Anda di halaman 1dari 16

1

PERAN PENTING DAN TANGGUNG JAWAB PEMERIKSA LKPD BPK-RI PADA


PENGELOLAAN DAN KEWAJARAN ASET TETAP PEMERINTAH DAERAH

HAN HAN EDYAMSYAH
BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Barat

Abstrak
Permasalahan aset menjadi permasalahan umum yang terus menjadi isu dalam setiap
pemberian opini oleh BPK atas Pemeriksaan LKPD hingga saat ini tanpa perubahan yang
cukup berarti. Tidak wajarnya aset tetap selain menjadi masalah atas akuntabilitas
pengelolaan aset bagi Pemda juga akan menjadi beban bagi Pemeriksa BPK karena cakupan
pemeriksaan yang terus meluas setiap tahunnya. Disini diharapkan peran Pemeriksa LKPD
untuk dapat melakukan pengujian yang memadai dan menghasilkan rekomendasi BPK yang
tepat agar masalah aset tetap dapat terselesaikan.

A. Latar Belakang
Masalah aset menjadi isu yang sangat penting setelah BPK pada tahun 2008
memberikan opini disclaimer atas laporan keuangan TA 2007 pada berbagai departemen dan
pemerintah daerah bahkan departemen keuangan yang merupakan departemen terbesar
memperoleh opini disclaimer, begitu pula pemprov DKI Jakarta yang merupakan
pemerintahan di ibu kota juga memperoleh opini disclaimer.
Berdasarkan hasil IHPS Semester I tahun 2012 atas laporan keuangan TA 2011,
permasalahan aset tetap masih mendominasi sebagai permasalahan yang paling banyak
muncul pada Pemerintah Daerah. Hal ini tentu tidak bagus mengingat akuntabilitas dan
transparansi pengelolaan keuangan dan aset negara menjadi hal yang penting dalam era tata
kelola pemerintahan yang baik atau Good Government Governance.
Opini atas laporan keuangan yang didapatkan oleh Pemerintah Daerah hingga saat ini
tidak banyak mengalami perubahan. Hal ini terlihat dari data opiniPemda dari tahun anggaran
tahun 2006 sampai dengan 2011 pada tabel 1.1 berikut :

2

Tabel 1.1
Opini LKPD Tahun 2006 s.d. 2011
No
Pemerintah
Tahun
Anggaran
Opini
Jumlah %
WTP % WDP % TMP % TW %
1. Provinsi
a. 2006 0 0 25 76 4 12 4 12 33 100
b. 2007 1 3 21 64 8 24 3 9 33 100
c. 2008 0 0 24 73 8 24 1 3 33 100
d. 2009 1 3 24 73 5 15 3 9 33 100
e. 2010 6 18 22 67 5 15 0 0 33 100
f. 2011*) 10 36 16 57 2 7 0 0 28 100
2. Kabupaten
a. 2006 2 1 236 68 85 25 21 6 344 100
b. 2007 1 1 201 57 103 29 45 13 350 100
c. 2008 6 2 235 65 96 26 26 7 363 100
d. 2009 7 2 240 63 95 25 37 10 379 100
e. 2010 16 4 252 64 103 26 23 6 394 100
f. 2011*) 36 12 240 76 33 11 4 1 313 100
3. Kota
a. 2006 1 1 66 77 16 16 3 3 86 100
b. 2007 2 2 61 71 12 12 11 13 86 100
c. 2008 7 8 64 72 14 14 4 4 89 100
d. 2009 7 7 66 72 11 11 8 9 92 100
e. 2010 12 13 67 72 11 11 3 3 93 100
f. 2011*) 21 25 60 71 3 3 1 1 85 100
*) pemeriksaan sampai dengan semester I tahun 2012
Sumber : IHPS Semester 1 Tahun 2012 diolah oleh penulis
Berlarut-larutnya masalah aset tentu menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat,
begitu burukkah aset pemerintah yang notabene berasal dari pajak yang mereka bayar
dikelola oleh Pemda? Dimana peran BPK sebagai pemeriksa dalam menyelesaikan masalah
aset?
Bagaimana bagi pemeriksa? Terus dikecualikannya aset tetap akan berdampak pada
semakin luasnya cakupan pemeriksaan dari tahun ke tahun. Pemeriksa yang seharusnya dapat
melakukan pengujian hanya pada mutasi aset tetap tahun berjalan terus terbebani dengan
saldo awal aset tetap yang terus bertambah setiap tahunnya, padahal aset tetap umumnya
adalah bagian terbesar dari neraca.
3

Pemaparan di atas cukup menjelaskan permasalahan aset tetap adalah masalah
bersama yang harus mendapatkan perhatian khusus untuk segera diselesaikan agar tidak
membebani baik Pemda maupun BPK pada tahun-tahun selanjutnya.

