Anda di halaman 1dari 30

Perilaku Abnormal pada Anak dan

Remaja
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Abnormal
BAB I
PENDAHULUAN
Untuk mengklasifikasikan perilaku abnormal pada anak-anak, hal pertama kita
harus mengetahui apa yang dianggap normal pada usia tersebut. Untuk menentukan apa
yang normal dan abnormal, khusus pada anak dan remaja yang perlu ditambahkan selain
kriteria umum yang telah kita ketahui adalah fator usia anak dan latar belakang budaya.
!anyak masalah yang pertama kali teridentifikasi pada saat anak masuk sekolah. Masalah
tersebut mungkin sudah munul lebih a"al tetapi masih ditoleransi, atau tidak dianggap
sebagai masalah ketika di rumah. Kadang-kadang stres karena pertama kali masuk
sekolah ikut mempengaruhi kemunulannya #onset$. %amun, perlu diingat bah"a apa
yang seara sosial dapat diterima pada usia tertentu, menjadi tidak dapat diterima di usia
yang lebih besar. !anyak pola perilaku yang mungkin dianggap abnormal pada masa
de"asa, dianggap normal pada usia tertentu.
&angguan pada anak-anak ini sering kali di kelompokkan dalam dua kelompok
yaitu eksternalisasi dan internalisasi. &angguan eksternalisasi ditandai dengan perilaku
yang diarahkan ke luar diri, seperti agresi'itas, ketidakpatuhan, o'erakti'itas, dan
impulsi'itas dan termasuk berbagai kategori D(M-)*-T+, yaitu AD,D, gangguan
tingkah laku #&T-$, dan gangguan sikap menentang #&(M$. &angguan internalisasi
ditandai dengan pengalaman dan perilaku yang lebih terfokus kedalam diri seperti
depresi, menarik diri dari pergaulan soial, dan keemasan, termasuk juga an.ietas dan
mood dimasa anak-anak.
Anak-anak yang memiliki masalah-maslah yang terinternalisasi lebih besar
kemungkinannya untuk tidak tertangani dibandingkan mereka yang memiliki masalah
yang tereksternalisasi yang enderung lebih mengganggu bagi orang lain. Anak laki-laki
memiliki resiko yang lebih besar untuk mengembangkan banyak masalah di masa kanak-
kanak, berkisar dari autisme sampai hiperaktif hingga ganggua eliminasi. Masalah
keemasan dan depresi juga mempengaruhi leih banyak anak laki-laki daripada
perempuan. %amun demikian, pada masa remaja gangguan keemasan dan gangguan
mood lebih umum dijumpai pada anak perempuan dan demikian seterusnya sampai masa
remaja.
BAB II
ISI
A. Gangguan Pemusatan Perhatian / Hiperaktivitas
(eorang anak yang selalu begerak, mengetuk-ketukkan jari, mengoyang-goyangkan
kaki, mendorong tubuh anak lain tanpa alasan yang jelas, berbiar tanpa henti, dan
bergerak gelisah sering kali disebut hiperaktif. Anak-anak tersebut sulit untuk
berkonsentrasi pada tugasyang dikerjakan dalam "aktu tertentu yang "ajar.
Diagnosis AD,D tidak tepat untuk anak-anak yang ribut, aktif, atau agak mudah
teralih perhatiannya karena di tahun-tahun a"al sekolah anak-anak sering berperilaku
demikian #/halen, 0123$. Anak dengan AD,D mengalami kesulitan mengendalikan
aktifitas dalam berbagai situasi yang menghendaki mereka duduk tenang. Mereka
terdisorganisasi, eratik, tidak berperasaan, kerasa kepala, dan bossy. !anyak anak AD,D
mengalami kesulitan besar untuk bermain dengan anak seusia mereka dan menjalin
persahabatan #,insha" 4 Melnik, 01156 /halen 4 ,enker, 0125$, hal ini mungkin
karena mereka enderung agresif saat bermain sehingga membuat teman-temannya
merasa tidak nyaman.
Anak AD,D bermain agresif dengan tujuan menari sensasi sedang anak normal
malakukan hal tersebut dangan tujuan untuk bermain sportif. Anak AD,D mengetahui
tindakan yang dibenarkan seara sosial dalam berbagai situasi hipotesis, namun tidak
mampu mempraktekan pengetahuan tersebut dalam perilaku interaksi sosialnya #/halen
4 ,enker, 0125, 0111$. Karena simtom-simtom AD,D ber'ariasai, D(M-)*-T+
menantumkan tiga subkategori, yaitu7
0. Tipe predominan inatentif7 anak-anak yang masalah utamanya adalah rendahnya
konsentrasi.
8. Tipe predominan ,iperaktif-)mpulsif7 anak-anak yang masalah utamanya diakibatkan
oleh perilaku hiperaktif-impulsif.
3. Tipe kombinasi7 anak-anak yang mengalami kedua rangkaian masalah diatas.
Anak-anak yang mengalami masalah atensi, namun memiliki tingkat akti'itas yang
sesuai dengan tahap perkembangannya, tampak sulit memfokuskan perhatian atau lebih
lambat dalam memproses informasi #!arkley, &rod9insky, 4 DuPaul,0118$, mungkin
berhubungan dengna masalah pada daerah frontal atau striatal otak #Tannok,0112$.
&angguan AD,D, lebih berhubungan dengan perilaku tidak mengerjakan tugas di
sekolah, kelemahan kognitif, rendahnya prestasi, dan prognosis jangka panjangnya lebih
baik. !erbeda dengan anak yang mengalami gangguan tingkah laku, mereka bertingkah
disekolah dan dimana pun, dan kemungkinan jauh lebih agresif, serta mungkin memiliki
orang tua yang antisosial.
AD,D ini banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Anak yang
mengalami AD,D, menunjukkan akti'itas yang berlebihan, perilaku temperamental, rasa
ingin tahu yang berlebihan, serta sangat energik dalam bermain.
A.1 Teri Bi!gi ADHD
a. "aktr genetik, penelitian menunjukan bah"a predisposisi genetika terhadap
AD,D kemungkinan berperan. !ila orang tua menderita AD,D, kemungkinan
sebagian anaknya akan mengalami gangguan tersebut #!iederman, dkk, 0115$.
Mengenai apa yang diturunkan dalam keluarga sampai saat ini belum ditemukan,
namun studi baru-baru ini menunjukan bah"a ada perbedaan ungsi dan struktur
otak pada anak AD,D dan anak yang tidak AD,D. Frontal lobe pada anak
AD,D kurang responsif terhadap stimulasi #+ubia dkk,0111 6 tannok, 0112$,
aliran darah erebral berkurang #(ieg dkk, 0115$. Terlebih lagi beberapa bagian
otak #frontal lobe, nucleus, kaudat, globus pallidus$ pada anak AD,D lebih keil
dari ukuran normal #:astellanos dkk, 011;6 <ilipek dkk, 011=6 ,ynd dkk, 0113$.
b. "aktr perinata! #an prenata!$ berbagai hal yang berhubungan dengan masa-
masa kelahiran, serta berbagai 9at yang dikonsumsi ibu saat kehamilan,
merupakan prediktor simtom-simtom AD,D.
. %a&un !ingkungan, teori pada tahu 01=>-an menyangkut peran raun dalam
terjadinya hiperaktifitas. ?at-9at adiktif pada makanan mempengaruhi kerja
system saraf pusat pada anak-anak hiperaktif. %ikotin, merupakan raun
lingkungan yang dapat berperan dalam terjadinya AD,D.
A.' Teri Psik!gis ADHD
!runo !ettelheim #01=3$, mengemukakan teori diathesis-stres mengenai AD,D,
yaitu hiperaktifitas terjadi bila suatu predisposisi terhadap gangguan dipasangkan dengan
pola asuh orang tua yang otoritarian. Pembelajaran juga dapat berperan dalam AD,D,
seperti yang dikemukakan +oss dan +oss #0128$, hiperakti'itas dapat merupakan
peniruan perilaku orang tua dan saudara-saudara kandung. Dalam hubungan orang tua-
anak sangat kurang bersifat dua arah dan lebih mungkin merupakan @rantai asosiasi
kompleksA #,insha" dkk, 011=$. (eperti halnya orang tua anak yang hiperaktif mungkin
memberi lebih banyak perintah dan memiliki interaksi negatif dengan mereka
#a.l.,Anderson, ,insha", 4 (immel, 011B6 ,eller dkk, 011;$, demikian juga anak-anak
hiperakti'itas diketahui kurang patuh dan memiliki interaksi yang lebih negati'e dengna
orang tua mereka #!arkley, Karlsson 4 Pollar6 Tallmadge 4 !arkley, 0123$.
