Anda di halaman 1dari 15

askep faringitis

A. KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Faringitis ( pharyngitis) adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau
faring yang disebabkan oleh
bakteri atau virus tertentu. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok. (Wikipedia.com).
Faringitis adalah keadaan inflamasi pada struktur mukosa, submukosa tenggorokan. Jaringan
yang mungkin terlibat antara lain orofaring, nasofaring, hipofaring, tonsil dan adenoid.
Faringitis adalah penyakit tenggorokan, merupakan respon inflamasi terhadap patogen yang
mengeluarkan toksin. Faringitis juga bisa merupakan gejala dari penyakit yang disebabkan oleh
infeksi virus, seperti penyakit flu.

2. Anatomi dan Fisiologi
Anatomi Faring
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang berbentuk seperti corong dengan bagian atas
yang besar dan bagian bawah yang sempit. Faring merupakan ruang utama traktus resporatorius
dan traktus digestivus. Kantong fibromuskuler ini mulai dari dasar tengkorak dan terus
menyambung ke esophagus hingga setinggi vertebra servikalis ke-6.
Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa 14 cm dan bagian ini merupakan bagian
dinding faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh selaput lendir, fasia faringobasiler,
pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal.
Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan memanjang (longitudinal). Otot-
otot yang sirkular terdiri dari M.Konstriktor faring superior, media dan inferior. Otot-otot ini
terletak ini terletak di sebelah luar dan berbentuk seperti kipas dengan tiap bagian bawahnya
menutupi sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Di sebelah depan, otot-otot ini bertemu
satu sama lain dan di belakang bertemu pada jaringan ikat. Kerja otot konstriktor ini adalah
untuk mengecilkan lumen faring dan otot-otot ini dipersarafi oleh Nervus Vagus.

Gambar 2.1. Otot-otot Faring dan Esofagus

Otot-otot faring yang tersusun longitudinal terdiri dari M.Stilofaring dan M.Palatofaring. letak
otot-otot ini di sebelah dalam. M.Stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan menarik
laring, sedangkan M.Palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan menaikkan bagian bawah
faring dan laring. Kedua otot ini bekerja sebagai elevator, kerja kedua otot ini penting pada
waktu menelan. M.Stilofaring dipersarafi oleh Nervus Glossopharyngeus dan M.Palatofaring
dipersarafi oleh Nervus Vagus. Pada Palatum mole terdapat lima pasang otot yang dijadikan satu
dalam satu sarung fasia dari mukosa yaitu M.Levator veli palatini, M.Tensor veli palatine,
M.Palatoglosus, M.Palatofaring dan M.Azigos uvula. M.Levator vela palatine membentuk
sebagian besar palatum mole dan kerjanya untuk menyempitkan ismus faring dan memperlebar
ostium tuba Eustachius dan otot ini dipersarafi oleh Nervus Vagus. M.Tensor veli palatini
membentuk tenda palatum mole dan kerjanya untuk mengencangkan bagian anterior palatum
mole dan membuka tuba Eustachius dan otot ini dipersarafi oleh Nervus Vagus. M.Palatoglosus
membentuk arkus anterior faring dab kerjanya menyempitkan ismus faring. M.Palatofaring
membentuk arkus posterior faring. M.Azigos uvula merupakan otot yang kecil dan kerjanya
adalah memperpendek dan menaikkan uvula ke belakang atas.
Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak beraturan. Yang utama
berasal dari cabang arteri karotis eksterna (cabang faring asendens dan cabang fausial) serta dari
cabang arteri maksila interna yakni cabang palatine superior.
Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring yang ekstensif. Pleksus
ini dibentuk oleh cabang faring dari Nervus Vagus, cabang dari Nervus Glossopharyngeus dan
serabut simpatis. Cabang faring dari Nervus Vagus berisi serabut motorik. Dari pleksus faring
yang ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otot-otot faring kecuali M.Stilofaring yang
dipersarafi langsung oleh cabang Nervus Glossopharyngeus.
Aliran limfa dari dinding faring dapat melalui 3 saluran, yakni superior, media dan inferior.
Saluran limfa superior mengaalir ke kelenjar getah bening retrofaring dan kelenjar getah bening
servikal dalam atas. Saluran limfa media mengalir ke kelenjar getah bening jugulo-digastrik dan
kelenjar servikal dalam atas, sedangkan saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening
servikal dalam bawah. 3,4,5,6
Berdasarkan letaknya maka faring dapat dibagi menjadi Nasofaring, Orofaring dan Laringofaring
(Hipofaring).




