Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

Praktikum Perbekalan Steril


Obat Tetes Mata
Anggota :
Kelompok : E
FAKULTAS FARMAS
U!"ERSTAS SETA #U$
SURAKARTA
%&'(
) TU*UA! PRAKTKUM
Mengetahui dan menguasai pembuatan larutan mata meliputi tetes mata dan cuci
mata secara steril
) $ASAR TEOR
Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam
lingkaran bertulang berfungsi untuk memberi perlindungan maksimal dan sebagai
pertahanan yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi
mata, iritasi mata, mata memar dan glaucoma. Mata mempunyai pertahanan terhadap
infeksi karena secret mata mengandung enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada
bakteri dan dapat membantu mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal
terdiri atas beberapa bentuk sediaan dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat
mata dibuat secara khusus. Salah satu sediaan mata adalah obat tetes mata. Obat tetes
mata ini merupakan obat yang berupa larutan atau suspensi steril yang digunakan
secara local pada mata.
Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing, merupakan sediaan
yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai digunakan pada mata.
Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas
obat, nilai isotonositas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengaet dan jika
perlu pemilihan pengaet dan kemasan yang tepat.
Larutan cuci mata atau yang lebih dikenal sebagai kolorium adalah larutan steril
yang jernih, bebas partikel asing yang dipakai untuk membersihkan mata. !apat
ditambahkan zat dapar dan pengaet. "olorium dibuat dengan melarutkan obat
dalam air, disaring hingga jernih, dimasukan dalam adah tertutup dan disterilkan.
#lat dan adah yang digunakan harus bersih dan steril.
$eberapa obat larutan cuci mata perlu hipertonik untuk meningkatkan daya serap
dan meningkatkan kadar bahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilkan efek
obat yang cepat dan efektik. #pabila larutan obat seperti ini digunakan dalam jumlah
kecil, maka pengenceran dengan air mata cepat terjadi sehingga rasa perih akibat
hipertonisitas hanya sementara. %etapi penyesuaian isotonisitas oleh pengenceran
dengan air mata tidak berarti jika digunakan larutan hipertonik dalam jumlah besar.
&adi yang penting adalah larutan obat mata untuk keperluan ini harus mendekati
isotonik.
Obat tetes mata 'guttae ophthalmicae( adalah sediaan steril berupa larutan atau
suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir
mata, disekitar kelopak mata dan bola mata. !imaksudkan untuk obat dalam atau
obat luar, diteteskan dengan menggunakan penetes yang menghasikan penetes setara
dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku dalam )armakope *ndonesia.
Obat tetes mata sering digunakan pada mata, maka obatnya harus stabil secara
kimia, harus mempunyai akti+itas terapi yang optimal, hatus todak mengiritasi dan
tidak menimbulkan rasa sakit pada mata, harus jernih, harus bebas mikroorganisme
yang hidup dan tetap demikian selama penyimpan yang diperlukan.
&adi pada prinsipnya obat tetes mata harus ,
') Harus steril atau bebas +ari mikroorganisme
Pemakaian tetes mata yang terkontaminasi mikroorganisme dapat terjadi rangsangan
berat yang dapat menyebabkan hilangnya daya penglihatan atau terlukanya mata
sehingga sebaiknya dilakukan sterilisasi atau menyaring larutan dengan filter
pembebas bakteri.
%) Se+apat mungkin ,arus -erni,
Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari rangsangan akibat bahan padat.
)iltrasi dengan kertas saring atau kain ol tidak dapat menghasilkan larutan bebas
partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material penyaring kita menggunakan
leburan gelas, misalnya &enaer )ritten dengan ukuran pori - . / - 0.
.) Harus mempun/ai akti0itas terapi /ang optimal
1arga p1 mata sama dengan darah, yaitu 2,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan
yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan p1 2,.34,2. 5amun, daerah p1
0.0366.,4, masih dapat diterima. Pengaturan p1 sangat berguna untuk mencapai rasa
bebas nyeri, meskipun kita sangat sulit merealisasikannya.