B. Pemeriksaan atas Laporan Keuangan oleh BPK
Audit pada dasarnya adalah jasa atestasi dimana lembaga independen yang mengaudit
mengeluarkan laporan tentang realibilitas asersi yang disiapkan oleh pihak yang diaudit.
Auditor memberikan pendapat mengenai kewajaran isi laporan pihak yang diaudit sehingga
menjadikan peningkatan kualitas informasi yang dapat diandalkan bagi para pengambil
keputusan. (Randal J.Elder et al, 2011)
Pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah dalam Peraturan Badan Pemeriksa
Keuangan Nomor 1 tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
didefinisikan sebagai pemeriksaan atas laporan keuangan. Pemeriksaan keuangan tersebut
bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah
laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Pernyataan Standar Auditing 02 (Standar Auditing Seksi 110) menyatakan bahwa
tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk
menyatakan pendapat tentang kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas, sesuai dengan prinsip yang berlaku umum di
Indonesia. Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk
memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji yang
material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan.
Prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan
keuangan pemerintah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan.
1. Asersi Manajemen
Pernyataan Standar Akuntansi 07 (Standar Auditing 326) menyatakan bahwa asersi
adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam komponen laporan keuangan.
Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau eksplisit serta dapat diklasifikasikan
berdasarkan penggolongan besar sebagai berikut ini :
4

a. Keberadaan atau keterjadian;
b. Kelengkapan;
c. Hak dan Kewajiban;
d. Penilaian atau alokasi;
e. Penyajian dan pengungkapan.
Randal J. Elder, et al (2011) mengelompokkan asersi ke dalam tiga kategori sebagai
berikut:
a. Asersi mengenai kelompok-kelompok transaksi dan kejadian-kejadian selama periode
yang diaudit, terdiri dari :
1) Keterjadian : transaksi yang telah tercatat dan telah dilaporkan dalam laporan
keuangan benar-benar telah terjadi selama periode pembukuan;
2) Kelengkapan : semua transaksi yang seharusnya dimasukkan dalam laporan
keuangan sudah dicatat dengan lengkap;
3) Akurasi : transaksi telah dicatat dalam jumlah yang benar;
4) Klasifikasi : transaksi telah dicatat dengan nama akun yang tepat;
5) Pisah batas : transaksi telah dicatat pada periode pembukuan yang tepat.
b. Asersi mengenai saldo akun, terdiri dari :
1) Keberadaan : Akun yang disajikan dalam neraca benar-benar ada di tanggal neraca;
2) Kelengkapan : Semua akun yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan
benar-benar ada;
3) Penilaian dan Alokasi : Akun telah dimasukkan dalam laporan keuangan dengan
jumlah yang tepat;
4) Hak dan Kewajiban : aset yang dilaporkan merupakan hak entitas tersebut dan
apakah kewajiban merupakan kewajiban dari entitas pada tanggal tertentu.
3. Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan, terdiri dari :
1) Keterjadian dan hak dan kewajiban : kejadian-kejadian yang diungkapkan telah
benar-benar terjadi dan merupakan hak dan kewajiban dari entitas tersebut;
2) Kelengkapan : semua pengungkapan yang diharuskan telah dimasukkan dalam
laporan keuangan;
3) Akurasi dan penilaian : informasi keuangan telah diungkapkan dengan wajar dan
dengan jumlah yang tepat;
5