Gambar 2.2. Anatomi Nasofaring, Orofaring dan Hypoparing

Nasofaring merupakan bagian tertinggi dari faring, adapun batas-batas dari nasofaring ini antara
lain :
- Batas atas : Basis Kranii
- Batas bawah : Palatum mole
- Batas depan : Rongga hidung
- Batas belakang : Vertebra servikal
Nasofaring yang relatif kecil mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa struktur
penting seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring dengan resesus faring yang
disebut fossa Rosenmuller, kantong ranthke, yang merupakan invaginasi struktur embrional
hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan kartilago tuba
Eustachius, koana, foramen jugulare, yang dilalui oleh Nervus Glossopharyngeus, Nervus Vags
dan Nervus Asesorius spinal saraf cranial dan vena jugularis interna, bagian petrosus os
temporalis dan foramen laserum dan muara tuba Eustachius.
Orofaring disebut juga mesofaring, karena terletak diantara nasofaring dan laringofaring. Dengan
batas-batas dari orofaring ini antara lain, yaitu :
- Batas atas : Palatum mole
- Batas bawah : Tepi atas epiglottis
- Batas depan : Rongga mulut
- Batas belakang : Vertebra servikalis
Struktur yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatine,
fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen sekum.
Laringofaring (hipofaring) merupakan bagian terbawah dari faring. Dengan batas-batas dari
laringofaring antara lain, yaitu :
- Batas atas : Epiglotis
- Batas bawah : Kartilago krikodea
- Batas depan : Laring
- Batas belakang : Vertebra servikalis
Ada dua ruang yang berhubungan dengan faring yang secara klinik mempunyai arti penting yaitu
ruang retrofaring dan ruang parafaring. Dinding anterior Ruang retrofaring (retropharyngeal
space) adalah dinding belakang faring yang terdiri dari mukosa faring, fasia faringobasilaris dan
otot-otot faring. Ruang ini berisi jaringan ikat jarang dan fasia prevetebralis. Ruang ini mulai
dari dasar tengkorak di bagian atas sampai batas paling bawah dari fasia servikalis. Serat-serat
jaringan ikat di garis tengah mengikatnya pada vertebra. Di sebelah lateral ruang ini berbatasan
dengan fosa faringomaksila.
Ruang parafaring (fosa faringomaksila) merupakan ruang berbentuk kerucut dengan dasarnya
terletak pada dasar tengkorak dekat foramen jugularis dan puncaknya ada kornu mayus os hyoid.
Ruang ini dibatasi di bagian dalam oleh M.Konstriktor faring superior, batas luarnya adalah
ramus asendens mandibula yang melekat dengan M.Pterigoid interna dan bagian posterior
kelenjar parotis. Fosa ini dibagi menjadi dua bagian yang tidak sama besarnya oleh os stiloid
dengan otot yang melekat padanya. Bagian anterior (presteloid) adalah bagian yang lebih luas
dan dapat mengalami proses supuratif. Bagian yang lebih sempit di bagian posterior (post stiloid)
berisi arteri karotis interna, vena jugularis interna, Nervus vagus yang dibungkus dalam suatu
sarung yang disebut selubung karotis (carotid sheat). Bagian ini dipisahkan dari ruang retrofaring
oleh suatu lapisan fasia yang tipis.

Fisiologi Faring
Berasal dari bahasa Yunani pharynx Kerongkongan atau tenggorokan
Faring saluran alat pernafasan.
Faring alat artikulasi bunyi.
Faring terdapat organ seksual sekunder pada pria atau lebih dikenal sebagai jakun.
Fungsi faring yang terutama adalah ialah untuk respirasi, pada waktu menelan, resonansi suara
dan artikulasi.

