Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Lepra atau yang dikenal juga sebagai Morbus Hansen adalah
suatu infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae,
organisme yang memiliki predileksi di kulit dan saraf. Meskipun
tidak fatal, lepra merupakan salah satu penyebab tersering non-
traumatic peripheral neuropathy.
1
Kusta termasuk penyakit tertua.
Kata kusta berasal dari bahasa India kustha, dikenal sejak 1400
sebelum Masehi. Kata kusta disebut dalam kitab Injil, terjemahan
dari bahasa Hebre !araath, yang sebenarnya men"akup beberapa
penyakit kulit lainnya.
#
My"oba"terium leprae, agen penyebab kusta ditemukan oleh
$. H. %rmauer Hansen di &oray pada tahun 1'(), dan sebagai
identi*kasi bakteri pertama yang menyebabkan penyakit pada
manusia.
1,10
+elama #0 tahun ,H- telah mengimplementasikan
M./ 0multi1drug treatment2 di negara 3 negara endemi" untuk
mengobati kusta. Meskipun telah tampak penurunan pre4alensi
infeksi M. leprae, namun deteksi kasus baru masih mengindikasikan
adanya transmisi aktif. Kerentanan terhadap mikrobakteri dan
perjalanan klinis penyakit ini dikaitkan dengan respon imun host.
1
5eaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada
perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronis. 6ato*sologinya
belum jelas diketahui, namun dikaitkan dengan reaksi imunologik.
5eaksi kusta dapat menyebabkan ke"a"atan pada pasien kusta dan
dapat timbul sebelum, saat, dan sesudah terapi. /erdapat dua jenis
reaksi kusta, yaitu reaksi tipe I atau Reversal Reaction 0552 dan
reaksi tipe II atau 7ritema &odusum Leprosum 07&L2. 6ada referat ini
akan dibahas lebih lanjut mengenai reaksi tipe II.
#,)
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit
4,
Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar
karena posisinya yang terletak di bagian paling luar. Luas kulit
deasa 1,8 m# dengan berat kira1kira 189 berat badan. 6embagian
histopatologik kulit se"ara garis besar tersusun atas tiga lapisan
utama, yaitu:
1. Lapisan epidermis atau kutikel
+tratum Korneum 0lapisan tanduk2 adalah lapisan kulit
paling luar yang terdiri dari sel gepeng yang mati, tidak
berinti, protoplasmanya berubah menjadi keratin 0!at
tanduk2
+tratum Lusidum terletak di baah lapisan korneum,
lapisan sel gepeng tanpa inti, protoplasmanya berubah
menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini lebih
jelas tampak pada telapak tangan dan kaki.
+tratum $ranulosum 0lapisan keratohialin2 merupakan #
atau ) lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir
kasar dan terdapat inti di antaranya. ;utir kasar terdiri
dari keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai
lapisan ini.
+tratum +pinosum 0stratum Malphigi2 atau pri"kle "ell
layer 0lapisan akanta 2 terdiri dari sel yang berbentuk
poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak
mengandung glikogen, selnya akan semakin gepeng bila
semakin dekat ke permukaan. .i antara stratum
spinosum, terdapat jembatan antar sel 0inter"ellular
bridges2 yang terdiri dari protoplasma dan tono*bril atau
keratin. 6erlekatan antar jembatan ini membentuk
#
penebalan bulat ke"il yang disebut nodulus ;i!!o!ero. .i
antara sel spinosum juga terdapat pula sel Langerhans.
+tratum ;asalis terdiri dari sel kubus 0kolumnar2 yang
tersusun 4ertikal pada perbatasan dermo1epidermal
berbaris seperti pagar 0palisade2. +el basal bermitosis
dan berfungsi reproduktif.
+el kolumnar protoplasma baso*lik inti lonjong besar, di
hubungkan oleh jembatan antar sel.
+el pembentuk melanin 0melanosit2 atau "lear "ell sel
berarna muda, sitoplasma baso*lik dan inti gelap,
mengandung pigmen 0melanosomes2
#. Lapisan dermis 0korium, kutis 4era, true skin2
/erdiri dari lapisan elastik dan *brosa pada dengan elemen1
elemen selular dan folikel rambut.
6ars 6apilare adalah bagian yang menonjol ke
epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh
darah.
6ars 5etikulare adalah bagian baah yang menonjol ke
subkutan. /erdiri dari serabut penunjang seperti
kolagen, elastin, dan retikulin. .asar 0matriks2 lapisan ini
terdiri dari "airan kental asam hialuronat dan kondroitin
sulfat, dibagian ini terdapat pula *broblas. +erabut
kolagen dibentuk oleh *broblas, selanjutnya membentuk
ikatan 0bundel2 yang mengandung hidroksiprolin dan
hidroksisilin. Kolagen muda bersifat elastin, seiring
bertambahnya usia, menjadi kurang larut dan makin
stabil. 5etikulin mirip kolagen muda. +erabut elastin
biasanya bergelombang, berbentuk amorf, dan mudah
mengembang serta lebih elastis.
