Anda di halaman 1dari 18

ASPEK MANAJEMEN

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Kelayakan Bisnis

Oleh :

Aprian Ramadhani 406414304492


Galih Purwo Nugroho 406414304495
Hervi Kurnia 406414304508

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
PROGRAM STUDI D-III MANAJEMEN PEMSARAN
September 2008

1
DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL ............................................................................................... 1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Perencanaan ............................................................................................ 5
B. Pengorganisasian (Organizing) ............................................................... 10
C. Penggerakan (Actuating) ......................................................................... 14
D. Pengendalian (Controlling)..................................................................... 15
E. Mengakhiri Pembangunan Proyek Bisnis ............................................... 17
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 18

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diversifikasi usaha merupakan salah satu cara untuk mengembangkan usaha
perusahaan. Keputusan untuk melakukan diversifikasi adalah keputusan strategis perusahaan
yang didasarkan pada analisis yang cukup mendalam. Realisasi diversifikasi usaha dimulai
dan ditindaklanjuti dengan pembangunan proyek bisnis dan diimplementasikan secara rutin.
Oleh karena itu, sudah tentu diperlukan manajemen yang andal untuk melaksanakannya.
Proses manajemen proyek bisnis akan berakhir sampai pada bisnis selesai dibangun,
selanjutnya akan digantikan oleh manajemen. Implementasi bisnis yang akan bekerja secara
rutin sampai berakhirnya bisnis, baik oleh karena disesuaikan dengan jadwal lamanya proyek
bisnis maupun karena sebab lain, misalnya bankrut.
Makalah ini akan memaparkan aspek manajemen untuk pembangunan proyek bisnis
dan implementasi bisnis berdasarkan pendekatan perencanaan, pengorganisasian, actuating,
dan pengendalian. Pembahasan terakhir pada makalah ini akan memaparkan bagaiman
mengakhiri suatu proyek bisnis yang jangka waktunya diketahui.

B. Rumusan Masalah
Adapun permasalah yang dapat penulis rumuskan adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perencanaan bisnis dilakukan?


2. Bagaimana pengorganisasian yang akan digunakan?
3. Actuating apa yang akan digunakan?
4. Apa saja pengendalian manajemen yang dapat digunakan?
5. Bagaimana cara mengakhiri pembangunan proyek?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Perencanaan bisnis dilakukan.
2. Pengorganisasian yang akan digunakan.
3. Actuating yang akan digunakan.

3
4. Pengendalian manajemen yang dapat digunakan.
5. Mengakhiri pembangunan proyek.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perencanaan
Perencanaan dapat dikaji dari berbagai sisi, seperti sisi pendekatan pembuatan
perencanaan, sisi fungsi perencanaan itu sendiri, sisi jangka waktu pelaksanaan yang akan di-
cover oleh perencanaan, dan sisi tingkatan perencanaan. Setelah itu, buatlah suatu
rekomendasi, berupa hasil studi yang menyatakan bahwa ide bisnis dapat direncanakan atau
tidak. Berikut adalah penjelasannya:
1. Pendekatan dalam membuat perencanaan
Proses pembuatan rencana dapat dilakukan dengan beberapa alternatif pendekatan. Ada
empat macam pendekatan utama dalam pembuatan suatu perencanaan.
a) Pendekatan Atas-Bawah (Top-Down)
Perencanaan dengan pendekatan ini dilakukan oleh pimpinan organisasi. Unit organisasi
yang ada dibawahnya hanya melaksanakan hal-hal yang telah direncanakan.
b) Pendekatan Bawah-Atas (Bottom-Up)
Perencanaan dengan pendekatan ini dilakukan dengan cara pemimpin puncak memberikan
gambaran situasi dan kondisi yang dihadapi organisasi termasuk mengenai misi, tujuan,
sasaran, dan sumber daya yang dimiliki. Langkah selanjutnya memberikan kewenangan
kepada manajemen di tingkat bawahnya untuk menyususn perencanaan.
c) Pendekatan Campuran
Dengan pendekatan ini pemimpin memberikan petunjuk perencanaan organisasi secara
garis besar sedangakan perencanaan detailnya diserahkan kepada kreativitas unit usaha di
bawahnya dengan tetap mematuhi aturan yang ada.
d) Pendekatan Kelompok
Dengan pendekatan ini, perencanaan dibuat oleh sekelompok tenaga ahli dalam
perusahaan. Oleh karena itu di dalam perusahaan dibentuk semacam biro atau bagian
khusus seperti Biro Perencanaan. Contoh yang ada di pemerintahan adalah Bappenas
(Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional).

