Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

OTONOMI DAERAH, SISHANKAMRATA, DAN STRATEGI
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI



Disusun Oleh :
M. Galdio N. A. 230110130179
Kartika Irta Dewi 230110130194
Gilang Trianzah 230110130209
Deni Sihabudin 230110130222
Syarifudin Nur 230210130074
Mala Septiani 230210130082
Dannisa Ixora 230210130093

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran
Jatinangor 2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME karena berkat rahmat-
Nya lah makalah ini bisa selesai tepat pada waktunya. Makalah yang bertajuk
Otonomi Daerah, Sishankamrata, dan Strategi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan yang dibebankan kepada kami.
Makalah ini bersumber dari pencarian dari buku referensi, penjelajahan di
internet, dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan
tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Semoga pengalaman ilmu dalam bentuk penyusunan makalah ini dapat
memberikan banyak manfaat. Kritik dan saran dari pembaca yang budiman akan
diterima dengan lapang dada demi perbaikan kualitas penulis ke depan.

Bandung, Februari 2014

Penulis










i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.i

DAFTAR ISIii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan1
1.2 Tujuan Penulisan.....2
1.3 Manfaat Penulisan...2

BAB II MATERI
2.1 Otonomi Daerah..3
2.1.1 Pengertian Otonomi Daerah.3
2.1.2 Tingkat Desentralisasi..4
2.1.3 Manfaat Desentralisasi.6
2.1.4 Instrumen Desentralisasi..7
2.2 Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata)...8
2.3 Strategi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.9

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...12
3.2 Saran..13

DAFTAR PUSTAKA....14




ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan
Indonesia merupakan Negara kesatuan yang sangat luas. Perhatian dari
Pemerintah pusat harus merata ke seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai
Merauke. Oleh sebab itu, Otonomi Daerah harus diterapkan oleh Indonesia. Perlu
adanya kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Secara garis besar penyelenggaraan Negara dubagi menjadi dua, yaitu sistem
sentralisasi dan sistem desentralisasi. Sistem sentralisasi yaitu jika urusan yang
berkaitan dengan aspek kehidupan dikelola di tingkat pusat. Pada hakikatnya,
sifat sentralistik itu merupakan konsekuensi dari sifat Negara kesatuan.
Sistem desentralisasi dianggap sebagai sistem penyelenggaraan Negara yang
terbaik. Hanya saja implementasinya di beberapa Negara masih mendapat
ganjalan struktural sehingga penyelenggaraan sistem ini masih setengah hati.
Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) adalah sistem
pertahanan yang melibatkan segenap potensi yang dimiliki Negara dimana rakyat
berperan sebagai kekuatan dasar dan TNI sebagai kekuatan inti. Pada dasarnya
setiap Negara harus memiliki sistem pertahanannya masing-masing dari berbagai
ancaman. Doktrin Sishankamrata ini diangkat dari sejarah perjuangan
kemerdekaan Indonesia.
Korupsi merupakan tindak kejahatan yang marak di Indonesia. Bagaimana
pun juga korupsi harus diberantas. Indonesia dianggap sebagai salah satu Negara
terkorup di dunia. Hal itu membuat citra Indonesia semakin buruk di dunia. Perlu
diketahui bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia sudah dilakukan secara
bertahap sejak tahun 1998. Pemberantasan korupsi bukan hanya mengenai
seberapa berat hukuman yang diterima pelaku korupsi, kinerja KPK dan
Kejaksaan Agung dalam membangun sistem birokrasi juga termasuk di dalamnya.
Pemberantasan korupsi bukanlah hal sepele, hal ini harus direncanakan dengan
baik agar tujuang yang diinginkan dapat tercapai.
1
1.2 Tujuan Penulisan
Tulisan ini memaparkan banyak hal mengenai Otonomi Daerah,
Sishankamrata, dan Strategi Pemberantasan Tindak Korupsi. Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sistem penyelenggaraan apa yang
terbaik bagi Indonesia, manfaat sistem desentralisasi, instrumen desentralisasi,
sistem pertahanan seperti apa yang baik bagi Indonesia, dan cara pemberantasan
korupsi seperti apa yang akan memiliki hasil maksimal.

