Anda di halaman 1dari 26

Diagnosis banding

Berdasarkan gambaran radiologi, diagnosis banding osteoporosis adalah sebagai


berikut:
Osteomalasia
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai oleh kurangnya
mineral dari tulang pada orang dewasa (menyerupai penyakit rickets pada anak-
anak), berlangsung kronis dan dapat terjadi deformitas skeletal yang disebabkan oleh
defisiensi vitamin D. Pada gambaran radiologis akan tampak :
Penurunan densitas tulang secara umum
Loosers Zone (pseudofraktur) merupakan pita translusen yang sempit, pada
tepi kortikal, dan merupakan tanda diagnostik untuk osteomalasia. Kelainan
ini paling sering terlihat pada iga,skapula, ramus pubis, dan aspek medial
femur proksimal.
Vetebra bikonkaf
Perlunakan tulang

Pseudofraktur pada Osteomalasi
Penyakit Cushing
Harvey Cushing, lebih dari 50 tahun yang lalu telah mengamati bahwa
hiperkortisolisme berhubungan erat dengan penipisan massa tulang. Steroid
menghambat sintesis kolagen tulang oleh osteoblast yang telah ada, dan mencegah
transformasi sel-sel prekursor menjadi osteoblast yang dapat berfungsi dengan baik.
Di samping itu, steroid juga sangat mereduksi sintesis protein. Gambaran
histomorfometrik menunjukkan penurunan tingkat aposisi mineral, dan penipisan
dinding tulang, yang diduga karena umur osteoblast yang semakin pendek. Efek
steroid terhadap osteoblast juga melalui gangguan atas respons osteoblast terhadap
hormon paratiroid, prostaglandin, sitokin, faktor pertumbuhan, dan 1,25-dihydrozy
vitamin D. Sintesis dan aktivitas faktor-faktor parakrin lokal mungkin juga terganggu.
pada gambaran radiologis tampak trabeculae vertikal maupun horisontal sama-sama
menipis sehingga menghasilkan gambaran translusens yang merata. Pembentukan
banyak pseudocallus di tempat stress fracture merupakan tanda khas yang penting
pada osteoporosis akibat steroid. Pseudocallus tersebut terutama ditemukan pada
ujung vertebrae yang kolaps atau di sekitar stress fracture di iga atau pelvis.
Gambaran khas ini muncul sebagai akibat penurunan aktivitas osteoblastik dan
peningkatan produksi callus kartilago yang kemudian mengalami mineralisasi secara
tidak beraturan.

A B
Gambaran Radiologis Tulang Vetebrae pada Cushings Syndrome
(A. Biconcave end plate B. intravertebral vacuum cleft sign)

Multiple Myeloma
Multiple myeloma merupakan tumor ganas primer pada sumsum tulang,
dimana terjadi infiltrasi pada daerah yang memproduksi sumsum tulang pada
proliferasi sel-sel plasma yang ganas. Tulang tengkorak, tulang belakang, pelvis, iga,
skapula, dan tulang aksial proksimal merupakan yang terkena secara primer dan
mengalami destruksi sumsum dan erosi pada trabekula tulang; tulang distal jarang
terlibat. Saat timbul gejala sekitar`80 - 90 % diantaranya telah mengalami kelainan
tulang. Pada gambaran radiologis akan tampak :
Osteoporosis umum dengan penonjolan pola trabekular tulang, terutama pada
tulang belakang, yang disebabkan oleh keterlibatan sumsum pada jaringan
mieloma. Hilangnya densitas`tulang mungkin merupakan tanda radiologis
satu- satunya pada penyakit ini. Fraktur patologis sering dijumpai.
Fraktur kompresi pada badan vertebra
Lesi-lesi litik punched out yang menyebar dengan batas yang jelas, lesi yang
berada di dekat korteks menghasilkan internal scalloping


A B

C
Gambaran Radiologis Multiple Myoma
(A.Deformitas pada vertebra L4 B. Lesi myeloma berbatas tegas C.Fraktur
patologis pada diaphysis)


