Anda di halaman 1dari 15

ANALISA UU NO 2 TAHUN 2OO2

TENTANG
TUPOK WEWENANG DAN WILAYAH KERJA POLRI

BAB I TEMUAN

1.1 TUGAS POKOK POLRI


Pasal yang mengatur Tugas pokok Polri dalam Undang-undang No.2 tahun 2002
adalah sebagai berikut :
 Pasal 13 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
 Pasal 14 UU No. 2 tahun 2002 BAB III

1.2 WEWENANG POLRI


Pasal yang mengatur Wewenang Polri dalam Undang-undang No.2 tahun 2002
adalah sebagai berikut :
 Pasal 15 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
 Pasal 16 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
 Pasal 17 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
 Pasal 18 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
 Pasal 19 UU No. 2 tahun 2002 BAB III

1.3 WILAYAH KERJA POLRI


Pasal yang mengatur Wilayah Kerja Polri dalam Undang-undang No.2 tahun 2002
adalah sebagai berikut :
 Pasal 5 UU No. 2 tahun 2002 BAB II
 Pasal 6 UU No. 2 tahun 2002 BAB II
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 TUGAS POKOK POLRI
a) Pasal 13 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
“ Tugas pokok Kepolisian Negara republik Indonesia adalah :
a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat
b. menegakkan hukum
c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat
Komentar :
dalam pasal ini mengenai tupok polri sudah mencakup seluruh kegiatan masyarakat
di Indonesia. Ketiga bagian dari pasal 13 tersebut bukan menggambarkan urutan
prioritas akan tetapi semuanya penting.

b) Pasal 14 UU No. 2 tahun 2002 BAB III


a. ayat 1: “Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana
dimaksud dalam pasal 13, kepolisian Negara republik Indonesia
bertugas :”
a. melaksanakan pengaturan,penjagaan,pengawalan dan patroli
terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan.
b. menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan,
ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
c. membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat,
kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat
terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan.
d. turut serta dalam pembinaan hukum nasional.
e. memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.
f. melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap
kepolisian khusus, penyidik pegawai sipil, dan bentuk-bentuk
pengamanan swakarsa.
g. melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak
pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-
undangan.
h. menyelenggarakan identifikasi laboratorium forensik, dan psikologi
kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian.
i. melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan
lingkungan hidup dari gangguan ketertiban bencana termasuk
memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak
asasi manusia.
j. melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum
ditangani oleh instansi dan atau pihak yang berwenang.
k. memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan
kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian.
l. melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Komentar :
dalam pasal ini tupok polri dirasa cukup tapi perlu penambahan poin dari pasal ini
mengenai melaksanakan tugas pengamanan terhadap obyek-obyek vital karena
supaya tidak ada tumpah tindih terhadap tugas ini dengan instansi lain.
b. Ayat 2 : “ tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf f diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.
komentar :
seyogyanya dalam pembuatan pasal ini mengenai peraturan pemerintah yang
menjelaskan poin ini dibuat secara bersamaan dan dicantumkan dalam undang-
undang ini sehingga jelas mengenai pelaksanaan tugasnya.