1.3 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah melatih mahasiswa untuk menulis
karya ilmiah sehingga ketika mahasiswa dibebani tugas akhir mahasiswa sudah
terbiasa.
Makalah ini juga dapat menambah wawasan bagi pembaca karena
mengandung informasi-informasi yang edukatif. Makalah ini dapat dijadikan
bahan bacaan dan disimpan di perpustakaan fakultas.














2
BAB II
MATERI
2.1 Otonomi Daerah
Penyelenggaraan negara secara garis besar diselenggarakan dengan dua
sistem, yakni sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi. Sistem sentralisasi
yaitu segala urusan aspek kehidupan dikelola oleh pemerintah pusat. Pada
hakikatnya sifat sentralistik merupakan konsekuensi dari sifat negara kesatuan.
Perdebatan penyelenggaraan negara sentralistik yang dipertentangkan dengan
desentralisasi sudah lama diperbincangkan, namun sampai sekarang isu-isu
tentang penyelenggaraan negara yang diinginkan terus berkembang sebagaimana
dikemukakan oleh Graham (1980: 219), The old over decentralized versus
centralized development strategies may will be dead, but the issues are still very
much alive.
Dalam perkembangan selanjutnya, tampaknya desentralisasi merupakan
pilihan yang dianggap terbaik untuk menyelenggarakan pemerintahan, meskipun
impelementasinya di beberapa Negara masih banyak mendapat ganjalan strukural
sehingga penyelenggaraannya masih setengah hati (Abdul Wahab : 1994).

2.1.1 Pengertian Otonomi Daerah
Desentralisasi dan otonomi didefinisikan dalam berbagai pengertian.
Rondinelli (1981) mendefinisikan desentralisasi sebagai berikut, as a the
transfer or delegation of legal and political authority to plan, make decision and
manage public functions from central government and its agencies to field
organization of those agencies, subordinate unit of government, semiautonomous
public corporations, area wide or regional development authorities, functional
authorities, autonomous local government, or non-government organization
(suatu transfer atau delegasi kewenangan legal dan politik untuk merencanakan,
membuat keputusan, dan mengelola fungsi-fungsi publik dari pemerintah pusat
dan agen-agennya kepada petugas lapangan, korporasi-korporasi publik
3
semi-otonom; kewenangan pembangunan wilayah atau regional; pemerintah
lokal yang otonom; atau organisasi non pemerintah).
PBB pada tahun 1962 memberikan pengertian desentralisasi sebagai
berikut : Pertama, dekonsentrasi yang juga disebut dekonsentrasi birokrasi dan
administrasi. Kedua, devolusi yang sering disebut desentralisasi demokrasi dan
politik (Zauhar : 1994).

2.1.2 Tingkat Desentralisasi
Wahab (1994) menjelaskan tingkat desentralisasi sebagai berikut :
a) Dekonsentralisasi, pada hakikatnya bentuk desentralisasi yang kurang
ekstensif, hanya sekadar pergeseran beban kerja dari kantor-kantor pusat
departemen ke pejabat staf tanpa wewenang untuk memutuskan bagaimana
fungsi-fungsi yang dibebankan kepadanya harus dilaksanakan. Artinya, para
pejabat staf tidak diberi hak dan kewenangan dalam perencanaan ataupun
pembiayaan, serta hanya berkewajiban dan bertanggung jawab kepada
pejabat di tingkat atasnya.
b) Delegasi, bentuk lain dari desentralisasi adalah delegasi pembuatan
keputusan dan kewenangan manajemen untuk melaksanakan fungsi-fungsi
publik tertentu dan hanya dikontrol oleh departemen-departemen pusat.
c) Devolusi, merupakan desentralisasi politik (political decentralization) yang
memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. diberikan otonomi penuh dan kebebasan tertentu pada pemerintah daerah
serta kontrol yang relatif kecil;
2. pemerintah daerah harus memiliki wilayah dan kewenangan hukum yang
jelas dan berhak untuk menjalankan kewenangan dalam menjalankan
fungsi-fungsi publik dan politik atau pemerintahan;
3. pemerintah daerah harus diberi corporate status dan kekuasaan yang
cukup untuk menggali sumber-sumber yang diperlukan untuk
menjalankan semua fungsinya;
4
4. perlu mengembangkan pemerintah daerah sebagai institusi, dalam arti
bahwa pemerintah daerah akan dipersiapkan oleh masyarakat di daerah
sebagai organisasi yang menyediakan pelayanan yang memuaskan
kebutuhan mereka, serta sebagai satuan pemerintahan sehingga mereka
berhak untuk mempengaruhi keputusannya;
5. adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan serta
koordinasi yang efektif antara pusat dan daerah.