5
2. Fungsi perencanaan dan rencana
Rencana-rencana sangat bermanfaat bagi proses manajemen. Ada enam fungsi utama
perencanaan manajemen suatu organisasi, di antaranya adalah sebagai berikut:
a) Penerjemah kebijakan umum
Kebijakan manajemen umum perusahaan yang ditetapkan oleh manajemen puncak yang
bersifat umum dimana untuk melaksanakannya diperlukan suatu tahapan untuk
menerjemahkannya secara lebih konkret, jelas, komprehensif, dan bertahap melalui proses
perencanaan.
b) Berupa perkiraan yang bersifat ramalan
Perencanaan berhubungan dengan perkiraan-perkiraan ke masa depan bukan ke masa lalu.
Apa yang terjadi di masa depan harus diramalakan dengan analisis ilmiah serta berdasrkan
fakta dan data masa lalu dan masa sekarang.
c) Berfungsi ekonomi
Oleh karena kemampuan sumber daya yang tersedia sangat terbatas, maka penggunaan
sumber daya itu hendaknya direncakan melalui perhitungan yang matang agar dapat
digunakan sesuai dengan kebutuhan.
d) Memastikan suatu kegiatan
Agar pencapaian tujuan dapat dilaksanakan dengan baik oleh setiap orang dalam
organisasi maka perlu disusun suatu rencana yang mengatur hak dan kewajiban, tugas dan
tanggung jawab, serta wewenang mereka. Dengan adanya rencana yang jelas, mereka pun
akan bekerja dengan penuh kepastian.
e) Alat koordinasi
Agar koordinasi dapat berjalan lancar maka salah satu alat yang dapat membantu kegiatan
ini adalah rencana kerja. Dengan alat ini setiap orang mengetahui tugas dan tanggung
jawab masing-masing, bagimana suatu pekerjaan dikerjakan dan seterusnya sehingga
masing-masing kegiatan di perusahaan terjalin dalam kesatuan atau keterpaduan untuk
mencapai tujuan perusahaan.
f) Alat pengawasan
Manajer perlu melakukan pengawasan untuk mengetahui apakah suatu kegiatan telah
dilkukan hasilnya memuaskan. Untuk mengukur apakah suatu realisasi kerja telah sesuai
atau belum, maka rencana dapat dipakai sebagai tolok ukur dalam melakukan pengawasan
dan pengendalian.

6
3. Macam-macam perencanaan
Proses perencanaan untuk menghasilkan suatu rencana dapat dilihat dari beberapa sisi
penting, antara lain:
a) Sisi jangka waktu:
 Perencanaan Jangka Panjang
 Perencanaan Jangka Menengah
 Perencanaan Jangka Pendek
b) Sisi Tingkatan Manajemen:
 Perencanaan Strategis
Perencanaan ini lebih terfokus pada bagaimana manajemen puncak menentukan
visi, misi, falsafah, dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan
dalam jangka panjang.
 Perencanaan Operasional
Merupakan bagian dari strategi operasional perusahaan yang lebih mengarah pada
bidang fungsionalperusahaan. Perencanaan ini juga berfungsi untuk memperjelas
makna suatu strategi utama dengan identifikasi rincian yang sifatnya spesifikdan
berjangka pendek dan memiliki program-program kerja yang diimplementasikan
dalam bentuk kegiatan usaha sehari-hari.