4) Klasifikasi dan pemahaman : jumlah-jumlah telah diklasifikasikan dengan tepat
dalam laporan keuangan dan catatan-catatan kaki, dan apakah penjelasan saldo dan
pengungkapan terkait dapat dipahami.
2. Kesalahan Saji
Salah saji yang mempengaruhi laporan keuangan secara material dapat berupa
kekeliruan maupun dari kecurangan. Dalam PSAP diatur sebagai berikut :
a. Kekeliruan dalam Pernyataan Standar Audit Nomor 25 (Standar Audit Seksi 312) berarti
salah saji atau penghilangan yang tidak disengaja jumlah atau pengungkapan dalam
laporan keuangan. Kekeliruan mencakup:
1) Kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data yang menjadi sumber
penyusunan laporan keuangan.
2) Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul dari kecerobohan atau salah
tafsir fakta.
3) Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah,
klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan.
b. Kecurangan merupakan konsep hukum yang luas, kepentingan auditor berkaitan secara
khusus ke tindakan kecurangan yang berakibat terhadap salah saji material dalam laporan
keuangan. PSA No. 70 (SA Seksi 316) menjelaskan dua jenis kecurangan yang relevan
dengan pelaporan keuangan, yaitu :
1) Salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan adalah salah saji
atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan
untuk mengelabuhi pemakai laporan keuangan. Kecurangan dalam laporan keuangan
dapat menyangkut tindakan seperti yang disajikan berikut ini:
a) Manipulasi, pemalsuan, atau perubahan catatan akuntansi atau dokumen
pendukungnya yang menjadi sumber data bagi penyajian laporan keuangan
b) Representasi yang salah dalam atau penghilangan dari laporan keuangan peristiwa,
transaksi, atau informasi signifikan
c) Salah penerapan secara sengaja prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah,
klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan.
2) Salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva (seringkali
disebut dengan penyalahgunaan atau penggelapan) berkaitan dengan pencurian aktiva
entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Perlakuan tidak semestinya terhadap
6

aktiva entitas dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk penggelapan tanda
terima barang/uang, pencurian aktiva, atau tindakan yang menyebabkan entitas
membayar harga barang atau jasa yang tidak diterima oleh entitas. Perlakuan tidak
semestinya terhadap aktiva dapat disertai dengan catatan atau dokumen palsu atau
yang menyesatkan dan dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara
manajemen, karyawan, atau pihak ketiga.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dalam pemeriksaan laporan keuangan
pemerintah daerah, BPK melakukan pemeriksaan untuk menilai kewajaran atas asersi
manajemen yang disajikan oleh Pemda dan kesesuaiannya dengan Standar Akuntansi
Pemerintahanserta terbebas dari salah saji material sehingga pengguna laporan keuangan
mendapatkan informasi yang dapat dipercaya dari laporan keuangan tersebut.
Akun aset tetap akan dikatakan wajar bila saldo akun aset tetap disajikan sesuai
standar akuntansi pemerintahan dan memenuhi asersi keberadaan, kelengkapan, penilaian dan
alokasi, hak dan kewajiban, serta memiliki penyajian dan pengungkapan yang cukup terbebas
dari salah saji material.

C. Keterkaitan Manajemen Entitas dan Auditor dalam Kewajaran Laporan Keuangan
SPKN telah mengatur tanggung jawab manajemen entitas yang diperiksa sebagai
berikut :
1. Mengelola keuangan negara secara tertib, ekonomis, efisien, efektif, transparan dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
2. Menyusun dan menyelenggarakan pengendalian intern yang efektif guna menjamin :
a. Pencapaian tujuan sebagaimana mestinya;
b. Keselamatan/keamanan kekayaan yang dikelola;
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan;
d. Perolehan dan pemeliharaan data/informasi yang handal, dan pengungkapan
data/informasi secara wajar.
3. Menyusun dan menyampaikan laporan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara
secara tepat waktu;
4. Menindaklanjuti rekomendasi BPK, serta menciptakan dan memelihara suatu proses
untuk memantau proses untuk memantau status tindak lanjut atas rekomendasi yang
dimaksud.
7

