Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“ISOLASI MINYAK ATSIRI DARI BUNGA KENANGA”


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahan Alam

Dosen pembimbing:

M. Ghonaim Pasya, S.Si

Oleh:

Ahmad Luthfil M (06530020)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM


MALANG

2009
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim,

Syukur Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT. Tuhan Pencipta semesta alam
yang hanya karena rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, penulisan makalah dengan judul
“Isolasi minyak atsiri dari bunga kenanga” dapat diselesaikan sebagai tugas Ujian Tengah
Semester mata kuliah Bahan Alam.

Sholawat serta salam saya ucapkan kepada ujung tombak islam Nabi Besar
Muhammad SAW, yang telah membebaskan dari zaman kebodohan, hingga saat ini kita
rasakan kenikmatan dalam memeluk agam islam.

Penulisan makalah ini merupakan upaya optimal penulis untuk memberikan yang
terbaik selama penyusunannya. Meskipun demikian, Penulis sangat mengharap saran dan
kritik yang membangun dari pembaca agar diperoleh hasil yang terbaik. Penulis berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, Amin.

Malang, 5 November 2009

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ................................................................................................. i

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1


1.1 Latar belakang ... ............................................................................................ 1
1.2 Batasan masalah ............................................................................................ 2
1.3 Rumusan masalah ............................................................................................ 2
1.4 Tujuan .............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 3


2.1 Minyak atsiri .................................................................................................... 3
2.2 Deskripsi tanaman bunga kenanga ................................................................. 4
2.2 Klasifikasi kenanga ..................................................................................... ...... 5
2.3 Sifat fisiko kimia minyak kenanga ............................................................ ..... 6
2.4 Kegunaan minyak kenanga ............................................................................. 7

2.5 Standart mutu minyak kenanga ................................................................ ...... 7


2.6 Tehnik isolasi minyak atsiri pada bunga kenanga ....................................... 8

BAB III KESIMPULAN ............................................................................................... 11


DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak atsiri, seperti minyak
nilam, sereh wangi yang dikenal sebagai Java cittronellal oil, akar wangi, pala, kenanga,
daun cengkeh, dan cendana. Beberapa daerah produksi minyak atsiri adalah daerah Jawa
Barat (sereh wangi, akar wangi, daun cengkeh, pala), Jawa Timur (kenanga, daun cengkeh),
Jawa Tengah (daun cengkeh, nilam), Bengkulu (nilam), Aceh (nilam, pala), Nias, Tapanuli,
dan Sumatera Barat.

Teknik penyulingan minyak atsiri yang selama ini diusahakan para petani, masih
dilakukan secara sederhana dan belum menggunakan teknik penyulingan secara baik dan
benar. Selain itu, penanganan hasil setelah produksi belum dilakukan secara maksimal,
seperti pemisahan minyak setelah penyulingan, wadah yang digunakan, penyimpanan yang
tidak benar, maka akan terjadi proses-proses yang tidak diinginkan, yaitu oksidasi, hidrolisa
ataupun polimerisasi. Biasanya minyak yang dihasilkan akan terlihat lebih gelap dan
berwarna kehitaman atau sedikit kehijauan akibat kontaminasi dari logam Fe dan Cu. Hal ini
akan berpengaruh terhadap sifat fisika kimia minyak. Untuk itu, proses penyulingan minyak
yang baik dan benar perlu diketahui secara lebih rinci, sehingga minyak yang dihasilkan
dapat memenuhi persyaratan mutu yang ada.

