Anda di halaman 1dari 30

LBM 5 SKN

Step 1
Hiperkes : kepanjangannya higiene perusahaan dan kesehatan kerja.
Hygiene perusahaan : Upaya pemeliharaan lingkungan kerja baik secara fisik, kimia, maupun
radiasi dari lingkungan perusahaan.
Ergonomi K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) : kegiatan yang dilakukan untuk mencegah
semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan kerja.
Kesehatan kerja : upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara, serta tindakan
lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja.

Step 2
1. Apa latar belakang, definisi , dan tujuan dari HIPERKES?
a. Latar Belakang HIPERKES
Dengan berkembang pesatnya industri di Indonesia ditambah dengan era globalisasi
membawa berbagai risiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja dan
keluarganya
Kesehatan lingkungan kerja adalah ilmu dan seni yang ditunjukkan untuk mengenal
mengevaluasi dalam mengendalikan semua faktor-faktor dan stress lingkungan
ditempat kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, kesejahteran,
kenyamanan dan efisiensi dikalangan pekerjaan dan masyarakat

b. Definisi
pengertian dan batasan
Hygiene perusahaan merupakan spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta prakteknya
yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif
dan kuantitatif dalarn lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang
hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan
tersebut,serta bila perlu pencegahan, agar pekerja dan masyarakat sekitar
perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta dimungkinkan mengecap
kesehatan setinggi-tingginya.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

c. Sifat
Sasarannya adalah lingkungan kerja yaitu sebagai upaya pencegahan timbulnya
penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan akibat produksi perusahaan.
Bersifat teknik
Notoatmodjo, S, Prof. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar.Jakarta :
Rineka Cipta
d. Hakikat
Pertama sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tinginya baik fisik,
mental, sosial, bagi tenaga kerja(buruh/karyawan, petani, nelayan, pegawai negeri,
pekerja sektor non-formal, dsb)
Kedua untuk meningkatkan produksi dengan berlandaskan pada meningkatnya
efisiensi dan produktivitas.
(Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo)

e. Tujuan
o Tujuan :
Agar masyarakat pekerja (karyawan perusahaan, pegawai negeri, petani, nelayan,
pekerja2 bebas dsb) dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik
fisik, mental dan sosialnya.
Agar masyarakat sekitar perusahaan terlindung dari bahaya2 pengotoran oleh
bahan2 yang berasal dari perusahaan.
Agar hasil produksi perusahaan tidak membahayakan kesehatan masyarakat
konsumennya.
Agar efisiensi kerja dan daya produktivitas para karyawan meningkat dan dengan
demikian akan meningkatkan pula produksi perusahaan.
Entjang, Indan, Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2000

2. Apa saja program-program pada hygienitas perusahaan dan kesehatan perusahaan
(HIPERKES)?
1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit2 dan kecelakaan2 akibat kerja.
2. Pemeliharan dan peningkatan kesehatan kerja.
3. Pemeliharaan dan peningkatan efisiensi dan daya produktivitas tenaga manusia.
4. Pemberantasan kelelahan kerja dan peningkatan kegairahan kerja.
5. Pemeliharaan dan peningkatan higiene dan sanitasi perusahaan pada umumnya
seperti kebersihan ruangan2, cara pembuangan sampah/ sisa2 pengolahan dsb.
6. Perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari
pengotoran oleh bahan2 dari perusahaan yang bersangkutan.
7. Perlindungan masyarakat luas (konsumen) dari bahaya2 yang mungkin ditimbulkan
oleh hasil2 produksi perusahaan.
Entjang, Indan, Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2000

3. Macam-macam lingkungan kerja?

4. Definisi ergonomi, tujuan, dan aplikasi dari ergonomi?
a. Definisi ERGONOMI
Ergonomi berasal dari bahasa yunani, ergon artinya kerja dan nomos artinya peraturan atau
hukum. Secara harviah ergonomi adalah hukum atau peraturan yang mengatur tentang
bagaiamana melakukan pekerjaan termasuk dalam menggunakan peralatan kerja.
Ergonomi adalah ilmu yang mengatur tentang penyesuaian antara peralatan atau
perlengkapan dalam bekerja dengan kondisi atau kemampaun manusia, sehingga mencapai
kesehatan tenaga kerja dan produktivitas yang optimal.


b. Tujuan ERGONOMI
Tujuan utama Ergonomi
Memaksimalkan efisiensi karyawan.
Memperbaiki kesehatan dan keselamatan kerja.
Menganjurkan agar bekerja aman, nyaman, dan bersemangat.
Memaksimalkan bentuk (performance) kerja yang meyakinkan.
(ERGONOMI MANUSIA, PERALATAN DAN LINGKUNGAN, Dr. Gempur Santoso, Drs., M.Kes)
Bagaimana mengatur kerja agar tenaga kerja dapat melakukan pekerjaannya dengan rasa
aman, selamat, efisien , efektif dan produktif , disamping juga rasa nyaman serta terhindar
dari bahaya yang mungkin timbul ditempat kerja.
Bunga Rampai, hiperkes & kk, edisi kedua (revisi), undip, th 2005
c. Metode ERGONOMI

Metode - metode
1. Diagnosis dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian
fisik pekerjaan, uji pencahayaan, checklist dan penngukuran lingkungan kerja lainnya.
Variasinya akan sangat luas dari yang sederhana sampai kompleks.
2. Treatment, pemecahan masalah, tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat
sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai.
Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja atau pengobatan fisik daan psikiatrik.
Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau objektif setelah treatmen, subjektif misalnya
dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan,
sa\kit kepala dan lain-lain. Secara objektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak,
absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

d. Prinsip dan penerapan ergonomic
Prinsip ergonomi dalam perancangan tempat kerja agar efisien
a. Sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran,
dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat petunjuk,cara-cara harus melayani
mesin (macam gerak, arah, kekuatan,dsb.)
b. Untuk normalisasi ukuran mesin atau peralatan kerja harus diambil ukuran terbesar sebagai
dasar, serta diatur denagn cara tertentu, shg ukuran tersebut dapat dikecilkan atau
dibesarkan/ dilebarkan. Misalnya: tempat duduk yang dapat dinaikturunkan dan dimajukan /
diundurkan.
c. Ukuran-ukuran antropometri yang dapat dijadikan dasar untuk penempatan alat-alat kerja al :
a. Berdiri : tinggi badan ,tinggi bahu, tinggi saku, tinggi pinggul,panjang lengan.
b. Duduk : tinggi duduk, panjang lengan atas , panjang lengan bawah, jarak lekuk lutut.
d. Pada pekerjaan tangan yang dilakukan dengan berdiri , tinggi kerja sebaiknya 5-10 cm
dibawah tinggi siku.
e. Dari segi otot , sikap duduk ayng paling baikadalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari
sudut tulang dianjurkan duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak
lemas.
f. Tempat duduk yang baik :
i. Tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan kaki yang sesuai dengan tinggi lutut,
sedangkan paha dalam keadaan datar.
ii. Lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm
iii. Papan tolak punggung tingginya dapat diatur dan menekan pada punggung.
g. Arah pengliahtan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37 derajat kebawah, sedangkan untuk
pekerjaan duduk arag penglihatan antara 32-44 derajat kebawah.Arah penglihatan ini sesuai
dengan sikap kepala istirahat.
h. Kemampuan beban fisik maksimal oleh ILO ditentukan sebesar 50 kg.
i. Kemampuan seseorang bekerja adalah 8-10 jam per hari. Lebih dari itu efisiensi dan kualitas
kerja menurun.
(IKM, Soekidjo Notoatmodjo)


Hal mendasar dalam ergonomi
Hal mendasar dalam ergonomi adalah mengupayakan agar sikap badan selalu dalam posisi atau
mudah kembali dalam posisi netral. Yang dimaksud posisi netral adalah posisi dimana otot dalam
posisi yang cenderung relax.
Sikap netral dasar:
Kepala tegak dan menghadap ke depan.
Punggung dalam posisi tegak
Lengan atas terjuntai dengan siku mendekat samping badan dengan nyaman.
Lengan bawah paralel dengan lantai
Tangan membentuk satu garis lurus dengan lengan bawah
Kaki terbuka selebar bahu bila bekerja sambil berdiri
Paha sejajar lantai, lutut membentuk 90 derajat dan kaki menapak lantai bila bekerja sambil
duduk.