Sementara itu, pernyataan standar pemeriksaan 03 standar pemeriksaan keuangan
memberlakukan standar pelaporan tambahan sebagai berikut :
1. Pernyataan kepatuhan terhadap standar pemeriksaan;
2. Pelaporan tentang kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan;
3. Pelaporan terhadap pengendalian intern;
4. Pelaporan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab;
5. Pelaporan informasi rahasia;
6. Penerbitan dan pendistribusian laporan hasil pemeriksaan.
Tanggung jawab manajemen untuk menyelenggarakan pengendalian intern yang
efektif untuk menjamin kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan perolehan
dan pemeliharaan data/informasi yang handal, dan pengungkapan data/informasi secara
wajar, sejalan dengan kewajiban pemeriksa untuk melaporkan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan dan pengendalian intern yang rekomendasinya harus ditindaklanjuti
oleh manajemen entitas.
Pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 6
tahun 2006 yang telah diubah oleh Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2008, dengan
pedoman pelaksanaannya diatur oleh Permendagri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Barang Milik Daerah.Pengelolaan barang milik daerah meliputi perencanaan
kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran,
penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian,
penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian, pembiayaan,
dan tuntutan ganti rugi.
Pemeriksa LKPD dalam kaitannya dengan akun aset tetap bertanggung jawab untuk
menilai apakah pengendalian intern Pemda telah efektif untuk dapat menyajikan informasi
yang handal dan diungkapkan secara wajar dalam laporan keuangan dan mematuhi peraturan
pengelolaan barang milik daerah dalam pengelolaan aset tetapnya. Laporan sistem
pengendalian intern dan laporan kepatuhan atas peraturan perundang-undangan diharapkan
dapat memberikan rekomendasi yang tepat sehingga setelah ditindaklanjuti oleh Pemda,
pengelolaan aset tetap memadai dan aset tetap dapat disajikan secara wajar dalam LKPD.

D. Asersi Manajemen, Pengelolaan, dan Pengujian Aset Tetap
Aset tetap adalah akun yang bersifat akumulatif, atau bertambah setiap tahunnya,
sehingga tanpa pengendalian yang memadai, mutasi aset tahun berjalan yang telah wajar
8

dapat diragukan kewajarannya dalam beberapa tahun kemudian. Contoh yang mudah terjadi
adalah hilangnya aset, aset yang rusak berat masih tercantum dalam aset tetap, ataupun
pemanfaatan oleh pihak lain yang tidak terungkap. Oleh karena itu pemeriksa harus meyakini
bahwa pengendalian aset tetap telah memadai untuk memenuhi asersi manajemen dalam
laporan keuangan sebelum menyatakan akun aset tetap telah wajar.
Pada bagian ini penulis berusaha untuk merumuskan pengelolaan yang diperlukan
untuk memenuhi setiap asersi manajemen akun aset tetap dan beberapa pengujian yang dapat
dilakukan oleh pemeriksa agar didapatkan rekomendasi yang tepat sasaran dalam
memperbaiki pengelolaan aset Pemerintah Daerah. Pemaparan dilaksanakan per asersi
manajemen sebagai berikut :
1. Asersi mengenai saldo akun;
a. Keberadaan : Saldo aset tetap yang disajikan di neraca benar-benar ada dan milik
Pemerintah Daerah
1) Resiko yang mengganggu asersi keberadaan diantaranya :
a) Aset tetap tidak dapat ditelusuri keberadaannya;
b) Aset tetap yang telah dihapuskan masih tercantum;
c) Aset tetap yang dilaporkan ternyata aset yang diperuntukkan untuk pihak ke-3
dan telah diserahkan;
d) Kehilangan aset tetap tidak terdeteksi;
e) Manajemen entitas tidak dapat mengidentifikasi aset tetap yang dimilikinya;
f) Aset tetap dikuasai pihak lain (pensiunan, pihak ketiga, dll) tanpa hak.
2) Pengendalian yang menjamin asersi keberadaan :
a) Pada belanja modal Pemda hanya menganggarkan aset tetap yang akan
digunakan sendiri untuk operasional maupun untuk pelayanan masyarakat.
b) Pemda melakukan pengamanan fisik yang memadai atas aset tetapnya :
(1) Pemagaran, pemasangan papan tanda kepemilikan, dan penjagaan untuk
barang tidak bergerak;
(2) Penyediaan tempat penyimpanan untuk barang bergerak seperti garasi untuk
kendaraan bermotor, gudang untuk peralatan dan mesin lainnya, dan lemari
untuk barang inventaris;
c) Pemda melakukan pengamanan administratif atas aset tetapnya :
(1) Memiliki sertifikat atas tanah, dan BPKB atas kendaraan bermotor;
9

