Anda di halaman 1dari 26

1

SKENARIO
NYERI PANGGUL KARENA JATUH
Seorang Perempuan berusia 60 tahun dating ke UGD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri pinggul
kanannnya setelah terbentur lantai kamar mandi karena jatuh. Sejak terjatuh yang dirasakan tidak
mampu berdiri karena rasa neri yang sangat pada pinggul kanannya. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum sakit berat, merintih kesakitan, compos mentis. Tekanan darah 140/90
mmHg, denyut nadi 104x/menit. Terdapat hematom pada art. Coxae dextra, posisi tungkai atas
kanan sedikit flexi, abduksi , dan exorotasi. Ditemukan krepitasi tulang dan nyeri tekan juga
pemendekan eksterimitas. Gerakan terbatas karena nyeri. Neurovascular distal baik. Pada
pemeriksaan radiologis didapatkan fraktur femoris tertutup. Dokter menyarankan untuk
dilakukan operasi.



















2

KATA-KATA SULIT
Compos mentis :
Kesadaran normal, sadar sepenuhmya, dapat menjawab pertanyaan disekelilingnya.
Hematom :
Penggumpalan darah yang terlokalisasi, umumnya menggumpal pada organ, rongga atau
jaringan akibat pecahnya dinding pembuluh darah.
Krepitasi :
Bunyi yang terdengar akibat pergeseran dari ujung patahan tulang.
Fraktur :
Terputusnya kontinuitas dari tulang, lempeng epifisis atau tulang rawan sendi.
Neurovascular :
Berhubungan dengan elemen syaraf dan vascular.
PERTANYAAN
1. Apa saja klsifikasi fraktur?
2. Apa yang menyebabkan rasa nyeri pada pinggul kanan?
3. Mengapa bias terjadi pemendekan ekstremitas?
4. Adakah hubungan fraktur dengan usia?
5. Bagaimana posisi femur terhadap acetabulum
6. Mengapa hematom bisa timbul?
7. Bagaimana penanganan pertama saat fraktur femur?
8. Jenis dislokasi apa yang kira-kira tejadi?
9. Bagaimana posisi pemeriksaan radiologi yang dilakukan?
10. Bagaimana gambaran radiologi yang didapat?
11. Adakah pemeriksaan penunjang lainnya?
12. Apakah ada hubungan fraktur dengan tekanan darah?
13. Kapan fraktur harus dilakukan operasi?
14. Bagaimana proses penyembuhan fraktur?
15. Apakah factor jenis kelamin mempengaruhi terjadinya fraktur?
16. Dilihat dari posisi jatuh, bagian apa yang sekiranya terjadi fraktur?
17. bagaimana posisi tulang sehingga tungkai atas fleksi, abduksi, dan eksorotasi?
18. Bagaimana cara pemeriksaan neurovascular?
19. Bagaimana terjadinya fraktur?
20. Setelah terjadi fraktur gerakan apa yang tidak bisa dilakukan?
21. Teknik operasi apa yang dilakukan?

JAWABAN
1. Klasifikasi dibagi menurut lokasi, luas, konfigurasi, hubungan antara bagian fraktur,
hubungan antara bagian fraktur dengan jaringan sekitar
2. Tertekannya saraf, adanya hematom pada art. Coxae, prostaglandin meningkat, pembuluh
darah vasodilatasi.
3. Akibat kontraksi otot atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen saling melingkup satu
sama lain 2,5-5cm.
4. Ada, densitas tulang semakin tua semakin menurun atau berkurang.
3

5. Femur berada didepan acetabulum.
6. Adanya penekanan saraf dan pembuluh darah, terbentur benda tumpul sehingga
pembuluh darah pecah dan intravascular keluar ke jaringan sekitar.
7. Periksa dengan cara look, feel, movement kemudian immobilisasi dengan balut dan bidai,
pemberian obat analgesic.
8. Dislokasi anterior.
9. Ap Lateral
10. Adanya diskontinuasi pada gambaran radioopak.
11. CT-Scan, MRI
12. Ada
13. Secepatnya setelah fraktur.
14. Fibroblas osteosid callus tulang dialiri pembuluh darah tulang
15. Ya, wanita lebih rapuh
16. Collum
17. Berada didepan acetabulum
18. Palpasi dorsalis pedis / angiografi.
19. Secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect)
20. Ekstensi, adduksi, dan endorotasi.
21. Pemasangan pen, mur.















