Anda di halaman 1dari 9

Tugas

Perkembangan Arsitektur III


DEKONSTRUKSI



Fera ari lestantya
Nim.201321001
Teknik arsitektur
Universitas surakarta


DEKONSTRUKSI

Pengertian Arsitektur Dekonstruksi:
Dekonstruksi merupakan salah satu bagian dari arsitektur pasca-modern ( late modern )
yang merupakan pengembangan/ kebangkitan dari arsitektur modern.
Dekonstruksi Dalam Desain
Dekonstruksi merupakan salah satu jalan keluar yang patut dipertimbangkandari permasalahan-
permasalahan yang timbul dari kejenuhan akan arsitekturmodern.Sehingga dapat dihasilkan
pemahaman dan perspektif baru tentang arsitektur.Pada arsitektur dekonstruksi yang ditonjolkan
adalah geometri 3-D bukandari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut yang
menunjukkepada kejujuran yang sejujur-jujurnya.Penggunakan warna sebagai aksen juga
ditonjolkan dalam komposisi arsitekturdekonstruksi sedangkan penggunaan tekstur kurang
berperan.Bangunan yang menggunakan langgam arsitektur dekonstruksi memilikitampilan yang
terkesan tidak masuk akal, dan memiliki bentukan abstrak yangkontras melalui permainan bidang
dan garis yang simpang siur.Pada arsitektur dekonstruksi yang dikomunikasikan adalah,
Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleharsitektur.
Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial
Prinsip prinsip dasar dalam ber- dekonstruksi :
a. Tidak ada yang absolut dalam arsitektur. Tidak ada satu cara atau gaya yang terbaik, atau
landasan hakiki di mana seluruh arsitektur harus berkembang. Gaya klasik, tradisional, modern dan
lainnya mempunyai posisi dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
b. Tidak ada ontologi dan teologi dalam arsitektur. Tidak ada tokoh atau figur yang perlu di
dewakan atau disanjung.
c. Dominasi pandangan dan nilai absolut dalam arsitektur harus segera diakhiri. Perkembangan
arsitektur selanjutnya harus mengarah pada keragaman pandangan dan tata nilai.
d. Visiocentrism atau pengutamaan indera penglihatan dalam arsitektur harus diakhiri. Potensi
indera lain harus dimanfaatkan pula secara seimbang.
e. Arsitektur tidak lagi identik dengan produk bangunan. Arsitektur terkandung dalam ide, gambar,
model dan fisik bangunan, dengan jangkauan dan aksentuasi yang berbeda. Prioritas yang diberikan
pada ide, gambar, mode dan bangunan harus setara, karena ide, gambar dan model tidak hanya
berfungsi sebagai simulasi atay representasi gedung, tetapi bisa menjadi produk atau tujuan akhir
arsitektur.
Jeques Derriden
Post structuralism dianalogikan dengan suatu teks atau bahasa. Sebuah kata
terstrukturmenjadi sebuah bahasa yang dapat membentuk sebuah interpretasi/penafsiran. Jacques
juga berpendapat bahwa kita tidak bisa mendapatkan akhir dari penafsiransebuah kalimat-sebuah
kebenaran, karena semua kalimat memiliki banyak arti dan berbeda-beda. Tetapi ada sebuah
kemugkinan tentang penafsiran yang berlawanan dantidak ada suatu jalan yang tidak tertafsirkan
untuk menjelaskan keberadaan penafsiran yang berlawanan
ini. Jacques mengembangkan paham dekonstruksi untuk uncoveringinterpretasi/penafsiran teks
yang beragam. Semua kalimat memiliki ambiguitassehingga untuk mendapatkan final interpretation
adalah sesuatu yang mustahil.
Post structuralism : Deconstruction
Filosofis panutan : Plato, FreudRousseau, Saussure
Sebagai sebuah konsep, Dekonstruksi adalah semangat. Gagasan Derrida adalah ideuntuk
melakukan perlawanan untuk selamanya. Ia bersifat anti-kemapanan. Itu artinya,ia juga tidak
mencari sebuah kemapanan baru. Sebagai sebuah energi, Dekonstruksi berkehendak melenting
bebas tidak beraturan.Ia bukan logos, jadi jangan jadikan sebuah konstruksi. Benar bahwa
DekonstruksiDerrida telah diadopsi dalam arts. Dalam seni instalasi, dalam politik, juga
dalamarsitektur. Namun demikian, Dekonstruksi bukanlah sebuah logos, ia bukanlah sebuahpakem.
Melainkan, sebuah dorongan untuk memberontak. Aku ingin menggunakan
analogi bangunan rumah: Dalam rangka bangunan pasti ada beberapa sambungan, misalnya saja di a
tap. Nah, dekonstruksi adalah upaya untuk
Bernard Tschumi
Dekonstruksi merupakan Analisis (dari tanpa menjadi apa)

