Anda di halaman 1dari 4

Analisis Litologi, Lokasi, dan Tata Guna Lahan Pantai Seruni

Terhadap Kelestarian Pantai Seruni, Kecamatan Bantaeng, Sulawesi


Selatan

Clarista Angela
21100113130117
Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Abstract
Pantai Seruni merupakan salah satu pantai yang mengalami abrasi hal ini dapat dilihat dari rusaknya bangunan ataupun tanggul
pada pantai serta terjadinya perubahan garis pantai. Lokasinya berada di satuan geomorfologi pedataran Kabupaten Bantaeng
terletak pada bagian selatan dengan ketinggian kurang dari 50 meter dari permukaan laut. Wilayah satuan ini menempati lebih
kurang 15% dari luas kabupaten yang melampar dari barat ke timur dengan lebar 1,5 km hingga 0,4 km dari pantai. Satuan ini
disusun oleh endapan alluvial dan sebagian dari Batuan Gunungapi Lompobattang.Secara umum litologi yang menyusun daerah
penelitian berupa endapan alluvial dimana penyebaran satuan ini di sepanjang sungai Lantebong. Endapan alluvial sungai pada
daerah penelitian berupa material pasir dan batu. Kawasan pantai Seruni merupakan salah satu pantai yang rawan terhadap abrasi
hal ini disebabkan oleh kondisi pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Flores sehingga energi gelombang yang tiba pada
garis pantai sangat besar. Litologi penyusun daerah penelitian berupa endapan alluvial, sehingga garis pantai pada daerah
penelitian mudah untuk berubah.
Kata Kunci: Sulawesi Selatan, Kab. Bantaeng, Pantai Seruni, Abrasi,Tata guna lahan, Endapan Alluvial


Pendahuluan
Kabupaten Bantaeng merupakan wilayah
pesisir dengan keindahan pantai yang cukup menarik
namun sebagian besar wilayah pesisir telah
mengalami kerusakan yang disebabkan oleh faktor
alam seperti gelombang, arus yang dapat
menyebabkan terjadinya abrasi serta suplai sedimen
yang dapat merubah morfologi pantai. Aktifitas
manusia seperti penambahan lahan dan pembangunan
disekitar pantai merupakan salah satu faktor yang
mengurangi keindahan pantai di sekitar wilayah
pesisir dan menyebabkan garis pantai di sekitar
wilayah pesisir berubah. Latar Belakang karena
Pantai Seruni merupakan salah satu objek wisata dan
sumber penghasilan warga sekitar sehingga harus
dilestarikan. Tujuan untuk mengetahui proses apa
saja yang terjadi di Pantai Seruni demi menjaga
kelestarian pantai.

Tinjauan Pustaka
Pantai adalah jalur atau bidang yang
memanjang, tinggi serta lebarnya dipengaruhi oleh
pasang surut dari air laut, yang terletak antara daratan
dan lautan (Thornbury, 1969). Berdasarkan
kenampakannya, klasifikasi pantai dari yang sifatnya
klasik. Klasifikasi ini dikemukakan oleh Johnson
(1919) yang didasarkan pada karakteristk geomorfik
yang disebabkan oleh ayunan muka laut. Johnson
(1919) mengelompokkan pantai menjadi pantai
tenggelam, pantai naik, pantai netral, dan pantai
campuran.
Pantai Tenggelam (Submergence Coast)
adalah pantai yang dibentuk karena penenggelaman
daratan atau naiknya muka laut. Dicirikan oleh garis
garis pantai yang tidak teratur, adanya pulau-pulau
didepan pantai, teluk yang dalam, dan lembah-
lembah yang turun.
Pantai Naik (Emergence Coast) adalah
pantai yang dibentuk oleh majunya garis pantai atau
pun turunnya muka laut. Pantai ini dicirikan oleh
garis pantai yang relative lurus, relief-relief rendah,
terbentuknya undak-undakan pantai dan gosong
pantai atau tanggul-tanggul dimuka pantai.
Kenampakan pada peta topografi adalah garis pantai
yang relative lurus ditandai dengan kontur yang
lurus, pantai yang relative landai, perkampungan
umumnya relative sejajar dengan garis pantai
Pantai Netral adalah pantai yang tidak
mengalami penenggelaman ataupun penaikan dan
biasanya dicirikan oleh adanya garis pantai yang
relative lurus-lurus, pantainya landai dan ombak tidak
GMRF-BADP-004-04
besar. Kenampakan pada peta topografi adalah
adanya delta plain, alluvial plain, biasanya garis
kontur renggang, bentuk garis pantainya relative
lurus melengkung, sungai dimuara mempunyai
banyak cabang, yang seolah-olah mempunyai pola
sungai berbentuk pohon (dendritik).
Pantai Campuran adalah pantai yang
mempunyai kenampakan lebih dahulu terbentuk
daripada yang lain. Seperti kenampakan undak
pantai, lembah yang tenggelam, yang merupakan
hasil dari naik turunnya permukaan air laut.
Kenampakan pada peta topografi adalah adanya
dataran pantai, teras-teras (emergence), adanya
teluk-teluk dengan kontur yang relative rapat
(submergence), dan perkampungan tidak teratur


