Anda di halaman 1dari 13

Budidaya Ikan Bawal Putih

BAB I
PENDAHULUAN


a. Latar Belakang
Indonesia sebagai suatu negara kepulauan mempunyai sumber daya air yang sangat
besar potensinya. Wilayah laut Indonesia dan sekitarnya yang dikenal sebagai
kawasan paling kaya akan fauna ikan di dunia. Di kawasan ini diperkirakan
terdapat 3.400 jenis ikan yang berarti hampir mencapai 20% dari seluruh jenis ikan
laut di dunia (Sumantadinata,1981).
Ikan adalah organisma air yang bernafas dengan insang dan dapat
bergerak atau berenang dengan menggunakan sirip (fin). Ikan memiliki gurat sisi
untuk menyeimbangkan tubuh, serta gelembung udara untuk mengapung,
melayang, dan membenamkan diri. Ikan tersebar di beragai jenis perairan baik
tawar, asin, maupun payau (Barus, 2004).
Ruang lingkup kegiatan budidaya ikan mencakup pengendalian
pertumbuhan dan pengembangbiakan. Budidaya ikan bertujuan untuk memperoleh
hasil yang lebih tinggi atau lebih banyak dan lebih baik daripada bila ikan itu
dibiarkan secara alami. Budidaya ikan di Indonesia terutama diselenggarakan di
kolam, tambak (kolam air payau), sawah, dan karamba (kurungan bambu) (evy,
2001).
Ikan bawal putih memiliki nama latin Pampus Argenteus. Dilihat asal
usulnya, ikan bawal ini bukanlah asli Indonesia, tetapi berasal dari negeri Samba,
Brazil. Ikan ini dibawa ke Indonesia oleh para importis ikan hias dari Singapura
dan Brazil pada tahun 1980. Selain ke Indonesia, ikan bawal pun sudah tersebar
hampir ke seluruh penjuru dunia. Di setiap negara, ikan ini mempunyai nama yang
berlainan (Bangsa, 2012).
Bentuk badan pipih dengan badannya yang tinggi sehingga hampir
menyerupai bentuk belah ketupat. Ikan bawal ini merupakan ikan herbivore yang
cenderung bersifat omnivore, selain suka melalap tumbuhan air juga suka
memakan udang ataupun ikan ikan kecil dan hewan air lainnya (Nelson, 1984).
Ikan bawal putih merupakan jjenis ikan yang habitatnya dari air laut. Pada
umumnya ikan bawal putih memiliki bobot 500 gram, namun ada juga yang
mencapai bobot 1,5 hingga 2 kg per ekor (Junianto, 2011).
Ikan bawal putih melimpah pada musim barat dan puncak musim ikan
bawal putih bertepatan dengan puncak musim hujan atau mangsa ke 5 7. Ikan
bawal putih ditangkap dengan jaring insang dasar. Musim panen bawal putih
sering kali terkendala tingginya gelombang laut di Samudera Indonesia pada
Oktober-Desember yang rata rata mencapai tiga meter. Ikan bawal putih hidup
bergerombol di dasar perairan atau kolom air perairan dekat pantai sampai
kedalaman 100 m, makanan ikan ini berupa ikan ikan kecil. Munculnya jenis ikan
ini juga berkaitan dengan adanya penyuburan daerah pantai seiring datangnya
musim hujan (Partosuwiryo, 2008).
Adapun latar belakang dari pembuatan paper ilmiah tentang budidaya ikan
bawal putih ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara pembudidayaan ikan
bawal putih karena komoditi ikan bawal putih masih jarang dibudidayakan. Ikan
bawal putih didapat masih melalui penangkapan tradisional sehingga hasil
komoditi bawal putih masih terbatas, oleh karena itu dilakukan pembudidayaan
ikan bawal putih untuk memenuhi permintaan pasar.