Fungsi Menelan
Proses menelan dibagi menjadi 3 fase, yaitu : fase oral, fase faringeal dan fase esophagus yang
terjadi secara berkesinambungan. Pada proses menelan akan terjadi hal-hal sebagai berikut:
a. Pembentukan bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi yang baik
b. Upaya sfingetr mencegah terhamburnya bolus selama fase menelan
c. Mempercepat masuknya bolus makanan ke dalam faring pada saat respirasi
d. Mencegah masuknya makanan dan minuman ke dalam nasofaring dan laring
e. Kerjasama yang baik dari otot-otot di rongga mulut untuk mendorong bolus makanan ke
arah lambung
f. Usaha untuk membersihkan kembali esofagus
Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan air
liur akan membentuk bolus makanan. Bolus ini akan bergerak dari rongga mulut melalui dorsum
lidah, terletak di tengah lidah akibat kontraksi otot intrinsic lidah. Kontraksi M.Levator veli
palatine mengakibatkan rongga pada lekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole terangkat
dan bagian atas dinding posterior faring (Passavants ridge) akan terangkat pula. Bolus terdorong
ke posterior karena lidah terangkat ke atas. Bersamaan dengan ini terjadi penutupan nasofring
sebagai akibat kontraksi M.Levator veli palatine. Selanjutnya terjadi kontraksi M.Paltoglossus
yang menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti oleh kontraksi M.Palatofaring, sehingga bolus
makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.
Fase faringeal terjadi secara reflex pada akhir fase oral, yaitu perpindahan bolus makanan
dari faring ke esophagus. Faring dan laring bergerak ke atas oleh kontraksi M.Stilofaring,
M.Tirohioid dan M.Palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglottis, sedangkan ketiga sfingter
laring, yaitu plika ariepligotika, plika ventrikularis dan plika vokalis tertutup karena kontraksi
M.Ariepliglotika dan M.Aritenoid obligus. Bersamaan dengan ini terjadi juga penghentian aliran
udara ke laring karena reflex yang menghambat pernapasan, sehingga bolus makanan akan
meluncur kea rah esophagus, karena valekula dan sinus piriformis sudah dalam keadaan lurus.
Fase esophageal ialah fase oerpindahan bolus makanan dari esophagus ke lambung.
Dalam keadaan istirahat introitus esophagus selalu tertutup. Dengan adanya rangsangan bolus
makanan pada akhir fase faringeal, maka terjadi relaksasi M.Krikofaring, sehingga introitus
esophagus terbuka dan bolus makanan masuk ke dalam esophagus. Setelah bolus makanan lewat,
maka sfingter akan berkontraksi lebih kuat, melebihi tonus introitus esophagus pada saat
istirahat, sehingga makanan tidak akan kembali ke faring. Dengan demikian refluks dapat
dihindari. Gerak bolus makanan di esophagus bagian atas masih dipengaruhi oleh kontraksi
M.Konstriktor faring inferior pada akhir fase faringeal. Selanjutnya bolus makanan akan
didorong ke distal oleh gerakan peristaltic esophagus. Dalam keadaan istirahta sfingter
esophagus bagian bawah selalu tertutup dengan tekanan rata-rata 8mmHg lebih dari tekanan di
dalam lambung sehingga tidak akan terjadi regurgitasi isi lambung. Pada akhir fase esofagal
sfingter ini akan terbuka secara reflex ketika dimulainya peristaltic esophagus servikal untuk
mendorong bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat maka sfingter ini
akan menutup kembali.

Gambar 2.3. Proses Menelan

Fungsi Faring Dalam Proses Bicara
Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot palatum dan faring.
Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding belakang faring.
Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan melibatkan mula-mula M.Salpingofaring dan
M.Palatofaring, kemudia M.Levator veli palatine bersam-sam M.Konstriktor faring superior.
Pada gerakan penutupan nasofaring M.Levator veli palatine menarik paltum mole ke atas
belakang hampIr mengenai dinding posterior faring. Jarak yang tersisa ini diisi oleh tonjolan
(fold of) Passavant pada dinding belakang faring yang terjadi akibat 2 macam mekanisme, yaitu
pengangkatan faring sebagai hasil gerakann M.Palatofaring (bersama M.Salpingofaring) dan
oleh kontraksi aktif M.Konstriktor faring superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak
pada waktu yang bersamaan. Ada yang berpendapat bahwa tonjolan Passavant ini menetap pada
periode fonasi tetapi ada pula pendapat yang mengatakan tonjolan ini timbul dan hilang secara
cepat bersamaan dengan gerakan palatum.
3. Etiologi
Beberapa penyebab dari faringitis yaitu:
a. Virus
Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis. Beberapa jenis virus ini yaitu:
Rhinovirus
Coronavirus
Virus influenza
Virus parainfluenza
Adenovirus
Herpes Simplex Virus tipe 1 dan 2
Coxsackievirus A
Cytomegalovirus
Virus Epstein-Barr
HIV

b. Bakteri
Beberapa jenis bakteri penyebab faringitis yaitu:
Streptoccocus pyogenes, merupakan penyebab terbanyak pada faringitis akut
Streptokokus grup A, merupakan penyebab terbanyak pada anak usia 5 15 tahun, namun
jarang menyebabkan faringitis pada anak usia <3 tahun.
Streptokokus grup C dan G
Neisseria gonorrheae
Corynebacterium diphtheriae
Corynebacterium ulcerans
Yersinia enterocolitica
Treponema pallidum
Vincent angina, merupakan mikroorganisme anaerobik dan dapat menyebabkan
komplikasi yang berat, seperti abses retrofaringeal dan peritonsilar