Hyperparatyroid
Hiperparatiroidisme terdapat dalam dua bentuk: primer dan sekunder.
Bentuk primer adalah karena fungsi yang berlebihan dari kelenjar paratiroid,
biasanya adalah adenoma. Namun, sejak dikenalnya hemodialisis, penyebab
yang lebih umum untuk hiperparatiroidisme adalah bentuk sekundernya, yaitu
karena penyakit ginjal kronis, terutama penyakit glomerular. Penyakit tulang
terlihat pada pasien ini biasanya disebut sebagai osteodystrophy ginjal.
Fungsi utama dari parathyroid hormon adalah untuk mempertahankan
tingkat ion kalsium yang beredar. Konsentrasi ion kalsium yang memadai
sangat diperlukan untuk sistem pendukung tulang, seperti jantung. Selain itu,
fungsi utama parathyroid hormon adalah untuk merangsang osteoklas, yang
mengisap tulang dan melepaskan ion kalsium ke dalam aliran darah.
Parathyroid hormon juga bekerja pada usus kecil untuk meningkatkan
penyerapan kalsium melalui usus. Parathyroid hormon memiliki efek
tambahan pada tubulus pada ginjal,dimana menyebabkan ekskresi fosfat dan
penyerapan kalsium. Kedua mekanisme ini menyebabkan peningkatan tingkat
kalsium serum.
Gambaran radiologis pada parathyroid adalah sebagai berikut :
Subperiosteal bone resorption (terdapat pada proximal dan medial jari
ke II dan III) (A)
Rugger jersey spine (B)
Osteopaenia
Brown tumors (C)
Terminal tuft erosion (D)
Salt and pepper sign (pada tulang tengkorak) (E)

A B C

D E
Gambaran Radiologis Hiperparatiroidisme

Pemeriksaan Penunjang

1. Foto Polos
Pemeriksaan foto polos adalah pemeriksaan radiologis yang hanya
dapat mendeteksi kehilangan massa tulang yang sudah mencapai 30%
sehingga diagnosis osteoporosis sering terlewatkan dengan pemeriksaan ini.
Pada penderita osteoporosis terjadi abnormalitas turn over dari tulang akibat
aktivitas osteoklast lebih tinggi dari pada osteoblast, akibatnya terjadi
kehilangan massa tulang yang lebih besar dari pada pembentukannya.

Osteoporosis pada tulang femur

2. Bone Mineral Density Test
Pengukuran massa tulang (Bone Mineral Density/ BMD) dapat
memberi informasi massa tulangnya saat itu, dan terjadinya risiko patah
tulang di masa yang akan datang. Salah satu prediktor terbaik akan terjadinya
patah tulang osteoporosis adalah besarnya massa tulang. Pengukuran massa
tulang dilakukan oleh karena massa tulang berkaitan dengan kekuatan tulang.
Ini berarti semakin banyak massa tulang yang dimiliki, semakin kuat tulang
tersebut dan semakin besar beban yang dibutuhkan untuk menimbulkan patah
tulang. Untuk itu maka pengukuran massa tulang merupakan salah satu alat
diagnosis yang sangat penting. Selama 10 tahun terakhir, telah ditemukan
beberapa teknik yang non-invasif untuk mengukur massa tulang.
Pemeriksaan X-ray absorptiometry menggunakan radiasi sinar X yang
sangat rendah. Selain itu keuntungan lain densitometer X-ray absorptiometry
dibandingkan DPA (Dual Photon Absorptiometry) dapat mengukur dari
banyak lokasi, misalnya pengukuran vertebral dari anterior dan lateral,
sehingga pengaruh bagian belakang corpus dapat dihindarkan, sehingga
presisi pengukuran lebih tajam.
Ada dua jenis X-ray absorptiometry yaitu SXA (Single X-ray
Absorptiometry) dan DEXA (Dual Energy X-ray Absorptiometry). Saat ini
gold standard pemeriksaan osteoporosis pada laki-laki maupun osteoporosis
pascamenopause pada wanita adalah DEXA, yang digunakan untuk
pemeriksaan vertebra, collum femur, radius distal, atau seluruh tubuh.

Tujuan dari pengukuran massa tulang:
a. Menentukan diagnosis.
b. Memprediksi terjadinya patah tulang.
c. Menilai perubahan densitas tulang setelah pengobatan atau senam badan.