Architecture of events : tak ada arsitektur tanpa events, tanpa action, tanpa activity,tanpa
function; arsitektur harus terlihat sebagai kombinasi ruang, events danpergerakan, tanpa
hirarki atau preseden apapun diantara ketiganya

Arsitektur menggabungkannya dalam kombinasi preseden programatik
1. Crossprogramming : penerapan suatu program pada suatu konfigurasi ruang yang
tidak semestinya, misal : kafe untuk sinema
2. Transprogramming : mengkombinasikan 2 program kegiatan tanpa
memperdulikanketidaksesuaian, misal : perpustakaan dan sinema

3. Disprogramming : mengkombinasikan 2 program sehingga konfigurasi spasial
program A mengkontaminasi program dan konfigurasi spasial program B; misal : programsi
nema untuk fasilitas komersial

2 jenis dekonstruksi Deridean dan Non deridean
KONSEP DEKONSTRUKSI DERRIDEAN
Pengaruh Derrida dalam arsitektur seolah mengisi kehampaan makna yang dirasakan para
arsitek terhadap arsitektur modern maupun arsitektur purna modern yang muncul sebelumnya.
Derrida adalah seorang filsuf dan ahli linguistik Perancis yang mempertanyakan kembali dan
menggugat filsafat modern yang menjadi dasar bagi konsep konsep pemikiran modern di segala
bidang. Dengan cara berfikir retrogresif, ia membongkar pemikiran para filsuf dan penulis besar
dengan membaca karya tulisnya ( text ) dengan teliti dan tajam. Dalam text text itu ia menemukan
konsep konsep yangkontradiktif, sehingga dengan demikian ia menunjukkan kekeliruan penulis
yang bersangkutan.
Untuk mengerti arsitektur dekonstruksi Derridean, berikut ini merupakan pernyataan yang
menjadi kunci, yaitu:
- Dekonstruksi bukan semata mata metode kritis
- Sikap dekonstrksi senantiasa alternatif, dan tidak negatif
- Menembus dan menerobos berbagai wilayah disiplin keilmuan adalah necessites dari
dekonstruksi.
- Dekonstruksi merupakan suatu cara untuk mempertanyakan arsitektur dalam filsafat dan
barangkali arsitektur sendiri.
- Deconstructive architecture.... adalah bukan untuk membangun sesuatu yang nyeleneh, sia
sia, tanpa bisa dihuni, tetapi untuk membebaskan seni bangunan dari segala keterselesaian yang
membelenggu.
- Dekonstruksi tidak sesederhana untuk melupakan masa lalu. Tetapi membuat inskripsi kembali
yang melibatkan rasa hormat pada tradisi dalam bentuk memorial
- Dekonstruksi tidak semata mata theoretikal, tetapi juga membina dan membangun struktur
struktur baru, namun tidak pernah menganggap selesai.
- Dekonstruksi senantiasa memberikan perhatian kepada kelipatgandaan, keanekaragaman, dan
mempertajam keunikan keunikan yang tak dapat direduksi dari masing masing.
- Dekonstruksi menolak secara seimbang terhadap yang menghubungkannya dengan sesuatu yang
spesifik modern atau post-modern.
1. Pembedaan dan penundaan makna
derrida mempersoalkan seluruh tradisi filsafat barat yang bermuara pada pengertian ada
sebagai kehadiran, atau yang disebut metafisika kehadiran.dalam bahasa yang mudah dapat
dikatakan yang hadir itulah yangada. Kalau sesuatu yang tidak hadir ingin dihadirkan maka tanda
dapat menjadi penggantinya. Jadi tanda menghadirkan ( mempresentasikan ) yang tidak hadir (
absence ).
Dengan prinsip bahasa ini bahasa sebagai sistem te\anda berkembang menjadi sarana
komunikasi manusia. Tanda berfungsi membedakan 9 differensiasi 0 artinya tanda yang satu
berbeda dengan tanda yang lain, agar makna dari sesuatu yang berbeda dapat ditangkap.
Namun kebudayaan manusia telah berkembang, makna atau konsep konsep telah menjadi
kompleks dan rumit seiring dengan bertambahnya pengalaman manusia. Sebagai contoh sebuah
kata asing yang dicari dalam kamus, penjelasan kata dalam kamus ternyata berisi serangkaian kata
yang bisa jadi masih terdapat kata yang tidak dimengerti.
Bernard Tschumi in pavilions for the exposition
Menurut Derrida, kata atau tanda kini tidak mampu lagi menghadirkan makna sesuatu yang
