Anda di halaman 1dari 44

ASUHAN KEPERAWATAN

MELANOMA MALIGNA







DISUSUN OLEH :


ENANG EFRIANA 12.1101.126
ARAN MADE SAVALERA 12.1101.130
HASMAWATI 12.1101.137
SARINA H BADAR 12.1101.139
HARNI HANDAYANI 12.1101.156
NOVELDI PITNA 12.1101.168





FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2012



BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA


1.1 Kulit
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ
terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang
dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi
mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Demikian pula kulit
bervariasi mengenai lembut tipis dan tebalnya.
Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah
epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang
berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.
Pembagian kilit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu lapisan epidermis,
lapisan dermis dan lapisan subkutis (hipodermis). Tidak ada garis tegas yang memisahkan
dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan
jaringan lemak.
Fungsi Utama kulit adalah Proteksi, Absorbsi, Ekskresi, Persepsi, Pengaturan Suhu tubuh
(termoregulasi), pembentukan vitamin D, dan Keratinisasi.



EPIDERMIS
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis
gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-
beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan
epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu.
Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :
1. Stratum Korneum: Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.
2. Stratum Lusidum: Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki
dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.
3. Stratum Granulosum: Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan
sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang
mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel Langerhans.
4. Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap
filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan
melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan
tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan
stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel Langerhans.
5. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan
bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis
diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan
faktor lain. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu:
a. Sel-sel yang berbentuk kolumnar
b. Sel Pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell, merupakan sel berwarna muda
dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen
(melanosomes). Melanosit menghasilkan pigmen coklat melanin yang jumlahnya
menentukan berbagai corak warna coklat di kulit berbagai ras. Selain ditentukan
secara herediter, kandungan melanin juga dapat ditingkatkan secara singkat oleh
pajanan berkas sinar ultraviolet dari matahari. Melanin tambahan ini
menyebabkan timbulnya warna coklat, melaksanakan fungsi protektif, yaitu
menyerap berkas sinar ultraviolet yang berbahaya.
Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan
dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans).
,,


DERMIS
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai True
Skin. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan
jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm.
Dermis terdiri dari dua lapisan :
Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.
Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.
Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya
usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia
meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan
dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan
kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput.
Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa
derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas kulit
tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis.
Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces
dan respon inflamasi.

Gambar 1. Anatomi Kulit

SUBKUTIS
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak.
Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di
bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi
individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori,
kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.






VASKULARISASI KULIT
Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler
dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil
meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis, tiap papilla dermis punya satu arteri
asenden dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat
nutrient dari dermis melalui membran epidermis.

























BAB 11. KONSEP MEDIS MELANOMA MALIGNA

2.1 Definisi
Melanoma adalah keganasan sel yang menghasilkan pigmen (melanosit) yang
terletak terutama di kulit, tetapi juga ditemukan dimata, telinga, saluran pencernaan,
leptomeninges, serta membrane mukosa oral dan kelamin. Melanoma hanya 4% dari semua
kanker kulit, namun hal itu menyebabkan jumlah terbesar kematian terkait kanker kulit di
seluruh dunia. Deteksi dini melanoma kulit adalah cara terbaik untuk mengurangi kematian.
(Arif Mutaqqin, 2012)

Melanoma maligna atau biasa juga disebut sebagai melanoma adalah keganasan yang
terjadi pada melanosit, sel penghasil melanin, yang biasanya berlokasi di kulit tetapi juga
ditemukan di mata, telinga, traktus GI, leptomeninges, dan oral dan membran mukus genitalia.

Karena sebagian besar sel melanoma masih menghasilakn melanin, maka melanoma seringkali
berwarna coklat atau hitam.

2.2 Epidemiologi
Insiden melanoma maligna itu sendiri berbeda-beda di tiap negara, dengan insiden
tertinggi terjadi di Australia dan Selandia Baru. Sebagai kanker kulit yang paling ganas, pada
penemuan kasus kanker yang baru terdiagnosis, melanoma menduduki urutan ke 6 laki-laki dan
urutan ke 7 perempuan di Amerika. Diperkirakan jumlah kasus baru Melanoma maligna di
Amerika pada tahun 2008 sebesar 62.480 kasus, dengan 34.4950 kasus terjadi pada laki-laki dan
27.350 pada wanita.
,0

Melanoma merupakan salah satu kanker yang insidensnya terus meningkat. Pada tahun
1930an di Amerika, resiko terkena melanoma maligna adalah 1:1.500, sekarang ini resiko
meningkat menjadi 1:74.



Gambar 2. Lifetime risk of Developing Invasive Melanoma (US)

Selain itu, The annual incidence of invasive cutaneous melanoma melaporkan bahwa
terjadi peningkatan insidens pada perempuan Caucasian di Amerika Serikat pada usia 15-39
antara tahun 1980-2004 sebesar 50% dibandingkan ras lainnya.





Gambar 3. Insidens dan Mortality Melanoma

Pada laki-laki, melanoma mengenai 1 dari 53 orang di Amerika Serikat, dan mengenai 1
diantara 78 perempuan. Sedangkan di Dunia, perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang
terkena melanoma yaitu 0,97:1. Namun, kematian akibat melanoma lebih banyak terjadi pada
laki-laki dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan yaitu 1,2:1.


Usia juga menentukan epidemiologi dari melanoma. Dikatakan bahwa insiden kanker
kulit, baik melanoma maupun non melanoma, meningkat seiring dengan peningkatan usia.

Emedicine.com menyatakan bahwa diagnosis melanoma ditegakkan rata-rata pada usia 53 tahun.
Namun, faktor usia tersebut tidaklah mutlak karena insiden melanoma tergantung juga pada
faktor-faktor lainnya.




2.3 Faktor Resiko
Yang dimaksud sebagai faktor resiko adalah segala sesuatu yang meningkatkan kesempatan
seseorang mendapat suatu penyakit, termasuk didalamnya yaitu kanker, dalam hal ini adalah
melanoma.

Namun, memilki sebuah faktor resiko atau bahkan beberapa, bukan berarti bahwa
orang tersebut akan terkena suatu penyakit tersebut. Identifikasi faktor resiko terhadap melanoma
maligna adalah penting untuk usaha pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan.

Faktor resiko
melanoma maligna diantaranya yaitu:
a) Tahi lalat (Nevus)
Tahi lalat atau dalam bahasa kedokterannya disebut juga sebagai nevus merupakan
salah satu tumor jinak pada melanosit. Nevus tersebut dapat timbul sejak lahir atau saat masa
kanak-kanak, bisa juga saat remaja.


Salah satu tipe nevus yang dapat berubah menjadi melanoma yaitu dysplastic nevus
atau tahi lalat atipik. Nevus displastik sedikit seperti nevus normal biasa, namun juga terlihat
seperti melanoma. Nevus displastik ini seringkali merupakan faktor keluarga. Jika seseorang
memiliki seorang anggota keluarga yang mempunyai displastik nevus maka sekitar 50%
kemungkinan nevus tersebut akan berkembang.