Geologi Regional Sulawesi Selatan
Secara regional, geologi Pulau Sulawesi dan
sekitarnya termasuk kompleks, yang disebabkan oleh
proses divergensi dari tiga lempeng litosfer, yaitu
Lempeng Australia yang bergerak ke utara, Lempeng
Pasifik yang bergerak ke barat, dan Lempeng Eurasia
yang bergerak ke selatan-tenggara.
Kompleks batuan dasar tersingkap di dua
daerah di bagian barat Sulawesi Selatan, yaitu di
Bantimala dan Barru, tersusun oleh batuan-batuan
metamorf, ultrabasa, dan sedimen. Litologi batuan
metamorf tersebut meliputi amfibolit, eklogit, sekis
mika, kuarsit, klorit-felspar, dan fillit grafit (tHoen
& Zeigler, 1917; Sukamto, 1975,1982; Berry &
Grady, 1987). Dating K/Ar pada conto-conto dari
kedua daerah tersebut menunjukkan bahwa proses
emplacement (alih-tempat) batuan dasar ini terjadi
pada Kapur Awal bagian akhir (Hamilton, 1979;
Hasan, 1991; Wakita et al., 1994). Sekuens tersebut
dilapis-bawahi secara tak-selaras dan diinterkalasi
secara tektonik oleh unit-unit berlitologi metamorf
yang terdiri atas serpih silika merah dan abu-abu,
batupasir dan batulanau felspatik, rijang radiolaria,
peridotit terserpentinisasi, basal, dan diorit (Sukamto,
1975,1982; Hamilton, 1979; van Leeuwen, 1981;
Wakita et al., 1994). Hadirnya batuan metamorf yang
sama di Jawa, Pegunungan Meratus di Kalimantan,
dan di Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa
kompleks batuan dasar di Sulawesi Selatan ini
kemungkinan merupakan fragmen yang terlepas dari
kompleks yang lebih besar, yaitu kompleks akresi
berumur Kapur Awal (Parkinson, 1991).
Formasi Balangbaru
Formasi Balangbaru terdapat di barat Sulawesi
Selatan. Formasi ini melapis-bawahi secara tak-
selaras kompleks batuan dasar, dan tersusun oleh
selang-seling batupasir dan lanau-lempung, dengan
sedikit konglomerat, pebble-pebble batupasir, serta
breksi konglomeratik (Sukamto, 1975,1982; Hasan,
1991). Diperkirakan sedimen-sedimen formasi ini
terbentuk dari Kapur Akhir (Sukamto, 1975,1982;
Hasan, 1991). Struktur graded bedding kadang
ditemukan pada batupasir dan batulempung. Unit-
unit berukuran kasar dari Formasi Balangbaru
mengandung struktur sedimen yang mencirikan
endapan gravity flow, meliputi debris flows, graded
bedding, dan sole marks yang berkemas kacau
(chaotic fabric), yang keseluruhannya
mengindikasikan turbidites (Hasan, 1991).
Formasi Marada
Formasi Marada terdapat di bagian dan timur
Sulawesi Selatan. Formasi ini tersusun oleh suksesi
berselang-seling dari batupasir, batulanau, dan serpih
(van Leeuwen, 1981). Formasi ini diperkirakan
terbentuk pada jaman Kapur Akhir (van Leeuwen,
1981).

