Anda di halaman 1dari 14

PENYUSUNAN

RANSUM UNTUK ITIK PETELUR

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN


INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN
JAKARTA
2000
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah S.W.T, yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga selesainya pembuatan brosur ini.
Brosur ini merupakan salah satu informasi hash pengkajian IP2TP Jakarta tentang
pemberian pakan efisien untuk pemeliharaan itik petelur secara intensif.
Penyediaan pakan merupakan salah sate hal yang sangat penting terutama pada
pemeliharaan ternak yang dilakukan secara intensif, dimana ternak berada di dalam
kandang secara terus menerus dan pakan harus disediakan dalam jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan ternak. Oleh sebab itu biaya pakan yang dikeluarkan dapat mencapai
80% dari seluruh biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan ternak.
Salah satu usaha untuk menekan Maya pakan tersebut adalah dengan memakai
bahan pakan yang murah harganya, mudah didapat dan tidak bersaing dengan makanan
manusia, tanpa mengurangi kualitas atau berpengaruh negatif terhadap ternak.

Semoga brosur ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam Penyusunan Ransum
Itik Petelur. dan bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, Nopember 2000

Kepala Instalasi,

Dr, Ir. Mei Rochjat D., Med.


Nip: 080 040 302
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI .
I. PENDAHULUAN
II. PERSYARATAN
1. Air
2. Protein Dan Energi
3. Vitamin Dan Mineral
III. BAHAN PAKAN ALTERNATIF UNTUK TERNAK ITIK
1. Dedak Padi
2. Singkong
3. Bekicot
4. Keong Mas
5. Cangkang
6. lkan Rucah
IV PEMBERIAN PAKAN
1. Macam Bahan yang Digunakan
2. Cara Penyusunan Ransum
3. Cara Pemberian Pakan
V. ANALISIS USAHA
VI. KESIMPULAN
DAFTAR BACAAN
I. PENDAHULUAN

Di Indonesia, ternak itik merupakan ternak unggas penghasil telur yang cukup
potensial disamping ayam. Kelebihan dari ternak ini adalah lebih tahan penyakit
dibandingkan dengan ayam ras sehingga pemeliharaannya mudah dan tidak banyak
mengandung resiko.

Umumnya, itik masih dipelihara secara tradisional dengan penggembalaan secara


berpindah-pindah dari sawah sate ke sawah yang lain. Dengan semakin sempitnya areal
penggembalaan dan banyaknya kasus kematian ternak akibat keracunan pestisida, maka
pemeliharaan cara ini makin terancam kelestariannya.

Salah satu usaha yang dipandang mampu mengatasi masalah ini adalah dengan
mengalihkan sistem pemeliharaannya dari sistem tradisional ke sistem intensif dengan
cara dikandangkan. Itik tidak lagi digembalakan di sawah untuk mencari makan sendiri,
tetapi pakan dan minum disediakan dalam kandang (Gambar 1). Air untuk
berenang-renang tidak disediakan sehingga itik hanya memanfaatkan energinya untuk
produksi telur.

Keuntungan pemeliharaan itik secara intensif adalah produktivitas telur lebih tinggi,
kesehatan dan keselamatan itik lebih terjamin serta biaya pemeliharaan lebih efisien.
Produksi telur itik yang dipelihara dengan cara digembalakan rata-rata 124
butir/ekor/tahun, sedangkan dengan sistem pemeliharaan intensif telurnya dapat mencapai
lebih dari 200 butir/ekor/tahun.

Dengan kata lain, itik yang dikandangkan mampu menghasilkan telur yang lebih
banyak dengan produksi yang lebih stabil dan lebih baik mutunya daripada yang
digembalakan. Pertimbangan ekonomis lainnya untuk memelihara ink secara intensif
adalah dapat menghemat tenaga. Seorang peternak dalam sistem penggembalaan hanya
mampu merawat paling banyak 100 ekor itik, sedangkan dengan cara dikandangkan
mampu merawat 600-1.000 ekor itik sekaligus, dengan demikian biaya tenaga kerja lebih
sedikit dan usaha ini cocok dijadikan usaha keluarga.

