Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Cedera kepala hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama yang
merupakan masalah kesehatan masyarakat karena insiden dan mortilitasnya yang tinggi.
Akibat trauma kepala bagi pasien dan keluarga sangat mempengaruhi perubahan fisik
maupun psikologis. Untuk itu diperlukan penanganan yang serius dalam memberikan
asuhan keperawatan. Dalam memberikan pelayanan, keperawatan sebagai subsistem
pelayanan kesehatan bekerjasama dengan pelayanan medis yaitu dokter, guna mencapai
tujuan bersama yaitu untuk memenuhi kebutuhan pasien, disertai dengan kolaborasi
dengan tim kesehatan lainnya (analis, gizi, dll).
Pentingnya laporan kasus ini dibuat karena perawat berada di dalam posisi yang
sentral untuk memahami perubahan-perubahan baik fisilogis maupun psikologis, di mana
pasien dengan cedera kepala rata-rata dirawat dalam perawatan akut. Disinilah dirasakan
betapa pentingnya peran tenaga perawat harus mampu menganalisa dan mengambil
keputusan yang tepat dalam melakukan tindakan keperawatan.
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran tentang asuhan keperawatan pada pasien dgn gangguan
sistem neurologi : cedera kepala.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya gambaran dan pengalaman belajar dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dgn gangguan system neurologi: cedera kepala.
b. Dapat membandingkan perbedaan gangguan system neurologi : cedera kepala
yang tepat di dalam teori dan praktek dilapangan.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep penyakit
1. Definisi
Cidera kepala adalah pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan
atau tanpa kehilangan kesadaran (Tucker, 1998).
Cidera kepala (terbuka dan tertutup) terdiri dari fraktur tengkorak, commusio
(gegar) serebri, contusio (memar) serebri, laserasi dan perdarahan serebral yaitu
diantaranya subdural, epidural, intraserebral, dan batang otak (Doenges, 2000:270).
Cidera kepala diklasifikasikan berdasarkan:
1. Keadaan kulit kepala dan tulang tengkorak
1) Cidera kepala terbuka
2) Cidera kepala tertutup
2. Cidera pada jaringan otak (secara anatomis)
1) Commusio serebri (gegar otak)
2) Edema serebri
3) Contusio serebri (memar otak)
4) Laserasi
(Ergan, 1998:642)
3. Adanya penetrasi durameter (secara mekanisme)
1) Cidera tumpul
a. Kecepatan tinggi (tabrakan otomobil)
b. Kecepatan rendah (terjatuh, dipukul)
2) Cidera tembus
Luka tembus peluru dan cidera tembus lainnya
4. Tingkat keparahan cidera (berdasarkan GCS)
1) Cidera Kepala Ringan (CKR) GCS 13-15
2) Cidera Kepala Sedang (CKS) GCS 9-12
3) Cidera Kepala Berat (CKB) GCS 3-8





GCS (Glasgow Coma Scale)
1. Membuka mata (E)
Spontan
Dipanggil/diperintah
Tekanan pada jari/rangsang nyeri
Tidak berespon
2. Respon Verbal (V)
Orientasi baik: dapat bercakap-cakap
Bingung, dapat bercakap tapi disorientasi
Kata yang diucapkan tidak tepat, kacau
Tidak dapat dimengerti, mengerang
Tidak bersuara dengan rangsang nyeri
3. Respon Motorik
Mematuhi perintah
Menunjuk lokasi nyeri
Reaksi fleksi
Fleksi abnormal thdp nyeri (postur dekortikasi)
Ekstensi abnormal
Tidak ada respon, flacid