b. Tujuan
Adapun latar belakang dari pembuatan paper ilmiah tentang budidaya ikan bawal
putih ini untuk memenuhi tugas mata kuliah budidaya perairan serta bertujuan
untuk mengetahui cara pembudidayaan ikan bawal putih yang meliputi taksonomi
dan morfologi ikan bawal putih, mengetahui cara pemilihan lokasi budidaya ikan
bawal putih, mengetahui hal hal persiapan dalam membudidaya ikan bawal putih
antara lain penyiapan tambaknya, penyediaan benih, prasarana budidaya,
mengetahui cara pemeliharaan seperti padat tebar benih, pakan ikan bawal putih
dan pemberian pakannya, cara pengendalian hama dan penyakit, mengetahui masa
panen dan pasca panen budidaya ikan bawal putih.


BAB II
TAKSONOMI DAN MORFOLOGI


a. Taksonomi
Klasifikasi ikan bawal putih :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Bramidae
Genus : Pampus
Spesies : Pampus argenteus



b. Morfologi
Bawal putih berbentuk seperti rombus dan sedikit cembung. Bawal putih dewasa
kelihatan lebih lebar dan cembung. Mata terletak di baagian kepala yang kelihatan
seakan bersambung terus dengan badan. Meskipun badan bawal cermin
kelihatan lebar tetapi mulut dan matanya agak kecil dan berhimpun di
sudut hujung bahagian kepala. Rahang atas dan bawah juga tidak boleh
membuka dengan luas. Bawal putih disebut juga bawalcermin karena dari
pantulan cahaya dari badannya yang berkilat dan berwarna perak.
Garisan deria di badannya bermula dari insang hingga mencecah zona
ekor. Manakala sirip pektoral lebih panjang berbanding sirip dorsal dan
ekor melengkung bentuk V atau lengkungan bumerang. Warna Badan
bawal put i h di l i put i si si k hal us berwarna put i h beral un perak
dan bahagian sirip memancarkan warna kelabu. Setengah bahagian badannya
diliputi bintik hitam halus.

BAB III
PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA


Lokasi budidaya yang dipilih sebagai kawasan untuk pengembangan budidaya ikan
sistem KJA dengan memperhatikan daya dukungnya. Pemilihan lokasi budidaya
juga harus memenuhi kebutuhan faktor fisik, kimiawi dan kualitas air yang
dibutuhkan komoditi budidaya serta salinitas yang sesuai. Pemanfaatan daerah
perairan untuk kegiatan budidaya ikan sistem KJA harus dilakukan secara rasional
dan tetap mengacu pada tata ruang yang telah ditentukan serta kondisi sumber daya
dan daya dukung perairannya dengan maksud untuk menjaga kelestarian
lingkungan dan mempertahankan fungsi utama daerah perairan. Pembagian zonasi
untuk perairan secara umum dilakukan dengan mengacu pada kondisi lingkungan
fisik, sifat kehidupan dan penyebaran populasi ikan dalam usahanya mengelola
perikanan yang terpadu dan lestari (Rahardjo, 2010).
Salah satu penyebab kematian massal ikan budidaya adalah penurunan tinggi muka
air. Apabila tinggi muka air menurun maka jarak karamba jaring apung dengan
dasar menjadi lebih dekat, akibatnya ikan budidaya semakin mendekati lapisan
hipolimnion yang reduktif. Sementara kedalaman perairan dangkal, sehingga jarak
KJA dan dasar menjadi semakin dekat. Akibatnya kolom air yang reduktif semakin
mendekati KJA. Kolom air menjadi anoksik atau lapisan anoksik telah mencapai
permukaan sehingga dapat disebutkan bahwa penyebab kematian massal karena
kekurangan oksigen dan tingginya konsentrasi zat toksik (H2S). Sebaiknya pada
saat tinggi muka air minimum, padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan
budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang
rendah. Kegiatan budaya ikan sistem KJA di perairan, kedalaman air disyaratkan
minimal 5 meter pada jalur yang berarus horizontal. Kedalaman tersebut untuk
menghindari pengaruh langsung kualitas air yang jelek dari dasar perairan
(Rahardjo, 2010).