(2) Melakukan inventarisasi dan memberi label identitas barang pada setiap
barang bergerak;
(3) Memiliki kebijakan pinjam-pakai atau surat keputusan pemakai barang dengan
berjangka waktu tertentu untuk aset tetap yang dipegang pegawai di gudang
seperti rumah dinas, kendaraan bermotor, laptop, kamera, infocus.
(4) Membuat dan memasang Kartu Inventaris Ruangan (KIR) untuk inventaris
yang ada dalam ruangan yang dimutakhirkan secara periodik;
d) Melakukan penatausahaandengan Kartu Inventaris Barang (KIB) yang diisi
dengan benar (dapat mengidentifikasi setiap aset dan mengetahui lokasi aset) dan
dimutakhirkan secara periodik.
3) Pengujian yang dapat dilakukan pemeriksa diantaranya:
a) Melakukan inspeksi atas dokumen dan catatan atas KIB, KIR, kepemilikan
sertifikat dan BPKB;
b) Melakukan pengamatan atas kegiatan pengamanan yang telah dilaksanakan oleh
Pemda, seperti pelabelan barang inventaris, pemasangan KIR, dan ketersediaan
gudang dan garasi;
c) Mereviu kebijakan-kebijakan internal Pemda dan melakukan permintaan
keterangan terkait dengan penganggaran dan pengamanan aset tetap;
d) Melakukan inspeksi fisik atas aset secara sampling, baik dengan metode statistik
maupun non-statistik atas keberadaan aset.
b. Kelengkapan : Seluruh aset tetap telah dicatat dan dilaporkan dalam neraca.
1) Resiko yang mengganggu asersi kelengkapan diantaranya :
a) Aset tetap milik daerah tidak dilaporkan;
b) Aset tetap tidak tercatat karena inventarisasi tidak menyeluruh;
c) Aset tetap yang salah dianggarkan (tidak melalui belanja modal) tidak tercatat;
d) Aset tetap yang berasal dari luar APBD tidak tercatat.
2) Pengendalian yang menjamin asersi kelengkapan :
a) Pemda melakukan inventarisasi secara menyeluruh untuk keperluan neraca awal;
b) Pemda melakukan penganggaran aset tetap yang diperoleh untuk digunakan
seluruhnya di belanja modal;
c) Pemda memiliki dan melaksanakan prosedur akuntansi untuk transaksi non-kas
sebagai dasar pencatatan aset tetap. Contoh : untuk setiap transaksi yang
menghasilkan aset tetap baik dari belanja, maupun hibah dari pihak lain,
diwajibkan pembuatan bukti memorial sebagai dasar pencatatan aset tetap.
10

3) Pengujian yang dapat dilakukan pemeriksa diantaranya :
a) Melakukan inspeksi dokumen penganggaran untuk mengetahui apakah terdapat
aset tetap yang dianggarkan selain dari belanja modal;
b) Melakukan reviu atas sisdur akuntansi, permintaan keterangan dan inspeksi
dokumen pencatatan untuk mengetahui pelaksanaan pencatatan aset tetap;
c) Meminta daftar permasalahan aset dari pengelola/pembantu pengelola barang
milik daerah, lakukan inspeksi untuk meyakinkan bahwa aset tetap yang
bermasalah ataupun tidak sudah dilaporkan secara lengkap;
d) Melakukan inspeksi dokumen atas daftar aset yang diberikan untuk mengetahui
apakah aset telah meliputi aset seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
dan Unit Pealaksana Teknis dibawahnya;
e) Melakukan uji petik atas aset tetap untuk mengetahui apakah aset tersebut sudah
tercatat dan terlaporkan.
c. Penilaian dan Alokasi : aset tetap telah dilaporkan sesuai dengan nilai semestinya dan
perhitungan yang tepat;
1) Resiko yang mengganggu asersi penilaian diantaranya :
a) Terdapat aset-aset yang tidak memiliki nilai atau bernilai 1;
b) Aset tetap yang diperoleh setelah neraca awal dinilai dengan nilai appraisal;
c) Aset yang berasal dari hibah tidak memiliki nilai;
d) Biaya perencanaan, pengawasan, dan pemeliharaan yang melebihi batas
kapitalisasi dan menambah umur tidak dimasukkan dalam nilai aset.
2) Pengendalian yang menjamin asersi penilaian dan alokasi :
a) Pemda melakukan inventarisasi aset tetap dan dilakukan penilaian untuk
menyusun neraca awal;
b) Pemda menganggarkan biaya perencanaan dan pengawasan untuk pengadaan
aset tetap yang diperoleh untuk digunakan pada belanja modal;
c) Pemda mencatat seluruh komponen biaya yang terkait langsung dengan aset
berdasarkan harga perolehan untuk barang yang diperoleh setelah neraca awal
melalui pembelian atau dari sumber lain yang dapat diketahui nilainya;
d) Pemda membentuk tim penilai internal yang bertugas untuk menilai barang yang
diperoleh namun tidak tersedia nilainya, dan hasil penilaian ditetapkan melalui
SK Kepala Daerah;
3) Pengujian yang dapat dilakukan oleh pemeriksa diantaranya :
11