4. Klasifikasi
1. Faringitis Akut
Adalah suatu penyakit peradangan tenggorok (faring) yang sifatnya akut (mendadak dan cepat
memberat).
Umum disebut radang tenggorok.
Radang ini menyerang lapisan mukosa (selaput lendir) dan submukosa faring.
Sering disertai dengan tonsilitis akut
Inflamasi tenggorok, 70% bcoz Streptokokus Hemolitikus
Etiologi: Umum Strep throat
Streptokokus Hemolitikus, Streptokokus Viridans, Streptokokus Piogenes
Infeksi firus influenza, Adenovirus, ECHO
a. Faringitis Viral
Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis.
Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Pada pemeriksaan tampak
faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, Coxsachievirus, dan cytomegalovirus tidak
menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesicular di orofaring dan lesi
kulit berupa maculopapular rash.

Gambar 2.4. Viral Pharyngitis

Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala konjungtivitis
terutama pada anak. Epstein-Barr virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi
eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama
retroservikal dan hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan HIV menimbulkan keluhan
nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis,
terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.
b. Faringitis Bakterial
Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi dan
jarang disertai dengan batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsil
hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak
petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal dan nyeri
pada penekanan.
Gambar 2.4. Streptococcal Pharyngitis
Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan dengan menggunakan
Centor criteria, yaitu :
- Demam
- Anterior Cervical lymphadenopathy
- Tonsillar exudates
- Absence of cough
Tiap kriteria ini bila dijumpai diberi skor 1. bila skor 0-1 maka pasien tidak mengalami faringitis
akibat infeksi streptococcus group A, bila skor 1-3 maka pasien memiliki kemungkian 40%
terinfeksi streptococcus group A dan bila skor 4 pasien memiliki kemungkinan 50% terinfeksi
streptococcus group A.
c. Faringitis Fungal
Keluhan nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak plak putih di orofaring
dan mukosa faring lainnya hiperemis.

Cara penularan
Kontak dari sekret hidung dan ludah (droplet Infection)
Penularan dapat terjadi melalui udara (air borne disease) maupun sentuhan.

2. Faringitis Kronik
Disebut faringitis kronis bila radangnya sudah berlangsung dalam waktu lama dan biasanya tidak
disertai gejala yang berat.
Faringitis kronis adalah penyakit otolaringologic paling umum dan mungkin kataral, hipertrofik
atau atrofik.
Terdapat dua bentuk faringitis kronik yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik
atrofi. Faktor predisposisi proses radang kronik di faring adalah rhinitis kronik, sinusitis, iritasi
kronik oleh rokok, minum alcohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu.
Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik adalah pasien yang bernafas melalui mulut
karena hidungnya tersumbat.
a. Faringitis Kronik Hiperplastik
Pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk yang bereak. Pada
faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring. Tampak
kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi. Pada pemeriksaan tampak
mukosa dinding posterior tidak rata dan berglanular.
b. Faringitis Kronik Atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis atrofi, udara
pernafasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga menimbulkan rangsangan serta
infeksi pada faring. Pasien umumnya mengeluhkan tenggorokan kering dan tebal seerta mulut
berbau. Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lender yang kental dan bila
diangkat tampak mukosa kering.

5. Patofisiologi
Pada faringitis yang disebabkan infeksi, bakteri ataupun virus dapat secara langsung menginvasi
mukosa faring menyebabkan respon inflamasi lokal. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel,
kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial bereaksi, terjadi pembendungan
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi,
kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal
dan kemudian cendrung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan
hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna
kuning, putih atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel
limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral, menjadi
meradang dan membengkak. Virus-virus seperti Rhinovirus dan Coronavirus dapat
menyebabkan iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal.
Infeksi streptococcal memiliki karakteristik khusus yaitu invasi lokal dan pelepasan extracellular
toxins dan protease yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat karena fragmen M
protein dari Group A streptococcus memiliki struktur yang sama dengan sarkolema pada
myocard dan dihubungkan dengan demam rheumatic dan kerusakan katub jantung. Selain itu
juga dapat menyebabkan akut glomerulonefritis karena fungsi glomerulus terganggu akibat
terbentuknya kompleks antigen-antibodi.
Pathway :

Limfatogen, Hematogen, miller
Mukosa faring
FA
Dayatahan tubuh
FK
dropplet
Polusi udara, rokok, alkohol, paparan polutan
Virus, bakteri, jamur,
TB PARU
LUES

6. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala faringitis dibedakan berdasarkan etiologinya, yaitu:
a. Virus
Jarang ditemukan tanda dan gejala yang spesifik. Faringitis yang disebabkan oleh virus
menyebabkan rhinorrhea, batuk, dan konjungtivitis.
Gejala lain dari faringitis penyebab virus yaitu demam yang tidak terlalu tinggi dan sakit
kepala ringan.
Pada penyebab rhinovirus atau coronavirus, jarang terjadi demam, dan tidak terlihat
adanya adenopati servikal dan eksudat faring.
Pada penyebab virus influenza, gejala klinis bisa tampak lebih parah dan biasanya timbul
demam, myalgia, sakit kepala, dan batuk.
Pada penyebab adenovirus, terdapat demam faringokonjungtival dan eksudat faring. Selain
itu, terdapat juga konjungtivitis.
Pada penyebab HSV, terdapat inflamasi dan eksudat pada faring, dan dapat ditemukan
vesikel dan ulkus dangkal pada palatum molle.
Pada penyebab coxsackievirus, terdapat vesikel-vesikel kecil pada palatum molle dan
uvula. Vesikel ini mudah ruptur dan membentuk ulkus dangkal putih.
Pada penyebab CMV, terdapat eksudat faring, demam, kelelahan, limfadenopati
generalisata, dan splenomegali.
Pada penyebab HIV, terdapat demam, myalgia, arthralgia, malaise, bercak kemerahan
makulopapular yang tidak menyebabkan pruritus, limfadenopati, dan ulkus mukosa tanpa
eksudat.
b. Bakteri
Faringitis dengan penyebab bakteri umumnya menunjukkan tanda dan gejala berupa lelah,
nyeri/pegal tubuh, menggigil, dan demam yang lebih dari 380C. Faringitis yang menunjukkan
adanya mononukleosis memiliki pembesaran nodus limfa di leher dan ketiak, tonsil yang
membesar, sakit kepala, hilangnya nafsu makan, pembesaran limpa, dan inflamasi hati.
Pada penyebab streptokokus grup A, C, dan G, terdapat nyeri faringeal, demam, menggigil, dan
nyeri abdomen. Dapat ditemukan hipertrofi tonsil, membran faring yang hiperemik, eksudat
faring, dan adenopati servikal. Batuk tidak ditemukan karena merupakan tanda dari penyebab
virus.
Pada penyebab S. Pyogenes, terdapat demam scarlet yang ditandai dengan bercak kemerahan dan
lidah berwarna stoberi.
Pada penyebab bakteri lainnya, ditemukan adanya eksudat faring dengan atau tanpa tanda klinis
lainnya.
Manifestasi klinis akut:
- Nyeri Tenggorok
- Sulit Menelan, serak, batuk
- Demam
- Mual, malaise
- Kelenjar Limfa Leher Membengkak
- Tonsil kemerahan
- Membran faring tampak merah
- Folikel tonsil dan limfoid membengkak dan di selimuti oleh eksudat
- Nyeri tekan nodus limfe servikal
- Lesu dan lemah, nyeri pada sendi-sendi otot, dan nyeri pada telinga.
- Peningkatan jumlah sel darah putih (Leukosit Al)
- Nodus limfe servikal membesar dan mengeras
- Mungkin terdapat demam,malaise dan sakit tenggorokan
- Serak,batuk,rhinitis bukan hal yang tidak lazim.
Manifestasi klinis kronis:
- Rasa iritasi dan sesak yang konstan pada tenggorokan.
- Lendir yang terkumpul dalam tenggorokan dan dikeluarkan dengan batuk.
- Kesulitan menelan.

7. Pemeriksaan Diagnostik
Kultur swab tenggorokan; merupakan tes gold standard. Jenis pemeriksaan ini sering
dilakukan. Namun, pemeriksaan ini tidak bisa membedakan fase infektif dan kolonisasi, dan
membutuhkan waktu selama 24 48 jam untuk mendapatkan hasilnya.
Tes infeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH.
Tes Monospot, merupakan tes antibodi heterofil. Tes ini digunakan untuk mengetahui
adanya mononukleosis dan dapat mendeteksi penyakit dalam waktu 5 hari hingga 3 minggu
setelah infeks.
Tes deteksi antigen cepat; tes ini memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitivitasnya
rendah.
Heterophile agglutination assay.

