Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI

TUMBUHAN
( Penetapan Kadar CO
2
Pada Tumbuhan Phaseolus radiatus )


Disusun oleh:
MAXIMUS TIGO
F05112047
Kelompok ii

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2014
ABSTRAK
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O
2
untuk memecah senyawa-
senyawa organik menjadi CO
2
, H
2
O dan energi. Proses respirasi dalam kehidupan
sehari- hari disebut bernafas, dalam bernafas ini yang diambil adalah 0
2
untuk memecah
senyawa organik didalam tubuh. Tumbuhan sejatinya juga melakukan Respirasi,
meskipun mereka juga menghasilkan 0
2
. Respirasi dan metabolisme karbon yang terkait
di dalamnya melepas energi yang tersimpan di dalam senyawa karbon dengan cara yang
terkontrol untuk digunakan oleh sel. Pada waktu yang bersamaan, respirasi
menghasilkan banyak senyawa karbon yang dibutuhkan sebagai prekursor untuk
biosintesis senyawa organik lainnya.
Kuosien Respirasi (KR) merupakan angka perbandingan antara volume CO2
yang dibebaskan dengan volume O2 yang diabsorpsi secara simultan oleh jaringan
dalam periode waktu tertentu pada suhu & tekanan tertentu. Pada praktikum ini lakukan
bertujuan untuk mengetahui berapa banyak O2 yang dihirup oleh kecambah kacang
hijau ( Phaseolus radiatus ) serta CO2 yang dilepaskan pada waktu tertentu dengan dan
tanpa menggunakan NaOH. Pada percobaan ini kita memperhatikan pergerakan metil
biru pada pipa kapiler. Dengan pengamatan tersebut, maka kita dapat menghitung
Kuosien respirasi dari kecambah kacang hijau ( Phaseolus radiatus ). Pada pengamatan
terlihat rata-rata respirasi dalam oven lebih rendah yaitu 178,67 mg/l dibanding di suhu
ruang yaitu 244,67 mg/l. Ini karena suhu pada oven yang 40
o
C membuat sebagian
enzim pada kecambah kacang hijau mengalami denaturasi.
Kata Kunci : Respirasi, Fotosintesis, Kuosien Respirasi, Phaseolus radiatus











