Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

MIKROPIPET


Tanggal Praktikum : 22 Oktober 2012
Tanggal Pengumpulan : 29 Oktober 2012


Disusun Oleh :
Angga Adytia S (10611075)
Kelompok 10

Asisten :
Rinda Kania ( 10608050 )





PROGRAM STUDI BIOLOGI
SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2012
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Mikropipet adalah alat yang digunakan untuk mengukur dan memindahkan dalam
jumlah yang sangat kecil. Alat ini biasa digunakan di laboratorium atau klinik digunakan
dalam pengujian-pengujian biologi molekular, kimia analitik, juga kedokteran. Beberapa
mikropipet memiliki volume yang tetap , namun ada juga yang bisa diatur volumenya.
Mikropipet yang bisa ditala memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dan akurat jika
dibandingkan dengan mikropipet yang volumenya tetap. Mikropipet ditemukan dan
dipatenkan pada tahun 1960 oleh Dr. Hanns Schmitz (Marburg, Jerman). Setelah itu, mitra
penemu dari perusahaan bioteknologi Eppendorf, Dr. Heinrich Netheler, mewarisi hak
paten itu dan memulai penggunaan mikropipet secara umum dan luas di laboratorium-
laboratorium di dunia. Pada tahun 1972, mikropipet yang dapat ditala ditemukan di
Universitas WisconsinMadison oleh beberapa orang, diantaranya yaitu Warren Gilson
dan Henry Lardy. (Zinnen, 2004)
Hal yang membedakan antara pipet biasa dengan mikropipet yaitu jumlah volume
yang bisa ditampung pipet tersebut. Pipet yang bisa mengukur volume 1 sampai 1000 l
cairan disebut sebagai mikropipet, sedangkan makropipet (pipet biasa) hanya bisa
mengukur volume cairan yang memiliki volume lebih dari 1 mL. Terdapat 3 jenis
mikropipet berdasarkan volumenya, yaitu tipe P20, P200 dan P1000. Tipe P20 memiliki
volume maksimal 20 l, tipe 200 memiliki volume maksimal 200 l, sedangkan tipe
P1000 memiliki volume maksimal 1000 l.
Keahlian dalam menggunakan mikropipet sangatlah dibutuhkan di bidang keilmuan
yang kita tekuni, yaitu bidang biologi. Misalnya dalam penelitian di bidang biologi
molekuler atau genetika, kita akan sering menggunakan larutan/cairan tertentu dalam
jumlah yang sangat kecil dalam penelitian. Hal ini tentunya membutuhkan alat ukur yang
akurat dan memiliki ketepatan yang tinggi . Dalam setiap pengukuran, data yang diperoleh
akan sangat dipengaruhi oleh faktor akurasi dan presisi yang dapat memberikan kontribusi
terhadap kesalahan pengukuran. Oleh karena itu untuk menghindari kesalahan pengukuran
yang dapat menyebabkan gagal diperolehnya suatu nilai yang sebenarnya diperlukan suatu
uji kelayakan pada mikropipet. Karena itulah mikropipet harus diuji kelayakannya terlebih
dahulu sebelum digunakan.

1.2 Tujuan
Menentukan perbedaan cara penggunaan mikropipet untuk pengambilan larutan encer
dan larutan kental
Menentukan nilai akurasi dan presisi dari mikropipet
Menentukan kelayakan mikropipet berdasarkan analisis dari nilai akurasi dan presisi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mikropipet
Mikropipet adalah alat yang digunakan untuk mengukur dan memindahkan dalam
jumlah yang sangat kecil. Prinsip pengambilan larutan dengan mikropipet adalah
pergantian volume udara yang dikeluarkan oleh mikropipet dengan larutan. Terdapat 3
jenis mikropipet berdasarkan volumenya, yaitu tipe P20, P200 dan P1000. Tipe P20
memiliki volume maksimal 20 l, tipe 200 memiliki volume maksimal 200 l, sedangkan
tipe P1000 memiliki volume maksimal 1000 l.
Tabel 1. Variasi mikropipet berdasarkan volumenya
Ukuran mikropipet Kisaran volume yang diukur
P20 0.5-20l
P200 20-200l
P1000 100-1000l





