukan hipertrofi ventrikel.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina
pektoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis serangan jantung
akut sering dilakukan pemeriksaan enzim jantung. Enzim tersebut akan
meningkat kadarnya pada serangan jantung akut sedangkan pada angina
kadarnya masih normal.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 3

4. Pemeriksaan Treadmill
Pemeriksaan ini tujuannya adalah untuk memicu angina. Ada yang
menggunakan treadmill ada juga yang menggunakan sepeda. Umumnya
treadmill dimulai pada kecepatan yang rendah dan permukaan datar, setelah itu
kecepatan akan ditambah setiap 2 sampai 3 menit pada permukaan yang miring
(menanjak). Pemeriksaan akan dihentikan jika pasien mulai merasa sakit atau
jika ada perubahan EKG yang signifikan atau tentu saja jika anda menjadi letih
atau sesak napas. Treadmill memberikan 2 buah informasi penting kepada
dokter. Pertama, jika treadmill memicu sakit dan menunjukan perubahan EKG,
maka itu mengkonfirmasikan angina. Kedua, jika pasien dapat melakukan
treadmill cukup lama sebelum merasa sakit, itu menandakan adanya angina
ringan dan mungkin pemeriksaan selanjutnya tidak diperlukan.
2


2. DIAGNOSIS KERJA
Unstable angina pectoris dipilih sebagai diagnosis kerja karena pasien juga mendapat
serangan pada waktu istirahat. Unstable angina pectoris merupakan gejala yang lebih
parah dan kurang dapat diprediksi daripada pola-pola dari stable angina. Lebih dari
itu, nyeri-nyerinya lebih sering, berlangsung lebih lama, dan dapat terjadi pada waktu
istirahat. Unstable angina tidaklah sama seperti serangan jantung, namun ia
memerlukan kunjungan segera pada dokter karena pengujian jantung lebih jauh sangat
diperlukan. Frekwensi, intensitas dan durasi serangan unstable angina meningkat
secara progresif atau makin lama makin berat bahkan dapat timbul setelah aktifitas
fisik minimal atau pada waktu istirahat dan memiliki resiko yang lebih besar untuk
terjadi infark miokard.
3


ETIOLOGI
1. Penyakit Arteri Koroner
Arteri-arteri koroner mensuplai darah yang beroksigen pada otot jantung. Penyakit
arteri koroner berkembang ketika kolesterol mengendap di dinding arteri,
menyebabkan pembentukan senyawa yang keras dan tebal yang disebut plak
kolesterol. Akumulasi dari plak kolesterol dari waktu ke waktu menyebabkan
penyempitan dari arteri-arteri koroner, proses yang disebut arteriosklerosis.
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 4


Arteriosklerosis dapat dipercepat dengan merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol
yang naik, dan diabetes. Ketika arteri-arteri koroner menjadi sempit lebih dari 50%
sampai 70%, mereka tidak lagi memenuhi permintaan oksigen darah yang meningkat
oleh otot jantung selama latihan atau stres. Kekurangan oksigen pada otot jantung
menyebabkan nyeri dada (angina).
2. Coronary artery spasm
Dinding-dinding dari arteri-arteri dikelilingi oleh serat-serat otot. Kontraksi yang cepat
dari serat-serat otot ini menyebabkan penyempitan yang tiba-tiba (spasm) dari arteri-
arteri. Spasme dari arteri-arteri koroner mengurangi darah ke otot jantung dan
menyebabkan angina. Spasme dapat terjadi pada arteri-arteri koroner normal serta
pada yang disempitkan oleh arteriosklerosis. Spasme arteri koroner dapat juga
disebabkan oleh penggunaan atau penyalahgunaan cocaine. Spasme dari dinding arteri
yang disebabkan oleh cocaine dapat begitu signifikan sehingga ia sebenarnya dapat
menyebabkan serangan jantung.