PENDAHULUAN
Sebagian besar organisme membuthkan udara dan diperoleh dari proses
pernapasan. Bernafas adalah salah satu perbuatan yang kita lakukan tanpa sadar
sepanjang hari. Bernafas sesungguhnya bertujuan memberi makan sel tubuh kita dengan
oksigen. Sel-sel tidak bisa bertahan hidup kecuali jika mereka diberi oksige. Tumbuhan
dan hewan daratan memperoleh oksigen (O
2
) dari atmosfer yang mengelilinginya dan
membebaskan karbon dioksida (CO
2
) ke lingkungan. Karbon dioksida adalah bagian
dari atmosfer bumi, merupakan gas yang kita keluarkan pada saat bernafas dan
digunakan oleh tanaman untuk fotosintesis.
Fotosintesis menyediakan molekul organik yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
mahluk hidup lainnya. Respirasi adalah suatu proses pengambilan O
2
untuk memecah
senyawa-senyawa organik menjadi CO
2
, H
2
O dan energi . Respirasi dan metabolisme
karbon yang terkait di dalamnya melepas energi yang tersimpan di dalam senyawa
karbon dengan cara yang terkontrol untuk digunakan oleh sel. Pada waktu yang
bersamaan, respirasi menghasilkan banyak senyawa karbon yang dibutuhkan sebagai
prekursor untuk biosintesis senyawa organik lainnya. Respirasi aerob merupakan
proses yang umum terjadi dalam hampir semua organisme eukariot, dan secara umum
proses respirasi di dalam tumbuhan mirip dengan apa yang dijumpai di dalam hewan
dan eukoriot tingkat rendah, tetapi beberapa aspek khusus dari respirasi tumbuhan
membedakannya dari respirasi hewan. Respirasi aerob adalah proses biologi yang
memobilisasi dan mengoksidasi molekul organik secara terkontrol. Selama respirasi,
energi bebas dilepas dan disimpan sementara dalam bentuk ATP yang siap digunakan
untuk aktifitas sel dan perkembangan tumbuhan (Tjitrosomo, 1987).
Elevated levels of atmospheric [CO2] are likely to enhance photosynthesis and
plant growth, which,in turn, should result in increased specific and whole-plant
respiration rates. However, a large body of literature has shown that specific respiration
rates of plant tissues are often reduced when plants are exposed to, or grown at,high
[CO2] due to direct effects on enzymes and indirect effects derived from changes in the
plants chemical composition(Miquel dkk,,2004).
Pada tumbuhan tingkat tinggi,pada umumnya yang mengandung klorofil serta
mampu menghasilkan makanan sendiri (autotrof). Selain melakukan fotosintesis,
tumbuhan tersebut juga melakukan respirasi dalam hidupnya. Salah satu ciri organisme
yakni melakukan respirasi untuk memperoleh energi dalam senyawa berenergi tinggi,
yaitu ATP guna melakukan aktivitas hidupnya. Tenaga yang diperoleh tersebut berasal
dari tenaga potensial yang terkandung di dalam senyawa substrat respirasi, yang dapat
berupa karbohidrat, lemak dan protein. Walaupun sangat berbeda mekanismenya,
respirasi pada prinsipnya serupa dengan pembakaran bensin dalam mesin mobil setelah
dicampur dengan bahan bakar (hidrokarbon). Makanan merupakan bahan bakar untuk
respirasi dan buangannya ialah karbodioksida dan air. Proses keseluruhan dapat
dirangkum sebagai berikut:
Senyawa organik + oksigen karbondioksida + air + energi (Campbell,2003)
Respiratory metabolism includes the reactions of glycolysis, the tricarboxylic
acid cycle and the mitochondrial electron transport chain, but is also directly linked
with many other metabolic pathways such as protein and lipid biosynthesis and
photosynthesis via photorespiration. Furthermore, any change in respiratory activity can
impact the redox status of the cell and the production of reactive oxygen species. In this
review, it is discussed how respiration is regulated and what alternative pathways are
known that increase the metabolic flexibility of this vital metabolic process. By looking
at the adaptive responses of respiration to hypoxia or changes in the oxygen availability
of a cell, the integration of regulatory responses of various pathways is
illustrated(Jahnke S. 2001).
Fotosintesis menyediakan molekul organik yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
mahluk hidup lainnya. Respirasi adalah suatu proses pengambilan O
2
untuk memecah
senyawa-senyawa organik menjadi CO
2
, H
2
O dan energi . Respirasi dan metabolisme
karbon yang terkait di dalamnya melepas energi yang tersimpan di dalam senyawa
karbon dengan cara yang terkontrol untuk digunakan oleh sel. Pada waktu yang
bersamaan, respirasi menghasilkan banyak senyawa karbon yang dibutuhkan sebagai
prekursor untuk biosintesis senyawa organik lainnya. Respirasi aerob merupakan
proses yang umum terjadi dalam hampir semua organisme eukariot, dan secara umum
proses respirasi di dalam tumbuhan mirip dengan apa yang dijumpai di dalam hewan
dan eukoriot tingkat rendah, tetapi beberapa aspek khusus dari respirasi tumbuhan
membedakannya dari respirasi hewan. Respirasi aerob adalah proses biologi yang
memobilisasi dan mengoksidasi molekul organik secara terkontrol. Selama respirasi,
energi bebas dilepas dan disimpan sementara dalam bentuk ATP yang siap digunakan
untuk aktifitas sel dan perkembangan tumbuhan (Tjitrosomo 1987).
Respirasi merupakan proses oksidasi bahan organik yang terjadi di dalam sel,
berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerobik ini diperlukan
oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam proses respirasi
secara anaerob dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa lain
karbondioksida.Diketahui nilai RQ untuk karbohidrat = 1, protein < 1 (= 0,8 0,9),
lemak <1 (= 0,7) dan asam organik > 1 (1,33) (Gardiner, 1991).
Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O
2
dari lingkungan. Proses
transport gas-gas dalam tumbuhan secaca keseluruhan berlangsung secara difusi.
Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan
jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian
juga halnya dengan CO
2
yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk
ke dalam ruang antar sel. Hal ini karena membran plasma dan protoplasma sel
tumbuhan sangat permeabel bagi kedua gas tersebut.
Setelah mengambil O
2
dari udara, O
2
kemudian digunakan dalam proses
respirasi dengan beberapa tahapan, diantaranya yaitu glikolisis, dekarboksilasi
oksidatif, siklus asam sitrat, dan transpor elektron. Tahapan yang pertama adalah
glikolisis, yaitu tahapan pengubahan glukosa menjadi dua molekul asam piruvat
(beratom C3), peristiwa ini berlangsung di sitosol. As. Piruvat yang dihasilkan
selanjutnya akan diproses dalam tahap dekarboksilasi oksidatif. Selain itu glikolisis
juga menghasilkan 2 molekul ATP sebagai energi, dan 2 molekul NADH yang akan
digunakan dalam tahap transport elektron (Salisbury, 1996).
Respirasi juga terjadi pada manusia yang disebut dengan pernapasan. Proses
menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Respirasi pada manusia bisa
memiliki gangguan seperti penyakit infeksi saluran pernapasan akut atau yang disebut
juga (ISPA), hal ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia karena masih
tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak balita. Untuk mencegahnya bisa
digunakan sanitasi rumah, yaitu usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan
pada pengawasan terhadap struktur fisik, dimana orang menggunakan sebagai tempat
berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana tersebut antara lain
ventilasi, suhu, kelembapan, padatan hunian, penerangan alami, kontruksi bangunan,
sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia dan penyediaan air
bersih (Sutarmi,1990).
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa organik
menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan organik yang
terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi
aerob diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam
respirasi anaerob dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa
selain karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit energi
Perbedaan antara jumlah CO
2
yang dilepaskan dan jumlah O
2
yang digunakan biasa
dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan disingkat RQ. Nilai
RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya
proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Lovelles, 1997).
Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O
2
dari lingkungan.
Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan
jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian
juga halnya dengan CO
2
yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk
ke dalam ruang antar sel. Sedangkan untuk menghitung respirasi dapat menggunakan
koefisian respirasi (KR), yaitu perbandingan CO
2
dengan O
2
(Kamariyani 1984).
Perbedaan antara jumlah CO
2
yang dilepaskan dan jumlah O
2
yang digunakan
biasa dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan disingkat RQ.
Nilai RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau
tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Simbolon, 1989).
Koesienre spirasi merupakan rasio dari volume CO2 yang dilepaskandengan
volume O2 yang diserapselama proses respirasi, yang juga ditandai dengan KR
danditulis CO2/O2. Bagaimanapun, nilairasio yang dilampirkan selama proses
respirasi cukup penting.Terbukti KR merupakan faktor penting yang menyebabkan
terjadinya fluktuasi dari rasio yang akan diterima (Miller,1994)
Laju respirasi ditetapkan dengan mengukur banyaknya CO2 yang terbentuk dan
gas O2 yang diserap per satuan berat segar jaringan per satuan waktu. Hasil
pengukuran absorbsi O2 dan CO2 yang dilepaskan digunakan sebagai penetu kuosien
respirasi ( KR ) jaringan. Kuosien respirasi ialah nisbah anatara molekul (volume) CO2
yang dilepaskan oleh jaringan pada periode wakttu tertentu dan molekul (volume) O2
yang diambil.



