Anda di halaman 1dari 19

Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi

Volume 1 Nomor 1, Januari 2013


58

PENGARUH PROFITABILITAS DAN LIKUIDITAS TERHADAP
KEBIJAKAN DIVIDEN KAS PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF


Ahmad Sandy
Dy_san7@ymail.com
Nur Fadjrih Asyik

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya


ABSTRACT

This study aimed to examinetheeffect of financial ratios which consists of profitability ratio and liquidity ratio
of thecash dividend policy. Data wereobtained from thefinancial statements of theautomotivecompanies in
Indonesia Stock Exchangefrom 2009-2011. Theanalysis used to determinetheeffect of financial ratio of thecash
dividend policy is to use a multiple linear regression. Based on the results of the F test is known that
simultaneous financial ratio significantly influencethecash dividend policy. Based on theresults of thet test is
only partially known that return on assets (ROA) which significantly influencethecash dividend policy, while
four other ratios areprofit margin (PM), return on equity (ROE), current ratio (CR), and quick ratio (QR) had
not significant influenceon thecash divident policy. It is suggested that thenext researcher who conducted the
with this study should add to thenumber of variables in thestudy,.

Keywords : profitability ratio, liquidity ratio, cash dividend policy


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rasio keuangan yang terdiri atas rasio profitabilitas
dan rasio likuiditas terhadap kebijakan dividen kas. Data penelitian diperoleh dari laporan keuangan
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2009-2011. Analisis yang digunakan untuk
menguji pengaruh rasio keuangan terhadap kebijakan dividen kas adalah dengan menggunakan
regresi linear berganda. Berdasarkan hasil uji F diketahui bahwa secara simultan rasio keuangan
berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen kas. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa
secara parsial hanya return on assets (ROA) yang berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen
kas, sedangkan empat rasio lainnya yaitu profit margin (PM), return on equity (ROE), current ratio (CR)
dan quick ratio (QR) tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap kebijakan deviden kas.
Disarankan kepada peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian berkaitan dengan penelitian ini
hendaknya menambah jumlah variabel dalam penelitian, menambah periode pengamatan,

Kata kunci: rasio profitabilitas, rasio likuiditas, kebijakan dividen kas


PENDAHULUAN
Setiap/ perusahaan membutuhkan dana untuk kegiatan operasional dan mencakup
kinerja perusahaan. Dana yang diperoleh perusahaan dapat diperoleh dari berbagai sumber
pendanaan berupa modal pemilik, pinjaman, laba ditahan hingga penjualan saham bagi
investor terutama pada perusahaan yang telah Go Publik dan terdaftar di Bursa Efek.
Kegiatan pasar modal di Bursa Efek menjadi jantung perusahaan Go Publik diberbagai
bidang.
Aktivitas investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai macam risiko
dan ketidakpastian yang seringkali sulit diprediksikan oleh para investor. Untuk
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
59