8. Epidemiologi
Anak rata-rata terdapat 5 kali infeksi saluran pernafasan bagian atas dan pada orang dewasa
hampir separuhnya
Kasus Faringitis akut di Rumah Sakit Panti Rapih tahun 2010 sebesar 5.305 kasus.
Di USA, faringitis terjadi lebih sering terjadi pada anak-anak daripada pada dewasa. Sekitar 15
30 % faringitis terjadi pada anak usia sekolah, terutama usia 4 7 tahun, dan sekitar 10%nya
diderita oleh dewasa. Faringitis ini jarang terjadi pada anak usia <3 tahun.
Penyebab tersering dari faringitis ini yaitu streptokokus grup A, karena itu sering disebut
faringitis GAS (Group A Streptococci). Bakteri penyebab tersering yaitu Streptococcus
pyogenes. Sedangkan, penyebab virus tersering yaitu rhinovirus dan adenovirus. Masa infeksi
GAS paling sering yaitu pada akhir musim gugur hingga awal musim semi.
Faringitis kronis umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja di suasana berdebu,
menggunakan suara berlebihan, batuk kronis, pengguna alkohol dan tembakau, Inhalasi uap yang
merangsang mukosa faring. Pasien yang bernafas melalui mulut karna hidungnya tersumbat

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terhadap faringitis dapat mengurangi risiko demam reumatik, menurunkan
durasi gejala, dan mengurangi risiko penularan penyakit. Pada faringitis dengan penyebab
bakteri, dapat diberikan antibiotik, yaitu:
Penicillin benzathine; diberikan secara IM dalam dosis tunggal
Penicillin; diberikan secara oral
Eritromisin
Penicillin profilaksis, yaitu penicillin benzathine G; diindikasikan pada pasien dengan
risiko demam reumatik berulang
Sedangkan, pada penyebab virus, penatalaksanaan ditujukan untuk mengobati gejala, kecuali
pada penyebab virus influenza dan HSV. Beberapa obat yang dapat digunakan yaitu:
Amantadine
Rimantadine
Oseltamivir
Zanamivir; dapat digunakan untuk penyebab virus influenza A dan B
Asiklovir; digunakan untuk penyebab HSV
Faringitis yang disebabkan oleh virus biasanya ditangani dengan istirahat yang cukup, karena
penyakit tersebut dapat sembuh dengan sendirinya. Selain itu, dibutuhkan juga mengkonsumsi
air yang cukup dan hindari konsumsi alkohol. Gejala biasanya membaik pada keadaan udara
yang lembab. Untuk menghilangkan nyeri pada tenggorokan, dapat digunakan obat kumur yang
mengandung asetaminofen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil, Motrin). Anak berusia di bawah 18
tahun sebaiknya tidak diberikan aspirin sebagai analgesik karena berisiko terkena sindrom Reye.
Pemberian suplemen dapat dilakukan untuk menyembuhkan faringitis atau mencegahnya, yaitu:
Sup hangat atau minuman hangat, dapat meringankan gejala dan mencairkan mukus,
sehingga dapat mencegah hidung tersumbat.
Probiotik (Lactobacillus), dapat digunakan untuk menghindari dan mengurangi demam.
Madu, dapat digunakan untuk mengurangi batuk.
Vitamin C, dapat digunakan untuk menghindari demam, namun penggunaan dalam dosis
tinggi perlu pengawasan dokter.
Seng, digunakan dalam fungsi optimal sistem imun tubuh, karena itu seng dapat
digunakan untuk menghindari demam, dan penggunaan dalam spray dapat digunakan untuk
mengurangi hidung tersumbat. Namun, penggunaannya perlu dalam pengawasan karena
konsumsi dalam dosis besar dan jangka waktu yang lama dapat berbahaya.
10. Komplikasi
Demam scarlet, yang ditandai dengan demam dan bintik kemerahan
Demam reumatik, yang dapat menyebabkan inflamasi sendi atau kerusakan pada katup
jantung. Pada negar berkembang, sekitar 20 juta orang mengalami demam reumatik akut yang
mengakibatkan kematian.Demam reumatik merupakan komplikasi yang paling sering terjadi dari
faringitis.
Glomerulonefritis; Komplikasi berupa glomerulonefritis akut merupakan respon inflamasi
terhadap protein M spesifik. Kompleks antigen-antibodi yang terbentuk berakumulasi pada
glomerulus ginjal yang akhirnya menyebabkan glomerulonefritis ini.
Abses peritonsilar biasanya disertai dengan nyeri faringeal, disfagia, demam, dan
dehidrasi.
Shok