Dengan mengetahui nilai KR dari suatu organ jaringan,akan dapat diperkiraan
jenis senyawa yang dioksidasi (substrat dari proses respirasi) pada organ atau jaringan
tersebut. Tetapi senyawa yang dioksidasi mungkin terdiri dari beberapa jenis, sehingga
nilai KR yang terukur merupakan rata- rata hasil oksidasi sebagai senyawa tesebut.
Secara umum,nilai KR ini dapat digunakan sebagai indikasi dari porsi karbohidrat
sebagai substrat respirasi(Marcelle, 1986)
Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi adalah:
1. Ketersediaan Substrat
Laju respirasi tentu tergantung pada ketersediaan substrat, yakni
senyawa yang akan diurai melalui rangkaian reaksi. Tumbuhan yang
mengandung cadangan pati, fruktan, dan gula yang rendah akan menunjukkan
lajurespirasi yang rendah pula.
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi ajurespirasi, tetapi besarnya
pengaruh tersebut berbeda antara spesies dan bahkan berbeda antara organ pada
tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak
banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan
jauh lebih rendah dari jumlah oksigen yang tersedia di udara.
3. Suhu
Nilai Q
10
untuk respirasi antara suhu 5C sampai 25C adalah antara 2,0
sampai 2,5. Berarti untuk kisaran suhu tersebut, laju respirasi akan meningkat
lebih dari dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10C. Jika suhu
ditingkatkan sampai sekitar 35C, laju respirasi tetap meningkat tetapi dengan
nilai Q
10
yang lebih rendah.Penuruna nnilai Q
10
ini diduga disebabkan karena
penetrasi oksigen melalu ikutikul aatau epidermis tidak mencukupi
kebutuhan.Pada suhu yang lebih tinggi lagi (sekitar 40C) laju respirasi akan
mulai menurun, hal ini disebabkan karena sebagian enzim-enzim yang berperan
akan mulai mengalami denaturasi.
4. Tipe dan Umur Tumbuhan
Karena perbedaan morfologi antara berbagai jenis tumbuhan, maka
terjadi pula perbedaan laju respirasi antara tumbuhan tersebut. Umur tumbuhan
akan mempengaruhi laju respirasinya. Laju respirasi tinggi pada saat
perkecambahan dan tetap tinggi pada fase pertumbuhan vegetatif awal (dimana
laju pertumbuhan juga tinggi) dan kemudian turun dengan bertambahnya umur
tumbuhan(Lakitan,1993).
Praktikum ini dilakukan praktikum ini dengan tujuan menentukan kadar
CO
2
kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus ) pada suhu yang berbeda.





