Bekerja sambil berdiri:
Bekerja sambil berdiri dalam waktu beberapa jam, walaupun dalam poisisi yang baik tetap
akan menimbulkan kelelahan lebih cepat daripada duduk. Pada lantai yang keras, berjalan
sama dengan memukul palu di telapak kaki di setiap langkah. Beberapa hal yang dapat
mengurangi kelelahan dan menjaga agar pekerja dalam kondisi yang baik pada saat bekerja
sambil berdiri dalam waktu yang lama:
Pemakaian sepatu yang baik: Sepatu yang baik adalah sepatu yang pas dengan gesekan
minimal dan sol yang baik.
Menggunakan anti fatigue mat: Anti fatigue mat bisa karpet, karet, kayu atau bentuk lain yang
dapat memberikan sedikit elastisitas pada lantai. Perlu diperhatikan bahwa pemasangan anti
fatique mat dapat menimbulkan bahaya baru seperti tersandung bila tidak dipasang dengan
baik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anti fatique mat berbeda dengan anti slip mat.
Anti slip mat membuat sepatu selalu berhati dengan tiba tiba saat melangkah dan
menyebabkan gesekan lebih besar antara kaki dan sepatu yang dapat menimbulkan masalah
baru.
Perancangan kerja yang memungkinkan pekerja dapat merubah posisi berdirinya dengan
bebas.

Bekerja dengan komputer:
Bekerja dengan komputer harus dirancang sesuai dengan 7 sikap netral dasar diatas:
Tinggi keyboard dan kursi, dan lengan kursi diatur agar siku dapat membentuk kurang lebih
90 derajat dengan lengan pekerja didukung oleh lengan kursi.
Paha sejajar dengan lantai.
Telapak kaki menyentui lantai dengan nyaman. Bila diperlukan, footrest disediakan sulit untuk
mengatur ketinggian meja.
Sandaran kursi harus memungkinkan agar badan dalam posisi yang tegak.
Tinggi monitor diatur agar kepala tetap tegak.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam bekerja dengan komputer:
Jarak monitor dengan mata kurang lebih sama dengan jarak jangkauan tangan.
Tidak ada lampu yang langsung mengarah mata atau terpantul ke mata lewat layar monitor.


Ergonomi dalam sistem manajemen keselamatan kerja:
Dalam standar OHSAS-18001, salah satu persyaratan adalah organisasi harus mengidentifikasi
bahaya, menilai resiko dari bahaya dan menerapkan kontrol yang diperlukan. Secara umum, bahaya
terkait dengan ergonomi adalah sikap kerja. Akibat yang mungkin muncul adalah gangguan
muscoskeletal (musculoskeletal disorders MSDs) yang mencakup gangguan pada otot, sendi,
tendon, ligamen dan saraf). Besarnya resiko bahaya tentu harus memperhatikan berapa sering
pekerjaan dilakukan dan tingkat keparahan dari muscoloskeletal disorders.
Cara Angkat-Angkut yang baik :

Set Up Your Workstation:


5. Ruang lingkup ergonomi?
Ergonomi fisik; berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri, karakteristik
fisiologi dan biomekanika yang berhubungan dengan aktivitas fisik
Ergonomi kognitif berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk didalamnya persepsi,
ingatan, dan reaksi sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap pemakaian elemen sistem
Ergonomi orrganisasi ; berkaitan dengan optimasi sistem sosioteknik, termasuk struktur
organisasi, kebijakan, dan proses
Ergonomi lingkungan; berkaitan dengan pencahahayaan, temperatur , kebisingan, dan
getaran.
Buku skill
6. Apa saja penyebab PAK (penyakit akibat kerja)?
Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di Tempat Kerja Kesehatan
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang
kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab
akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja sangat
berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh
antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya
akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO).
Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja, Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang
lingkupnya. Menurut Komite Ahli WHO (1973), Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah penyakit
dengan penyebab multifaktorial, dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan
kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat, mempercepat terjadinya serta
menyebabkan kekambuhan penyakit.
Penyakit akibat kerja di Tempat Kerja Kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman
patogen yang berasal umumnya dari pasien); faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus
menerus seperti antiseptik pada kulit, zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati; faktor
ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat pasien salah); faktor fisik dalam dosis kecil yang terus
menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi, radiasi dll.); faktor psikologis (ketegangan di kamar
penerimaan pasien, gawat darurat, karantina dll.)

HSE Gathering 14
Definisi-definisi
Penyakit yang berhubungan dengan
pekerjaan Work Related Disease:
Penyakit yang mempunyai beberapa agen
penyebab, dimana faktor pada pekerjaan
memegang peranan bersama dengan faktor
risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit
yang mempunyai etiologi yang kompleks

HSE Gathering 15
Definisi-definisi
Penyakit yang mengenai populasi
pekerja Diseases affecting working
populations
Penyakit yang terjadi pada populasi pekerja
tanpa adanya agen penyebab ditempat kerja,
namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan
yang buruk bagi kesehatan

HSE Gathering 16
Definisi-definisi
Keppres RI no 22/1993
Penyakit yang timbul karena hubungan
kerja :
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja
adalah penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja

HSE Gathering 18
Definisi-definisi
ILO (1983):
Pengertian Occupational Disease & Work
Related Disease masih dipisah
Gagasan WHO & ILO (1987)- adopsi
(1989):
Work related disease dapat digunakan
untuk peny. Akibat kerja yg sudah diakui &
gangg. Kesehatan dimana lingkungan kerja
dan proses kerja merupakan salah satu
faktor penyebab yang bermakna


o Faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja dan penyakit yang ditimbulkan
a. Pneumokoniosis yang disebabkan debu mineral.
b. Penyakit paru dan saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu logam keras.
c. Penyakit paru dan saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep, dan
sisal.
d. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitasi dan zat perangsang yang
dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
e. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu
organik.
f. Penyakit yang disebabkan oleh berilium.
g. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium.
h. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor.
i. Penyakit yang disebabkan oleh krom.
j. Penyakit yang disebabkan oleh mangan.
k. Penyakit yang disebabkan oleh arsen.
l. Penyakit yang disebabkan oleh raksa.
m. Penyakit yang disebabkan oleh timbal.
n. Penyakit yang disebabkan oleh fluor.
o. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.
p. Penyakit yang disebabkan oleh deriva halogen.
q. Penyakit yang disebabkan oleh benzena.
r. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena.
s. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin.
t. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol / keton.
u. Penyakit yang disebabkan oleh gas / uap penyebab asfiksia.
v. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.
w. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik.
x. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan tinggi.
y. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan mengion.
z. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi / biologik.
aa. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak mineral,
antrasena.
bb. Kanker paru yang disebabkan oleh asbes.
cc. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri / parasit yang didapat dalam suatu
pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus.
dd. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi / rendah / panas radiasi / kelembaban udara
tinggi.
ee. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan obat.
(UNDIP, HIPERKES & KK, 2005)

7. Apa saja macam-macam PAK (penyakit akibat kerja)?
o Faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja dan penyakit yang ditimbulkan
a. Pneumokoniosis yang disebabkan debu mineral.
b. Penyakit paru dan saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu logam keras.
c. Penyakit paru dan saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu kapas, vlas,
henep, dan sisal.
d. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitasi dan zat perangsang yang
dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
e. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan
debu organik.
f. Penyakit yang disebabkan oleh berilium.
g. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium.
h. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor.
i. Penyakit yang disebabkan oleh krom.
j. Penyakit yang disebabkan oleh mangan.
k. Penyakit yang disebabkan oleh arsen.
l. Penyakit yang disebabkan oleh raksa.
m. Penyakit yang disebabkan oleh timbal.
n. Penyakit yang disebabkan oleh fluor.
o. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.
p. Penyakit yang disebabkan oleh deriva halogen.
q. Penyakit yang disebabkan oleh benzena.
r. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena.
s. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin.
t. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol / keton.
u. Penyakit yang disebabkan oleh gas / uap penyebab asfiksia.
v. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.
w. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik.
x. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan tinggi.
y. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan mengion.
z. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi / biologik.
aa. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak
mineral, antrasena.
bb. Kanker paru yang disebabkan oleh asbes.
cc. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri / parasit yang didapat dalam
suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus.
dd. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi / rendah / panas radiasi / kelembaban
udara tinggi.
ee. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan obat.
(UNDIP, HIPERKES & KK, 2005)
8. Apa saja pencegahan PAK (penyakit akibat kerja)?
Pencegahan primerhelath promotion
1. perilaku kesehatan
2. faktorbahaya ditempat kerja
3. perilaku kerja yang baik
4. olah raga
5. gizi seimbang
Pencegahan sekunder specifict protection
1. pengendalian melalui perundang undangan
2. pengendalian adsministrative/organisasi; rotasi pembatasan jam kerja
3 pengendalian teknis ; substitusi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri (APD)
4. pengendalian jalur kesehatan; imunisasi
Pencegahan tersier --- early diagnosis and prompt treatment
1. pemeriksaan kesehatan pra kerja
2 . pemeriksaan kesehatan berkala
3 . surveilans
4. pemeriksaan lingkungan secara berkala
5. pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja
6. pengendalian segera di tempat kerja
Bk pengantar PAK