4

HIPOTESIS
Usia lanjut merupakan salah satu faktor risiko terjadinya fraktur selain dari jenis kelamin dan
densitas tulang.Akibat dari jatuh dalam posisi duduk terjadilah fraktur dislokasi pada femur,
dengan gejala nyeri, hematom, dan posisi tungkai atas kanan fleksi, abduksi, eksorotasi, dan
disrespansi. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan secara Ap Lateral didapatkan diskontinuitas
pada collum femoris. Tindakan awal yang dapat dilakukan adalah immobilisasi dengan balut dan
bisai, kompres dengan air dingin, serta pemberian obat analgesic kemudian dirujuk segera ke
dokter spesialis bedah orthopedic dan trauma untuk dilakukan operasi pemasangan pen.



















5

SASARAN BELAJAR
LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Femur dan Coxae
LO. 1. 1. Makroskopik
LO. 1. 2. Mikroskopik
LO. 1. 3. Kinesiologi

LI. 2. Memahami dan Menjelaskan Fraktur
LO. 2. 1. Definisi
LO. 2. 2. Etiologi
LO. 2. 3. Klasifikasi
LO. 2. 4. Patofisiologi
LO. 2. 5. Manifestasi Klinis
LO. 2. 6. Diagnosis
LO. 2. 7. Tatalaksana
LO. 2. 8. Komplikasi
LO. 2. 9. Prognosis
















6

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Femur dan Coxae
1.1 Makroskopik
Femur



(Sumber: Sobotta)


7



Coxae


(Sumber: clinically oriented anatomy)
Melalui evolusi & perkembangannya tulang femur mengalami pembengkokan (sudut
inklinasi) dan terpuntir (rotasi medial dan torsi sehingga lutut dan semua sendi di sebelah
inferiornya fleksi ke posterior) untuk mengakomodasi posisi tegak kita dan memungkinkan
pola berjalan dengan dua kaki dan berlari. Sudut inklanasi pelekatan abductor dan rotator
pada trochanter mayor merupakan pengungkitan bertambah, penempatan superior abductor,
dan orientasi oblik femur dan paha. Bersama dengan sudut torsi, gerakan rotatori oblik pada
8

articulation coxae diubah menjadi gerakan fleksi-ekstensi dan abduksi-adduksi (masing-
maing pada bidang sagittal dan coronal) serta rotasi.

Sudut inklinasi diantara sumbu panjang collum femoris dan corpus femoris itu berbeda-beda
sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan perkembangan femur. Sudutnya pun dapat berubah
sesuai dengan patologisnya. Bila sudut inklinasi bertambah disebut coxa valra bila bertambah
menjadi coxa valga. Coxa valra mengakibatkan sedikit pemendekan ekstremitas dan
membatasi abduksi pasif.
(Keith L. Moore, 2013)

1.2 Mikroskopik



9




Tulang dewasa dan yang sedang berkembang mengandung 4 jenis sel berbeda. Yaitu :
Osteoprogenitor adalah sel induk pluripotent tidak berdiferensiasi yang berasal dari
jaringan ikat mesenkim. Sel ini terletak di lapisan dalam jar ikat periosteum dan di
lapisan endosteum dalam melapisi rongga sumsum, osteon (havers) dan kanalis. Fungsi
utama kedua lapisan ini untuk menutrisi tulang dan memberikan suplai bagi osteoblast
baru untuk pertumbuhan. Dan kemudian berdiferensiasi menjadi osteoblast yang
menyekresi serat kolagen dan matriks tulang.
Osteoblast terdapat pada permukaan tulang yang berfungsi menyintesis, mengekskresi,
dan mengendapkan osteoid komponen tulang baru. Osteoid tidak mengandung mineral
namun, osteoid segera mengalami mineralisasi menjadi tulang.
Osteosit adalah bentuk matur osteoblast dan merupakan sel utama tulang. Sel ini
berukuran lebih kecil dari osteoblast. Osteosit terperangkap dalam matriks tulang yang
diproduksi oleh osteoblast. Lokasinya berada di bawah lacuna dan sangat dekat dengan
pembuluh darah. Karena matriks tulang sudah mengalami mineralisasi, nutrient dan
metabolit tidak dapat bebas berdifusi menuju osteosit. Karena itu, tulang sangat vascular
dan memiliki system saluran khusus atau kanal halus yang disebut kanalikuli yang
bermuara kedalam osteon. Kanalikuli mengandung cairan ekstraseluler yang
memudahkan masing masing osteosit berhubungan dengan yang lainnya dan material
dipembuluh darah. Ini bertujuan untuk membentuk hubungan kompleks dengan sekitar
pembuluh darah di osteon dan terjadi pertukaran yang efisien. Kanalikuli menjaga
osteosit tetap hidup dan osteosit sebaliknya . jika osteosit mati, matriks tulang
disekitarnya direabsorbsi oleh osteoklas.
Osteoklas adalah sel multinukleus besar yang terdapat di sepanjang permukaan tulang
tempat terjadinya resorpsi, remodeling dan perbaikan tulang. Osteoklas berasal dari
penyatuan sel sel progenitor homeopetik atau darah di sumsum tulang. Fungsi utamanya
yaitu reabsorpsi tulang selama remodeling.osteoklas sering terdapat didalam lekuk
dangkal pada matriks tulang yang disebut lacuna howship. Enzim lisosom yang
dikeluarkan oleh osteoklas mengikis cekungan ini
(Victor P. Eroschenko, 2010)
Terdapat dua macam proses penulangan:
1. Penulangan intramembranosa / desmal (tanpa dimulai dengan pembentukan tulang rawan)
2. Penulangan intrakartilaginosa / endokondral (dimulai dengan pembentukan tulang rawan)