Metodologi
Pengambilan data mengenai Pantai Seruni
menggunakan cara studi pustaka di mana informasi
diambil melalui media elektronik menggunakan
koneksi internet. Data yang diambil merupakan data
literatur dan foto citra satelit.

Deskripsi
Morfologi
Daerah Pantai Seruni yang terlihat sebagian besar
merupakan daerah yang sudah mendapatkan aktivitas
manusia seperti jalan yang menjorok ke laut,
pelabuhan kecil, dan bangunan-bangunan sehingga
mungkin bukan merupakan kenampakan asli pantai
seruni.
Berdasarkan citra satelit (gambar 4), Pantai
Seruni memiliki bentuk yang melengkung tapi
relative lurus dan bentuknya stabil dengan arah
gelombang yang mengarah ke pantai. Di sebelah
timur dan barat pantai terdapat sungai yang diduga
menyuplai suplai sedimen pantai. Daerah coast pantai
terletak sampai sekitar 20 m dari shore line di mana
daerah coast tersebut sudah dibangun jalan dan
bangunan. Pada lepas pantai atau bagian depan
pantai, tidak terdapat endapan atau pulau-pulau kecil.
Berdasarkan kepadatan dan keteraturan bagunan
sekitar pantai, diperkirakan Pantai Seruni memiliki
kelandaian yang landai. Berdasarkan literature,
gelombang pantai cukup kuat akibat berhadapan
dengan Laut Flores yang bergelombang kuat.
Berdasarkan kelandaian yang landai dan bentuk
pantai yang melengkung tapi relative lurus,
diperkirakan Pantai Seruni termasuk Pantai Naik
berdasarkan klasifikasi klasik. Ketiadaan endapan
atau pulau kecil di depan pantai diperkirakan karena
kekuatan ombak yang besar sehingga mengerosi
endapan.
Petrologi
Menurut Sukamto dan Supriatna (1982) material
penyusun endapan alluvial dan pantai terdiri dari
kerikil, pasir, lempung, lumpur dan batugamping
(Qac). Material penyusun satuan alluvial pada daerah
penelitian berupa material kerikil, pasir hingga
lempung yang menyebar disepanjang sungai
Lantebong hingga pantai Seruni. Berdasarkan
kesamaan tersebut maka satuan alluvial pada daerah
Pantai Seruni disamakan dengan satuan alluvial
(Qac) yang berumur Holosen.