9. Apa definisi dan klasifikasi kecelakaan kerja?
e. Batasan
f. Faktor penyebab
o Penyebab kecelakaan kerja
A. Penyebab langsung
adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi
dalam 2 kelompok :
a) Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu tingkah laku, tindak tanduk atau
perbuatan yang akan menyebabkan kecelakaan dalam konsep MSM (modern
safety management) diganti substandard acts / substandard practices.
b) Kondisi-kondisi yang tidak aman (unsafe conditions) yaitu keadaan yang akan
menyebabkan kecelakaan dalam konsep MSM (modern safety management)
diganti substandard conditions.
Contoh-contoh dari substandard acts / substandard practices :
Mengoperasikan alat / peralatan tanpa wewenang.
Gagal untuk memberi peringatan.
Gagal untuk mengamankan.
Bekerja dengan kecepatan yang salah.
Menyebabkan alat-alat keselamatan tidak berfungsi.
Memindahkan alat-alat keselamatan.
Menggunakan alat yang rusak.
Menggunakan alat dengan cara yang salah.
Kegagalan memakai alat pelindung / keselamatan diri secara benar.
Membongkar secara salah.
Menempatkan / menyusun secara salah.
Mengangkat secara salah.
Mengambil posisi yang salah.
Memperbaiki alat/ peralatan yang sedang jalan / hidup / bergerak.
Bersenda-gurau di tempat kerja.
Mabuk karena minuman beralkohol dan atau minuman / obat keras lainnya.
Contoh-contoh dari substandard conditions :
Peralatan pengaman / pelindung / rintangan yang tidak memadai atau tidak
memenuhi syarat.
Bahan, alat-alat / peralatan rusak.
Terlalu sesak / sempit.
Sistem-sistem tanda peringatan yang kurang memadai.
Bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan.
Kerapihan / tata letak (housekeeping) yang jelek.
Lingkungan berbahaya / beracun : gas, debu, asap, uap, dan lain-lainnya.
Bising.
Paparan radiasi.
Ventilasi dan penerangan yang kurang
B. Penyebab dasar
Terdiri dari 2 faktor yaitu faktor manusia / pribadi (personal factor) dan faktor kerja /
lingkungan kerja (job / work environment factor).
i. Faktor manusia / pribadi antara lain karena :
Kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi.
Kurangnya / lemahnya pengetahuan dan keterampilan / keahlian.
Stres.
Motivasi yang tidak cukup / salah.
ii. Faktor kerja / lingkungan antara lain karena :
Tidak cukup kepemimpinan dan atau pengawasan.
Tidak cukup rekayasa (engineering).
Tidak cukup pembelian / pengadaan barang.
Tidak cukup perawatan (maintenance).
Tidak cukup alat-alat, perlengkapan dan barang-barang / bahan-bahan.
Tidak cukup standar-standar kerja.
Penyalahgunaan.

Ada 5 golongan :
- Golongan fisik
1. suara yang keras dapat menyebabkan tuli
2. suara tinggi dapat menyebabkan heat stroke, heat cramps, atau hyperpyrexia
3. suhu rendah mnyebabkan chilblains,trench foot, atau frotstbite
4. penerangan yang kurang atau terlalu terang menyebabkan kelainan penglihatan dan
memudahkan terjadinya kecelakaan
5. penurunan tekanan udara (dekompressi ) yang mendadak dapat menyebabkan caisson
disease
6. radiasi dari sinar rontgenatau sinar radio aktif menyebabkan penyakit-penyakit darah,
kemandulan, kanker kulit dan sebagainya
7. sinar infra merah dapat menyebabkan catharact lensa mata
8. sinar ultraviolet dapat menyebabkan konjungtivitis photo electrica

- Golongan kimia
1. gas yang menyebabkan keracunan misalnya :CO,HCN.H2S,SO2
2. uap dari logam yang dapat menebabkan metal fume fever ataupun keracunan logam
misalnya karena Hg,Pb
3. larutan ataupun cairan mislnya H2SO4,HCL dapat menyebabkankeracunan atau
dermatosis(penyakit kulit)
4. debu-debu misalnya debu silica , kapas, asbest ataupn debu logam berat bila terhirup
kedalam paru-paru menyebabkan pneumoconiosis
5. awan atau kabut dari insectisida ataupun fungicida pada penyemprotan serangga dan hama
tanaman dapat menyebabkan keracunan

- Penyakit infeksi
Misalnya penyakit anthrax yang disebabkan bakteri bacillus anthracis pada penyamak kulit
atau pengumpul wool.penyakit-penyakit infeksi pada karyawan yang bekerja dalam bidang
mikrobiologi ataupun dalam perawatan penderita penyakit menular

- Fisiologi
Penyakit yang disebabkan karena sikap badan yang kurang baik : karena konstruksi mesin
yang tidak cocok, ataupun karena tempat duduk yang tidak sesuai

- Mental psikologi
Penyakit yang timbul karena hubungan yang kurang baik antara sesame karyawan, antara
karyawan dengan pemipin, karena pekerjaan yang tidak sesuai dengan psikis karyawan,
karena pekerjaan yang membosankan ataupun karena upah yang terlalu sedikit sehingga
tenaga pikiranya tidak dicurahkan kepada pekerjaanya melainkan kepada usaha-usaha
pribadi untuk menambah penghasilan
(ILMU KESEHATAN MASYARAKAT, Indan Entjang)

Ada 4 faktor :
Alat dan bahan yang tidak aman
Penggunaan alat yg kurang aman atau rusak dan penggunaan bahan kimia berbahaya.
Keadaan tidak aman
Ruang kerja terkontaminasi, suhu terlalu tinggi, gudang penyimpanan tidak teratur dsb.
Tingkah laku pekerja, apabila :
Lalai atau ceroboh dalam bekerja
Meremehkan kemungkinan setiap bahaya
Tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan standar kerja yang diberikan.
Tidak disiplin dalam menaati peraturan keselamatan kerja, termasuk pemakaian alat
pelindung diri.
Pengawasan, apabila :
Memberikan prosedur yang tidak benar atau bahaya
Kurang mengetahui atau tidak dapat mengantisipasi akan kemungkinan adanya bahaya
Terlalu lemah dalam menegakkan disiplin kerja bagi para pekerja untuk menaati peraturan
keselamatan kerja
(A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi).Semarang :
Undip)


g. Klasifikasi
o Klasifikasi kecelakaan kerja
Diklasifikasikan berdasarkan 4 macam penggolongan yakni :
a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan :
Terjatuh
Tertimpa benda
Tertumbuk atau terkena benda2
Terjepit oleh benda
Gerakan2 melebihi kemampuan
Pengaruh suhu tinggi
Terkena arus listrik
Kontak bahan2 berbahaya atau radiasi
b. Klasifikasi menurut penyebab :
Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik, mesin penggergaji kayu,dsb
Alat angkut, alat angkut darat, udara, dan alat angkut air
Peralatan lain, misalnya : dapur pembakar dan pemanas, instalasi pendingin, alat2 listrik,
dsb
Bahan2, zat2, dan radiasi misalnya bahan peledak, gas, zat2 kimia,dsb
Lingkungan kerja (diluar bangunan, di dalam bangunan dan di bawah tanah)
Penyebab lain yg belum masuk tsb diatas
c. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan :
Patah tulang
Dislokasi (keseleo)
Regang otot (urat)
Memar dan luka dalam yg lain
Amputasi
Luka di permukaan
Gegar dan remuk
Luka bakar
Keracunan2 mendadak
Pengaruh radiasi
Lain2
d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh :
Kepala
Leher
Badan
Anggota atas
Anggota bawah
Banyak tempat
Letak lain yg tdk termasuk dlm klasifikasi tsb
(SOEKIDJO, IKM)