2.2 WEWENANG POLRI


a) Pasal 15 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
• Ayat 1: “Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13dan 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum
berwenang:
a. menerima laporan dan/atau pengaduan
b. membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat
mengganggu ketertiban umum.
c. mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat.;
penjelasan Yang dimaksud dengan "penyakit masyarakat" antara lain
pengemisan dan pergelandangan, pelacuran, perjudian, penyalahgunaan
obat dan narkotika, pemabukan, perdagangan manusia,
penghisapan/praktik lintah darat, dan pungutan liar.
d. mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau
mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
penjelasan Yang dimaksuddengan "aliran" adalah semua aliran atau
paham yang dapat menimbulkanperpecahan atau mengancam persatuan
dan kesatuan bangsa antara lain aliran kepercayaan yang bertentangan
dengan falsafah dasar Negara Republik Indonesia.
e. mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan
administratif kepolisian.
f. melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan
kepolisian dalam rangka pencegahan.
g. melakukan tindakan pertama di tempat kejadian.
penjelasan yang dimaksud Tindakan kepolisian adalah upaya paksa
dan/atau tindakan lainmenurut hukum yang bertanggung jawab guna
mewujudkan tertib dantegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman
masyarakat.
h. mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang.
i. mencari keterangan dan barang bukti.
penjelasan Keterangan dan barang bukti dimaksud adalah yang
berkaitan baik dengan proses pidana maupun dalam rangka tugas
kepolisian pada umumnya.
j. menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional.
Yang dimaksud dengan "Pusat Informasi Kriminal Nasional" adalah
sistem jaringan daridokumentasi kriminal yang memuat baik data
kejahatan dan pelanggaranmaupun kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas
serta regristrasi dan identifikasi lalu lintas.
k. mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan
dalam rangka pelayanan masyarakat.
Surat Izin dan/atau surat keterangan yang dimaksud dikeluarkan atas
dasar permintaan yang berkepentingan.
l. memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan
pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat.
m. menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara
waktu.
penjelasan Yang dimaksud dengan "barang temuan" adalah barang
yang tidak diketahui pemiliknya yang ditemukan oleh anggota Kepolisian
Negara Republik Indonesia atau masyarakat yang diserahkan kepada
Kepolisian Negara Republik Indonesia. Barang temuan itu harus
dilindungi oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan ketentuan
apabila dalam jangka waktu tertentu tidak diambil oleh yang berhak
akan diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah menerima barang temuan
wajib segera mengumumkan melalui media cetak, media elektronik
dan/atau media pengumuman lainnya.
• Ayat 2 : “Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan lainnya berwenang :
a. memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan
kegiatanmasyarakat lainnya.
penjelasan Keramaian umum yang dimaksud dalam hal
ini sesuai dengan ketentuan Pasal 510 ayat (1) Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP), yaitu keramaian atau
tontonan untuk umum dan mengadakan arak-arakan di jalan umum.
Kegiatan masyarakat lainnya adalah kegiatan yang dapat
membahayakan keamananumum seperti diatur dalam Pasal 495
ayat (1), 496, 500, 501 ayat (2), dan 502 ayat (1) KUHP.
b. menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor;
c. memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;
d. menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik.
Kegiatan politik yang memerlukan pemberitahuan kepada
Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah kegiatan politik
sebagaimana diatur dalam perundang-undangan di bidang politik,
antara lain kegiatan kampanye pemilihan umum (pemilu), pawai
politik, penyebaran pamflet, dan penampilan gambar/lukisan
bermuatan politik yang disebarkan kepada umum.
e. memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan
peledak, dan senjata tajam.
penjelasan Yang dimaksud dengan "senjata tajam" dalam
Undang-Undang ini adalah senjata penikam, senjata penusuk, dan
senjata pemukul, tidak termasuk barang-barang yang nyata-nyata
dipergunakan untuk pertanian, atau untuk pekerjaan rumah
tangga, atau untuk kepentingan melakukan pekerjaan yang sah,
atau nyata untuk tujuan barang pusaka, atau barang kuno, atau
barang ajaib sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor
12/Drt/1951.
f. memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan
terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan;
g. memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian
khususdan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis
kepolisian;
h. melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain dalam
menyidik dan memberantas kejahatan internasional;
penjelasan Yang dimaksuddengan "kejahatan internasional"
adalah kejahatan tertentu yang disepakati untuk ditanggulangi antar
negara, antara lain kejahatan narkotika, uang palsu, terorisme, dan
perdagangan manusia.
i. melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang
asing
yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi
terkait;
j. mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi
kepolisianinternasional;
penjelasan Dalam pelaksanaan tugas ini Kepolisian
Negara Republik Indonesia terikat oleh ketentuan hukum
internasional, baik perjanjian bilateral maupun perjanjian
multilateral. Dalam hubungan tersebut Kepolisian Negara Republik
Indonesia dapat memberikan bantuan untuk melakukan tindakan
kepolisian atas permintaan dari negara lain, sebaliknya Kepolisian
Negara Republik Indonesia dapat meminta bantuan untuk
melakukan tindakan kepolisian dari Negara lain sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan hukum dari kedua
negara. Organisasi kepolisian internasional yang dimaksud, antara
lain, International Criminal Police Organization (ICPO-
Interpol).Fungsi National Central Bureau ICPO-Interpol Indonesia
dilaksanakan oleh KepolisianNegara Republik Indonesia.
k. melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup
tugas kepolisian.
• Ayat 3 : “Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat
(2) huruf a dan d diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah”.
komentar :
dalam pasal ini kewenangan yang dimiliki POLRI sudah cukup tertulis di dalam UU
Polri ini,bahkan masih ada kewenangan yang sejak diundangkan tahun 2002 baru
kali ini di galakkan yaitu PIKNAS (Pusat Informasi Kriminal Nasional).