Pendaparan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan p1 larutan tetes
mata. Penambahan dapar dalam pembuatan obat mata harus didasarkan pada
beberapa pertimbangan tertentu. #ir mata normal memiliki p1 lebih kurang 2,4 dan
mempunyai kapasitas dapar tertentu. Secara ideal obat tetes mata harus
mempunyai p1 yang sama dengan larutan mata, tetapi hal ini tidak selalu dapat
dilakukan karena pada p1 2,4 banyak obat yang tidak cukup larut ataupun tidak
stabil pada p1 2,4. Oleh karena itu system dapar harus dipilih sedekat mungkin
dengan p1 fisiologis yaitu 2,4 dan tidak menyebabkan pengendapan atau
mempercepat kerusakan obat. &ika harga p1 yang di tetapkan atas dasar stabilitas
berada diluar daerah yang dapat di terima secara fisiologis, maka kita ajib
menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan p1 melalui penambahan
asam atau basa.
Pembuatan obat mata dengan system dapar mendekati ph fisiologis dapat
dilakukan dengan mencampurkan secara aseptik larutan obat steril dengan larutan
dapar steril. 7alaupun demikian, perlu diperhatikan mengenai kemungkinan
berkurangnya kestabilan obat pada p1 yang lebih tinggi, pencapaian dan
pemeliharaan sterilitas selama proses pembuatan. $erbagai obat, bila didapar pada
p1 yang dapat digunakan secara terapeutik, tidak akan stabil dalam larutan untuk
jangka aktu yang lama sehingga sediaan ini dibuat dalam bentuk sediaan akan
direkonstitusikan segera sebelum digunakan.
%ujuan pendaparan obat tetes mata adalah ,
#. Mengurangi rasa sakit
$. Menjaga stabilitas obat dala larutan
8. 8ontrol akti+itas terapetik
() Se+apat mungkin ,arus isotonis)
$eberapa larutan obat mata perlu hipertonik untuk meningkatkan daya serap dan
enyediakan kadar +ahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilkan efek obat yang
cepat dan efektif. #pabila larutan obat seperti ini digunakan dalam jumlah kecil,
pengenceran dengan air mata cepat terjadi sehingga rasa perih akibat hipertonisnya hanya
sementara. %etapi penyesuaian isotonisitas oleh pengenceran dengan air mata tidak
berarti, jika digunakan larutan hipertonik dalam jumlah besar untuk membasahi mata.
&adi yang penting adalah larutan obat mata sebisa mungkin harus endekati isotonik.
9ntuk membuat larutan mendekati isotonis, dapat digunakan medium isotonis atau
sedikit hipotonis, umumnya digunakan natrium3klorida ':,23:,4;( atau asam borat '6,03
6,4;( steril.
1) 2at penga3et +ala larutan tetes mata
Syarat zat pengaet bagi larutan obat tetes mata,
a. 1arus bersifat bakteriostatik dan fungistatik. %erutaa sifat bakteriostatik terhadap
pseudomonas aeruginosa, karena sangat berbahaya pada mata yang terinfeksi.
b. 1arus tidak mengiritasi jaringan mata, kornea, dan konjungti+a
c. 1arus kompatibel dengan bahan obat
d. %idak menimbulkan alergi
e. !apat mempertahankan akti+itasnya dalam kondisi normal
%ipe zat pengaet yang dianjurkan untuk larutan obat tetes mata ada 4 macam ,
a. <sters dari p3hidroksi as.benzoat, terutama nipagin dan nipasol
b. Senyaa merkuri organic, seperti fenil merkuri nitrat, timerosol
c. =at pembasah kationik seperti, benzalkonium khlorid dan setil peridinium klorid
d. !eri+ate alcohol seperti, klorbutanol, fenil etil alcohol
4) "iskositas +alam larutan mata
%etes mata dalam air mempunyai kekurangan karena dapat ditekan keluar dari
saluran konjungti+a oleh gerakan pelupuk mata. 5amun, melalui peningkatan +iskositas
tetes mata dapat mencapai distribusi bahan aktif yang lebih baik didalam cairan dan
aktu kontak yag lebih panjang. >iskositas diperlukan agar larutan obat tidak cepat
dihilangkan oleh air mata serta dapat memperpanjang lama kontak dengan kornea,
dengan demikian dapat mencapai hasil terapi yang besar. $iasanya yang digunakan untuk
enaikkan +iskositas ialah 8M8 dengan kadar :,?036;.
>iskositas sebaiknya tidak melampaui 4430: mPa detik '4:30: cP( sebab jika tidak,
maka akan terjadi penyumbatan saluran air mata. "ita memakai larutan dengan harga
+iskositas 0360 mPa detik '0360 cP(.