Kualitas atau mutu minyak atsiri ditentukan oleh karakteristik alamiah dari masing-
masing minyak tersebut dan bahan-bahan asing yang tercampur di dalamnya, adanya bahan-
bahan asing akan merusak mutu minyak atsiri. Komponen standar mutu minyak atsiri
ditentukan oleh kualitas dari minyak itu sendiri dan kemurniannya. Kemurnian minyak bisa
diperiksa dengan penetapan kelarutan uji lemak dan mineral. Selain itu, faktor yang
menentukan mutu adalah sifat-sifat fisika-kimia minyak, seperti bilangan asam, bilangan
ester dan komponen utama minyak, dan membandingkannya dengan standar mutu
perdagangan yang ada. Bila nilainya tidak memenuhi berarti minyak telah terkontaminasi,
adanya pemalsuan atau minyak atsiri tersebut dikatakan bermutu rendah. Faktor lain yang
berperan dalam mutu minyak atsiri adalah jenis tanaman, umur panen, perlakuan bahan
sebelum penyulingan, jenis peralatan yang digunakan dan kondisi prosesnya, perlakuan
minyak setelah penyulingan, kemasan dan penyimpanan.

1
Tanaman kenanga (Canangium odoratum Baill) termasuk keluarga Anonaceae
(kenanga-kenangaan), dapat tumbuh baik di seluruh Indonesia dengan ketinggian daerah di
bawah 1.200 m (di atas permukaan laut). Pada umumnya berbentuk pohon atau perdu berkulit
serat. Daun tersusun berseling, berbentuk agak bulat telur dengan ujung meruncing dan
berdasar bundar serta bertulang menyirip. Bunganya berbentuk bintang berwarna hijau pada
waktu masih muda dan berwarna kuning setelah masak, berbau harum, berada tunggal atau
berkelompok pada tangkai bunga. Minyak kenanga banyak digunakan dalam industri flavor,
parfum, kosmetika, dann farmasi. Komponen utama dalam minyak kenanga dari konsentrasi
yang paling besar berturut-turut adalah beta-kariofilen, alfa-terpineol,benzil asetat, dan benzil
alkohol.

Untuk mendapatkan hasil penyulingan minyak atsiri yang bagus perlu diketahui
teknik isolasi untuk mendapatkan minyak atsri dari bunga terhadap perlakuan atau proses
penyulingannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari proses
penyulingan minyak atsiri dari bunga kenanga yang baik dan efisien.

1.2 Batasan masalah


Dalam makalah ini akan dibahas mengenai minyak atsiri yang terkandung dalam
bunga kenanga dengan proses isolasinya.

1.3 Rumusan masalah


 Senyawa kimia apa sajakah yang terkandung dalam bunga kenanga?
 Bagaimanakah teknik isolasi untuk minyak atsiri dalam bunga kenanga yang
digunakan sebagai teknik isolasi yang baik dan efisien?

1.4 Tujuan
 Mengetahui Senyawa kimia yang terkandung dalam bunga kenanga
 Mengetahui teknik isolasi untuk minyak atsiri dalam bunga kenanga yang
digunakan sebagai teknik isolasi yang baik dan efisien.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Minyak atsiri

Indonesia merupakan negara beriklim tropis kaya akan beraneka ragam flora,
berbagai jenis tanaman yang mempunyai banyak manfaat dapat tumbuh dengan mudah, salah
satu diantaranya adalah tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri. Indonesia memiliki
potensi sebagai salah satu negara pengekspor minyak atsiri, seperti minyak nilam, kenanga,
akar wangi, sereh wangi, cendana, pala, dan daun cengkeh. Beberapa daerah produksi minyak
atsiri antara lain daerah Jawa Barat (sereh wangi, akar wangi, daun cengkeh, dan pala), Jawa
Timur (kenanga dan cengkeh), serta daerah Jawa Tengah, Bengkulu, Aceh atau Sumatera
utara sebagai penghasil minyak nilam (Manurung,2003).

Minyak atsiri umumnya merupakan komponen pemberi bau yang khas, atau disebut
minyak eteris, minyak menguap atau essential oil yaitu bahan aromatis alam yang berasal
dari tumbuhan. Ciri minyak atsiri antara lain mudah menguap pada suhu kamar tanpa
mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai tanaman penghasilnya
dan bersifat larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air (Ketaren, 1985). Minyak
atsiri pada suhu kamar berbentuk cairan berwarna kuning-kecoklatan hingga kuning muda
sampai kemerahan dan mempunyai densitas lebih kecil dari air.