PATOFISIOLOGI
Aterosklerosis adalah gangguan yang umum yang secara spesifik menyerang
arteri medium dan arteri besar. Aterosklerosis terjadi jika lemak, kolesterol, dan
bahan-bahan lainnya menumpuk di dinding arteri dan membentuk struktur keras yang
disebut plak (plaque). Akhirnya plak menjadikan arteri menyempit dan tidak
lentur,sehingga darah susah untuk mengalir menyebabkan bekalan oksigen menjadi
sangat terhad. Hal ini dapat menyebabkan nyeri dada, sesak nafas, serangan jantung
dan gejala-gejala lainnya. Kepingan-kepingan plak bisa pecah dan berpindah melalui
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 5

arteri yang terserang menuju pembuluh darah yang lebih kecil, menyumbatnya dan
menyebabkan kerusakan jaringan atau kematian jaringan. Ini merupakan penyebab
yang umum dari serangan jantung dan stroke. Penggumpalan atau pembekuan darah
dapat terjadi di sekitar celah retakan plak sehingga menyebabkan penyumbatan aliran
darah. Jika gumpalan berpindah dalam arteri di jantung, otak, atau paru-paru, sehingga
dapat menyebabkan, serangan jantung, stroke, atau penyumbatan paru-paru. Dalam
beberapa kasus, plak aterosklerosis berkaitan dengan melemahnya dinding arteri
sehingga menyebabkan pembengkakan pembuluh darah (aneurysm)


Ketidakseimbangnya terjadi antara kebutuhan oksigen miokardium dan kemampuan
pembuluh darah koroner menyediakan oksigen secukupnya menyebabkan kontraksi
miokardium menurun. Pada keadaan ini pembuluh darah menyempit karena terjadi
perubahan pada lapisan intima akibat endapan-endapan lemak (atheroma dan plaques)
pada didindingnya. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan
oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka
arteri koroner berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot
jantung. Namun apabila arteri koroner menyempit akibat aterosklerosis dan tidak
dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka
terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium menyebabkan timbulnya nyeri
dada, sesak nafas, serangan jantung dan gejala-gejala lainnya.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 6

GEJALA KLINIS
Pada unstable angina, nyeri dada biasanya seperti tertekan benda berat, atau
seperti di peras atau terasa panas. Sering pasien merasakan nyeri dada di daerah
sternum (tulang dada) atau di bawah sternum (substernal), atau dada sebelah kiri dan
kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, dapat menjalar ke punggung, rahang, leher,
atau ke lengan kanan. Nyeri dada juga dapat timbul di tempat lain seperti di daerah ulu
hati, leher, rahang, gigi, dan bahu.
Nyeri dada pada angina biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas,
misalnya sedang berjalan cepat, tergesa-gesa, atau sedang berjalan mendaki atau naik
tangga. Pada kasus yang berat, aktivitas ringan seperti mandi atau menggosok gigi,
makan terlalu kenyang, emosi, sudah dapat menimbulkan nyeri dada. Nyeri dada
tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan unstable
angina juga dapat timbul pada waktu istirahat atau pada waktu tidur malam. Lamanya
nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit, kadang-kadang perasaan tidak enak di
dada masih terasa setelah nyeri hilang. Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 20
menit, mungkin pasien mendapat serangan jantung dan bukan angina pektoris biasa.
Selain itu, juga dapat timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan lelah, kadang-
kadang nyeri dada disertai keringat dingin.

3. DIAGNOSIS BANDING
3.1 STABLE ANGINA PECTORIS
Merupakan nyeri yang timbul karena iskemia miokardium. Biasanya terjadi
kurang dari 20 menit di daerah retrosternal, tetapi dapat juga menjalar ke rahang,
leher, bahu, punggung dan lengan kiri dan sering kali digambarkan sebagai rasa
tertekan, rasa terjerat, rasa kemeng, rasa penuh, rasa terbakar, rasa bengkak dan rasa
seperti sakit gigi. Pada stable angina pectoralis nyeri dada yang tadinya berat akan
beransur-ansur turun kuantitas dan intensitasnya dengan atau tanpa pengobatan dan
kemudian menetap misalnya beberapa hari sekali atau baru timbul pada bebas atau
stress yang tertentu. Untuk kebanyakan pasien-pasien, gejala-gejalanya terjadi selama
pengerahan tenaga dan umumnya berlangsung kurang dari 20 menit. Mereka
dibebaskan dengan istirahat atau obat, seperti nitroglycerin dibawah lidah.
Pada sebagian pasien nyeri bisa terus menghilang yaitu menjadi asimtomatik
walaupun sebetulnya ada iskemia tetap dapat terlihat misalnya pada EKG istirahatnya,
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 7

keadaan yang disebut sebagai silent iskhemia sedangkan pasien-pasien lainnya lagi
yang telah menjadi asimtomatik, EKG istirahatnya normal pula dan iskemia baru
terlihat pada stress tes.
2