dimaksud secara serta merta. Makna harus dicari dalam rangkaian tanda lain yang mendahului tanda
yang pertama. Sifat mendeferensiasi tidak cukup bagi suatu tanda, realitas makna juga harus dicari
dalam tanda tanda lain yang mendahului dan saling terkait (tissue of signs) yang mungkin hanya
nampak jejak jejaknya saja (trace). Pencarian ini membutuhkan waktu, karena itu pemahaman
makna menjadi tertunda menanti pengalaman dan konteks lain yang perlu diciptakan. Pemahaman
makna tidak mungkin sekali jadi, sekarang dan disini karena itu tanda atau kata harus dicoret dulu
tapi tidak dihapus.
Derrida menciptakan konsep differance, ada dua kata dalam bahasa Inggris yang mendekati
kata ini yaitu to differ yaitu membedakan dan to defer yaitu menunda. Konsep differance ini
bukan kata atau definisi tapi suatu kondisi menunggu atau menunda diantara dua atau lebih
keadaan yang berbeda, seperti bandul jam yang sampai pada titik tertinggi goyangannya, berhenti
goyang ke kiri untuk mulai goyang ke kanan ( berapa detik bandul itu berhenti? )
Dalam sistem tanda, konsep differance ini melihat bahwa antara yang hadir dan yang absen
ada dalam kondisi saling tergantung bukannya saling meniadakan. Kehadiran baru punya makna bila
ada kemungkinan absen yang setara. Jean Paul Sartre menolak menerima hadiah nobel karena
berpendapat ketidak hadirannya justru lebih bermakna dan selalu diingat daripada jika ia hadir
menerimanya.
Dalam tradisi metafisika kehadiran realitas ( kenyataan ) ditangkap sebatas yang hadir,
realitas yang ditampilkan adalah yang terpilih dengan tujuan tertentu, sementara yang tidak
dikehendaki disembunyikan sehingga yang hadir sebetulnya adalah realitas semu.
Dekonstruksi terhadap metafisika kehadiran dilakukan dengan mencoba menguak realitas
yang asal dengan menghadirkan yang absen sekaligus dengan yang presence, yang dulu dengan yang
kini sekaligus.
2. Pembalikan Hierarki
Filsafat modern dengan metafisika kehadirannya sangat menekankan kepastian yang tidak
tertunda karena segala sesuatu harus bisa diselesaikan dengan logika. Differensiasi secara ketat
menghasilkan perbedaan 2 kutub yang dipertentangkan secara diamatral ( oposis binary ).
Pandangan ini lebih jelas terlihat dalam faham strukturalis yang diajukan oleh Ferdinand de Sausure
dalam linguistik atau C Levi-Strauss dalam Antropologi.
Strukturalisme dalam memahami fenomena selalu mengadakan pemilahan ( differensiasi ) ke
dalam elemen elemen yang merupakan hasil abstaksi. Yang penting adalah relasi antar elemen ini,
kemudian dari relasi inilah disimpulkan kaidah umum fenomena. Relasi antar elemen ini didapat
dengan cara melakukan oposisi, bila terdapat dua elemen disebut oposisi binary, untuk tiga elemen
disebut oposisi triadik dan seterusnya. Strukturalisme melihat semua gejala dalam kehidupan
dengan cara ini :
Budaya - alam : J.J. Rouseau
Ujaran - tulisan : C. Levi-Strauss
Presence - absence
Penanda - petanda : F. de Sausure
Elemen yang pertama dianggap yang penting dan mendominasi yang kedua, secara hierarkis
yang kedua sub-ordinasi terhadap yang pertama, sehingga kalau yang kedua harus ada, maka ia
hanya berperan sebagai pelengkap saja.
Derrida melakukan dekonstruksi terhadap pandangan oposisi ini dengan menempatkan kedua
elemen tersebut tidak secara hierarkis yang satu di bawah yang lain, tetapi sejajar sehingga secara
bersama sama dapat menguak makna ( kebenaran ) yang lebih luas, lebih mendalam pada suatu
bingkai tanpa batas. Dikatakn bahwa dekonstruksi menyediakan infra-struktur, yaitu suatu kondisi
yang mempunyai potensi untuk memproduksi perbedaan perbedaan dalam konteks yang berbeda
beda (disseminasi) demi tercapainya kebenaran ( makna ) yang lebih asli bukan yang semu.
Arsitektur adalah suatu cabang seni yang paling materiil dibanding seni yang lain, ia terikat