h. Upaya dan Pencegahan
upaya dan pencegahan
o Substitusi
Yaitu dengan mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan bahan-bahan yang kurang
atau tidak berbahaya, tanpa mengurangi hasil pekerjaan maupun mutunya
o Isolasi
Yaitu dengan mengisolir (menyendirikan) proses-proses yang berbahaya dalam
perusahaan.Misalnya menyendirikan mesin-mesin yang sangat gemuruh, atau proses-proses
yang menghasilkan gas atau uap yang berbahaya.
o Ventilasi umum
Yaitu dengan mengalirkan udara sebanyak perhitungan ruangan kerja, agar kadar bahan-
bahan yang berbahaya oleh pemasukan udara ini akan lebih rendah dari nilai ambang
batasnya
o Ventilasi keluar setempat
Yaitu dengan menghisap udara dari suatu ruang kerja agar bahan-bahan yang berbahaya
dihisap dan dialirkan keluar. Sebelum dibuang ke udara bebas agar tidak membahayakan
masyarakat, udara yang akan dibuang ini harus diolah terlebih dahulu.
o Mempergunakan alat pelindung perseorangan
Para karyawan dilengkapi dengan alat pelindung sesuai dengan jenis pekerjaannya.
Misalnya: masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, topi, dll
o Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja
Para karyawan atau calon karyawan diperiksa kesehatannya (fisik dan psikis) agar
penempatannya sesuai dengan jenis pekerjaan yang dipegangnya secara optimal
o Penerangan atau penjelasan sebelum kerja
Kepada para karyawan diberikan penerangan/penjelasan sebelum kerja agar mereka
mengetahui, mengerti dan mematuhi peraturan-peraturan serta agar lebih berhati-hati
o Pemeriksaan kesehatan ulangan pada para karyawan secara berkala
Pada waktu-waktu tertentu secara berkala dilakukan pemeriksaan ulangan untuk mengetahui
adanya penyakit-penyakit akibat kerja pada tingkat awal agar pengobatan dapat segera
o Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja
Para karyawan diberikan pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja secara kontinyu dan
teratur agar tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung Jakarta
o Pencegahan kecelakaan akibat kerja
Perlu dibina keakhlian higiene perusahaan dan kesehtan kerja dengan Lembaga Nasional
Higienen Perusahaan dan Kesehatan Kerja sebagai nukleus keakhlian
Perlu dibina keakhlian tenaga kesehatan pada tingkat perusahaan dan perlu ditingkatkan
pengerahan tenaga-tenaga kesehatan ke dalam sektor produksi. Serta perlu dibina pula para
tekhnisi yang bersangkutan dengan proses produksi dengan diberikan skill tambahan tentang
human engineering
Perlu diusahakan pendidikan dan training kepada pengusaha dan buruh tentang pentingnya
kesehatan produksi dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja sebagai sarana kearah
kenikmatan dan kesejahtaraan bangsa.
Perlu dikembangkannya applied research yang dapat memenukan karakteristika-
karakteristika manusia Indonesia, misal saja tentang waktu kerjadan istirahat, gizi, dan
produktivitas, daerah-daerah nikmat kerja dan produktivitas kerja optimal, dll.
Keakhlian keakhlian dalam hiperkes harus selalu dapat dimanfaatkan oleh setiap sektor
produksi manakala sewaktu-waktu diperlukan nasehat-nasehat sesuai kebutuhan
Pembinaan lapangan kesehatan dalam produksi nin memerlukan kerja sama yang sebaik-
baiknya diantara Depertemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja, Departeman
Perindustrian, Departemen Pertaian, Departemen Pertambangan agar diperoleh manfaat
yang sebesar-besarnya.
Dr. Sumamur P.K., M.Sc. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung. Jakarta.
1986.

10. Apa faktor yang mempengaruhi KECELAKAAN KERJA?
Ada 4 faktor :
Alat dan bahan yang tidak aman
Penggunaan alat yg kurang aman atau rusak dan penggunaan bahan kimia berbahaya.
Keadaan tidak aman
Ruang kerja terkontaminasi, suhu terlalu tinggi, gudang penyimpanan tidak teratur dsb.
Tingkah laku pekerja, apabila :
Lalai atau ceroboh dalam bekerja
Meremehkan kemungkinan setiap bahaya
Tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan standar kerja yang diberikan.
Tidak disiplin dalam menaati peraturan keselamatan kerja, termasuk pemakaian alat
pelindung diri.
Pengawasan, apabila :
Memberikan prosedur yang tidak benar atau bahaya
Kurang mengetahui atau tidak dapat mengantisipasi akan kemungkinan adanya bahaya
Terlalu lemah dalam menegakkan disiplin kerja bagi para pekerja untuk menaati peraturan
keselamatan kerja
(A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi).Semarang :
Undip)

11. Bagaimana cara mengevaluasi kecelakaan kerja karyawan?
12. Apa kebijakan pemerintah yang mengatur tentang ketenagakerjaan, termasuk UU tentang
K3?
UU No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non
kesehatan
UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.
Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahayaPeraturan/persyaratan pembuangan limbah dll.

PERATURAN KETENAGAKERJAAN
Kebijakan pemerintah ttg HIPERKES
Undang- Undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga
Kerja, yang memuat ketentuan2 pokok tentang tenaga kerja, mengatur higiene higiene
perusahaan dan kesehatan kerja sbb :
a) Tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan,
kesusilaan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat
manusia dan moral agama (pasal 9)
b) Pemerintah membina perlindungan kerja yang mencakup :
Norma kesehatan kerja dan higiene perusahaan
Norma keselamatan kerja
Norma kerja
Pemberian ganti kerugian, perawatan dan rehabilitasi dalam hal
kecelakaan kerja.
Sumamur. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja. 1994
o Undang2 keselamatan kerja
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 yang ruang lingkupnya berhubungan dengan mesin, landasan
tempat kerja dan lingkungan kerja, serta cara mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja, memberikan perlindungan kepada sumber2 produksi sehingga dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas.
Budiono S., Jusuf S., Pusparini A. BUNGA RAMPAI HIPERKES DAN KK . 2005

13. Apa perbedaan dokter klinik perusahaan dengan dokter perusahaan?
14. Apa peran dan kewajiban dokter perusahaan?
15. Jelaskan mengenai Toksikologi industri (mencakup definisi, penggolongan zat)?
o Definisi
Ilmu yang mempelajari tentang racun yang diolah, dihasilkan dan diproduksi oleh perusahaan
o Sumber toksik
o Apa saja macam2 toksik industri?
Chemical toxicant ( bahan2 kimia)
Biological Toxicant (makhluk hidup)
Bacterial Toxicant (bakteri)
Botanical toxicant (tumbuh-tumbuhan)
Sumber: Kerjasama Program Magister Ilmu Kesehatan Lingkungan UNDIP &
PT. Pupuk Kalimantan Timur.
FAKTOR YANG MENENTUKAN TINGKAT KERACUNAN
1. Sifat Fisik bahan kimia
Bentuk yang lebih berbahaya bila dalam bentuk cair atau gas yang mudah
terinhalasi dan bentuk partikel bila terhisap, makin kecil partikel makin
terdeposit dalam paru-paru
2. Dosis (konsentrasi) *
a. Semakin besar jumlah bahan kimia yang masuk dalam tubuh makin
besar efek bahan racunnya
E = T x C
E = efek akhir yang terjadi (diturunkan seminimal dengan NAB)
T = time
C = concentration
b. Pajanan bisa akut dan kronis
3. Lamanya pemajanan *
- gejala yang ditimbulkan bisa akut, sub akut dan kronis
4. Interaksi bahan kimia
a. Aditif : efek yang timbul merupakan penjumlahan kedua bahan kimia
ex. Organophosphat dengan enzim cholinesterase
b. Sinergistik : efek yang terjadi lebih berat dari penjumlahan jika
diberikan sendiri2 ex. Pajanan asbes dengan merokok
c. Antagonistik : bila efek menjadi lebih ringan
5. Distribusi
a. Bahan kimia diserap dalam tubuh kemudian didistribusikan melalui
aliran darah sehingga terjadi akumulasi sampai reaksi tubuh
6. Pengeluaran
Ginjal merupakan organ pengeluaran sangat penting, selain empedu, hati
dan paru-paru
7. Faktor tuan rumah (host)
- Faktor genetic
- Jenis kelamin : pria peka terhadap bahan kimia pada ginjal, wanita pada
hati
- Factor umur
- Status kesehatan
- Hygiene perorangan dan perilaku hidup
http://hiperkes.wordpress.com/2008/03/29/toksikologi-industri/