A.( Penanganan ADHD
0$. Pem)erian *)at Stimu!an. Metilfenidat, atau +italin, telah diresepkan bagi
AD,D sejak a"al tahun 01;>-an #(prague 4 &ado", 01=;$, termasuk
amfetamin, atau Adderall, dan Pemolin atau :ylert. Cbat-obatan ini digunakan
untuk mengurangi perilaku menganggu dan meningkatkan konsentrasi. %amun,
penelitian lain mengindikasikan bah"a obat-obatan tersebut tidak dapat
meningkatkan prestasi akademik untuk "aktu lama. Dfek samping dari obat-
obatan ini adalah hilangnya nafsu makan untuk sementara dan masalah tidur.
8$. Penanganan Psik!gis. (elain pemberian obat, penanganan yang paling
menjanjikan bagi anak-anak AD,D menakup pelatihan bagi orang tua dan
perubahan menajemen kelas berdasarkan prinsip-prinsip pengondisian operant.
Program ini mampu untuk memperbaiki perilaku sosial dan akademik. Pada
penanganan ini perilaku anak dipantau dan di rumah dan di sekolah, dan mereka
diberi penguatan untuk berperilaku sesuai dengan harapan.
<okus program operant ini adalah meningkatkan karya akademik,
menyelesaikan tugas-tugas rumah, atau belajar keterampilan sosial spesifik, dan
bukan untuk mengurangi tanda-tanda hiperakti'itas, seperti berlari ke sana
kemari dan menggoyang-goyangkan kaki. !erbagai inter'ensi di sekolah bagi
anak AD,D, menakup pelatihan bagi para guru untuk memahami kebutuhan
unik anak-anak tersebut dan menerapkan teknik-teknik operant tersebut di kelas
#/elsh dkk, 011=$, pembimbingan oleh teman sebaya dalam keterampilan
akademik #DuPaul 4 ,enningson,0113$, meminta guru-guru untuk memberikan
laporan harian kepada orang tua mengenai perilaku anak di sekolah, yang
ditindaklanjuti dengan hadiah dan konsekuensi di rumah #Kelly, 011>$.
B. Gangguan Tingkah Laku
Definisi gangguan tingkah laku pada D(M-)*-T+ memfokuskan pada perilaku yang
melanggar hak-hak dasar orang lain dan norma-norma sosial utama. Tipe perilaku yang
dianggap sebagai simtom gangguan tingkah laku menakup agresi dan kekejian terhadap
orang lain atau he"an, merusakkan kepemilikan, berbohong, dan menuri. &angguan
tingkah laku merujuk pada berbagai tindakan yang kasar dan sering dilakukan yang jauh
melampaui kenakalan dan tipuan praktis yang umum dilakukan anak-anak dan remaja.
(eringnya, perilaku ini ditandai dengan kese"enang-"enangan, kekejian dan kurang
penyesalan.
Kriteria gangguan tingkah laku dalam D(M-)*-T+ 7
0. Pola perilaku yang berulang dan tetap yang melanggar hak-hak dasar orang lain atau
norma-norma sosial kon'ensional yang ter"ujud dalam bentuk tiga atau lebih
perilaku diba"ah ini dalam 08 bulan terakhir dan minimal satu diantaranya dalam
enam bulan terakhir 7
a. Agresi terhadap orang lain dan he"an, ontohnya mengintimidasi, memulai
perkelahian fisik, melakukan kekejaman fisik kepada orang lain atau he"an,
memaksa seseorang melakukan akti'itas seksual
b. Menghanurkan kepemilikan #properti$, ontohnya membakar, 'andalisme
. !erbohong atau menuri, ontohnya, masuk dengan paksa ke rumah atau mobil
milik orang lain, menipu, mengutil
d. Pelanggaran aturan yang serius, ontohnya tidak pulang ke rumah hingga larut
malam sebelum usia 03 tahun karena sengaja melanggar peraturan orang tua,
sering membolos sekolah sebelum berusia 03 tahun
8. Disabilitas signifikan dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan
3. Eika orang yang bersangkutan berusia lebih dari 02 tahun, kriteria yang ada tidak
memenuhi gangguan kepribadian anti sosial
!anyak anak yang mengalami gangguan tingkah laku juga menunjukkan gangguan
lain. Ada tingkat komorbiditas yang tinggi antara gangguan tingkah laku dan AD,D. ,al
ini terjadi pada anak laki-laki, namun jauh lebih sedikit yang diketahui mengenai
komorbiditas gangguan tingkah laku dan AD,D pada anak perempuan. Penyalahgunaan
9at juga umum terjadi bersamaan dengan gangguan tingkah laku dimana dua kondisi
tersebut saling memperparah satu sama lain.
Terdapat bukti bah"a anak laki-laki yang mengalami gangguan tingkah laku dan
komorbid dengan hambatan beha'ioral memiliki kemungkinan lebih keil untuk
melakukan kejahatan dibanding mereka yang mengalami gangguan tingkah laku yang
komorbid dengan penarikan diri dari pergaulan sosial. !ukti-bukti menunjukkan bah"a
anak-anak perempuan yang mengalami gangguan tingkah laku beresiko lebih tinggi
untuk mengalami berbagai gangguan komorbid, termasuk keemasan, depresi,
penyalahgunaan 9at, dan AD,D dibanding dengan anak laki-laki yang memiliki
gangguan tingkah laku.
B.1 Prgnsis Gangguan Tingkah Laku
&angguan tingkah laku di masa kanak-kanak tidak dengan sendirinya berlanjut
menjadi perilaku antisosial di masa de"asa, meskipun memang menjadi faktor yang
mempredisposisi. (tudi baru-baru ini, menunjukkan bah"a meskipun sekitar separuh
anak laki-laki yang mengalami gangguan tingkah laku tidak memenuhi kriteria lengkap
bagi diagnosis tersebut pada pengukuran terkemudian #0-B tahun kemudian$, hampir
semuanya tetap menunjukkan beberapa masalah tingkah laku #-ahey dkk.,0115$.
!eberapa indi'idu tampaknya menunjukkan pola perilaku anti sosial yang @tetap
sepanjang hidupA, dengan masalah tingkah laku yang bermula di usia 3 tahun dan
berlanjut menjadi kesalahan perilaku yang serius di masa de"asa. (ementara itu, yang
lain @terbatas di usia remajaA. Crang-orang tersebut mengalami masa kanak-kanak yang
normal, terlibat dalam perilaku antisosial dengan tingkat yang tinggi selama masa renaja,
dan kembali ke gaya hidup tidak bermasalah di masa de"asa.
-ahey, dkk #0115$ menemukan bah"a anak laki-laki dengan gangguan tingkah laku
perilaku antisosialnya jauh lebih mungkin untuk berlanjut jika memiliki salah satu orang
tua yang mengalami gangguan kepribadian antisosial atau jika mereka memilki
keerdasan 'erbal rendah. )nteraksi beberapa faktor indi'idual, seperti temperamen,
psikopatologi yang dialami orang tua, dan interaksi orang tua-anak yang disfungsional,
dan faktor-faktor sosiokultural, seperti kemiskinan, dan dukungan sosial rendah,
berkontribusi terhadap lebih banyaknya kemungkinan timbulnya perilaku agresif di usia
dini dengan sifat tetap.
B.' Eti!gi #an "aktr %esik Gangguan Tingkah Laku
a. "aktr+,aktr )i!gis. Dalam tiga studi adopsi berskala besar di ("edia, Denmark,
dan Amerika (erikat, mengindikasikan bah"a perilaku kriminal dan agresif
dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan dimana faktor lingkungan
pengaruhnya sedikit lebih besar. Dari studi terhadap orang kembar mengindikasikan
bah"a perilaku agresif #a.l kejam terhadap he"an, berkelahi, merusak kepemilikan$
jelas diturunkan, sedangkan perilaku kenakalan lainnya #a.l menuri, lari dari rumah,
membolos sekolah$ kemungkinan tidak demikian. Kelemahan neurologis, terakup
dalam profil masa kanak-kanak dari anak-anak yang mengalami gangguan tingkah
laku. Kelemahan tersebut termasuk keterampilan 'erbal yang rendah, masalah dalam
fungsi pelaksanaan #kemampuan mengantisipasi, merenanakan, menggunakan
pengendalian diri, dan menyelesaikan masalah$ dan masalah memori.
b. "aktr+,aktr psik!gis. Teori pembelajaran yang melibatkan modelling dan
pengondisian operant memberikan penjelasan yang bermanfaat mengenai
perkembangan dan berlanjutnya masalah tingkah laku. Anak-anak dapat mempelajari
agresi'itas orang tua yang berperilaku agresif. Anak juga dapat meniriu tindakan
agresif dari berbagai sumber lain seperti tele'isi. Karena agresi merupakan ara
menapai tujuan yang efektif , meskipun tidak menyenangkan , kemungkinan hal
tersebut dikuatkan. Cleh karena itu setelah ditiru, tindakan agresif kemungkinan akan
dipertahankan.!erbagai karakteristik pola asuh seperti disiplin keras dan tidak
konsisten dan kurangnya penga"asan seara konsisiten dihubungkan dengan perilaku
antisosial pada anak-anak.