dengan gravitasi, iklim, topografi, pergerakan, pekerja, dan bahan tapi juga terikat dengan hal hal
sejarah, memori, tatanan sosial, langgam, jiwa setempat dan lain lain. Karena itu arsitektur
menghadapi banyak sekali kondisi oposisional karena harus mengakomodir banyak hal. Kondisi
oposisional yang mencakup aspek non-materi ini dalam berarsitektur akhirnya harus diwujudkan
dalam materi, maka yang penting adalah bagaimana cara memandang elemen oposisi ini dan
mentransformasikannya dalam elemen rancangan. Transformasi dariaspek non-materi ke tingkat
materi merupakan suatu proses metamorfosis.
Lookout tower in Oulu, Finland. Kari Niskasaari
3. Pusat dan Marjinal
Perbedaan antara pusat dengan marjinal merupakan konsekuensi dari adanya hierarki
yang ditumbuhkan oposisi binary. Yang marjinal adalah yang berada pada batas, pada tepian,
berada di luar, karena itu dianggap tidak penting. Sementara yang pusat adalah yang terdalam,
yang di jantung daya tarik dan makna dimana setiap gerakan berasal dan merupakan tujuan gerakan
dari yang merjinal.
Derrida mempertanyakan keabsahan posisi ini dalam konsep parergon ( para:tepi,
ergon:karya ), yaitu bingkai lukisan. Kalau hanya untuk membingkai lukisan agar bisa tergantung di
dinding, mengapa setiap bingkai lukisan selalu dibuat demikian bagus terukir? Bukannya
pembingkaian ( framing ) ini mempunyai nilainya sendiri terlepas dari nilai lukisan yang
dibingkainya?
Dalam text, parergon ini berupa : kata penghantar, pendahuluan, catatan kaki, lampiran dan
sebagainya. Sebagai yang marjinal, parergon oleh Derrida diberi peranan yang penting untuk
menunjukkan sikap pembalikan hierarki, sebagai contoh kata pengantar bukunya Of
Grammatology yang ditulis Gayatri C.Spivak demikian panjangnya dan penting sehingga
kedudukannya sama dengan isi bukunya sendiri. Yang marjinal dalam arsitektur dapat dilihat pada :
1. bagian bagian yang dianggap ekstra seperti teras, garasi, ruang mesin, ruang pelayan, jalan
masuk dan sebagainya.
2. bagian bagian yang berupa penambahan, perluasan, pengembangan, perbaikan.
Mendekonstruksi yang marjinal menjadi pusat berarti mengangkat yang ekstra, yang
tambahan pada posisi yang setara dengan yang utama dan mempunyai otonominya sendiri serta
merta dengan menanyakan keabsahan yang utama atau yang asli seperti dalam proyek renovasi.
4. Pengulangan dan Makna
Suatu kata atau tanda memperoleh maknanya dalam suatu proses berulang pada konteks
yang berbeda dimana secara konotatif maupun denotatif artinya akan memperoleh struktur yang
stabil.
Dengan penundaan pemaknaan tanda, terbuka kemungkinan yang lebih luas dalam suatu
permainan penelusuran jejak jejak tanda yang lain dalam konteks yang berbeda beda.
Dalam arsitektur, penggunaan metafor secara berulang- ulang akan membuka pemahaman
yan glebih baik terhadap makna yang dimaksudkannya.
KONSEP DEKONSTRUKSI NON DERRIDEAN
Dalam arsitektur dekonstruksi, ternyata terbagi menjadi menjadi dua kelompok yang berbeda.
Di satu pihak adalah mereka yang berdasarkan kepada konsep dekonstruksi Derridean, dan di pihak
kedua adalah mereka yang tidak mengikuti konsep Derridean yang disebut sebagai konsep Non
Derridean
Aaron Betsky dalam bukunya Violated Perfection mengelompokkan asitek arsitek yang tidak
mengikuti konsep Derridean ke dalam 5 kelompok, yaitu :
1. Revelatory Modernist
Diantara semua, kelompok ini yang paling konservatif, masih mengutamakan prinsip abstraksi
dan mengutamakan fungsi mengoptimalkan kemungkinan hasil industri bahan dan prefabrikasi
namun dengan memfragmentasi potongan potongan, konteks dan program prefabrikasi tersebut
dan hasilnya adalah kumpulan ruang dan obyek yang terfragmentasi. Arsitek yan termasuk
didalamnya antara lain ;Gunther Behnish & partner, Jean Nouvel, Helmut Jahn
2. Shards dan Sharks
Kelompok ini menampilkan bentuk bentuk serpihan batang dan lempeng yang