4. Program kerja
Teknik-teknik yang sufah umum dipakai, terutama dalam rangka pengoptimalan suber
daya organisasi yang akan digunakan antara lain adalah:
 PERT (Program Evaluation and Review Tehnique) dan NWP (Net Work Planning)
 PKT (Pola Kerja Terpadu), yaitu teknik perencanaan yang komprehensif untuk
digunakan dalam kegiatan agar terarah dan terpadu.
 PIP (Performance Improvement Planning), yaitu teknik perencanaan yang
mengutamakan daya analisis kekuatan pendorong dan penghamabat kinerja.
 APP (Analisis Persoalan Finansial), yaitu teknik perencanaan yang berguna
terutama dalam rangka mengamankan satu program kerja agar dapat
mengantisipasi setiap persoalan yang muncul pada waktu pelaksnaannya.

7
a) Teknik Gantt Chart dan Gantt Milestone Chart
Teknik Gantt Chart pertama kali diperkenalkan oleh Henry L. Gantt. Pada dasarnya
pembuatan jadwal dilakukan dengan dua sumbu yaitu sumbu horizontal untuk
menggambarkan kurun waktu dan sumbu vertikal untuk menggambarkan jenis kegiatan dan
pelaksanaanya. Langkah-langkah penyusunan Gantt Chart secara garis besar adalah sebagai
berikut:
 Menentukan tingkat kerinciankegiatan yang akan dimasukkan pada bagan.
 Mengidentifikasi urutan logis dari kegiatankegiatan yang akan dilakukan.
 memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian masing-masing kegiatan.
 Membuat konsep penjadwalan pada bagan.
 Mendiskusikan konsep tersebut dengan orang-orang yang akan terlibat dalam
pelaksanaan masing-masing kegiatan.
 Membuat bagan akhir yang lebih realistis dan telah disepakati oleh semua orang yang
terlibat.
 Merevisi dan mengoreksi apabila diraskan perlu.
Pembuatan rencana kerja dengan cara ini memiliki keuntungan dan kerugian.
Keuntungannya adalah bahwa pembuatannya sederhana, penghitungan waktu dan
pencantumannya dalam bagan mudah, mudah dibaca, dan dapat langsung dipakai untuk
pemantauan kegiatan. Sedangkan kerugiannya adalah cara ini akan terlalu sederhana untuk
proyek yang dianggap besar , perkiraan pencapaian kegiatan sulit dilihat, kegiatannya sulit
digambarkan, indikator pada kegiatan-kegiatan kritis sulit diketahui, hubungan antar kegiatan
tidak terlihat, sulit mencek kecepatan pelaksanaannya, tidak mencerminkan distribusi beban
dan biaya kegiatan, dan sulit untuk diubah jika terjadi perkembangan baru.
b) Teknik PERT dan NwP
Teknik PERT adalah teknik perencanaan yang dikembangkan oleh konsultan Booz, Allen,
dan Hamilton pada tahun 1958. Dalam teknik PERT, pembuatannya memiliki tiga dasar
penting, yaitu: perencanaan, yang meliputi penjadwalan kerja, penganggaran dan penggunaan
tenaga kerja; pengorganisasian, dan pengendalian.
Teknik NwP merupakan pengembangan dari teknik PERT. kelebihan dari teknik NwP adalah
bahwa ia memasukkan unsur keterangan kapan suatu kegiatan dimulai dan berakhir.

8
c) Teknik PKT, PIP, dan APP
Teknik PKT adalah suatu teknik perencanaan guna menentukan strategi serta langkah-
langkah kegiatan yang terkoordinasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan melalui
analisis kekuatan-kekuatan pendorong dan penghambat kuinerja perusahaan.
Teknik PIP
Teknik ini diperkenalkan oleh Dr. Fraud Sherif dan dikembangkan oleh PBB.
Teknik APP
Adalah suatu teknik yang membantu dalam mengamankan suatu rencana atau program
yang telah disusun sedemikian rupa.