. Pengaruh #ari teman+teman seusia. Penelitian mengenai pengaruh teman seusia
terhadap agresi dan antisoial anak-anak memfokuskan pada dua bidang besar, yaitu7
0$ Penerimaan atau penolakan dari teman-teman seusia. Penolakan menunjukkan
hubungan yang kausal dengan perilaku agresif, bahkan dengan tindakan
pengendalian perilaku agresif yang terdahulu #:oie 4 Dodge, 0112$.
8$ Afiliasi dengan teman-teman seusia yang berperilaku menyimpang. Pergaulan
dengan teman seusia yang nakal juga dapat meningkatkan kemungkinan perilaku
nakal pada anak #:apaldi 4 Patterson, 011B$.
d. "aktr+,aktr ssi!gis. Tingkat pengangguran tinggi, fasilitas pendidikan yang
rendah, kehidupan keluarga yang terganggu, dan subkultur yang menganggap
perilaku riminal sebagai suatu hal yang dapat diterima terungkap sebagai faktor-
faktor yang berkontribusi #-ahey dkk, 01116 -oeber 4 <arrington, 0112$. Kombinasi
perilaku antisosial anak yang timbul di usia dini dan rendahnya status sosioekonomi
keluarga memprediksikan terjadinya penangkapan di usia muda karena tindakan
riminal #Patterson, :rosby, 4 *uhinih, 0118$. <ator-faktor soial berperan,
korelasi terkuat dengan kenakalan adalah hiperakti'itas dan kurangnya penga"asan
orang tua.
B.( Penanganan Gangguan Tingkah Laku
,al penting bagi keberhasilan dalam penanganan adalah upaya mempengaruhi
banyak system dalam kehidupan seorang remaja #keluarga, teman-teman sebaya, sekolah,
lingkungan tempat tinggal$. (alah satu masalah yang dihadapi masyarakat adalah
bagaimana menghadapai orang-orang yang nurani sosialnya tampak kurang berkembang.
0. Intervensi ke!uarga$ beberapa pendekatan yang paling menjanjikian untuk
menangani gangguan tingkah laku mneakup inter'ensi bagi orang tua atau keluarga
dari si anak antisosial. &erald Patterson dan kolegannya mengembangkan dan
menguji sebuah program beha'ioral, yaitu Pelatihan Manajemen Pola Asuh #PMP$,
dimana orang tua diajari untuk mengubah berbagai respon untuk anak-anak mereka
sehingga perilaku prososial dan bukannya perilaku antisosial yang dihargai seara
konsisten. Para orang tua diajarkan untuk menggunakan teknik-teknik seperti
penguatan positif bila si anak menunjukkan perilaku positif dan pemberian jeda serta
hilangnya perilaku istime"a bila ia berperilaku agresif atau antisosial. Pmp terbukti
mengubah interaksi orang tua-anak, yang pada akhirnya berhubungan dengan
berkurangnya perilaku antisosial dan agresif #Dishion 4 Andre"s, 01156 Dishion,
Patterson 4 ka'enagh, 0118$. PMP juga terbukti memperbaiki perilaku para saudara
kandung dan mengurangi depresi pada para ibu yang mengikuti program tersebut
#Ka9din,0125$.
8. Penanganan mu!tisistemik #PM($, ,enggeler menujukkan keberhasilan dalam hal
mengurangi tingkat penangkapan karena tindak kriminal dalam empat tahun setelah
penanganan #!orduin dkk, 0115$. )nter'ensi ini memandang masalah tingkah laku
sebagai suatu hal yang dipengaruhi oleh berbagai konteks dalam keluarga dan antara
keluarga dan berbagai sistem sosial lainnya. Teknik yang dipergunakan 'ariasai
meliputi teknik perilaku kognitif, system keluarga, dan manajemen kasus. Keunikan
dari terapi ini terletak pada penekanan kekuatan indi'idu dan keluarga,
mengidenikasikan konteks bagi masalah-masalah tingkah laku, yang berfokus pada
masa kini dan berorientasi pada tindakan, dan menggunakan inter'ensi yang
membutuhkan upaya harian atau mingguan oleh para anggota.
3. Pen#ekatan kgniti,$ terapi dengan inter'ensi bagi orang tua dan keluarga
merupakan komponen keberhasilan yang penting, tetapi penangana semaam itu
banyak memakan biaya dan "aktu. Cleh kerena itu, penanganan dengan terapi
kognitif indi'idual bagi anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku dapat
mempaerbaiki tingkah laku mereka, meski tanpa melibatkan keluarga. :ontoh7
mengajarkan keterampilan kognitif pada anak-anak untuk mengendalikan kemarahan
mereka menunjukan manfaat yang nyata dalam membantu mereks mengurangi
perilaku agresif. Mereka belajar untuk bertahan dari serangan 'erbal tanapa merespon
seara agresif dengan menguanakan teknik pengalihan seperti bersenandung,
mengatakan hal-hal yang menyenangkan pada diri sendiri, atau beranjak pergi.
(trategi lain dengan mengajarkan keterampilan moral kepada berbagai kelompok
remaja yang mengalami ganguan perilaku.
-. Disa)i!itas Be!a.ar
Disabilitas belajar merujuk pada kondisi tidak memadainya perkembangan dalam
suatu bidang akademik tertentu, bahasa, berbiara, atau keterampilan motorik yang tidak
disebabkan oleh retardasi mental, autisme, gangguan fisik yang dapat terlihat, atau
kurangnya kesempatan pendidikan. Anak-anak yang mengalami gangguan ini umumnya
memiliki intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun mengalami kesulitan
mempelajari beberapa keterampilan tertentu #misal aritmatika atau membaa$ sehingga
kemajuan mereka di sekolah menjadi terhambat. Disabilitas belajar untuk
menggabungkan tiga gangguan yang terantum dalam D(M-)*-T+ yaitu 7 gangguan
perkembangan belajar, gangguan berkomunikasi, dan gangguan keterampilan motorik.
-.1 Gangguan Perkem)angan Be!a.ar
Kriteria &angguan Perkembangan !elajar dalam D(M-)*-T+ 7
a. Prestasi dalam bidang membaa, berhitung atau menulis ekspresif di ba"ah
tingkat yang diharapkan sesuai usia penderita, pendidikan, dan intelegensi.
b. (angat menghambat performa akdemik atau akti'itas sehari-hari.
&angguan perkembangan belajar dibagi menjadi tiga kategori. Tidak satupun dari
diagnosis yang tepat jika disabilitas tersebut dapat disebabkan oleh defisit sensori, seperti
masalah 'isual atau pendengaran.
a. Anak dengan gangguan membaa #disleksia$ mengalami kesulitan besar untuk
mengenali kata, memahami baaan, serta umumnya juga menulis ejaan. Masalah
ini terus dialami hingga de"asa. &angguan ini terjadi 5-0> persen anak usia
sekolah, tidak menghambat penderitanya untuk berprestasi.
b. &angguan menulis ekspresif menggambarkan hendaya dalam kemampuan untuk
menyusun kata tertulis #termasuk kesalahan ejaan, kesalahan tata bahasa atau
tanda baa, atau tulisan tangan yang buruk$ yang ukup parah sehingga dapat
sangat menghambat prestasi akademik atau akti'itas sehari-hari.
. Anak-anak dengan gangguan berhitung dapat mengalami kesulitan dalam
mengingat fakta-fakta seara epat dan akurat, menghitung objek dengan benar
dan epat, atau mengurutkan angka-angka dalam kolom-kolom.
-.' Gangguan /munikasi
!eberapa kategori gangguan berkomunikasi, antara lain 7
a. &angguan berbahasa ekspresif, dimana anak mengalami kesulitan
mengekspreksikan dirinya dalam berbiara. Anak tampak sangat ingin
berkomunikasi tetapi sangat sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat.
