Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Dasar Medik
1. Definisi
Menurut Hood Alsagaff, dkk. (1993), karsinoma bronkogenik
adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas.
Sedangkan menurut Smeltzer dan Bare (2002), tumor paru atau karsinoma
bronkogenik adalah tumor yang timbul dari paru.
Tumor paru adalah neoplasma atau pertumbuhan jaringan baru
yang abnormal di organ paru-paru. Tumor ini diakibatkan oleh sel yang
membelah dan tumbuh tak terkendali pada organ paru. Tumor paru jika
dibiarkan dapat berkembang menjadi kanker paru. biasanya tumor ini
berkembang di saluran napas atau bagian alveolus. Meski demikian, tidak
menutup kemungkinan tumor ini menyebar ke seluruh tubuh jika sudah
menjadi kanker paru stadium akut. (Price dan Wilson, 2006)
2. Klasifikasi
Adapun derajat keganasan pada tumor ganas paru berdasarkan
TNM (Tumor primer, kelenjar getah bening regional, dan Metastase)
sebagai berikut:
Tabel 1.1 Klasifikasi tumor paru
Stadium TNM
Occult carcinoma
0
IA
IB
IIA
IIB
IIIA
IIIB
IV
Tx N0 M0
Tis N0 M0
T1 N0 M0
T2 N0 M0
T1 N1 M0
T2 N1 M0, T3 N0 M0
T1 N2 M0, T2 N2 M0, T3 N1 M0, T3 N2 M0
Seberang T N3 M0, T4 seberang N M0
Seberang T seberang N M1
(sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2006)
2

Keterangan:
T : Tumor Primer
To : Tidak ada bukti ada tumor primer
Tx : Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti dari
penemuan sel tumor ganas pada sekret bronkopulmoner tetapi
tidak tampak secara radiologis atau bronkoskopis.
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor dengan garis tengah terbesar tidak melebihi 3 cm,
dikelilingi oleh jaringan paru atau pleura viseral dan secara
bronkoskopik invasi tidak lebih proksimal dari bronkus lobus
(belum sampai ke bronkus utama). Tumor sembarang ukuran
dengan komponen invasif terbatas pada dinding bronkus yang
meluas ke proksimal bronkus utama.
T2 : Setiap tumor dengan ukuran atau perluasan sebagai berikut : Garis
tengah terbesar lebih dari 3 cm. Mengenai bronkus utama sejauh
2 cm atau lebih distal dari karina, dapat mengenai pleura
visceral. Berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis
obstruktif yang meluas ke daerah hilus, tetapi belum mengenai
seluruh paru.
T3 : Tumor sembarang ukuran, dengan perluasan langsung pada
dinding dada (termasuk tumor sulkus superior), diafragma,
pleura mediastinum atau tumor dalam bronkus utama yang
jaraknya kurang dari 2 cm sebelah distal karina atau tumor yang
berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif
seluruh paru.
T4 : Tumor sembarang ukuran yang mengenai mediastinum atau
jantung, pembuluh besar, trakea, esofagus, korpus vertebra,
karina, tumor yang disertai dengan efusi pleura ganas atau tumor
satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama dengan tumor
primer.
N : Kelenjar getah bening regional (KGB)
Nx : Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai
No : Tak terbukti keterlibatan kelenjar getah bening
3

N1 : Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial dan/atau hilus
ipsilateral, termasuk perluasan tumor secara langsung
N2 : Metastasis pada kelenjar getah bening mediatinum ipsilateral
dan/atau KGB subkarina
N3 : Metastasis pada hilus atau mediastinum kontralateral atau KGB
skalenus/supraklavikula ipsilateral/kontralateral
M : Metastasis (anak sebar) jauh
Mx : Metastasis tak dapat dinilai
Mo : Tak ditemukan metastasis jauh
M1 : Ditemukan metastasis jauh. Nodul ipsilateral di luar lobus tumor
primer dianggap sebagai M1
3. Etiologi
Etiologi yang pasti dari tumor paru masih belum diketahui, namun
diperkirakan bahwa inhalasi jangka panjang dari bahan bahan
karsinogenik merupakan faktor utama, tanpa mengesampingkan
kemungkinan peranan predisposisi hubungan keluarga ataupun suku
bangsa atau ras serta status imunologis. (Sudoyo. dkk, 2006)
Beberapa factor yang telah diakitkan dengan terjadinya tumor paru
diantaranya:
a. Asap tembakau; perokok memiliki resiko 10 kali lebih umum terjadi
dari pada bukan perokok.
b. Perokok kedua
c. Polusi udara
d. Pemajanan okupasi
e. Radon; radon adalah gas tidak berwarna, tidak berbau yang
ditemukan dalam tanah dan bebatuan.
f. Vitamin A
g. Factor-faktor lain yang mempunyai kaitan dengan tumor paru
termasuk predisposisi genetic dan penyakit pernapasan lain yang
mendasari, seperti PPOM dan tuberkulosis.
4. Patofisiologi
Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang
bersifat initiation yang merangsang permulaan terjadinya perubahan sel.
4

Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk
memicu timbulnya penyakit tumor. Initiati agent biasanya bisa berupa
unsur kimia, fisik atau biologis yang berkemampuan beraksi langsung dan
merubah struktur dasar dari komponen genetic (DNA). Keadaan
selanjutnya akibat keterpaparan yang lama ditandai dengan
berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya formasi tumor. Hal ini
dapat berlangsung lama, minggu bahkan sampai tahunan.
Tumor paru yang terdapat pada bronkus dapat menyebabkan
ulserasi bronchus yang memicu terjadinya reaksi radang pada bronkus
dan menghasilkan produksi secret yang banyak hingga merangsang
refleks batuk yang dapat memberi efek anoreksia dan penurunan intake.
Selain itu, metaplasia sel skuamosa pada bronchus dapat menyebabkan
obstruksi bronkus hingga mengakibatkan empisema dan terjadi gangguan
pertukaran gas.
5. Pathway




6. Manifestasi Klinis
a. System respirasi; Mengi, batuk, atelektasis, sesak nafas, nyeri dada,
batuk produktif tak efektif, suara nafas: mengi pada inspirasi
5

b. System kardiovaskuler: leucopenia granulositopenia, anemia,
perdarahan, tachycardia, disritmia, menunjukkan efusi (gesekan
pericardial)
c. System integumen; lesi atau ulserasi kulit, rambut rontok.
d. System gastrointestinal: Deficit nutrisi, inkontinensia usus, penurunan
berat badan, anoreksia disfagia, penurunan intake makanan.
e. System neurologis; Perasaan takut/takut hasil pembedahan,
kegelisahan.
f. System urinarius: Peningkatan frekuensi/jumlah urine.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Chest x ray ( pandangan lateral dan poteroanterior), tomografi dada
dan CT scanning.
b. Radioisotop scanning
c. Tes laboratorium
1) Sitologi sputum:
Pada pemeriksaan sitologi sputum dapat membantu
menegakkan kasus hingga 70%. Sputum untuk sampel sitologi
sebaiknya diterima oleh laboratorium dalam 2 jam setelah
ekspectorasi/ pengeluaran. Sampel dinihari tidak diperlukan.
2) Bronchoscopy:
Pada biopsi digunakan untuk mengetahui tipe sel tumor.
3) Aspirasi pleura dan biopsi:
Aspirasi merupakan tindakan yang harus dilakukan jika
pasien dengan tumor paru mempunyai effusi pleura. Effusi tak
selalu akibat dari penyebaran tumor ke pleura, tetapi mungkin
akibat dari reaksi pneumonia pada tumor atau obstruksi limfatik.
4) Biopsi jarum percutan:
Pemeriksaan ini berguna untuk mendiagnosis tumor
perifer yang sulit dibiopsi dengan tehnik transbronchial.
5) Biopsi dugaan metastasis:
Kelenjar getah bening perifer dapat diaspirasi dengan
menggunakan jarum halus dan bahannya diperiksa secara
sitologis.
6

6) Mediatinoscopy:
Tehnik ini digunakan untuk mengambil sampel kelenjar
limfa mediatinum yang mengalami pembesaran, hal ini dilakukan
jika tidak nampak tumor pulmonal.
8. Penatalaksanaan
a. Manajemen umum : terapi radiasi
b. Pembedahan : Lobektomi, pneumonektomi, dan reseksi.
c. Terapi obat : kemoterapi