KLASIFIKASI BAHAN BERACUN
Antara lain :
1. Berdasarkan penggunaan bahan: solvent, aditif makanan dll
2. Berdasarkan target organ: hati, ginjal, paru, system haemopoetik
3. Berdasarkan fisiknya: gas, debu, cair, fume, uap dsb
4. Berdasarkan kandungan kimia: aromatic amine, hidrokarbon dll
5. Berdasarkan toksisitasnya: Ringan, sedang dan berat
6. Berdasarkan fisiologinya: iritan, asfiksan, karsinogenik dll
http://hiperkes.wordpress.com/2008/03/29/toksikologi-industri/



o Apa saja dampak toksik industri terhadap kesehatan?
Dari hasil penelitian diketahui bahwa limbah industri dapat menghasilkan bahan toksik
terhadap lingkungannya yang berdampak negatif terhadap manusia dan komponen
lingkungan lainnya. Limbah cair industri paling sering menimbulkan masalah lingkungan
seperti kematian ikan, keracunan pada manusia dan ternak, kematian plankton,
akumulasi dalam daging ikan dan moluska, terutama bila limbah cair tersebut
mengandung racun seperti: As, CN, Cr, Cd, Cu, F, Hg, Pb, atau Zn.

PNEUMOKONIOSIS
1. pengertian
Pneumokoniosis adalah segolongan penyakit yang disebabkan oleh debu-debu dalam paru-paru.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta
2. macam
o Silicosis disebabkan oleh SiO
2
bebas.
o Anthracosis disebabkan oleh debu-debu arang batu.
o Asbesitosis disebabkan.oleh debu asbes.
o Byssinosis disebabkan oleh debu kapas.
o Berryliosis disebabkan oleh debu Be.
o Stannosis disebabkan oleh debu biji timah putih (SnO
2
)
o Siderosis disebabkan oleh debu mengandung Fe
2
O
3

o Talkosis disebabkan oleh debu talk.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta
A. SILICOSIS
Silicosis adalh penyakit yang paling penting dari golongan pneumokoniasis. Penyebabnya
adalah silica hebas (SiO
2
) yang terdapat pada debu yang dihirup waktu bernafas dan ditimbun
dalam paru-paru. Tidaklah boleh dilupakan, bahwa silica bebas berlainan dengan garam-garam
silicat yang tidak rnenyebabkan silicosis. Penyakit ini biasanya terdpat pada pekerja-pekerja di
perusahaan yang menghasilkan batu-batu untuk bangunan, di perusahaan granit, di perusahaan
keramik, di tambang timah putih, di tambang besi, di tambang batu bara, di perusahaan tempat
menggerinda besi, di pabrik besi dan baja, dalam proses sandblasting, dan lain-lain. Singkatnya,
penyakit tersebut selalu mungkin terdapat pada pekerja yang menghirup debu dengan silica
bebas di dalamnya.
Masa inkubasi silicosis adalah 2-4 tahun. Sebagaimana umumnya berlaku untuk penyakit-
penyakit, masa inkubasi ini sangat tergantung dari banyaknya debu dan kadar silica bebas di
dalam debu tesebut. Makin banyak silica bebas yang dihirup ke dalam paru-paru, makin pendek
masa inkubasi penyakit silicosis. Silicosis digolongkan menurut tingkat sakit penyakit tersebut,
yaitu tingkat pertama, kedua, dan ketiga, atau masing-masing disebut pula tingkat ringan,
sedang, dan berat.
1. Tingkat pertama atau silicosis ringan
Ditandai dengan sesak nafas (dyspnea) ketika bekerja, mula-mula ringan. kemudian
bertambah berat. Sepanjang tingkat sakit demikian, dyspnea merupakan tanda terpenting.
Batuk-batuk mungkin sudah terdapat pada fase pertama ini, tetapi biasanya kering, tidak
berdahak. Keadaan umum penderita masih baik. Gejala-gejala klinis paru-paru sangat sedikit.
Pengembangan paru-paru sedikit terganggu, atau t.idak sama sekali. Suara pernafasan
dlam batas normal. Biasanya gangguan kemampuan bekerja sedikit sekali atau tidak ada.
Mungkin pada pekerja berusia lanjut didapati hyperesonansi oleh karena emphysema.
Gambaran rontgen menunjukkan bayangan noduli yang terpisah, bundar dan paling besar
diameternya 2 mm. Noduli mungkin terlihat pada sebagian lapangan paru-paru atau pada
seluruhnya, tapi yang penting adalah terpisahnya noduli satu dengan yang lainnya. Kadang-
kadang noduli tertutup oleh bayangan gelap yang mengesankan adanya emphysema.
2. Tingkat kedua atau silicosis sedang
Sesak dan batuk menjadi sangat kentara. Tanda-tanda kelainan paru-paru pada pemeriksaan
klinis juga tampak. Dada kurang berkembang. Suara nafas tidak jarang bronchial. Ronchi
terutama terdapat di basis paru. Selalu ditemui gangguan kemampuan untuk bekerja.
Gambaran rontgen menunjukan bahwa pada seluruh lapangan paru-paru terlihat noduli, dan
terdapat penyatuan dari beberapa noduli membentuk bayangan yang lebih besar.

3. Tingkat ketiga atau silicosis berat
Sesak mengakibatkan keadaan cacat total. Dapat terlihat hypertrofi jantung kanan, dan
kemudian tanda-tanda kegagalan jantung kanan. Gambaran paru-paru memperlihatkan
daerah-daerah dengan konsolidasi massif. Sampai kini belumlah jelas bagaimana
mekanisme silica bebas menimbulkan silicosis. Terdapat ernpat buah teori tentang
mekanisme tersebut yaitu:
1) Teori mekanis, yang menganggap permukaan runcing debu-debu merangsang terjadinya
penyakit.
2) Teori elektromagnetis, yang menduga bahwa gelombang-gelombang elektromagnetislah
penyebab silicosis dalam paru-paru
3) Teori silikat, yang menjelaskan bahwa SiO
2
bereaksi dengan air dan jaringan paru-paru,
sehingga terbentuk silikat yang menyebabkan kelainan paru-paru.
4) Teori immunologis, yaitu tubuh mengadakan zat anti yang bereaksi di paru-paru dengan
antigen berasal dari debu.

Pencegahan silicosis dapat dilakukan dengan cara:
a. Substitusi misalnya mengganti kieslguhr dengan batu kapur untuk pendinginan lambat
penghancuran logam, dan zircoicum sebagai pengganti tepung silica dalam pabrik
penuangan besi atau baja. Untuk gurinda digunakan carborundum, emery, atau alumina,
bukan lagi dari bahan silica. Demikian pula sandblasting, yaitu proses meratakan
permukaan logam dengan debu pasir yang disemprotkan dengan tekanan tinggi, pasir
diganti dengan bubuk alumina.
b. Penurunan kadar debu di udara tempat kerja
c. Perlindungan diri pada pekerja, antara lain berupa tutup hidung, yang paling sederhana
terbuat dari kain kasa.
d. Ventilasi umum, dengan mengalirkan udara ke ruang kerja melalui pintu dan jendela, tapi
cara ini biasanya mahal harganya.
e. Ventilasi lokal, yang disebut pompa ke luar setempat, biayanya lebih murah
f. Pompa keluar setempat dimaksudkan untuk menghisap debu dari tempat sumber debu
dihasilkan, dan mengurangi sedapat mungkin debu di daerah kerja.
Di samping usaha-usaha seperti tersebut di atas, pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan
berkala adalah penting, Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja berguna misalnya untuk tidak
menerima penderita-penderita sakit paru, dan untuk tidak menempatkan seorang calon
pekerja yang pernah sakit demikian di tempat kerja yang banyak debu. Terutama penyakit-
penyakit seperti TBC paru, bronchitis kronik, asthma bronchiale, dan lain-lain merupakan
alasan kuat menolak para calon untuk bekerja yang menghadapi silica bebas. Pemeriksaan
berkala dimaksudkan untuk menemukan penderita-penderita silicosis sedini mungkin; yang
kemudian dapat segera dipindahkan pekerjaan agar cacat dapat dicegah.