BAB IV
PERSIAPAN BUDIDAYA


a. Persiapan KJA (Keramba Jaring Apung)
KJA (Keramba Jaring Apung) yang terbuat dari bambu dengan pelampung
polystyrene foam merupakan KJA yang paling ramah lingkungan dibandingkan
dengan KJA lainnya. Letak antara jaring apung sebaiknya berjarak 1030 m agar
arus air leluasa membawa air segar ke dalam jaring-jaring tersebut. Untuk
meningkatkan DO di perairan menggunakan: 1). kincir yang dapat dipasang pada
setiap unit KJA atau pada satu lokasi KJA ; 2). pompa air yang dipancarkan dari
atas dengan penambahan oksigen murni yang diberikan pada saat oksigen
kritis (dini hari). Keramba jaring apung ganda/berlapis dikembangkan dengan
tujuan untuk mengurangi beban dari sisa pakan, yang dapat mencemari perairan
(Rahardjo, 2010).
Tempat pemeliharaan pada tahap pendederan dengan menggunakan waring ukuran
3m x 1,2m x 1,5m dan jaring 3m x 1,2m x 1,5m mesh size inchi. Sedangkan
untuk penggelondongan menggunakan jaring 3m x 3m x 3m atau jaring 6m x 3m x
3m mesh size 1 inchi dan tahap pembesaran menggunakan jaring 6m x 3m x 3m
mesh size 1 2 inchi yang berada di Keramba Jaring Apung (KJA) 3X3 meter
tiap lubangnya (Anonim, 2010).
Penggantian dan pembersihan jaring selama masa pemeliharaan mutlak harus
dilakukan. Jaring yang kotor akibat penempelan lumpur atau biota penempel
seperti berbagi jenis kerang, teritip dan tumbuh-tumbuhan, dapat menghambat
sirkulasi air, pertukaran air dan oksigen. Kalau dibiarkan hal ini dapat menghambat
pertumbuhan bawal putih dan menimbulkan penyakit. Jaring yang kotor sebaiknya
dijemur kemudian disemprot atau dibersihkan agar dapat dipergunakan lagi.
Sebelum digunakan kembali waring atau jaring perlu diperiksa sehingga apabila
ada kerusakan atau putusnya tali jaring dapat diperbaiki. Pergantian jaring
dilakukan sebulan sekali, bersamaan dengan pergantian jaring dilakukan
perendaman ikan dengan air tawar, sampling dan grading (Anonim, 2010).


b. Penyediaan Benih
Pengelolaan induk dimulai dengan seleksi induk/calon induk dengan kriteria
bentuk badan harus proporsional dan simetris, tidak ada cacat/luka pada tubuh ikan
dan merupakan grading pertama pada kegiatan budidaya serta ukuran ikan sudah
mencapai 1 kg/lebih dan berumur 3 tahun. Untuk manajemen pakan induk harus
diperhatikan kualitas dan kuantitas pakan. Kualitas pakan dipenuhi dengan
pemberian ikan rucah segar, pelet, pencampuran vitamin dan multivitamin.
Sedangkan untuk kuantitas pakan yang baik diberikan 3-5% dari berat total induk
yang akan dipijahkan. Untuk manajemen air media pemeliharaan, pergantian air
optimal adalah 400% dalam 24 jam dengan kualitas air tetap terjaga pada pH (7,4-
7,8), DO (4-6 ppm), suhu (29-310C) dan salinitas(18-30ppt). Bak pemijahan induk
berkapasitas 10 ton dan diisi induk yang sudah siap pijah sebanyak 10 ekor dengan
perbandingan 1:1. Induk jantan lebih kecil dari induk betina dan pemijahan
biasanya terjadi malam hari pada bulan terang sepanjang tahun sekitar pukul
18.00-24.00 WIB. Keunggulan pemijahan bawal putih adalah dapat dipijahkan
kapan saja, tidak tergantung siklus bulanan (Anonim, 2010).
Harga bibit kualitas baik dengan bobot antara 25 - 50 gram Rp 100,00 - Rp 150,00
per ekor. Sedangkan, bibit yang berbobot antara 75 - 100 gram Rp 200,00 - Rp
300,00. Bibit dewasa yang banyak dibeli para petani yang berbobot 150 - 200
gram, karena bibit yang telah memiliki berat badan sebesar ini, cukup tahan
terhadap kondisi cuaca dan tempat. Sehingga risiko kematian ketika dalam lahan
pembesaran relatif sedikit. Namun harganya agak sedikit mahal, antara Rp 400,00 -
Rp 500,00 per ekor. Untuk petani pemula, sebaiknya bibit yang sebesar ini karena
risikonya lebih kecil (Anonim, 2010).