B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat: Perokok berat dan kronis, terpajan terhadap lingkungan
karsinogen, penyakit paru kronis sebelumnya yang telah
mengakibatkan pembentukan jaringan parut dan fibrosis pada jaringan
paru.
b. Pengkajian persistem
1) System respirasi; Mengi, batuk, atelektasis, sesak nafas, nyeri
dada, batuk produktif tak efektif, suara nafas: mengi pada
inspirasi
2) System kardiovaskuler: leucopenia granulositopenia, anemia,
perdarahan, tachycardia, disritmia, menunjukkan efusi (gesekan
pericardial)
3) System integumen; lesi atau ulserasi kulit, rambut rontok.
4) System gastrointestinal: Deficit nutrisi, inkontinensia usus,
penurunan berat badan, anoreksia disfagia, penurunan intake
makanan.
5) System neurologis; Perasaan takut/takut hasil pembedahan,
kegelisahan.
6) System urinarius: Peningkatan frekuensi/jumlah urine.




7

2. Diagnose keperawatan
1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi
secret pada jalan nafas, keterbatasan gerakan dada/nyeri,
kelemahan/kelelahan
2) Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi, invasi massa ke
pleura, dinding dada
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai O
2
ke jaringan
menurun
4) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang tidak adekuat.
5) Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan kompensasi paru
yang meningkat.
6) Cemas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman/perubahan status
kesehatan, adanya ancaman kematian.

3. Intervensi keperawatan
1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi
secret pada jalan nafas, keterbatasan gerakan dada/nyeri,
kelemahan/kelelahan
Tujuan : Klien Menunjukkan prilaku mencapai bersihan jalan nafas
efektif
Kriteria hasil: menunjukkan patensi jalan napas, cairan secret mudah
dikeluarkan bunyi napas jelas, dan pernapasan tak bising
Intervensi dan Rasional
a. Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi napas tambahan. Mis.
Mengi, krekels, ronki.
Rasional: beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan napas dan dapat/tak dimanifestasikan adanya
bunyi napas adventisius
b. Kaji/pantau frekuensi pernapasan
Rasional: takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat
ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses
inflamasi akut.
8

c. Catat adanya derajat dispnea. Mis, penggunaan otot bantu napas.
Rasional: disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung
pada tahap proses kkronis selain proses akut yang menimbulkan
perawatan di rumah sakit.
d. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman
Rasional: pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang
paling mudah untuk bernapas.
e. Beri minum air hangat.
Rasional: Mengencerkan secret
f. Kolaborasi: pemberian obat bronkodilator, antitusif, vitamian,
antibiotic
Rasional: Antibiotik menghambat dan membunuh kuman,
antitusif menurunkan rangsangan batuk, vitamian meningkatkan
ketahanan tubuh, bronkodilator melegakan pernapasan
2) Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi, invasi massa ke
pleura, dinding dada
Tujuan : Nyeri hilang/berkurang, klien tidak mengeluh nyeri
Kriteria Hasil: Pasien menyatakan nyeri berkurang hingga mencapai
tingkat nyeri ringan , Skala nyeri menjadi 1-3, Pasien merasa nyaman
setelah nyeri berkurang, Pasien mulai banyak bergerak dan tidak
tampak hati-hati.
Ekspresi wajah rileks.
Intervensi dan Rasional
a. Kaji Penyebab, lokasi dan intensitas nyeri
Rasional: Mengetahui penyebab, lokasi dan intensitas nyeri
sehingga dapat menetapkan intervensi selanjutnya
b. Observasi isyarat ketidaknyamanan non verbal.
Rasional: Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan
pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi.
c. Observasi tanda-tanda vital
Rasional: memantau perkembangan pasien
d. Beri Posisi yang menyenangkan
9