METODOLOGI
Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis, 24 April 2014 pukul 13.00-15.00 dan
dilanjutkan pada hari Jumat, 25 April 2014 pukul 15.00-16.00 di Laboratorium Biologi
FKIP Universitas Tanjungpura.Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
kecambah kacang hijau(Phaseolus radiatus),kain kasa,benang,NaOH 10 M,HCL dan
BaCl 0,2 M sedangkan alat yang digunakan adalah botol selai,neraca
digital,erlemeyer,pipet,gelas ukur,dan buret.
Naoh 10 M sebayak 10 ml dimasukan kedalam 6 buah botol selai.Sebanyak 5
gram kecambah ditimbang dan dibungkus dengan kain dengan kasa,selanjutnya
kecambah tersebut dimasukan kedalam botol selai dengan posisi menggantung.Botol
ditutup dengan menggunakan aluminium foil dan tutup botolnya.3 buah botol selai
diletakkan di dalam oven bersuhu 60
0
C dan 3 botol yang lainnya diletakkan pada suhu
ruang selama 24 jam.Setelah 24 jam,diambil 2 ml NaOH dari masing-masing botol dan
dimasukan kedalam erlemeyer ditambahkan 3 tetes indikator PP dan BaCl 0,2 M
sebanyak 0,5 ml,selanjutnya dititrasi dengan larutan HCl 1 ml hingga warnanya
berubah menjadi warna pink.Setelah dititrasi dihitung kadar CO
2
dengan menggunakan
rumus berikut:
Kadar CO
2
= 1000 x V HCl x mr sampel NaOH
1000 x V sampel NaOH










HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Tabel Pengamatan Hasil Pengukuran Kadar CO2 :
No. Perlakuan Volume HCl (ml) Kadar CO
2
(mg/l)
1. Suhu ruang 25
0
C Ruang 1 : 11,5 Ruang 1 : 230
Ruang 2 : 13,7 Ruang 2 : 274
Ruang 3 : 11,5 Ruang 3 : 230
Rata-rata 18,35 244,67
2. Dalam oven 10
0
C Oven 1 : 8 Oven 1 : 160
Oven 2 : 7,5 Oven 2 : 150
Oven 3 : 11,3 Oven 3 : 226
Rata-rata 8,93 178,67

Kecambah melakukan pernapasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan
dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap atau diperlukan dan
menghasilkan gas karbondioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah energi. Percobaan
kali ini dilakukan untuk Menentukan kadar CO
2
kecambah kacang hijau (Phaseolus
radiatus) pada suhu yang berbeda. Pada dasarnya, proses respirasi bertujuan untuk
mendapatkan energi yang digunakan dalam metabolisme dan proses pertumbuhan serta
perkembangan untuk menjadi sebuah tanaman dewasa. Semakin besar suatu tanaman,
maka makin besar pula kebutuhannya akan energi sehingga dalam respirasinya
memerlukan oksigen yang banyak pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
respirasi suatu organisme antara lain: ketersediaan subtrat, ketersediaan oksigen, suhu
dan tipe serta umur suatu tumbuhan.
Koesien respirasi merupakan rasio dari volume CO2 yang dilepaskan dengan
volume O2 yang diserap selama proses respirasi, yang juga ditandai dengan KR
danditulis CO
2
/O
2
(Miller,1994). CO
2
yang merupakan hasil respirasi kecambah kacang
hijau terlarut kedalam NaOH (NaOH merupakan Zat yang dapat melarutkan CO
2
)
Hasil dari CO
2
didapat dari proses menintrasi NaOH dengan menggunakan HCl yang di
tunjukkan dengan perubahan warna menjadi pink karena BaCl
2
bereaksi dengan
indikator PP. Semakin banyak HCl yang digunakan untuk titrasi maka semakin banyak
pula kadar CO
2
yang terbentuk yang menunjukkan proses laju respirasi kecambah
kacang hijau (Lakitan,1993).
Utuk mengetahui kadar CO
2
dilakukan dengan mentitrasi NaOH sampel,pada
proses titrasi terjadi reksi yaitu
(1) CO
2(g)
+ 2NaOH
(aq)
Na
2
CO
3(s)
+ H
2
O
(l)