4
3
2
2

5
4
3
2
1


6
5
4
3
2
1
5. Berdasarkan morfologi
1) Fraktur tengkorak
a. Kranium: linear/ stelatum, depresi/ non depresi, terbuka/ tertutup.
b. Basis: dengan/ tanpa kebocoran cairan cerebrospinal, dengan/ tanpa
kelumpuhan nervus VIII
2) Lesi intra cranial
a. Foxal: epidural, subdural, intraserebral
b. Difus: konkusi ringan/ klasik, cidera aksonal difus.
2. Etiologi
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama
pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas
( Mansjoer, 2000:3).
Penyebab cidera kepala antara lain: kecelakaan lalu lintas, perkelahian,
terjatuh, dan cidera olah raga. Cidera kepala terbuka sering disebabkan oleh peluru
atau pisau (Corkrin, 2001:175).
3. Patofisiologi
Cidera kepala dapat terjadi karena benturan benda keras, cidera kulit kepala,
tulang kepala, jaringan otak, baik terpisah maupun seluruhnya. Cidera bervariasi dari
luka kulit yang sederhana sampai gegar otak, luka terbuka dari tengkotak, disertai
kerusakan otak, cidera pada otak, bisa berasal dari trauma langsung maupun tidak
langsung pada kepala. Trauma tak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau
kekuatan yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher. Trauma langsung
bila kepala langsung terbuka, semua itu akibat terjadinya akselerasi, deselerasi, dan
pembentukan rongga, dilepaskannya gas merusak jaringan syaraf.
Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya. Kerusakan
itu bisa terjadi seketika atau menyusul rusaknya otak oleh kompresi, goresan, atau
tekanan. Cidera yang terjadi waktu benturan mungkin karena memar pada permukaan
otak, laserasi substansia alba, cidera robekan, atau hemmorarghi. Sebagai akibat,
cidera skunder dapat terjadi sebagai kemampuan auto regulasi serebral dikurangi atau
tidak ada pada area cidera, konsekuensinya meliputi hiperemia (peningkatan volume
darah, peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, tekanan intra
cranial) (Huddak & Gallo, 1990:226).
Pengaruh umum cidera kepala juga bisa menyebabkan kram, adanya
penumpukan cairan yang berlebihan pada jaringan otak, edema otak akan
menyebabkan peningkatan tekanan intra cranial yang dapat menyebabkan herniasi
dan penekanan pada batang otak (Price and Wilson, 1995:1010).