Bagian tulang seperti tulang punggung (vertebralis) dan pinggul (Hip)
dikelilingi oleh jaringan lunak yang tebal seperti jaringan lemak, otot, pembuluh
darah, dan organ-organ dalam perut. Jaringan-jaringan ini membatasi penggunaan
SPA (Single Photon Absorptiometry) atau SXA, oleh karena dengan sistem ini
tidak dapat menembus jaringan lunak tersebut, akan tetapi hanya dapat digunakan
untuk tulang yang berada dekat kulit. DEXA atau absorptiometri X-ray energi
ganda memungkinkan kita untuk mengukur baik massa tulang di permukaan
maupun bagian yang lebih dalam. Dalam pemeriksaan massa tulang dengan
densitometer DEXA kita akan mendapatkan informasi beberapa hal tentang
densitas mineral tulang antara lain:
a. Densitas mineral tulang pada area tertentu dalam gram/cm2.
b. Perbandingan kadar rerata densitas mineral tulang dibandingkan dengan
kadar rerata densitas mineral tulang dengan orang dewasa etnis yang sama,
yang disebut dengan T Score dalam %.
c. Perbandingan kadar rerata densitas mineral tulang dibandingkan dengan
kadar rerata densitas mineral tulang orang dengan umur yang sama dan etnis
yang sama, disebut Z Score dalam %.

Ada empat kategori diagnosis massa tulang (densitas tulang) berdasarkan T-score
adalah sebagai berikut:
a. Normal: nilai densitas atau kandungan mineral tulang tidak lebih dari 1 selisih
pokok di bawah rata-rata orang dewasa, atau kira-kira 10% di bawah rata-rata
orang dewasa atau lebih tinggi (T-score lebih besar atau sama dengan -1 SD).
b. Osteopenia (massa tulang rendah): nilai densitas atau kandungan mineral
tulang lebih dari 1 selisih pokok di bawah rata-rata orang dewasa, tapi tidak
lebih dari 2,5 selisih pokok di bawah rata-rata orang dewasa, atau 10 - 25% di
bawah rata-rata (T-score antara -1 SD sampai -2,5 SD).
c. Osteoporosis: nilai densitas atau kandungan mineral tulang lebih dari 2,5
selisih pokok di bawah nilai ratarata orang dewasa, atau 25% di bawah rata-
rata atau kurang (T-score di bawah -2,5 SD).
d. Osteoporosis lanjut: nilai densitas atau kandungan mineral tulang lebih dari
2,5 selisih pokok di bawah rata-rata orang dewasa, atau 25% di bawah rata-
rata ini atau lebih, dan disertai adanya satu atau lebih patah tulang
osteoporosis (T-score di bawah -2,5 SD dengan adanya satu atau lebih patah
tulang osteoporosis).


Kategori Diagnosis Massa Tulang (densitas tulang) Berdasarkan T-score
Pemeriksaan DEXA dianjurkan pada:
a. Wanita lebih dari 65 tahun dengan faktor risiko.
b. Pascamenopause dan usia < 65 tahun dengan minimal 1 faktor risiko
disamping menopause atau dengan fraktur.
c. Wanita pascamenopause yang kurus (Indek Massa Tubuh < 19 kg/m2).
d. Ada riwayat keluarga dengan fraktur osteoporosis.
e. Mengkonsumsi obat-obatan yang mempercepat timbulnya osteoporosis.
f. Menopause yang cepat (premature menopause).
g. Amenorrhoea sekunder > 1 tahun.
h. Kelainan yang menyebabkan osteoporosis seperti:
Anorexia nervosa
Malabsorpsi
Primary hyperparathyroid
Post-transplantasi
Penyakit ginjal kronis
Hyperthyroid
Immobilisasi yang lama
Cushing syndrome
Berkurangnya tinggi badan, atau tampak kiphosis.
Selama pemeriksaan BMD dilakukan, energi berkekuatan sangat randah
dipancarkan ke seluruh tubuh, program komputer bekerja mengevaluasi data dan
memungkinkan pemeriksa menilai kepadatan tulang. Walaupun saat ini belum
ditemukan pemeriksaan kepadatan tulang yang 100 % akurat, pemeriksaan BMD
merupakan pemeriksaan yang paling penting untuk memprediksi fraktur yang akan
terjadi di masa yang akan datang.