2.2 Deskripsi tanaman bunga kenanga

Gambar 2.1 Bunga kenanga

3
Tanaman kenanga (Canangium odoratum Baill) termasuk keluarga Anonaceae
(kenanga-kenangaan), dapat tumbuh baik di seluruh Indonesia dengan ketinggian daerah di
bawah 1.200 m (di atas permukaan laut). Pada umumnya berbentuk pohon atau perdu berkulit
serat. Daun tersusun berseling, berbentuk agak bulat telur dengan ujung meruncing dan
berdasar bundar serta bertulang menyirip. Bunganya berbentuk bintang berwarna hijau pada
waktu masih muda dan berwarna kuning setelah masak, berbau harum, berada tunggal atau
berkelompok pada tangkai bunga. Minyak kenanga banyak digunakan dalam industri flavor,
parfum, kosmetika, dann farmasi. Komponen utama dalam minyak kenanga dari konsentrasi
yang paling besar berturut-turut adalah beta-kariofilen, alfa-terpineol, benzil asetat, dan
benzil alkohol.
Di dunia terdapat beberapa jenis kenanga, antara lain Cananga odorata, Cananga
latifolia, Cananga scorthecini King, Cananga brandisanum Safford. Tanaman kenanga yang
terdapat di Indonesia adalah kenanga jenis Cananga odorata. Bunga kenanga yang baik dan
tepat untuk dipanen adalah bunga yang warnanya sudah mulai kuning atau kuning benar.
Bunga yang masih berwarna hijau menghasilkan minyak atsiri yang bermutu jelek (Luqman,
L. dan Rahmayanti, 1994). Selain dimanfaatkan bunganya untuk pembuatan minyak atsiri,
tanaman kenanga dapat digunakan sebagai tanaman hias, sumber obat, sumber kayu dan
lainlainnya.

Minyak kenanga adalah salah satu jenis minyak atsiri yang banyak mengandung
senyawa hidrokarbon seperti terpen, alkohol, aldehyd, ester dan lain-lain. Senyawa yang
banyak terdapat dalam minyak kenanga yaitu senyawa sesquiterpenes. Untuk dapat
memperoleh minyak kenanga yang bermutu tinggi maka perlu perlakuan sebelum
penyulingan seperti pengirisan dan pengeringan. Adapun maksud dari pengirisan tersebut
adalah untuk membantu proses difusi minyak atsiri dari jaringan-jaringan serta untuk
mempercepat proses penyulingannya

2.2 Klasifikasi kenanga


Klasifikasi pada tumbuhan kenanga yaitu sebagai berikut:
CANANGIUM ODORATUM BAILL.
Botani
Sinonim Canangium truticosum Graib.
Klasifikasi
Divisi Spermatophyta

4
Sub divisi Angiospermae
Kelas Dicotyledonae
Bangsa Ranunculales
Suku Annonaceae
Marga Canangium
Jenis Canangium odoratum Baill.
Nama umum/dagang Kenanga

Nama daerah
Sumatera Kenanga (Aceh) Selanga (Gayo) Ngana-ngana
(Nias) Ingona (Minangkabau) Salapin (Sumatera
Timur] Kupa Apale (Sumatera Barat) Kupa lena
(Sumatera Selatan)
Jawa Kananga (Sunda) Kenanga (Jawa Tengah)
Kananga (Madura)
Ball Sandat
Nusa Tenggara Sandat (Sasak) Kananga (Bima) Tenaga (Sawu)
Bunga kacik (Roti)
Sulawesi Lalingiran (Sulawesi ufara) Kananga (Bugis)
Maluku Lomulilano (Buru)

Deskripsi
Habitus Pohon, linggi ± 10 m.
Batang Berkayu, bulat, bercabang, hijau kotor.
Daun Tunggal, tersebar, bulat telur, ujung runcing, pangkal
rata, panjang 10-23 cm, Iebar3-14 cm, pertulangan
menyirip, bertangkai 1-),5 cm, hijau.
Bunga Majemuk, bentuk payung, di ketiak daun, kuning,
kelopak bentuk corong, hijau, benang sari banyak,
coklat muda, kepala putik bulat, daun mahkota
enam, lanset, panjang 5-7,5 cm, masih muda hijau
etelah tua kuning
Buah Buni, lonjong, panjang ± 2 cm, hijau.
Akar Tunggang coklat.