Pathway





4. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala yang umum terjadi pada korban trauma kepala, yaitu:
1) Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih.
2) Gelisah.
3) Mual dan muntah.
4) Irritable.
5) Pucat.
6) Pusing.
7) Hematoma.
8) Cemas.
9) Sukar dibangunkan
Manifestasi klinis berdasarkan tingkatan cedera/trauma:
1) Tingkat I
Bila dijumpai adanya riwayat kehilangan kesadaran/pingsan yang sesaat setelah
mengalami trauma dan kemudian sadar. Pada waktu diperiksa dalam keadaan
sadar penuh, orientasi baik dan tidak ada deficit neurologis.
2) Tingkat II
Kesadaran menurun namun masih dapat mengikuti perintah yang sederhana dan
dijumpai adanya deficit neurologis.
3) Tingkat III
Kesadaran sangat menurun dan tidak dapat mengikuti perintah walaupun yang
sederhana sama sekali. Penderita masih bisa bersuara, namun susunan kata dan
orientasinya kacau, gaduh gelisah. Respon motorik bervariasi dari keadaan yang
mampu melokalisir rasa nyeri sampai tidak ada respon sama sekali desebrasi.
4) Tingkat IV
Tidak ada fungsi neurologis sama sekali.
5. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan Keperawatan
a. Menjamin kelancaran jalan nafas dan control vertebra cervicalis
b. Menjaga saluran nafas tetap bersih, bebas dari secret
c. Mempertahankan sirkulasi stabil
d. Melakukan observasi tingkat kesadaran dan tanda tanda vital
e. Menjaga intake cairan elektrolit dan nutrisi jangan sampai terjadi hiperhidrasi
f. Menjaga kebersihan kulit untuk mencegah terjadinya decubitus
g. Mengelola pemberian obat sesuai program
2) Penatalaksanaan Medis
a. Oksigenasi dan IVFD
b. Terapi untuk mengurangi edema serebri (anti edema)
Dexamethasone 10 mg untuk dosis awal, selanjutnya:
a) 5 mg/6 jam untuk hari I dan II
b) 5 mg/8 jam untuk hari III
c) 5 mg/12 jam untuk hari IV
d) 5 mg/24 jam untuk hari V
c. Terapi neurotropik: citicoline, piroxicam
d. Terapi anti perdarahan bila perlu
e. Terapi antibiotik untuk profilaksis
f. Terapi antipeuretik bila demam
g. Terapi anti konvulsi bila klien kejang
h. Terapi diazepam 5-10 mg atau CPZ bila klien gelisah
i. Intake cairan tidak boleh > 800 cc/24 jam selama 3-4 hari
6. Komplikas
Kemunduran pada kondisi pasien mungkin karena perluasan hematoma intrakranial,
edema serebral progresif, dan herniasi otak
Edema serebral dan herniasi
Edema serebral adalah penyebab paling umum peningkatan TIK pada pasien
yang mendapat cedera kepala, puncak pembengkakan yang terjadi kira kira 72 jam
setelah cedera. TIK meningkat karena ketidakmampuan tengkorak untuk membesar
meskipun peningkatan volume oleh pembengkakan otak diakibatkan trauma. Sebagai
akibat dari edema dan peningkatan TIK, tekanan disebarkan pada jaringan otak dan
struktur internal otak yang kaku. Bergantung pada tempat pembengkakan, perubahan
posisi kebawah atau lateral otak (herniasi) melalui atau terhadap struktur kaku yang
terjadi menimbulkan iskemia, infark, dan kerusakan otak irreversible, kematian.
Defisit neurologik dan psikologik
Pasien cedera kepala dapat mengalami paralysis saraf fokal seperti anosmia
(tidak dapat mencium bau bauan) atau abnormalitas gerakan mata, dan defisit
neurologik seperti afasia, defek memori, dan kejang post traumatic atau epilepsy.
Pasien mengalami sisa penurunan psikologis organic (melawan, emosi labil) tidak
punya malu, emosi agresif dan konsekuensi gangguan.
Komplikasi lain secara traumatik:
1. Infeksi sitemik (pneumonia, ISK, sepsis)
2. Infeksi bedah neurologi (infeksi luka, osteomielitis, meningitis, ventikulitis, abses
otak)
3. Osifikasi heterotropik (nyeri tulang pada sendi sendi)
Komplikasi lain:
1. Peningkatan TIK
2. Hemorarghi
3. Kegagalan nafas
4. Diseksi ekstrakranial
B. Asuhan Keperawatan CKS
1. Pengkajian
Data fokus yang perlu dikaji:
1) Riwayat kesehatan meliputi: keluhan utama, kapan cidera terjadi, penyebab
cidera, riwayat tak sadar, amnesia, riwayat kesehatan yang lalu, dan riwayat
kesehatan keluarga.
2) Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
2. Pemeriksaan persistem
a) Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera: penglihatan,
pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa)
b) Sistem persarafan (tingkat kesadaran/ nilai GCS, reflek bicara, pupil,
orientasi waktu dan tempat)
c) Sistem pernafasan (nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan kepatenan
jalan nafas)
d) Sistem kardiovaskuler (nilai TD, nadi dan irama, kualitas, dan frekuensi)
e) Sistem gastrointestinal (nilai kemampuan menelan, nafsu makan/ minum,
peristaltik, eliminasi)
f) Sistem integumen ( nilai warna, turgor, tekstur dari kulit, luka/ lesi)
g) Sistem reproduksi
h) Sistem perkemihan (nilai frekuensi b.a.k, volume b.a.k)
3. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan (termasuk adakah kebiasaan
merokok, minum alcohol, dan penggunaan obat obatan)
2) Pola aktivitas dan latihan (adakah keluhan lemas, pusing, kelelahan, dan
kelemahan otot)
3) Pola nutrisi dan metabolisme (adakah keluhan mual, muntah)
4) Pola eliminasi
5) Pola tidur dan istirahat
6) Pola kognitif dan perceptual
7) Persepsi diri dan konsep diri
8) Pola toleransi dan koping stress
9) Pola seksual dan reproduktif
10) Pola hubungan dan peran
11) Pola nilai dan keyakinan
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan cidera kepala adalah
sebagai berikut:
1) Perfusi jaringan tidak efektif (spesifik serebral) berhubungan dengan aliran arteri
dan atau vena terputus.
2) Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik.
3) Hipertermi berhubungan dengan trauma (cidera jaringan otak, kerusakan batang
otak)
4) Pola nafas tak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
5) Kerusakan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif,
afektif, dan motorik)
6) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif,
motorik, dan afektif.
7) Defisit perawatan diri: makan/ mandi, toileting berhubungan dengan kelemahan
fisik dan nyeri.
8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif,
motorik, dan afektif.
9) Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
10) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik.
11) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma/ laserasi kulit kepala
12) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual, muntah.
13) PK: peningkatan TIK dengan proses desak ruang akibat penumpukan cairan/
darah di dalam otak.