dikomposisikan sedemikian rupa sehingga kesannya sembrawut, menakutkan dan penuh teka teki.
Diantara semuanya, kelompok ini adalah yang paling radikal, programnya adalah membedah,
mengolok olok dan merombak proses modernisasi dan mencerminkan lingkungannya yang chaos,
penuh kekerasan dan berbahaya.
Arsitek yang termasuk kelompok ini antara lain; Frank Gehry, Gunther Domenig, Coop
Himmelblau,Kazuo Shinohara,Zaha Hadid
3. Textualist
Kelompok ini melihat bahwa arsitektur yang ada sebagai built languange yang tidak mampu
lagi mencerminkan struktur dan kebenaran yang ada. Seperti halnya kata sebagai tanda tidak
mampu serta merta menyampaikan makna ( kelompok ini sebenarnya termasuk kelompok
dekonstruksi derridean ). Denah dan tampak bangunan yang ada hanyalah menampilkan bias yang
pucat ( topeng ) dari struktur struktur yang diredam ( absence ) perlu ditampilkan dengan
mengangkat konflik konflik internal yang ada. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah:Peter
Eisenman, Bernard Tschumi,Ben Nicholson, Steven Holl,Diller dan Scofido
4. New Mythologist
Utopia merupakan mitos yang selalu ada pada setiap kurun waktu, karena tiada harapan
tanpa utopia. Utopia arsitektur modern adalah dunia yang satu, utuh dan nyaris sama ( international
style ) yang telah gagal memenuhi misi kemanusiannya. Utopia kedua adalah kebalikannya : Dystopia
atau vision of self-destruction yang tidak berkembang karena kesadaran manusia untuk tetap
mempertahankan kehidupan. Kelompok ini ingin menciptakan suatu utopia sebagai suatu mitologi
baru, suatu dunia yang lain yang lokasi dan kaitannya dengan masa lalu, masa kini dan mendatang
tidak dikenali. Arsitek yang termasuk dalam kelompok ini antara lain : Paulo Soleri,Lebbeus Woods,
Hodgetts dan Fung desain Associates
5. Technomorpisme
Pada mulanya manusia menciptakan alat ( teknologi ) hanya sebagai perpanjangan tangannya,
namun dengan berkembangnya teknologi, hubungan manusia dengan teknologi sudah demikian
menyatu. Telekomunikasi jarak jauh telah menghapuskan jarak dan waktu dan pada gilirannya
mengubah tatanan sosial bangsa bangsa. Sebagai penerus proyek modern yang belum
terselesaikan, kelompok ini mengakomodasikan teknologi dan membuatnya menjadi artefak yang
tidak hanya menjadi perpanjangan tangan tetapi juga perluasan dari self-nya. Lebih dari itu teknologi
bisa dilihat sebagai usaha mengekstensi,manipulasi, mediasi, representasi serta memetakan self-
nya. Arsitek - arsitek yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain : Macdonald dan Salter, Toyo
Ito, Morphosis Architects, Holt, Hinshaw, PFAU, Jones
Contoh bangunan dekonstruksi
VITRA INTERNATIONAL HEADQUARTERS
Arsitek : Frank O. GehryLokasi : Basel, Switzerland

Bangunan ini berlokasi didaerah sub-urban di luar kota Basel yang dipenuhioleh bangunan industri
seperti pabrik serta apartment yang diperuntukkansebagai pelengkap daerah baru yang sedang
berkembang.Sebagai bangunan yang berlokasi di daerah yangsedang berkembang, maka diperlukan
hal hal yang mampu menjadi daya tarik bagi keperluan komersial bangunan itu sendiri, terlebih
bangunan ini juga diperuntukkan sebagai bangunan industri.Karenanya pada bangunan ini, unsur
ruang masih diperhatikan dalam penggarapan desainnya,sehingga muncul bentukan yang lebih
sederhana jika dibandingkan dengan contoh kasus pada Denver Art Museum pada
pembahasansebelumnya. Bangunan ini nampak memperatahankan bentukan geometrisnya
.Meskipun bentukan yang terjadi lebih sederhana, namun tidak mengurangieksistensi bangunan
sebagai bagian dari arsitektur dekonstruksi. Permainan bidang masih menjadi unsur penangkap bagi
eksistensi tersebut .Unsur penangkap lain dapat dihadirkan dari permainan penggunaan bahan
padafasade eksterior bangunan. Nampak penggunaan metal dan permainan warna menjadi daya
tarik bangunan ini.