Anda di halaman 1dari 15

Penjadwalan Shift Kerja

1. Pengertian shift kerja


Tayari and Smith (1997) menjelaskan tentang definisi shift kerja sebagai periode waktu 24 jam
yang satu atau kelompok orang dijadwalkan atau diatur untuk bekerja di tempat kerja[1].
Selanjutnya Oxord Advanced Learners Dictionary (2005) mendefinisikan shift kerja sebagai
suatu periode waktu yang dikerjakan oleh sekompok pekerja yang mulai bekerja ketika
kelompok yang lain selesai[2].

Menurut Bhattacharya dan McGlothlin (1996) definisi shift kerja yang mendasar
adalah waktu dari sehari seorang pekerja harus berada di tempat kerja. Dengan definisi ini,
semua pekerja yang dijadwalkan berada di tempat kerja secara teratur, termasuk
pekerja siang hari, adalah pekerja shift[3]. Monk dan Folkard dalam Silaban dalam Wijayanti
(2005) mengkategorikan 3 jenis sistem shift kerja, yaitu shift permanen, sistem rotasi cepat, dan
sistem rotasi shift lambat[4]

2. Dampak Kerja Shift Pada Kinerja Karyawan
Kabaj, 1978; Tilley et al., 1982; Schultz and Schultz, 1986, dalam . Tayari and Smith
(1997)[5] mengungkapkan bahwa kerja shift dapat mempengaruhi kinerjakaryawan dalam
berbagai cara. Namun demikian pengaruh sekunder tidak penting dibandingkan pengaruh lain
dari kerja shift. Pengaruh utama adalah psikologis, sosial dan pribadi. Pengaruh dari kerja shift
pada kinerja karyawan dapat diringkas sebagai berikut.


1) Secara umum, kinerja kerja shift dipengaruhi oleh kombinasi dari faktor-faktor berikut:
a) Tipe pekerjaan. Pekerjaaan yang menuntut secara mental (seperti inspeksi dan kontrol kualitas)
memerlukan kesabaran dan kehati-hatian. Pekerja shift mungkin akan kekurangan dua hal
tersebut.
b) Tipe sistem shift. Gangguan irama tubuh (circadian rhythms) dapat menimbulkan kerugian
terhadap kemampuan fisik dan mental pekerja shift, khususnya ketika perubahan shift kerja dan
shift malam.
c) Tipe pekerja. Untuk contoh, pekerja yang telah berusia tua memiliki kemampuan yang minimal
untuk untuk menstabilkan irama tubuh ketika perubahan shift kerja.

2) Kinerja shift malam yang rendah dapat dikaitkan dengan;
a) Ritme tubuh yang terganggu
b) Adaptasi yang lambat terhadap kerja shift malam
c) Pekerja lebih produktif pada shift siang daripada shift malam
d) Pekerja membuat sedikit kesalahan dan kecelakaan pada shift siang daripada shift malam.
e) Kehati-hatian pekerja menurun selama kerja shift malam, khususnya ketika pagi-pagi sekali.
Hal ini mungkin penting diperhatikan terutama untuk tugas-tugas yang memerlukan pengawasan
yang terus-menerus (seperti operator mesin)
f) Jika pekerja tidak mendapatkan tidur yang cukup untuk shift kerja, kinerja dapat dipengaruhi
secara buruk khususnya pekerjaan yang memerlukan tingkat kehati-hatian yang tinggi.

3. Manajemen Kerja Shift
Menurut Tayari F and Smith J.L. (1997) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk
manajemen kerja shift adalah sebagai berikut.
a) Jika memungkinkan lamanya kerja shift malam dikurangi tanpa mengurangi kompensasi dan
benefit lainnya.
b) Jumlah karyawan shift malam yang diperlukan seharusnya dikurangi untuk mengurangi jumlah
hari kerja pekerja shift malam.
c) Lamanya kerja shift tidak melebihi 8 jam.
d) Tiap shift siang atau malam seharusnya diikuti dengan paling sedikit 24 jam libur dan tiap shift
malam dengan paling sedikit 2 hari libur, sehingga pekerja dapat mengatur kebiasaaan tidur
mereka.
e) Memungkinkan adanya interaksi sosial dengan teman kerja.
f) Menyediakan fasilitas kegiatan olah raga seperti permainan bola baskket, khususnya untuk
pekerja shift malam.
g) Musik yang tidak monoton selama bekerja shift malam sangat berguna.