3. Rencana Perawatan
No
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
Perfusi jaringan tak
efektif (spesifik sere-
bral) b.d aliran arteri
dan atau vena
terputus, dengan
batasan karak-
teristik:
1. Perubahan respon
motorik
2. Perubahan status
mental
3. Perubahan respon
pupil
4. Amnesia
retrograde (gang-
guan memori)
NOC:
1. Status sirkulasi,
2. Perfusi jaringan
serebral
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama .x 24
jam, klien mampu men-capai
:
1. Status sirkulasi dengan
indikator:
2. Tekanan darah sis-tolik
dan diastolik dalam
rentang yang diharapkan
3. Tidak ada ortostatik
hipotensi
4. Tidak ada tanda tan-da
PTIK
5. Perfusi jaringan serebral,
dengan indicator :
a) Klien mampu
berko-munikasi
dengan je-las dan
sesuai ke-
mampuan
b) Klien
menunjukkan
perhatian,
Monitor Tekanan Intra Kranial
1. Catat perubahan respon klien
terhadap stimu-lus /
rangsangan
2. Monitor TIK klien dan
respon neurologis terhadap
aktivitas
3. Monitor intake dan output
4. Pasang restrain, jika perlu
5. Monitor suhu dan angka
leukosit
6. Kaji adanya kaku kuduk
7. Kelola pemberian antibiotic
8. Berikan posisi dengan kepala
elevasi 30-40
O
dengan leher
dalam posisi netral
9. Minimalkan stimulus dari
lingkungan
10. Beri jarak antar tindakan
keperawatan untuk
meminimalkan peningkatan
TIK
11. Kelola obat obat untuk
mempertahankan TIK dalam
batas spesifik
Monitoring Neurologis (2620)
1. Monitor ukuran,
konsen-trasi, dan
orientasi
c) Klien mampu
mem-proses
informasi
d) Klien mampu
mem-buat
keputusan de-
ngan benar
e) Tingkat
kesadaran klien
membaik

kesimetrisan, reaksi dan
bentuk pupil
2. Monitor tingkat kesadaran
klien
3. Monitor tanda-tanda vital
4. Monitor keluhan nyeri
kepala, mual, dan muntah
5. Monitor respon klien
terhadap pengobatan
6. Hindari aktivitas jika TIK
meningkat
7. Observasi kondisi fisik klien
Terapi Oksigen (3320)
1. Bersihkan jalan nafas dari
secret
2. Pertahankan jalan nafas tetap
efektif
3. Berikan oksigen sesuai
instruksi
4. Monitor aliran oksigen,
kanul oksigen, dan
humidifier
5. Beri penjelasan kepada klien
tentang pentingnya
pemberian oksigen
6. Observasi tanda-tanda
hipoventilasi
7. Monitor respon klien
terhadap pemberian oksigen
8. Anjurkan klien untuk tetap
memakai oksigen selama
aktivitas dan tidur