Resiko melanoma sekitar 6% sampai dengan 10% pada mereka yang memiliki nevus
displastik, tergantung pada usia, faktor keluarga, jumlah nevus displastik dan faktor-faktor
lainnya. Sedangkan pada mereka yang memiliki nevus melanotik sejak lahir, resiko
berkembangnya melanoma yaitu sekitar 6%.
Pada studi case-control , individu yang memiliki nevus yang dianggap dysplasia nevi
apabila memenuhi 2 kriteria yaitu :
a. Diameter sekurang-kurangnya 5mm dengan tekstur yang datar (baik seluruhnya
maupun sebagian).
b. Dua dari kriteria berikut : warna yang bervariasi, asimetris atau batas yang tidak jelas.


Adanya tahi lalat yang berubah, jumlahnya yang banyak (lebih dari 100 buah) dan
adanya tahi lalat yang sangat besar dengan diameter >20 cm pada orang dewasa menambah
faktor resiko.


b) Faktor Keluarga
Resiko akan menjadi lebih besar pada mereka yang memiliki keluarga yang
didiagnosa melanoma pada hubungan keluarga primer, seperti ayah, ibu, kakak, adek atau
anak. Sekitar 10% seseorang dengan melanoma memiliki sejarah keluarga yang menderita
penyakit yang sama.


c) Fenotip
Fenotip yaitu ekspresi gen pada diri seseorang. Dan yang dimaksud dalam hal ini
yaitu ekspresi gen seseorang terhadap kulit yang terang, berbintik-bintik, warna mata hijau
atau biru, rambut merah atau pirang, dan lain sebagainya.


Resiko terhadap orang kulit putih 20 kali lebih tinggi bila dibanding dengan seorang
Afrika Amerika. Hal ini disebabkan karena efek protektif oleh pigmen kulit. Namun bukan
berarti orang kulit hitam terbebas sama sekali dari resiko melanoma, hanya saja tempat
predileksi yang berbeda. Emedicine menyatakan bahwa seorang Hispanik dan Afrika
Amerika, melanoma lebih sering ditemukan di daerah akral.


d) Supresi Sistem Imun
Orang yang telah diterapi dengan obat-obatan imun supresor, seperti pada pasien-
pasien transplantasi, akan meningkatkan resiko terkena melanoma.


e) Pajanan Terhadap Radiasi Sinar UV yang Berlebihan
Sumber utama Radiasi Sinar UV adalah matahari. Sedangkan sumber yang lain yaitu
pada lampu-lampu yang biasanya dipakai di salon-salon kecantikan untuk menggelapkan
kulit.


Orang dengan pajanan sinar ultraviolet yang berlebihan memiliki resiko yang lebih
besar dibandingkan dengan yang tidak. Hal ini dikaitkan juga dengan faktor lingkungan,
yaitu tinggal dilokasi dekat dengan garis ekuator, orang yang memiliki kebiasaan rekreasi
outdoor atau orang yang memiliki pekerjaan yang mengharuskannya terpajan sinar matahari
lebih banyak, seperti pelaut, petani, dll.
,
Namun, pajanan terhadap sinar ultraviolet yang
intermitten namun sangat kuat lebih sering memiliki korelasi yang kuat dengan terjadinya
melanoma jika dibandingkan dengan pajanan kronik namun dalam level rendah, meskipun
jumlah total dosis sinar ultraviolet sama.
f) Usia
Sekitar setengah dari kejadian melanoma, terdapat pada orang-orang pada usia lebih
dari 50 tahun.


g) Xeroderma Pigmentosum
Xeroderma pigmentosum merupakan penyakit yang diturunkan sebagai hasil dari
defek pada enzim yang memperbaiki kerusakan pada DNA dan jarang ditemukan. Seseorang
dengan Xeroderma Pigmentosum memiliki resiko tinggi terhadap kanker kulit, baik
melanoma maupun nonmelanoma. Hal ini dikarenakan adanya defek tersebut menyebabkan
kemampuan orang tersebut untuk memperbaiki DNA yang rusak karena terpajan sinar
Ultraviolet menurun atau tidak ada sama sekali.


h) Riwayat Terkena Melanoma
Orang yang pernah terkena melanoma akan memiliki resiko lebih tinggi untuk
terkena melanoma kembali atau residif.

Tabel 1. Faktor Resiko Melanoma

2.4 Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya melanoma maligna belum diketahui dengan jelas. Diperkirakan
terjadinya perubahan melanosit normal menjadi sel melanoma (melanomagenesis) melibatkan
proses rumit yang secara progresif mengakibatkan mutasi genetik melalui percepatan terhadap
proliferasi, diferensiasi dan kematian serta pengaruh efek karsinogenik radiasi ultraviolet.


Primary cutaneous melanoma dapat timbul dalam bentuk prekursor, yakni nevi
mealnotik ( Tipe umum, kongeenital, atipikal/displastik), walaupun dipercaya bahwa lebih dari
60% kasus adalah arise de novo ( tidak tumbuh dari lesi pigmen yang telah ada.) Perkembangan
dari melanoma adalah multifaktor, dimana banyak hal yang berhubungan dengan perkembangan
dan pertumbuhannya, dan tampaknya berhubungan dengan faktor resiko yang multipel pula;
termasuk eksposur sinar matahari berlebih, moles yang tumbuh, riwayat keluarga akan
melanoma, mole yang berubah-ubah dan tidak sembuh, dan yang terpenting usia yang lanjut.
Melanoma memiliki 2 fase pertumbuhan yaitu radial dan vertikal. Selama fase pertumbuhan
radial, sel-sel ganas tumbuh secra radial di epidermis. Seiring berjalannya waktu, sebagian besar
melanoma berlanjut ke fase pertumbuhan vertikal, di mana sel-sel ganas menyerang dermis dan
mengembangkan kemampuan untuk bermetastasis.
Banyak gen yang terlibat dalam pengembangan melanoma, termasuk CDKN2A (p16),
CDK4, Rb1, CDKN2A (p19), PTEN/MMAC1, dan ras. CDKN2A (p16) berperan penting dalam
kejadian melanoma sporadis dan herediter. Gen supresor tumor ini terletak di band 9p21, dan
mutasinya berperan dalam berbagai kejadian kanker.


2.5 Manifestasi Klinis
Secara Klinis, melanoma maligna ada 4 macam tipe, yaitu:
a) Superficial Spreading Melanoma
Merupakan tipe melanoma yang sering terjadi di Amerika Serikat, yaitu sekitar 70%
dari kasus yang didiagnosa sebagai melanoma. Dapat terjadi pada semua umur namun lebih
sering pada usia 30-50 tahun, sering pada wanita dibanding pria dan merupakan penyebab
kematian akibat kanker tertinggi pada dewasa muda.