). Lapisan subkutis 0hypodermis2
Merupakan lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat
longgar berisi sel lemak yang bulat, besar, dengan inti
mendesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah.
+el ini berkelompok dan dipisahkan oleh trabekula yang
*brosa. Lapisan sel lemak disebut dengan panikulus
adiposa, berfungsi sebagai "adangan makanan. .i lapisan
)
ini terdapat saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening.
Lapisan lemak berfungsi juga sebagai bantalan,
ketebalannya berbeda pada beberapa kulit. .i kelopak
mata dan penis lebih tipis, di perut lebih tebal 0sampai )
"m2. <askularisasi di kuli diatur pleksus super*sialis
0terletak di bagian atas dermis2 dan pleksus profunda
0terletak di subkutis2.
$ambar II.1 %natomi kulit
Kelenjar kulit terletak di lapisan dermis.
1. Kelenjar keringat 0glandula sudorifera2
Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan
glukosa. pH nya sekitar 4 1 =,'.
Kelenjar 7krin: ke"il1ke"il, terletak dangkal di dermis
dengan se"ret en"er.Kelenjar 7krin terbentuk sempurna
pada minggu ke #' kehamilan dan berfungsi 40 minggu
setelah kelahiran. +alurannya berbentuk spiral dan
bermuara langsung pada kulit dan terbanyak pada
telapak tangan, kaki, dahi, dan aksila. +ekresi
tergantung beberapa faktor dan saraf kolinergik, faktor
panas, stress emosional.
4
Kelenjar %pokrin: lebih besar, terletak lebih dalam,
se"retnya lebih kental..ipengaruhi oleh saraf
adrenergik, terdapat di aksila, aerola mammae, pubis,
labia minora, saluran telinga. >ungsinya belum
diketahui, aktu lahir ukurannya ke"il, saat deasa
menjadi lebih besar dan mengeluarkan se"ret
#. Kelenjar 6alit 0glandula sebasea2
/erletak di seluruh permukaan kuli manusia ke"uali telapak
tangan dan kaki. .isebut juga dengan kelenjar holokrin
karena tidak berlumen dan sekret kelenjar ini berasal dari
dekomposisi sel1sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya
terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat
pada lumen akar rambut 0folikel rambut2. +ebum
mengandung trigliserida, asam lemak bebas, skualen, a?
ester, dan kolesterol. +ekresi dipengaruhi oleh hormon
androgen. 6ada anak1anak, jumlahnya sedikit. 6ada deasa
menjadi lebih banyak dan berfungsi se"ara aktif.
>ungsi utama kulit ialah proteksim absorpsi, eksresi, persepsi,
pengaturan suhu 0termoregulasi2, pembentukan pigmen,
pembentukan 4itamin ., dan keratinisasi.
>ungsi 6roteksi
Kulit punya bantalan lemak, ketebalan, serabut jaringan
penunjang yang dapat melindungi tubuh dari gangguan :
*sis@ mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.
kimiai : iritan seperti lisol, karbil, asam, alkali kuat
panas : radiasi, sengatan sinar A<
infeksi luar : bakteri, jamur
;eberapa ma"am perlindungan :
Melanosit : melindungi kulit dari pajanan sinar
matahari dengan mengadakan tanning 0penggelapan
kulit2
+tratum korneum impermeable terhadap berbagai !at
kimia dan air.
8
Keasaman kulit karena ekskresi keringat dan sebum
memberikan perlindungan kimiai terhadap infeksi
bakteri maupun jamur
6roses keratinisasi: sebagai saar 0barrier2 mekanis
karena sel mati melepaskan diri se"ara teratur.
>ungsi %bsorps
6ermeabilitas kulit terhadap -#, B-#, dan uap air
memungkinkan kulit ikut mengambil fungsi respirasi.
Kemampuan absorbsinya bergantung pada ketebalan kulit,
hidrasi, kelembaban, metabolisme, dan jenis 4ehikulum.
67nyerapan dapat melalui "elah antar sel, menembus sel
epidermis, melalui muara saluran kelenjar.
>ungsi 7kskresi
Mengeluarkan !at yang tidak berguna bagi tubuh seperti &aBl,
urea, asam urat, dan amonia. 6ada fetus, kelenjar lemak
dengan bantuan hormon androgen dari ibunya memproduksi
sebum untuk melindungi kulitnya dari "airan amnion, pada
aktu lahir ditemui sebagai <erni? Baseosa.
>ungsi 6ersepsi
Kulit mengandung ujung saraf sensori di dermis dan subkutis.
+araf sensori lebih banyak jumlahnya pada daerah yang
erotik.