(2) Na
2
CO
3(s)
+ BaCl
2 (l)
2NaCl
(l)
+ BaCO
3(aq)
BaCO
3(aq)
+ 2HCl
(l)
BaCl
2(l)
+ CO
2(g)
+ H
2
O
(l)
Berdasarkat tabel hasil pengamatan hal ini terbukti dimana ketika kecambah
pada suhu ruang pada perlakuan yang pertama dengan volume HCL 11,5 ml kadar CO2
nya diketahui sebesar 230 mg/l, perlakuan ke dua volume HCL yang digunakan sebesar
13,7 kadar CO2 nya 274, perlakuan ke tiga volume HCL sebesar 11,5 kadar CO2
berarti 230. Perlakuan dengan kondisi berbeda yaitu di dalam oven, perlakuan pertama
volum HCL yang digunakan sebanyak 8 ml yang berarti kadar CO2 nya 160 mg/l,
perlakuan ke dua HCL 7,5 ml CO2 nya 150 dan perlakuan ke tiga HCL 11,3 ml CO2
nya 226 mg/l. Rata rata CO2 dari dua kondisi berbeda yaitu pada ruangan 244,67 mg/l
dan oven 178,67 mg/l.
Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan respirasi berlangsung lebih
maksimal pada suhu ruangan yaitu pada kisaran 25
0
C- 35
0
C dan menurun pada suhu
lebuh dari 40
0
C atau bahkan berhenti. Pada suhu kisaran 25
0
C- 35
0
C enzim-enzim yang
bekerja melakukan peoses metabolisme bekerja efektif karena pada suhu ini merupakan
suhu yang paling ideal. Suhu 40
0
C yang di dalam oven membuat sebagian enzim-enzim
yang bekerja mengalami kondisi denaturasi sehingga sedikit terjadi respirasi.






KESIMPULAN
Kecepatan respirasi tumbuhan dipengaruhi boleh beberapa faktor,salah satu di
antaranya adalah faktor suhu. Dimana hasil percobaan laju respirasi kecambah kacang
hijau (Phaseolus radiatus) pada suhu ruang 25
0
C lebih tinggi dibandingkan laju
respirasi pada suhu oven (40
0
C) yang ditunjukan oleh kadar CO
2
yang terbentuk
sebagai hasil dari respirasi pada tumbuhan.Hal ini menunjukan bahwa respirasi akan
maximum pada suhu antara 25
0
C 35
0
C dan akan menurun bahkan berhenti pada suhu
40
0
C. Karena pada suhu diatas 40
0
C sebagian enzim mengalami denaturasi.
Dalam praktikum ini sebaiknya praktikan di beri peringatan agar mengikuti
praktikum pada besok harinya supaya dapat mengikuti semuanya.















DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta. Erlangga.
Gardiner. Franklin P, dkk. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia UI Press.
Jahnke S. 2001. Atmospheric CO2 concentration does not directly affect leaf
respiration in bean or poplar. journalPlant, Cell and Environment 24: 1139
1151.
Kamariyani.1994.Fisiologi Pasca Panen.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Lakitan,benyamin.1993.Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan.Jakarta:PT.Raja Grafindo
Persada.
Lovelles. A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik.Jakarta:
PT Gramedia.
Marcelle ,R,H. Clijster, and M. Van Poucke. 1986. Biological Control of
Respiration.Martinus Nijhoff Publisher, Dordrecht.
Miller, E.C. 1994. Plant Physiology.McGraw-Hill Book Company,Inc., London
Miquel dkk.2004. Plant Respiration and Elevated Atmospheric CO2 Concentration:
Cellular Responses and Global Significance.Journal Annals of Botany 94: 647
656,
Salisbury, Frank B, dkk. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB Bandung
Simbolon,Hubu dkk.1989.Biologi Jilid 3.Jakarta:Erlangga.
Sutarmi, S. T.,1990. Botani Umum. Bandung: Penerbit Angkasa.
Tjitrosomo. 1987.Botani Umum 2.Bandung:Angkasa




LAMPIRAN
Perhitungan
Ruang 1
Kadar CO
2
=
() ()
()
=


= 230
Ruang 2
Kadar CO
2
=
() ()
()
=


= 274
Ruang 3
Kadar CO
2
=
() ()
()
=


= 230
Oven 1
Kadar CO
2
=
() ()
()
=


= 160
Oven 2
Kadar CO
2
=
() ()
()
=


= 150
Oven 3
Kadar CO
2
=
() ()
()
=


= 226