Semakin meningkatnya pemeliharaan ink secara intensif (dikandangkan), maka


pengetahuan dan keterampilan tentang penyusunan ransum dan pemberian pakan sangat
diperlukan. Dalam upaya untuk membantu peternak itik dalam penyusunan ransum yang
tepat guna, efisien dan hemat telah dilakukan beberapa kegiatan pengkajian di wilayah
DKI Jakarta. Hasil yang diperoleh dalam pengkajian tersebut ditampilkan dalam brosur ini.
II. PERSYARATAN KECUKUPAN GIZI

Penyediaan pakan untuk itik yang dipelihara secara intensif wring menjadi kendala
dalam peralihan cara pemeliharaan dari tradisional ke intensif, karma itik yang dipelihara
secara intensif biasanya diberi pakan produksi pabrik atau pakan komersial yang
menghabiskan 60-70% biaya produksi. Hal ini merupakan beban yang cukup berat apabila
itik yang dipelihara hanya berproduksi rata-rata kurang dari 60%. Keadaaan ini memacu
peternak untuk menyusun ransum itik sendiri. Penggunaan pakan komersial hanya
terbatas untuk itik periode awal (umur 0-28 hari), hal ini berkaitan dengan alasan yang
sifatnya ekonomis, disamping karma bahan baku pakan itik tidak mudah diperoleh.

Pada pemeliharaan itik intensif semua kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan atau
bertelur harus diberikan oleh peternak sehingga biaya yang dibutuhkan untuk pembelian
pakan cukup tinggi. Oleh karma itu pemberian pakan yang murah dan memenuhi
kebutuhan zat gizi sangat perlu untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan itik. Zat
gizi yang dibutuhkan oleh itik untuk dapat hidup, bertumbuh dan bertelur adalah: air,
protein, sumber energi (lemak dan karbohidrat), vitamin dan mineral. Adapun uraiannya
sebagai berikut :

1. Air.

Air merupakan zat gizi yang penting terutama untuk proses metabolisme
(pemecahan atau pembentukan zat gizi dalam tubuh), pengangkutan zat gizi dan zat
khusus didalam darah serta untuk pengeluaran panas tubuh. Penyediaan air secara terus
menerus sangat diperlukan karma ternak itik tidak dapat minum air dalam jumlah banyak
pada suatu saat. Kekurangan air akan menyebabkan ternak kerdil bahkan mati. Berbeda
dengan ayam, selain sebagai zat gizi (diminum), air juga dibutuhkan itik untuk membasahi
kepalanya. Oleh karma itu ke dalaman air pada tempat minum harus dapat membasahi
kepala itik.

2. Protein dan Energi

Protein adalah zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, menggantikan jaringan
tubuh yang sudah tua dan untuk pembentukan antibodi yang berguna untuk melawan
penyakit di dalam tubuh.
Penentuan kebutuhan protein selalu dihubungkan dengan tingkat energi dalam
pakan karma protein dapat dijadikan sebagai sumber energi dan dibutuhkan dalam
pembentukan protein. Untuk itik periode bertelur, pemberian pakan dengan kadar protein
tinggi (18%) dapat memproduksi telur lebih balk dibandingkan pakan dengan kadar protein
lebih rendah (16%), sedangkan energi metabolisme untuk itik yang sedang bertelur adalah
2.700 Kkal/kg. Pemberian kadar protein yang lebih rendah menyebabkan telur yang
dihasilkan lebih kecil, sedangkan bila kadar energi pakan yang lebih rendah akan
menyebabkan penurunan produksi telur, tetapi tidak mempengaruhi berat telur.
3. Vitamin dan Mineral

Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan sebagai pernbantu (katalis) dalam proses
pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya dibutuhkan dalam
jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka (tulang) tubuh, membantu
pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk pembentukan kerabang (kulit) telur.
Zat kapur atau (Calcium = Ca) dan fosfor (P) adalah zat mineral yang paling banyak
dibutuhkan. Kedua zat ini mempunyai hubungan yang saling terkait. Untuk itik yang
sedang bertelur dibutuhkan zat kapur dan fosfor yang cukup tinggi dalam pakannya
berkisar 3,0% Ca dan 0,60% P.

Penurunan zat kapur hingga 1,25% dalam pakan menyebabkan penurunan


produksi telur dan kerabang telur yang lebih tipis. Kekurangan zat fosfor akan menurunkan
nafsu makan dan menyebabkan pertumbuhan yang terlambat, serta penurunan produksi
dan berat telur. Penambahan garam dapur 0,2% hingga 0,5% sudah dapat menunjang
pertumbuhan dan produksi telur yang balk. Kebutuhan akan mineral lain (Mg, K, Zn, Fe, I,
Mn, Mo, Se, Co, Cl) dan vitamin adalah dalam jumlah yang sangat sedikit.