;adan 5uCni di dermis dan subkutis peka
rangsangan panas
;adan Krause di dermis peka rangsangan dingin
;adan /aktik Meissner di papila dermis peka
rangsangan rabaan
;adan Merkel 5an4ier di epidermis peka rangsangan
rabaan
;adan 6a""ini di epidemis peka rangsangan tekanan
>ungsi 6engaturan +uhu /ubuh 0termoregulasi2
.engan "ara mengeluarkan keringat dan mengerutkan 0otot
berkontraksi2 pembuluh darah kulit. Kulit kaya pembuluh
=
darah sehingga mendapat nutrisi yang baik. /onus 4askuler
dipengaruhi oleh saraf simpatis 0asetilkolin2. 6ada bayi,
dinding pembuluh darah belum sempurna sehingga terjadi
ekstra4asasi "airan dan membuat kulit bayi terlihat lebih
edematosa 0banyak mengandung air dan &a2
>ungsi 6embentukan 6igmen
Karena terdapat melanosit 0sel pembentuk pigmen2 yang
terdiri dari butiran pigmen 0melanosomes2
>ungsi Keratinisasi
Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan
pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan
berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel
makin menjadi gepeng dan bergranula menjadi sel
granulosum. Makin lama inti makin menghilang dan
keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf. 6roses ini
berlangsung 141#1 hari dan memberi perlindungan kulit
terhadap infeksi se"ara mekanis *siologik.
>ungsi 6embentukan <itamin .
Kulit mengubah ( dihidroksi kolesterol dengan pertolongan
sinar matahari. /api kebutuhan 4it . tubuh tidak hanya "ukup
dari hal tersebut. 6emberian 4it . sistemik masih tetap
diperlukan.
II.! D"#nisi Kusta
Kusta merupakan penyakit infeksi granulomatosa yang kronik
dan penyebabnya ialah Mycobacterium leprae, yang bersifat
intraseluler obligat. +araf perifer sebagai a*nitas pertama, lalu kulit,
dan ulkus traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke
organ lain ke"uali susunan saraf pusat.
#,),=
II.$ E%id"miologi
Masalah epidemiologi masih belum terpe"ahkan, "ara
penularan belum diketahui pasti, hanya berdasarkan anggapan
klasik yaitu melalui kontak langsung antarkulit yang lama dan erat
(
antara manusia dan manusia. %nggapan kedua ialah se"ara inhalasi,
sebab M. leprae dapat hidup beberapa hari dalam droplet. /erdapat
anggapan mengenai penularan melalui kontak dengan tanah yang
terinfeksi dan melalui 4e"tor serangga.
#,=,(
Masa tunasnya sangat ber4ariasi antara 40 hari sampai 40
tahun. Amumnya beberapa tahun, rata 3 rata ) 3 8 tahun.
#,=
6enyebaran penyakit kusta dari suatu tempat ke tempat lain
sampai tersebar di seluruh dunia tampaknya disebabkan oleh
perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Masuknya
kusta ke pulau 3 pulau Malanesia termasuk Indonesia, diperkirakan
terbaa oleh orang 3 orang Bina. .istribusi penyakit ini tiap 3 tiap
negara maupun dalam satu negara sendiri ternyata berbeda 3 beda.
.emikian pula penyebab penyakit kusta menurun atau menghilang
dalam suatu negara sampai saat ini belum jelas benar.
#
Kusta dapat menyerang di semua usia, anak 3 anak lebih
rentan dari orang deasa, onset penyakit ini rata 3 rata terdapat
pada pasien dengan usia kurang dari )8 tahun.
#,=
.i Indonesia
penderita anak 3 anak dibaah usia 14 tahun didapatkan sekitar
11,)D9, tetapi anak dibaah usia 1 tahun jarang ditemukan. +aat
ini usaha pen"atatan penderita dibaah usia 1 tahun penting
dilakukan untuk di"ari kemungkinan ada atau tidaknya kusta
"ongenital. +uatu studi menyatakan, kusta lebih sering mengenai
pria dibandingkan anita dengan rasio # : 1.
=
>aktor 3 faktor yang perlu dipertimbangkan adalah
patogenesis kuman penyebab, "ara penularan, keadaan so"ial
ekonomi dan lingkungan, 4arian geneti" yang berhubungan dengan
kerentanan, perubahan imunitas, dan kemungkinan adanya
reser4oir di luar manusia. .ikatakan baha wild armadillos,
simpanse, monyet mangabey dapat terinfeksi M. leprae dan
memberikan gambaran infeksi kusta.
#,=,(
6ada tahun 1DD1 ,orld Health %ssembly membuat resolusi
tentang eliminasi kusta sebagai problem kesehatan masyarakat
tahun #000 dengan menurunkan pre4alensi kusta menjadi dibaah
'
1 kasus per 10.000 penduduk. Eumlah kasus kusta di seluruh dunia
selama 1# tahun terakhir telah menurun tajam di sebagian besar
negara atau ilayah endemis. .i Indonesia jumlah kasus kusta yang
ter"atat akhir tahun #00' adalah ##.)8D orang dengan kasus baru
tahun #00' sebesar 1=.==' orang. .istribusi tidak merata, yang
tertinggi antara lain di pulau Eaa, +ulaesi, Maluku, dan 6apua.