10



a. Zona Istirahat : terdapat di lempeng epifisis,terdiri atas sel tulang rawan primitif yang
tumbuh kesegala arah
b. Zona proliferasi : terletak di metafisis,terdiri atas kondrosit yang membelah,dan
menghasilkan sel berbentuk gepeng atau lonjong yang tersusun berderet-deret longitudinal
seperti tumpukan uang logam,sejajar dengan sumbu panjang model tulang rawan.
c. Zona maturasi dan hipertrofi kondrosit : ukuran kondrosit beserta lakunanya bertambah
besar
d. Zona klasifikasi : terjadi endapan kalsium fosfat didalam matriks tulang tawan.Matriks
menjadi basofil dan kondrosit banyak yang mati (perlekatan zat kapur,nutrisi kurang)
e. Zona degenerasi : kondrosit berdegenerasi,banyak yg pecah,lakuna kosong dan saling
berhubungan satu dnegan yang lainnya.Daerah matriks yang hancur diisi oleh sel
osteoprogenitor
f. Zona penulangan (osifikasi) : sel progenitor yang mengisi lakuna yang telah kosong berubah
menjadi osteoblas,yang mulai mensekresi matriks tulang,sehingga terbentuklah balok-balok
tulang. (dihancurkan oleh osteoklas)
Proses Penyembuhan Fraktur Primer
Penyembuhan cara ini terjadi internal remodelling yang meliputi upaya langsung oleh
korteks untuk membangun kembali dirinya ketika kontinuitas terganggu. Agar fraktur
menjadi menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisi
lainnya (kontak langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis.
Tidak ada hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversian
system dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah
Ada 3persyaratan untuk remodeling Haversian pada tempat fraktur adalah:
11

1. Pelaksanaan reduksi yang tepat
2. Fiksasi yang stabil
3. Eksistensi suplay darah yang cukup
Penggunaan plate kompresi dinamis dalam model osteotomi telah diperlihatkan
menyebabkan penyembuhan tulang primer. Remodeling haversian aktif terlihat pada sekitar
minggu ke empat fiksasi.
Proses Penyembuhan Fraktur Sekunder.
Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-jaringan lunak
eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar dibedakan atas 5 fase, yakni
fase hematom (inflamasi), fase proliferasi, fase kalus, osifikasi dan remodelling.
(Buckley, R., 2004, Buckwater J. A., et al,2000).
1. Fase Inflamasi:
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya
pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan
pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami
devitalisasi karena terputusnya pasokan darah terjadi hipoksia dan inflamasi yang
menginduksi ekpresi gen dan mempromosikan pembelahan sel dan migrasi menuju
tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Produksi atau pelepasan dari faktor
pertumbuhan spesifik, Sitokin, dapat membuat kondisi mikro yang sesuai untuk :
(1) Menstimulasi pembentukan periosteal osteoblast dan osifikasi intra membran pada
tempat fraktur,
(2) Menstimulasi pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur, dan
(3) Menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada kalus lunak dengan osifikasi
endokondral yang mengiringinya. (Kaiser 1996).
Berkumpulnya darah pada fase hematom awalnya diduga akibat robekan pembuluh darah
lokal yang terfokus pada suatu tempat tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnya
hematom bukan hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperan
faktor- faktor inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan lokal. Waktu
terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 3 minggu.
2. Fase proliferasi
Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin
dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast
dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel
periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada
patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan (osteoid). Dari
12

periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang
oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan
akan merusak struktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial
elektronegatif. Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 3 setelah terjadinya fraktur dan
berakhir pada minggu ke 4 8.
3. Fase Pembentukan Kalus
Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai terbentuk jaringan
tulang yakni jaringan tulang kondrosit yang mulai tumbuh atau umumnya disebut sebagai
jaringan tulang rawan. Sebenarnya tulang rawan ini masih dibagi lagi menjadi tulang
lamellar dan wovenbone. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan
tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang
digabungkan dengan jaringan fibrous, tulang rawan, dan tulang serat matur. Bentuk kalus
dan volume dibutuhkanuntuk menghubungkan efek secara langsung berhubungan dengan
jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar
fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrous. Secara klinis
fragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. Regulasi dari pembentukan kalus selama masa
perbaikan fraktur dimediasi oleh ekspresi dari faktor-faktor pertumbuhan. Salah satu
faktor yang paling dominan dari sekian banyak faktor pertumbuhan adalah Transforming
Growth Factor-Beta 1 (TGF-B1) yang menunjukkan keterlibatannya dalam pengaturan
differensiasi dari osteoblast dan produksi matriks ekstra seluler. Faktor lain yaitu:
Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang berperan penting pada proses
angiogenesis selama penyembuhan fraktur. (chen,et,al,2004).
Pusat dari kalus lunak adalah kartilogenous yang kemudian bersama osteoblast akan
berdiferensiasi membentuk suatu jaringan rantai osteosit, hal ini menandakan adanya sel
tulang serta kemampuan mengantisipasi tekanan mekanis. (Rubin,E,1999)
Proses cepatnya pembentukan kalus lunak yang kemudian berlanjut sampai fase
remodelling adalah masa kritis untuk keberhasilan penyembuhan fraktur. (Ford,J.L,et
al,2003).
Jenis-jenis kalus:
Dikenal beberapa jenis kalus sesuai dengan letak kalus tersebut berada terbentuk kalus
primer sebagai akibat adanya fraktur terjadi dalam waktu 2 minggu Bridging (soft) callus
terjadi bila tepi-tepi tulang yang fraktur tidak bersambung. Medullary (hard) Callus akan
melengkapi bridging callus secara perlahan-lahan. Kalus eksternal berada paling luar
daerah fraktur di bawah periosteum periosteal callus terbentuk di antara periosteum dan
tulang yang fraktur. Interfragmentary callus merupakan kalus yang terbentuk dan
mengisi celah fraktur di antara tulang yang fraktur. Medullary callus terbentuk di dalam
medulla tulang di sekitar daerah fraktur. (Miller, 2000)
4. Stadium Konsolidasi
Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast yang terus menerus, tulang yang immature
(woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone). Keadaan tulang ini menjadi lebih
13

kuat sehingga osteoklast dapat menembus jaringan debris pada daerah fraktur dan diikuti
osteoblast yang akan mengisi celah di antara fragmen dengan tulang yang baru. Proses ini
berjalan perlahan-lahan selama beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk
menerima beban yang normal.
5. Stadium Remodelling.
Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat dengan bentuk yang
berbeda dengan tulang normal. Dalam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
terjadi proses pembentukan dan penyerapan tulang yang terus menerus lamella yang tebal
akan terbentuk pada sisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan terbentuk
kembali dan diameter tulang kembali pada ukuran semula. Akhirnya tulang akan kembali
mendekati bentuk semulanya, terutama pada anak-anak. Pada keadaan ini tulang telah
sembuh secara klinis dan radiologi.