c. Prasarana Budidaya
Untuk memproduksi ikan bawal diperlukan beberapa prasarana pokok
yangmemenuhi persyaratan sesuai dengan sifat-sifat biologis ikan bawal.
Prasaranaini meliputi hatchery, kolam pemeliharaan induk, kolam pendederan, dan
kolam pembesaran atau keramba jaring apung (KJA).

a. Hatchery
Hat chery at au bangsal beni h merupakan suat u bangunan
yang biasadi gunakan unt uk mel akukan kegi at an pembeni han,
t erut amamul a i dar i pemi jahan sampai menghasi l kan l arva.
Bangunan i m dapat di buat secarapermanen, semi permanen, atau secara
sederhanayang penting diberi atapsebagai peneduh. Agar dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, hatchery harusmemenuhi beberapa persyaratan sebagai
berikut :
1) Berada dekat dengan sumber air atau memiliki sumber air sendiri.
2) Let ak sumber ai rnya l ebi h t i nggi dari l okasi hat chery agar
ai r mudah dialirkan ke dalam hatchery (kecuali bila menggunakan
pompa air).
3) Kuant i t as ai r nya c ukup agar kegi at annya
dapat ber j al an s e c a r a kontinu.
4) Kualitas airnya baik, misalnya jernih, kandungan oksigennya tinggi
atau sekitar 4 ppm, dan tidak mengandung unsur-unsur yang berbahaya.
5) Lokasinya dekat dengan areal perkolaman atau keramba.
6) Keamanannya t erjami n.
7) Dekat dengan jalan dan tranportasinya lancar.
Setiap hatchery harus mempunyai fasilitas yang lengkap agar bisa
berfungsisebagai mana mest i nya. Sel ai n i t u, t at a l et aknya harus di at ur
secara t epat . Fasilitas yang harus dibuat untuk hatchery ikan bawal yaitu :
1) Bak penampungan air bersih,
2) Bak perombakan,
3) Bak pemijahan,
4) Tempat penetasan telur,
5) Bak penampungan benih,
6) Tempat blower (aerator)
7) Gudang
8) Kantor,
9) Pos penjagaan, dan
10) Listrik.