6re4alensi pada tahun #00' per 10.000 penduduk adalah 0,().
#
II.4 Etiologi
Kuman penyebab kusta ada Mycobacterium leprae yang
ditemukan oleh $.%. Hansen pada tahun 1'(4 di &oregia. M.
leprae adalah basil tahan asam dan al"ohol dengan bentuk batang
dan berbentuk o4al di ujungnya. Kuman ini berukuran )1' Fm ? 0,8
Fm, dari ukuran dan bentuk mirip dengan basil tuber"ulosis.
#,=,(,10
+truktur berantai tidak pernah ditemukan pada M. leprae. M.
leprae banyak ditemukan pada sel lepra atau sel <ir"ho atau sel
busa, sering bergerombol dan membentuk globus.
#,10
6ada
pemeriksaan mikroskopik dapat ditemukan bentuk batang utuh
0solid2, batang terputus 0fragmented2, dan butiran 0granular2.
;entuk solid adalah kuman hidup, sedangkan fragmented dan
granular adalah batang mati.
10
M. leprae diper"aya satu 3 satunya kuman yang dapat
bertahan dan memberikan gambaran bentuk batang tahan asam
yang solid pada pearnaan menggunakan karbol1fu"hsin,
D
sedangkan bentuk lainnya adalah gambaran kuman yang telah
mati. 6ada biopsy pasien yang telah menerima M./ 0Multi .rug
/reatment2, ditemukan basil yang telah mati dalam jumlah tinggi
pada beberapa hari setelah M./ diberikan, sehingga diper"aya
baha manifestasi klinis pada lepra ditimbulkan oleh antigen dari
basil yang telah mati dibandingkan dengan basil yang hidup.
10
6ada tahun 1D=0, +hepard berhasil membuat M. leprae dapat
tumbuh di laboratorium melalui inokulasi pada kaki men"it yang
telah diambil timusnya dengan diikuti radiasi D00 r, sehingga
kehilangan respon imun selulernya. Mi"oba"teria terkenal dengan
pembelahannya yang lambat, dibutuhkan aktu 14 hari untuk
mitosis. +ampai saat ini M. leprae belum dapat dibiakkan di media in
4itro.
1,#,=,10
II. Patog"n"sis
M. leprae memiliki patogenitas dan daya in4asi yang rendah,
hal ini dibuktikan pada pasien dengan kuman yang banyak belum
tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan dapat
sebaliknya. Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dengan
derajat penyakit, tidak lain disebabkan oleh respon imun yang
berbeda, yang menggugah timbulnya reaksi granuloma setempat
atau menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. -leh
karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit
imunologik dimana gejala klinisnya sebanding dengan tingkat reaksi
selulernya dibandingkan dengan intensitas infeksinya. 6ada
inokulasi di kaki men"it, granuloma penuh kuman ditemukan pada
bagian tubuh yang relatif dingin, seperti hidung, "uping telinga, kaki
dan ekor.
#,=
+el +"han merupakan target utama infeksi M. leprae yang
mengakibatkan kerusakan pada saraf, demielinisasi, dan
ke"a"atan. 6engikatan M. leprae pada sel s"han menginduksi
demielinisasi dan kehilangan kondukasi a?on, diakibatkan oleh ligasi
bakteri ke reseptor neuregulasi.
1
10
>agositosis M. leprae oleh deri4at monosit, makrofag dapat
dimediasi oleh reseptor komolemen B51 0B.)82, B5)
0B.11b@B.1'2, dann B54 0B.11"@B.1'2 dan regulasi protein kinase.
II.& '"(ala Klinis
.iagnosis kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis,
dan histopatologis serta serologis. .iantara ketiganya, gambaran
klinis yang terpenting dan paling sederhana.
#
;ila kuman M. leprae masuk ke dalam tubuh seseorang,
dapat timbul gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut.
;entuk tipe klinis bergantung pada system imunitas seluler 0+I+2
penderita. ;ila +I+ baik akan tampak gambaran klinis ke arah
tuberkuloid, sebaliknya +I+ rendah memberikan gambaran
lepromatosa.
