Anda di halaman 1dari 4

BOBATH EXERCISE

(By. Terapi Latihan yang disusun oleh : Suharto, RPT Tahun 2000)
1. PENDAHULUAN
Tehnik Bobath pertama kali ditemukan oleh Bertha Bobath, seorang fisioterapis. Metode ini
juga dikenal dengan sebutan NDT Neoro Developmental Treatment. Tehink ini sering
dignakan pada kasus-kasus gangguan motorik dan keseimbangan akibat post trauma cerebri
dan post immobilisasi lama. Dalam pertumbuhan dan perkembangan motorik dikenal dua
terminology, yatu keterlambatan perkembangan motorik atau motor delay dan kelainan
motorik (motorik disorder). Keterlambatan perkembangan motorik dapat disebabkan oleh
kurangnya stimulasi, social emosi, malnutrisi syndrom down dan microsefalus dan
sebagainya.
Dalam metode ini, factor yang sangat penting adalah righting rection dan equilibrium
reaction yaitu penggunaan pola perkembangan motoris yang normal.
2. PRINSIF DASAR METODE BOBATH
a. Inhibisi.
Inhibisi atau menghambat. Yaitu menghambat pola gerak abnormal atau sikap tubuh
abnormal. Tekniknya disebut juga RI P (Refleks Inhibiting Postur). Dengan mengatur posisi
penderita kita dapat menghambat aktifitas reflex abnormal tertentu, misalnya untuk
menghambat spastisitas ekstensor , kita mengatur posisi anak dalam posisi fleksi.
b. Fasilitasi.
Teknik ini kita kenal sangat banyak, namun pada saat ini, kita contohkan adalah
memberikan posisi dan gerakan normal.
c. Stimulasi.
Dari namanya berarti menstimulir atau merangsang daerah tertentu untuk mendapatkan
reaksi atau respon dari penderita. Teknik ini biasanya diberikan pada keadaan
placid/hypotonus. Tekniknya dapat berupa kompressi, tapping, atau stroking. Dalam
beberapa kasus sering juga diberikan goresan-goresan batu es. Dalam perkembangannya
ketiga teknik tersebut dapat dikombinasikan.
d. Key Point Of Control (KPOC)
KPOC adalah tempat tempat tertentu yang paling efektif untuk memberikan inhibisi,
fasilitasi dan stimulasi. Biasanya sendi proximal, seperti panggul, bahu dan sebagainya.
Meskipun yang lain juga dapat diberikan KPOC.

3. PEMBAHASAN
Pada Metode Bobath ada beberapa jenis gerakan yang dapat diberikan antara lain:
1) Reaksi mengangkat/menegakkan.
2) Reaksi keseimbangan.
Namun untuk postingan kali ini, penulis hanya akan membahas reaksi
mengangkat/menegakkan. Karena pada tahap ini saja sangat banyak gerakan yang perlu
diperhatikan. Oleh karena itu postingan berikutnya kita akan melanjutkan dengan Reaksi
keseimbangan.

1. REAKSI MENGANGKAT/MENEGAKKAN.
Yakni reaksi yang pertama kali muncul sejak lahir pada usia 10 - 12 bulan. Righting reaction
terdiri dari :
a. Neck Righting reaction.
Dengan memutar kepala secara aktif atau pasif ke salah satu sisi, dalam posisi terlentang,
maka akan terjadi rotasi seluruh tubuh ke sisi yang sama. Dengan gerakan ini diharapkan
anak dapat melakukan gerakan miring atau rolling secara mandiri.

b. Labirithine reaction.
Reaksi yang terjadi adalah menegakkan kepala dalam posisi telungkup. Reaksi ini mula-mula
lemah dan makin lama makin kuat, sehingga anak-anak dapat mengangkat kepala mereka
sehingga muka vertical dan mulut horizontal. Reaksi ini timbul pada usia 1 6 bulan.

c. Reaksi vertibular
Reaksi ini timbul pada saat anak terlentang yakni dengan mengangkat kepala, sehingga
dengan reaksi ini anak dapat mempertahankan kepalanya pada waktu diangkat ke posisi
duduk.

d. Body righting reaction.
Reaksi ini berkaitan dengan labirithine righting reaction, yang berguna untuk mengatur
posisi kepala di udara. Reaksi ini dapat ditimbulkan dengan menyentuhkan kaki ke lantai,
akan diikuti dengan tegaknya kepala.