5. Anggaran
Anggaran adalah rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan
dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan untuk periode
tertentu di masa yang akan datang. Manfaat anggaran perusahaan antara lain; membuktikan
adanya perencanaan perusahaan yang terpadu, sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan
perusahaan, alat koordinasi kerja, alat pengawasan kerja, dan sebagai alat evaluasi kegiatan
perusahaan. Dalam perencanaan anggaran dikenal ada empat macam sistem, yaitu:
a) Sistem Anggaran Tradisional
Sistem anggaran ini disusun berdasrakan jenis pengeluarannya, misalnya dalam suatu
interval waktu tertentu perusahaan telah menentukan anggaran untuk pembayaran sewa
gedung, gaji, dan pembelian bahan baku. Macam-macam anggaran yang umum dengan
menggunakan sistem anggaran tradisional dalam suatu perusahaan kecil dalam bidang
manufaktur, seperti berikut ini:
 Anggaran Produksi
 Anggaran Bahan Baku
 Anggaran Tenaga Kerja
 Anggaran Biaya Overhead Pabrik (BOP)
 Anggaran variabel
 Anggaran Modal
 Anggaran Piutang
 Anggaran Kas

9
b) Sistem Anggaran Hasil Karya
Sistem anggaran ini disusun berdasarkan sasaran yang ingin dicapai. Misalnya untuk
satu tahun di tahun yang akan datang, perusahaan menetapkan produksi suatau barang X
sebanyak 100 unit dengan anggaran biaya sebesar seratus juta rupiah. Di dalam komponen
biaya ini, telah diperhitungkan biaya-biaya seperti gaji, sewa gedung, dan pembelian bahan
bakunya.
c) Sistem PPBS (Planning programming bugeting system)
Sistem anggaran ini biasanya diterapkan pada perusahaan besar dan modern, termasuk
APBN yang dikelola pemerintah. Pada dasranya penyusunan anggaran dengan sistem ini
bertolak dari rencana dan program kegiatan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing
organisasi. Sistem ini merupakan sistem terpadu dan berorientasi pada program, untuk
membantu pimpinan membuat keputusan mengenai alokasi sumber-sumber yang serba
terbatas melalui cara pemilihan alternatif berdasarkan skala prioritas dan berupaya untuk
pencapain tujuan yang telah ditentukan. Ada 3 komponen yang perlu diperhitungkan, antara
lain:
 Tujuan/sasaran yang harus dicapai.
 Kelangkaan/keterbatasan sumber daya.
 Cara/metode yang akan ditempuh.
d) Sistem ZBB (Zero Base Budgeting)]
Sistem penganggaran ini merupak pengembangan dari PPBS yang mengacu pada
pendekatan manajemen berdasarkan sasaran.

B. Pengorganisasian (Organizing)
Sama saja dengan aspek perencanaan, pengorganisasian untuk kedua kegiatan pokok,
yaitu membangun proyek maupun mengimplementasikan bisnis secara rutin, hendaknya
dikaji dari beberapa sisi, seperti: bagaiman langkah-langkah dalam pengorganisasian ,
bagaimana asas organisasi yang hendaknya dipilih, bagaimana struktur organisasiyang
dirancang, dan bagaimana prestasi organisasi yang diinginkan. Setelah dilkukan pengkajian
berdasrkan aspek-aspek ini, hendaknya diakhiri dengan suatu rekomendasi , berupa hasil
studi yang menyatakan bahwa rencana pengorganisasian dapat diterima atau tidak.
1. Langkah Pengorganisasian