Rasional: Memberikan posisi yang membuat klien lebih rileks
sehingga
e. Ajarkan teknik relaksasi yakni nafas dalam
Rasional: Meningkatkan suplai oksigen sehingga jaringan di
sekitar otak dapat merelaksasikan jaringan yang terganggu dan
dapat mengurangi nyeri
f. Batasi pengunjung dan beri lingkungan yang nyaman
Rasional: Dapat mengurangi rangsangan eksternal yang bisa
memicu adanya rangsangan nyeri
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai O
2
ke jaringan
menurun
Tujuan: aktivitas kembali normal dengan
Kriteria hasil: tidak lemah, sianosis hilang, tidak sesak
Intervensi dan Rasional
a. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama
perawatan, dorong penggunaan manajemen stress dan pengalihan
yang cepat
Rasional: dengan tindakan ini menurunkan stress dan rangsangan
berlebihan
b. Perhatikan dispneu, peningkatan kelemahan, perubahan tanda
vital takikardia selama dan setelah aktivitas
Rasional: menetapkan kemampuan pasien dan memudahkan
pilihan intervensi
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan
perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional: menghemat energy untuk penyembuhan, pembatasan
aktivitas berdampak positif terhadap pasien dalam perbaikan
kegagalan pernapasan
d. Bantu aktivitas perawatan diri. Berikan peningkatan aktivitas
selama fase penyembuhan
Rasional: menimbulkan kelelahan dan membantu keseimbangan
suplai serta pergerakan otot.

10


4) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang tidak adekuat
Tujuan : Nutrisi terpenuhi ditandai adanya peningkatan nafsu makan
dan penambahan berat badan.
Kriteria hasil: pasien dapat menghabiskan porsi makannya dan IMT
dalam batas normal: 21-23 kg/m
2

Intervensi dan Rasional
a. Kaji kebiasaan makan, kesulitan makan
Rasional: Anoreksia sering terjadi karena dispnue atau produksi
sputum dan efek obat batuk
b. Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan dalam porsi kecil
tapi sering sesuai dietnya
Rasional: Makan dalam porsi kecil sedikit tapi sering dapat
merangsang nafsu makan dan memudahkan untuk diterima oleh
lambung
c. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional: Mengawasi masukan makanan kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi makanan
d. Timbang berat badan tiap hari
Rasional: mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas
intervensi nutrisi
e. Pemberian makanan diet TKTP
Rasional: Makanan TKTP dapat mengganti, membuat sel-sel baru
(regenerasi) dalam tubuh
f. Kolaborasi pemberian obat : Vitamin B Comp.
Rasional: Untuk menambah nafsu makan
5) Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan kompensasi paru
yang meningkat.
Tujuan : pola tidur klien membaik
Kriteria Hasil: pasien mengatakan tidur nyenyak dan tidak terbangun
di malam hari.
Intervensi dan Rasional
11

a. Kaji waktu dan lamanya klien tidur
Rasional: Jumlah jam tidur yang kurang dan pola tidur yang tidak
teratur menggambarkan adanya gangguan istirahat tidur
b. Rapikan tempat tidur klien
Rasional: Tempat tidur yang rapi dan bersih memberi rasa
nyaman untuk tidur
c. Beri posisi yang menyenangkan yang tidak menekan jalan nafas
Rasional: Posisi yang menyenagkan dan tidak menekan diafragma
akan mempermudah ekspansi paru sehingga klien dapat memulai
untuk tidur nyenyak,
d. Ciptakan lingkungan yang tenang
Rasional: Lingkungan yang tenang dapat merangsang klien untuk
tidur
6) Cemas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman/perubahan status
kesehatan, adanya ancaman kematian
Tujuan :klien tidak merasakan kecemasan
Kriteria Hasil: mengakui dan mendiskusikan takut/masalah,
menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah
tampak rileks
Intervensi dan Rasional
a. Kaji persepsi klien terhadap penyakitnya
Rasional: Persepsi yang positif membantu kerja sama dalam
proses perawatan dan dapat mengurangi kecemasan
b. Beri support pada klien bahwa ia akan sembuh
Rasional: Support yang mendukung dap-at melegakan perasaan
klien dan mengurangi kecemasan
c. Anjurkan keluarga untuk selalu dekat dengan pasien
Rasional: Menghilangkan rasa keterasingan sehingga cemas
berkurang
d. Beri dorongan spiritual pada klien
Rasional: Meyakinkan klien, selain dengan pengobatan dan
perawatan masih ada yang berkuasa untuk menyembuhkan
penyakitnya