Misalnya tidak mampu menguapkan kata mobil saat menunjuk sebuah mobil
yang melintas. Kata-kat yang sudah terkuasai terlupakan oleh kata-kata yang baru
dikuasai, dan penggunaan struktur bahasa sangat di ba"ah tingkat usianya.
b. &angguan fonetik, dimana anak menguasai dan mampu mempegunakan
perbendaharaan kata dalam jumlah besar tetapi tidak dapat menguapkannya
dengan jelas, ontohnya biru diuapkan biu. Mereka tidak menguasai artikulasi
suara dari huruf-huruf yang dikuasai terkemudian, seperti r, s, t, f, z, l, dan c.
c. &agap, yaitu gangguan kefasihan 'erbal yang ditandai dengan satu atau lebih pola
biara berikut ini 7 seringnya pengulangan atau pemanjangan penguapan
konsonan atau 'okal, jeda yang lama antara penguapan satu kata dengan kata
berikutnya, mengganti kata-kata yang sulit dengan kata-kata yang mudah
diuapkan, dan mengulang kata. Eumlah laki-laki yang mengalami masalah ini
sekitar 3 kali lebih banyak dari perempuan, biasanya munul sekitar usia 5 tahun
dan hampir selalu sebelum usia 0> tahun. D(M memperkirakan bah"a 2>F
indi'isu yang gagap dapatb sembuh tanpa inter'ensi profesional sebelum
penderita menmapai usia 0; tahun.
-.( Gangguan /eterampi!an 0trik
Disebut juga gangguan komunikasi perkembangan dimana seorang anak
mengalami hendaya parah dalam perkembangan koordinasi motorik yang tidak
disebabkan oleh retardasi mental atau gangguan fisik lain yang telah dikenal sebagai
serebral palsi. Anak mengalami kesulitan menalikan sepatu dan menganingkan baju, dan
bila berusia lebih besar kesulitan membuat suatu bangun, bermain bola, dan menggambar
atau menulis. Diagnosis hanya ditegakkan bila hendaya tersebut sangat menghambat
prestasi akademik atau akti'itas sehai-hari.
-.1 Eti!gi Disa)i!itas Be!a.ar
a. Dtiologi Disleksia
Kelemahan inti yang membentuk disleksia menakup berbagai masalah dalam
proses-proses 'isualGpendengaran dan bahasa. Penelitian menunjukkan adanya satu
masalah atau lebih dalam pemrosesan bahasa yang dapat mendasari disleksia, termasuk
persepsi biara dan analisis bunyi bahasa uapan dan hubungannya dengan kata-kata
tertulis #Mann 4 !raddy, 0122$. !eberapa anak tertentu lebih mungkin mengalami
disleksia, yaitu 7 mereka yang mengalami kesulitan mengenali sajak atau puisi di usia B
tahun #!radley 4 !ryant, 0125$6 mengalami kesulitan menyebutkan nama objek familiar
dengan epat pada usia 5 tahun #(arborough, 011>$6 dan mereka yang terlambat
menguasai berbagai aturan bentuk kalimat pada usia 8,5 tahun #(arborough, 011>$.
!ukti lain, bah"a berbagai studi keluarga dan anak kembar menegaskan bah"a terdapat
komponen keturunan dalam disleksia, yang kemungkinan dikendalikan oleh kromosom ;
#:ardon dkk. ,011B 6<isher dkk. ,01116 &ayan dkk. ,01116 &rigoreko dkk. , 011=$
b. Etiologi Gangguan Berhitung
Terdapat tiga subtipe gangguan berhitung menurut para ahli. Pertama, kelemahan
pada memori 'erbal semantik dan memiu timbulnya masalah dalam mengingat fakta-
fakta aritmatik, bahkan setelah melalui latihan ekstensif. Tipe ini tampaknya berhubungan
dengan beberapa disfungsi pada belahan kiri otak dan seringkali terjadi bersamaan
dengan gangguan membaa.
Kedua, menyangkut penggunaan strategi yang tidak sesuai dengan tahap
perkembangan dalam menyelesaikan soal-soal aritmatik dan seringnya melakukan
kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal sederhana.
Ketiga, jarang terjadi yaitu yang menyangkut hendaya keterampilan 'isuospasial,
yang mengakibatkan kesalahan dalam mengurutkan angka-angka dalam kolom atau
melakukan kesalahan menempatkan angka #meletakkan poin desimal di tempat yang
salah$.
(eara khusus, tipe disabilitas berhitung yang menyangkut hendaya memori
semantik merupakan tipe yang paling mungkin diturunkan. (ebuah studi terhadap lebih
dari 85> pasangan kembar menunjukkan bah"a faktor-faktor genetis yang sama
mendasari kelemahan membaa dan berhitung pada anak-anak yang mengalami kedua
gangguan tersebut #&illis 4 De<ries, 0110$.
-.2 Penanganan Disa)i!itas Be!a.ar
!erbagai program penanganan harus memberikan kesempatan bagi anak-anak
untuk mengalami rasa kemampuan dan self efficacy, mengurangi masalah beha'ioral
yang diakibatkan oleh rasa frustrasi, menakup strategi untuk mengatasi masalah
penyesuaian masalah sosial dan emosional sekunder yang mereka alami.
)nter'ensi untuk &angguan !elajar #-yon 4 Moats, 0122$
0. Model Psikoedukasi. Menekankan pada kekuatan-kekuatan dan
preferensi-preferensi anak dari pada usaha untuk mengoreksi defisiensi yang
mendasarinya. Misalnya anak yang menyimpan informasi auditori lebih baik
dibanding 'isual akan diajar seara 'erbal, misalnya mengguanakan rekaman pita,
dan bukan materi-materi 'isual.
8. Model Behavioral. Mengasumsikan bah"a belajar akademik
dibangun diatas hierarki ketermpilan-keterampilan dasar, atau Hperilaku yang
memampukan #enabling beha'iours$A. Kompetensi belajar anak akan dinilai untuk
menentukan letak defisiensi dalam hierarki keterampilan. Program intruksi dan
penguatan perilaku yang disusun seara indi'idual akan membantu anak.
3. Model Medis. Mengasumsikan bah"a gangguan belajar
merefleksikan dalam pengolahan informasi yang memiliki dasar biologis. Program-
program harus diadaptasi untuk memperhatikan defisit-defisit yang mendasarinya ini
dan disesuaikan dengan kebiutuhan anak #-e'ine, 8>>>$.
B. Model inguistik. Terfokus pada defisiensi dasar pada bahasa anak. Menekankan
intruksi dalam keterampilan mendengarkan, berbiara, membaa, dan menulis dengan
ara yang logis, berurutan, dan multi indra"i, seperti membaa dengan keras seraya
disuper'isi dengan teliti. Model ini mengajarkan keterampilan bahasa seara
bertahap, membantu murid-murid menangkap struktur dan meggunakan kata-kata
#(hay"it9, 01126 /agner 4 Torgesen, 012=$
5. Model !ognitif. !erfokus pada bagaimana anak mengatur
pemikiran mereka ketika belajar materi-materi akademik. Anak dibantu untuk belajar
dengan #0$ mengenali sifat dari tugas belajar, #8$ menerapkan strategi-strategi untuk
menyelesaikan tugas-tugas dan #3$ memonitor kesuksesan strategi-strategi mereka.
Para peneliti mengembangkan permainan komputer khusus dan rekaman radio
yang memperlambat penguapan bunyi. -atihan intensif dapat meningkatkan
keterampilan bahasa anak yang mengalami gangguan bahasa berat .
D. %etar#asi 0enta!
+etardasi mental ialah keterlambatan yang menakup rentang yang luas dalam
perkembangan fungsi kognitif dan soial #APA, 8>>>$.
Kriteria +etardasi Mental dalam D(M-)*-T+ 7
<ungsi intelektual yang seara signifikan di ba"ah rata-rata, )I kurang dari =>
Kurangnya fungsi sosial adaptif dalam minimal dua bidang berikut 7 komunikasi,
mengurus diri sendiri, kehidupan keluarga, keterampilan interpersonal, pengguanaan
sumber daya komunitas, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri,
keterampilan akademik fungsional, rekreasi, pekerjaan, kesehatan dan kemanan
Cnset sebelum usia 02 tahun
D.1 /riteria Tra#isina! untuk %etar#asi 0enta!