B. ANTHRACOSIS
Anthracosis adalah pneumokosis oleh karena debu-debu arang batu. Masa inkubasi penyakit ini
adalah 2-4 tahun. Anthracosis terlihat dalam tiga gambaran klinis, yaitu anthracosis murni,
silicoanthracosis dan tuberculosilicoanthracosis. Anthracosis murni biasanya lambat menjadi
berat dan tidak begitu berbahaya, kecuali jika terjadi emphysema yang rnungkin menyebabkan
kematian. Pada silicoanthracosis jarang terjadi mphysema. Pada tuberculosilicanthracosis,
selain terdapat ke!ainan paru-paru oleh debu yang mengandung silica dan arang batu juga oleh
basil-basil tubeculosa yang menyerang paru-paru. Dalam hal ini gambaran klinis tidaklah begitu
berbeda dengan silicosis murni. Riwayat penyakit secara klinis dari anthracosis mungkin
bertahun-tahun. Kadang-kadang penderita tidak memperlihatkan gejala, walaupun rontgen paru
nenunjukkan kelainan-kelainan. Untuk waktu yang lama gejala yang menonjol hanyalah sesak
nafas. Sering kali penderita batuk dengan dahak kehitaman, gejala tersebut disebut
melanoptysis, yang terjadi bertahun-tahun. Dada penderita menjadi bundar dan ujung-ujung
jarinya membesar (clubbing fingers). Perkusi hyperresonant terdapat di dasar paru, sedangkan
pada auskultasi adalah lemah. Krepitasi terdengar, apabila penderita dihinggapi bronchitis juga.
Pemeriksaan laju endapan darah secara berkala memperlihatkan hasil-hasil trus meninggi.
Gambaran klinis berakhir dengan kegagalan jantung kanan atau silicotuberculosis yang
menyebabkan kematian.
Cara-cara pencegahan anthracosis dan komplikasi-komplikasinya adalah sebagai berikut :
1. Ventilasi penting untuk mengurangi kadar debu di udara.
2. Pemotongan (cutting) arang batu dilakukan secara basah dengan jalan menyemprotkan air
ke rantai alat pemotong pada tempat-tempat rantai bersentuhan dengan permukaan.
3. Pengeboran basah dengan aliran air bertekanan tinggi ke tempat-tempat mengebor,
pengeboran kering harus dilarang.
4. Membasahi permukaan arang batu dengan air.
5. Memercikkan air ke arang batu yang diangkat, dimuat dan diangkut.
6. Masker debu untuk dipakai pada waktu memasuki tambang sesudah peledakan. Perlu
diingatkan, bahwa umumnya masker-masker ini terbatas umurnya sesuai dengan effisiensi
masker tersebut.
7. Pengukuran kadar debu arang batu di udara tempat kerja
8. Perneriksaan paru-paru berkala untuk diagnosa sedini mungkin.

C. ASBESITOSIS
Asbesitosis adalah salah satu jenis pneumokoniasis yang penyebabnya adalah asbes. Asbes
adalah campuran berbagai silikat, tapi yang terpenting adalah magnesium silikat. Pekerjaan-
pekerjaan dengan bahaya penyakit tersebut adalah bahan asbes, penenunan dn pemintalan
asbes, reparasi tekstil yang terbuat dari asbes dan lain-lain. penggunaan asbes untuk keperluan
pembangunan. Kelainan dalam paru-paru tidak berbentuk noduli yang terpisah satu dengan yang
lainnya, melainkan kelainan fibrous yang diffuse dan disertai penebalan pleura dan juga
emphysema. Debu asbes yang dihirup masuk dalam paru-paru mengalami perubahan menjadi
badan-badan asbestos oleh pengendapan-pengendapan fibrin di sekitar serat-serat asbes
tersebut, badan-badan ini pada pemeriksaan mikrskopis berupa batang dengan panjang sampai
200 mikrn. Gejala-gejala asbesitosis adalah sesak nafas, batuk, dan banyak mengeluarkan
dahak. Tanda-tanda fisis adalah cyanosis, pelebaran ujung-ujung jari, dan krepitasi halus di dasar
paru pada auskultasi. Ludah mengandung badan-badan asbestos yang Baru mempunyai arti
untuk diagnosa apabila terdapat dalam kelompok-kelornpok. Kelainan radiologis lambat terlihat,
sedangkan gejala-gejala telah lebih dahulu tampak. Gambaran rontgen pada permulaan sakit
menunjukkan gambaran ground glass appearance atau dengan titik-titik halus di basis paru,
sedangkan batas-batas jantung dan diafragma tidaklah jelas. Cara pencegahan asbesitosis
antara lain dengan usaha-usaha :
1. Menurunkan kadar debu di udara.
2. Pada pertambangan asbes, pengeboran harus secara basah.
3. Di perindustrian tekstil dengan menggunakan asbes, harus diadakan ventilasi setempat atau
pompa keluar setempat.
4. Di saat mesin karding dibersihkan, pekerja-pekerja yang tidak bertugas tidak boleh berada di
tempat tersebut, sedangkan petugas memakai alat-alat perlindungan diri secukupnya.
5. Jika seorang pekerja harus memasuki ruang yang penuh oleh debu asbes, ia harus memakai
alat pernafasan yang memungkinkannya bernafas udara segar.
6. Sebaiknya pembersihan mesin karding dilakukan secara penghisapan hampa udara.
7. pendidikan tentang kesehatan dan penerangan tentang bahaya penyakit kepada pekerja.

D. BYSSINOSIS
Byssinosis adalah pneumokniosis yang penyebabnya terutama oleh debu kapas kepada
pekerja-pekerja dalam industri tekstil. Penyakit itu terutama erat dengan pekerjaan kirding dan
blowing, tapi terdapat pula pada pekerjaan-pekerjaan lainya, bahkan dari prmulaan proses, yaitu
pembuangan biji kapas, sampai pada proses terakhir yaitu penenunan, Masa inkubasi rata-rata
terpendek adalah 5 tahun, yaitu bagi para pekerja pada karding dan blowing. Bagi para pekerja
lainya mas inkubasi ini lebih dari 5 tahun.

E. BERRYLIOSIS
Berryliosis adalah pneumokoniosis yang penyebabnya adalah debu berrylium. Menghirup udara
yang mengandung berrylium berupa logam oksida fluorida menyebabkan bronchitis dan
pneumonitis. Apabila yang dihirup itu adalah debu silikat dari seng brrytium, dan mangan, pada
banyak peristiwa terjadi pneumonitis terlambat atau kemudian, yang dikenal sebagai berryliosis
chronica. Gejala-gejalanya adalah berat badan menurun sangat cepat dan disertai keluhan sesak
nafas. Batuk dan banyak dahak bukan rnerupakan gejala terpenting pada riwayat penyakit
berryliosis. Pernriksaan klinik biasanya tidak menunjukkan kelainan-kelainan yang luar biasa,
tetapi mungkin terdengar suara-suara tambahan pada auskultasi. Pada keadaan sakit dini
gambaran rontgen memperlihatkan bayangan kabur, tapi kemudian retikuler, dan akhirnya nodul
yang terpisah-pisah serta tersebar.