1.3 Kinesiologi
Gerak sendi :
Fleksi : M. Illiopsoas, M. Pectinus, M. rectus femoris, M. adductor longus, M. adductor
brevis, M. adductor magnus pars anterior tensor fascia lata
Ekstensi : M. gluteus maximus, M. semitendinosis, M. semimembranosus, M. biceps femoris
caput longum, M.abductor magnus pars posterior
Abduksi : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. piriformis, M. Sartorius, M. tensor
fasciae latae
Adduksi : M. adductor magnus, M. adductor longus, M. adductor brevis, M. gracilis, M.
pectineus, M. obturator externus, M. quadratus femoris
14

Rotasi Medialis : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. tensor fasciae latae, M.
adductor magnus (pars posterior)
Rotasi lateralis : M. piriformis, M. obturator internus, Mm gamelli, M. obturator externus, M.
quadratus femoris, M. gluteus maximus, dan Mmm adductors
(Syamsir, 2014)

2.1 Definisi
Fraktur adalah pemecahan (patahnya) suatu bagian terutama tulang. Dengan kata lain terjadi
patah atau kerusakan pada tulang. Sedangkan menurur Dr. Jan Tambayong fraktur ialah
terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma.

2.2 Etiologi
Etiologi fraktur yang dimaksud adalah peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur
diantaranya peristiwa trauma(kekerasan) dan peristiwa patologis
Menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:
1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik: Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah
menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3. Fraktur beban: Fraktur baban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang baru
saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam angkatan
bersenjata atau orang- orang yang baru mulai latihan lari.

Peristiwa Trauma (kekerasan)
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu,
misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang akan patah tepat di tempat
terjadinya benturan. Patah tulang demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah
melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat
terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam
hantaran vektor kekerasan. Contoh patah tulang karena kekerasan tidak langsung adalah
bila seorang jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain
tulang tumit, terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah tulang paha
15

dan tulang belakang. Demikian pula bila jatuh dengan telapak tangan sebagai penyangga,
dapat menyebabkan patah pada pergelangan tangan dan tulang lengan bawah.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang. Patah tulang
akibat tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah tulang akibat tarikan otot
adalah patah tulang patella dan olekranom, karena otot triseps dan biseps mendadak
berkontraksi.
Peristiwa Patologis
1. Kelelahan atau stres fraktur
Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas berulang ulang pada suatu
daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari biasanya. Tulang
akan mengalami perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada tempat yang
sama, atau peningkatan beban secara tiba tiba pada suatu daerah tulang maka akan
terjadi retak tulang.
2. Kelemahan Tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang akibat
penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis, dan tumor pada
tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi fraktur.

2.3 Klasifikasi
Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
1. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2. Fraktur Terbuka (Open/Compound), merupakan fraktur dengan luka pada kulit
(integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau
membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi:
Grade I : luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm.
Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak
Ekstensif.

Berdasarkan komplit atau ketidak klomplitan fraktur.
1. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2. Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
16

Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi
tulang spongiosa di bawahnya.
Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya
yang terjadi pada tulang panjang.

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan
akibat trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu
tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan
trauma rotasi.
4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong
tulang ke arah permukaan lain.
5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada
insersinya pada tulang.

Berdasarkan jumlah garis patah.
1. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
2. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.

Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak
bergeser dan periosteum masih utuh.
17

2. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut
lokasi fragmen, terbagi atas:
Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

Berdasarkan posisi frakur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1. 1/3 proksimal
2. 1/3 medial
3. 1/3 distal


Fraktur femur.
a. Klasifikasi menurut Garden
Tingkat I : fraktur impaksi yang tidak total
Tingkat II : fraktur total tetapi tidak bergeser
Tingakt III : fraktur total isertai dengan sedikit pergesekan
Tingkat IV : fraktur disertai dengan pergeseran yang hebat


b. Klasifikasi menurut Pauwel
Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut inklinasi leher femur
Tipe I : fraktur dengan garis fraktur 30 derajat
Tipe II : fraktur dengan garis fraktur 50 derajat
Tipe III : fraktur dengan garis fraktur 70 derajat






18




2.4 Patofisiologi
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. Sewaktu
tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah ke dalam jaringan lunak
sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi
perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel- sel darah putih dan sel anast
berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast
terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin
direabsorbsidan sel- sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati.
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yang tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstrimitas dan
mengakibatkan kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan akan
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoreksia
mengakibatkan rusaknya serabut syaraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini di namakan
sindrom compartment.
Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan ketidak seimbangan, fraktur
terjadi dapat berupa fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Fraktur tertutup tidak disertai
kerusakan jaringan lunak seperti tendon, otot, ligament dan pembuluh darah (Smeltzer dan
Bare, 2001).
Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi antara lain :
nyeri, iritasi kulit karena penekanan, hilangnya kekuatan otot. Kurang perawatan diri dapat
terjadi bila sebagian tubuh di imobilisasi, mengakibatkan berkurangnyan kemampuan
prawatan diri (Carpenito, 2007).