"kor #es $ntelegensi. Mereka yang memiliki skor di ba"ah => hingga =5, dua
de'iasi standar di ba"ah rata-rata populasi, memenuhi kriteria @fungsi intelektual umum
seara signifikan di ba"ah rata-rata.A
Fungsi %daptif. Merujuk pada penguasaan keterampilan masa kanak-kanak seperti
menggunakan toilet dan berpakaian, memahami konsep "aktu dan uang, mampu
menggunakan peralatan, berbelanja, dan melakukan perjalanan dengan transportasi
umum, serta mengembangkan responsi'itas sosial.
&sia 'nset. &angguan retardasi mental terjadi sebelum usia 02 tahun, untuk
menegah mengklasifikasikan kelemahan intelegensi dan perilaku adaptif yang
disebabkan oleh edera atau sakit yang terjadi kemudian dalam hidup sebagai retardasi
mental.
D.' /!asi,ikasi %etar#asi 0enta!
%etar#asi 0enta! %ingan #)I 5> hingga =>$. Di usia remaja akhir dapat
mempelajari ketrampilan akademik setara dengan kelas enam. Ketika de"asa,
mampu melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan, meski masih
membutuhkan bantuan dalam masalah sosial dan keuangan. Mereka bisa menikah
dan mempunyai anak.
%etar#asi 0enta! Se#ang #)I 35-B> hingga 5>-55$. Mereka dapat mengalami
kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik
normal. Dengan banyak bimbingan dan latihan, mereka dapat bepergian sendiri di
tempat yang tidak asing bagi mereka.
%etar#asi 0enta! Berat #)I 8>-85 hingga 35-B>$. Memiliki abnormalitas fisik
sejak lahir dan keterbatasan dalam pengendalian sensori motor. Mereka hanya
dapat melakukan sedikit akti'itas karena kerusakan otak yang parah. Mereka
mampu melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dengan super'isi terus
menerus.
%etar#asi 0enta! Sangat Berat #)I di ba"ah 8>-85$. Mereka membutuhkan
super'isi total dan seringkali harus diasuh sepanjang hidup mereka. (ebagian
besar memiliki abnormalitas fisik berat serta kerusakan neurologis dan tidak dapat
berjalan sendiri ke manapun.
D.( Eti!gi %etar#asi 0enta!
Penyebab spesifik yang dapat diidentifikasi umumnya adalah penyebab biologis7
0. Anomali Genetik atau kromosom. Abnormalitas kromosom terjadi pada kurang dari
5 F dari seluruh kehamilan yang dapat bertahan. (eara keseluruhan, sekitar separuh
dari 0 F bayi yang dilahirkan mengalami abnormalitas kromosom #(mith, !ierman,
4 +obinson, 01=2$. (ebagian besar bayi tersebut meninggal sesaat setelah dilahirkan.
!ayi yang dapat bertahan, mayoritas mengalami "indroma (o)n atau trisomi 80.
8. Penyakit Gen Resesif. (alah satu penyakit tersebut adalah fenilketonuria #PKU$
dimana terjadi defisiensi en9im hati #fenilalanin hidroksilase$ yang pada akhirnya
menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki.
3. Penyakit Infeksi. Konsekuensi paling terjadi dalam trimester pertama dimana janin
belum memiliki respon imunologis yang dapat dideteksi, yaitu sistem imunnya belum
berkembang untuk mela"an 'irus.
B. Kecelakaan. Dapat menyebabkan berbagai edera otak dalam tingkat yang ber'ariasi
dan retardasi mental.
5. Bahaya Lingkungan. !eberapa polutan seperti merkuri, timah dapat menyebabkan
keraunan dan retardasi mental.
D.1 Pen&egahan #an Penanganan %etar#asi 0enta!
0. Penanganan +esidensial
(ejak tahun 01=5, indi'idu yang mengalami retardasi mental berhak mendapatkan
penanganan yang sesuai dalam lingkungan dengan batasan yang sangat minimal. Crang
de"asa dengan retardasi mental sedang, tinggal di tempat sederhana dan disediakan
pera"atan medis. Mereka didorong untuk berpartisipasi dalam tugas rutin rumah tangga
semampu mereka. Mereka yang mengalami retardasi mental berat, tinggal di rumah
pera"atan yang dilengkapi dengan layanan pendidikan dan psikologis.
8. )nter'ensi !eha'ioral !erbasis Pengondisian Cperant
Dalam metode operant, anak-anak diajari berbagai keterampilan selangkah demi
selangkah dan berurutan. Prinsip-prinsip pengondisian operant kemudian diterapkan
untuk mengajarkan berbagai komponen akti'itas pada anak, juga digunakan untuk
mengurangi perilaku yang tidak pada tempatnya dan perilaku menederai diri sendiri.
)nter'ensi Kognitif
3. -atihan $nruksional (iri mengajari mereka yang mengalami retardasi mental untuk
memandu upaya penyelesaian masalah mereka melalui kata-kata yang diuapkan.
B. )ntruksi dengan !antuan Komputer
Komponen 'isual dan auditori dalam komputer dapat mempertahankan
konsentrasi para sis"a yang sulit berkonsentrasi. Komputer dapat memenuhi kebutuhan
akan banyaknya pengulangan materi tanpa menjadi bosan atau tidak sabar seperti yang
dapat terjadi pada guru.
E. Gangguan Autistik 3Gangguan Perkem)angan Pervasi,4
E.1 /arakteristik Gangguan Autistik
)ndi'idu autis tidak mampu berhubungan dengan orang lain seara "ajar. Mereka
memiliki keterbatasan yang parah dalam bahasa dan keinginan obsesif yang kuat. Mereka
mengalami ketertarikan dan meniptakan kelekatan kuat dengan berbagai benda-benda
mati dan berbagai benda mekanis.
Kekurangan Komunikasi. Mengoeh #babbing$, istilah yang menggambarkan
uapan bayi sebelum mereka mulai menguapkan kata-kata sebenarnya, jarang dilakukan
oleh bayi autis. Pada usia 8 tahun, sekitar 5> F anak autis tidak pernah belajar berbiara
sama sekali. Mereka yang jarang belajar berbiara, biaranya menakup berbagai
keanehan. (alah satu irinya adalah ekolalia, dimana anak mengulangi, biasanya dengan
ketepatan luar biasa, perkataan orang lain yang didengarnya. Abnormalitas lain yang
umum terjadi adalah pembalikan kata ganti. Anak merujuk dirinya sendiri dengan kata
@iaA, atau @kamuA atau dengan menyebut nama mereka sendiri. %eologisme, kata-kata
iptaan atau kata-kata yang digunakan dengan ara tidak biasa. Misalnya anak 8 tahun,
dapat menyebut milk #susu$ dengan kata @moyeeA dan terus berlanjut hingga mele"ati
masa dimana anak normal sudah bisa menguapkannya. Anak-anak dengan autisme
sangat kaku dalam menggunakan kata-kata. Kelemahan komunikasi tersebut dapat
menjadi penyebab kelemahan sosial pada mereka. Meskipun mereka telah belajar
berbiara, mereka seringkali kurang memiliki spontanitas 'erbal dan jarang berekspresi
seara 'erbal serta penggunaan bahasa mereka tidak selalu tepat #Paul, 012=$.
Tindakan Repetitif dan Ritualistik. Anak dengan autis dapat menjadi sangat
marah bila terjadi perubahan dalam rutinitas harian dan situasi sekeliling mereka.
Karakteristik obsesional juga terdapat dalam perilkau anak autis dengan ara yang
berbeda. Mereka juga memiliki perilaku stereotipik, gerakan tangan ritualistik yang aneh,
dan gerkan ritmik lainnya, seperti menggoyangkan tubuh tanpa henti, berjalan dengan
berjinjit. Menunjukkan fokus yang berlebihan pada bagian-bagian objek #misalnya
memutar roda moil-mobilan seara berualang-ulang,$ atau kelekatan yang tidak biasa
terhadap objek-objek #seperti memba"a seutas tali$.
Kemunulannya #onsetnya$ terjadi sebelum usia 3 tahun yang tampak dari fungsi
yang abnormal pada paling tidak satu dari hal-hal berikut ini7 perilaku sosial, komunikasi,
atau bermain imjinatif.
E.' Prgnsis Gangguan Autistik
!erdasarkan kajiannya terhadap semua studi yang dipublikasikan, -otter #01=2$
menyimpulkan bah"a 5 hingga 0= F anak-anak autis yang dapat melakukan penyesuaian
yang relatif baik pada masa de"asa, menjalani hidup mandiri, namun tetap mengalami
beberapa masalah residual seperti kegugupan sosial. (ebagian besar menjalani kehidupan
yang terbatas dan sekitar separuhnya dira"at di institusi mental.