b) Pasal 16 UU No. 2 tahun 2002 BAB III


• Ayat 1 : “Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13 dan 14 di bidang proses pidana, Kepolisian Negara Republik
Indonesia berwenang untuk:”
a. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;
b. melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian
perkara untuk kepentingan penyidikan;
penjelasan Larangan kepada setiap orang untuk meninggalkan atau
memasuki tempat kejadianperkara maksudnya untuk pengamanan
tempat kejadian perkara serta barang bukti.
c. membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka
penyidikan;
d. menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri;
penjelasan Kewenangan ini merupakan kewenangan umum dan
kewenangan dalam proses pidana, dalam pelaksanaannya anggota
Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib menunjukkan
identitasnya.
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara;
h. mengadakan penghentian penyidikan;
i. menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
penjelasan Yang dimaksud dengan "menyerahkan berkas perkara
kepada penuntutumum",termasuk tersangka dan barang buktinya.
j. mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi
yang
berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak
atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang
disangka melakukan tindak pidana
penjelasan Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dapat
mengajukan permintaan cegah tangkal dalam keadaan mendesak
atau mendadak paling rendah setingkat Kepala Kepolisian Resort,
selanjutnya paling lambat dua puluh hari harus dikukuhkan oleh
Keputusan Kapolri.
k. memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai
negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai
negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; dan
l. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung
jawab.
• Ayat 2 : Tindakan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf l adalah
tindakan penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi
syarat sebagai berikut :
 tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;
 selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan
tindakan tersebut dilakukan;
 harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan
jabatannya;
 pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang
memaksa; dan
 menghormati hak asasi manusia.
komentar :
dalam pasal ini wewenang polri sudah cukup jelas

c) Pasal 17 UU No. 2 tahun 2002 BAB III


“Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia menjalankan tugas dan
wewenangnya di seluruh wilayah negara Republik Indonesia, khususnya di
daerah hukum pejabat yang bersangkutan ditugaskan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.”
komentar :
pasal ini cukup jelas
d) Pasal 18 UU No. 2 tahun 2002 BAB III
• Ayat 1 : “Untuk kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik
Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak
menurut penilaiannya sendiri”
penjelasan Yang dimaksud dengan "bertindak menurut penilaiannya sendiri"
adalah suatu tindakan yang dapat dilakukan oleh anggota Kepolisian Negara
Republik Indonesia yang dalam bertindak harus mempertimbangkan manfaat
serta resiko dari tindakannya dan betul-betul untuk kepentingan umum.
• Ayat 2 : “Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan, serta Kode Etik Profesi
Kepolisian Negara Republik Indonesia.
komentar :
dalam pasal ini perlu penekanan dalam arti kepentingan umum.agar diperjelas.

e) Pasal 19 UU No. 2 tahun 2002 BAB III


• Ayat 1 : “Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, pejabat Kepolisian
Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum
dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung
tinggi hak asasi manusia.”
• Ayat 2 : “Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud
dalam ayat(1), Kepolisian Negara Republik Indonesia mengutamakan
tindakan pencegahan.
komentar :
dalam pasal ini cukup jelas.

2.3 WILAYAH KERJA POLRI


a) Pasal 5 UU No. 2 tahun 2002 BAB II
• Ayat 1 :” kepolisian negara republik indonesia merupakan alat Negara yang
berperan dalam memlihara keamanan dan ketertiban masyarakat,
menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam
negeri.
• ayat 2 :” Kepolisian negara republik Indonesia adalah kepolisian nasional
yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).
komentar :
makna kepolisian nasional agar diperjelas maksudnya mengenai pembagian wilayah
organisasi polri baik dari polda sampai dengan polsek.