11. Pencegahan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah faringitis yaitu:
Hindari penggunaan alat makan bersama pasien yang terkena faringitis, memiliki demam,
flu, atau mononukleosis
Mencuci tangan secara teratur
Tidak merokok, atau mengurangi pajanan terhadap asap rokok
Menggunakan pelembab ruangan jika ruangan kering
12. Prognosis
Umumnya prognosis pasien dengan faringitis adalah baik. Pasien dengan faringitis biasanya
sembuh dalam waktu 1-2 minggu.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Data Dasar
b. Riwayat Kesehatan.
c. Pemeriksaan Fisik
Pada farmgitis kronis , pengkajian head to toe yang dilakukan lebih difokuskan pada:
Sistem pernafasan : Batuk, sesak

2. Diagnosa
Nyeri berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rubor, dolor, kalor, tumor,
fungsiolaesa pada mukosa
Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan dan kolaboratif untuk
pemberian analgetik
Intervensi Keperawatan:
a. Kaji lokasi,intensitas dan karakteristik nyeri
b. Identifikasi adanya tanda-tanda radang
c. Monitor aktivitas yang dapat meningkatkan nyeri
d. Kompres es di sekitar leher
e. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan intake yang kurang
sekunder dengan kesulitan menelan ditandai dengan penurunan berat badan, pemasukan
makanan berkurang, nafsu makan kurang, sulit untuk menelan, HB kurang dari normal
Tujuan: gangguan pemenuhan nutrisi teratasi setelah dilakukan asuhan keperawatan yang efektif
Intervensi Keperawatan :
a. Monitor balance intake dengan output
b. Timbang berat badan tiap hari
c. Berikan makanan cair / lunak
d. Beri makan sedikit tapi sering
e. Kolaborasi pemberian roborantia

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret yang kental ditandai dengan
kesulitan dalam bernafas, batuk terdapat kumpulan sputum, ditemukan suara nafas tambahan
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif ditujukkan dengan tidak ada sekret yang berlebihan
Intervensi Keperawatan :
a. Identifikasi kualitas atau kedalaman nafas pasien
b. Monitor suara nafas tambahan
c. Anjurkan untuk minum air hangat
d. Ajari pasien untuk batuk efektif
e. Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran

Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan dehidrasi, inflamasi ditandai dengan suhu
tubuh lebih dari normal, pasien gelisah, demam
Tujuan: Suhu tubuh dalam batas normal, adanya kondisi dehidrasi, inflamasi teratasi
Intervensi keperawatan
a. Ukur tanda-tanda vital
b. Monitor temperatur tubuh secara teratur
c. Identifikasi adanya dehidrasi, peradangan
d. Kompres es disekitar leher
e. Kolaborasi pemberian antibiotik, antipiretik

C. PENDIDIKAN KESEHATAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)


Tema : Penyakit Faringitis
Sub Tema : Perjalanan Penyakit Faringitis
Sasaran : Keluarga Tn. P
Tempat : Di rumah sakit
Hari/Tanggal : Senin, 18 Oktober 2012
Waktu : 30 Menit




A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Tn. P dapat
mengetahui perjalanan penyakit Faringitis

B. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Klien Dapat:
Menjelaskan Latar Belakang penyakit Faringitis
Menyebutkan Pengertian penyakit Faringitis
Menyebutkan penyebab yang dapat menimbulkan penyakit Faringitis
Menyebutkan tanda/gejala dari penyakit Faringitis
Mengerti Patofisiologi penyakit Faringitis

C. Materi
1. Latar belakang penyakit Faringitis
2. Pengertian Faringitis
3. Faktor penyebab dari Faringitis
4. Tanda/gejala Faringitis
5. Patofisiologi Faringitis

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

E. Kegiatan Penyuluhan
No
Kegiatan
Penyuluh
Peserta
Waktu
1.
Pembukaan
Salam pembuka
Menyampaikan tujuan penyuluhan
Menjawab salam
Menyimak,
Mendengarkan, menjawab pertanyaan
5 Menit
2.
Kerja/ isi
Penjelasan pengertian, penyebab, gejala & patofisiologi Faringitis
Memberi kesempatan peserta untuk bertanya
Menjawab pertanyaan

Evaluasi
Mendengarkan dengan penuh perhatian


Menanyakan hal-hal yang belum jelas
Memperhatikan jawaban dari penceramah
Menjawab pertanyaan
20 menit
3.
Penutup
Menyimpulkan
Salam penutup
Mendengarkan
Menjawab salam
5 Menit