#,=
5idley dan Eopling memperkenalkan spe"trum determinate
pada penyakit kusta yang terdiri atas pelbagai tipe atau bentuk,
yaitu:
#
// : /uberkuloid polar +tabil
/i : /uberkuloid inde*nite
;/ : ;orderline tuberkuloid
;; : Mid borderline
;L : ;orderline lepromatous
Li : Lepromatous inde*nie
LL : Lepromatous leprosy +tabil
/ipe stabil berarti tidak mungkin berubah tipe, yaitu tipe //
dan tipe LL. +edangkan tipe antara /i dan Li disebut tipe borderline
atau "ampuran, berarti "ampuran tuberkuloid dan lepromatosa. ;;
adalah tipe "ampuran yang terdiri atas 809 tuberkuloid dan 809
lepromatosa. ;/ dan /i lebih banyak tuberkuloidnya, sedang ;L dan
Li lebih banyak lepromatosanya. /ipe "ampuran ini adalah tipe yang
labil, berarti bebas beralih tipe, baik ke arah // maupun LL.
1,#,=,(
11
Kusta /ipe Lepromatous Leprosy dan /uber"uloid
+ifat Lepromatosa
0LL2
;orderline
Lepromatosa
0;L2
Mid ;orderline
0;;2
L"si
;entuk
Eumlah
.istribusi
6ermukaa
n
;atas
%nastesia
Makula
In*ltrat difus
6apul
&odus
/idak terhitung,
praktis, tidak
ada kulit sehat
+imetris
Halus berkilat
/idak jelaas
/idak ada 3
/idak jelas
Makula
6lakat
6apul
+ukar dihitung,
masih ada kulit
sehat
Hampir simetris
Halus berkilat
%gak jelas
/idak jelas
6lakat
.ome1shaped
6un"hed 3 out
.apat dihitung,
kulit sehat jelas
ada
%simetris
%gak kasar,
agak berkilat
%gak jelas
Lebih jelas
;/%
1#
Lesi kulit
+ekret
hidung
;anyak 0ada
globus2
;anyak 0ada
globus2
;anyak
;iasanya
negatif
%gak banyak
&egatif
/es Lepromin &egatif &egatif ;iasanya
negatif
+ifat /uberkuloid
0//2
;orderline
/uber"uloid
0;/2
Indeterminate
0I2
L"si
;entuk
Eumlah
.istribusi
6ermukaa
n
;atas
%nastesia
Makula sajaG
ma"ula dibatasi
in*ltrat
+atu, dapat
beberapa
%simetris
Kering bersisik
Eelas
Eelas
Ma"ula dibatasi
in*ltratG in*ltrat
saja
;eberapa atau
satu dengan
satelit
Masih simetris
Kering bersisik
Eelas
Eelas
Hanya ma"ula
+atu atau
beberapa
<ariasi
Halus agak
berkilat
.apat jelas
atau dapat
tidak jelas
.apat positif
lemah atau
negatif
;/%
Lesi kulit
Hampir selalu
negatif
&egatif atau
hanya 1H
;iasanya
negatif
/es Lepromin 6ositif kuat
0)H2
6ositif lemah .apat positif
lemah atau
negatif
1)
,H- membagi kusta menjadi # tipe untuk kepentingan
pengobatan, 6ausibasilar 06;2 dan Multibasilar 0M;2 berdasarkan
hasil skin smear. Iang dimaksud kusta 6; adalah kusta denga ;/%
negatif pada pemeriksaan kerokan jaringan kulit, yaitu tipe I, ;/ dan
// menurut klasi*kasi 5idley 3 Eopling. ;ila pada tipe 3 tipe tersebut
terdapat ;/% positif, maka diklasi*kasikan sebagai M;. Kusta M;
adalah semua penderita kusta tipe ;;, ;L dan LL atau apapun
klasi*kasi klinisnya dengan ;/% positif, harus diobati dengan
rejimen M./1M;.
#
PB )B
Lesi kulit 0ma"ula
datar, papul yang
meninggi, nodus2
1 3 8 lesi
hipopigmentasi @
eritema
distribusi tidak
simetris
hilangnya sensasi
yang jelas
J 8 lesi
distribusi lebih
simetris
hilangnya sensasi
kurang jelas
Kerusakan saraf
hanya 1 "abang
saraf
banyak "abang
saraf
Lima tanda kelainan pada saraf perifer yang sering ditemukan
pada pasien kusta, ialah sebagai berikut:
1. pembesaran saraf biasanya asimetris, pada n. ulnaris, radialis,
medianus, poplitea lateralis, tibialis posterior, fasialis,
#. rasa baal pada lesi kulit,
). kelumpuhan "abag saraf dengan tanda inKamasi atau tanpa
manifestasi yang jelas, yang dikenal sebagai silent
neuropathy. +ering disertai dengan hilangnya sensorik dan
motorik 0kelemahan otot dan atau atro*2 dan bila berlangsung
lama dapat menimbulkan kontraktur,
4. stocking glove pattern of sensory impairment
8. anhidrosis telapak tangan atau telapak kaki menunjukkan
keterlibatan saraf simpatis.