10
 Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksankan organisasi agar sesuai dengan visi
dan misinya.
 Membagi beban kerja ke dalam aktivitas-aktivitas yang secara logis dan memadai
dapat dilakukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang.
 Mengkomunikasikan pekerjaan anggota organisasi dengan cara yang logis dan efisien.
 Menetapkan mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan anggota organisasi
dalam satu kesatuan yang harmonis.
 Memantau efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk
mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.
2. Asas Organisasi
Rincian asas-asas organisasi terpapar dalam sembilan faktor berikut ini:
a) Perumusan Tujuan Organisasi
Jika rumusan tujuan utama organisasi didirakan telah dibuat dengan jelas, ini akan
mempermudah:
 penetapan haluan organisasi.
 pemilihan bentuk organisasi.
 pembentukan struktur organisasi.
 kebutuhan para pejabat.
 penyumbangan pengalaman, kecakapan, daya kreasi anggota, organisasi, dll.
b) Departemenisasi
Departemenisasi merupakan aktivitas menyusun satuan-satuan organisasi yang
diperlukan dalam rangka melaksanakan fungsi yang ada.
c) Pembagian kerja
Asas ini dikaitkan dengan pejabat yang akan menempati jabatan dalam satuan/unit
organisasinya agar roda organisasi dapat berjalan dengan baik.
d) Koordinasi
Asas ini menyatakan bahwa suatu organisasi harus memiliki keselarasan aktivitas di
antara satuan/unit organisasi atau dia antara pejabatnya. Dengan keselaran ini dapat dihindari
terjadinya konflik, rebutan sumber atau fasilitas, kekembaran pekerjaan, kekosongan
pekerjaan dan merasa lepas satu sama lain.
e) Pelimpahan Wewenang

11
Pelimpahan wewenang merupakan penyerahan sebagian hak untuk mengambil
keputusan yang diperlukan agar tugas serta tanggung jawab tetap dilaksanakan dengan baik
oleh seorang pejabat ke pejabat lain.
f) Rentang Kendali
Rentang kendali merupakan jumlah terbanyak bawahan langsung yang dapat dipimpin
dengan baik oleh seorang atasan, sedangkan bawahan langsung merupakan sejumlah pejabat
yang langsung berkedudukan di bawah seorang atasan tertentu.
g) Jenjang organisasi
Jenjang organisasi merupakan tingkat-tingkat satuan organisasi yang di dalamnya
terdapat pejabat, tugas serta wewenang tertentu menurut kedudukannya serta fungsi satuan
organisasi.
h) Kesatuan Perintah
Asas ini menyatakan bahwa tiap-tiap pejabat dalam organisasi hendaknya mendapat
perintah dan bertanggung jawab kepada seorang atasan tertentu.
i) Fleksibilitas
Asas ini menyatakan bahwa struktur organisasi hendaknya mudah diubah untuk
disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa mengurangi kelancaran aktivitas
yang sedang berjalan.

3. Struktur Organisasi
Struktur organisasi dapat diartikan sebagai susunan dan hubungan antara bagian dan
posisi dalam perusahaan. Struktur organisasi menjelaskan pembagian aktivitas kerja, serta
memperhatikan hubungan fungsi dan aktivitas tersebut sampai batas-batas tertentu. Selain itu,
struktur organisasi memperlihatkan tingkat spesialisasi aktivitas tersebut. Struktur organisasi
juga menjelaskan hierarki dan susunan kewenangan, serta hubungan pelaporan (siapa
melapor siapa).

4. Faktor Penentu Struktur Organisasi


Ada beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menentukan struktur
organisasi, yaitu:
 Strategi dan struktur organisasi.
 Teknologi sebagai penentu struktur.