Menurut Golberg (1996) menyatakan bahwa devolusi akan dapat
dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1. Hak, yakni memperhatikan hak sipil dan kebebasan sipil;
2. Pendanaan
3. Fleksibilitas;
4. Variasi;
5. Pemberdayaan.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpukam prinsip dari
desentralisasi adalah adanya pelimpahan atau penyerahan wewenang dari
pemerintah pusat pada satuan-satuan pemerintah di bawahnya untuk mengurus
urusan rumah tangganya sendiri.
Wewenang untuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri inilah yang
disebut dengan hak otonomi. Soepomo (Abdullah: 2000) menyatakan otonomi
sebagai prinsip penghormatan terhadap kehidupan regional sesuai dengan
riwayat, adat istiadat, dan sifat-sifatnya dalam kadar negara kesatuan RI. Price
dan Mueller (2000) memandang otonomi sebagai seberapa banyak dan luas
otoritas pengambilan keputusan yang dimiliki suatu pemerintahan. Gie (Utomo:
2000) melihat dari empat sudut. Pertama, sudut politik, yakni sebagai permainan
kekuasaan yang dapat mengarah pada penumpukan kekuasaan yang seharusnya
pada penumpukan kekuasaan yang seharusnya pada penyebaran kekuasaan
5
(distribution or dispersion of power), tetapi juga sebagai tindakan
pendemokrasian untuk melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokrasi.
Kedua, sudut teknik organisatoris sebagai cara untuk menerapkan dan
melaksanakan pemerintahan yang efisien. Ketiga, sudut cultural adalah perhatian
terhadap keberadaan atau kekhususan daerah. Keempat, sudut pembangunan,
otonomi secara langsung memperhatikan, memperlancar, serta meratakan
pembangunan.

2.1.3 Manfaat Desentralisasi
Rondinelli (1981) menjelaskan bahwa beberapa manfaat dari
desentralisasi antara lain sebagai berikut:
a) Desentralisasi merupakan sarana untuk memangkas sejumlah red tape dan
prosedur yang terlalu kaku yang biasanya merupakan ciri perencanaan dan
manajerial di negara berkembang. Hal ini terjadi sebagai akibat dari terlalu
menumpuknya kekuasaan, kewenangan, dan sumber daya pada pemerintah
pusat.
Dengan mendesentralisasikan fungsi-fungsi dan menugaskan kembali
pejabat-pejabat pemerintah pusat ke daerah, maka pengetahuan dan kepekaan
mereka terhadap kebutuhan local akan semakin meningkat. Kontak yang
dekat antara pejabat pemerintah dengan masyarakatnya akan memungkinkan
keduanya memperoleh informasi yang lebih baik. Dengan demikian, dapat
dimanfaatkan untuk merumuskan perencanaan bagi proyek dan program yang
lebih realistis.
b) Desentralisasi akan memungkinkan penetrasi politik dan administrasi atas
kebijakan pemerintah nasional/pusat hingga ke daerah-daerah terpencil,
ketika pada kondisi rencana pemerintah pusat sering tidak diketahui dan
diabaikan oleh orang-orang desa atau digerogoti oleh elite-elite local, serta
dukungan terhadap rencana pembangunan nasional sering amat buruk.
c) Desentralisasi memungkinkan terwakilinya berbagai kelompok politik,
6
keagamaan, serta kesukuan/etnis dalam proses pembuatan keputusan
pembangunan. Dengan demikian, memberikan peluang terciptanya keadilan
dari alokasi sumber daya dan investasi pemerintah.