3. Bone Scan
Bone Scan merupakan pemeriksaan yang berbeda dengan BMD walaupun
terkadang bone scan sering disalahgunakan untuk menilai kepadatan tulang.
Pemeriksaan ini meliputi penyuntikan suatu bahan yang memugkinkan scanner untuk
mengidentifikasi perbedaan kondisi dari berbagai area di tulang. Bone Scan dapat
menunjukkan perubahan perubahan pada jaringan tulang yang dapat
mengidentifikasi adanya kanker, inflamasi atau fraktur yang baru.

Tampak Hot Area pada Bone Scan Upper Sacrum Bilateral Simetris
Selain itu, beberapa parameter laboratorium lainnya juga dapat digunakan
sebagai rujukan untuk melihat ada tidak nya kelainan tulang, dapat berupa
pemeriksaan darah maupun pemeriksaan urine.
Berikut adalah beberapa pemeriksaan darah yang paling sering dilakukan:
Kadar kalsium darah
Kadar vitamin D darah
Fungsi thyroid
Kadar hormon parathyroid
Kadar estradiol untuk menentukan estrogen dalam tubuh (pada wanita)
Tes follicle stimulating hormone (FSH) untuk menegakkan status menopause
Kadar testosteron (pada pria)
Kadar osteocalcin untuk mengukur pembentukan tulang
Pemeriksaan urine yang paling sering dilakukan adalah:
Urin koleksi selama 24 jam untuk pengukuran metabolism kalsium.
Penatalaksanaan
National Osteoporosis Foundation (NOF) merekomendasikan bahwa terapi
farmakologis harus diberikan untuk wanita post menopause dan laki-laki di atas 50
tahun atau lebih dengang :
- Fraktur panggul atau tulang belakang
- T-score -2.5 atau kurang pada pangkal femur atau tulang belakang setelah
evaluasi yang tepat untuk menyingkirkan penyebab sekunder
- Massa tulang yang rendah ( T-score antara -1,0 dan -2,5 pada pangkal femur
dan tulang belakang) dan kemungkinan terjadinya fraktur pada panggul 3%
atau lebih dalam 10 tahun atau kemungkinan terjadinya osteoporosis major
yang berhubungan dengan fraktur 20% atau lebih dalam 10 tahun berdasarkan
US adapted WHO algorithm.
Guidline dari American Association of Clinical Endocrinologist ((AACE) yang
dikeluarkan tahun 2010 mengeluarkan rekomendasi pemilihat obat untuk terapi
osteoporosis :
- First line agents : alendronate, risedronate, zoledronic acid, denosumab
- Second line agent : ibandronate
- Second or third line agent : raloxifene
- Last line agent : calcitonin
- Penatalaksanaan pada pasien dengan risiko yang sangat tinggi untuk
terjadinya fraktur / bila pengobatan menggunakan bisphosponate gagal :
teriparatide
Tidak ada penelitian yang menyebutkan kombinasi antara 2 obat/ lebih
memiliki efek yang lebih baik untuk mencegah terjadinya fraktur dibandingkan
pengobatan menggunakan 1 jenis obat saja. AACE guidelines menyarankan untuk
menghindari kombinasi terapi sampai efek terapi kombinasi pada fraktur sudah
dimengerti sepenuhnya.
Farmakologis
Biphosphonate
Biphosphonate merupakan obat yang sering digunakan dalam terapi
osteoporosis. Biphosphonate oral harus diberikan setelah puasa yang panjang
(biasanya pada pagi hari) dan setelah minum obat harus meminum air segelas penuh
(untuk mencegah obat menempel pada esophagus). Selain minum air, tidak boleh ada
makanan yang masuk selama 30 menit (untuk alendronate dan risedronate) atau 60
menit (untuk ibandronate)
Kontarindikasi biphosphonate hipersensitivitas atau hipokalemia. Penggunaan
biphosphonate harus hati-hati terutama pasien dengan penurunan fungsi ginjal (GFR
< 30 ml/ menit untuk risedronate dan ibandronate atau kurang 35 ml/ menit untuk
alendronate dan zoledronate). Terdapat bukti bahwa alendronate dan risedronate
aman dan efektif untuk pasien dengan penurunan fungsi ginjal yang moderate.
Biphosphonate oral harus hati-hati digunakan pada pasien dengan penyakit GI
yang aktif, ketidakmampuan untuk mengikuti dosis regimen untuk pemakaian oral
(ketidakmampuan untuk tetap tinggal sampai 30-60 menit), kelainan anatomis/fungsi
esophagus (stricture/achalasia).
Penggunaan intravena nitrogen-containing biphosphonate seperti ibandronate
dan zoledronate, dapat menyebabkan reaksi akut pada 30-40% pasien yang menerima
dosis pertama, seperti demam dan nyeri otot. Acetaminophen dapat digunakan untuk
terapi mengurangi reaksi dan untuk mengobati gejala. Pemberian yang cepat
nitrogen-containing biphosphonate dapat mengganggu fungsi ginjal, namun efek ini
tidak didapatkan pada pasien dengan fungsi ginjal normal yang diberikan ibandronate
atau zoledronic acid dengan dosis yang sesuai.
Beberapa pasien dengan terapi oral atau intravena dapat terjadi gangguan
tulang, sendi, atau otot yang berat, namun akan menghilang bila obat diberhentikan.
ONJ (osteonecrosis of the jaw) atau femoral fraktur dapat terjadi namun hubungan
dengan penggunaan biphosphonate tidak jelas. Kemungkinan keganasan pada
esophagus dengan pemakaian biphosphonate oral telah diteliti namun penelitian ada
yang mengatakan tidak ad hubungan, sedangkan penelitian lain mengatakan
ada.Atrial fibrilasi merupakan efek samping yang serius pada penggunaan zoledronic
acid Pivotal Fracture Trial
Alendronate
Dosis
- Dosis inisial : 10 mg/hari (70mg/minggu) untuk pengobatan post menopause
osteoporosis dan 5 mg/ hari (35mg/minggu) untuk mengurangi hilangnya
massa tulang pada wanita yang baru menopause.
- 5mg/hari merupakan dosis yang digunakan untuk terapi corticosteroid
induced osteoporosis pada pria dan estrogen-replete pada wanita, 10 mg/hari
untuk terapi corticosteroid induced osteoporosis pada estrogen-deficient
women.
- Dosis 10mg/hari (70 mg/minggu) digunakan untuk terapi osteoporosis pada
pria
Sediaan
- 5 mg dan 10 mg untuk penggunaan harian serta 35 mg, 70mg, dan 70mg
liquid unit dose yang diberikan per oral satu kali dalam 1 minggu
Efikasi
- Menurunkan risiko terjadinya fraktur tulang belakang dan tempat lain selain
tulang belakang.
- Meningkatkan BMD pada tulang belakang dan panggul dan menghambat
hilangnya massa tulang pada lengan bawah
Efek samping
- Gejala GI tract : heartburn, kesulitan dan sakit menelan, substernal
discomfort.
- Erosi esophagus, ulserasi esophagus dan perdarahan esophagus dapat terjadi
namun jarang.
Lama pengobatan
- Dapat mencapai 10 tahun, terdapat pendapat setelah 4-5 tahun terapi dapat
dilakukan drug holiday selama 1-2 tahun.
Risedronate
Dosis
- Dosis inisial : 5mg/hari untuk mencegah hilangnya massa tulang pada wanita
yang baru menopause, pengobatan postmenopause osteoporosis, dan
mencegah corticosteroid induced osteoporosis pada wanita dan pria.
- 35 mg/minggu atau 150mg/bulan diberikan untuk terapi postmenopause
osteoporosis
Efikasi
- Menurunkan risiko terjadinya fraktur tulang belakang dan tempat lain selain
tulang belakang.
- Meningkatkan BMD pada tulang belakang dan panggul dan menghambat
hilangnya massa tulang pada lengan bawah