12
 Manusia sebagai penentu struktur.
 Ukuran dan struktur.

5. Bentuk Organisasi
Ada beberapa bentuk organisasi yang lazim kita kenal, diantaranya adalah:
a) Organisasi Garis Lurus
Bentuk organisasi ini merupakan bentuk yang paling sederhana.
Ciri-cirinya:
 Jumlah karyawan yang relatif sedikit.
 Organisasi relatif kecil.
 Karyawan saling kenal secara akrab.
 Spesialisasi kerja yang masih rendah.
b) Organisasi Fungsional
Cirinya adalah bahwa setiap atasan mempunyai wewenang untuk memberikan
perintah keada setiap bawahan yang ada sepanjang perintah itu masih ada hubungannya
dengan fungsi yang dimiliki atasan.
c) Organisasi Garis dan Staf
Jika suatu organisasi telah berkembang semakin besar, mungkin sekali akan timbul
berbagai kesulitan bagi seorang pimpinan untuk mengambil keputusan, sehingga ia merasa
perlu meminta bantuan kepada orang lain yang merasa lebih mampu. Oleh sebab itu,
dibentuklah staf penasihat yang merupakan kumpulan orang-orang yang ahli di bidang-
bidang tertentu.
d) Organisasi Gabungan
Bentuk organisasi ini pada dasarnya merupakan bentuk dari kombinasi struktur
organisasi yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga bentuk strukturnya dapat berupa
gabungan dari bentuk organisasi garis dan staf , garis dan fungsional.
e) Organisasi Matriks
Struktur organisasi matriks sring diterpakan pada organisasi yang memiliki pekerjaan-
pekerjaan relatif basar. Dalam oraganisasi mantriks, seorang bawahan mempunyai lebih dari
satu, misalnya dua orang atasan, sehingga mereka di bawah dua jalur wewenang atau dengan
kata lain mempunyai dua rantai perintah, yang satu secara vertikal dan yang lainnya secara
horizontal yang berasal dari perintah pimpinan proyek.

13
6. Prestasi Organisasi
Sejauh mana organisasi berhasil mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan
masyarakat tergantung pada keberhasilan para manajernya melaksanakan tugas. Peter
Drucker menawarkan konsep yang menyatakan bahwa prestasi manajer dapat diukur dalam
bentuk dua konsep, yaitu efisiensi dan efektivitas.

C. Penggerakan (Actuating)
1. Fungsi Penggerakan:
 Mempengaruhi seseorang supaya bersedia menjadi pengikut.
 Melakukan daya tolak pada seseorang.
 Membuat seseorang suka menegerjakan tugas dengan lebih baik.
 Mendapatkan, memelihara, dan memupuk kesetiaan pada pimpinan, tugas dan
organisasi tempat mereka bekerja.
 Menanamkan, memelihara dan memupuk rasa tanggung jawab seseorang terhadap
Tuhannya, negara, dan masyarakat.
2. Kepemimpinan
Untuk menggerakkan karyawan, hendaknya seorang penggerak memiliki jiwa
kepemimpinan. Kepemimpinan diartikan oleh Stoner sebagai suatu proses mengenai
pengarahan dan usaha untuk mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan anggota
kelompok.

Menurut Chapman, lima landasan kepemimpinan adalah sebagai berikut:


 Cara berkomunikasi.
 Pemberian motivasi.
 Kemampuan memimpin.
 Pengambilan keputusan.
 Kekuasaan yang positif.
Ciri-ciri pemimpin menurut Rodger D. Collons:
 Kelancaran berbahasa.
 Kemampuan untuk memecahkan masalah.
 Kesadaran akan kebutuhan.
 Keluwesan.

14
 Kecerdasan.
 Kesediaan menerima tanggung jawab.
 Ketrampilan sosial.
 kesadaran akan diri dan lingkungan.
Sarana yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah:
 Kewenangan formal.
 Pengetahuan dan pengalaman yang dapat ditambah.
 Ganjaran dan hukuman untuk karyawan bawahannya.
 Komunikasi dengan bawahannya.
 Perintah untuk bawahannya.

D. Pengendalian (Contorolling)
Fungsi pokok dari pengendalian adalah:
 Mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan atau kesalahn dengan melakukan
pengendalian secara rutin disertai adanya ketegasan dalam pengawasan.
 Memperbaiki berbagai penyimpangan yang terjadi.
 Mendinamisasikan organisasi.
 Mempertebal rasa tanggung jawab.
Prinsip-prinsip pengendalian:
 Pengendalian hendaknya direncanakan dengan baik agar paling tidak dapat mengukur
apakah proses pengendalian yang dilakukan berhasil atau tidak.
 Dapat merefleksikan sifat pengawasan yang unik dari bidang-bidang yang diawasi.
 Pelaporan penyimpangan dilkukan segera.
 Pengawasan harus bersifat fleksibel, dinamis, dan ekonomis.
 Dapat merefleksikan pola kerja unit organisasi.
 Dapat menjamin dapat diberlakukannya tindakan korektif.