b. Kolam pemeliharaan induk
Kol a m pe me l i har a an i nduk me r upakan t e mpat ya ng di gunakan
unt ukmemelihara induk atau calon induk yang sudah matang kelamin sampai
induksiap dipijahkan. Kolam pemeliharaan induk bisa pula disebut sebagai
tempatpematangan gonad.
Jumlah kolam pemeliharan induk yang harus disediakan tergantung
dari jumlah induk yang ada. Sebaiknya kolam pemeliharaan induk dibuat
beberapabuah, minimal dua buah. Tujuannya untuk memudahkan seleksi
induk yang a ka n di pi j ahkan da n i nduk yang s udah di pi j ahkan.
Apabi l a l ahan t i dak me mungki nkan, kol a m i ni bi s a di bua t s at u
buah. Hal i ni t i dak aka n mempengaruhi perkembangan gonad
karena i kan bawal t i dak akan mi jah secara alami atau tidak akan mijah
bila tidak disuntik terlebih dahulu. Namun, sebaiknya kolam tersebut disekat
dengan pagar bambu.
Bent uk kol am pemel i haraan i nduk bi sa bermacam- macam,
t ergant ung keadaan lokasinya. Namun, sebaiknya kolam berbentuk empat
persegi panjang sebab sirkulasi airnya lebih merata. Kolam ini sebaiknya
tidak terlalu luas agar mudah dalam pengelolaannya. Luas kolam yang ideal
antara 100 - 200m . Dengan l uas t ersebut , akan memudahkan dal am
pengeri ngan kol am maupun penangkapan induk yang akan diseleksi.
Kedal aman kol am i ni juga harus di perhat i kan karena ada
pengaruhnya terhadap proses pematangan gonad. Di habitat asalnya, induk atau
calon induk banyak ditemukan di perairan yang agar dalam. Oleh sebab itu,
kedalaman kolam pemeliharaan induk sebaiknya 80 - 100 cm. Dengan
demikian, kolam harus mempunyai ketinggian minimal 125 m sehingga jarak
antara permukaan air kolam dan bagian atas pematang 25 cm.
Kolam pemeliharaan induk juga harus memiliki sistem pengairan yang baik, yaitu
kolam mempunyai sistem sirkulasi air yang baik. Sistem pengairan ya ng bai k
a da l ah s e c ar a par a l el . Dengan s i s t e m i ni , s et i a p kol a m
a ka nmendapat air baru dan bila dikeringkan tidak mengganggu kolam yang
lainnya. Kolam ini juga harus dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran
air agar memudahkan pada waktu pengeringan dan pengisian air kembali.
Letak pintu-pintu berada di tengah-tengah pada lebar kolam dalam posisi
sejajar. Pintu pemasukan bisa dibuat dari paralon 4 inci, sedangkan pintu
pengeluaran sebaiknya dibuat secara permanent (tembok). Pintu
pengeluaran seperti ini terkenal dengan istilah monik.

c. Kolam pendederan
Kolam pendederan bawal merupakan tempat untuk memelihara larva-
larva sampai beni h dengan ukuran yang si ap di pel i hara di tempat
pembesaran. Biasanya, pendederan ikan bawal ini dilakukan dalam
beberapa tahap, yakni pendederan pertama, dan pendederan kedua. Jadi, kolam
pendederan ini harus di buat beberapa buah at au t ergant ung dari juml ah
dan ukuran i nduk yang dipijahkan. Bentuk kolam ini sama seperti kolam
pemeliharaan, yakni empatpersegi panjang. Pintu pemasukan airnya dibuat dari
pipa paraIon ukuran 5 inci. Adapun pintu pengeluarannya dibuat dalam bentuk
monik. Pintu pengeluaran air seperti ini akan mempercepat proses pengeringan
kolam. Selain itu, kolam ini harus mempunyai luas ideal agar mudah dalam
pengelolaannya dengan luas antara 500 - 1.000 m2.















BAB V
PEMELIHARAAN


a. Padat Tebar Benih
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Aklimatisasi perlu
dilakukan karena adanya perbedaan, suhu dan salinitas antara daerah asal benih
atau media transportasi dengan kondisi air tempat pemeliharaan. Apabila sistem
transportasi dengan menggunakan kantong plastik, maka aklimatisasi dilakukan
dengan membuka kantong plastik dan memasukkan air laut kedalam kantong
sedikit demi sedikit. Setelah suhu dan salinitas hampir sama maka benih dapat
ditebarkan. Untuk pengangkutan jarak pendek, aklimatisasi dilakukan dengan cara
menambahkan air laut sedikit demi sedikit kedalam wadah pengangkutan. Padat
tebar berkaitan erat dengan pertumbuhan dan angka kelulushidupan. Apabila
kepadatan terlalu tinggi pertumbuhannya lambat akibat adanya persaingan ruang,
oksigen dan pakan.
(Anonymous, 2009).
Dengan cepatnya pertumbuhan benih bawal putih maka kegiatan pemisahan
ukuran (grading) dilakukan 3-4 hari sekali. Di akhir pemeliharaan kepadatan benih
ikan bawal putih dalam media pemeliharaan mencapai 0,5 ekor/liter.
Kelulushidupan (SR) benih di unit pendederan dapat mencapai 80% yang berarti
tingkat kematian ikan tidak terlau tinggi (Rustadi, 2011).