Dalam praktek sehari-hari digunakan campuran mineral dan vitamin (premix) yang
telah banyak diperdagangkan dengan komposisi yang telah disesuaikan, sehingga hanya
perlu diberikan sebanyak 0,25 - 0,5 Kg premix untuk tiap 100 Kg pakan. Secara ringkas
kebutuhan zat gizi utama untuk itik yang disarankan disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Beberapa Zat Gizi Untuk Itik Petelur.

ANAK (0-8) DARA (9-20) PETELUR


MINGGU MINGGU (>20)
MINGGU
Energi metabolis (KkaI/Kg) 3100 2700 2700
Protein kasar (%) 17 - 20 15 - 18 17 - 19
Ca (%) 0,6 - 1,0 0,6 - 1,0 2,9 - 3,25
P (% 0.6 0,6 0,6
III. BAHAN PAKAN ALTERNATIF UNTUK
TERNAK ITIK

Banyak bahan pakan alternatif (bahan pakan pilihan) yang bisa digunakan, namun dalam
mencari bahan yang akan dipakai hendaknya berpegang pada kadar protein dan energi
yang diperlukan itik.

Bahan pakan sumber energi untuk itik antara lain adalah dedak padi, jagung, menu,
tepung singkong, polar, nasi keying, roti afkir dan mie afkir, namun dalam pemberiannya
sebaiknya tidak dalam bentuk keying, tetapi agak basah atau jika terlalu keras perlu
direndam sebelum diberikan pada itik. Sebagai contoh perendaman diperlukan jika itik
diberi nasi keying, sehingga nasi tersebut menjadi agak lunak/lembek dan dapat ditelan
dengan mudah oleh itik.

Bahan pakan sumber protein yang sangat disukai oleh itik dalam bentuk segar
adalah ikan rucah, cangkang udang dan keong, namun pemberiannya haruslah dalam
ukuran yang cukup kecil untuk memudahkan itik menelannya. Selain itu berbagai jenis
bahan pakan sumber protein yang berbentuk tepung yang dapat diberikan kepada itik
antara lain bungkil kelapa, tepung ikan, bekicot dan sebagainya. Kandungan zat gizi
beberapa bahan

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Beberapa Bahan Pakan.


Energi metabolis Protein Fosfor Calsium
Metionin Lisin
Jenis Bahan metabolis kasar tersedia tersedia
(%) (%)
(kkaI-Kg) (%) (%) (%)
Dedak padi 2.400 12,0 1.0 0,20 0,25 0,45
Menir 2.660 10,3 0,12 0,09 0,17 0,30
Jagung 3.300 8,5 0,30 0,02 0,18 0,20
Bungkil kelapa 1.410 18,6 0,60 0,10 0,30 0,55
Tepung cangkang udang 2.000 30,0 1.15 7,86 0,57 1,50
Udang segar 2.900 54,20 1,40 4,20 0,57 1,50
Ikan rucah segar 3.122 64,33 3,37 4,15 1,79 5,07
Tepung ikan 2.960 55,11 2,85 5,30 1,79 5,07
Tepung bekicot 2.700 44.0 0,43 0,69 0,89 7,72
Polar 1.300 15,50 1,17 0,14 0,20 0,30
Limbah Roti - 10,50 0,13 0,17 - -
Tepung Keong Mas - 46,20 0,35 2,98 0,30 1,37
Tepung Singkong 3.200 2,00 0,40 0,33 0,01 0,07
1. Dedak Padi

Dedak path (bekatul) merupakan hash dari prows penggilingan path yang digiling,
jumlahnya sekitar 10% dari total berat path. Pemanfaatan dedak sebagai bahan pakan
ternak mempunyai kandungan karbohidrat atau sumber energi yang cukup tinggi.
Penggunaan dedak path hingga 75% dalam ransum itik petelur tidak mengganggu
produksi telur, asalkan kandungan nutrisi yang lainnya cukup.

2. Singkong

Singkong merupakan tanaman yang mudah dijumpai dart banyak dihasilkan di


Indonesia. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai bahan pakan itik adalah umbi
gaplek. Tepung singkong/gaplek mempunyai kandungan karbohidat atau sumber energi
yang tinggi, hampir menyamai jagung, tetapi miskin akan protein (sekitar 2%). Pada umbi
singkong, sebagian besar sianida terdapat pada kulitnya. Pengupasan kulit umbi,
perendaman dan pengeringan dapat menurunkan kadar sianida tersebut. Tepung
singkong dapat digunakan dalam pakan ink hingga 30%. Pemberian dalam jumlah yang
lebih tinggi akan menyebabkan ternak mencret (diare).

