Anda di halaman 1dari 2

Faktor-faktor dalam Komunikasi Kelompok

pada Pelayanan Kesehatan


Oleh Anindya Giodhani, 1406578735

Referensi: Naidoo, J. & Wills, J. (2000) Health Promotion Foundation for Practice
2nd Edition. Harcourt Publishers Limited: London.
Northouse, L. & Northouse P. (1997) Health Communication Strategies
for Health Professionals 3rd Edition. Appleton & Lange: Stamford,
Connecticut.
Corcorona, N. (2007) Communicating Health Strategies for Health
Promoting. Sage Publications Ltd: London.

Komunikasi yang terjadi antara petugas kesehatan pasien pasien dipengaruhi oleh peran
kedua belah pihak di dalam suatu hubungan dan oleh ekspektasi yang masing-masing
mereka pegang. Beberapa peran sudah jelas mapan dan diterima dalam suatu organisasi,
dimana yang lainnya berarti kedua-duanya. Untuk menjalin komunikasi yang baik
antara petugas kesehatan dengan pasien, dibutuhkan kolaborasi yang baik antara
petugas kesehatan antar disiplin dan profesi maupun petugas kesehatan dengan pasien.
Pada kolaborasi komunikasi, tidak semua grup strategi kesehatan sukses. Seperti partner
yang tidak lagi fokus dan menjadi membicarakan belanjaan. Tidak mengejutkan, ada
dokumentasi yang tidak terpenuhi tetapi ada beberapa rintangan umum yang dapat
muncul:
1. Kurang komitmen,
2. Pandangan yang berbeda,
3. Persaingan antar profesi terutama jika berbeda dalam statusnya,
4. Ketidakseimbangan kontribusi yang diberikan,
5. Kurangnya kemampuan yang tepat,
6. Kurangnya berbagi, tujuan yang tercapai, dll.
Banyak faktor yang berkaitan pada pekerjaan inter-profesional. Beattie (1994) membagi
menjadi dua fakta rintangan:
1. Persaingan profesi dan cara bekerja
2. Relasi antar profesi seperti hubungan partner dengan kehidupan pribadi,
pertemanan, dan kepercayaan.
Promosi kesehatan membutuhkan tim kerja yang baik dan koordinasi antara kolega
dalam divisi kita, tetapi juga dengan disiplin dan profesi lain. The Health of the Nation
(DoH 1993) pada kelompok kesehatan mengindentifikasi faktor umum yang akan
membangun komunikasi yang baik antar profesi:
1. Setiap anggota harus cukup waktu dalam menyediakan pada kegiatan antar
instansi,
2. Koordinator dapat membantu untuk mempertahankan komitmen dan untuk
mengidentifikasi potensi anggota,
3. Anggota harus cukup status dan ahli dalam organisasi untuk berpengaruh dalam
pengambilan keputusan,
4. Harus ada visi dan misi kesehatan,
5. Harus ada tujuan dan target untuk promosi kesehatan,
6. Harus ada kolaborasi dan mekanisme untuk menyelesaikan sesuatu,
7. Penting untuk mendiskusikan pencapaian.
Thompson & Stachenko (1994) mengidentifikasi beberapa faktor yang memfasilitasi
hubungan partner dalam kesehatan:
1. Proses pembangunan hubungan parter (partnership-building),
2. Jaringan pada stimulasi dan dukungan untuk berubah,
3. Sumber material untuk mendukung proses,
4. Dedikasi seseorang,
5. Komunikasi yang terencana.