Reduksi terbuka dan fiksasi interna (ORIF) fragmen- fragmen tulang di pertahankan dengan
pen, sekrup, plat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.
Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya
tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan
operasi (Price dan Wilson, 2006).

2.5 Manifestasi Klinis
19

Menurut Smeltzer & Bare (2002), manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,
deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna
yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang
untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan tungkai
menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan
baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritasnya tulang tempat melekatnya
otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot
yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melengkapi satu
sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus
yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat
mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari
setelah cedera.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak
ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak
satu sama lain). Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaan
sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut.

2.6. Diagnosis
Diagnosis fraktur
1. Anamnesis
Keluhan utama berupa:
a. Trauma, waktu terjadinya trauma, cara terjadinya trauma, lokasi trauma.
b. Nyeri, lokasi nyeri, sifat nyeri, intensitas nyeri, referred pain.
c. Kekakuan sendi
d. Pembangkakan
e. Deformitas
f. Ketidakstabilan sendi
g. Kelemahan otot
h. Gangguan sensibilitas
i. Hilangnya fungsi
j. Jalan pincang

2. Pemeriksaan fisik
20

a. Inspeksi (look)
Kulit, meliputi warna kulit, tanda peradangan dan tekstur kulit
Jaringan lunak, pembuluh darah, saraf, otot, tendo, ligamen, jaringanlemak, fasia,
kelenjar limfe.
Tulang dan sendi
Sinus dan jaringan parut
b. Palpasi (feel)
Suhu kulit, denyutan arteri
Jaringan lunak, mengetahui adanya spasme otot, atrofi otot
Nyeri tekan,
Tulang, perhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang
Pengukuran anggota gerak
Penilaian deformitas
c. Pergerakan (move)
Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif, apakah gerakanmenimbulkan sakit
dan disertai krepitasi
Stabilitas sendi
ROM, abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi, rotasi eksterna, rotasi interna, pronasi,
supinasi, fleksi lateral, dorsofleksi, plantar fleksi, inversi,eversi.

3. Penunjang Dilakukan pemeriksaan rontgen, apabila fraktur pada tulang panjang
dilakukan posisi AP dan lateral. Fraktur tulang navicular posisi AP, lateral,dan
oblique.

Diagnosis fraktur kolum femur

Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun cedera dengan keluhan
bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan
Pemeriksaan fisik :
- Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi,
rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah
kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera
terbuka
- Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari
fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah
adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan
- Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting
untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal
cedera.


21


2.7 Tatalaksana
Menurut Mansjoer (2000) dan Muttaqin (2008) konsep dasar yang harus dipertimbangkan
pada waktu menangani fraktur yaitu : rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.

1. Rekognisi (Pengenalan )
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan diagnosa dan
tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan
bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.

2. Reduksi (manipulasi/ reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen tulang yang
patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya untuk memanipulasi
fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal. Reduksi fraktur dapat
dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan
sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat
infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi
semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan (Mansjoer, 2002).

3. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula
secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau di
pertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi
dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi
pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna.
Implan logam dapat di gunakan untuk fiksasi intrerna yang brperan sebagai bidai interna
untuk mengimobilisasi fraktur. Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan diluar kulit
untuk menstabilisasikan fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin metal
perkutaneus menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari tempat fraktur dan
pin tersebut dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan eksternal bars. Teknik ini
terutama atau kebanyakan digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi juga dapat
dilakukan pada tulang femur, humerus dan pelvis (Mansjoer, 2000).

22



Gambar 3 : Pemasangan OREF pada tibia dan fibula Sumber : www.google.com

Prinsip dasar dari teknik ini adalah dengan menggunakan pin yang diletakkan pada
bagian proksimal dan distal terhadap daerah atau zona trauma, kemudian pin-pin tersebut
dihubungkan satu sama lain dengan rangka luar atau eksternal frame atau rigid bars yang
berfungsi untuk menstabilisasikan fraktur. Alat ini dapat digunakan sebagai temporary
treatment untuk trauma muskuloskeletal atau sebagai definitive treatment berdasarkan
lokasi dan tipe trauma yang terjadi pada tulang dan jaringan lunak (Muttaqin, 2008).

4. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari atropi atau
kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus segera dimulai melakukan latihan-latihan
untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi (Mansjoer, 2000).
TINDAKAN PEMBEDAHAN
1. ORIF (OPEN REDUCTION AND INTERNAL FIXATION)
- Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cidera dan diteruskan sepanjang bidang
anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur
- Fraktur diperiksa dan diteliti
- Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka
- Fraktur di reposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali
- Saesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa;
pin, sekrup, plate, dan paku
Keuntungan:
- Reduksi akurat
- Stabilitas reduksi tinggi
- Pemeriksaan struktu neurovaskuler
- Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal
23

- Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat
- Rawat inap lebih singkat
- Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal
Kerugian
- Kemungkinan terjadi infeksi
- Osteomielitis
2. EKSTERNAL FIKSASI
- Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas
dan tidak untuk fraktur lama
- Post eksternal fiksasi, dianjurkan penggunaan gips.
- Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang
- Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya.
- Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain:
Obsevasi letak pen dan area
Observasi kemerahan, basah dan rembes
Observasi status neurovaskuler distal fraktur

RADIOLOGI
Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari :
1. Dua gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral
2. Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur
3. Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera dan yang tidak
terkena cedera (pada anak) ; dan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah
tindakan.
Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
CCT kalau banyak kerusakan otot.
Darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah, cross-test, dan urinalisa.

2.8 Komplikasi
Komplikasi fraktur menurut Smeltzer dan Bare (2001) dan Price (2005) antara lain:

1. Komplikasi awal fraktur antara lain: syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement,
kerusakan arteri, infeksi, avaskuler nekrosis.

a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (banyak kehilangan darah eksternal
maupun yang tidak kelihatan yang bias menyebabkan penurunan oksigenasi) dan kehilangan
cairan ekstra
sel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks, pelvis dan
vertebra.

b. Sindrom emboli lemak
24

Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah karena
tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang di
lepaskan oleh reaksi stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan
terjadinya globula lemak pada aliran darah.

c. Sindroma Kompartement
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa disebabkan karena penurunan ukuran
kompartement otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gibs atau
balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompatement otot karena edema atau
perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misalnya : iskemi,dan cidera remuk).

d. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bias ditandai denagan tidak ada nadi, CRT menurun, syanosis
bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disbabkan oleh
tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan. 19

e. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic
infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus
fraktur terbuka, tapi bias juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin
dan plat.

f. Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang
bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya Volkmans Ischemia .

2. Komplikasi dalam waktu lama atau lanjut fraktur antara lain: mal union, delayed union,
dan non union.

a. Malunion
Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang
tidak seharusnya. Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan
pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

b. Delayed Union
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan dengan kecepatan yang lebih
lambat dari keadaan normal. Delayed union merupakankegagalan fraktur berkonsolidasi
sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena
penurunan suplai darah ke tulang.

c. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang
lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan
25

yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseuardoarthrosis. Ini juga
disebabkan karena aliran darah yang kurang.


2.9 Prognosis
Penderita fraktur collum femoris tanpa komplikasi bila mendapat tindakan fisioterapi sejak
dini dan tepat maka kapasitas fisik dan kemampuun fungsional akan kembali normal (baik).
Tetapi bisa menimbulkan keadaan yang buruk dari penyembuhan apabila terjadi komplikasi
yang menyertai dan umumnya usia lanjut.




















26



DAFTAR PUSTAKA

Eroschenko, V. P. (2010). Atlas Histologi diFiore: dengan Korelasi Fungsional, Ed. 11. Jakarta:
EGC.
http://digilib.unimus.ac.id/files
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-2-babii.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22361/4/Chapter%20II.pdf
Moore, K. L., Dalley, A. F., Agur, A. M. R. (2013). Clinically Oriented Anatomy, Ed.7.
Lippincott Williams & Wilkins, a Wolters Kluwer business.
Patel, P. R. (2007). Lecture Notes: Radiologi Ed.2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah 2, Edisi 8. Jakarta:
EGC.
Syamsir, H. M. (2014). Muskuloskeletal Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Universitas Yarsi.
Tambayong. J. (2000). Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.