5
2.3 Sifat fisiko kimia minyak kenanga
Sumber : Mulyono dan Marwati (2005)
Keterangan : *Badan Standarisasi Nasional (1995); Tt = tidak terdeteksi; - = tidak disyaratkan
Sebelum Setelah
Sifat fisikokimia pemurnian pemurnian SNI 06-3949-1995*
Kejernihan (% T) 13.1 94.1 -
Warna Coklat Kuning Kuning tua

Bobot jenis 25°/25°C 0,9118 0,9154 0,906-0,920

Indek bias 25°C 1,5007 1,5002 1,495-1,504

Putaran optik -19°24’ -18°12’ (-15°) – (30°)

Kelarutan dalam
alkohol 90 % Larut 1:3 Larut 1:3 1:1.5 jernih
Bilangan asam 1.01 1.19 -
Bilangan ester 24,01 23,84 15-35
Kadar logam (ppm)
Mg 321 111
Fe 11 4
-
Mn 13 5
Zn 1 tt
Pb 1 tt
Kadar komponen utama
β-kariofilen 39,441 39,441 -
α-terpineol 10,732 10,732

2.4 Kegunaan minyak kenanga

Komponen aroma dari minyak atsiri cepat berinteraksi saat dihirup, senyawa tersebut
secara cepat berinteraksi sistem syaraf pusat dan langsung merangsang pada sistem olfactory,
kemudian sistem ini akan menstimulasi syaraf-syaraf pada otak dibawah kesetimbangan
korteks serebral (Buckle, 1999). Senyawa-senyawa berbau harum atau fragrance dari minyak
atsiri suatu bahan tumbuhan telah terbukti pula dapat mempengaruhi aktivitas lokomotor
(Buchbauer, 1991).

Aktivitas lokomotor merupakan aktivitas gerak sebagai akibat adanya perubahan


aktivitas listrik yang disebabkan oleh perubahan permeabelitas membran pascasinaptik dan

6
oleh adanya pelepasan transmitter oleh neuron prasinaptik pada sistem syaraf pusat
(Gilman,1991).

Minyak kemangi dan kenanga dikategorikan sebagai minyak lembut (softly), sehingga
kedua minyak ini dapat digunakkan dalam SPA. minyak kenanga dan minyak serai wangi 2
% menjadi krim pijat yang baik setelah melalui uji hedonik (Ane R, 2005; Nia, 2005).
Minuman sari biji kemangi 20 % telah dibuat untuk kesegaran pemakainya (Yanti et al.,
2006).

2.5 Standart mutu minyak kenanga


Pasaran ekspor untuk minyak kenanga Indonesia masih baik, sehingga perlu upaya
pengembangan tanaman kenanga. Naik turunnya harga minyak kenanga Indonesia terutama
disebabkan oleh kualitas minyak kenanga yang dihasilkan sering dinilai rendah oleh para
importir di negara-negara importir. Oleh karena itu, perlu peningkatan kualitas bahan baku
berupa bunga kenanga dan peningkatan teknologi penyulingan bunga kenanga yang selama
ini masih bersifat tradisional. Jika hal ini dapat tercapai maka pendapatan petani kenanga
akan meningkat. Dengan demikian nilai devisa dari usaha ekspor minyak kenangapun dapat
meningkat. Berdasarkan pada persyaratan standar eksporatau standar mutu SNI 06-3949-
1005, kriteria atau karakteristik yang harus dipenuhi minyak kenanga (Mulyono dan
Marwati,2005) antara lain sebagai berikut

Jenis uji Persyaratan

Warna Kuning tua


Densitas (25 0C ) 0,906 - 0,920
Indeks Bias 1,495– 1,504
Bau Segar khas
minyak kenanga
Bilangan asam -
Bilangan ester 15 -35

2.6 Tehnik isolasi minyak atsiri pada bunga kenanga

7
Penyulingan
Penyulingan adalah pemisahan komponenkomponen suatu campuran dari dua jenis
zat atau lebih yang didasarkan atas perbedaan titik didih dari masing-masing zat tersebut
(Guenter, 1952). Secara umum metode penyulingan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
penyulingan dengan air, penyulingan dengan menggunakan uap serta penyulingan dengan air
dan uap air.