1. Jenis Pengendalian
 Metode Pengendalian Pendahuluan: memerlukan berbagai standar kualitas dan
kuantitas yang layak dari berbagai masukan (input), seperti material, keuangan,
modal, dan sumber daya manusia. Informasi membantu manajer dalam menentukan
apakah berbagai sumber daya tersebut memenuhi berbagai standar.

15
 Metode Pengendalian Bersamaan: memerlukan standar perilaku, kegiatan, dan
pelaksanaan dari kegiatan secara layak. Sumber informasi utama bagi pengendalian
ini adalah hasil observasi penyelia. Tindakan korektif ditukan pada perbaikan kualitas
dan kuantitas sumber daya dan operasi.
 Metode Pengendalian Umpan Balik: memerlukan stnadar kuantitas dan kualitas yang
layak dari keluaran (output). Informasi tiu harus mencerminkan berbagai karakteristik
dari berbagai keluaran (outout). Namun tidak seperti pada pengendalian pendahuluan
dan pengendalian bersamaan, fokus dari tindakan korektif bukanlah pada standar
keluaran yang ditetapkan, melainkan para manajer pengambil tindakan korektif untuk
memperbaiki masukan dan operasi.

2. Sistem Pengendalian yang Efektif


Sistem pengendalian yang dapat diandalkan dan efektif mempunyai karakteristik tertentu
yang sifatnya relatif. Akan tetapi, sebagian besar dari sistem pengendalian diperkuat oleh ciri-
ciri seperti berikut ini:
 Akurat
 Tepat waktu
 Objektif dan komprehensif
 Dipusatkan pada titik pengendalian srtategis
 Ekonomis
 Realisits dari sisi organisasi
 Fleksibel
 Perspektif dan operasional
 Diterima oleh anggota organisasi

16
E. Mengakhiri Pembangunan Proyek Bisnis
Telah diketahui bahwa setelah proyek bisnis dibangun, akan dilanjutkan dengan
implementasi rutin bisnis tersebut. Hendaknya, dalam mengakhiri pembangunan proyek
banyak hal yang perlu diperhatikan agar dikemudian hari tidak timbul masalah-masalah baru.
Langkah-langkah pokok berikut direkomendasikan untuk membantu proses mengakhiri
proyek bisnis:
1. Menetapakan organisator terminasi proyek untuk mengorganisasikan penutupan
proyek dengan cara menunjuk manajer terminasi dan menunjuk tim terminasi untuk
membantu manajer.
2. Mengadakan pertemuan untuk mempersiapkan proses terminasi.
3. Menyiapkan laporan dari masing-masing personil terminasi proyek. Tutup kantor
proyek dan sistem pelaporan.
4. Mengakhiri semua dokumen finansial.
5. Akhiri semua perintah kerja, kontrak, persetujuan, dan out standing supllier.
6. Lengkapi semua dokumen denga semua pihak yang terkait, lalu setujui.
7. Tutup semua bagian proyek dan mengembalikan semua perlengkapan proyek.
8. Lakukan pos audit atas selesainya proyek.
9. Membuat pernyataan persetujuan dari klien bahwa proyek selesai dikerjakan.
10. Tutup semua bagian fisik proyek dan lakukan perumutusan hubungan kerja bagi staf
proyek yang masih tersisa.
Elemen-elemen yang dapat digunakan untuk laporan final adalah:
 Kinerja dari proyek.
 Pengorganisasian dan administrasi proyek.
 Teknik yang digunakan untuk menyelesaikan hasil proyek.
 Menentukan kekuatan dan kelemahan proyek.
 Rekomendasi dari para manajer proyek dan tim untuk kelangsungan proyek tersebut.

17
DAFTAR PUSTAKA

Umar, Hasan. 1997. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

18