2.1.4 Instrumen Desentralisasi
Desentralisasi tidak hanya sekadar desentralisasi administrasi, untuk itu
perlu instrument-instrumen berikut :
a) Harus ada ruang selain institusi negara yang memungkinkan publik
mengakses informasi dan bebas membicarakan isu-isu yang menyangkut
kepentingan bersama yang dikenal dengan wacana publik. Dengan demikian,
masyarakat mempunyai kemampuan mengakses kegiatan-kegiatan publik,
mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka di dalamnya, termasuk
menyampaikan pendapat secara lisan atau tertulis.
b) Harus memungkinkan lahirnya institusi nonpemerintah yang merdeka atau
civil society. Civil society yang dipahami, sebagai upaya mengurangi
dominasi negara terhadap masyarakat. Pengurangan dominasi dimaksudkan
untuk menyetarakan hubungan masyarakat dengan negara sehingga negara
tidak superior dan masyarakat inferior.
c) Munculnya Non-Government Organizations dan Grass Root Organizations
(NGOs dan GROs). Sebagaimana dikemukanan oleh Uphoff (1996), bahwa
dalam proses pemerintahan akan sangat efektif jika melibatkan sektor-sektor:
Pertama, pemerintah, kedua, swasta, dan sektor ketiga NGOs/RGOs. Sektor
I, merupakan mekanisme birokrasi yang menjalankan keputusan elit politik
yang lebih atas. Peran pemerintah sebagaimana dikemukakan oleh Osborne
bukan steering, melainkan rowing. Sektor II, menjalankan mekanisme pasar
yang menyangkut investasi dan harga. Sektor III, tanggung jawab terletak
pada para sukarelawan untuk terlibat dalam tawar menawar, diskusi serta
koordinasi untuk membujuk keputusan yang diambil demi kepentinga
masyarakat.
7
2.2 Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata)
Berlandaskan Pasal 30 UUD 1945 Ayat (2) kita menganut Sistem Pertahanan
Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), yaitu sistem pertahanan yang
melibatkan segenap potensi yang dimiliki negara (total defense), dimana rakyat
berperan sebagai kekuatan inti. Idealnya, suatu Negara memiliki sistem pertahanan
dimana kekuatan nyata lebih unggul daripada kekuatan yang mengancam. Jika
kekuatan ideal tersebut belum dapat dicapai, lazimnya dibangun aliansi dalam
rangka memelihara balance of power. Namun demikian, bila hal itu pun tidak
dapat dilakukan maka tidak ada pilihan lain selain total defense.
Sesungguhnya doktrin Sishankamrata ini diangkat dari sejarah perjuangan
kemerdekaan yang berbasiskan sistem gerilya yang melibatkan seluruh rakyat
Indonesia. Walaupun Indonesia tidak mempraktekkan wajib militer seperti di
Korsel atau Amerika pada saat perang Vietnam, sistem Hankamrata ini pada
hakikatnya memberikan hak kepada negara untuk merekrut dan memobilisir
seluruh rakyat Indonesia ke dalam sistem pertahanan dan keamanan. Setiap warga
negara Indonesia wajib hukumnya untuk menaati panggilan negara dalam usaha
bela negara.
Sishankamrata pada hakikatnya merupakan sistem yang dilandasi oleh
semangat mengerahkan segenap potensi dan sumber daya nasional ketika bangsa
ini terancam kelangsungan hidupnya. Gejala semacam ini tentu bersifat umum,
berlaku bagi bangsa mana pun, dan tidak bersifat unik Indonesia. Ketika dilahirkan
pada tahun 1945 di tengah perjuangan bangsa ini merebut kemerdekaan, ada tiga
kondisi yang berlaku dan berpengaruh dominan terhadap lahirnya konsepsi dan
istilah sishankamrata.
Pertama, seluruh bangsa solid menghadapi satu musuh dari luar, yaitu kaum
penjajah. Kedua, pertahanan masih bercampur dengan, dan tidak dapat dipisahkan
dari keamanan. Ketiga, satu-satunya modal yang dimiliki bangsa ini adalah rakyat
karena belum dapat mendayagunakan infrastruktur atau potensi lainnya. Denga
demikian, praktik penyelenggaraan kesemestaan baru terbatas pada rakyat.
8
Tantangan bagi bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana kita menangkap
makna hakiki sishankamrata dalam wujud Indonesia yang telah mampu
mengembangkan potensinya melalui pembangunan dan bercirikan modern dan
demokratis. Modern dan demokratis akan tercerminkan dalam masyarakat kita
yang menghendaki adanya kepastian ketika mereka sebagai warga Negara
melaksanakan hak dan kewajibannya dalam pembelaan negara.
Keikutsertaan warga negara dalam pembelaan negara diwadahi dalam
penyusunan sistem cadangan, sistem mobilisasi, dan demobilisasi serta diatur
melalui perauran perundang-undangan. Warga negara mempunyai kepastian
hukum tentang statusnya ketika ia secara aktif melakukan hak dan kewajiban
pembelaan negara pada saat memasuki masa dinas aktif keprajuritan TNI, apakah
melalui cara sukarela, wajib, atau mobilisasi, sampai ia mengakhiri masa dinas
aktif tersebut melalui cara pengakhiran memasuki usia pension, mengakhiri masa
wajib militer atau demobilisasi. Sishankamrata juga tidak terbatas pada aspek
kekuatan manusia melalui rakyat saja, tetapi segenap potensi yang dimiliki bangsa
ini untuk dikerahkan mendukung upaya pertahanan ketika bangsa ini terancam
kelangsungan hidupnya.
Bagi Indonesia, membangun kekuatan ideal masih jauh dari mungkin karena
kendala anggaran; sementara beraliansi membangun pakta pertahanan pun tidak
mungkin mengingat filosofi politik luar negeri kita yang bebas-aktif. Langkah
realistis adalah menjadikan Perang Rakyat sebagai konsep pilihan. Pola pikir
inilah yang melatarbelakangi adanya sishankamrata. Sistem pertahanan semacm
ini telah dianut banyak negara dengan berbagai model dan metode
implementasinya terutama di negara berkembang, negara yang (merasa) inferior
atau negara yang menghadapi ancaman nyata dari kekuatan yang lebih besar.