e. Body Rigting reaction.
Reaksi ini terdapat pada usia 6 8 bulan. Merupakan modifikasi dari Neck Righting reaction.
Dengan memutar kepala ke samping diikuti oleh rotasi bahu, kemudian dikuti oleh pelvic
atau sebaliknya. Dengan reaksi ini memungkinkan anak dapat membalikkan badan dari posisi
tengkurap ke posisi terlentang.

f. Optikal righting reaction
Gerakan yang terakhir untuk righting reaction adalah Optikal righting reaction, yakni
mulai timbul setelah 6 bulan dan akan terus meningkat sejalan usia. Penglihatn sangat
berperan dalam mengatur posisi kepala dan tubu
- See more at: http://www.fisio-usman.net/2012/12/normal-0-false-false-false-in-x-none-
x.html#sthash.lVI41Oh8.dpuf












New Bobath Therapi Untuk Stroke

Sebelum lebih jelas untuk metode bobath yang baru belum lama ini admin mengikuti kuliah
tentang new bobath concept dengan pembicara oleh saudara Agus Wiyono, AMF seorang
fisioterapi yang berkonsentrasi di metode bobath untuk stroke. Beliau bekerja di Sasana
Husada Jakarta untuk rehabilitasi stroke center dan telah mendalami terapi latihan untuk
stroke dengan metode New Bobath Concept sehingga sedikit mendapat ringkasan mengenai
konsep metode bobath yang baru.

Konsep Bobath adalah pendekatan pemecahan masalah untuk penilaian dan pengobatan
individu dengan gangguan fungsi, gerakan dan kontrol postural karena lesi dari sistem saraf
pusat (IBITA 1996, Panturin 2001, Brock et al 2002, Raine 2006).

Pendekatan untuk rehabilitasi orang dewasa dengan sistem pusat saraf patologi berasal dari
karya Berta dan Karel Bobath dan telah berkembang selama lebih dari 50 tahun. Alasan
untuk digunakan saat ini didasarkan pada pengetahuan masa kini seperti kontrol motor,
pembelajaran motorik, saraf dan otot plastisitas, dan biomekanik. Hal ini juga didasarkan
pada pengalaman dokter ahli dan mengambil kebutuhan klien dan harapan ke
penyembuhan(Sackett 2000).

Awalnya konsep dari bobath hanya berdasarkan asumsi saja. Proses pengembangan
pernyataan yang akan mengklarifikasi asumsi-asumsi teoritis dan praktik klinis diprakarsai
oleh Rapat Umum Tahunan ke-12 dari IBITA pada tahun 1996.


Konsep Awal (Original Concept)
Metode Bobath pada awalnya memiliki konsep perlakuan yang didasarkan atas inhibisi
aktivitas abnormal refleks (Inhibition of abnormal reflex activity) dan pembelajaran kembali
gerak normal (The relearning of normal movement), melalui penanganan manual dan
fasilitasi.

Konsep Bobath Terkini

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka konsep Bobath juga mengalami
perkembangan dimana menggunakan pendekatan problem solving dengan cara pemeriksaan
dan tindakan secara individual yang diarahkan pada tonus, gerak dan fungsi akibat lesi pada
sistem saraf pusat.

Tujuan intervensi dengan metode Bobath adalah optomalisasi fungsi dengan peningkatan
kontrol postural dan gerakan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh
IBITA tahun1995.

The goal of treatment is to optimize function by improving postural control and selective
movement through facilitation. (IBITA 1995

Tujuan yang akan dicapai dengan konsep Bobat:
-Melakukan identifikasi pada area-area spesifik otot-otot antigravitasi yang mengalami
penurunan tonus.
-Meningkatkan kemampuan input proprioceptive.
-Melakukan identifkasi tentang gangguan fungsi setiap individu dan mampu melakukan
aktivitas fungsi yang efisien Normal.

Fasilitasi specific motor activity .
Minimalisasi gerakan kompensasi sebagai reaksi dari gangguan gerak.
Mengidentifikasi kapan dan bagaimana gerakan menjadi lebih efektif.

Analisa tentang gerak normal (normal movement) menjadi dasar utama penerapan aplikasi
metode ini. Dengan pemahaman gerak normal, maka setiap fisioterapis akan mampu
melakukan identifikasi problematik gerak kepada setiap pasien/klien atas penyimpangan
gerak akibat gangguan system saraf pusat.

Akibat adanya gangguan sistem saraf pusat (SSP) akan mengakibatkan abnormal tonus
postural, dari abnormal tonus postural tersebut melahirkan gangguan atau abnormalitas pada
umpan balik sensoris yang akhirnya memunculkan kompensasi gerak. Pada aktifitas gerak,
maka tonus otot postural akan sangat menentukan efektifitas dan efesiensi gerak yang akan
dihasilkan.