Anda di halaman 1dari 16

KESENIAN KENTONGAN DI DESA LEDUG KECAMATAN

KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Antropologi Budaya
(Dosen Pengampu: Ipong Jazimah S.Pd.M.Pd)




TUGAS INDIVIDU
DISUSUN OLEH
IMAM HIDAYAT ( 1101020036 )

PROGAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang Kesenian
Ketongan yang berada di desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Kesenian
ini sudah mulai di lupakan oleh masyarakat desa Ledug di karenakan perkembangan zaman
dan kemajuan teknologi serta muncul kesenian moderen yang menarik perhatian masyarakat
sehingga kesenian ini mulai jarang di pertunjukan di lingkungan desa, oleh karena itu
masyarakat lebih memilih kesenian moderen seperti band atau orjen.
Walaupun kesenian ini pada lima tahun terakhir sudah tidak populer atau jarang di
pentaskan lagi namun warga di desa Ledug sesekali masih mementaskanya dalam acara-acara
resmi, contohnya seperti pada resepsi pernikahan dan sunatan maupun resepsi-resepsi yang
lainya. Penulis tertarik melakukan penilian terhadap kesenian ini di karenakan kesenian ini
termasuk kesenian yang unik dan mengundang banyak penasaran baik dari bentuk
pertunjukan, maupun dari alat-alat yang digunakan dari kesenian Kentongan tersebut.
Penulis berharap dengan adanya penelitian terhadap kesenian Kentongan ini dapat
bermanfaat bagi semua masyarakat Indonesia agar mereka mengetahui bahwa kesenian
Kentongan adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan keberadaanya dan akan
lebih di kenal oleh masyarakat luas, tidak hanya di kawasan Kabupaten Banyumas dan
sekitarnya.



B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pelaksanaan kesenian Kentongan di Desa Ledug Kecamatan Kembaran
Kabupaten Banyumas?
2. Peralatan apa saja yang di gunakan dalam kesenian Kentongan tersebut?



BAB II
KAJIAN TEORI
A. KESENIAN KENTONGAN
Kesenian Kentongan merupakan salah satu kesenian pertunjukan masal yang
menggunakan kentong sebagai alat utama dalam pertunjukan tersebut. Kentong biasanya
terbuat dari bambu yang di lubangi, pada jaman dahulu kentong mempunyai banyak fungsi
bagi masyarakat. Salah satunya ialah untuk peringatan bahaya bencana alam, kebakaran
rumah maupun rumah kemalingan. Makna kentongan tersebut terletak pad ritme suara yang
di hasilkan atau kombinasi dari suaranya. Misalnya suara satu kali kentong itu adalah tanda
adanya maling tergantung dari kesepakatan yang telah di buat oleh masyarakat tersebut.
Kentong juga tidak hanya terbuat dari bambu, alat ini juga bisa di buat dari kayu
tetapi kentong ini lebih banyak di gunakan untuk pengingat waktu sholat di masjid-masjid
sebelum adzan dikumandangkan. Di jaman yang moderen ini kentong biasanya hanya
sebagai pajangan di rumah-rumah karena sudah tergantikan oleh alat-alat komunikasi yang
lebih cangih seperti handphone, televisi dan lain-lain. Pada jaman dahulu kentong tidak hanya
di gantung di depan rumah atau di pos ronda tetapi biasanya jika masyarakat sedang
melakukan ronda, kentong di bunyikan oleh beberapa orang secara bergantian yang akhirnya
menghasilkan irama musik yang enak untuk di dengarkan. Dari sinilah awal mula kesenian
Kentongan muncul dan biasanya hal tersebut di lakukan masyarakat pada saat
membangunkan orang sahur pada bulan rhamadan.
Seiring waktu berjalan kentong berkembang menjadi Kesenian kentongan karena bisa
menghasilkan irama musik yang enak di dengarkan, kesenian ini mulai ramai di pentaskan
masyarakat pada tahun 1990 sampai tahun 2000an (Arjo Supono,15 September 2013).
Supaya menghasilkan suara melodi tambahan alat musik yang di gunakan adalah angklung
dan calung sebagai rytme jika di alat musik moderen. Untuk mendambahkan merdu dalam
musik kentongan biasanya di tambahkan dengan suling dan untuk suara dram dalam
Kentongan biasanya menggunakan alat yang terbuat dari tong yang di tutupi oleh ban dalem
bekas. Pemain Kentongan biasanya berjumlah 20 orang atau lebih yang di dominasi oleh
kentong, dan teknis memainkanya ialah satu orang memegang satu kentong membunyikan
irama yang sama sepanjang lagu berjalan.
Setiap kentong mempunayai variasi memukul berbeda-beda misalnya kentong satu
baris memukul dengan pukulan tiga perempat dan baris yang lainya memukul dengan
pukulan seperempat dan lain-lainya, maka dari itu Kentongan membutuhkan orang banyak
untuk pementasanya. Biasanya kentongan di pimpin oleh satu atau dua orang mayoret yang
meggunakan baju tradisional seperti pemain kentongan yang lainya, lagu yang biasanya di
bawakan oleh Kentongan ialah lagu dangdut koplo dengan irama ramai atau lagu-lagu
campursari dan masih banyak lagi.