4. Regulasi
a) Pada sidang ke-77 di Jenewa tanggal 26 Juni 1990 dibahas mengenai standar Internasional bagi
pekerja malam. Standar yang dimaksud adalah The Night Work Convention and
Recommendation. The Night Work Conventionmembahas mengenai kesehatan dan keselamatan,
transfer kerja siang hari, perlindungan bagi kaum wanita, kompensasi dan pelayanan
sosial.Recommendation membahas mengenai batas waktu kerja normal, waktu istirahat yang
minimum antar shift, transfer kerja siang pada situasi khusus, kesempatan pelatihan

b) Menurut pasal 76 Undang-Undang No. 13 tahun 2003, pekerja perempuan yang berumur kurang
dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul
07.00, yang artinya pekerja perempuan diatas 18 (delapan belas) tahun diperbolehkan
bekerja shift malam (23.00 sampai 07.00). Perusahaan juga dilarang mempekerjakan
pekerja perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan
keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan
pukul 07.00.

c)Perusahaan memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi sesuai dengan Undang-
Undang No.13/2003 yang lebih lanjutnya diatur dalam Kep.224/Men/2003 tentang Kewajiban
Pengusaha yang Mempekerjakan Pekerja Perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul
07.00 wajib :
Memberikan makanan dan minuman bergizi
Makanan dan minuman yang bergizi harus sekurang-kurangnya memenuhi 1.400 kalori, harus
bervariasi, bersih dan diberikan pada waktu istirahat antara jam kerja. Makanan dan minuman
tidak dapat diganti dengan uang.
Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja
Pengusaha wajib menjaga keamanan dan kesusilaan pekerja perempuan dengan menyediakan
petugas keamanan di tempat kerja dan menyediakan kamar mandi yang layak dengan penerangan
yang memadai serta terpisah antara pekerja perempuan dan laki-laki. Pengusaha juga diharuskan
menyediakan antar jemput mulai dari tempat penjemputan ke tempat kerja dan sebaliknya.
Lokasi tempat penjemputan harus mudah dijangkau dan aman bagi pekerja perempuan.
Pelaksanaan pemberian makanan dan minuman bergizi, penjagaan kesusilaan, dan keamanan selama
di tempat kerja serta penyediaan angkutan antar jemput diatur lebih lanjut dalam
Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama. Jadi ingat, sebelum
menandatangani Perjanjian Kerja, harap dibaca dahulu dengan seksama apa yang tertulis di
Perjanjian Kerja.

d) Waktu Kerja Normal menurut Keputusan Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi, No. Kep.
102/MEN/VI/2004.
Untuk 6 hari kerja : Waktu Kerja 7 jam/hari (hari ke1-5), 5 jam/hari (hari ke-6) , 40 jam/minggu
Untuk 5 hari kerja : Waktu Kerja 8 jam/hari, 40 jam/minggu
Lebih dari waktu ini dihitung waktu kerja lembur

e) Dalam Pasal 77 UU No.13 2003 ayat (2), mengenai jam kerja. Diatur juga mengenai pengecualian
beberapa sektor usaha tertentu mengikutinya, seperti : Pekerjaan Pengeboran minyak lepas
pantai, sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan dikapal laut, dan
penebangan hutan. Ketentuan ini dijelaskan dalam Peraturan Menteri, Per -15 / Men / VII / 2005
mengenai waktu kerja dan istirahat pada sektor usaha pertambangan umum pada daerah operasi
tertentu.