Pada stadium awal, tipe ini bisa berupa bintik yang datar yang kemudian pigmentasi
dari lesi mungkin menjadi lebih gelap atau mungkin abu-abu, batasnya tidak tegas, dan
terdapat area inflamasi pada lesi. Area di sekitar lesi dapat menjadi gatal. Kadang-kadang
pigmentasi lesi berkurang sebagai reaksi imun seseorang untuk menghancurkannya. Tipe ini
berkembang sangat cepat. Diameter pada umumnya lebih dari 6mm.

Lokasi pada wanita di
tungkai bawah, sedangkan laki-laki di badan dan leher.




Gambar 4. Superficial Spreading Melanoma



Gambaran histologis Superficial Spreading Melanoma, pada epidermis didapatkan
melanosit berbentuk epiteloid, dapat tersusun sendiri sendiri atau berkelompok, pada umumnya
sel sel tersebut tidak tampak pleomorfik. Pada dermis terlihat sarang sarang tumor yang
padat dan dengan melanosit berbentuk epiteloid yang besar serta berkromatin yang atipik, di
dalam sel sel tersebut terdapat butir butir kromatin, kadang kadang dapat di temukan
melanosit berbentuk kumparan dan sel sel radang.


Gambar 5. Histologi Superficial Spreading Melanoma

b) Nodular Melanoma
Merupakan tipe melanoma yang paling agresif. Pertumbuhannya sangat cepat dan
berlangsung dalam waktu mingguan sampai bulanan. Sebanyak 15%-30% kasus melanoma yang
terdiagnosa sebagai melanoma merupakan nodular melanoma. Dapat terjadi pada semua umur,
namun lebih sering pada individu berusia 60 tahun ke atas. Tempat predileksinya adalah tungkai
dan tubuh. Melanoma ini bermanifestasi sebagai papul coklat kemerahan atau biru hingga
kehitaman, atau nodul berbentuk kubah, atau setengah bola (dome shaped) atau polopoid dan
aksofitik yang dapat timbul dengan ulserasi dan berdarah dengan trauma minor, timbul lesi
satelit. Secara klinik bisa berbentuk amelanotik atau tidak berpigmen. Fase perkembangannya
tidak dapat dilihat dengan mudah, dan sulit di identifikasi dengan deteksi ABCDE.
,


Gambar 6. Nodular melanoma

Gambaran histologis Nodular melanoma pada epidermis didapatkan melanosit berbentuk
epiteloid, dan kumparan atau campuran, dapat ditemukan pada daerah dermo epidermal.
Gambaran dermis terlihat sel sel melanoma menginvasi ke lapisan retikuler dermis, pembuluh
darah dan subcutis.

Gambar 7. Histologi Nodular Melanoma
c) Lentigo Maligna Melanoma
Sebanyak 4-10 % kasus melanoma merupakan tipe Lentigo Maligna melanoma.

Terjadi pada kulit yang rusak akibat terpapar sinar matahari pada usia pertengahan dan lebih tua,
khususnya pada wajah, leher dan lengan. Melanoma tipe ini pada tahap dini terdiagnosa sebagai
bercak akibat umur atau terpapar matahari. Karena mudah sekali terjadi salah diagnosa maka tipe
ini dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan cukup berbahaya.

Pertumbuhan tipe ini
sangat lambat yaitu sekitar 5-20 tahun.


Pada tahap in situ lesinya luas (>3cm) dan telah ada selama bertahun-tahun.
Karakteristik invasinya ke kulit berupa macula hiperpigmentasi coklat tua sampai hitam atau
timbul nodul yang biru kehitaman. Pada permukaan dijumpai bercak-bercak warna gelap (warna
biru) tersebar tidak teratur, dapat menjadi nodul biru kehitaman invasive agak hiperkeratonik.



Gambar 8. Lentigo melanoma

Pada epidermis di dapatkan Melanositik atipik sepanjang membrane basalis, berbentuk
pleomorfik dengan inti yang atipik. Sel sel yang di jumpai berbentuk kumparan. Sedangkan
pada dermisnya terdapat Infiltrasi limfosit dan makrofag yang mengandung melanin.



Gambar 9. Histologi Lentigo melanoma


d) Acral Lentigineous Melanoma
Tipe ini paling sering menyerang kulit hitam dan Asia yaitu sebanyak 29-72% dari kasus
melanoma dan karena sering terlambat terdiagnosis maka prognosisnya buruk.

Sering disebut
sebagai hidden melanoma karena lesi ini terdapat pada daerah yang sukar untuk dilihat atau
sering diabaikan, yaitu terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, tumit, ibu jari tangan, atau
dibawah kuku.
,

Melanoma subungual bisa terlihat sebagai diskolorasi difus dari kuku atau pita
longitudinal berpigmen di dasar kuku. Melanoma ini memiliki bentukan yang sama dengan
benign junctional melanotic nevus. Pigmen akan berkembang dari arah proksimal menuju ke
arah laterla kuku yang disebut sebagai tanda Hutchinson, sebuah tanda yang khusus untuk
melanoma akral. Pada permukaan timbul papul, nodul, ulcerasi, kadang-kadang lesi tidak
mengandung pigmen.
,


Gambar 10. Acral Lentigous Melanoma

Gambaran yang paling khas paling baik di lihat pada daerah macula berpigmen. Tampak
adanya gambaran proliferasi melanosit atipikal sepanjang lapisan basal.


Gambar 11. Histologi Acral lentiginous melanoma

Selain 4 tipe tersebut terdapat juga salah satu tipe yaitu Non pigmentasi hanya sebanyak
<5% dari jumlah kasus melanoma di Amerika Serikat.. Tipe ini tidak berpigmen dan secara
klinis tampak pink atau gambaran kemerahan.Variasinya yaitu Desmoplastic/ neurotropic
melanoma, mucosal (lentigenous melanoma), malignant blue nevus.


Gambar 12. Melanoma amelanotik

Sangat sulit membedakan bentuk dini karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa
maupun melanoma maligna. Diagnosa pasti keganasan di tentukan dengan pemeriksaan patologi
anatomi. Kunci penyembuhan melanoma maligna adalah penemuan dini, sehingga diagnosa
melanoma harus ditingkatkan bila penderita melaporkan adanya lesi berpigmen baru atau adanya
tahi lalat yang berubah.



Kapan memikirkan suatu Nevus mungkin menjadi ganas:
a. Nevus yang berubah:
Membesar
Warna bertambah hitam
Timbul satelitosis
Terasa gatal
Mudah berdarah
Timbul ulkus
Rambutnya rontok
b. Nevus yang berlokasi di:
Telapak tangan/kaki
Bawah kuku
Belakang telinga
Vulva



ABCDE sistem ( Asymmetry, Border, Colour, Diameter, Envolving)
Berguna dalam mendiagnosa melanoma maligna serta untuk meningkatkan kewaspadaan
individu terhadap penyakit keganasan ini.