3.2 ST ELEVATION MIOCARDIAC INFARK(STEMI)
STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara mendadak
setelah oklusi trombus pada plak aterosklerosis yang sudah ada sebelumnya. Pada
sesetengah kasus infark terjadi jika plak aterosklerosis mengalami fisur , ruptur atau
ulserasi dan jika kondisi lokal atau sistemik memisu trombogenesis, sehingga trombus
mural pada lokasi ruptur yang mengakibatkan oklusi arteri koroner.
Diagnosa STEMI ditegakkan berdasarkan anamnesia nyeri dada yang khas dan
gambaran EKG adanya elevasi ST>2mm, minimal pada 2 sadapan prekordial yang
berdampingan. Pemeriksaan enzim jantung troponinT meningkat, memperkuat
diagnosis, secara tidak langsung terapi revaskularisasi bisa dimulakan secepatnya.
3.3 NON ST ELEVATION MIOCARDIAC INFARK(NSTEMI)
NSTEMI dapat disebabkan oleh penurunan suplai oksigen dan atau
peningkatan kebutuhan oksigen miokard yang diperberat oleh obtruksi koroner. Juga
bisa terjadi akibat trombosis akut atau proses vasokonstriksi koroner. Plak yang tidak
stabil pada arteri koroner akan ruptur dan terjadilah trombosis akut. Plak yang tidak
stabil ini umumnya mempunyai inti yang besar , densitas otot poloh yangmenurun ,
fibrous cap yang tipis dan konsentrasi faktor jaringan yang tinggi. Inti lemak
cenderung ruptur dan menyebabkan sel makrofag dan limfosit T mulai aggregasi
memulakan proses inflamasi.
Nyeri dada dengan lokasi khas di substernal atau kadangkala di epigastrium
dengan ciri seperti diperas, perasaan seperti diikat, rasa penuh, bera atau tertekan
merupakan gejala yan sering ditemukan pada kasus NSTEMI.
Terdapat 3 faktor patofisiologi yang terjadi pada NSTEMI yaitu ketidak
stabilan plak dan nekrosis otot yang terjadi akibat mikroembolisasi, inflamasi
waskular dan kerusakan ventrikel kiri. Masing-masing dapat dinilai secara
independent berdasarkan penilaian terhadap petanda-petanda seperti cardiac-specific
troponin, C-reactive protein dan brain natriurectic peptide.
4-6




Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 8


4. PENATALAKSANAAN
7

Pengobatan pada serangan akut, nitrogliserin sublingual 5 mg merupakan obat pilihan
yang bekerja sekitar 1-2 menit dan dapat diulang dengan interval 3 - 5 menit.
Pencegahan serangan lanjutan :
Long acting nitrate, yaitu ISDN 3 kali sehari 10-40 mg oral.
Calcium antagonist : verapamil, diltiazem, nifedipin.
Beta blocker : propanolol, metoprolol, nadolol, atenolol, dan pindolol.
Mengobati faktor presdiposisi dan faktor pencetus seperti stres, emosi, hipertensi, DM,
hiperlipidemia, obesitas, kurang aktivitas dan menghentikan kebiasaan merokok.
Tindakan Invasif :
Percutanens transluminal coronary angioplasty (PTCA)
merupakan upaya memperbaiki sirkulasi koroner dgn cara memecah plak atau
atheroma dgn cara memasukan kateter dengan hujung berbentuk balon.

Coronary artery bypass graft (CABG)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 9

5. EPIDEMOLOGI
Data penelitian Framingham di Amerika Serikat menunjukkan bahwa dari 4 pria
dengan angina satu orang akan mengalami infark miokard dalam kurun waktu 5 tahun.
Resiko terjadinya angina pektoris semakin meningkat seiring dengan bertambahnya
umur. Pria mempunyai resiko lebih tinggi menderita angina pektoris dibandingkan
wanita, tetapi perbedaan ini akan semakin berkurang dengan meningkatnya umur.
Menariknya, perempuan sering menunjukkan gejala yang tidak khas dan masih sulit
untuk dimengerti.