2.3 Strategi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Pemberantasan korupsi sejak era Reformasi telah melalui beberapa tahapan.
Tahapan pertama pada 1998-2002, melaksanakan kebijakan hukum dalam
9
pemberantasan korupsi untuk memenuhi janji reformasi, terutama terhadap
mantan presiden Soeharto dan kroni-kroninya dan dilanjutkan dengan
pembangunan bidang hukum yang meliputi empat bidang yaitu hukum di bidang
ekonomi, keuangan, dan perbankan; hukum di bidang politik; hukum di bidang
sosial; serta hukum di bidang hak asasi manusia.
Pembentukan hukum dan perubahan-perubahan yang kemudia telah dilakukan
tampaknya belum dapat dilihat keberhasilannya dalam kurun waktu empat tahun
tahap kedua (2004-2008), sekalipun dalam penegakan hukum dan regulasi dalam
bidang hukum ekonomi, keuangan, dan perbankan telah menunjukkan hasil yang
signifikan untuk memacu peningkatan kepastian hukum serta perlindungan hukum
bagi para pelaku usaha.
Masalah kontroversial dalam pembangunan bidang hukum ekonomi,
keuangan, dan perbankan masih akan terus berlanjt sehubungan dengan belum
adanya kejelasan politik hukum yang akan dijalankan pemerintah sejak era
reformasi sampai saat ini. Ketidakjelasan tersebut disebabkan oleh semakin
lemahnya landasan falsafah Pancasila yang digunakan untuk berpijak dalam
menghadapi perkembangan cepat arus liberalisme dan kapitalisme internasional.
Gerak langkah pemberantasan korupsi yang mengedepankan
mempermalukan di muka publik dengan aib yang melekat pada seseorang
terbukti telah kontraproduktif dan antipati terhadap gerakan pemberantasan itu
sendiri.
KPK bukan ICAC Hong Kong atau Korea Selatan atau BPR Malaysia; begitu
pula institusi Kejaksaan Agung. Semakin jelas kiranya bahwa inti persoalan
pemberantasan korupsi di Indonesia bukan semata-mata masalah penegakan
hukum yang konsisten dan berkesinambungan demi kepastian hukum dan
keadilan, melainkan erat kaitannya dengan masalag perubahan kultur dan sikap
masyarakat yang sangat permisif dalam hal memberikan dan menerima hadiah
yang kemudian dikenal sebagai gratifikasi.
Masalah pokok kinerja KPK dan Kejaksaan Agung terletak pada penguatan
10
transparansi serta akuntabilitas kinerja kepada public agar tidak menimbulkan
mispersepsi adanya diskriminatif atau tebang pilih. Untuk mengatasi masalah
tersebut, diperlukan penguatan mekanisme internal di KPK dan Kejaksaan Agung
dalam masalah tersebut. Pencegahan dan penindakan serta pengembalian asset
korupsi merupakan tiga pilar utama yang berkaitan erat dan harus dilaksanakan
KPK secara konsisten.
Penindakan dan penghukuman pelaku korupsi tidak akan berhasil signifikan
untuk membangun pemerintah yang sehat dan berwibawa serta bebas KKN jika
pencegahan melalui reformasi birokrasi tidak dilaksanakan secara optimal.
Merujuk pada tiga strategi tersebut, masalah pemberantasan korupsi di masa
mendatang bukan terletak pada faktor penghukuman semata-mata, melainkan
seberapa jauh kinerja KPK dan Kejaksaan Agung dapat membangun sistem
birokrasi yang aman dan terlindungi dari perilaku koruptif serta seberapa banyak
kontribusinya terhadap kesejahteraan rakyat.