2 Nyeri akut b.d
dengan agen injuri
fisik, dengan batasan
karakteristik:
1. Laporan nyeri
ke-pala secara
verbal atau
non verbal
2. Respon
autonom
(perubahan
vital sign,
dilatasi pupil)
3. Tingkah laku
eks-presif
(gelisah, me-
nangis,
merintih)
4. Fakta dari
observasi
5. Gangguan
tidur (mata
sayu, menye-
ringai, dll)
NOC:
1. Nyeri terkontrol
2. Tingkat Nyeri
3. Tingkat kenyamanan
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama . x 24
jam, klien dapat :
1. Mengontrol nyeri, de-
ngan indikator:
a) Mengenal faktor-
faktor penyebab
b) Mengenal onset nyeri
c) Tindakan pertolong-
an non farmakologi
d) Menggunakan anal-
getik
e) Melaporkan gejala-
gejala nyeri kepada
tim kesehatan.
f) Nyeri terkontrol
2. Menunjukkan tingkat
nyeri, dengan
indikator:
a. Melaporkan nyeri
b. Frekuensi nyeri
c. Lamanya episode
nyeri
d. Ekspresi nyeri; wa-
jah
e. Perubahan respirasi
rate
f. Perubahan tekanan
darah
Manajemen nyeri (1400)
1. Kaji keluhan nyeri lokasi,
karakteristik onset/durasi
frekuensi kualitas dan
beratnya nyeri.
2. Observasi respon
ketidaknyamanan secara
verbal dan non verbal.
3. Pastikan klien menerima
perawatan analgetik dg tepat.
4. Gunakan strategi komunikasi
yang efektif untuk
mengetahui respon
penerimaan klien terhadap
nyeri.
5. Evaluasi keefektifan
penggunaan kontrol nyeri
6. Monitoring perubahan nyeri
baik aktual maupun
potensial.
7. Sediakan lingkungan yang
nyaman.
8. Kurangi faktor-faktor yang
dapat menambah ungkapan
nyeri.
9. Ajarkan penggunaan tehnik
relaksasi sebelum atau
sesudah nyeri berlangsung.
10. Kolaborasi dengan tim
kesehatan lain untuk memilih
tindakan selain obat untuk
meringankan nyeri.
11. Tingkatkan istirahat yang
g. Kehilangan nafsu
makan
3. Tingkat kenyamanan,
dengan indicator :
a) Klien melaporkan
kebutuhan tidur
dan istirahat
tercukupi

adekuat untuk meringankan
nyeri.
Manajemen pengobatan (2380)
1. Tentukan obat yang
dibutuhkan klien dan cara
mengelola sesuai dengan
anjuran/ dosis.
2. Monitor efek teraupetik dari
pengobatan.
3. Monitor tanda, gejala dan
efek samping obat.
4. Monitor interaksi obat.
5. Ajarkan pada klien / keluarga
cara mengatasi efek samping
pengobatan.
6. Jelaskan manfaat pengobatan
yg dapat mempengaruhi gaya
hidup klien.
Pengelolaan analgetik (2210)
1. Periksa perintah medis
tentang obat, dosis &
frekuensi obat analgetik.
2. Periksa riwayat alergi klien.
3. Pilih obat berdasarkan tipe
dan beratnya nyeri.
4. Pilih cara pemberian IV atau
IM untuk pengobatan, jika
mungkin.
5. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgetik.
6. Kelola jadwal pemberian
analgetik yang sesuai.
7. Evaluasi efektifitas dosis
analgetik, observasi tanda
dan gejala efek samping,
misal depresi pernafasan,
mual dan muntah, mulut
kering, & konstipasi.
8. Kolaborasi dgn dokter untuk
obat, dosis & cara pemberian
yg diindikasikan.
9. Tentukan lokasi nyeri,
karakteristik, kualitas, dan
keparahan sebelum
pengobatan.
10. Berikan obat dengan prinsip
5 benar
11. Dokumentasikan respon dari
analgetik dan efek yang tidak
diinginkan
3 Defisit self care b.d
de-ngan kelelahan,
nyeri