B. LANDASAN TEORI
Penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial, perubahan-perubahan tersebut di
lakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Adapun teori-teori
yang menjelaskan mengenai perubahan sosial. Kecenderungan terjadi perubahan-perubahan
sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam
masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi
interaksi antar manusia dan antar masyarakat. Perubahan sosisaal terjadi karena adanya
perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seprti
perubhan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Adapun teori-teori
yang menjelaskan mengenai perubahan sosial adalah sebagai berikut :
1. Teori Evolusi (Evolution Theory)
Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang
cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk
mencapai perubahan yang diinginkan.
Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa
kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined
theories of evolution.
a. Unilinear Theories of Evolution
Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan
mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang
sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain
Auguste Comte dan Herbert Spencer.
b. Universal Theories of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap
tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu.
Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil
perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.
c. Multilined Theories of Evolution
Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap perkembangan tertentu
dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata
pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan
pemupukan dan pengairan.
Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, ada beberapa kelemahan dari Teori Evolusi
yang perlu mendapat perhatian, di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Data yang menunjang penentuan tahapan-tahapan dalam masyarakat menjadi sebuah
rangkaian tahapan seringkali tidak cermat.
b. Urut-urutan dalam tahap-tahap perkembangan tidak sepenuhnya tegas, karena ada
beberapa kelompok masyarakat yang mampu melampaui tahapan tertentu dan langsung
menuju pada tahap berikutnya, dengan kata lain melompati suatu tahapan. Sebaliknya, ada
kelompok masyarakat yang justru berjalan mundur, tidak maju seperti yang diinginkan oleh
teori ini.
Pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial akan berakhir pada puncaknya,
ketika masyarakat telah mencapai kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya. Pandangan
seperti ini perlu ditinjau ulang, karena apabila perubahan memang merupakan sesuatu yang
konstan, ini berarti bahwa setiap urutan tahapan perubahan akan mencapai titik akhir. Padahal
perubahan merupakan sesuatu yang bersifat terusmenerus sepanjang manusia melakukan
interaksi dan sosialisasi.











BAB III
METODE PENELITIAN
A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN
Pada penelitian saya kali ini menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif,
metode penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang
secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasanya sendiri dan
berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. (Krik
dan Miller,1986:9)
Jenis penelitianya menggunakan penelitian Etnografi (budaya) dimana Etnografi
merupakan metode penelitian yang banyak dilakukan dalam bidang antropologi terutama
yang berhubungan dengan seting budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan
tentang budaya masyarakat primitif dalam cara berfikir, cara hidup, adat, berperilaku, dan
bersosial. (Iskandar,2009:58) Karena dalam mengkaji Kesenian Kentongan Desa Ledug
Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas banyak berkaitan dengan unsur-unsur
kebudayaan sehingga menggunakan penelitian etnografi.

B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Penelitian saya kali ini di lakukan di Desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten
Banyumas, sedangkan waktu penelitian yang digunakan adalah 4 bulan.
JADWAL PENELITIAN
No Kegiatan
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Perencanaan
Judul