5) Sur6aktan +alam pengobatan mata
Surfaktan sering digunakan dala larutan mata karena mempunyai fungsi sebagai zat
pembasah atau zat penambah penetrasi.
<fek surfaktan adalah ,
a. Menaikkan kelarutan, hingga menaikkan kadar dari obat kontak dengan mata.
b. Menaikkan penetrasi ke dalam kornea dan jaringan lain
c. Memperlama tetapnya obat dalam konjungti+a, pada pengenceran obat oleh air mata.
Surfaktan yang sering digunakan adalah benzalkonium3klorid 6 , 0:.::: jangan lebih dari
6 , .:::. Surfaktan lain juga yang dipakai adalah benzalkonium klorid, duponal M.< dan
aerosol O% atau OS. Pemakaian surfaktan jangan lebih dari :,6;. Lebih encer lebih baik.
7) Pe3a+a,an
7adah untuk larutan mata, larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil, tidak
pernah lebih besar dari 60 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. # botol 2,0 ml adalah
ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan adah kecil
memperpendek aktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah
pemaparan kontaminan.
Keuntungan obat tetes mata :
6. Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal homogeny, bioa+ailabilitas, dan
kemudahan penanganan.
?. Suspense mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat
memperpanjang aktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan aktu
terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan bioa+ailabilitas dan efek
terapinya.
.. %idak menganggu penglihatan ketika digunakan
Kerugian obat tetes mata :
"erugian yang prinsipil dari larutan mata adalah aktu kontak yang relatif singkat
antara obat dan permukaan yang terabsorsi.
) ALAT +an #AHA!
3 $eaker glass
3 8orong
3 <rlenmeyer ?0: ml
3 Pipet
3 -elas ukur 6:: ml
3 "ertas saring
3 Pinset
3 "aca arloji
3 $atang pengaduk
3 )lakon
3 $otol kaca
Formula Tetes Mata Atropin Sul6at:
@A #tropin Sulfat :,:0
Lar. !apar P *sotonis p1 B,0 ad 6:ml
Mf.gutt.ophth.steril
Permasalahan, O%% #tropin Sulfat 'garam alkaloid( dengan 5a 1PO 'basa(
Penimbangan
Lar. !apar P *sotonis p1 B,0 ')* ***(
5a1PO :,C; , 2: ml D 2:;
5a 1PO :,44?; , .:ml D .:;
5a8l , :,0 g
Penimbangan bahan dilebihkan ?:;, jadi larutan dapar P isotonis yang dibutuhkan ,
6: ml E '?:A6:: F 6:: ml( G 6: ml E ? ml G 6? ml
$ahan Perhitungan &umlah
5a1PO :,C; 2:A6:: F 6? ml G C,4 ml :,CA6:: F C,4 ml G :,:B2 g
5a 1PO :,44?; .:A6:: F 6? ml G .,B ml :,44?A6:: F .,B ml G :,..4 g
5a8l 6?A6:: F :,0 g G :,:B g B: mg
#tropin Sulfat :,:0A60 F 6? g G :,:4 g 4: mg
#) Fomula Obat 8u9i Mata 2nSO
@A =nSO :,6
#sam $orat :,0
#Huadest ad 6:: ml
Penimbangan #a,an
Penimbangan dilebihkan 6:; dan untuk membuat isotonis dengan penambahan 5a8l
6:: ml E '6:A6:: F 6:: ml( G 6:: ml E 6: ml G 66: ml
Perhitungan 5a8l yang ditambahkan,
Ptb =nSO , :,:CB 86 ,:,6
Ptb #sam $orat , :,?CC 8? ,:,0
Ptb 5a8l 8. ,I
$ G :,0? / 'b686 E b?8?(
b.
$ G :,0? / ':,:CB.:,6 E :,?CC.:,0(
:,:0B
$ G :,B.2 gA6:: ml
"eterangan ,
86 G konsentrasi =nSO
8? G konsentrasi asam borat
8. G konsentrasi 5a8l
$6 G Ptb =nSO
$? G Ptb asam borat
$. G konsentrasi 5a8l
$ahan Perhitungan &umlah
=nSO 66:A6:: F :,6 g :,66 g
#sam $orat 66:A6:: F :,0 g :,00 g
5a8l 66:A6:: F :,B.2 g :,2::2 g
") 8ARA PEM#UATA!