Penyulingan dengan air


Metode ini bahan yang akan disuling berkontak langsung dengan air yang mendidih.
Bahan baku disini dapat mengapung atau tenggelam, tergantung berat jenis bahan dan jumlah
bahan yang akan disuling yang dimasukkan ke dalam ketel. Pemanasannya dapat dilakukan
dengan menggunakan pemanasan langsung, mantel uap atau pun pipa uap dalam spiral yang
terbuka dan berlubang. Cara kerja alat ini merupakan proses hidrodifusi yang bekerja sangat
lamban. Agar lebih efektif bahan harus dirajang terlebih dahulu. Ketel yang berisi bahan dan
air, yang pengisiannya tidak terlalu penuh, dipanaskan dengan api langsung yang dilengkapi
dengan mantel uap dan pipa uap melingkar. Jika air sudah mulai mendidih, kondensat akan
mulai keluar melalui kondensor dan menetes ke dalam alat pemisah minyak yang terlebih
dahulu diisi air. Kecepatan penyulingan dapat diatur melalui intensitas apinya. Juga harus
sesuai dengan keadaan alat dan bahan yang akan disuling. Kecepatan hendaknya harus
berada pada keadaan optimum untuk menghasilkan minyak atsiri yang berkualitas baik.
Yang perlu diperhatikan adalah selama proses penyulingan berlangsung diusahakan ada
penambahan air untuk menjaga agar bahan tidak terlalu panas dan pengisian bahan tidak
terlalu penuh. Penyulingan ini sering disebut metode kohobasi. Metode ini sering digunakan
di negara-negara berkembang. Keuntungan lain adalah dapat mengekstraksi bahan dalam
bentuk bubuk. Namun alat ini memiliki kekurangan, antara lain ekstraksi tidak dapat
berlangsung secara baik, walaupun bahan dirajang. Juga persenyawaan yang peka akan
mengalami polimerisasi, minyak yang tersuling komponen-komponennya tidak lengkap dan
memerlukan ketel yang besar.

Penyulingan dengan air dan uap


Penyulingan dengan cara ini saat ini menjadi populer dikalangan usaha kecil.
Penyulingan yang sedikit biasanya dihubungkan hanya dengan api langsung, sedangkan yang
lebih besar menggunakan mantel uap maupun pipa uap spiral terbuka atau tertutup.

8
Pada metode ini bahan olahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlubang.
Ketel sulingnya diisi air hingga tidak berada jauh di bawah saringan. Pemanasan air dapat
dilakukan dengan uap jenuh yang basah dan bertekanan rendah, jika bahannya dalam jumlah
yang banyak. Keuntungan alat ini adalah uap selalu dalam keadan panas, jenuh dan tidak
terlalu panas, serta bahan tidak berhubungan langsung dengan air panas. Sehingga
menempatkan alat ini lebih unggul, dilihat dari penggunaan bahan bakar yang lebih sedikit.
Akan tetapi proses penyulingannya lebih lama. Dalam beberapa keadaan, tekanan uap yang
rendah akan menghasilkan minyak atsiri yang berkualitas baik.