6. FAKTOR RISIKO
Diabetes
Banyak minum alkohol
Tekanan darah tinggi
Kadar kolesterol dalam darah tinggi
Banyak makan makanan berlemak tinggi
Bertambahnya usia
Obesitas (kegemukan)
Sejarah penyakit jantung dalam keluarga
Merokok

7. PENCEGAHAN
Untuk mencegah aterosklerosis serta komplikasinya (seperti penyakit jantung dan
stroke), haruslah menganut pola hidup sehat, diantaranya:
Usahakan dan jaga berat badan normal.
Olahraga secara teratur, 30 menit sehari.
Tidak minum alkohol.
Tidak merokok.
Makan makan sehat seimbang. Hindari makanan berlemak, banyak
makan sayuran dan buah.
Periksa profil lipida darah secara berkala.
Jika mengidap diabetes, penyakit jantung atau stroke, rawat penyakit
anda dengan baik.



Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 10

8. KOMPLIKASI
Penyempitan arteri koronari yang disebabkan oleh atrosklerosis lama kelamaan
akan menjadi tersekat. Menyebabkan jantung semakin kekurangan bekalan darah lama
kelamaan akan menyebabkan kematian myocardium yang dikenali sebagai acute
myocardial infarction(AMI). AMI menyebabkan renjatan dan kegagalan fungsi
jantung
Risiko terjadinya aritmia tinggi akibat dari kekurangan bekalan darah dan ini
menyebabkan kelemahan dan gangguan kontraksi jantung. Apabila peredaran darah di
antara jantung dan paru-paru menjadi kurang baik, plasma akan berkumpul di dalam
paru-paru dan menyebabkan edema pulmonari.
6


9. PROGNOSIS
Indikator prognosis penting pada pasien dengan angina pektoris meliputi fungsi
ventrikel kiri, respon gejala pada perawatan medis, umur, luasnya penyakit arteri
koroner, beratnya gejala dan yang terpenting adalah jumlah otot jantung yang masih
berfungsi normal. Makin luas arteri koroner yang terkena atau makin buruk
penyumbatannya, maka prognosisnya makin jelek. Prognosis yang baik ditemukan
pada penderita stable angina dan penderita dengan kemampuan memompa yang
normal (fungsi otot ventrikelnya normal). Berkurangnya kemampuan memompa akan
memperburuk prognosis.

PENUTUP
Apabila diserang angina sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik apapun. Segeralah
pergi ke rumah sakit yang menyediakan fasilitas penanganan gawat darurat jantung. Tidak
boleh lebih dari 15 menit setelah serangan nyeri pertama. Perawatan yang cepat dan tepat
dari tim medis dapat menyelamatkan otot jantung dari kerusakan yang tidak dapat
diperbaiki. Semakin banyak otot jantung yang terselamatkan, semakin efektif jantung
akan kembali memompa setelah serangan. Dengan memperhatikan berbagai aspek yang
berkaitan, infark miokard dapat ditanggulangi sehingga terhindar dari komplikasi yang
lebih buruk. Berbagai jenis pengobatan sudah dikembangkan sampai saat ini, hanya
penggunaannya perlu mendapat perhatian sesuai dengan subset klinik yang dihadapi.
7


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Terusan arjuna no.6 jakarta 11510. 11

DAFTAR PUSTAKA
1. Abdurahman. Angina Pectoris. Cermin Dunia Kedokteran No. 31
Djohan, Anwar. 2004. Patofisiologi Dan Penatalaksanaan Penyakit Jantung
Koroner. Digital Library USU. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara.
2. Rahman. Angina Pektoris Stabil. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II
Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 1626-1629
3. Trisnohadi. Angina Pektoris Tak Stabil. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 1621-1625
4. Anderson, J, Adams, C, Antman, E, et al. ACC/AHA 2007guidelines for
the management of patients with unstable angina/non-ST-elevation
myocardial infarction: a report of the American College of
Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice
Guidelines 50:e1.Diunduhdari: www.acc.org/qualityandscience/clinical/stat
ements.htm (accessed September 18, 2007).
5. Gibler, WB. Evaluation of chest pain in the emergency department. Ann
Intern Med 2005; 123:315
6. Chest pain emergency centers: improving acute myocardial infarction care.
Clin Cardiol 2009; 22
7. Kalim H, et al. Pedoman Praktis Tatalaksana Sindrom Koroner Akut.
Jakarta: Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI; 2008.p.3-
7.