Efek samping
- Gejala GI tract, jika terjadi gela GI tract, penggunaan risedronate harus
diberhentikan sampai gejala GI tract menghilang.
Lama pengobatan
- Durasi pengobatan sampai 7 tahun bahkan 9 tahun. Terdapat pendapat bahwa
setelah terapi selama 3 tahun, drug holiday sampai 1 tahun harus diberikan.
Ibandronate
Dosis
- 2,5mg/hari untuk pencegahan dan terapi post menopause osteoporosis,
150mg/ bulan untuk pencegahan dan terapi post menopause osteoporosis,
3mg IV tiap 3 bulan diberikan untuk terapi postmenopause osteoporosis.
- Sediaan : tablet 2,5mg dan 150 mg serta larutan steril 3 mg untuk IV.
Efikasi
- Menurunkan risiko terjadinya fraktur tulang belakang dan tempat lain selain
tulang belakang.
- Meningkatkan BMD pada tulang belakang dan panggul dan menghambat
hilangnya massa tulang pada lengan bawah
Efek samping
- Aman, bila ada cenderung aman dan biasanya mengenai system GI tract
bagian atas
Lama pengobatan
- Lama pengobatan dengan ibandronate adalah 3 tahun.
Zoledronic Acid
Dosis
- 5 mg diberikan secara IV (infuse) selama 15 menit satu kali per tahun untuk
terapi postmenopause osteoporosis dan osteoporosis pada pria sebagai
pencegahan dan terapi glucocorticoid induced osteoporosis.
- Untuk pencegahan postmenopause osteoporosis 5 mg diberikan sekali setiap
24 bulan.
- Sebelum pemberian, pasien harus terehidrasi terutama pada pasien dengan
penggunaan diuretic. Serum calcium dan creatinine harus dimonitor sebelum
pemberian.
Efikasi
- Menurunkan risiko fraktur tulang belakang, panggul, dan fraktur di tempat
lain pada wanita dengan postmenopause osteoporosis.
- Menurunkan angka clinical fracture pada pasien yang mendapat pembedahan
untuk perbaikan fraktur panggul dan mencegah mortalitas.
- Meningkatkan BMD pada tulang belakang dan panggul, untuk mencegah
kehilangan massa tulang pada pria, wanita postmenopause, dan pasien yang
diterapi dengan glukokortikoid.
Efek samping
- Terjadi reaksi akut pada 30% meliputi demam dan nyeri otot selama beberapa
hari, untuk penatalaksanaannya dapat diberikan acetaminophen.
Lama terapi
- Lama terapi dapat mencapai 3 tahun, bahkan sampai mencapai 6 tahun.
Raloxifene
Dosis dan sediaan
- Dosis : 60 mg/hari. Sediaan tablet 60 mg.
Kontraindikasi
- Wanita usia subur
- Seseorang yang mempunyai penyakit tromboemboli vena
- Hypersensitivitas terhadap komponen raloxifene
Efikasi
- Menurunkan risiko fraktur tulang belakang
- Meningkatkan BMD pada tulang belakang dan panggul
Efek samping
- Meningkatkan kejadian pada penyakit tromboemboli vena
- Menopausal syndrome : hot flashes dan keringat malam
Lama terapi
- Efikasi dapat mencapai 4 tahun dan aman hingga 8 tahun.