2
Penyusunan
Laporan

3
Observasi
Lapangan

4
Pelaporan
Penyusunan


C. SUBYEK PENELITIAN
Dalam menentukan subyek penelitian Kesenian Kentongan desa Ledug Kecamatan
Kembaran Kabupaten Banyumas. Subyek penelitianya sangat erat dengan unsur manusia
sebgai instrumen kunci yaitu peneliti yang terlibat langsung di dalam observasi partisipasi,
unsur informan, terdiri atas pemangku adat, pameran utama upacara adat, masyarakat serta
pedagang asongan dan unsur yang lain selainmanusia di anggap sebagai data pendukung dalam
penelitian (Djaman Satori dkk,2011:220). Untuk memperoleh data informasi penelitian kali ini
menggunakan teknik Purposive Sampling merupakan subyek atau objek penelitian yang sesuai
dengan tujuan yang akan di capai artinya bahwa penentuan subyek harus itu bertujuan untuk
meningkatkan kegunaan informan yang di dapat dari subyek yang kecil. Peneliti memilih
subyek yang mempunyai pengetahuan dan informasi tentang yang sedang diteliti.
(Iskandar,2009:144)

D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data sangat erat hubungannya dengan masalah penelitian yang
ingin dipecahakan .Masalah memberi arah dan mempengaruhi penentuan metode
pengumpulan data. Banyak masalah yang telah dirumuskan tidak dapat menghasilkan data
seperti yang diinginkan. (Djaman satori dkk,2011:103). Ada tiga cara untuk mengumpulkan
data di didalam sebuah penelitian yaitu dengan menggunakan metode observasi,
wawancara,dan studi dokumentasi dimana pengumpulan datanya sebagai berikut:
1. Observasi
Menurut Margono (2005:158). Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan
secara sistematik terhadap gejala yang taampak ada obyek penelitian ada tiga macam
observasi. Observasi yang saya gunaka pada penelitian kali ini, dengan menggunakan
observasi yang tidak berstruktur. Observasi tidak berstruktur menyatakan bahwa instrumen
observasi tidak dipersiapkan secara sistmatis dari awal karena peneliti belum tau pasti apa
yang akan terjadi, jenis data apa yang akan berkembang dan dengan cara apa data baru itu
paling sesuai untuk dieksplorasi. (Djaman satori dkk,2011:120). Pada observasi kali ini,
peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam
mengeamati suatu obyek dan selain itu pengamat tidak ikut serta dalam kajian yang akan
diamati dalam pengumpulan datanya observasi ini,dilakukan secara individu serta kapan saja
waktunya tak terbatas. ( Iskandar, 2009:128)
2. Wawancara
Menurut Sudjana (2002 :234). Wawancara merupakan proses pengumpulan data atau
informasi melalui tatap muka antara pihak penanya dan pihak yang di tanya atau penjawab
dalam bentuk pertanyaan. Wawancara yang saya gunakan dalam penelitian kali ini
menggunakan model wawancara terstruktur dimana seseorang pewawancara atau peneliti
telah menentukan formaat masalah yang akan di wawancarai, berdasarkan dari masalah
penelitian yang akan diteliti oleh saya. Biasanya adalah pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan kepada responden telah ditemukan jawaban-jawabannya.(Iskandar, 2009:131-132).

F. TEKNIK ANALISIS DATA
Penelitian ini, menggunakan metode penelitian kualitatif yang berupa deskripsi
mendalam terhadap Kesenian Kentongan. Dalam kaitan ini konsep yang telah ada diterapkan
ke dalam realitas fenomena sosial budaya kemudian fenomena sosial budaya ditafsirkan atau
dipahami, pada awalnya penelitian ini menggunakan pengamatan terkendali. Artinya
Observant sadar bahwa ia sedang diamati.
Dalam suatu interview, terkadang peneliti menggunakan konsep yang sudah
direncanakan atau distruktur, dan terkadang tanpa menggunakan konsep atau belum
direncanakan. Proses analisis data dilakukan terus-menerus baik di lapangan maupun setelah
di lapangan. Analisis dilakukan dengan cara mengatur, mengurutkan, mengkelompokan,
memberi kode, dan mengkategorikan data. Setelah itu dicari tema-tema budaya yang
berkaitan dengan fokus penelitian. Fokus penelitian ini, diperdalam melalui pengamatan dan
wawancara berikutnya.
F. TEKNIK KEABSAHAN DATA
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahlihan
(validitas) dan keterandalan atau reabilitas. Penelitian merupakan kerja ilmiah sehingga untuk
melakukan ini mutlak di tuntut secara objektifitas, untuk memenuhi kriteria ini dalam
penelitian maka kesahlihan dan keterandalan haru di penuhi kalau tidak maka proses
peneltian itu perlu dipertanyakan keilmihannya. Menurut Moleong, dlam menguji keabsahan
data penelitian harus menggunakan teknik trianggulsi yaitu pemeriksahan keabdahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data tersebut, dan teknik trianggulasi yang paling bayak di gunakan
adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lainya.
DAFTAR PUSTAKA
Iskandar.2009. Metode Penelitian kualitatif. Jakarta: Gaung Persada.
Moleong Lexy, J.2002. Metode Penilitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sujana nana,dkk.2002. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Margono.2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Satori Djaman dan komariah Aan.2011. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung:
Alfabeta.
Kirk, Jerome & Marc L. Miller, 1986, Reliability and Vadility in Qualitatif Research, Vol. 1,
Beverly Hills: Sage Publication.