14
II.& Diagnosis
.iagnosis dapat ditegakkan melalui tanda kardinal, yaitu:
pasien tinggal di daerah endemi",
lesi kulit sesuai dengan karakteristik kusta,
anastesi,
pembesaran ner4us perifer,
;/% 0H2
+ebagaimana la!imnya, diagnosis klinis dimulai dengan
inspeksi, palpasi, lalu dilakukan pemeriksaan dengan alat
sederhana, yaitu: jarum, kapas, tabung reaksi masing 3 masing
dengan air panas dan air dingin, pensil tinta, dan sebagainya.
#
Kusta dikenal sebagai The Greatest Imitator dalam ilmu
penyakit kulit dan kelamin, dikarenakan banyak penyakit kulit lain
yang hampir serupa. Kelainan kulit pada penyakit kusta tanpa
komplikasi dapat hanya berbentuk ma"ula saja, in*ltrat saja, atau
keduanya. +e"ara inspeksi, elforesensi sangat mirip dengan
penyakit lainnya, ada tidaknya anastesia sangat membantu
penentuan diagnosis.
#

Antuk memeriksa adanya kelainan saraf pada kusta, dapat
dilakukan tes sensorik yaitu dengan jarum untuk rasa nyeri, kapas
untuk rasa raba, kemudian rasa suhu dengan tabung reaksi yang
berisi air panas dan dingin. Antuk mengetahui fungsi otonom
perhatikan ada tidaknya dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas
dan dapat pula tidak, yang dipertehas menggunakan pensil tinta.
Bara menggoresnya mulai dari tengah lesi ke arah kulit normal. ;ila
ada gangguan, goresan pada kulit normal akan lebih tebal bila
dibandingkan dengan tengah lesi.
#
II.* P"m"+i,saan P"nun(ang
!,&,-,1.
1. 6emeriksaan bakterioskopik
18
6emeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu
menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Kerokan kulit
yang diambil adalah di daerah "uping telinga bagian baah, dan lesi
yang paling aktif dengan menggunakan skapel steril yang kemudian
diarnai dengan pearnaan Liehl1&eelsen. M. leprae yang
tergolong ;/% akan tampak merah pada sediaan. .ibedakan bentuk
utuh 0solid2, batang terputus 0fragmented2 dan butiran 0granular2.
+e"ara teori penting membedakan solid dan non1solid, yang
berarti membedakan kuman hidup dan mati. Kepadatan ;/% tanpa
membedakan bentuk solid dan non1solid dinyatakan dengan indeks
bakteri 0I;2 dengan nilai 0 sampai =H.
0 bila tidak ada ;/% dalam 100 lapang pandang 0L62
1H bila 1 3 10 ;/% dalam 100 L6
#H bila 1 3 10 ;/% dalam 10 L6
)H bila 1 3 10 ;/% dalam 1 L6
4H bila 11 3 100 ;/% dalam 1 L6
8H bila 100 3 1000 ;/% dalam 1 L6
=H J 1000 ;/% dalam 1 L6
Indeks morfologi 0IM2 nerupakan persentase bentuk solid
dibandingkan dengan jumlah solid dan non solid. .engan syarat
penghitungan adalah jumlah minimal tiap lesi 100 ;/%,
penghitungan dilakukan bila I; )H, sedangkan I; H1 tidak perlu
dihitung indeks morfologinya.
#. 6emeriksaan histopatologik
$ambaran histopatologik tipe tuberkuloid adalah tuberkel dan
kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada kuman, atau hanya
sedikit, dan non solid. 6ada tipe lepromatosa terdapat subepidermal
clear zone, yaitu suatu daerah langsung dibaah epidermis yang
jaringannya tidak patologik. .idapati sel <ir"ho dengan banyak
kuman. 6ada tipe borderline terdapat "ampuran unsure 3 unsur
tersebut.
1=
II.1. P"natala,sanaan
!,11
6ada saat ini berbagai ma"am dan "ara M./ digunakan di
Indonesia sesuai dengan rekomendasi ,H-. %danya M./ ialah
sebagai usaha untuk:
Men"egah dan mengobati resistensi,
Memperpendek massa pengobatan,
Memper"epat pemutusan masa rantai penularan.
6ada M./, rifampisin diberikan sebulan sekali. 7fek samping
dari pemberian rifampisin adalah urin yang berarna agak
kemerahan beberapa setelah pemberian obat.
Klofami!in merupakan pengobatan yang diberikan setiap hari.
-bat ini memberikan arna ke"oklatan dan kekeringan pada kulit,
namun hal ini dapat menghilang setelah beberapa bulan dihentikan
pengobatan.
.apsone merupakan obat yang paling aman untuk kusta. 7fek
samping utama adalah reaksi alergi yang menyebabkan kulit
kemerahan dan gatal. .ianjurkan untuk diberikan pada pasien yang
alergi terhadap sulfa.