b) Pasal 6 UU No. 2 tahun 2002 BAB II


• ayat 1 :”Polri dalam melaksanakan peran dan fungsi kepolisian
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 dan pasal 5 meliputi seluruh
wilayah negara RI.”
penjelasan : Wilayah Negara RI adalah wilayah hukum berlakunya
kedaulatan negara RI sesuai dengan peraturan per UU an yang
berlaku.Pelaksanaan fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia meliputi
seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, sehingga setiap pejabat
Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat melaksanakan kewenangannya
di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, terutama di wilayah dia
ditugaskan.
• ayat 2 :”Dalam rangka pelaksanaan peran dan fungsi kepolisian,wilayah
negara RI dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan
tugas kepolisian Negara republik Indonesia.”
komentar:
Untuk melaksanakan peran dan fungsinya secara efektif dan efisien,wilayah negara
RI dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan tugas dan
wewenang POLRI dengan memperhatikan luas wilayah, keadaan penduduk dan
kemampuan POLRI. Pembagian daerah hukum tersebut diusahakan serasi dengan
pembagian wilayah administrasi pemerintahan di daerah dan perangkat sistem
peradilan pidana terpadu.
Dijelaskan kembali dalam
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR
23 TAHUN 2007 TENTANG DAERAH HUKUM POLRI.
Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang selanjutnya
disebut daerah hukum kepolisian adalah wilayah yurisdiksi Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, wilayah
perairan dan wilayah udara dengan batas-batas tertentu dalam rangka
melaksanakan fungsi dan peran kepolisian sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 2:
(1) Daerah hukum kepolisian dibagi berdasarkan kepentingan
penyelenggaraan fungsi dan peran kepolisian. Penjelasan Pembagian
daerah hukum kepolisian bertujuan untuk mengoptimalkan pencapaian
sasaran fungsi, dan peran Polri, serta kepentingan pelaksanaan tugas
dan kepastian hukum.
(2) Pembagian daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan daerah dan
perangkat sistem peradilan pidana terpadu.Penjelasan Pembagian daerah hukum
kepolisian diusahakan serasi dengan wilayah administrasi pemerintahan di daerah,
dan perangkat sistem peradilan pidana terpadu.
Pasal 3:
(1) Pembagian dan perubahan daerah hukum kepolisian ditetapkan dengan
mempertimbangkan kepentingan, kemampuan, fungsi dan peran kepolisian,
luas wilayah, serta keadaan penduduk.Penjelasan Dalam melakukan perubahan
daerah hukum kepolisian, Kapolri berkoordinasi dengan instansi terkait antara lain
menteri yang membidangi pendayagunaan aparatur negara, menteri yang
membidangi keuangan, badan yang membidangi perencanaan dan pembangunan
nasional, dan pemerintah daerah setempat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penetapan
pembagian daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Kapolri.
Pasal 4 :
(1) Daerah hukum kepolisian meliputi:
a. daerah hukum kepolisian markas besar untuk wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
b. daerah hukum kepolisian daerah untuk wilayah provinsi;
c. daerah hukum kepolisian resort untuk wilayah kabupaten/kota;
d. daerah hukum kepolisian sektor untuk wilayah kecamatan;
(2) Berdasarkan pertimbangan kepentingan, kemampuan, fungsi dan peran
kepolisian, luas wilayah serta keadaan penduduk, Kapolri dapat menentukan daerah
hukum kepolisian di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
huruf c dan huruf d.Penjelasan Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan memberikan
kewenangan kepada Kapolri untuk menambah atau mengurangi lingkup daerah
hukum kepolisianyang berbeda dengan wilayah administrasi pemerintahan di daerah
guna memudahkan pelaksanaan fungsi kepolisian. Sebagai contoh, daerah hukum
Kepolisian Daerah Metro Jaya mencakup juga sebagian wilayah Provinsi
Jawa Barat dan Provinsi Banten. Sebaliknya daerah hukum Kepolisian
Resort Kota Bandung Barat hanya mencakup sebagian dari wilayah administrasi
pemerintahan Kota Bandung.
(3) Selain dari daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2), daerah hukum kepolisian meliputi pula kawasan diplomatik, yaitu Kedutaan
Besar Indonesia serta kapal laut dan pesawat udara berbendera Indonesia di luar
negeri.
Pasal 5 :
Tidak termasuk ke dalam daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 adalah kawasan diplomatik, kedutaan besar asing, kantor
perwakilan badan internasional, kapal laut dan pesawat udara berbendera asing, serta
tempat lain sesuai peraturan perundang-undangan.
Pasal 6 :
Pembagian daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (1) tidak membatasi setiap pejabat Polri dalam melaksanakan tugas, fungsi,
peran dan kewenangannya sesuai peraturan perundang-undangan.Penjelasan Yang
dimaksud dengan “ketentuan yang berlaku” misalnya dalam menjalankan tugas harus
dengan Surat Perintah Tugas dan melapor kepada penanggung jawab daerah hukum
kepolisiansetempat.
Pasal 7 :
Penanggung jawab daerah hukum kepolisian adalah:
a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
b. Kepala Kepolisian Daerah untuk wilayah provinsi;
c. Kepala Kepolisian Resort untuk wilayah kabupaten/kota;
d. Kepala Kepolisian Sektor untuk wilayah kecamatan.
komentar :
Daerah Hukum POLRI selama ini mulai dikurangi seperti contoh dengan keluarnya
UU Bea Cukai dimana POLRI tidak dapat melakukan penyelidikan dan penyidikan
di kawasan berikat dll padahal sesuai dengan UU Polri yang notabene kelaurnya
lebih dahulu daripada UU Bea Cukai,Wilayah POLRI adalah seluruh wilayah
yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, wilayah
perairan dan wilayah udara.

BAB III. KESIMPULAN

Secara keseluruhan mengenai Tugas Pokok Wewenang serta wilayah kerja Polri
yang diatur dalam UU No. 2 tahun2002 sudah mencakup dalam pelaksanaan tugas Polri. Namun
masih ada beberapa hal yang perlu ditambah mengenai tupok polri dalam pengamanan obyek
vital. Kemudian dengan adanya UU Bea Cukai wilayah kerja polri menjadi berkurang karena
polri tidak boleh melakukan penyelidikan dan penyidikan di kawasan berikat.