F. STANNOSIS
Stannosis adalah pneumokoniosis yang tidak begitu berbahaya, yang penyebabnya adalab debu
biji timah putih. Penyakit ini terdapat pada pekerja yang berhubungan dengan pengolahan biji
timah atau industri-industri yang menggunakan timah putih. Pada stannosis biasanya tidak
terdapat fibrosis yang massif tidak ada tanda-tanda cacat paru-paru, dan jarang terjadi
komplikasi. Pada keadaan sakit tingkat permulaan, gambaran rontgen paru-paru menunjukkan
penambahan corakan dan penyebaran hilus. Kemudian nampak noduli di daerah antar iga ketiga,
rnula-mula di paru kanan, lalu di paru kiri. Lebih lanjut, penambahan corakan hilang, sedangkan
noduli semakin jelas dan opak.

G. SIDEROSIS
Debu yang mengandung prsenyawaan besi dapat menyebabkan siderosis. Penyakit ini tidak
begitu berbahaya dan tidak progresif. Sidarosis terdapat pada pekerja-pekerja yang menghirup
debu dan pengolahan bijih besi. Biasanya pada siderosis murni tidak terjadi fibrosis atau
emphysema, sehingga tidak ada pula cacat paru.

H. TALKOSIS
Talkosis adalah pneurnokoniasis yang disebabkan oleh debu talk yang masuk ke dalam paru-
paru. Biasanya talk merupakan campuran mineral-mineral, jadi bukan hanya Mg-silikat saja.
Menghirup talk bisa menyebabkan fibrosis peribronchial dan perivaskuler. Gambaran rontgen
paru menunjukkan bulla emphysema dan fibrosis.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

3. gejala dan tanda
Gejala-gejalanya antara lain batuk-batuk kering, sesak nafas, kelelahan umum, berat badan
menurun, banyak dahak, dan lain-lain. Gambaran rontgen paru-paru menunjukkan kelainan-
kelainan dalam paru-paru baik noduler, ataupun lain-lainnya.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

4. diagnosis
Cara menegakkan diagnosa untuk penyakit akibat kerja harus pula dipergunakan di sini. Harus
ada riwayat pekerjaan yang menghadapi debu berbahaya dan menyebabkan pneumoconiasis,
misalnya pernah atau sedang bekerja di pertambangan, di pabrik keramik, dan lain-lain. Gejala
kilnis berbeda-beda tergatung dari derajat banyaknya debu yang ditimbun dalam paru-paru.
Gejala-gejalanya antara lain batuk-batuk kering, sesak nafas, kelelahan umum, berat badan
menurun, banyak dahak, dan lain-lain. Gambaran Rongten paru-paru menunjukkan kelainan-
kelainan dalam paru-paru baik noduler, ataupun lain-lainnya. Pemeriksaan tempat kerja harus
menunjukkan adanya debu yang diduga menjadi sebab penyakit pneumokoniasis. Bila
pemeriksaan akan diteruskan dengan biopsi paru-paru, maka paru-paru harus rmenunjukkan
kadar zat penyebab yang lebih tinggi daripada kadar yang biasa.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

5. terapi
Secara umum dapatlah dikatakan bahwa terapi khusus yang kausal pada pneunokoniasis ini
tidak ada. Terapi berupa obat-obatan biasanya hanya untuk maksud simptomatis. Satu-satunya
tindakan ialah memindahkan penderita ke pekerjaan yang kurang atau tidak mengandung debu-
debu berbahaya. Umumnya untuk maksud memindahkan pekerja ini, beberapa faktor harus
mendapat perhatian. yaitu umur penderita, jenis kelamin, dan beratnya penyakit
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

6. pencegahan
Satu-satunya tindakan ialah memindahkan penderita ke pekerjaan yang kurang atau tidak
mengandung debu-debu berbahaya
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

DERMATOSIS
1. Pengertian
Dermatosis akibat kerja adalah segala kelainan kulit yang timbul pada waktu bekerja atau
disebahkan oleh pekerjaan. Istilah dermatosis lebih tepat daripada dermatitis sebab kelainan kulit
akibat kerja tidak usah selalu suatu peradangan, melainkan juga tumor atau alergi.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

2. Macam
o Dermatitis kontak iritan primer
o Dermatitis kontak alergi
o Dermatosis solaris akut
o Lesi-lesi mikrotraumatik
Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI

3. penyebab
o Faktor fisik, yaitu tekanan, kelembaban, panas suhu dingin, sinar matahari, sinar X dan sinar-
sinar lainnya.
o Bahan-bahan berasal dari tanaman, yaitu daun-daunan, ranting-ranting getah, akar-akaran,
umbi-umbian, bunga-bungaan, buah-buahan, sayur-sayuran, debu kayu dan lain-lain
o Makhluk hidup, yaitu bakteri-bakteri, virus-virus, jamur-jamur, cacing, serangga, kutu-kutu
o Bahan-bahan kimia, yaitu asam-asam dan garam anorganik, persenyawaan hidrokarbon, oli,
ter, bahan-bahan warna dan lain-lain
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

4. gejala dan tanda

5. diagnosis
Menegakkan suatu diagnosis penyakit akibat kerja tidaklah mudah. Lebih-lebih untuk keadaan di
hegara kita, dimana dermatosis umum sangatlah banyak. Untuk itu haruslah diikuti cara diagnosa
penyakit akibat kerja pada umumnya haruslah terang kapan tepatnya dermatosis itu mulai. Untuk
tahu pasti kapan dermatosis itu mulai perlu adanya data pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
dan pemeriksaan kesehatan berkala. Selanjutnya perlu pergetahuan tentang lingkungan kerja si
penderta apakah benar penyebab penyakit itu berada dalam lingkungan. Bila ada bagaimana
keterangannya tentang cara penyebab itu menimbulkan penyakit tersebut, apakah secara infeksi,
perangsangan primer ataukah pemekaan.. Pertanyaan ini dapat dijawab dengan memperhatikan
penyebab-penyebab yang ada dalam lingkungan kerja dan dengan uji laboratorium, ataupun
klinis. Sangatlah penting diketahui adalah patch test yang dapat mernastikan adanya bahan
yang bckcrja sebagal pemeka terhadap si pekerja. Satu cara uji sederhana apakah dermatosis itu
akibat kerja atau tidak ialah memberikan cuti beberapa hari kepada penderita, apabila penyakit itu
bersumber kepada pekerjaan biasanya dengan cuti yang diambil maka dermatosis tersebut akan
berkurang bahkan menjadi baik.
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

6. terapi
Diagnosa dini sangat perlu dalam usaha pemberantasan dermatoses akibat kerja, sebab dengan
diagnosa sedini-dininyalah si penderita dapat segera dipindahakan kerjanya ke tempat lain yang
tidak membahayakan kesehatannya
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

7. pencegahan
o Kebersihan diri atau perorangan
Misal cuci tangan, mandi, pakaian bersih, memakai alat pelindung
o Kebersihan lingkungan
Misal pembuangan air limbah, pembersihan debu
Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta

Step 3
1. Apa latar belakang, definisi , dan tujuan dari HIPERKES?
Hiperkes adalah lapangan kesehatan yang meiputi pemeliharaan dan peningkatan derajat
kesehatan tenaga kerja elalui pengobatan, perawatan, serta menciptakan hygienitas
perusahaan yang memnuhi syarat.
Tujuan :
- Meningkatkan derajat kes karyawan setinggi-tingginya (gizi, dll)
- Meningkatkan produktifitas karyawan dengan memberantas kelelahan kerja dan
memberikan perlindungan kepada karyawan terhadap bahaya-bahaya (memberikan
masker kepada karyawan yang tidak merokok sebagai pencegahan)
- Menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif
- Pekerja bisa mencapai dearajat kesehatan setinggi-tingginya
- Agar masyarakat sekitar perusahaan terjaga kesehatannya (terhindar dari limbah)
- Agar hasil produkai perusahaan aman untuk dikonsumsi.