b. Pakan dan Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan harus memiliki nilai gizi yang cukup. Hal ini akan
mempercepat pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pakan yang diberikan
dapat berupa pakan buatan ataupun pakan ikan rucah. Pada tahap awal
pemeliharaan, frekuensi pemberian pakan dilakukan 4-6 kali sehari. Selanjutnya
pemberian pakan dapat dilakukan 2 kali sehari pada
pagi dan sore hari. Pertumbuhan harian ikan bawal bintang dengan menggunakan
pakan buatan adalah sebesar 2,89 gram/hari, sedangkan dengan pemberian pakan
ikan rucah pertumbuhan hariannya sebesar 1,6 gram/hari. FCR yang diperoleh
selama masa pemeliharaan 6 bulan dengan menggunakan pakan buatan sebesar
1:2, sedangkan dengan menggunakan pakan ikan rucah sebesar 1 : 7 (Anoymous,
2009).
Manajemen pakan larva ikan bawal putih dilakukan dengan memberikan pakan
alami dan pakan buatan. Pakan alami berupa rotifera Brachionus Plikatilis dan
artemia sedangkan pakan buatan adalah pellet yang ukurannya disesuaikan dengan
bukaan mulut ikan. Pemberian rotifer mulai dilakukan dari umur 3 hari dengan
kepadatan 5-15 individu/ml dan frekuensi pemberiannya 3 kali seehari (pagi siang
dan sore) sampai umur larva 14 hari. Dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi larva
pada umur 10 hari pakan pellet sudah dapat diberikan dengan ukuran pakan 250-
300 mikron. Sedangkan artemia mulai diberikan saat larva berumur 14 hari dengan
kepadatan 0,25 individu/ml. Saat berumur 15 hari pemberian rotifer sudah
dihentikan dan frekuensi pemberian pellet ditingkatkan menjadi 1-2 jam sekali.
Diakhir pemeliharaan larva (umur 18 hari) pemberian artemia juga ditingkatkan
menjadi 0,5 individu/ml. hal ini bertujuan untuk menunjang pertumbuhan larva
yang sangat cepat dan baru dihentikan saat larva berumur 22 hari (Rustadi, 2011).

c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Dalam budidaya ikan,
adanya serangan hama dan penyakit merupakan salah satu kendala yang
sering dihadapi. Kendala inilah yang paling ditakuti petani
karena harapan untuk memperoleh keuntungan bisa pudar. Walaupun
merugikan, t e t api ker ugi an ya ng di aki bat kan ol e hs e r angan
penya ki t l ebi h be s a r dibanding kerugian karena hama.Ada dua cara
pengendalian hama dan penyakit yang bisa dilakukan, yaitu pencegahan dan
pengobatan. Pencegahan merupakan upaya untuk menjagaagar tidak terjadi
serangan, sedangkan pengobatan
merupakan upaya untuk me ngobat i i kan i kan ya ng s a ki t agar s e mb
uh. Da r i kedua c a r a t e r s ebut , pencegahan merupakan cara yang paling
efektif dibanding pengobatan karena biayanya lebih murah dan tidak ada efek
sampingan terhadap ikan dan orang yang mengonsumsi ikan.
Adapun pencegahan dan Pengobatan Secara Umum yaitu dengan cara kolam
dikeringkan sampai tanah dasarnya retak-retak, lalu dilakukan pengapuran saat
persiapan kolam, kemudian pada pintu pemasukan akir dipasang saringan. Adapun
cara mencegah serangan penyakit dapat dengan beberapa cara, diantaranya
yaitu mengeringkan kolam untuk memotong siklus hidup penyakit,
melakukan pengapuran saat persiapan kolam agar penyebab penyakit bisa
mati, menjaga kondisi ikan agar tetap sehat dan tidak stress, menjaga
kondisi lingkungan hidup agar sesuai kebutuhan ikan
kemudian mengurangi kepadatan ikan untuk mencegah kontak langsung
antar ikan, menghindari terjadinya penurunan kadar oksigen dalam air,
serta mengikatnya kadar NH, kemudian member pakan tambahan yang
cukup, tetapi tidak berlebihan, lalu mencegah terjadinya luka pada tubuh
ikan dengan penanganan yang baik lalu mencegah masuknya binatang pembawa
penyakit, seperti burung, siput dan lain-lain (Bangsa, 2012).