Teriparatide
Rekombinan human PTH (1,34)
Dosis dan sediaan
- Dosis : 20 mikrogram satu kali perhari SC.
- Sediaan : pen syringe yang menyediakan 28 dosis.
Efikasi
- Menurunkan risiko fraktur tulang belakang dan tempat lain pada wanita
dengan postmenopause osteoporosis.
- Peningkatan BMD yang signifikan pada tulang belakang namun efek minimal
pada panggul dan lengan bawah.
Kontraindikasi
- Pada tikus dapat terjadi osteosarcoma pada pemberian teriparatide dosis
tinggi, sehingga menjadi kontraindikasi pada pasien yang memiliki
peningkatan risiko osteosarcoma
- Hyperparatiroidisme
Efek samping
- Efek samping ringan dan sementara meliputi nausea, hipotensi ortostatik,
dank ram kaki.
- Hypercalcemia ringan dan asimptomatis.
Lama terapi
- Efikasi dan keamanan teriparatide dapat sampai 2 tahun, selebihnya keamanan
dan efikasi tidak diketahui sehingga tidak direkomendasikan pemberian
teriparatide setelah 2 tahun.
Calcitonin
Dosis dan sediaan
- Dosis injeksi calcitonin : 100 IU/hari SC/IM untuk terapi postmenopause
osteoporosis.
- Dosis nasal spray calcitonin : 200 IU/hari (1 kali semprot)
- Sediaan injeksi tersedia dalam larutan steril, intranasal calcitonin tersedia
dalam kemasan botol yang dapat menghasilkan 200 IU per spray.
Efikasi
- Injeksi calcitonin tidak menunjukkan efikasi antifraktur.
- Nasal spray calcitonin (200IU/ hari) menurunkan risiko fraktur tulang
belakang pada wanita dengan postmenopause osteoporosis, akan tetapi dosis
rendah (100IU/hari) atau dosis tinggi (400 IU/hari) juga efektif.
- Meningkatkan BMD tulang belakang pada wanita setelah > 5 tahun dari onset
menopause.
Efek samping
- Efek samping pemberian parenteral : nausea, reaksi inflamasi lokal pada
lokasi injeksi, dan vasomotor symptoms meliputi berkeringat dan kemerahan.
- Efek samping pemberian per nasal : nasal discomfort meliputi rhinitis, iritasi
mukoasa, dan epistaksis.
Lama pemberian
- Durasi optimal pemberian calcitonin tidak diketahui, keamanan dan efikasi
dapat sampai 5 tahun.