Terkait dengan jam kerja, dalam peraturan Menteri ini disebutkan :
Pasal 2, ayat (1) huruf b : Periode kerja maksimal 10 (sepuluh) minggu berturut-turut bekerja,
dengan 2 (dua) minggu berturut-turut istirahat dan setiap 2 (dua) minggu dalam periode kerja
diberikan 1 (satu) hari istirahat.
Ayat 2, Dalam hal perusahaan menerapkan periode kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b maka waktu kerja paling lama 12 (dua belas) jam sehari tidak termasuk waktu istirahat selama
1 (satu) jam.
Tentunya Penjadwalan Jam kerja disektor tertentu ini memiliki karakteristik tertentu dan berdasar
hukum, sepanjang penetapan dan pelaksanaannya mengikuti aturan yang berlaku.

5. Simulasi Pengaturan Jadwal Kerja Shift
Pengaturan Jadwal kerja shift di Industri manufacture Indonesia terdapat beberapa model yang
disesuaikan dengan kondisi perusahaan itu sendiri. Penjadwalan Kerja Shift yang biasa
digunakan antara lain :
1. Empat (4) Grup Tiga (3) Shift
Penjadwalan model ini digunakan untuk aktivitas manufacture selama 24 jam sehari dan beroperasi
penuh selama sepanjang tahun, terhenti pada hari besar Idul fitri dan Tahun Baru . Besarnya
output produksi yang ditetapkan dan aktivitas engineering yang menuntut aktivitas ini
berlangsung terus. Karyawan terbagi kedalam 4 Grup, Bekerja selama 5 hari kerja dengan
working hours 7 + 1. Pergantian Shift dari 3 ke 1, karyawan mendapat libur 2 hari. Model ini
menyebabkan Hari Libur karyawan tidak menentu.
Berikut Contoh simulasi penjadwalan 4 Grup 3 Shift

Keterangan :
1. Shift 1 : Pk. 07.00 15.00 , Shift 2 : Pk.15.00 23.00 , Shift 3 : Pk. 23.00 07.00
2. Urutan Putaran shift Shift 3 -> Shift 2 -> Shift 1 ( 3-2-1 ) , Pergesaran Shift menuju dan setelah
Shift 3 ada perlakuan khusus. Setelah Shift 3 karyawan mendapat libur lebih banyak ( 2 hari )
sebelum memasuki jadwal shift 1.
Dua hari sebelum libur sebelum shift 3, aktual libur adalah 1 hari. Satu harinya lagi merupakan
hari pertengahan, tapi karyawan harus mulai masuk pada malam harinya (Pk. 23.00)


2. Tiga (3) Grup Tiga (3) Shift
Penjadwalan shift model ini, memberikan peluang istirahat / Libur secara Teratur. Karyawan
bekerja dari Senin Sabtu, minggu istirahat. Dibanding model 4 Grup, Total karyawan yang
dibutuhkan pastinya lebih sedikit, begitu pula untuk out put volume Produksinya.
Jam kerja perhari 7 + 1 ( 7 jam kerja, 1 jam istirahat ), kecuali hari sabtu 5 Jam kerja dengan
Total jam kerja 40 jam Seminggu. Jam kerja ini fleksibel, jika diperlukan pada hari terakhir bisa
dibuat overtime ( otomatis ) selama 2 Jam.
Berikut contoh simulasi Penjadwalan 3 grup 3 Shift


Keterangan :
1. Jam Kerja Shift fleksibel, untuk Shift 1, bisa dimulai di Pk. 06.00 atau 07.00, Shift berikutnya
menyesuaikan.
2. Putaran Shift Shift 3 -> Shift 2 -> Shift 1 (3-2-1).
3. Jadwal ini bisa diterapkan untuk putaran 2 Grup, 2 Shift
4. Berdasarkan Keputusan Menteri, Kep.102/MEN/2004, Pasal 3 ayat 1, waktu Kerja lembur
hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1 hari dan 14 jam dalam 1 minggu. Khusus
shift 1 bisa diberlakukan Long Shift ( Pk.07.00 19.00 ), dengan istirahat, selama maksimal 15
Jam/orang perminggu.
3. Non Shift
Non Shift, pada umumnya diperuntukkan bagi departemen yang memerlukan koordinasi
internal dan eksternal saat jam-jam kerja pagi siang. Jam Kerja normal fleksible, Pk.08.00-
16.00
Jadwal kerja Non Shift ada 2 model, 6 hari kerja dan 5 hari kerja. Meski beda Lama jam
kerja sehari namun tetap total jam kerja seminggu 40 Jam.