BAB VI
PANEN DAN PASCA PANEN


a. Panen
Budidaya ikan bawal putih membutuhkan waktu 3 6 bulan untuk mencapai panen. Rentang waktu
panen bisa diperpendek dengan menggunakan benih dengan ukuran sedikit lebih besar. Dengan
penggunaan benih yang sudah berukuran 2 inchi atau lebih akan mempercepat masa panen, yaitu 1 (satu)
bulan sudah bisa dipanen. Ikan bawal putih sudah layak panen jika telah memiliki bobot 500 1.000
gram/ekor dan panjang tubuh maksimal mencapai 60 cm. Sebelum panen ikan bawal putih harus
dipuasakan selama 1 3 hari agar ikan terbebas dari sisa bahan kimiawi selam proses pembesaran dan
bersih dari jamur serta parasit yang membahayakan bila dikonsumsi. Pemanenan dilakukan dengan
menggunakan jaring 6m x 3m x 3m dengan mesh size 1 2 inchi pada KJA (Keramba Jaring Apung).
Masa panen ikan bawal putih dapat dilakukan dalam dua siklus hidup, yaitu pada masa larva dan
masa dewasa atau layak konsumsi. Pada panen larva dapat dilakukan pada umur 21 hari dengan
menggunakan seser 500 mikron. Setelah panaen, dilakukan pemisahan ukuran (grading) sebelum
dipindahkan ke unit pendederan. Kelulushidupan (SR) larva dapat mencapai 20%.

b. Pasca Panen
Mengacu pada UU N0.31/2004 tentang Perikanan, proses penciptaan nilai tambah dalam sektor
perikanan juga bisa ditempuh dengan menerapkan bioteknologi. Yakni dengan cara mengekstraksi
senyawa aktif (bioactive substances) atau produk alamiah (natural products) dari biota perairan,
kemudian memprosesnya menjadi ratusan produk industri makanan dan minuman, obat-obatan (farmasi),
kosmetik, cat, film, bioenergi, kertas, dan lainnya. Sementara itu, tugas subsistem penanganan dan
pengolahan (pasca panen) adalah untuk menjamin, bahwa kualitas, keamanan (safety), rasa (taste), bentuk
sajian, dan kemasan (packaging) ikan dan produk perikanan memenuhi segenap persyaratan dan selera
konsumen (pasar). Pada subsistem inilah, proses peningkatan nilai tambah terhadap ikan dan produk
perikanan berlangsung (Dahuri, 2009).
Pelaksanaan program rantai dingin (cold-chain system) untuk komoditas-
komoditas perikanan bernilai ekonomis penting, yang sudah dirintis DKP sejak
2001 mesti terus diperkuat dan dikembangkan. Program perawatan dan
pembangunan pelabuhan perikanan, tempat pendaratan ikan, dan pasar ikan yang
memenuhi HACCP, persyaratan higienis, dan persyaratan mutu produk perikanan
secara internasional lainnya harus juga terus ditumbuhkembangkan. Program
peningkatan kesadaran publik (produsen, pedagang perantara, konsumen, dan
lainnya) tentang arti penting mutu dan kemanan ikan dan produk perikanan juga
mesti terus digalakkan. Akhirnya, kerja sama sinergis antar seluruh stakeholders
perikanan menjadi kunci keberhasilan pembangunan perikanan nasional, terutama
yang bertalian dengan aspek penanganan dan pengolahan serta pemasaran hasil
perikanan (Dahuri, 2009).