Kusta tipe M; diberikan regimen M; yang terdiri dari:
5ifampisin =00 mg selama 1 kali per bulan, .apsone 100 mg sekali
sehariG Klofami!in )00 mg sekali sebulan dan 80 mg per hari dengan
durasi pengobatan 1# bulan.
Kusta tipe 6; diberikan regimen 6; yang terdiri dari:
5ifampisin =00 mg selama 1 kali per bulan, .apsone 100 mg sekali
sehari dengan durasi pengobatan = bulan.
1(
BAB III
E/ITE)A N0D0SU) LEP/0SU)
5eaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada
perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik. 5eaksi kusta
dibagi menjadi # yaitu reaksi tipe 1 0reaksi re4ersal2 dan reaksi tipe
# 0eritema nodosum leprosum2. 7ritema nodosum leprosum 07&L2
timbul pada pasien dengan lepromatous leprosy 0LL2 dan terkadang
dapat mun"ul pada ;L, hal ini membuktikan makin tinggi tingkat
multibasilarnya makin besar kemungkinan timbulnya 7&L. 7&L
mun"ul sebanyak hampir (89 pada kasus LL, namun tidak jarang
terjadi pada pasien ;L. 7&L sering dihubungkan dengan pasien yang
mendapat multi1drug therapy, tetapi 7&L dapat timbul juga pada
pasien yang belum mendapatkan pengobatan dan pada pasien yang
telah selesai terapi dan telah dihentikan pengobatannya. 5ata 3 rata
onset timbulnya reaksi 7&L ialah 1 tahun setelah diberikann
terapi.
1,#,),=,'
1'
>aktor predisposisi pada 7&L seperti operasi bedah,
kehamilan, melahirkan, menyusui, menstruasi, trauma, infeksi
piogenik, 4aksinasi 0terutama 4aksin "a"ar2, stres *sik dan mental.
=,'
+e"ara imunopatologis, 7&L termasuk respon imun humoral,
berupa fenomena kompleks imun akibat reaksi antara antigen M.
leprae H antibody 0IgM2 H komplemen kompleks imun.
#,),=,D
7&L
merupakan manfestasi dari deposit kompleks antigen1antibodi di
dalam pembuluh darah, oleh karena itu 7&L dimasukkan kedalam
hipersensiti*tas tipe ).
),=,D
Kadar immunoglobulin penderita kusta
lepromatosa lebih tinggi daripada tipe tuberkuloid. Hal ini terjadi
oleh karena pada tipe lepromatosa jumlah kuman jauh lebih banyak
daripada tipe tuberkuloid. 7&L lebih banyak terjadi pada saat
pengobatan. Hal ini terjadi karena banyak kuman kusta yang mati
dan han"ur, berarti banyak antigen yang dilepaskan kemudian ikut
di dalam sirkulasi darah kemudian berdeposit di berbagai organ dan
bereaksi dengan antibody, serta mengaktifkan system
komplemen.
#,)
;aik mekanisme sistem imun humoral dan seluler tampaknya
ikut serta dalam patogenesis 7&L.
'
6asien LL yang menunjukkan
reaksi 7&L setelah mendapatkan pengobatan M./ juga
menunjukkan kadar tumor necrosis factor-alpha 0/&>12 yang tinggi.
.ata ini menunjukkan hubungan antara /&>1 dan patogenesis dari
7&L. /umor ne"rosis fa"tor dapat membuat kerusakan langsung ke
sel dan jaringan, akti4asi makrofag,
menstimulasi makrofag untuk
memproduksi IL11 dan IL1= dan
1D
menstimulasi sel hepar untuk memproduksi -Reactive !rotein
0B562. 6eningkatan konsentrasi /&>1 dalam serum dan B56 pada
pasien 7&L terlihat jelas dibandingkan dengan pasien LL yang tidak
mengalami reaksi. 6ada pasien 7&L pola sitokin m5&% menunjukkan
peningkatan m5&% untuk IL14, IL18 dan IL110. Hal ini berarti reaksi
didominasi oleh respon /h#. +ehingga respon /h# pada reaksi 7&L
mun"ul setelah formasi kompleks antigen1antibodi terbentuk.
1,),'
6ada kulit akan timbul gejala klinis yang berupa nodus
eritema, papul berarna merah keunguan, plak atau nodus yang
mun"ul pada kulit yang sehat diantara lesi kusta yang menetap dan
tidak berubah saat reaksi berlangsung, hanya edema setempat
se"ara histologik. 6ada kasus yang jarang, ditemui lesi yang
hemoragik, 4esikel, pustular, atau ulserasi. /empat predileksi di
ajah, lengan dan tungkai yang bilateral dan simetris. Lesi spesi*k
biasanya menghilang setelah ( 3 10 hari, dan pada kekambuhan
dapat mun"ul selama minggu, bulan, bahkan tahunan. +erangan
berulang dapat membuat kulit kehilangan elastisitasnya.