a) Melakukan inspeksi dokumen atas daftar aset tetap untuk mengetahui apakah
terdapat aset tetap yang belum memiliki nilai, dan apakah aset-aset yang
tercantum sudah termasuk dengan biaya-biaya yang melekat kepada aset tersebut
(perencanaan, pengawasan, perbaikan yang berjumlah material dan menambah
umur);
b) Melakukan permintaan keterangan dan inspeksi dokumen untuk mengetahui
kebijakan dan mekanisme penilaian dan pencatatan aset tetap;
c) Melakukan inspeksi dokumen atas hasil penilaian aset baik oleh appraisal
ataupun tim penilai internal untuk memastikan aset yang dikoreksi nilainya
hanya aset tetap yang sebelumnya tidak memiliki nilai, bukan aset yang sudah
ada harga perolehannya;
d) Melakukan inspeksi dokumen atas dokumen penganggaran untuk mengetahui
penganggaran biaya-biaya terkait aset;
e) Melakukan uji petik atas pengeluaran aset tetap baik pengadaan maupun
pemeliharaan untuk mengetahui apakah nilainya pegadaan sudah menjadi dasar
pencatatan, dan apakah biaya pemeliharaan yang material dan menambah umur
sudah masuk dalam nilai aset tetap terkait.
d. Hak dan Kewajiban : Aset tetap yang disajikan di neraca benar-benar hak Pemda
1) Resiko yang mengganggu asersi hak dan kewajiban :
a) Aset yang dicatat milik instansi vertikal atau pihak ke-3;
b) Pemda tidak memiliki bukti kepemilikan aset;
c) Sengketa aset tetap karena dikuasai dan disertifikatkan oleh pihak lain.
2) Pengendalian yang menjamin asersi hak dan kewajiban :
a) Pemda memiliki dan menyimpan bukti kepemilikan atas aset tetap;
b) Pemda melakukan pengamanan yang memadai dan menguasai aset tetap yang
dimilikinya;
c) Terdapat mekanisme pengurusan bukti kepemilikan setiap ada pengadaan tanah
dan kendaraan bermotor.
3) Pengujian yang dapat dilakukan diantaranya :
a) Melakukan inspeksi atas penyimpanan bukti kepemilikan oleh Pemda;
b) Melakukan uji petik atas bukti kepemilikan aset tetap;
c) Melakukan uji petik atas aset tetap untuk mengetahui penguasaan aset tetap
tersebut.
2. Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan :
12

a. Keterjadian dan hak dan kewajiban : kejadian-kejadian terkait aset tetap yang
diungkapkan telah benar-benar terjadi dan merupakan hak dan kewajiban dari entitas
tersebut.
1) Resiko yang mengganggu asersi misalnya:
a) Pemda tidak mengungkapkan kejadian-kejadian terkait aset tetap yang terjadi
setelah tanggal neraca sebelum laporan keuangan diterbitkan (subsequent event);
b) Pemda tidak mengungkapkan hal terkait aset yang penting untuk diungkapkan
seperti :
(1) perolehan aset dalam jumlah material didapatkan dari bantuan;
(2) tukar-guling aset;
(3) aset tetap miliknya yang dikuasai pihak lain.
2) Pengendalian yang memadai :
a) Pemda memiliki data mengenai aset tetap yang memenuhi kriteria aset tetap
sepenuhnya (dikuasai dan digunakan untuk operasional atau pelayanan) dengan
yang tidak, dan mengungkapkannya dalam CaLK;
b) Pemda memiliki dokumentasi yang baik atas kejadian-kejadian terkait aset tetap.
3) Pengujian yang dapat dilakukan :
a) Inspeksi dokumen untuk menguji apakah Pemda telah mengungkapkan
informasi-informasi penting dalam laporan keuangan;
b) Melakukan uji petik atas aset tetap, untuk aset tetap yang membutuhkan
pengungkapan uji apakah sudah diungkapkan dalam laporan keuangan.
b. Kelengkapan : semua pengungkapan yang diharuskan untuk aset tetap telah
diungkapkan dalam laporan keuangan.
1) Resiko yang mengganggu asersi kelengkapan diantaranya :
a) Pemda tidak mengungkapkan secara lengkap pengungkapan yang diharuskan
dalam SAP;
b) Aset bersejarah tidak diungkapkan secara lengkap.
2) Pengendalian yang memadai : Pemda memiliki informasi yang lengkap untuk
mengungkapkan seluruh pengungkapan yang disyaratkan oleh SAP.
3) Pengujian yang dapat dilakukan : Inspeksi dokumen LK dan CaLK untuk
mengetahui apakah pengungkapan yang diwajibkan SAP telah diuangkapkan oleh
Pemda.
c. Akurasi dan penilaian : informasi keuangan aset tetap telah diungkapkan dengan wajar
dan dengan jumlah yang tepat.
13