#. %<%<S M#%# ,
6. Membuat aHuadest steril, kemudian didinginkan.
?. Mensterilkan semua peralatan 'untuk larutan dalam air tutup flakon tidak perlu
didinginkan dulu dan untuk larutan dalam minyak tutup flakon harus dikeringkan
terlebih dahulu(.
.. Menara kaca arloji, menimbang #tropin sulfat, masukkan dalam beaker glass,
tambahkan sebagian aHuades steril. %utup beaker glass dengan kaca arloji dan
digoyangkan hingga larut.
4. %imbang 5a1?PO4.?1?O, masukkan dalam beaker glass, tutup dan larutkan.
0. %imbang 5a?1PO4.?1?O, masukkan dalam beaker glass, tutup dan larutkan.
B. %ambahkan 5a8l, masukkan dalam beaker glass, tutup dan larutkan.
2. Setelah semua larut, masukkan dalam gelas ukur dan tambahkan aHuadest steril ad 6?
ml, lalu dikembalikan dalam beaker glass dan ditutup. Saring dengan kertas saring
steril ke dalam gelas ukur. Saringan pertama disisihkan ':,0ml(, saringan kedua
ditampung ke dalam flakon yang sudah dikalibrasi dan steril.
C. Mensterilkan obat dalam flakon beserta penetesnya di otoklaf
$. O$#% 898* M#%# ,
6. Membuat aHuadest steril, kemudian didinginkan.
?. Mensterilkan botol kaca dan tutup botol.
.. Menimbang semua bahan. Larutkan asam borat dengan aHuadest steril hangat dalam
erlenmeyer.
4. Setelah dingin tambahkan =n=O4 larutkan.
0. %ambahkan 5a8l aduk sampai larut dan homogen. %ambahkan aHuadest steril ad 66:
ml.
B. Saring dengan kertas saring steril. Saringan pertama disisihkan ':,0ml(, saringan kedua
ditampung kedalam botol yang sudah dikalibrasi dan steril.
2. $otol ditutup dan disterilkan di otoklaf pada t 6?6
:
8 selama 60 menit.
") HASL PER8O#AA!
') Tetes Mata Atropin Sul6at
Pengamatan Setela, Per9obaan
$entuk Larutan
7arna %idak berarna
$au %idak berbau
1omogenitas 1omogen
Partikel asing %idak ada partikel asing
%) Obat 8u9i Mata 2nSO(
Pengamatan Setela, Per9obaan
$entuk Larutan
7arna %idak berarna
$au %idak berbau
1omogenitas 1omogen
Partikel asing %idak ada partikel asing
") PEM#AHASA!
3 Semua alat3 alat harus disterilisasikan agar mendapatkan larutan yang steril, bebas
partikel asing dan mikroorganisme.
3 #gar obat tetes mata dan cuci mata nyaman dan tidak pedih dimata saat digunakan maka
harus dibuat isotonis.
3 Penyaringan dilakukan untuk menghilangkan partikel atau endapan yang ada pada
larutan.
3 Metode pembuatan dilakukan secara aseptis dan sterilisasi akhir dengan uap air panas
yang megalir menggunakan alat seperti dandang. !ilakukan secara aseptis karena untuk
meminimalisir dan mencegah adanya mikroorganisme yang masuk ke dalam larutan.
3 Sterilisasi akhir dengan uap air panas yang mengalir bertujuan untuk memastikan baha
larutan sudah terbebas dari mikroba hidup. 9ap air memiliki daya bakterisid yang lebih
besar daripada panas kering.
3 Sterilisasi dapat dilakukan dengan uap air panas yang mengalir karena adah dan
bahan3bahan yang digunakan tahan terhadap pemanasan.
") KESMPULA!
!ari pembahasan diatas dapat dilihat baha obat tetes mata harus lah ,
a. Steril
b. &ernih
c. Sedapat ungkin isotonis dan isohidris
d. $ebas partikel asing
)ormulasi suspense obat mata dapat dibuat jika diperlukan untuk membuat produk yang
bertujuan mengingkatkan aktu kontak kornea, atau diperlukan untuk obat tidak larut
atau tidak stabil dalam pembaa air.
") $AFTAR PUSTAKA
Suhartinah, Lina. S, ?:6?. Petunjuk Praktikum Perbekalan Steril. Surakarta, 9ni+ersitas
Setia $udi.