1,#,),'
;ila mengenai organ lain dapat menimbulkan gejala seperti
neuropathy yang sangat nyeri, epididimorsitis, iridosiklitis, neuritis
akut, limfadenitis, arthritis, syno4itis, arthralgia, orkitis, 4is"era
0hepar2, nefritis akut dengan adanya proteinuria, malaise,
penurunan berat badan. ;eratnya reaksi dihubungkan dengan besar
dari bacterial load.
#,=,'

6rinsip terapi 7&L adalah untuk mengobati inKamasi pada kulit
dan saraf, mengurangi nyeri, men"egah kerusakan mata, dan
penyebaran penyakit.
)
/erapi anti1kusta harus dilanjutkan tanpa
dikurangi dosisnya selama diberikan obat anti1reaksi.
#,),'
/halidomide merupakan drug of choice untuk 7&L.
/halidomide dapat meningkatkan ke"epatan konduksi motorik saraf
yang terlibat. Mechanism of action dari thalidomide lainnya adalah
inhibisi /&>1 yang menjadi patogenesis dari 7&L.
),'
.osis terapi
diberikan 400 3 =00 mg 010 3 18 mg@kg;;2 sehari dibagi dalam 4
dosis dan dikurangi #8 mg setiap # hari selama 1 3 # minggu.
#0
5espon terapeutik dapat terlihat dalam aktu ' 3 4' jam setelah
diberikan. Antuk mengontrol gejala, dapat diberikan dalam dosis 80
3 100 mg per hari selama # 3 ) bulan.
)
6enggunaan obat ini harus
berhati 3 hati karena memiliki efek teratogenik, sehingga tidak
dapat diberikan pada ibu hamil atau masa subur. -bat ini belum
bisa didapatkan di Indonesia.
#,=,',D

6ada pasien premenopause, atau gejala menetap setelah
diberikan thalidomide, kortikosteroid dapat diberikan. Kortikosteroid
jangka pendek, de?ametasone sudah tidak digunakan lagi untuk
terapi anti1reaksi, sebagai gantinya diberikan kortikosteroid jangka
panjang, yaitu prednisone, atau metilprednisolone. 6rednison dapat
mengontrol 7&L se"ara "epat, namun dibutuhkan terapi selama
berbulan 3 bulan hingga bertahun 3 tahun dengan dosis tinggi.
#,',D
Mechanism of action dari kortikosteroid adalah menekan sistem
imun seluler, inhibisi kompleks antigen1antibodi, inhibisi kompleks
lisosomal, menekan neutro*l, inhibisi prostaglandin, dan
mengurangi kebo"oran 4as"ular di area inKamasi dengan efek
4asokonstriksinya. 6emberian oral prednisolon dimulai dari 40 3 =0
mg perhari dan dosis maksimal perhari ialah 1 mg@kg;;.
6redinosolon oral diberikan dan dikurangi dosisnya perlahan 3 lahan
per satu atau dua minggu dan dihentikan setelah 1# minggu
terapi.
#,',D
6emberian oral prednison standar pada orang deasa
ialah:
.ose -n"e a .ay
40 mg
)0 mg
#0 mg
18 mg
10 mg
8 mg
,eek of /reatment
1, #
), 4
8, =
(, '
D, 10
11, 1#
Kontraindikasi kortikosteroid ialah pada infeksi bakteri, 4irus dan
jamur aktif.
#1
Klofa!imin selain untuk anti1kusta dapat juga digunakan untuk
anti1reaksi 7&L, tetapi dengan dosis yang lebih tinggi dan butuh
aktu yang lama untuk dapat melihat efeknya. .osis yang diberikan
biasanya #00 3 )00 mg per hari dengan ) dosis 100 mg setiap kali
minum, dosisnya juga perlu tapering o" se"ara bertahap
disesuaikan dengan perbaikan 7&L.
#,',D
Keuntungan lain klofa!imin
ialah dapat dipakai sebagai usaha lepas dari ketergantungan
kortikosteroid.
#,D
7fek samping dari klofa!imin ialah kulit menjadi
berarna merah ke"oklatan dan dapat menghilang dengan
sendirinya setelah pengobatan dihentikan.
%nalgesik dan &+%I. seperti %spirin 400 mg setiap = jam
diberikan untuk mengurangi rasa sakit pada pasien dengan reaksi
7&L.
),D

5eaksi 7&L harus ditangani se"epatnya untuk men"egah
ke"a"atan. Karena reaksi kusta merupakan penyebab utama
ke"a"atan pada pasien kusta. 6engaasan saat terapi sangat
penting, dan edukasi mengenai dosis dan efek samping obat
sebelum terapi diberikan perlu dilakukan untuk men"egah putus
obat dan menyebabkan ke"a"atan pada pasien. +etelah reaksi
menghilang, lesi akan membekas membentuk lesi hiperpigmentasi
post inKamasi, dan tidak akan menghilang sepenuhnya.
##