4. Tiga (3) Grup Dua (2) Shift atau Long Shift
Model penjadwalan shift ini untuk mengadopsi jam kerja bagian petugas keamanan
(security ) atau karyawan dengan terlebih dahulu ada kesepakatan antara perwakilan pekerja dan
management. Pengatuan jadwal kerjanya menggunakan formulasi 2-2-2. Yaitu dalam 1 minggu
kerja terdiri dari 2 hari shift 1, 2 hari shift 2, dan 2 hari libur. seperti simulasi dibawah.

Berikut contoh pegnaturan jam kerjanya :
Shift I
Senin Kamis : Jam 08.00 wib jam 20.00 wib
Sabtu - Minggu : Jam 08.00 wib jam 20.00 wib
Istirahat : Jam 12.00 wib jam 13.00 wib
Break : Jam 17.00 wib jam 17.05 wib

Jumat : Jam 08.00 wib jam 20.00 wib
Istirahat : Jam 11.45 wib jam 13.15 wib
Break : Jam 17.30 wib _ jam 17.35 wib

Shift II
Senin Kamis : Jam 20.00 wib jam 08.00 wib
Sabtu - Minggu : Jam 20.00 wib jam 08.00 wib
Istirahat : Jam 00.00 wib jam 01.00 wib
Break : Jam 05.00 wib jam 05.05 wib

Perhitungan Jam kerja untuk long shift ini, ada beberapa macam :
1) Jam kerja 7 jam + 1 jam istirahat + 4 jam over time.
Perhitungan jam overtime perharinya = 1,5 + (2 x 3 ) jam = 7,5 jam/hari ( lihat artikel
perhitungan overtime )

2) Jam kerja 8 jam + 1 jam istirahat + 3 jam overtime
Perhitungan jam overtime per harinya = 1,5 + ( 2x2 ) jam = 5,5 jam/hari

6. Penutup
Penentuan model penjadwalan kerja shift, perlu dipertimbangankan tingkat fleksibilitasnya.
Untuk Bagian produksi, pembagian shift terkait erat dengan menambah jam kerja mesin.
Biasanya terjadi saat Peak Seasion. Sedangkan untuk bagian Engineering, Pada umumnya
mengikuti jadwal produksi, kecuali di bagian utility atau mesin-mesin yang akan membutuhkan
waktu lama ( lebih dari 1 hari ) saat running awal, biasanya di setting 4 Grup 3 Shift.
Semoga Bermanfaat & Terima Kasih