1) Resiko yang mengganggu asersi akurasi dan penilaian diantaranya nilai aset tetap
yang dilaporkan dalam LKPD berbeda dengan data yang dimiliki SKPD.
2) Pengendalian yang memadai dilakukan dengan dilakukannya rekonsiliasi antara
pengelola keuangan dengan pengurus barang, dan antara SKPD dengan PPKD.
3) Pengujian yang dapat dilakukan diantaranya :
a) Melakukan inspeksi dokumen LK dengan dokumen sumber di tingkat SKPD;
b) Melakukan inspeksi dokumen dan permintaan keterangan atas rekonsiliasi
yang telah dilakukan.
d. Klasifikasi dan pemahaman : Jumlah-jumlah aset tetap telah diklasifikasikan dengan
tepat dalam laporan keuangan, dan penjelasan saldo dan pengungkapan terkait dapat
dipahami.
1) Resiko yang mengganggu asersi klasifikasi dan pemahaman diantaranya :
a) Aset yang sudah rusak berat masih tercatat sebagai aset tetap;
b) Aset tetap yang diadakan untuk diserahkan kepada pihak ke-3 tercatat sebagai
aset tetap;
c) Aset tetap yang dimanfaatkan pihak lain tercatat sebagai aset tetap dan tidak
diungkapkan dalam CaLK;
d) Pengungkapan menggunakan bahasa yang terlalu umum menimbulkan multi
tafsir.
2) Pengendalian yang memadai diantaranya :
a) Pemda melakukan penganggaran secara tepat, tidak menganggarkan barang yang
ditujukan untuk diserahkan pada belanja modal;
b) Pemda melakukan pengelolaan pemeliharaan dengan penggunaan kartu
pemeliharaan atau catatan lain yang efektif dalam memantau kondisi aset tetap;
c) Pemda melakukan pembacaan kembali oleh beberapa orang atas pengungkapan
laporan keuangan.
3) Pengujian yang dapat dilakukan diantaranya :
a) Inspeksi dokumen penganggaran, dan permintaan keterangan pada tim anggaran
untuk mengetahui penganggaran aset tetap;
b) Inspeksi dokumen daftar kebutuhan pemeliharaan barang dan penatausahaan
kartu pemeliharaan atau dokumen lain yang berfungsi serupa;
c) Inspeksi dokumen atas pengungkapan yang dilakukan pada CaLK untuk
meyakinkan tidak terjadinya pemahaman yang bias bagi pembaca laporan
keuangan.
14


E. Kesimpulan
Peran pemeriksa BPK dalam pemeriksaan LKPD sangat penting dalam perbaikan
pengelolaan aset tetap dan kewajaran akun aset tetap dalam laporan keuangan pemerintah
daerah karena pemeriksa BPK diantaranya bertugas untuk melakukan pengujian dan
melaporkan pengendalian intern yang dilakukan Pemda apakah telah cukup untuk
menyajikan informasi yang handal dan diungkapkan secara wajar dalam laporan keuangan
dan menjamin kepatuhan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pengujian yang dilakukan oleh Pemeriksa LKPD atas pengelolaan aset tetap yang
secara signifikan berpengaruh terhadap asersi manajemen harus dilakukan secara memadai
agar didapatkan rekomendasi yang tepat sehingga permasalahan aset tetap dapat selesai
setelah rekomendasi ditindaklanjuti oleh Pemda.