Penyulingan dengan uap. Metode ini prinsipnya sama dengan penyulingan dengan air
dan uap. Perbedaannya air tidak dimasukkan dalam ketel penyulingan. Uap yang digunakan
adalah uap jenuh atau uap yang kelewat panas pada tekanan di atas 1 atmosfir. Uap dialirkan
melalui pipa uap spiral berlubang yang terletak di bagian bawah bahan. Kemudian uap
bergerak ke atas melalui bahan yang ada di saringan. Tipe penyulingan ini biasa disebut
dengan penyulingan langsung. Penyulingan ini merupakan yang terbaik dibandingkan kedua
jenis metoda di atas, jika ditinjau dari segi biaya, kecepatan penyulingan dan kapasitas
minyak yang dihasilkan (Sarwono, 1984).

Pada metode penyulingan dengan menggunakan air dan uap air. Keuntungan alat ini
adalah uap selalu dalam keadaan panas, jenuh dan tidak terlalu panas, serta bahan tidak
berhubungan langsung dengan air panas. Sehingga menempatkan alat ini lebih unggul, dilihat
dari penggunaan bahan bakar yang lebih sedikit. Dalam beberapa keadaan, tekanan uap yang
rendah akan menghasilkan minyak atsiri yang berkualitas baik.

Pada proses penyulingan ini bahan baku berupa bunga kenanga. Bunga kenanga yang
digunakan adalah bunga yang telah matang yaitu bunga yang telah berwarna kuning. Bahan
baku mula-mula dipotong-potong (dirajang), selanjutnya dimasukkan ke dalam kolom atau
ketel penyulingan, yang telah dirangkai dengan labu leher tiga. Kemudian nyalakan kompor,
setelah air mendidih uap akan keluar melalui pori-pori yang terletak di bawah bahan, minyak
akan terbawa naik bersama uap menuju ke pipa yang dilengkapi pendingin dan menetes ke
dalam gelas beker. Cairan pada gelas beker berupa campuran air dengan minyak, dengan
perbedaan densitasnya, minyak yang diperoleh dapat dipisahkan. Percobaan dilakukan
dengan variabel berat bahan baku dan volume air penyulingan. Pengisian air dalam labu leher

9
tiga jangan sampai terlalu penuh untuk memudahkan terjadinya penguapan, dan labu leher
tiga ditutup rapat agar tidak terjadi kebocoran.

10
BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwasanya:


1. Minyak kenanga adalah salah satu jenis minyak atsiri yang banyak mengandung
senyawa hidrokarbon seperti terpen, alkohol, aldehyd, ester dan lain-lain. Senyawa
yang banyak terdapat dalam minyak kenanga yaitu senyawa sesquiterpenes
2. Metode isolasi yang digunakan adalah metode penyulingan dengan enggunakan air
dan uap air. Keuntungan alat ini adalah uap selalu dalam keadaan panas, jenuh dan
tidak terlalu panas, serta bahan tidak berhubungan langsung dengan air panas.
Sehingga menempatkan alat ini lebih unggul, dilihat dari penggunaan bahan bakar
yang lebih sedikit. Dalam beberapa keadaan, tekanan uap yang rendah akan
menghasilkan minyak atsiri yang berkualitas baik.

11
DAFTAR PUSTAKA

Buchbauer, G. 1993. Biological Effects of fragrances and Essential Oils. Journal Perfumer
and flavorist

Buckle, J. 1999. Use of Aromatherapy as Complementary Treatment for Chronic Pain.


J. Alternative Therapies.

Gilman, A.G., Rall,T.W., Nies, A.S. and Taylor. 1991. The Pharmacological Basis of
Therapeutics, 8th ed, New York : McGraw-Hill.

Ketaren, S., 1985, Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, Balai Pustaka, Jakarta.

Luqman, L. & Rahmayanti, Y.,1994, Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Penebar
Swadaya : Jakarta.

Manurung, T.B., 2003, Usaha Pengolahan dan Perdagangan Minyak Atsiri Indonesia
dan Permasalahannya dalam Menghadapi Era Perdagangan Global, Jakarta,

Mulyono, E. dan T. Marwati. 2005. Kajian proses pemurnian minyak kenanga. Buletin
Teknologi Pascapanen Pertanian.

Sarwono,1984, Metoda Penyulingan Minyak Atsiri. Trubus.

12