Asymmetry
Jika kita melipat lesi menjadi dua, maka tiap-tiap bagian tidak
sesuai


Border
Batasnya tidak tegas atau kabur

Color
Ciri melanoma tidak memiliki satu warna yang solid
melainkan campuran yang terdiri dari coklat kekuningan,
coklat dan hitam, juga bisa tampak merah, biru atau putih.

Diameter
Meskipun melanoma biasanya lebih besar dari 6 mm, ketika
dilakukan pemeriksaan mereka bisa lebih kecil dari
seharusnya . Sehingga harus diperhatikan perubahan tahi lalat
dibanding yang lainnya atau berubah menjadi gatal atau
berdarah ketika diameternya lebih kecil dari 6 mm

Evolving
Setiap perubahan dalam ukuran, bentuk, warna, tingginya
atau cirri-ciri lain atau ada gejala baru seperti mudah
berdarah, gatal dan berkrusta harus dicurigai keganasan
Gambar 13. The ABCDEs of Melanoma

Gambar berikut menunjukkan tahi lalat atypical yang normal dan melanoma.
Benign Malignant
Simetris


asimetris
Borders are
even

Borders are uneven
One shade

Two or more shades
Smaller than
1/4 inch

Larger than 1/4
Gambar 14. Perbedaan Atypical Nevus dan Melanoma
2.6 Klasifikasi
Klasifikasi melanoma merupakan salah satu proses yang digunakan untuk mengetahui
seberapa jauh sel-sel kanker tersebut telah bermetastase. Deskripsi klasifikasi tersebut meliputi
ukuran, dan apakah tumor tersebut telah menyebar ke organ lain. Adanya klasifikasi ini,
merupakan standar petugas kesehatan dalam melihat sel-sel kanker tersebut sehingga dapat
memberikan penatalaksanaan yang tepat.
Klasifikasi oleh The American joint Comitee on Cancer (AJCC) merupakan klasifikasi
yang paling banyak dan paling sering dipakai, dan memiliki klasifikasi T, sebagai keterangan
tentang ketebalan tumor, klasifikasi N, sebagi keterangan keterlibatan kelenjar limfe, dan M
sebagai keterangan ada tidaknya metastase. Keterangan lebih jelas pada tabel berikut.

Stage TNM Classification Histologic/Clinical Features
5-Year
Survival
Rate, %
0 Tis N0 M0 Intraepithelial/in situ melanoma 100
IA T1a N0 M0 1 mm without ulceration and level II/III >95
IB T1b N0 M0
T2a N0 M0
1 mm with ulceration or level IV/V
1.01-2 mm without ulceration
89-91
IIA T2b N0 M0
T3a N0 M0
1.01-2 mm with ulceration
2.01-4 mm without ulceration
77-79
IIB T3b N0 M0
T4a N0 M0
2.01-4 mm with ulceration
>4 mm without ulceration
63-67
IIC T4b N0 M0 >4 mm with ulceration 45
IIIA T1-4a N1a M0
T1-4a N2a M0
Single regional nodal micrometastasis, nonulcerated primary
2-3 microscopic positive regional nodes, nonulcerated primary
63-69
IIIB T1-4bN1a M0
T1-4bN2a M0
T1-4a N1b M0
T1-4a N2b M0
T1-4a/b N2c M0
Single regional nodal micrometastasis, ulcerated primary
2-3 microscopic regional nodes, nonulcerated primary
Single regional nodal macrometastasis, nonulcerated primary
2-3 macroscopic regional nodes, no ulceration of primary
In-transit met(s)* and/or satellite lesion(s) without metastatic lymph nodes
46-53



30-50
IIIC T1-4b N2a M0
T1-4b N2b M0
Any T N3 M0
Single macroscopic regional node, ulcerated primary
2-3 macroscopic metastatic regional nodes, ulcerated primary
4 or more metastatic nodes, matted nodes/gross extracapsular extension, or in-
transit met(s)/satellite lesion(s) and metastatic nodes
24-29
IV Any T any N M1a
Any T any N M1b
Any T any N M1c
Distant skin, subcutaneous, or nodal mets with normal LDH levels
Lung mets with normal LDH
All other visceral mets with normal LDH or any distant mets with elevated LDH
7-19
Tabel 2. Klasifikasi Melanoma dari AJCC-TNM

Stage 0 Melanoma Stage 1 Melanoma


Stage II Melanoma

Stage III Melanoma
Gambar 15. . Stage Melanoma

Klasifikasi menurut kedalaman (ketebalan) Tumor menurut Breslow:
Stage IV Melanoma
Golongan I : Kedalaman (ketebalan) tumor <0,76 mm
Golongan II : Kedalaman (ketebalan) tumor 0,76-1,5 mm
Golongan III : Kedalaman (ketebalan) tumor >1,5 mm



Klasifikasi yang lain yaitu klasifikasi tingkat invasi menurut Clark.
Tingkat I : sel melanoma terletak di atas membrane basalis epidermis
(melanoma in situ/ intra epidermal)
Tingkat II : invasi sel melanoma samapi dengan lapisan papilaris
dermis (dermis superfisial), tetapi tidak mengisi papila dermis.
Tingkat III : Sel melanoma mengisi papila dermis dan meluas sampai
taut dermis papiler dan retikuler.
Tingkat IV : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan retikularis
dermis.
Tingkat V : Invasi sel melanoma sampai dengan jaringan subkutan.




Gambar 16. Representatif skematik klasifikasi melanoma maligna menurut Breslow dan Clark

Sedangkan National Comprehensive Cancer Network menggunakan klasifikasi yang
merupakan variasi dari sistem TNM.
Stage 0 : melanoma in situ, yang berarti hanya melibatkan lapisan epidermis
dan belum menyebar ke dermis. Dalam klasifikasi menurut Clark tingkat I.
Stage 1 : melanoma memiliki ketebalan kurang dari 1 mm atau sekitar 1/25
inch. Dalam klasifikasi Clark, sesuai dengan tingkat II atau III.
Satge I-II: melanoma memiliki ketebalan antara 1-4 mm atau menurut
klasifikasi Clark sesuai dengan tingkat IV dengan ketebalan berapapun. Tingkat
ini masih terlokalisasi di kulit dan belum ditemukan penyebaran pada kelenjar
limfe atau organ lain yang jauh.
Stage III: melanoma sangat tebal, lebih dari 4 mm, atau jika dalam klasifikasi Clark, sesuai
dengan tingkat V dan atau nodul melanoma ditemukan dalam 2 cm dari tumor
utama. Atau melanoma telah menyebar ke kelenjar limfe terdekat, tapi masih
belum ada penyebaran jauh.
Stage IV: melanoma telah menyebar luas disamping ke regio sekitarnya, seperti ke paru-
paru, hati, otak, dll.
2.7 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang ini yaitu meliputi pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan
histopatologi dan pemeriksaan radiologi.
,
khir-akhir ini di luar negeri juga dikembangkan
pemeriksaan dengan epiluminescence microscopy. Dengan tehnik ini, lesi yang
berpigmen tersebut diperiksa secara in situ dengan minyak emersi dengan menggunakan
dermatoskop. Pada beberapa penelitian lain melibatkan analisis dengan bantuan komputer
dan klinikal digitalisasi yang kemudian dibandingkan dengan database.