Gambar 1 mikropipet dan macam-macam tips (Zinnen, 2012)

2.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan mikropipet
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan mikropipet (Cantle, 1982) :
1) Jangan menggunakan mikropipet untuk memipet larutan dengan volume yang diluar
volume yang tercantum pada mikropipet. Hal ini bisa menyebabkan ketidakakuratan
pengukuran serta bisa merusak mikropipet.
2) Ada tiga macam tips yang digunakan pada mikropipet. Tips berwarna putih untuk
mikropipet dengan volume maksimal 20 l, tips berwarna kuning untuk mikropipet
dengan volume maksimal 100 l atau 200 l, dan tips berwarna biru untuk
mikropipet dengan volume maksimal 1000 l.
3) Jangan menjatuhkan mikropipet. Selalu berhati-hatilah dalam menggunakan
mikropipet karena harganya mahal.
4) Pipet dijaga agar selalu dalam posisi tegak. Mikropipet disimpan di rak yang
dipasang pada bangku jika tidak digunakan. jangan pernah meletakkan pipet dalam
keadaan tergeletak
5) Saat mengambil tips, jangan menekan terlalu keras dan berulang-ulang. Juga jangan
terlalu lemah, karena tips bisa jatuh.
6) Ketika menekan tombol pipet, jangan menekan melebihi penghentian normalnya,
karena akan menyebabkan larutan yang diambil berlebihan.
7) Ketika mengambil larutan, jangan melepas tombol penekan secara tiba-tiba. Hal ini
akan menyebabkan larutan masuk ke dalam pipet, dan ketidakakuratan ukuran.
Lepaslah tombol penekan secara perlahan dan terkontrol.
8) Ketika mengambil larutan, jangan angkat pipet sebelum seluruh larutan masuk ke
dalam tips. Jika mengambil larutan yang banyak, pastikan ujung tips masih terendam
dalam larutan.
9) Jangan menggunakan pipet tanpa tips di ujungnya. Larutan tidak boleh masuk ke
dalam pipet, karena bisa menyebabkan kontaminasi.
10) Selama ada larutan dalam tips di ujung pipet, jangan taruh pipet seenaknya. Karena
larutan bisa masuk ke dalam pipet dan menyebabkan kontaminasi
11) Jangan pernah memutar tombol pengatur volume dengan paksa. Jika tombol
pengatur sulit untuk ditala mungkin kita mengatur volume melebihi batas maksimum
pipet atau pipet tersebut rusak. Segera laporkan masalah itu kepada instruktur.
12) Setiap kali pengambilan, tips harus diganti dengan yang baru untuk menghindari
kontaminasi, kecuali jika sampel yang digunakan jenisnya sama, volume yang
diambil sama dan bukan larutan yang mengandung organisme. Namun perlu
diperhatikan bahwa penggunaan tips yang telah digunakan dan dicuci berulang-ulang
akan mengurangi ketepatan pengambilan sampel.
Hal yang perlu diperhatikan juga yaitu adanya kontaminasi pada saat penggunaan
mikropipet. Berikut adalah beberapa jenis kontaminasi beserta cara pencegahannya
(Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, 2012) :
1) Kontaminasi Pipet-ke-Sampel. Penyebab: Menggunakan tip atau pipet yang sudah
terkontaminasi. Pencegahan: Bersihkan dan sterilkan bagian pipet yang kontak
dengan sampel. Gunakan tips steril, dan ganti tip setiap berganti sampel.
2) Kontaminasi Sampel-ke-Pipet. Penyebab: Sampel atau aerosol dari sampel kontak
dan memasuki bagian pipet. Pencegahan: Jangan terlalu memiringkan pipet,
simpan selalu pipet secara vertikal, sedot cairan dengan perlahan dan gunakan
filter tip atau gunakan pipet positive-displacement.
3) Kontaminasi Sampel-ke-Sampel (sample carryover). Penyebab: Menggunakan tip
bekas untuk sampel yang berbeda. Pencegahan: Ganti tip setiap berganti sampel.