BAB VII
PENUTUP


a. Kesimpulan
Ikan bawal putih memiliki nama latin Pampus Argenteu. Bentuk badannya pipih
dengan badannya yang tinggi sehingga hampir menyerupai bentuk belah ketupat.
Ikan bawal putih memiliki bobot 500 gram, namun ada juga yang mencapai bobot
1,5 hingga 2 kg per ekor.
Lokasi budidaya yang dipilih sebagai kawasan untuk pengembangan budidaya ikan
bawal putih sistem KJA harus memperhatikan daya dukungnya dan juga harus
memenuhi kebutuhan faktor fisik, kimiawi dan kualitas air yang dibutuhkan
komoditi budidaya serta salinitas yang sesuai.
Bibit dewasa yang banyak dibeli para petani yang berbobot 150 - 200 gram, karena
bibit yang telah memiliki berat badan sebesar ini, cukup tahan terhadap kondisi
cuaca dan tempat. Untuk memproduksi ikan bawal diperlukan beberapa prasarana
pokok yang memenuhi persyaratan sesuai dengan sifat-sifat biologis ikan bawal.
Prasaranaini meliputi hatchery, kolam pemeliharaan induk, kolam pendederan, dan
kolam pembesaran atau keramba jaring apung (KJA). Padat tebar berkaitan erat
dengan pertumbuhan dan angka kelulushidupan. Apabila kepadatan terlalu tinggi
pertumbuhannya lambat akibat adanya persaingan ruang, oksigen dan pakan.
Penebaran benih seharusnya dilakukan saat pagi dan sore.Pakan yang diberikan
harus memiliki nilai gizi yang cukup seperti Pakan alami berupa rotifera
brachionus plikatilis dan artemia sedangkan pakan buatan adalah pellet yang
ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulut ikan . Hal ini akan mempercepat
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Ada dua cara pengendalian hama
dan penyakit yang bisa dilakukan, yaitu pencegahan dan pengobatan.
Budidaya ikan bawal putih membutuhkan waktu 3 6 bulan untuk mencapai
panen. Masa panen ikan bawal putih dapat dilakukan dalam dua siklus hidup,
yaitu pada masa larva dan masa dewasa atau layak konsumsi. Pada pasca panen
merupakan proses peningkatan nilai
tambah terhadap ikan dan produk perikanan berlangsung.

b. Saran
Adapun saran yang akan dikemukakan adalah agar benihnya sendiri dapat
diproduksi di dalam negeri karena benihnya sendiri masi diimpor dari Taiwan.
Kemudian untuk budidayanya harus diperluas karena permintaan pasar yang tinggi
akan ikan bawal ini.



DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. Ikan Bawal. Asamudra.wordpress.com [28 Februari 2012]

Anonymous. 2010. Bawal Cocok Untuk Usaha Kecil. www.tripod.com [28
Februari 2012]

Anonymous. 2009. Budidaya Ikan Bawal. www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
[28 Februari 2012]

Barus, T.A. 2004. Pengantar limnology. USU Press. Medan
Dahuri, R. 2009. Mengelola pasca Panen Hasil perikanan. Majalahsamudra.at.ua
[28 Februari 2012]
Evy, R. 2001. Usaha Perikanan Indonesia. PT Mutiara Sumber Widya. Jakarta
Junianto, A. 2011. Daerah Intersidal Berbatu. AsharJunianto14.Blogspot.com
[28 Februari 2012]
Rahardjo, A. 2010.
Manajemen Budidaya Ikan System KJA yang Berkelanjutan di Danau /
Waduk.
BenihIkan.net [28 Februari 2012]

Rustadi. 2011. Pembenihan Ikan Bawal
Bintang. rustadi1.budidayaperikanan.blogspot.com
[28 Februari 2012]

Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan Ikan Peliharaan di Indonesia.
PT Sastra Hudaya. Bogor