Gambar 17. Perbandingan gambaran klinik (A) dan dengan menggunakan epiluminescence microscopy
(B)

Namun data terakhir melaporkan bahwa pemeriksaan laboratorium, radiografi
thorak dan radiografi yang lain (MRI, CT Scan, PET, Scanning Tulang) tidak terlalu
bermanfaat untuk melanoma stage I/II (melanoma kutaneus) tanpa tanda-tanda dan
gejala-gejala metastase.
a. Pemeriksaan Laboratorium
Tak ada pemeriksaan tertentu yang khusus untuk melanoma, baik yang belum
bermetastase maupun yang telah bermetastase, tetapi kadangkala tingginya angka
LDH (Lactaet Dehydrogenase) dianggap membantu. Kadar LDH yang tinggi dalam
darah merupakan suatu kemungkinan adanya metastase melanoma pada hati. Adanya
peningkatan LDH ini juga dihubungkan dengan lebih buruknya kemungkinan untuk
hidup pada kelompok tersebut. Pemeriksaan LDH akan bermakna pada melanoma
stage IB/III atau dengan pemeriksaan berkala setiap 3-12 bulan.
Selain LDH, kadar serum S-100 mungkin juga berguna sebagai penanda tumor pada
pasien dengan melanoma yang telah bermetastase.
b. Pemeriksaan Radiografi
Ultrasound Scan, pemeriksaan ini menggunakan frekuensi gelombang suara untuk
menghasilkan gambaran spesifik dari bagian tubuh. Sebagian besar untuk memeriksa
kelenjar limfe di leher, axilla, dan pelipatan paha. Kadang digunakan pada biopsy
kelenjar limfe agar semakin akurat (Ultrasound guided fine needle aspiration).
Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memakan waktu yang lama,
tidak menimbulkan bahaya radiasi dan aman digunakan pada kehamilan.



Gambar 18. Ultrasound of lymph node
Pemeriksaan X-ray pada thorak dilakukan dengan memperhatikan kemungkinan
adanya metastase melanoma ke paru-paru. Hasil metastase tersebut dapat berupa
gambaran tumor pada paru-paru, yang seringkali harus dibedakan dengan tumor paru
primer, tetapi dapat juga berupa gambaran efusi pleura.
CT-Scan mungkin dapat mendeteksi adanya metastase melanoma pada paru-paru atau
pada hati dengan adanya gambaran pembesaran pada kelenjar limfe. Sedangkan
radiografi dengan MRI merupakan pemeriksaan yang paling baik untuk melihat
adanya metastase melanoma pada otak dan medula spinalis.


PET (Positron Emission Tomography) dilakukan untuk menambah informasi dari
hasil CT Scan dan MRI yang dilakukan. Pada pemeriksaan ini, digunakan semacam
glukosa yang mengandung atom radioaktif. Prinsip cara kerja PET yaitu dengan
adanya sifat sel kanker yang menyerap lebih banyak glukosa karena metabolismenya
yang tinggi.

Gambar19. PET Scan Whole Body staging for Melanoma

Tetapi penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini menyatakan bahwa pemeriksaan
radiologi seperti CT Scan, MRI, PET, USG dan Scan tulang memiliki hasil yang
rendah pada pasien asmtomatik dengan melanoma kutaneus primer (Stage I dan II
menurut AJCC) dan umumnya tidak diindikasikan.

c. Pemeriksaan Histopatologi
Kriteria standar untuk diagnosa melanoma maligna adalah dengan pemeriksaan
histopatologi dengan cara biopsi dari lesi kulit tersangka. Macam-macam tehnik
biopsi itu sendiri ada 3 macam, yaitu shave biopsy, punch biopsy dan incisional and
excisional biopsies.

Biopsi secara eksisi merupakan pilihan cara biopsi yang
direkomendasikan untuk pemeriksaan melanoma maligna. Pada tehnik ini, tumor
diambil secara keseluruhan untuk kemudian sebagian sampel digunakan untuk
pemeriksaan histologi.
Biopsi secara eksisi dengan batas yang kecil dari batas tumor dipilih untuk
memastikan informasi tentang ketebalan tumor, adanya ulserasi, tahap invasi tumor
secara antomis, adanya mitosis, adanya regresi, adanya invasi terhadap pembuluh
limfe dan pembuluh darah, dan untuk melihat respon host terhadap tumor itu sendiri.
Pada umumnya batas kulit yang diambil yaitu sekitar 1-3 mm sekitar lesi untuk
memperakurat diagnosis dan histologic mikrostaging.

Kecuali pada melanoma jenis
lentigo, biopsi lebih mendalam diperlukan untuk memperkecil terjadinya
misdiagnosa.



Gambar20. Excision Biopsy

Hasil yang dapat ditemukan pada pemeriksaan histologi ini bergantung pada jenis
melanoma. Superficial Spreading melanoma memiliki fase pertumbuhan secara radial
atau fase in situ yang digambarkan dengan peningkatan jumlah melanosit intraepitel
yang bersifat (1) atipik dan besar, (2) tersusun tidak teratur di dermal-epidermal
junction, (3) adanya migrasi ke atas (pagetoid), (4) kurang memiliki potensi biologi
sel untuk bermetastasis. Lentigo melanoma dan acral lentiginous melanoma memiliki
gambaran yang mirip, dengan dominasi pertumbuhan secara in situ pad dermal-
epidermal juntion dan dengan tendensi yang kecil untuk pertumbuhan sel secara
pagetoid.
Ketebalan tumor, merupakan determinan prognosis terpenting dan diukur secara
vertikal dalam milimeter dari atas lapisan granular hingga titik terdalam tumor.
Semakin tebal tumor dapat diasosiasikan dengan potensi metastase yang lebih tinggi
dengan prognosa yang lebih jelek.