2.3 Akurasi dan presisi
Hasil pengukuran yang baik dari suatu parameter kuantitas, dapat dilihat berdasarkan
tingkat presisi dan akurasi yang dihasilkan. Akurasi menunjukkan kedekatan nilai hasil
pengukuran dengan nilai sebenarnya. Untuk menentukan tingkat akurasi perlu diketahui
nilai sebenarnya dari parameter yang diukur dan kemudian dapat diketahui seberapa besar
tingkat akurasinya. Akurat yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan ketepatan
antara nilai hasil pengukuran dengan nilai yang diharapkan.
Presisi menunjukkan tingkat reliabilitas dari data yang diperoleh. Hal ini dapat
dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran, presisi yang baik akan
memberikan standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah. Presisi yang baik juga
ditunjukkan jika kesalahan acak pengukuran selalu sama di setiap kali pengukuran. Jika
diinginkan hasil pengukuran yang valid, maka perlu dilakukan pengulangan sebanyak n-
kali. Dari data tersebut dapat diperoleh ukuran harga nilai terukur yang merupakan rata-
rata dari hasil yang diperoleh dan standar deviasi. Akurasi relatif secara umum berkisar
1%. Presisi kurang dari 0,5 % diterima ketika melakukan transfer volume terkecil dari
model pipet.



2.4 Rumusan perhitungan akurasi dan presisi
Rumus yang digunakan dalam menghitung nilai akurasi mikropipet adalah sebagai
berikut :



Keterangan : E% = Persentase error

= Volume standar sesuai spesifikasi alat


= Volume rata-rata sesuai hasil pengukuran.


E% akan semakin kecil nilainya jika akurasinya makin tinggi

Rumus yang digunakan dalam menghitung nilai presisi mikropipet adalah sebagai
berikut :

(


Keterangan : SD = Standar deviasi
RSD = Relative standard deviation

= Volume rata-rata sesuai hasil pengukuran.


RSD semakin kecil dengan makin presisinya mikropipet yang dianalisis.





BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

Tabel 2 Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan
Alat Bahan
Timbangan analitik Akuades (berat jenis 1,0)
Mikropipet Gliserol (berat jenis 1,261)
Beker glass Tabung Eppendorf
Tips

3.2 Cara Kerja
Mikropipet diatur volumenya sehingga mencapat volume maksimal. Tips diisi
dengan akuades kemudian mikropipet didiamkan dalam posisi tegak selama 20 menit. Jika
ada air yang menetes berarti ada kebocoran. Jika tidak terjadi kebocoran, maka mikropipet
siap untuk digunakan.
Miropipet diatur volumenya sesuai dengan volume cairan yang akan diambil (20 l,
500 l, atau500 l). Tabung eppendorf ditimbang dan dicatat beratnya. Akuades atau gliserol
dimasukkan ke dalam tabung eppendorf menggunakan mikropipet. Setelah itu tabung
ditimbang kembali untuk mengetahui berat cairan yang diambil. Untuk menentukan volume
cairan yang diambil, maka faktor konversi Z digunakan dalam perhitungan. Penimbangan
berat cairan dilakukan beberapa kali dan berat rata-rata cairang dihitung. Kemudian
perbandingan rata-rata berat cairan hasil penimbangan dengan berat cairan yang diharapkan
dihitung. Selain itu persen penyimpangan berat cairan hasil penimbangan dengan hasil yang
diharapkan juga dihitung.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Berikut adalah hasil perhitungan data yang diperoleh dari percobaan :