)ndi'idu autistik yang tidak mengalami retardasi mental dan memiliki
keberfungsian tinggi mengindikasikan bah"a sebagian besar tidak membutuhkan
pera"atan di suati institusi dan beberapa diantaranya mampu belajar di perguruan tinggi
dan membiayai diri sendiri dengan bekerja #Jirmia 4 (igman, 0110$. %amun banyak
juga yang mampu berfungsi seara mandiri tetap menunjukkan hendaya dalam hubungan
soial.
E.( Eti!gi Gangguan Autistik
Basis Psik!gis
1. Teori psikoanalisis
Jang paling dikenal adalah teori yang dikemukakan oleh !runo !ettelhem #01;=$
dimana asumsi dasarnya bah"a autis disebabkan oleh pengalaman masa lalu. !alita dapat
menolak orang tuanya dan mampu merasakan perasaan negatif mereka. !ayi melihat
tindakannya hanya berdampak keil pada perilaku orang tua yang tidak responsif. Maka,
si anak kemudian meyakini bah"a ia tidak memiliki danpak apapun pada dunia,
kemudian meniptakan @benteng kekosonganA autisme untuk melindungi diri dari
penderitaan dan kekee"aan.
!. Teori Beha"ioral
!eberapa teori mengemukakan teori bah"a pengalaman belajar tertentu di masa
kanak-kanak menyebabkan autisme. <erster #01;0$, berpendapat bah"a tidak adanya
perhatian dari orang tua, terutama ibu, menegah terbentuknya berbagai asosiasi yang
menjadikan manusia sebagai penguat sosial.
Basis Bi!gis
1. #aktor$#aktor Genetik
+esiko autisme pada saudara-saudara kandung dari orang-orang yang mengalami
gangguan tersebut sekitar =5 kali lebih besar dibanding jika kasus indeks tidak
mengalami gangguan autistik #M!ride, Anderson, 4 (hapiro, 011;$.dalam studi
terhadap orang kembar, menemukan ;>-10 F kesesuaian bagi autisme antara kembar
identik, dibanding dengan tingkat kesesuaian >-8> F pada kembar fraternal #!ailey dkk. ,
0115 6 -e:outer dkk., 011; 6 (teffenberg dkk.,0121$.
!. #aktor$#aktor %eurologis
Dari berbagai studi DD&, banyak anak autis yang memiliki pola gelombang otak
abnormal, adanya tanda-tanda disfungsi otak. Abnormalitas neurologis tersebut
menunjukkan bah"a dalam masa perkembangan otak mereka, sel Ksel otak gagal
menyatu dengan benar dan tidak membentuk jaringan koneksi seperti terjadi dalam
perkembangan otak seara normal.
Pre'alensi autisme pada anak yang ibunya terinfeksi rubella semasa hamil hampir 0>
kali lebih besar dibanding pada anak-anak dalam popilasi umum. Pada para indi'idu
dengan autisme, berbagai daerah otak yang berhubungan dengan pemrosesan ekspresi
"ajah #lobus temporalis$ dan emosi #amigdala$ tidak aktif selama melakukan tugas
tersebut #:rithley dkk., 8>>0$.
E.1 Penanganan Gangguan Autistik
Penanganan untuk anak autis biasanya menoba mengurangi perilaku mereka
yang tidak "ajar dan meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial. Meski teori
biologis labih banyak mendapat dukungan empiris, inter'ensi psikologislah yang paling
menjanjikan.
0asa!ah /husus #a!am 0enangani Anak #engan Autis
Ada beberapa karakteristik yang dimiliki anak autis yang membuat mereka sulit
untuk ditangani, antara lain 7
Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan rutinitas dan
karakteristik serta tujuan utama penanganan menakup perubahan.
Pengisolasian diri dan gerakan stimulasi diri yang mereka lakukan dapat menghambat
pengajaran yang efektif.
(angat sulit menemukan ara untuk memoti'asi anak dengan autis. Penguat harus
eksplisit, konkret dan sangat menonjol.
(elekti'itas yang berlebihan dalam mengarahkan perhatian. Eika mereka sudah
terfokus pada satu hal atau benda, yang lain akan terabaikan sama sekali.
Penanganan Behavira! Untuk Anak #engan Autis
Dengan Modelling dan Pengondisian 'perant, para terapis perilaku mengajari
anak-anak autis untuk berbiara, mengubah biara ekolalik mereka, mendorong mereka
untuk bermain dengan anak lain, dan membantu mereka seara umum menjadi lebih
responsif kepada orang de"asa.
)'ar -o'aas menjalankan programoperant intensif bagi anak autis yang sangat
muda # di ba"ah usia B tahun$. Terapi menakup semua aspek kehidupan anak selama
lebih dari B> jam seminggu dalam "aktu lebih dari 8 tahun. Para orang tua diberi
pelatihan ekstensif sehingga penanganan dapat terus dilakukan hampir selama "aktu
terjaga anak-anak tersebut. (emua anak diberi hadiah bila berperilaku kurang agresif,
lebih patuh, dan lebih berperilaku pantas seara sosial, misalnya berbiara dan bermain
dengan anak lain. Tujuan program ini adalah membaurkan anak-anak tersebut dengan
asumsi bah"a anak autis seiring membaiknya kondisi mereka, akan lebih memperolah
manfaat bila berbaur bersama anak normal. Pendidikan yang diberika oleh orang tua bagi
anak dari pada penanganan berbasis klinik atau rumah sakit. Koegel dan para koleganya
#0128$ menunjukkan bah"a 85 hingga 3> jam pelatihan bagi orang tua sama efektifnya
dengan 8>> jam penanganan langsung di klinik dalam hal memperbaiki perilaku anak
autis. %amun Koegel berpendapat bah"a dari pada mengajari para orang tua untuk
memfokuskan pada mengubah perilaku bermasalah yang ditargetkan seara indi'idual
dengan ara berurutan, orang tua akan lebih efktif bila diajari untuk terfokus pada
meningkatkan moti'asi dan responsi'itas umum anak autis mereka. Misalnya,
mengjinkan anak memilih bahan pengajaran, memberi penguat alami #pujian, bermain$
dari pada pengaut berupa makanan, dan menguatkan upaya merespon serta memperbaiki
respon dapat meningkatkan interaksi dan komunikasi keluarga. (alah satu inter'ensi
berbasis komunitas yang berupaya melibatkan orang tua dalam proses penanganan adalah
#reatment and Education of %utistic and related *ommunication +andicapped *hildren
,#E%*+*-.
Penanganan Psik#inamik )agi Anak+Anak Autis
Menurut !runo !ettelheim #01;=, 01=B$, atmosfer yang hangat dan penuh kasih
sayang harus diiptakan untuk mendorong si anak memasuki dunia. Kesabaran sebagai
penerimaan positif tanpa syarat diyakini merupakan hal yang perlu dilakukan oleh anak
autis untuk memulai memperayai orang lain dan untuk mengambil kesempatan dalam
membangun hubungan dengan orang lain.
Penanganan #engan *)at+*)atan
Cbat yang paling umum digunakan adalah haloperidol, suatu obat antipsikotik
yang sering digunakan untuk menangani ski9ofrenia. !eberapa studi menunjukkan bah"a
obat ini mengurangi penarikan diri dari kehidupan sosial, perilaku motorik stereotipik,
dan perilaku maladaptif, seperti melukai diri sendiri dan agresi.namun, obat ini tidak
menunjukkan efek positif untuk aspek-aspek lain gangguan autistik, seperti hubungan
interpersonal yang abnormal dan hendaya bahasa.
Para peneliti meneliti suatu antagonis reseptor opioid, neltrakson, dan
menemukan bah"a obat ini mengurangi hiperakti'itas pada anak anak autis dan ukup
meningkatkan perilaku memulai interaksi sosial. (elain itu juga menunjukkan sedikit
peningkatan dalam perilaku memulai komunikasi. %amun obat tersebut tampaknya tidak
berpengaru pada simtom-simtom utama autisme, dan beberapa bulti menunjukkan bah"a
dalam dosis tertentu obat tersebut dapat meningkatkan perilaku melukai diri sendiri
#Anderson dkk, 011=$.
". /E-E0ASAN DAN DEP%ESI
Keemasan dianggap tidak normal apabila berlebihan dan menghambat fungsi
akdemik dan soaial atau menjadi menyusahkan atau persisten. !eberapa gangguan
keemasan yang dapat dialami oleh anak dan remaja antara lain fobia spesifik, fobia
sosial, gangguan keemasan menyeluruh, PT(D, dan gangguan mood, termasuk depresi
mayor dan gangguan bipolar. Diperkirakan 2F-1F anak-anak usia 0>-03 tahun pernah
mengalami depresi mayor selama setahun #&oleman, 011Ba$. perbedaan gender yang
jelas yampak setelah usia 05 tahun, dimana jumlah remaja perempuan yang mengalami
depresi dua kali lebih banyak dari pada laki-laki #,ankin dkk.,01126-e"insohn, rohde, 4
(eeley, 011B$.