2.8 Penatalaksanaan
a. Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi utama dari melanoma maligna, yang hampir 100% efektif pada
masa-masa awal tumor. Pembedahan ini, dilakukan dengan cara eksisi luas dan dalam dengan
pinggir sayatan yang direkomendasikan sesuai tabel berikut:





tabel 3. Penatalaksanaan melanoma dengan eksisi berdasar ketebalan tumor

Termasuk dalam penatalaksanaan pembedahan melanoma maligna ini adalah Elective
Lymphonode dissection (ELND), yaitu deseksi kelenjar limfonodi tanpa dilakukan biopsi
sebelumnya. Diseksi ini dilakukan untuk tumor dengan kedalaman 1-4 mm dan tidak pada
Management of Melanoma Patients
melanoma stage I. Hal ini disebabkan karena sebanyak 40% kasus pada pasien melanoma dengan
ketebalan 1-4 mm memiliki kelainan limfe yang tidak tampak dan sebanyak 10% kasus dengan
metastase jauh. Sedangkan pasien dengan lesi lebih besar dari 4 mm, hampir 70% kasus dengan
metastase jauh dan 60% memiliki kelainan limfe yang tersembunyi. Namun pada kenyataannya
tindakan tersebut tidak memperbaiki survival rate dan hingga sekarang masih dalam perdebatan.
Pada penelitian yang dilakukan WHO, angka metastasis sekitar 48% pada penderita yang
dilakukan ELND.

Sedangkan pada penelitian lain yang dilakukan oleh The International Group
Melanoma Surgical trial menunjukkan adanya perbaikan survival rate pada pasien dengan usia
kurang dari 60 tahun dengan ketebalan tumor antara 1-4 mm.


Sentinel Lymph Node Dissection merupakan bentuk penatalaksanaan pembedahan
yang lain. Pada pembedahan ini, diseksi dilakukan pada kelenjar limfe yang merupakan tempat
utama melanoma untuk drainase. Adanya diseksi ini dikatakan dapat mengidentifikasi mereka
yang mempunyai resiko tinggi metastase dan mereka yang mungkin mendapatkan keuntungan
dengan diseksi lengkap kelenjar limfe atau dengan terapi adjuvan.



Gambar 21. Sentinel node theory

Pemetaan lymfatik dan sentinel node biopsy merupakan solusi efektif untuk dilakukannya
lymphadenectomy pada pasien dengan melanoma yang tipis dan secara klinis kelenjar tidak
teraba. Teknik ini dikembangkan pada awal tahun 1990an dengan pemberian zat warna patent
blue V atau isosulfan blue secara intradermal diats tumor saat dilakukan eksisi luas. Pada
eksplorasi kelenjar getah bening akan ditemukan saluran-saluran getah bening yang berwarna
biru, yang menuju kesuatu kelenjar yang berwarna biru pula, lebih dari 80% kelenjar ini dapat
ditemukan. Kelenjar getah bening diangkat dan dilakukan frozen section, jika positif
mengandung metastasis sel tumor baru akan diseksi. Pada penelitian Reintgen menemukan
bahwa sel melanoma maligna menjalar lebih teratur dan jelas dibandingkan dengan tumor padat
lainnya. Jika pada sentinel node ini tidak ditemukan metastasis maka kelenjar lain juga
diasumsikan tidak mengandung metastasis. Cara ini dipermudah dengan menggunakan
lymphoscintigraphy dengan penyuntikan Technitiun (TC99m) ke dalam tumor 1 hari sebelum
operasi. Dengan alat pelacak isotop akan dapat ditentukan tempat insisi kulit di daerah kelenjar
getah bening regional tumor tersebut. Pada penelitian dari 612 pasien pada stage I/II tidak
didapatkan angka recurrent sebesar 60%.
,


b. Terapi Adjuvant
Karena pengobatan definitive dari melanoma kulit adalah dengan pembedahan, maka
terapi medikamentosa diberikan sebagai terapi tambahan dan penatalaksanaan pada pasien
melanoma stadium lanjut. Pasien yang memiliki melanoma dengan tebal lebih dari 4 mm atau
metastase ke limfonodi dengan pemberian terapi adjuvant dapat meningkatkan angka ketahanan
hidup. Studi di berbagai center kesehatan menunjukkan pemberian interferon alpha 2b (IFN)
menambah lamanya ketahanan hidup dan ketahanan terhadap terjadinya rekurensi Melanoma,
sehingga oleh Food and Drug Administration (FDA) mengajurkan IFN sebagai terapi tambahan
setelah eksisi pada pasien dengan resiko recurrent.

IFN dilaporkan tidak efektif pada fase I atau
II dari melanoma yang bermetastase, namun potensi IFN yang merupakan mediator pembunuh
alami Limfosit T sitotoksik, sebuah pengaktivasi makrofag, dn HLA klas II ekspresi antigen,
merupakan hal yang tak dapat diabaikan.
Interleukin-2 (IL-2) pada penelitian terakhir, dalam dosis tinggi baik diberikan sendiri
maupun dengan kombinasi bersama sel lymphokine activated killer menghasilkan respon pada
pasien sebesar 15% sampai 20%, dengan respon lengkap sebesar 4-6%.
Terapi adjuvan lain selain IFN yaitu Kemoterapi dengan macamnya yaitu:
Dacarbazine (DTIC), baik diberikan sendiri maupun kombinasi bersama Carmustine
(BCNU) dan Cisplastin.
Cisplastin, vinblastin, dan DTIC
Temozolomide merupakan obat baru yang mekanisme kerjanya mirip DTIC, tetapi bisa
diberikan per oral.
Melphalan juga dapat diberikan pada melanoma dengan prosedur tertentu.
Terapi-terapi adjuvan yang lainnya diantaranya yaitu dengan biokemoterapi, yaitu
merupakan kombinasi terapi antara kemoterapi dan imunoterapi, imunoterapi sendiri dan gen
terapi.


Dalam kepustakaan lain disebutkan juga adanya terapi radiasi pada melanoma yang
merupakan terapi paliatif.

Radioterapi sering digunakan setelah pembedahan pada pasien dengan
lokal atau regional melanoma atau untuk pasien dengan unresectable dengan metastasis jauh.
Terapi ini dapat mengurangi recurence lokal tetapi tidak memperbaiki prolong survival.
Radioimunoterapi pada metastase melanoma masih dalam penelitian, pada penelitian
yang dilakukan National Cancer Institute (NCI) terapi ini menunjukkan kesuksesan. Terapi ini
dengan memberikan auotologous lymphocytes yang kemudian mengkode T cell receptors
(TCRs) pada lymphosit pasien, kemudian telah terbentuk manipulasi lymphosit yang melekat
pada molekul di permukaan sel melanoma yangf kemudian membunuh sel melanoma tersebut.


2.9 Pencegahan
Pada prinsipnya, pencegahan dilakukan dengan cara menghindari pajanan sinar matahari
secara intens. Sehingga pencegahan dapat dilakukan dengan jalan:
a. Membatasi pajanan sinar Ultraviolet terhadap kulit. Hal ini bisa dilakukan dengan jalan
mencari tempat yang teduh jika berada di luar gedung, memakai baju panjang untuk
mengurangi banyaknya kulit yang terpajan matahari, dan menggunakan lotion sunscreen
dengan SPF 15 atau lebih pada kulit yang terpajan sinar matahari, serta menggunakan
kacamata hitam untuk perlindungan mata.
b. Menghindari sumber-sumber sinar UV lainnya, seperti tempat tidur yang digunakan untuk
mencoklatkan kulit di salon-salon kecantikan.