3. Bekicot

Bekicot yang umumnya terdapat di pedesaan dapat digunakan sebagai sumber


protein untuk itik. Bekicot segar mengandung protein kasar sekitar 15%, kadar protein ini
dapat ditingkatkan dengan membuat tepung bekicot (dipisahkan dari kulit, dikeringkan lalu
digiling).

Tepung bekicot yang dibuat dari bekicot mentah mengandung 52% protein, sedangkan
yang dibuat dari bekicot rebus mengandung 32,7% protein. Tepung bekicot mentah dapat
dicampurkan dalam pakan itik hingga 15%, sedangkan tepung bekicot rebus hingga 20%.
4. Keong Emas

Keong emas balk digunakan untuk campuran pakan itik karma hewan air ini
mengandung banyak protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat
menyebabkan pengaruh negatif terhadap ternak, yaitu dapat menyebabkan penurunan
produksi ternak karma di dalam lendir keong tersebut terdapat suatu zat anti nutrisi yang
dapat menghambat pertumbuhan ternak, oleh sebab itu dianjurkan menggunakan keong
Emas yang telah direbus, karma zat anti nutrisi yang ada akan berkurang atau bahkan
hilang setelah proses perebusan selama 15-20 menu.

5. Cangkang Udang

Cangkang udang (terdiri dari kepala dan kulit) merupakan limbah yang banyak
ditemui di daerah pantai terutama di daerah yang mempunyai pabrik kerupuk udang dan
penampungan (pengolahan) udang untuk ekspor. Cangkang udang basah mempunyai
kadar air 60-65% dan apabila dikeringkan mengandung 50% protein kasar, 11% calcium
dan 1,95% fosfor. Pemberian cangkang udang kering hingga 30°,% dapat meningkatkan
produksi telur itik cukup tinggi.

6. Ikan Rucah

Ikan rucah yang banyak dihasilkan di berbagai daerah dapat digunakan sebagai
sumber protein bagi itik. Pemberian ikan rucah akan Baling melengkapi kebutuhan protein
jika diberikan bersamaan dengan cangkang udang.
IV. PEMBERIAN PAKAN

Berdasarkan hash survei yang dilakukan terhadap peternak itik di Jakarta Timur
diketahui bahwa jumlah pakan yang digunakan oleh peternak terbukti sangat berlebihan,
yaitu rata-rata sebanyak 380 gr/ekor/hari, jauh melebihi jumlah yang dianjurkan yaitu
hanya sebanyak 150 gr/ekor/hari. Kelebihan dalam jumlah pemberian pakan tersebut
mengakibatkan terjadinya kelebihan dalam jumlah energi metabolis dan protein kasar.
Jumlah energi metabolic dan protein kasar yang diberikan masing-masing 4.800 Kkal/kg
dan 40,95%, jauh melebihi kebutuhan itik petelur yang hanya 2.500 Kkal/kg dan 18,28%.
Melalui penghematan jumlah pakan yang diberikan akan dapat dilakukan penghematan
dalam biaya pakan yang dikeluarkan.

1. Macam bahan pakan yang digunakan

Bagi peternak skala kecil dengan jumlah itik puluhan ekor sampai ratusan ekor,
dianjurkan untuk mengusahakan pakan alternatif Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan
alternatif bahan paling murah dan mudah didapat di sekitar lokasi usaha.
Berbagai bahan pakan yang dapat digunakan antara lain adalah: dedak, menir, cangkang
udang, ikan rucah, seng (ZnSo4), kapur dan Top Mix. Untuk dapat digunakan sebagai
bahan pakan terlebih dahulu perlu dilakukan analisis terhadap bahan pakan tersebut,
apalagi wring dilaporkan bahwa kandungan gizi suatu bahan pakan dapat berubah
tergantung kepada asal bahan tersebut, ada atau tidak adanya pemalsuan, lama/baru
kondisi penyimpanan dan prows produksinya.