Gangguan Kecemasan akan Perpisahan
&angguan keemasan akan perpisahan ditandai oleh ketakutan yang berlebihan
akan perpisahannya dari orang tua atau pengasuh lainnya. Anak-anak dengan gangguan
ini enderung terikat pada orang tua dan mengikuti kemana pun mereka berada di
lingkungan rumahnya. Anak tersebut dapat mengemukakan keemasan tentang kematian
dan memaksa seseorang untuk menemani saat mereka tidur. Mereka seringkali menglami
mimpi buruk, salit perut, mual, dan muntah ketika mengantisipasi perpisahan. &angguan
ini terjadi sekitar BF anak dan remaja a"al, dapat berlangsung sampai de"asa,
menyebabkan perhatian yang berlebihan pada keselamatan nak-anak dan pasangan serta
kesulitan mentoleransi perpisahan apapun dari mereka. Perkembangan gangguan ini
sering munul setelah adanya kejadian hidup yang menekan, seperti kematian, kondisi
sakit, perubahan sekolah atau rumah.
Perpektif tentang Gangguan Kecemasan di &asa Kanak$Kanak
Teoretikus psikoanalisis berpendapat bah"a keemasan-keemasan dan ketakutan
pada masa keil seperti yang terjadi pada orang de"asa, melambangkan konflik-konflik
yang tidak disadari. Teoretikus kognitif memfokuskan pada peran bias-bias kognitif yang
mendasari reaksi keemasan, seperti meragukan kemampuandalam mengatasi masalah,
menginterpretasikan situasi-situasi ambigu sebagai sesuatu yang menganam,
mengharapkan hasil yang negatif, melakukan self.talk yang negatif.
Teoretiokus belajar menyatakan bah"amunulnya keemasan menyeluruh dapat
menyentuh tema-tema yang luas, seperti ketakutan akan penolakan atau kegagalan yang
diba"a pada berbagai situasi. &aktor genetik dapat memegang peranan dalam keemasan
akan perpisahan dan gangguan keemasan lain disamping masalah interaksi sosial
#:oyle, 8>>0$.
'epresi pada &asa Kanak$Kanak dan Rema(a
Anak-anak dan remaja yang mengalami depresi dapat memiliki perasaan tidak
berdaya, pola berpikir yang lebih terdistorsi, keenderungan untuk menyalahkan diri
sendiri sehubungan dengan kejadian-kejadian negatif, serta self.esteem. "elf.confidence,
dan depresi akan kompetensi yang lebih rendah dibandingkan dengan teman dsebaya
yang tidak depresi #-e"insohn dkk.,011B6 Ko'as, 011;$. Mereka sering melaporkan
adanya episode kesdiahn danm menangis, merasa apatis, sulit tidur, lelah, dan kurang
nafsu makan. Mereka memiliki keinginan untuk bunuh diri bahkan menoba untuk bunuh
diri.
%ak-anak dan remaja yang depresi mungkin gagal melabelk perasaan mereka
sebagai depresi. (ebagian dari masalahnya adalah perkembangan kognitif. Anak biasanya
tidak mampu mengenali perasaan internal sampai usia = tahun. !ahkan kadang samapi
remaja, mereka tidak menyadari bah"a apa yang mereka alami adalah depresi.
-amanya episode depresi mayor pada anak-anak dan remaja kira-kira 00 bulan,
tetapi episode indi'idual bisa menapai 02 bulan pada beberapa kasus #&oleman, 011Ba$
dengan tingkat sedang dapat bertahan samapi beberapa tahun dan amat mempengaruhi
prestasi sekolah dan fungsi sosial.
Anak-anak yang depresi juga kurang memiliki berbagai keterampilan, termasuk
keterampilan akademik, atletik dan sosial. Mereka sulit berkonsentrasi di sekolah dan
mengalami hendaya memori sehingga sulit meningkatkan nilai mereka. Depresi pada
anak jarang terjadi dengan sendirinya. Mereka umumnya mengalami gangguan psikologis
laian seperti :D atau CDD.
/re!asi #an PenangananDepresi pa#a 0asa /anak+/anak #an %ema.a
Anak-anak dan remaja depresi enderung mengadopsi gaya kognitif yang ditandai
oleh sikap negatif terhadap diri sendiri dan masa depan. (eara keseluruhan, perubahan
kognisi pada anak-anak yang depresi meliputi hal-hal berikut 7
a.Mengharapkan yang terburuk #pesimis$
b. Membesar-besarkan konsekuaensi dari kejadian-kejadian yang negatif
.Mengasumsikan tanggung ja"ab pribadi untuk hasil yang negatif, "alaupun tidak
beralasan
d. (eara selektif hanya memperhatikan aspek-aspek dari berbagai kejadian
Terapi kognitif beha'ioral yang digunakan untuk menangani anak dan remaja
depresi biasanya melibatkan model keterampilan coping dimana anak-anak dan remaja
memperoleh keterampilan sosial #misalnya belajar bagaimana memulai perakapan, atau
berteman$ untuk meningkatkan kemungkinan memperoleh reinforement sosial. Terapi
ini biasanya uga menakup pelatihan dalam keterampilan pemeahan masalah dan ara-
ara untuk meningkatkan frekuensi dari akti'itas yang menyenangkan serta mengubah
gaya berpikir depresi.
Terapi keluarga dapat bermanfaat dalam membantu keluarga memeahkan
konflik-konflik dan mengatur kembali hubungan mereka sehingga anggota keluarga dapat
menjadi lebih suportif satu sama lain.
Antidepresan tipe ((+), seperti pro9a, ukup menjanjikan dalam mengatasi
depresi anak-anak dan remaja. -itium juga digunakan dan umumnya memberikan hasil
yang baik dalam mengatasi anak-anak dan remaja dengan gangguan bipolar.
Bunuh diri pada anak dan rema/a. !eberapa faktor yang diasosiasikan dengan
peningkatan resiko bunuh diri diantara anak dan remaja 7
a. Gender. Anak perempuan memiliki resiko tiga kali lebih besar untuk melakukan
usaha bunuh diri. %amum anak laki-laki enderung lebih berhasil melakukannya,
mungkin mereka lebih memilih ara-ara yang mematikan.
b. &sia. Mereka yang berada pada usia remaja akhir atau de"asa a"al #05-8B tahun$
beresiko lebih besar dibandingkan anak dan remaja a"al.
c. Geografi. +emaja yang tinggal di pemukiman yang kurang padat memiliki resiko
lebih besar untuk bunuh diri.
d. 0as. Tingkat bunuh diri pada remaja Afrika Amerika, Asia Amerika, dan ,ispanik
Amerika sekitar 3>F-;>F lebih rendah dari pada remaja kulit putih non ,ispanik.
e. (epresi dan !eputusasan.
f. Perilaku bunuh diri sebelumnya. (eperempat dari remaja yang melakukan perobaan
bunuh diri sudah pernah menoba sebelumnya. -ebih dari 2>F remaja yang bunuh
diri sudah pernah membiarakan hal tersebut sebelumnya. (ejarah bunuh diri dalam
keluarga meningkatkan resiko bunuh diri pada remaja.
g. Masalah.masalah keluarga. =5F remaja melakukan bunuh diri karena adanya
masalah dalam keluarga.
h. !e/adian.ke/adian yang menimbulkan stres. Misalnya saja, putus inta dengan paar,
kehamilan di luar nikah, masalah di sekolah.
i. Penyalahgunaan obat.
/. Penularan sosial. +emaja dapat meromantisasi bunuh diri sebagai suatu aksi
kepahla"anan yang menantang.
G. GANGGUAN ELI0INASI
Enuresis
Dnuresis berasal dari bahasa Junani en., yang berarti @di dalamA dan auron, yang
berarti @urineA. Dnuresis adalah kegagalan mengontrol !AK setelah seseorang menapai
usia @normalA untuk mampu melakukan kontrol. Dnuresis diperkirakan mempengaruhi
=F anak laki-laki dan 3F anak perempuan usia 5 tahun. &angguan ini biasanya hilang
dengan sendirinya pada usia remaja atau sebelumnya, "alaupun pada 0F kasus masalah
ini berlanjut sampai de"asa #APA, 8>>>$.