2.10 Deteksi Dini Melanoma
Sama seperti halnya deteksi kanker payudara, deteksi dini melanoma maligna juga dapat
dilakukan baik oleh diri sendiri dan juga oleh petugas kesehatan. Tujuan utama dari deteksi dini
ini adalah untuk mengenali melanoma maligna sedini mungkin ketika masih datar dan dapat
disembuhkan.


1. Oleh Diri Sendiri (Self Examination)
Dilakukan dengan pemeriksaan rutin terhadap diri sendiri. Saat pertama kali
dilakukan, pemeriksaan ini mungkin akan memakan waktu yang lama dan terlihat
merepotkan, namun bila telah dilakukan berkali-kali maka akan semakin terlatih dan hal itu
berarti waktu yang digunakan akan semakin pendek.
Pemeriksaan ini, harus dilakukan langkah demi langkah seperti yang akan
ditunjukkan dalam gambar berikut dan dilakukan dalam keadaan tidak mengenakan baju.
Untuk lokasi-lokasi tertentu yang sulit dilakuakn evaluasi sendiri, maka pertolongan keluarga
atau teman dekat sangat membantu. Pasien harus berkonsultasi secepatnya pada dokter
umum atau dokter spesialis jika menemukan adanya perubahan yang signifikan pada lesi-lesi
tertentu di tubuh mereka.
2. Petugas Kesehatan (Dokter, Perawat)
Baik deteksi dini yang dilakukan oleh diri sendiri dan petugas kesehatan, yang perlu
diperhatikan dalam hal ini adalah tanda dan gejala melanoma tersebut yang dapat dilakukan
dengan mengevaluasi ABCDE sistem ( Asymmetry, Border, Colour, Diameter, Envolving).









2.11 Diferential Diagnosa


2.12 Komplikasi
1. Metastasis dapat terjadi pada local (di dalam atau sekitar lesi primer), pada limfonodi,
atau pada:
Kulit yang jauh dari lesi primer
Limfonodi yang jauh
Organ-organ dalam
Tulang
CNS.
2. Metastasis dapat berlangsung cepat secara hematogen maupun limfogen.
3. Ulkus mudah berdarah.

2.13 Prognosis
Prognosis melanoma tidak ditentukan oleh satu macam faktor saja, namun multifaktor
dan utamanya bergantung pada: (1) ketebalan tumor, (2) ada tidaknya ulserasi secara histologi,
dan (3) adanya metastase pada kelenjar limfe.
Pada Cutaneus Melanoma stage I dan I I :
Bila ketebalan tumor 1mm diasosiasikan dengan angka ketahanan hidup antara 91-
95% tergantung ada tidaknya ulserasi secara histologi dan klasifikasi Clark lebih besar
dari tingkat III.
Ketebalan tumor 1-4 mm, diasosiasikan dengan angka ketahan hidup antara 63-89%
bergantung pada ulserasi dan ketebalan dari tumor primer.
Tebal tumor >4 mm memiliki angka ketahanan hidup 67% tanpa ulserasi, dan 45%
dengan adanya ulserasi primer.
Adanya ulserasi akan menurunkan angka ketahanan hidup pada setiap tingkat tumor.
Stage III
Metastase pada kelenjar limfe regional diasosiasikan dengan angka ketahanan hidup 5
tahun sebesar 13-69%, tergantung pada jumlah kelenjar limfe yang telah terkena, secara
mikroskopik maupun makroskopik, dan adanya ulserasi pada tumor primer.
Stage IV

Prognosis untuk melanoma yang telah bermetastase jauh sangatlah buruk, dengan angka
ketahanan hidup median hanya 6-9 bulan dan 5 tahun sebesar 7-19%, tergantung pada
tempat yang terkena metastase. Umumnya, metastase pada jaringan lunak, kelnjar, dan
paru-paru memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan adanya metastase ke
organ-organ dalam, seperti hati.


Pada tahun 2002, The American Joint Committee of Cancer melaporkan dalam journalnya
yang berjudul: Final version of the American Joint Committee on Cancer Staging System for cutaneous melanoma bahwa
terdapat perbedaan prognostic yang signifikan di pada tiap grup dari masing-masing stage melanoma, seperti yang terlihat pada
gambar 22.



























BAB 111. ASUHAN KEPERAWATAN MELANOMA MALIGNA


3.1 Pengkajian
Anamneses
Dari anamnesa yang dilakukan, diharapkan diketahui informasi tentang keluhan
umum pasien, dan riwayat perjalanan keluhan umum tersebut. Perubahan sifat dari nevus
merupakan keluhan umum yang paling sering ditemukan pada pasien dengan melanoma,
dan hal ini merupakan peringatan awal melanoma.

Perubahan tersebut diantaranya
peningkatan dalam hal diameter, tinggi atau batas yang asimetris pada suatu lesi
berpigmen memberikan data 80% pada pasien saat melanoma ditegakkan.Dari perjalanan
penyakit tersebut juga ditanyakan awal mulanya lesi pada kulit tersebut muncul, dan
kapan terjadi perubahan pada lesi tersebut.

Tentang tanda dan gejala melanoma, seperti
adanya perdarahan, gatal, ulserasi dan nyeri pada lesi.

Pada anamnesa tersebut juga
ditanyakan tentang adanya faktor-faktor resiko pada pasien.
,
Pemeriksaan fisik
Yang perlu dilakukan saat pemeriksaan fisik ini yaitu memperhatikan lebih detail
dengan inspeksi, palpasi dan bila perlu inspeksi dengan bantuan kaca pembesar. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui ukuran, bentuk, warna dan tekstur dari nevus tersangka dan
mencari adanya perdarahan atau ulserasi. Pemeriksaan terhadap kelenjar limfe yang
berada dekat dengan lesi juga perlu dilakukan. Adanya pembengkakan atau biasa disebut
dengan limfadenopati menunjukkan kemungkinan adanya penyebaran melanoma.
Pemeriksaan ditempat tubuh yang lain dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan
atau untuk evaluasi dari pemeriksaan yang lalu pada individu dengan faktor resiko. Di
luar negeri, evaluasi terhadap seluruh tubuh sudah dilakukan, yaitu dengan cara
mendokumentasikan nevus-nevus yang ada di seluruh tubuh.