F. Penutup
Perubahan dalam manajemen aset dan kebijakan tata kelola pemerintahan dalam
reformasi keuangan dan administrasi dan keuangan dalam sektor publik pada dua dekade
terakhir menjadi tantangan paling besar dalam implementasinya hingga saat ini pada banyak
negara. (Mihaela Grubisic et al, 2008)
Isu manajemen aset yang saat ini berkembang di dunia internasional tentang
manajemen aset pada pemerintah daerah adalah :
1. Efisiensi biaya pada aset tetap yang digunakan untuk pelayanan publik;
2. Minimalisasi subsidi atas aset tetap yang digunakan untuk kebijakan pemerintah (sosial,
politik, dll);
3. Kerjasama dengan swasta atau penjualan aset yang tidak digunakan oleh pemerintah, atau
minimalisasi biaya pemeliharaan. (USAID, 2010)
Pemda di Indonesia disisi lain masih berkutat dengan masalah inventarisasi,
penguasaan, dan opini atas aset. Penyelesaian masalah aset tetap diharapkan dapat membawa
pengelolaan aset tetap ke tahap selanjutnya, untuk efisiensi belanja daerah, peningkatan
pelayanan masyarakat, dan penerimaan pendapatan untuk Pemda.
Pembahasan artikel ini disadari oleh penulis masih memiliki kekurangan-kekurangan,
namun diharapkan dapat menjadi masukan dan nilai tambah baik untuk penulis sendiri
ataupun untuk pemeriksaan LKPD dan pengelolaan aset daerah.
15

G. Referensi
1. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah;
3. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara;
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah;
5. Institut Akuntan Publik Indonesia (2011). Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta.
Salemba Empat.
6. Badan Pemeriksa Keuangan (2012). Buku I Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun
2012;
7. Mihaela Grubisic et al (2008). From Accountable Government to Public Asset
Management Reform and Welfare. Privredna kretanja i ekonomska politika 117/2008
8. Randal J. Elder, et al (2011) Jasa Audit dan Assurance Pendekatan Terpadu (Adaptasi
Indonesia). Indonesia, Salemba Empat.
9. USAID (September 2010). Guideline for Local Government Asset Management Local
Governance Program in Albania, USAID.

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH DAN PENERJEMAHAN/
PENYADURAN BUKU DAN BAHAN-BAHAN LAINNYA DI BIDANG PEMERIKSAAN
DI LINGKUNGAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Han Han Edyamsyah
NIP : 198508082006031001
Unit Kerja : Sub Auditorat Sumatera Barat I, Perwakilan Provinsi Sumatera Barat
Jabatan/Peran : Pemeriksa Pertama/Anggota Tim Yunior
Menyatakan bahwa hasil artikel berjudul Peran Penting dan Tanggung Jawab Pemeriksa LKPD
BPK-RI pada Pengelolaan dan Kewajaran Aset Tetap Pemerintah Daerah yang saya ajukan untuk
memenuhi salah satu komponen unsur utama dari kegiatan yang dapat dinilai sebagai Angka Kredit
Jabatan Fungsional Pemeriksa (JFP), benar-benar merupakan karya asli saya sendiri.
Setiap ide dan/atau kutipan dari karya orang lain baik berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam
hasil karya tulis ilmiah ini, telah diakui dalam standar prosedur referensi dalam disiplin ilmu.
Apabila di kemudian hari terbukti bahwa saya melakukan tindakan plagiat dan/atau melanggar
Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta dan/atau peraturan perundang-undangan
terkait lainnya, yang mengakibatkan kerugian pada pihak lain baik secara pribadi, kelompok, dan/atau
organisasi, maka saya bersedia menanggung akibat berupa :
1. Pembatalan angka kredit;
2. Penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3)
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, dan
3. Segala tuntutan hukum lainnya dari pihak-pihak yang merasa dirugikan, baik tuntutan hukum
secara pribadi/kelompok dan/atau organisasi.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sadar dan sebenar-benarnya, agar dapat digunakan
sebagaimana mestinya.
Padang, 25 Maret 2013
Pemeriksa


Han Han Edyamsyah
NIP. 198508082006031001