JADWAL KERJA
Dalam dunia pekerjaan terdapat macam jenis program yang menyangkut pembagian jadwal
pekerjaan . Program ini memberikan pembagian jadwal kerja yang fleksibel, yang pertama
program Flextime dan program keterlibatan karyawan.
Program Flextime merupakan program penjadwalan kerja yang mengizinkan pengaturan
jadwal kerja yang lebih fleksibel
. Contoh :
- Pemanfaatan kerja mingguan program ini memberikan beban pekerjaan yang lebih sedikit
dalam kerja harian dalam seminggu.
Berbagi pekerjaan program ini memungkinkan seorang karyawan untuk membagi pekerjaan
yang sama terhadap karyawan yang lain, hal ini disebabkan waktu pekerjaan ataupun beban
pekerjaan yang berat.
Program keterlibatan karyawan
Perluasan pekerjaan
Program ini memungkinkan seorang karyawan untuk memgembangkan bidang pekerjaan yang
telah dipercayakan kepadanya.
Rotasi pekerjaan
Program ini memungkinkan seorang kayawan atau secara kelompok dapat berganti secara
periodik dalam satu bidang pekerjaan
Contoh : Kelompok 1 karyawan operasional yang terlibat dalam 5 jenis tugas yang berbeda,
maka setiap karyawan dalam kelompok dapat berfokus pada satu tugas perminggu dan
selanjutnya berganti ke pekerjaan yang lain.
PENGUKURAN WAKTU KERJA
analisa kerja menaruh perhatian bagaimana suatu macam pekerjaan akan terselesaikan. Dalam
pengaplikasian prinsip dan teknik pengukuran cara kerja yang optimal dalam sistem kerja akan
memberikan suatu alternatif metode pelaksanaan kerja yang lebih efektif dan efisien. Suatu
pelaksanan kerja dikatakan efisien apabila waktu penyelesaian berlangsung singkat. Untuk
menghitung waktu (standar time) penyelesaian pekerjaan maka perlu diterapkan prinsip-prinsip
dan teknik pengukuruan kerja.
Pengukuran kerja adalah suatu metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia
dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Waktu baku diperlukan terutama untuk
perencanaan kebutuhan tertentu tenaga kerja (man power planning), perhitungan upah,
penjadwalan produksi dan penganggaran, perencanaan sistem, pemberian bonus (insentif) bagi
karyawan yang berprestasi, indikasi keluaran yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja.
Teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dibagi 2 :
Pengukuran waktu secara langsung, yaitu ; pengukuran yang dilaksanakan ditempat dimana
pekerja yang diukur dilaksanakan
Pengukuran secara tidak langsung, yaitu cara pengukuran kerja dengan menggunakan jam henti
(stop watch)
Pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stop watch), Pertama kali diperkenalkan oleh F.
Taylor, metode ini baik sekali digunakan untuk pekerjaan2 langsung, singkat dan berulang ulang.
Hasil pengukuran waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan digunakan sebagai
standar penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang sama.
Langkah-langkah untuk pelaksanaan pengukuran waktu kerja dengan jam henti sebagai berikut ;
Langkah persiapan :
1. Pilih dan definisikan pekerjaan yang akan diukur dan akan ditetapkan waktu standarnya
2. Informasikan maksud dan tujuan pengukuran kerja kepada spervisor/pekerja
3. Pilih operator dan catat semua data yang berkaitan dengan sistem operasi kerja yang akan
diukur waktunya
Elemen-elemen yang terpisah, Bagi siklus kegiatan yang berlangsung kedalam elemen2 kegiatan
sesuai dengan aturan yang ada.
Persiapan waktu kerja, Waktu baku ditetapkan untuk suatu pekerjaan tidak berubah, material
yang digunakan harus sesuai dengan spesifikasi
ISTIRAHAT DAN EFEK ISTIRAHAT DALAM BEKERJA
Penelitian pengaruh istirahat terhadap kinerja karyawan, dalam besarnya beban karyawan
sehingga menyebabkan kinerja karyawan yang disebabkan keadaan biologis maupun psikologis
karyawan. Dalam satu hari, jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir
melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Kita berbicara
sebanyak 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750
kali, dan mengoperasikan 14 milyar sel otak. Manusia membutuhkan istirahat.
Istirahat memberikan dampak pemulihan. Tidur merupakan merupakan salah satu bentuk
istirahat yang umum untukk dilakukan, dimana selama tidur semua fungsi-fungsi tubuh terisi
diperbaharui lagi. Bentuk istirahat tidak hanya tidur, tetapi juga dapa melakukan bersantai