NOC:
Perawatan diri :
(mandi, Makan Toiletting,
berpakaian)
Setelah diberi motivasi
perawatan selama .x24
jam, ps mengerti cara
memenuhi ADL secara
bertahap sesuai kemam-puan,
dengan kriteria :
1. Mengerti secara seder-
hana cara mandi,
makan, toileting, dan
berpakaian serta mau
mencoba se-cara aman
NIC:Membantu perawatan diri
klien Mandi dan toileting
Aktifitas:
1. Tempatkan alat-alat mandi di
tempat yang mudah dikenali
dan mudah dijangkau klien
2. Libatkan klien dan damping
3. Berikan bantuan selama klien
masih mampu mengerjakan
sendiri
NIC: ADL Berpakaian
Aktifitas:
1. Informasikan pada klien
dalam memilih pakaian
tanpa cemas
2. Klien mau
berpartisipasi dengan
senang hati tanpa
keluhan dalam
memenuhi ADL
selama perawatan
2. Sediakan pakaian di tempat
yang mudah dijangkau
3. Bantu berpakaian yang
sesuai
4. Jaga privcy klien
5. Berikan pakaian pribadi yg
digemari dan sesuai
NIC: ADL Makan
1. Anjurkan duduk dan berdoa
bersama teman
2. Dampingi saat makan
3. Bantu jika klien belum
mampu dan beri contoh
4. Beri rasa nyaman saat makan
4 PK: peningkatan
tekan-an intrakranial
b.d pro-ses desak
ruang akibat
penumpukan cairan /
darah di dalam otak
(Carpenito, 1999)
Batasan
karakteristik :
1. Penurunan
kesadar-an
(gelisah,
disori-entasi)
2. Perubahan
motorik dan
persepsi
sensasi
3. Perubahan
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ....x 24
jam dapat mencegah atau
meminimalkan komplikasi
dari peningkatan TIK, dengan
kriteria :
1. Kesadaran stabil
(orien-asi baik)
2. Pupil isokor, diameter
1mm
3. Reflek baik
4. Tidak mual
5. Tidak muntah
1. Pantau tanda dan gejala
peningkatan TIK
a) Kaji respon membuka
mata, respon motorik, dan
verbal, (GCS)
b) Kaji perubahan tanda-
tanda vital
c) Kaji respon pupil
d) Catat gejala dan tanda-
tanda: muntah, sakit
kepala, lethargi, gelisah,
nafas keras, gerakan tak
bertujuan, perubahan
mental
2. Tinggikan kepala 30-40
O
jika
tidak ada kontra indikasi
3. Hindarkan situasi atau
manuver sebagai berikut:
tanda vi-tal
(TD
meningkat,
nadi kuat dan
lambat)
4. Pupil
melebar, re-
flek pupil
menurun
5. Muntah
6. Klien
mengeluh
mual
7. Klien
mengeluh
pandangan
kabur dan
diplopia
a) Masase karotis
b) Fleksi dan rotasi leher
berlebihan
c) Stimulasi anal dengan jari,
menahan nafas, dan
mengejan
d) Perubahan posisi yang
cepat
e) Ajarkan klien untuk
ekspirasi selama
perubahan posisi
4. Konsul dengan dokter untuk
pemberian pe-lunak faeces,
jika perlu
5. Pertahankan lingkungan yang
tenang
6. Hindarkan pelaksanaan urutan
aktivitas yang dapat
meningkatkan TIK (misal:
batuk, penghisapan,
pengubahan posisi, meman-
dikan)
7. Batasi waktu penghisapan
pada tiap waktu hingga 10
detik
8. Hiperoksigenasi dan
hiperventilasi klien se-belum
dan sesudah penghisapan
9. Konsultasi dengan dokter
tentang pemberian lidokain
profilaktik sebelum
penghisapan
10. Pertahankan ventilasi optimal
melalui posisi yang sesuai dan
penghisapan yang teratur
11. Jika diindikasikan, lakukan
protokol atau kolaborasi
dengan dokter untuk terapi
obat yang mungkin termasuk
sebagai berikut:
a) Sedasi, barbiturat
(menurunkan laju meta-
bolisme serebral)
b) Antikonvulsan (mencegah
kejang)
c) Diuretik osmotik
(menurunkan edema
serebral)
d) Diuretik non osmotik
(mengurangi edema
serebral)
e) Steroid (menurunkan
permeabilitas kapiler,
membatasi edema serebral)
f) Pantau status hidrasi,
evaluasi cairan masuk dan
keluar)







BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil penulisan laporan kasus ini, maka penulis dapat membuat kesimpulan seperti
dibawah ini :
1. Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi substansi otak dengan
atau tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
2. Penyebab yang sering ditemukan dari CKR adalah Sebagian besar disebabkan oleh
kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh dan cedera oleh raga dan Cedera kepala
terbuka sering disebabkan akibat benda tajam dan tembakan sehingga dapat
menyebabkan fraktur tulang dan laserasi dura mater.
3. Adapun tanda dan gejala penyakit CKR atau Cidera Kepala Ringan yang di alami Nn.
G adalah : Pasien mengatakan, saya semalam pusing dan bagian telinga kanan saya
sakit bila ditekan, karena terbentur waktu jatuh dari motor, semalam saya ada muntah
1 kali dan nafsu makan saya berkurang dari biasanya, badan saya terasa lemah dan
saya malas mau beraktivitas / bergerak. Pasien tampak memegang kepalanya, Pasien
tampak meringis kesakitan, Kepala pasien tampak diverban, Pasien tampak lemah,
Pasien tampak berbaring ditempat tidur, Pasien makan menghabiskan porsi makan
yang disediakan, BB 40 Kg, Infus RL drif Ketopain 1 amp dan Cedantron 1 amp 20
tts/mnt, Observasi TTV : S : 37
0
C , : 84 x/mt , P : 20 x/mt, TD : 130 / 80 mmHg
4. Dari pengkajian yang dilakukan dari tanggal 10 April 2008, maka penulis dapat
membuat Diagnosa keperawatan :
1. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan
edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
2. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan muntah dan anorexia.
3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Selama tiga hari penulis melakukan pengkajian dan menerapkan asuhan keperawatan
maka hasil evaluasi penulis dapat menyimpulkan masalah yang dialami Nn. G adalah
Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan edema
serebral dan peningkatan tekanan intrakranial belum teratasi setelah dilakukan evaluasi
tanggal 12 April 2008, Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan muntah dan anorexia dan Intoleransi aktivitas yang berhubungan
dengan kelemahan fisik teratasi setelah dilakukan evaluasi tanggal 11 April 2008.

B. SARAN
Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah :
1. Diharapkan pada keluarga Nn. G untuk memperhatikan kesehatannya, terutama
teratur minum obat dan melakukakan tindakan-tindakan pencegahan.
2. Hal-hal yang harus dilakukan oleh Nn. G ialah jangan bekerja yang terlalu berat,
lebih banyak istrahat.























DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume II. Edisi 8.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan dan Masalah
Kolaborasi. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Hudak dan Gallo. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Volume II. Edisi 6.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Marion Johnson, dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Mosby.

Mc. Closkey dan Buleccheck. 2000. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. Mosby.

NANDA. 2005. Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Philadelphia: North
American Nursing Diagnosis Association.









ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN CKR
DI RUNAG TOPAZ RS KEN SARAS
UNGARAN




DISUSUN OLEH:
SINTA ANGGARIYANTI
(010213a007)



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
2014