Dnuresis dapat terjadi selama tidur malam saja, selama anak terjaga saja, atau
keduanya. Dnuresis saat tidur malam saja adalah tipe yang paling umum, dan enuresis
yang munul saat tidur disebut mengompol.
:iri-iri diagnostik dari Dnuresis
Anak berulang kali mengompol di tempat tidur atau pakaian #baik disengaja maupun
tidak$.
Usia kronologis anak minimal 5 tahun #atau anak berada pada tingkat perkembangan
yang setara$.
Perilaku tersebut munul setidaknya dua kali seminggu selama 3 bulan, atau
menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi atau distres.
&angguan ini tidak memiliki dasar organik.
Perspekti, Teretis. Teori psikodinamika mengemukakan bah"a enuresis dapat
mempresentasikan ekspresi kemarahan terhadap orang tua karena pelatihan !AK dan
!AK yang keras. Teoretikus belajar menekankan bah"a enuresis munul paling sering
pada anak-anak dengan orang tua yang menoba melatih mereka sejak usia dini.
Kagagalan pada masa a"al dapat menghubungkan keemasan dengan usaha untuk
mengontrol !AK.
Dnuresis primer, ditandai oleh mengompol yang terus menerus dan tidak pernah
mampu untuk mengontrol !AK, diturunkan seara genetis. Dnuresis sekunder tampak
pada anak-anak yang memiliki masalah setelah mampu mengontrol !AK dan
diasosiasikan dengan mengompol seara berkala.
Penanganan. Dnuresis biasanya hilang dengan sendirinya setelah anak-anak
menjadi de"asa. Metode beha'ioral mengondisikan anak-anak untuk bangun bila
kandung kemih mereka penuh. (alah satu ontohnya adalah metode bel dan bantalan dari
Mo"rer. :aranya adalah dengan meletakkan bantalan di ba"ah anak yang sedang tidur.
!ila bantalan basah, sirkuit listrik menutup menyebabkan bel berbunyi dan
membangunkan anak yang masih tidur.setelah beberapa kali pengulangan, anak-anak
belajar untuk bangun sebagai respon dari tekanan kandung kemih sebelum mereka
mengompol. Teknik ini biasanya dilakukan dengan metode classical conditioning.
Terapi obat dapat dilakukan dengan menggunakan flufo1amine, sebuah ((+) tipe
anti depresan, bekerja pada sistem otak yang mengontrol !AK.
Enkpresis
Dnkopresis berasal dari bahasa Junani en. dan kopros, yang artinya @fesesA.
Dnkopresis adalah kurangnya kontrol terhadap keinginan buang air besar yang bukan
disebabkan oleh masalah organik. Anak harus memiliki usia kronologis minimal B tahun,
atau pada anak-anak dengan perkembangan yang lambat, usia mentalnya minimal B tahun
#APA, 8>>>$. (ekitar 0F dari anak usia 5 tahun menederita enkopresis. &angguan ini
lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Dnkopresis jarang terjadi pada usia remaja keuali
mereka yang mengalami retardasi mental yang parah atau intens. <aktor-faktor
predisposisi yang mungkin diantaranya adalah toilet training yang tidak konsisten atau
tidak lengkap dan sumber stres psikologis, seperti kelahiran saudara sekandung atau
mulai bersekolah.
"oiling #mengotori$, tidak seperti enuresis, lebih sering terjadi pada siang hari.
,al ini akan memalukan bagi anak. Anak-anak membuat jarak dengan teman-temannya
atau pura-pura sakit agar bisa tinggal di rumah.
Metode operant conditioning dapat membantu dalam mengatasi soiling. Disini
diberikan re"ard #dengan pujian atau ara-ara lain$ untuk keberhasilan usaha self-
ontrol dan hukuman untuk ketidaksengajaan #misanya, dengan memberi peringatan agar
lebih memperhatikan rasa ingin !A! dan meminta anak untuk membersihkan pakaian
dalamnya$. !ila enkopresis bertahan, direkomendasikan e'aluasi medis dan psikologis
untuk menentukan kemungkinan penyebab dan penanganan yang tepat.
+ingkasan jurnal
Eudul jurnal7 Deteksi Dini AD,D #Attention Defiit ,yperati'e Disorders$
Cleh7 Dr /idodo Eudar"anto (pA,
+ingkasan jurnal
Diagnosis and (tatisti Manual #D(M )*$ menyebutkan pre'alensi kejadian
AD,D pada anak usia sekolah berkisar antara 3 hingga 5 persen. -ebih sering pada anak
laki-laki dibandingkan anak perempuan. (eara epidemiologis rasio kejadian dengan
perbandingan B 7 0. %amun semakin lama tampaknya semakin meningkat. (ering
dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah, terdapat keenderungan keluhan
ini akan berkurang setelah usia (ekolah Dasar. Meskipun tak jarang beberapa manifestasi
klinis tersebut dijumpai pada remaja atau orang de"asa. AD,D adalah gangguan
perkembangan yang mempunyai onset gejala sebelum usia = tahun. (etelah usia anak,
akan menetap saat remaja atau de"asa. Diperkirakan penderita AD,D akan menetap
sekitar 05-8>F saat de"asa. (ekitar ;5F akan mengalami gejala sisa saat usia de"asa
atau kadang seara perlahan menghilang. Angka kejadian AD,D saat usia de"asa sekitar
8-=F. Predisposisi kelainan ini adalah 85F pada keluarga dengan orang tua yang
membakat.
Ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku anak AD,D, yaitu inatensi,
hiperaktif, dan impulsif. &angguan tersebut sudah menetap minimal ; bulan, dan terjadi
sebelum anak berusia = tahun. &ejala-gejala tersebut munul setidaknya dalam 8 situasi,
misalnya di rumah dan di sekolah. (ekitar 5>-;>F penderita AD,D didapatkan
sedikitnya satu gangguan perilaku penyerta lainnya.
PE2%2G%2%2 ($2$ +$PE0%!#$F$#%"
Terapi yang diterapkan terhadap penderita AD,D haruslah bersifat holistik dan
menyeluruh. Penanganan ini hendaknya melibatkan multi disiplin ilmu yang berpengaruh
terhadap penderita seara bersama-sama.
Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan menggunakan obat-
obatan. (ebelumnya, diagnosa AD,D haruslah ditegakkan lebih dulu dan pendekatan
terapi okupasi lainnya seara simultan juga harus dilaksanakan agar penanganannya lebih
efektif.
Terapi nutrisi dan diet. Diantaranya adalah keseimbangan diet karbohidrat,
penanganan gangguan penernaan, penanganan alergi makanan atau reaksi simpang
makanan lainnya.

Terapi biomedis dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi untuk mengatasi
defisiensi mineral, essential <atty Aids, gangguan metabolisme asam amino dan
toksisitas -ogam berat. Terapi ino'atif yang pernah diberikan terhadap penderita AD,D
adalah terapi DD& !iofeed bak, terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan
tradisional :ina seperti akupuntur.
Terapi okupasi. Diantaranya, (ensory )ntegration #AJ+D($, snoe9elen,
neurode'elopment Treatment #!C!AT,$, modifkasi perilaku, terapi bermain.
"#$M&%"$ ($2$
Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku seara langsung,
dengan lebih memfokuskan pada perubahan seara spesifik. Pendekatan ini ukup
berhasil dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial, bahasa dan pera"atan diri
sendiri, serta mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Modifikasi perilaku dapat
menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkeil hati menjadi suatu
perasaan yang penuh peraya diri.
Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan
gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan
kegiatan kelompok. !ermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas
dan bekerja saat usia de"asa.
Umpan balik, dorongan semangat, dan disiplin merupakan pokok dari upaya
perbaikan perilaku anak. Umpan balik diberikan agar anak bersedia melakukan sesuatu
dengan benar disertai dengan dorongan semangat dan keyakinan bah"a dia mampu
mengerjakan. Keberhasilannya haruslah diberi penghargaan yang tulus baik berupa
pujian atupun hadiah tertentu yang bersifat konstruktif. !ila hal ini tidak berhasil dan
anak menunjukkan tanda-tanda emosi yang tidak terkendali harus segera dihentikan atau
dialihkan pada kegiatan lainnya yang lebih ia sukai.
Daftar pustaka
Da'ison, &erald : dkk. 8>>;. Psikologi %bnormal. Eakarta 7 PT +aja &rafindo Persada
%e'id, Eeffrey ( dkk. 8>>;. Psikologi %bnormal. Eakarta 7 Penerbit Drlangga.
""". puterakembara.om