2. Cara penyusunan Ransum

Setelah diketahui kebutuhan gizi serta kandungan gizi bahan pakan yang tersedia,
selanjutnya dapat disusun pakan yang tepat agar campuran pakan tersebut dapat
memenuhi kebutuhan itik untuk berproduksi dengan baik. Contoh susunan pakan itik
petelur adalah sebagai berikut:
1. Dedak = 54,64 %
2. Menir = 13,66 %
3. Cangkang Udang Segar = 19,58 %
4. Ikan Rucah Segar = 9,11 %
5. Seng (ZnSo4) = 0.05 %
6. Kapur = 2,73 %
7. Top Mix = 0,23 %

3. Cara Pemberian Pakan

Semua bahan selain cangkang udang dan ikan rucah segar ditimbang untuk
keperluan satu minggu. Kemudian dicampur secara merata lalu dibagi menjadi 7 bagian
dan masing-masing bagian dimasukkan kedalam kantong plastik yang berbeda.
Masing-masing kantong plastik berisi 10,70 kg campuran perhari untuk 100 ekor. Ikan
rucah segar (1,37 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran dalam kantong plastik
(5,40 kg) diberikan dalam bentuk agak basah pada jam 07.00 (pagi), kemudian cangkang
udang segar (2,94 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran tadi (5,40 kg) diberikan
jam 15.00 (sore hari) dalam bentuk agak basah yaitu dengan jalan menambahkan sedikit
air supaya tidak mudah ditiup angin dan memudahkan itik untuk mengkonsumsinya.
V. ANALISIS USAHA

Jika dibandingkan dengan penggunaan pakan tradisional, pakan hasil ramuan


dapat meningkatkan produksi telur rata-rata sebesar 42,86%, dengan berat telur 68,57
gram, dan kekentalan putih telur (Naught-Unit) 82,54. Selain itu pakan tersebut dapat
meningkatkan warm kuning telur sebesar 12,17% yang menimbulkan warm kuning telur
cukup baik yaitu warm kuning kemerahan sebagai akibat adanya pigmen astaxanthin
didalam cangkang udang.

Biaya pakan harian yang diperlukan untuk pemeliharaan 100 ekor itik dengan
pemberian pakan tersebut adalah sebesar Rp. 11.048,- jauh lebih murah dibandingkan
biaya pakan yang biasa dilakukan petani yaitu Rp. 21.138,-. Sedangkan pendapatan
harian yang diperoleh dari hasil penjualan telur itik, jika diumpamakan harga jual telur itik
Rp. 600/butir adalah sebesar Rp. 25.716,- Dengan demikian pemeliharaan itik dengan
pemberian pakan tersebut mempunyai nilai ekonomis sebesar 2,33% jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan cara petani (1,08%). Selain itu pendapatan harian yang diperoleh
dari pemeliharaan 100 ekor itik dengan menggunakan pakan tersebut sebesar Rp. 14.668,
sedangkan dengan cara petani hanya sebesar Rp. 1.614,- jadi akan diperoleh tambahan
pendapatan kotor sebesar Rp. 13.054/ 100 ekor/hari untuk penggunaan pakan perbaikan.
VI. KESIMPULAN

Penggunaan pakan perbaikan selain terbukti lebih hemat, juga dapat meningkatkan
produksi telur itik sebanyak 4,94 butir/ 100 ekor/hari dan mempunyai nilai efisien ekonomi
lebih tinggi dari pada pakan tradisional.
Tambahan pendapatan kotor yang diperoleh dengan menggunakan pakan
perbaikan apabila dibandingkan dengan pakan tradisional adalah sebesar Rp. 13.054/100
ekor/hari.

DAFTAR BACAAN

Andayani, D. Muflihani, Y. Y.C.Rahardjo, B.Wibowo dan B.Bakrie, 1999.


LaporanAkhirPenelitian AdaptifTeknologi Pakan dari Cangkang Udang Ikan Rucah
untuk Itik Petelur. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta.

BPT, 1990 Potensi Pengembangan Ink dengan Pemeliharaan Terkurung . Balai Penelitian
Ternak Ciawi.

Rahardjo, 1985. Nilai Gizi Cangkang Udang dan Pemanfaatannya untuk Ink. Prosidings
Seminar Peternakan dan Forum
Peternakan Unggas dan Aneka Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Bogor

Rasyaf, M.1984. Beternak Itik Petelur. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.

Sandhy, S.W.2000. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya Jakarta.

Sinurat, A. P.2000. Penyusunan Ransum Ayam Buras dan Itik. Balai Penelitian Ternak
Ciawi.

Whendrato, I dan Madyana, LM, 1986. Beternak Itik Tegal Secara Populer. Eka Offset,
Semarang.

Nomor : O1/Bros/IPPTP JKT/2000


Oplag : 1000 eksemplar
Sumber dana : Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian
Partisipatif (PAATP) DKI Jakarta
Produksi : Instalasi Penelitian dan Pengkajian
Teknologi Pertanian Jakarta

TIDAK DIPERDAGANGKAN