Denosumab
Mekanisme kerja : merupakan human monoclonal antibody untuk menurunkan
RANKL dalam lingkunan mikro tulang, menghambat precursor sel menjadi
osteoclast yang mature, dan menurunkan fungsi dan kemampuan bertahan osteoclast.
Dosis dan sediaan
- Dosis : 60mg diberikan secara SC tiap 6 bulan
- Sediaan : prefilled syringe atau single dose vial
Efikasi
- Menurunkan risiko fraktur tulang belakang, panggul, dan fraktur di tempat
lain pada wanita dengan postmenopause osteoporosis.
- Meningkatkan BMD pada tulang belakang, panggul, dan lengan bawah

Efek samping
- Penelitian menunjukkan pemakaian Denosumab sampai 6 tahun memiliki
tingkat keamanan yang baik.
- Hipokalsemia harus segera dikoreksi sebelum memulai terapi
- Infeksi serius meliputi infeksi kulit dapat terjadi.
- Pasien harus mengenali gejala dan tanda infeksi seperti pada selulitis.
- Dermatitis dan eksema
- ONJ
Lama Pemberian
- Dapat digunakan hingga 6 tahun, keamanan dan efikasi denosumab lebih dari
6 tahun belum dibuktikan, namun suatu percobaan menunjukkan denosumab
dapat digunakan hingga 10 tahun.
- Setelah terapi menggunakan denosumab diberhentikan yaitu setelah 2 tahun
selesai terapi, BMD akan meningkat dan marker bone turnover meningkat.
Estrogen and Menopausal Hormone Theraphy
Estrogen tidak pernah secara spesifik diterima untuk terapi osteoporosis. FDA
menyetujui penggunaan estrogen dalam mencegah postmenopausal osteoporosis
Dosis dan sediaan
- Estrogen (contoh : estradiol) dapat diberikan secara oral maupun transdermal,
namun dosis optimal dan jalur pemberian estrogen tidak diketahui.
Efikasi
- Equine estrogene terkonjungasi (0,625 mg/hari) dengan atau tanpa
medroxyprogesterone acetate dapat menurunkan risiko fraktur tulang
belakang, panggul, dan fraktur di tempat lain pada wanita dengan
postmenopause osteoporosis.
- Estrogen meningkatkan BMD pada tulang belakang, tulang panggul, dan
lengan bawah.
Efek samping
- Peningkatan risiko hyperplasia endometrium dan keganasan, bila kombinasi
estrogen dan progestin efek ini dapat dieliminasi
- Vaginal bleeding/spotting
- Peningkatan risiko cholelithiasis
- Retensi cairan, mastalgia, abdominal pain, dan sakit kepala dapat terjadi tetapi
dapat dihilangkan dengan dosis yang rendah