Larutan Berat tabung
awal (gr)
Berat tabung akhir (gr) Berat larutan (gr)
Akuades 1 1,0164 1,417 0,0953
Akuades 2 1,0132 1,1123 0,0991
Akuades 3 1.0131 1,112 0,0991
Gliserol 1 1,0113 1,1576 0,1463
Gliserol 2 1,0068 1,1742 0,1674
Gliserol 3 1,0195 1,1827 0,1632

Larutan Berat
larutan (gr)
Massa jenis
(gr/ml)
(berat larutan/massa jenis) = Volume
larutan ()
Akuades 1 0,0953
1
95,3
Akuades 2 0,0991 99,1
Akuades 3 0,0991 99,1
Gliserol 1 0,1463
1,261
116
Gliserol 2 0,1674 132,7
Gliserol 3 0,1632 129,4


()


()



Akurasi gliserol = 100% - = 73,97%
Akurasi akuades = 100% - 2,17% = 97,83%

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai akurasi penghitungan volume gliserol
dan akuades masing-masing sebesar 73,97% dan 97,83%

Penghitungan nilai presisi mikropipet :

( )


( )


( )



= 8,843
RSD
gliserol
=

( )


( )


( )


= 2,193
RSD
akuades
=




Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai RSD dari penghitungan volume gliserol dan
akuades masing-masing sebesar dan .


Wild-type
White sepia Claret
BAB V
PEMBAHASAN


Mikropipet yang kami gunakan adalah mikropipet Eppendorf model seri 3120000062.
Menurut literatur, mikropipet yang kami gunakan memiliki akurasi (galat rata-rata) sebesar
3,0% atau sekitar 3,0 L dan nilai presisi sebesar 0,6 % atau sekitar 0,6 L untuk setiap
pengambilan volume larutan sebanyak 100 L (Eppendorf, 2010). Nilai akurasi dan presisi
dari mikropipet yang kami gunakan ditunjukkan oleh tabel berikut :

Tabel 3 Akurasi dan presisi yang diharapkan dari mikropipet yang digunakan dalam percobaan
Sumber : (Eppendorf, 2010)
Kisaran
Volume
Volume Akurasi Presisi No. seri
100-1000
L
100 L 3,0 L% 3,0 L 0,6 % 0,6 L 3120.000.062