2. Apa saja program-program pada hygienitas perusahaan dan kesehatan perusahaan
(HIPERKES)?
Hygienitas perusahaan
- Pengenalan, pengujian dan pengendalian potensi bahaya di tempat kerja
- Program pemantauan ingkungan kerja
- Program rekayasa alat deteksi
- Program pelatihan dan informasi lingkungan kerja
- Program koordinasi dan kerjasama dengan unit atau bagian lain di perusahaan dan
instansi terkait

Program kesehatan kerja
- Program pemeriksaan kesehatan pendahuluan pada calon tenaga kerja
- Program pemeriksaan kesehatan berkala (saat memulai melakukan kegiatan di
bidangnya)
- Program pengobatan jalan, prawatan, dan pertologngan gawat darurat di RS dan subunit
lainnya
- Program pengembangan keterampilan serta pengetahuan tenaga unit kesehaatan kerja
- Program penyuluhan kesehatan

3. Macam-macam lingkungan kerja?
Lingkungan tempat kerja dimana tenaga kerja melakukan kegiatan yang ada hubungan
dengan kegiatan oerusahaan
Ada 4 lingkungan :
1. Lingkungan fisik mrliputi udara,cahaya,tekanan
2. Lingkungan kimia meliputi bahan baku, bahan jadi, bahan sisa
3. Lingkungan biologi meliputi flora dan fauna yg ada hubungannya dg kegiatan
perusahaan
4. Lingkungan sosial lingkungan terhada sesama pekerja, masyarakat sekitar dan keluarga

4. Definisi ergonomi, tujuan, dan aplikasi dari ergonomi?
Definisi : ilmu yang mengatur tentang penyesuaian antara perlengkapan dan pealatan kerja
dengan kondisi manusia kesehatan dan produktifitas yang optimal
Tujuan : memaksimalkan efisiensi karyawan, memperbaiki K3, menganjurkan agar bekerja
aman, nyaman dan bersemangat, memaksimalkan performa kerja yang meyakinkan,
mengurangi angka cedera dan kesakitan dalam berkerja, mengurangi biaya thd penanganan
kecelakaan atau kesakitan, mengurangi tingkat absensi dalam bekerja, meningkatkan
produktifitas dan keselamatan kerja, meningkatkan kesetaraan fisik, mental, dan sosial
sehingga pekerja merasa nyaman dalam bekerja.
Manfaat : mencegah kecelakaan kerja, ketidakefisiensi kerja, mengurangi beban kerja
Aplikasi : mengatur sesuai dengan fisiologis manusia (misal : tempat duduk dengan posisi
yang senyaman mungkin)
- Posisi duduk dan berdiri (duduk : kaki tidak terbebani dengan berat tubuh, berdiri : berat
badan tertumou secara seimbang oleh dua kaki)
- Proses kerja : dapat menjangkau peralatan sesuai dengan porsi waktu
- Tata tempat kerja : lebih banyak menggunakan simbol daripada kata
- Mengangkat beban (dengan kepala, bahu, tangan, dan punggung)

5. Ruang lingkup ergonomi?
- Fisik : susunan tubuh mns (antropometri, karakteristik fisiologi, bimekanika)
- Kognitif : mental, persepsi, ingatan dan reaksi akit=bat interaksi mns dg elemen sistem
- Organisasi : sistem sosio-teknik (struktur organisasi dan kebijakan dan proses)
- Lingkungan : pencahayaan, temperatur, kebisingan, dan getaran.

6. Apa saja penyebab PAK (penyakit akibat kerja)?
- Mesin : pembangkit tenaga listrik, penggergaji kayu, alat listrik, alat pendingin
- Zat dan radiasi
- Lingkungan keerja : dibawah tanah (freeport/pertambangan), lingkungan bangunan
(pengamatan flora fauna)
Sifat luka : patah tulang, dislokasi, luka bakar, pengaruh radiasi, memar
- Faktor manusia : kelalaian pekerja (terlalu lelah tidak fokus)

Golongan fisik : radiasi, suhu ekstrim, penerangan, tekanan udara, vibrasi
Golongan kimiawi : semua bahan kimia (debu, uap, gas, larutan, dan kabut)
Golongan biologi : bakteri, virus, jamur
Golongan fisiologi : desain tempat kerja
Golongan psikososial : stress psikis, tuntutan pekerjaan

7. Apa saja macam-macam PAK (penyakit akibat kerja)?
- Penyakit saluran nafas : furniture, pembuat asbes
- Penyakit cancer : furniture (ca paru), kontraktor (ca kulit)
- Kecelakaan kerja secara teknis : fraktur
- Penyakit mata : terpapar radiasi layar
- Penyakit tulang : proses duduk kelainan bentuk tulang belakang
- CAD : pekerja yang sering terpapar CO2
- Alergi, ggn kcemasan, sick building synd, multiple chemical sesnsitifitas

8. Apa saja pencegahan PAK (penyakit akibat kerja)?
- Primer : health promotion (olahraga, gizi seimbang, menjauhi faktor bahaya, perilaku
kerja yang baik)
- Sekunder : spesifik protection (peraturan UU, administrasi, pengendalian teknis (apd),
pengenddalian kesehatan)
- Tersier : prompt treatment, early diagnosis (pemeriksaan berkala, pengobatan segera)

9. Apa definisi dan klasifikasi KECELAKAAN KERJA?
Definisi : kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan di perusahaan (terjadi akibat
pekerjaan pada waktu melaksanakan pekerjaan). Insiden yang menimbulkan cedera pada
karyawan yang bisa menyebabkan kematian.
Klasfikasi :
- Jenis kecelakaan : terjatuh, terjepit, terkena arus listrik, radiasi
- Penyebab : mesin, alat angkut, bahan dan zat radiasi
- Sifat luka : memar, luka bakar, keracunan
- Letak luka : kepala, leher, badan, anggota atas, bawah

10. Apa faktor yang mempengaruhi KECELAKAAN KERJA?
- Alat dan bahan yang tidak aman : penggunaan bahan kimia, alat yang tidak aman
- Keadaan tidak aman : ruang kerja yang terkontaminasi, suhu terlalu tinggi, dari
lingkungan sekitar berupa ancaman dari pihak perusahaan
- Tingkah laku pekerja : terlalu ceroboh, meremehkan, tidak menggunaan APD yang benar
dan teratur
- Pengawasan : pemberian prosedur yang tidak benar, kurang mengetahui dan
mengantisipasi bahaya, tidak disiplin

11. Bagaimana cara mengevaluasi KECELAKAAN KERJA karyawan?
- Pengenalan lingkungan kerja(melihat kemungkinan yang bisa terjadi)
- Evaluasi dari bahaya kerja yang mungkin timbul
- Pengendalian lingkungan kerja (ergonomis)
- Pembatasan waktu kerja (sistem shift)
- Kebersihan perorangan dan pakaian

12. Apa kebijakan pemerintah yang mengatur tentang ketenagakerjaan, termasuk UU tentang
K3?
- UU no 14 th 1969 ttg ketentuan pokok mengenai tenaga kerja (hygienitas perusahaan
dan kesehatan kerja) : tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas
keselamatan, kesehatan kesusilaan, pemeliharaan moral kerja, perlakuan yang sesuai,
pemerintah membina perlindungan kerja yang mencakup norma keselamatan kerja,
norma kerja dan pemberian ganti rugi peralatan dan rehabilitas
- UU no 1 th 1970 ttg mesin, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara
mencegah penyakit dan kecelakaan akibat kerja (dasar hukum UU i945 pasal 27 ayat 2 :
tiap WN berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan)
- Peraturan menkes ttg sanitasi dan hygiene lingkungan
- UU no 23 th 1992 ttg kesehatan
- Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahaya

13. Apa perbedaan dokter klinik perusahaan dengan dokter perusahaan?
Dokter klinik perusahaan : dokter yang bekerja pada klinik yang diatur oleh perusahaan
Dokter perusahaan : dokter yang ditunjuk untuk menangani permasalahan kesehatan pada
pekerja di perusahaan tsb

14. Apa peran dan kewajiban dokter perusahaan?
Rules tergantung perusahaan terkait.
Yang ditentukan adalah misal biaya berobat, jumlah karyawan, dll.
Dicari lagi ya, apa ada undang-undangnya yang mengatur, atau benar2 murni hak perushaan
untuk mengatur regulasi tsb.

15. Jelaskan mengenai Toksikologi industri (mencakup definisi, penggolongan zat)?
Definisi : bahan kimia yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja
karena paparannya
Penggolongan zat : gas (invisible mis CO), liquid (terkena badan bisa jadi ca kulit jika
terpapar terus menerus), uap (sama sih kaya gas), kabut (kondensasi dari.............), debu
(asbesitosis), fume, awan (kata ricky bisa bikin hujan asam), asap
Port de entry : inhalan, kulit, pencernaan
Faktor yang mempengaruhi toksikologi : usia, imunitas pekerja, kekuatan bahan kimia itu
sendiri.