F. Media
Leaflet : Tentang penyakit Faringitis

G. Sumber/Referensi
Carpenito, Lynda Jual. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC
Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan,
Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Sabiston David. C, Jr. M.D, 1994, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
H. Evaluasi
Formatif :
1. Klien dapat menjelaskan latar belakang penyakit
2. Faringitis Klien mampu menjelaskan Pengertian penyakit Faringitis
3. Klien mampu menjelaskan faktor penyebab penyakit Faringitis
4. Klien dapat menjelaskan tanda/gejala penyakit Faringitis
5. Klien mampu menjelaskan patofisiologi penyakit Faringitis
Sumatif : Klien dapat mengetahui perjalanan penyakit Faringitis



Yogyakarta, Kamis 17 Oktober 2011


Pembimbing Penyuluh


( ) (Vebrianty noni Baunsele)










D. ETIK LEGAL
Dalam pemberian pelayanan kesehatan, sebagai perawat kita tidak boleh membeda-bedakan
status sosial pasien. Perawat harus menerapkan prinsip justice. Selain itu, perawat juga harus
memerapkan prinsip otonomi di mana harus menghargai penolakan klien atas tindakan yang
akan dilakukan.
Hak Pasien
a. Menjalankan ibadah sesuai agamanya
b. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya
c. Menolak bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agamanya
d. Menggugat RS bila pelayanan tdk sesuai standar baik perdata maupun pidana (?)
e. Mengeluhkan pada media

E. FUNGSI ADVODKASI
Kita tetap menghargai keputusan klien akan tetapi kita juga perlu menjelaskan apa macam-
macam pemeriksaan,. Usahakan klien mendapat peleyanan yang terbaik, inform concern juga
perlu menjadi koreksi agar semua pihak tidak dirugikan. Usahakan klien mendapat jamkesmas,
jamkaskin, askin.

F. JURNAL
[Kepatuhan tingkat terapi antibiotik pada pasien dengan faringitis akut sangat rendah, terutama
ketika antibiotik tiga kali sehari yang diberikan].
Penulis:
Llor C; Sierra N; Hernndez S; Bayona C; Hernndez M; Moragas A; Calvino O
Abstrak:
Tujuan: Untuk menilai obat-kepatuhan diamati di antara pasien dengan faringitis streptokokus
diduga diobati dengan rejimen dua kali sehari antibiotik (tawaran) dan lain-lain dengan rejimen
tiga kali sehari (tid).
Metode:
Sebuah penelitian prospektif dalam pengaturan perawatan primer dirancang di mana pasien
dengan faringitis dan tiga atau lebih kriteria Centor, non-alergi beta-laktam agen, diperlakukan
dengan tawaran beberapa regimen antibiotik tid berdasarkan pilihan dokter, direkrut. Kepatuhan
pasien dinilai dengan pemantauan elektronik.

Hasil:
Sebanyak 113 pasien terdaftar (64 pada kelompok tid dan 49 pada kelompok bid). Bukaan berarti
berkisar 70,3-83,3% dari jumlah total pil. Semua parameter yang dianalisis menunjukkan
kepatuhan secara signifikan lebih buruk dengan tid rejimen. Sebelas pasien dialokasikan untuk
t.i.d. kelompok mengambil setidaknya 80% dari pil (17,2%), ini menjadi signifikan lebih rendah
daripada mereka yang menerima tawaran antibiotik (59,2%, p <0,001). Persentase pasien yang
membuka Event Obat Monitoring System (MEMS) kontainer jumlah memuaskan kali sehari
secara sistematis lebih rendah di antara tid rejimen, ini secara statistik signifikan dari tiga hari (p
<0,05). Pasien ditugaskan untuk t.i.d. rejimen lebih sering lupa dosis sore.
Kesimpulan: Tingkat Kepatuhan sangat rendah, terutama ketika pasien diberi rejimen tid
antibiotik. Hal ini dapat menyebabkan penyimpanan antibiotik dan selanjutnya pengobatan diri
sendiri. Strategi baru ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan obat dengan antibiotik antara
pasien rawat jalan karena itu diperlukan.
Zat Nomenklatur: 0 (Anti-Bakteri Agen)
Tanggal Masuk:
Tanggal Dibuat: 20090324 Tanggal Selesai: 20091116

Daftar Pustaka
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Edisi 8. Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Jual. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC
Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan,
Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Sabiston David. C, Jr. M.D, 1994, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
http://www.zimbio.com/member/thedfiz/articles/vzPIjBAscq9/ASUHAN+KEPERAWATAN+P
ASIEN+DENGAN+FARINGITIS
http://hayato31.blogspot.com/2009/05/askep-faringitis.html
smart-fresh.blogspot.com