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai akurasi penghitungan volume gliserol
dan akuades masing-masing sebesar 73,97% dan 97,83% dengan galat (E%) yaitu
dan 2,17 %. Nilai akurasi mikropipet dari pengambilan akuades yaitu sebesar 2,17%. Nilai
ini masih ada di bawah nilai maksimum galat yang sebesar 3,0%, sehingga bisa
disimpulkan bahwa mikropipet yang kami gunakan layak untuk digunakan. Namun nilai galat
pada pengambilan gliserol terlalu jauh di atas nilai galat maksimum, yaitu sebesar 26,03 %.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai RSD dari penghitungan volume gliserol
dan akuades masing-masing sebesar dan . Sedangkan nilai presisi menurut
literatur adalah 0,6 %. Nilai presisi dari hasil pengambilan gliserol berada sedikit di atas
nilai presisi menurut literatur, sedangkan nilai presisi dari hasil pengambilan akuades berada
di bawah nilai maksimum galat presisi mikropipet tersebut.
Nilai akurasi dan presisi yang tidak sesuai dengan literatur pada pengambilan gliserol
bisa disebabkan karena kesalahan teknis. Hal ini disebabkan karena praktikan masih belum
menguasai teknik yang tepat dalam pengambilan larutan kental menggunakan mikropipet
sehingga jumlah volume gliserol yang diambil tidak sesuai dengan jumlah volume yang
diharapkan. Selain itu pada saat pengambilan gliserol, tips yang digunakan sempat jatuh
sehingga kemungkinan ada sedikit cairan yang keluar dari tips. Lepasnya tips saat digunakan
bisa disebabkan karena pemasangan tips tidak cukup kuat. Ketidakakuratan ini menyebabkan
nilai akurasi dan presisi mikropipet cukup rendah karena data yang diperoleh sangat
mempengaruhi dalam perhitungan nilai akurasi dan presisi mikropipet tersebut.
Mikropipet yang kami gunakan layak untuk digunakan karena berdasarkan hasil uji
presisi dan akurasi, nilai galatnya berada di bawah nilai galat maksimum berdasarkan
literatur. Nilai presisi dan akurasi pada pengambilan gliserol tidak sesuai literatur disebabkan
karena kesalahan teknis, bukan karena kesalahan/kerusakan mikropipet. Hal ini terbukti pada
pengujian pengambilan akuades, nilainya sesuai dengan literatur.
Sebelum mikropipet kami pakai untuk mengambil larutan, kami melakukan uj
kebocoran mikropipet terlebih dahulu. Setelah dilakukan uji kebocoran ternyata diperoleh
hasil bahwa mikropipet yang digunakan tidak mengalami kebocoran, hal tersebut ditandai
dengan tidak terdapatnya tetesan larutan pada ujung mikropipet setelah didiamkan selama
beberapa saat. Penggunaan mikropipet harus selalu tegak (dalam posisi vertikal) untuk
mencegah ketidakakuratan dalam pengambilan dan pengeluaran larutan dari dalam mikropipet
sehingga dapat mengurangi dampak terjadinya error dalam perhitungan. Selain itu posisi
mikropipet yang tegak bertujuan untuk mencegah larutan masuk dari tips ke dalam pipet.
Jika larutan masuk ke dalam mikropipet, maka mikropipet bisa terkontaminasi dan rusak.
Selain itu untuk setiap pengambilan larutan, kita harus selalu menggunakan tips yang baru.
Hal ini penting karena jika hal tersebut tidak dilakukan akan menyebabkan kontaminasi
larutan sebelumnya terhadap larutan yang baru, terutama jika larutan yang kita amati adalah
larutan dengan mikroorganisme tertentu yang rawan akan masuknya kontaminan. Masuknya
kontaminan ke dalam larutan yang kita amati tentunya akan berpengaruh negatif pada
pengamatan.
Terdapat beberapa perbedaan dalam pengambilan larutan kental dan larutan encer
menggunakan mikropipet. Pada pengambilan larutan kental, tombol pada ujung mikropipet
ditekan sampai stop 2, sedangkan pada pada pengambilan larutan encer, tombol pada ujung
mikropipet ditekan sampai stop 1. Pada larutan encer, tombol mikropipet hanya ditekan
sampai stop 1 untuk menghindari terambilnya jumlah larutan yang terlalu berlebih.


BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, kami dapat menyimpulkan
bahwa mikropipet yang digunakan saat praktikum adalah layak untuk digunakan.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai akurasi penghitungan volume
gliserol dan akuades masing-masing sebesar 73,97% dan 97,83% sedangkan nilai
RSD dari penghitungan volume gliserol dan akuades masing-masing sebesar
dan .
Pada pengambilan larutan kental, tombol pada ujung mikropipet ditekan sampai
stop 2, sedangkan pada pada pengambilan larutan encer, tombol pada ujung
mikropipet ditekan sampai stop 1.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya. Sekilas Tentang Mikropipet
http://www.karantinapertaniansby.com/index_berita.php?hal=detil_artikel&id=7
(akses pada tanggal 28 Oktober 2012)
Cantle, John. 1982. Atomic Absorption Spectrometry, Vol. 5. Amsterdam: Elsevier science
publishing company Inc.
Eppendorf, 2011 . Raise the limit : Eppendorf Research
Plushttp://www.novolab.be/acms/acmsdata/document/3/121_Eppendorf_research_pl
us.pdf diakses pada tanggal 27 Oktober 2012
http://www.di.uq.edu.au/sparqmicropipette diakses 26 Oktober 2012
Zinnen,Tom. 2004 .The micropipette story.
http://www.biotech.wisc.edu/outreach/pipettestory.html , Diakses 27 oktober 2012