11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem desentralisasi dianggap sebagai sistem penyelenggaraan negara
terbaik, meskipun implementasinya di beberapa negara masih banyak mendapat
ganjalan structural sehingga penyelenggaraannya masih setengah hati. Prinsip
dari desentralisasi adalah adanya pelimpahan atau penyerahan wewenang dari
pemerintah pusat pada satuan-satuan di bawahnya untuk mengurus urusan rumah
tangganya sendiri.
Sistem desentralisasi memiliki beberapa manfaat antara lain mendekatkan
pejabat pemerintah dan masyarakat, memungkinkan penetrasi politik hingga ke
daerah-daerah terpencil, dan memungkinkan terwakilinya berbagai kelompok
politik. Instrumen desentralisasi tidak hanya sekadar desentralisasi administrasi.
Instrumen tersebut antara lain harus ada ruang selain institusi negara, harus
memungkinkan lahirnya institusi nonpemerintah, dan munculnya NGOs dan
GROs.
Sishankamrata adalah sistem pertahanan yang melibatkan segenap potensi
yang dimiliki negara. Doktrin Sishankamrata ini diangkat dari sejarah perjuangan
kemerdekaan yang berbasis sistem gerilya. Sistem pertahanan semacam ini telah
dianut banyak negara.
Pemberantasan korupsi sejak era Reformasi telah melalui beberapa tahapan.
Pemberantasan korupsi di masa mendatang bukan terletak pada faktor
penghukuman semata-mata, melainkan seberapa jauh kinerja KPK dan
Kejaksaan Agung dalam membangun sistem birokrasi yang aman dan terlindungi
dari perilaku koruptif. Strategi pemberantasan jorupsi harus harus diperlakukan
secara seimbang, diremcanakan dengan baik, dan berkesinambungan.


12
3.2 Saran
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia memang belum maksimal.
Sebaiknya pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperbaiki komunikasi
dengan baik agar seluruh aspirasi masyarakat dapat sampai ke pemerintah pusat.
Peran rakyat dalam pembelaan negara sangat besar, seharusnya seluruh rakyat
yang memenuhi syarat dalam bela negara turut berpartisipasi dalam
mempertahankan Indonesia. Saat ini masih banyak orang yang acuh tak acuh
terhadap masalah seperti ini. Rakyat berperan sebagai pertahanan dasar dan TNI
sebagai kekuatan inti.
Pemberantasan korupsi bukanlah hal yang mudah. Korupsi seolah-olah sudah
menjadi budaya bangsa. Kita tidak sepenuhnya harus menyalahkan KPK,
mulailah dari diri sendiri sedini mungkin untuk menghindari segala tindakan
korupsi.
















13
DAFTAR PUSTAKA

Ditjen Dikti. 2001. Kapita Selekta Pendidikan Kewarganegaraan (untuk
Mahasiswa) bag I dan II. Jakarta: Ditjen Dikti Depnas.
Ditjen Dikti. 2002. Modul Acuan Proses Pembelajaran MPK Pendidikan
Kewarganegaraan. Jakarta: Ditjen Dikti.
Sunardi, R. M. 2004. Pembinaan Ketahanan Bangsa, dalam rangka
memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta: PT
Kuadernita Adidarma.
Suradinata, Ermaya dan Alex Dinuth (Pnyt). 2001. Geopolitik dan Konsepsi
Ketahanan Nasional. Jakarta: Paradigma Cipta Tatrigama.


















14