Pembahasan
Pantai Seruni merupakan salah satu pantai yang
mengalami abrasi hal ini dapat dilihat dari rusaknya
bangunan ataupun tanggul pada pantai serta
terjadinya perubahan garis pantai. Tata guna lahan
pantai Seruni adalah tempat rekreasi bagi masyarakat
sekitar, pusat pembangunan serta tempat
pembudidayaan rumput laut Pantai ini telah
mendapat perhatian yang cukup dari Pemda setempat
dengan dibuatnya tanggul pemecah gelombang
sepanjang pesisir pantai.
Berdasarkan kandungan airnya maka jenis sungai
yang mengalir pada daerah penelitian yaitu sungai
permanen dimana debit airnya selalu tetap. Sungai-
sungai yang mengalir pada satuan geomorfologi ini
umumnya berstadia dewasa hingga tua yang
mempunyai penampang lembah berbentuk huruf U
dan material dasar berupa pasir. Sungai-sungai
mengalir dari utara ke selatan dan bermuara Laut
Flores. ( Khalil, 2000)
Secara umum litologi yang menyusun daerah
penelitian berupa endapan alluvial dimana
penyebaran satuan ini di sepanjang sungai
Lantebong. Endapan alluvial sungai pada daerah
penelitian berupa material pasir dan batu. Material
yang lapuk umumnya berwarna coklat dan endapan
alluvial pantai berupa material pasir. (Gambar 3)
Berdasarkan Khalil (2000), satuan regional batuan di
Kabupaten Bantaeng ke dalam Batuan Gunungapi
Lompobattang yang penyebarannya cukup luas di
Mandala Sulawesi Barat bagian selatan. Sebaran
endapan ini dijumpai terutama di daerah dataran
rendah bagian selatan kabupaten, sepanjang tepi
pantai dan aliran sungai. Endapan pasir tersebut
berasal dari tarnsportasi sungai dimana terdapat dua
muara sungai yaitu Sungai Lantebong dan Sungai
Tangngatangnga.
Berdasarkan lokasi pantai yang dekat dengan laut
Flores yang memiliki energi gelombang yang besar,
litologi yang menyusun pantai, kawasan pantai
Seruni menjadi salah satu pantai yang rawan terhadap
abrasi. Secara umum material penyusun pantai
tersebut merupakan material pasir halus hingga kasar.
dan terdapat dua kanal yang membawa material pasir
ke pantai. Litologi yang menyusun Pantai Seruni
merupakan litologi yang tidak resisten sehingga
sangat mudah tererosi oleh arus yang datang ke
pantai. Abrasi di Pantai Seruni juga dapat dipercepat
akibat kegiatan manusia di sekitar pantai. Daerah
pantai menjadi tempat dibangunna rest area dan
sarana pariwisata yang proses pembangunannya telah
mengikis litologi Pantai Seruni.
Menurut Lora Rantetadung (2012), perubahan
panjang garis pantai di daerah Pantai Seruni
mengalami perubahan di mana tahun 2006 sepanjang
1,7 km menjadi 2,2 km pada tahun 2009 atau
mengalami pertambahan panjang 0,5 km. Hal
tersebut dapat menandakan distribusi sedimen yang
memperluas daerah pantai dan/atau suplai sedimen
yang mencukupi sehingga panjang pantai bertambah.
Berdasarkan data di atas dapat diperkirakan bahwa
tidak hanya proses abrasi yang terjadi pada Pantai
Seruni, tapi juga pertumbuhan pantai akibat distribusi
dan suplai sedimen. Selain itu, pemerintah setempat
telah melakukan penanaman mangrove untuk
mencegah abrasi lanjutan pada tahun 2013.

Kesimpulan
Kelestarian dan keberlangsungan Pantai Seruni
sedang terancam akibat lokasi dan litologi yang
rentan terhadap abrasi serta tata guna lahan yang
dapat mempercepat proses abrasi. Selain abrasi,
proses lain yang terjadi adalah penambahan panjang
pantai. Pemda setempat sudah berusaha mencegah
abrasi lanjutan dengan dibuatnya tanggul pemecah
gelombang sepanjang pesisir pantai dan penanaman
mangrove meskipun masih banyak aktivitas manusia
di Pantai Seruni yang dapat mempercepat abrasi. Hal
tersebut berarti faktor yang paling menentukan
keberlangsungan dan kelestarian Pantai Seruni adalah
kegiatan manusia. Jika aktivitas pembangunan dan
pariwisata terus berjalan tanpa tindakan konservasi,
maka abrasi akan mengikis Pantai Seruni lebih lanjut.


Referensi
[1] Ir. Khalil A.M.,dkk. (2000) Laporan Penyelidikan Geologi
Terpadu Daerah Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi
Selatan Bidang Geologi dan Sumberdaya Mineral Departemen
Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Selatan: Makassar
[2] Lora Rantetadung, dkk. (2012). Pengaruh Distribusi Sedimen
Terhadap Perubahan Garis Pantai Seruni Daerah Tappanjeng
Kecamatan Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan. Teknik
Geologi Universitas Hasanuddin: Makassar
[3] Rab Sukamto dan S. Supriatna (1982), Geologi Lembar Ujung
Pandang, Benteng dan Sinjai. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi Bandung: Bandung
[4] www.antarsulsel.com/berita/42465/pesisir-bantaeng-akan-
ditanami-manggrove (diakses pada Selasa, 29 April 2014 pukul
00:47)
[5]www.bybudimanyusuf.blogspot.com/2010/04/geologi-sulawesi-
selatan.html (diakses pada Sabtu, 3 Mei 2014 pukul 19:19)

Lampiran


Gambar 1. Peta Tunjuk lokasi Pantai Seruni (Lembar Bantaeng
nomor 2010 34, Bakosurtanal, Edisi I Tahun 1991) dan Google
Map



Gambar 2. Morfologi Daerah Pantai Seruni









Gambar 3. Endapan alluvial pada Pantai Seruni




Gambar 4. Citra Satelit Pantai Seruni