Dengan demikian,
perubahan akan lebih cepat terdeteksi dengan membandingkannya dengan dokumentasi
terdahulu.
Pemeriksaan di tempat yang menjadi predileksi pada macam-macam bentuk klinis
melanoma juga perlu dilakukan. Misalnya pada melanoma superfisial dan melanoma
nodular yang biasanya berada di trunkus tubuh dan tungkai, sedangkan melanoma
maligna bentuk lentigo lebih banyak muncul di telapak tangan, telapak kaki dan dibawah
kuku.
Aktivitas Istirahat
Tanda : Keterbatasan mobilisasi/kehilangan pada bagian yang terkena (mungkin
segera karena nyeri, pembengkakkan setelah tindakan aksisi dan graft kulit).
Sirkulasi
Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai rspon terhadap nyeri/ansietas),
takikardia (respon stress, hipovolemia), lesi cenderung sikuker dengan bagian luar
yang tidak teratur
Neurosensori
Tanda : penurunan reflex tendon dalam pada cedera ekstermitas.
Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri berat saat tindakan eksisi dan grafh kulit (mungin terlokasi pada
area lesi yang di eksisi local yang luas dan pada grafh kulit)
Keamanan
Tanda : Lesi semakin menonjol, pendarahan lesi, perubahan local pada warna
nodul (biasanya relative licin serta berwarna biru hitam yang seragam, dapat
meningkat/berubah secara bertahap), serta nodul yang menebal, bersisik dan
berulselasi.
Penyuluhan /Pembelajaran
Gejala : Lingkungan trauma, aktivitas perwatan dini dan tugas
pemeliharaan/perawatan rumah.


























3.3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin timbul pada melanoma maligna adalah:
1. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan Keruskan Permukaan
Kulit Karena Destruksi Lapisan Kulit
2. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan Jaringan Kulit
3. Resiko Tinggi Infeksi berhubungan dengan Kerusakan Perlindungan
Kulit
4. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan Krisis Situasi, Kecacatan
5. Gangguan konsep diri atau harga diri rendah berhubungan dengan
pembentukan ulserasi atau tumor
6. Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan penyakit
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya metastasis























3.4. Intervensi Keperawatan
No.
DX
Diagnosa
Keperawatan
Intervensi Rasional
1 Kerusakan integritas
kulit b.d kerusakan
permukaan kulit
karena destruksi
lapisan kulit
1.Kaji kondisi kulit
2.Berikan perawatan kulit dan control infeksi
3.Ganti perban jika pasca operasi
1. Memberikan data dasar
2. Menyiapkan jaringan
untuk penanaman dan
menurunkan resiko infeksi
3. Mencegah terjadinya
infeksi
2 Nyeri b.d
Kerusakan Jaringan
Kulit
1.Kaji tingkat nyeri
2. Berikan teknik nafas dalam
3. Berikan analgetik sesuai prosedur

1. Menentukan derajat nyeri
2. Mengalihkan perhatian
agar dapat menghilangkan
nyeri
3.Mengurangi nyeri


3 Resiko Tinggi
Infeksi b.d
Kerusakan
Perlindungan Kulit



1.Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang
baik setelah kontak dengan pasien
2.Awasi tanda-tanda vital
3.Jauhkan pasien dari hal-hal yang dapat
menyebabkan infeksi

1.Mencegah kontaminasi
silang
2.Melihat keadaan umum
pasien
3.Menurunkan resiko
infeksi

4 Gangguan Citra
Tubuh b.d Krisis
Situasi, Kecacatan
1. Berikan harapan dalam parameter situasi
individu dan jangan memberikan keyakinan yang
salah
2. Beri penguatan positif terhadap kemajuan
3.Bersikap realistis dan positif selama
pengobatan
1.Meningkatkan perilaku
positif dan memberikan
kesempatan untuk
menyusun tujuan dan
rencana untuk masa depan
berdasarkan realitas
2. Kata-kata penguatan
dapat mendukung terjadinya
perilaku koping positif
3. Meningkatkan
kepercayaan dan
mengadakan hubungan
antara pasien dan perawat
5 Gangguan konsep
diri atau harga diri
rendah
berhubungan
dengan
pembentukan
ulserasi atau tumor.
Berikan dukungan emosi untuk pasien/orang
terdekat selama tes diasnostik dan fase
pengobatan.
pada masa ini pasien
membutuhkan dukungan
atas efek dari penyakitnya
Kurang
pengetahuan
tentang pengobatan
dan penyakit
Tinjau ulang dengan pasien/orang terdekat
pemahaman diagnose khusus alternaif
pengobatan dan sifat harapan.
Memvaliadasi tinkat
pemahaman saat
ini,mengidentifikasikan
kebutuhan belajar dan
memberikan dasar
pengetahuan dimana pasien
membuat keputusan
berdasarkan informasi
7 Intoleransi aktivitas
berhubungan
dengan adanya
metastasis
Bantu atau dorong pola perawatan
diri/kebersihan(mandi,mencukur).
Meningkatkan kekuatan
otak dan sirkulasi












3.5 Implementasi
Pelaksanaan asuhan keperawatan ini merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan
yang diberikan kepada klien.
3.5 Evaluasi
1. Memperlihatkan integritas kulit yang baik sesuai dengan perawatan.
2. Mengalami pengurangan rasa sakit dan gangguan rasa nyaman.kemerahan atau
pembengkakan.
a. Menyatakan bahwa rasa sakit atau nyeri sudah berkurang dan menghilang.
b. Memperlihatkan kesembuhan parut bekas pembedahan tanpa bekas.
3. Mencapai pengurangan kecemasan dan mampu menerima dirinya dengan penyakit yang
sedang diderita.
a. Mengekspresikan ketakutan dan khayalan.
b. Mengajukan pertanyaan mengenai kondisi medis.
c. Memohon pengulangan fakta-fakta tentang melanoma
d. Mengenali dukungan dan kenyamanan yang diberikan oleh anggota keluarga atau
orang lain yang signifikan.
4. Memperlihatkan pengertian terhadap cara-cara untuk mendeteksi melanoma.
a. Memperlihatkan cara pelaksanaan pemeriksaan kulit yang mandiri sebulan setelahnya.
b. Menggunakan pengulangan kata-kata tanda bahaya melanoma berikut ini: perubahan
pada ukuran, warna, bentuk atau garis bentuk nevus, permukaan nevus atau kulit di
sekitar nevus.
c. Mengidentifikasi tindakan untuk melindungi diri dari pajanan sinar matahari.
5. Mampu melakukan aktivitas ringan untuk melatih tonus otot.










BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa Melanoma maligna
adalah lesi berpigmen atau tidak yang tumbuh dengan cepat yang berasal dari jenis sel nevus
jenis dermoepidermal.
4.2 Saran

Dalam penatalaksanaannya, melanoma maligna harus benar-benar memperhatikan resiko infeksi
terutama pada saat melakukan pembedahan. Menghindari sinar ultraviolet untuk beberapa saat
sangat di anjurkan.



















DAFTAR PUSTAKA



Elisabet Cormin. 2000. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Price A Sylvina, Wilson M Lorraine. 2005. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Muttaqin arif, Kumala Sari. 2011.Asuhan keperawatan gangguan sistem integumen.
W Tan, Winston. 2011. http://emedicine.medscape.com/article/280245-overview. medscape.
(diakses tanggal 16-1-2012)