DAFTAR INFORMAN
NAMA : ARJO SUPONO
ALAMAT : LEDUG RT.03 RW.01 KEC. KEMBARAN KAB.
BANYUMAS
PEKERJAAN : PETANI

NAMA : SALIM
ALAMAT : LEDUG RT.02 RW.03 KEC. KEMBARAN KAB.
BANYUMAS
PEKERJAAN : BURUH










DAFTAR PERTANYAAN
1. Bagaimana pelaksaan kesenian kentongan di Desa Ledug Kecamatan Kembaran
Kabupaten Banyumas?
2. Peralataan apa saja yang di gunakan dalam kesenian kentoangan tersebut?
3. Lagu-lagu apa saja yang biasa di bawakan dalam kesenian kentongan tersebut?
4. Apakah dalam kesenian kentongan selalu mempunyai rutinitas untuk berlatih?
5. Bagaimana perkembangan kesenian kentongan pada saat sekarang?
6. Bagaimana pakaian yang di gunakan oleh pemain kentongan tersebut?














BAB IV
PEMBAHASAN

A. Proses Pelaksaan Kesenian Kentongan di Desa Ledug kecamatan Kembaran
Kabupaten Banyumas
Kesenian kentongan di desa ledug biasa di selenggarakan di waktu sore hari atau
malam hari, kegiatan ini dilakukan jika ada orang yang akan menyewa dalam acara
pernikahan, sunatan atau acara-acara lainya. Bukan hanya pada waktu-waktu itu kesenian
kentongan di pentaskan, acara latihan rutin juga di lakukan oleh group kentongan ini
dengan mengelilingi desa dan tidak jarang juga pada saat latihan tersebut di sewa untuk
berpentas hanya beberapa lagu. Kegiatan latihan ini bertujuan untuk mengasah
kemampuan personil mereka agar lebih mahir atau mencoba lagu-lagu baru yang sedang
populer untuk di aransemen kembali di dalam kesenian kentongan. Saat latihan ini menjadi
hiburan tersenidiri bagi warga desa ledug, selain bisa melihat pertunjukan ini dengan gratis
mereka juga bisa menyewa langsung di depan rumah pada saat group kentiongan ini lewat.
Jika tidak ada yang menyewa, group ini biasa memanjakan para penonton dengan
mementaskan lagu-lagu yang di minta oleh penonton yang mengikuti acara latihan ini.
Lagu dangdut koplo menjadi vaforit para penonton yang di ajukan kepada group kentongan
tersebut.
Pakaian yang di gunakan dalam acara latihan adalah pakaian biasa, tidak sama
seperti pada saat di sewa dalam acara-acara resmi. Mereka mempunyai pakaian khas untuk
di pakai dalam pertujukanya, pakaian ini biasa bercorak budaya jawa seperti batik dan
menggunkan alas kaki sepatu yang terbuat dari karet yang mempuyai tali panjang untuk di
ikatkan sampai lutut seperti yang di pakai oleh orang-orang jaman dahulu. Group
kentongan di desa ledug ini juga menerima panggilan di luar daerahnya, mereka akan
datang sesuai permintaan dengan menggunakan mobil truk. Keunikan dalam pementasaan
kentongan ini, mereka tidak hanya menyayi secara serempak dan memukul alat yang di
pegang oleh personil masing-masing tetapi mereka juga mempunyai gerakan yang
menyerupai tarian secara serempak sepanjang pementasan berlangsung.