sejenak, perubahan aktifitas dapat menenangkan otot-otot serta menghilangkan tekanan dalam
bekerja. Studi menunjukkan tidur yang cukup, membuat otak kita kembali berfungsi dengan
sangat baik serta membawa dampak pengertian /pemahaman segala jenis masalah biasanya dapat
diselesaikan dengan
Bentuk istirahat yang dapat dilakukan Pertama, istirahat dalam keadaan sadar yakni
menghentikan pekerjaan yang tengah dilakukan dan menggantinya dengan rehat sejenak Kedua,
istirahat dengan tidur di malam hari yakni menghentikan sistem syaraf dan otot dari aktivitasnya.
Pertumbuhan hormon penting untuk meningkatkan kualitas, ukuran dan efisiensi otak, juga
meningkatkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak, yang memungkinkan sel urat syaraf
untuk dapat memiliki pengetahuan yang permanen dan berguna. Kebanyakan dari pertumbuhan
hormon diproduksi pada saat kita itdur dengan tenang (tanpa beban)
Salah satu hormon yang penting lainnya adolah Kortisol, dimana waktu produksi terfingginya
adalah dari waktu tengah malam hingga di waktu pagi (pagi-pagi sekali). Kortisol memainkan
peranan yang besar dalam membantu kita menghadapi stress/tekanan yang kita hadapi setiap
hari, mengurangi rasa penat dan peradangan. Bila manusia tidur terlambat, mereka membatasi
kemampuan tubuh untuk menangani segala kegiatan dan mengurangi tenaga dan vitalitas pada
keesokan harinya.
Waktu yang tepat untuk bekerja adalah jam 8:00 17:00, Dalam organisasi perkantoran tempat
sehat dengan reiki bekerja telah diatur jam istirahat kerja dimana didalamnya tercakup jam
istirahat misalnya untuk makan siang dan kegiatan ibadah. Selanjutnya istirahat ini pun telah
menjadi aturan bagi setiap pekerja dimana ia dapat memanfaatkan waktu istirahat kerja untuk
tujuan mengistirahatkan fisik dan pikiran dari beban kerja yang menumpuk. Dengan istirahat
kerja maka ia dapat mengendorkan pikiran dari kegiatan berpikir dan kegiatan fisik.
Pembagian kerja yang nyata
Dalam pembagian kerja harus didasarkan pada kemampuan masing-masing individu yaitu benar-
benar berdasarkan beban kerja, ukuran kemampuan kerja dan waktu yang tersedia.
Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama
terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The
Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan
diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam
tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai
contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orangmasing-masing melakukan pekerjaan
khususperusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan
tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat
hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa
pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan
kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3)
menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.
KERJA BERGILIR (SHIFT KERJA)
Dalam aspek-aspek penentu kepuasan kerja karyawan, jam kerja merupakan bagian dari kondisi
kerja yang menjadi salah satu indikator dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan
(Munandar, 2001). Jam kerja terbagi menjadi jam kerja normal dan sistem shift. Menurut
Sumamur (1994), shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja
untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam.
Monk dan Folkard (dalam Kyla, 2008) mengkategorikan tiga jenis sistem shift kerja, yaitu shift
permanen, sistem rotasi cepat, dan sistem rotasi shift lambat. Dalam hal sistem shift rotasi,
pengertian shift kerja adalah kerja yang dibagi secara bergilir dalam waktu 24 jam. Pekerja yang
terlibat dalam sistem shift rotasi akan berubah-ubah waktu kerjanya, pagi, sore dan malam hari,
sesuai dengan sistem kerja shift rotasi yang ditentukan. Di Indonesia, sistem shift yang banyak
digunakan adalah sistem shift dengan pengaturan jam kerja secara bergilir mengikuti pola 5-5-5
yaitu lima hari shift pagi (08.00-16.00), lima hari shift sore (16.00-24.00) dan lima hari shift
malam (24.00-08.00) diikuti dengan dua hari libur pada setiap akhir shift (Kyla, 2008).
Sistem kerja shift rotasi ada yang bersifat lambat, ada yang bersifat cepat. Dalam sistem kerja
shift rotasi yang bersifat lambat, pertukaran shift berlangsung setiap bulan atau setiap minggu,