Kontraindikasi
- Diketahui/diduga hamil
- Diketahui/diduga menderita keganasan pada payudara
- Diketahui/diduga memiliki neoplasma yang berhubungan dengan estrogen
- Perdarahan per vaginam yang abnormal dan tidak terdiagnosa
- Trombophlebitis aktif atau penyakit tromboemboli
- Hipersensitivitas terhadap hormone
Lama pemberian
- Penggunaan estrogen harus pada dosis seminimal mungkin dan diberikan
sesingkat mungkin.
- Bila estrogen diberhentikan maka mekanisme antifraktur akan menghilang
secara cepat
Vertebroplasty dan Kyphoplasty
Tujuan terapi bedah pada osteoporotic fracture meliputi mobilisasi yang cepat
dan kembalinya ke fungsi dan aktivitas yang normal. Intrevensi operatif meliputi
anterior dan posterior dekompresi dan stabilisasi dengan pemberian alat fiksasi
interna seperti screw, plates, cages atau rods. Bone grafting secara rutin berguna
untuk memberikan kesatuan tulang.
Vertebroplasty dan ballon kyphoplasty diindikasikan untuk pasien yang tidak
mampu dan terdapat nyeri tulang belakang yang berat yang berhubungan dengan
kolapsnya tulang belakang. Prosedur ini berguna untuk menurunkan angka kejadian
kyphosis serta menghilangkan nyeri.


Kyphoplasty
Diet
Kalsium dan vitamin D yang adekuat sangat penting untuk semua orang pada
segala usia, terutama pada anak-anak. Rekomendasi untuk pasien dengan
osteoporosis meliputi1200-1500mg kalsium dan 400-800 IU vitamin D.
Sumber kalsium yang baik adalah produk susu, sardines, kacang-kacangan,
biji bunga matahari, tahu, sayuran, dan makan terfortifikasi seperti orange juice.
Sedangkan sumber vitamin D yang baik adalah telur, hati, mentega, minyak ikan, dan
makan terfortifikasi seperti susu atau orange juice
Kalsium
Suplementasi kalsium yang biasa digunakan meliputi calcium carbonate dan
calcium citrate. Calcium carbonate lebih murah dan direkomendasikan sebagai
pilihan utama. Calcium carbonate memiliki absorpsi yang baik dengan makanan,
berbeda dengan calcium citrate yang lebih baik diminum pada keadaan puasa. Tablet
calcium carbonate dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan calcium citrate.

Rekomendasi dari American Association of Clinical Endocrinologist adalah :
Usia Mg/hari
0-6 bulan 200
6-12 bulan 260
1-3 tahun 700
4-8 tahun 1000
9-18 tahun 1300
19-50 hun 1000
>50 tahun 1200
Wanita hamil dan menyusui berusia <
18 tahun
1300
Wanita hamil dan menyusui berusia >
19 tahun
1000

Vitamin D
Vitamin D dikenal sebagai elemen kunci kesehatan tulang dan otot, vitamin D
juga memiliki peranan penting dalam kesehatan tulang, absorpsi kalsium,
keseimbangan, dan performa otot. Kebutuhan minimum harian pada pasien
osteoporosis adalah 800 IU vitamin D3 atau cholecalciferol. Beberapa pasien
membutuhkan dosis tinggi bila diduga ada penurunan vitamin D, dimana serum 25-
Hydroxyvitamin D adalah 32ng/ml. Vitamin D tersedia sebagai ergocalciferol
(vitamin D2) dan cholecalciferol (vitamin D3). Vitamin D dimetabolisme sebagai
metabolit aktif yang menyebabkan absorpsi aktif kalsium dan fosfat oleh usus halus.
Penggunaan vitamin D dan kalsium dapat menurunkan risiko fraktur, terdapat
penelitian bahwa penggunaan vitamin D saja tidak dapat mencegah terjadinya
fraktur, sedangkan pemberian dengan kalsium dapat menurunkan terjadinya fraktur
panggul atau fraktur total (dan kemungkinan fraktur tulang belakang).
Terapi fisik dan okupasional
Terapi fisik memiliki fokus dalam meningkatkan kekuatan pasien,
fleksibilitas, postur, dan keseimbangan untuk mencegah pasien tersebut jatuh, dan
memaksimalkan fungsi fisik dan cepat atau lambat weight-bearing exercise harus
dilakukan. Regular weight bearing exercise sangat penting untuk memelihara massa
tulang.
Terapi okupasional adalah pelatihan Activity Daily Living (ADLs) dan
digunakan untuk mencegah pasien terjatuh.

Exercise
Aerobic low impact, seperti jalan dan bersepeda direkomendasikan. Terapi
untuk osteoporosis meliputi 3-5 sesi per minggu dengan weight bearing exercises
seperti jalan atau joggimg, dan setiap sesi berlangsung 45-60 menit.