B. Peralatan yang di Gunakan Dalam Kesenian Kentongan Desa Ledug
Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas
Kesenian kentongan mempunyai peralatan yang bervariasi, mulai dari kentong
sebagai alat yang paling dominan dalam kesenian kentongan. Selain kentong alat musik
yang di gunakan dalam kesenian kentongan yaitu aklung dan calung yang menghasilkan
suara melodi, selain itu ada juga suling. Untuk mendambahkan merdu dalam musik
kentongan biasanya di tambahkan dengan suling dan untuk suara dram dalam Kentongan
biasanya menggunakan alat yang terbuat dari tong yang di tutupi oleh ban dalem bekas.
Pemain Kentongan biasan ya berjumlah 20 orang atau lebih yang di dominasi oleh
kentong, dan teknis memainkanya ialah satu orang memegang satu kentong
membunyikan irama yang sama sepanjang lagu berjalan.
Setiap kentong mempunayai variasi memukul berbeda-beda misalnya kentong satu
baris memukul dengan pukulan tiga perempat dan baris yang lainya memukul dengan
pukulan seperempat dan lain-lainya, maka dari itu Kentongan membutuhkan orang
banyak untuk pementasanya. Biasanya kentongan di pimpin oleh satu atau dua orang
mayoret yang meggunakan baju tradisional seperti pemain kentongan yang lainya, lagu
yang biasanya di bawakan oleh Kentongan ialah lagu dangdut koplo dengan irama ramai
atau lagu-lagu campursari dan masih banyak lagi.















BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang saya amati mengenai Kesenian Kentongan di Desa Ledug
Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas dapat di simpulkan bahwa kentongan ini pada
awalanya hanyalah sebuah kebiasaan yang di ciptakan oleh masyarakat yang akhirnya
berkembang menjadi sebuah kesenian. Seiring waktu berjalan kentong berkembang menjadi
Kesenian Kentongan karena bisa menghasilkan irama musik yang enak di dengarkan,
kesenian ini mulai ramai di pentaskan masyarakat pada tahun 1990 sampai tahun 2000an.
Kesenian ini biasa di pentaskan untuk menghibur masyarakat yang menyajikan suara merdu
yang di hasilkan oleh perpaduan alat-alat tradisional seperti kentong, suling, angklung, dan
calung. Kesenian Kentongan ini di dominasi oleh kentong, dalam kesenian ini memerlukan
orang cukup banyak untuk memainkannya sekitar 20 orang dan biasanya terdapat mayoret
untuk menjadi maskot dalam kesenian tersebut. Walaupun dalam lima tahun terakhir ini
kentong sudah tidak populer seperti dulu namun kesenian ini masih di pentaskan dalam
acara-acara resmi.
















DOKUMEN PRIBADI
















TRANSKIP WAWANCARA
Saya : Apa saja peralatan yang di gunakan dalam pertujukan kesenian kentongan?
Informan : Dalam kesenian kentongan alat yang di gunakan meliputi kentong, suling,
teplak, angklung, calung.
Saya : Bagaimana pelaksaan pertunjukan kesenian kentongan?
Informan : Pelaksaan kesenian kentongan biasanya di lakukan di malam hari, jika itu
hanya sebuah latihan rutin tetapi jika di sewa untuk berpentas kami bisa datang
kapan saja sesuai permintaan. Dalam latihan rutin biasanya di lakukan pada
malam minggu, mengelilingi desa.
Saya : Bagaimana perkembangan kesenian kentongan hingga saat ini?
Informan : Perkembangan kesenian kentongan semakin hari semakin kurang baik di
karenakan sudah tidak adanya atusiasme para warga untuk mengembangkan dan
melestarikan kesenian ini, di samping itu para personil kesenia ini banyak yang
tidak bisa untuk berpetas di karenakan sibuk untuk bekera.
Saya : Lagu-lagu apa saja yang sering di pentaskan dalam kesenian kentongan ini?
Informan : Lagu-lagu yang biasanya kami persembahkan ialah lagu-lagu daerah seperti
gambang suling, tetapi kami lebih sering memoersembahkan lagu dangdut koplo
yang sedang tren pada masa kini.
Saya : Bagaimana pakaian yang di gunakan saat pementasan.
Informan : Kami mempunyai kostum untuk berpentas di gunakan jika pementasan resmi,
tetapi jika latihan biasa kami menggukan pakaian biasa.
Saya : Apakah kesenian kentongan ini mempunyai rutinitas untuk berlatih?
Informan : Kami mempunyai rutinitas untuk berlatih, biasanya kami berlatih 4 atau 6 kali
dalam satu bulan.