misalnya seminggu kerja malam, seminggu kerja sore dan seminggu kerja pagi. Sedangkan
dalam sistem kerja shift rotasi yang cepat, pertukaran shift terjadi setiap satu, dua, atau tiga hari
(Scott&LaDou, dalam Adnan; 2002).
Adnan (2002) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pada sistem shift rotasi terdapat aspek
positif dan aspek negatif. Aspek positifnya adalah memberikan lingkungan kerja yang sepi
khusunya shift malam dan memberikan waktu libur yang banyak. Sedangkan aspek negatifnya
adalah penurunan kinerja, keselamatan kerja dan masalah kesehatan. Kinerja menurun selama
kerja shift malam yang diakibatkan oleh efek fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya
kinerja dapat mengakibatkan kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku
kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas kendali dan pemantauan. Survei pengaruh shift kerja
terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang dilakukan Smith et. al, melaporkan bahwa
frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi shift kerja (malam) dengan rata-rata
jumlah kecelakaan 0,69% per tenaga kerja (Adiwardana dalam Yasir, 2008).
Tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift. Kerja shift membutuhkan
banyak sekali penyesuaian waktu, seperti waktu tidur, waktu makan dan waktu berkumpul
bersama keluarga. Secara umum, semua fungsi tubuh berada dalam keadaan siap digunakan pada
siang hari. Sedangkan pada malam hari adalah waktu untuk istirahat dan pemulihan sumber daya
(energi). Monk (dalam Adnan, 2002) mengatakan, individu yang tergolong tipe siang mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kerja shift malam. Individu dengan tipe siang adalah
individu yang bangun tidur lebih pagi dan tidur malam lebih awal dari rata-rata populasi.
Jika seorang karyawan tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift ini, dapat
menimbulkan ketidakefektifan dalam bekerja yang akan mempengaruhi sikapnya terhadap
pekerjaan mereka. Namun, tidak semua karyawan yang mendapatkan jadwal sistem shift dalam
bekerja merasakan hal tersebut.
Keadaan pada setiap jadwal shift berbeda-beda, tidak semua individu merasakan kepuasan kerja
pada shift yang dijalani. Individu merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya apabila dirinya
melakukan pekerjaan dengan baik dengan tingkat kesalahan yang kecil, selain itu kerjasama
kelompok dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat mempengaruhi individu dalam merasakan
kepuasan terhadap pekerjaannya. Kelompok yang dapat bekerjasama dengan baik dan memiliki
hubungan yang harmonis antar karyawan lainnya cenderung dapat melakukan pekerjaan dengan
baik sehingga hasil dari pekerjaannya tersebut dapat memberikan kepuasan terhadap diri
karyawan. Biasanya kepuasan kerja yang dialami karyawan, apabila mereka mendapatkan jadwal
dengan shift pagi atau siang. Ketika menjalani shift pagi atau siang, individu dan kelompoknya
masih memiliki konsentrasi dan tingkat kefokusan yang baik sehingga ketelitian dalam
menyelesaikan pekerjaannya dapat mengurangi kesalahan atau kelalaian.
Sebaliknya, seorang karyawan yang merasakan ketidakpuasan terhadap pekerjaanya sebagian
besar ketika dihadapkan pada jadwal shift malam. Rasa kantuk yang sering dialami dirinya dan
rekan kelompoknya dapat membuat tingkat konsentrasi menurun dan kurang fokus dalam
melakukan pekerjaannya. Menurunnya konsentrasi dan kurang fokusnya pada diri individu
seringkali membuat individu tidak teliti dalam melakukan pekerjaanya yang mengakibatkan
tingkat kesalahan atau kelalaian semakin besar. Sehingga hasil dari pekerjaan yang mereka
lakukan tidak memberikan kepuasan pada diri mereka terhadap pekerjaannya.
Individu yang merasakan kepuasan kerja akan memberikan berbagai respon, antara lain dengan
jumlah kehadiran yang baik, merasa senang dalam merasakan pekerjaan, serta menerima
pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Begitupun sebaliknya, individu yang merasakan
ketidakpuasan dalam pekerjaannya akan memberikan respon yang negatif, seperti kemangkiran
dalam bekerja, jumlah kehadiran yang kurang, dan biasanya memiliki motivasi yang rendah
terhadap pekerjaan yang dijalaninya