mengurangi risiko tersebut, investor memerlukan berbagai macam informasi, baik informasi
kinerja perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan maupun informasi lain yang
relevan seperti kondisi ekonomi dan politik dalam suatu negara.
Tujuan utama seorang investor dalam menginvestasikan dananya adalah untuk
memperoleh pendapatan (return) yang dapat berupa pendapatan dividen (dividend yield)
maupun pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya (capital gain).
Dalam kaitannya dengan pendapatan dividen, para investor pada umumnya menginginkan
pembagian dividen yang relatif stabil. Stabilitas dividen akan meningkatkan kepercayaan
investor terhadap perusahaan, karena akan mengurangi ketidakpastian investor dalam
menanamkan dananya.
Keputusan untuk menentukan berapa banyak dividen yang harus dibagikan kepada
para investor disebut kebijakan dividen (dividend policy). Di sisi lain perusahaan dihadapkan
dalam berbagai macam kebijakan, antara lain perlunya menahan sebagian laba untuk re-
investasi yang mungkin lebih menguntungkan, kebutuhan dana perusahaan, likuiditas
perusahaan, sifat pemegang saham, target tertentu yang berhubungan dengan rasio
pembayaran dividen dan faktor lain yang berhubungan dengan kebijakan dividen.
Pemegang saham dapat memperoleh dua jenis dividen, yaitu dividen kas dan non
kas. Dividen kas (cash dividend) adalah dividen yang dibayar oleh emiten kepada
pemegang saham dalam bentuk uang tunai. Dividen non kas adalah dividen yang
dibayarkan dalam bentuk saham dengan proporsi tertentu. Contoh dividen non kas
adalah dividen saham (stock dividend) dan dividen aset.
Dividen kas merupakan masalah yang sering kali menjadi topik pembicaraan yang
hangat di antara para pemegang saham dan juga pihak manajemen perusahaan emiten,
bahkan cenderung terjadi kontroversi antara pemegang saham dan perusahaan emiten.
Investor mengharapkan untuk mendapat tingkat kembalian (return) baik berupa
dividen maupun capital gain tidak didasarkan pada kebijakan manajemen (intern)
perusahaan tetapi didasarkan pada hasil atau kinerja yang telah dicapai oleh perusahaan
yang tercermin dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Kebijakan apapun yang
ditempuh oleh manajemen perusahaan, bagi investor tidak terlalu dipertimbangkan, karena
kebijakan manajemen hanya dapat diketahui oleh pihak intern perusahaan. Bagi investor
yang terpenting adalah melihat bagaimana perkembangan perusahaan terutama dari kinerja
keuangannya.
Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh investor dalam mengambil keputusan
investasi adalah laporan keuangan. Laporan keuangan adalah merupakan salah satu sumber
informasi yang mengkomunikasikan keadaan keuangan dari hasil operasi perusahaan dalam
periode tertentu kepada berbagai pihak yang berkepentingan.
Laporan keuangan meliputi faktor rasional yang mempengaruhi penggunaan laporan
keuangan berkaitan dengan sesuatu yang disebut analisis fundamental. Beberapa teknik
yang dapat digunakan dalam analisis data keuangan untuk mengevaluasi posisi perusahaan
diantaranya analisis rasio. Rasio keuangan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan
serta membandingkan kinerja antara perusahaan satu dengan yang lain. Dari segi eksternal,
rasio keuangan digunakan untuk menetukan pembelian saham perusahaan, pembelian
pinjaman serta memprediksi kekuatan keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupakan indikator utama dari
kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, sehingga profitabilitas sebagai faktor
penentu terpenting terhadap dividen. Santoso (2005) menguji Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh cash position, return on asset, dan debt to equity terhadap cash dividend.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel cash position dan DER tidak
memiliki pengaruh terhadap cash deviden sedangkan ROA dan EPS memiliki pengaruh
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
60

terhadap cash dividend. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menguji pengaruh secara
simultan rasio profitabilitas dan rasio likuiditas terhadap kebijakan deviden kas; (2)
menguji pengaruh secara parsial rasio profitabilitas dan rasio likuiditas terhadap
kebijakan deviden kas.

TINJAUAN TEORETIS
Pasar modal
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan
jangka panjang yang bisa diperjual-belikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas, instrumen
derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi
perusahaan maupun institusi (pemerintah) dan sarana kegiatan untuk berinvestasi
(Darmadji dan Fakhruddin, 2006:01).
Pasar modal yang efisien menunjukkan hubungan antara harga pasar dan bentuk
pasar. Pengertian harga pasar dalam hal ini adalah harga saham yang ditentukan dan
dibentuk oleh mekanisme pasar modal. Efisiensi pasar modal ditentukan oleh seberapa
besar pengaruh informasi yang relevan dan akan dipertimbangkan dalam pengambilan
keputusan (Sunariyah, 2003:168).
Di dalam Undang-undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 mendefinisikan Pasar Modal
sebagai kegiatan yang besangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan Efek. Jenis
Pasar Modal antara lain pasar perdana (Primary Market) dan pasar sekunder (Second Market).
Pasar Perdana merupakan kegiatan emiten (perusahaan) untuk menawarkan saham dan
efek lainnya untuk pertama kali dengan pihak penjamin emisi (underwriter) melalui
perantara perdagangan efek (broker-dealer). Proses ini dinamakan Penawaran Harga umum
Perdana atau IPO (Initial Public Offering), sedangkan Pasar Sekunder merupakan kegiatan
jual beli saham atau efek lainnya yang sudah tercatat pada bursa.

Laporan keuangan
Menurut Baridwan (2010:17) Laporan Keuangan merupakan suatu ringkasan dari
transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan
keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan
tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Di samping itu
laporan keuangan dapat juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai
laporan kepada pihak-pihak diluar perusahaan.
Pengertian laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntan
Indonesia, 2009:01), Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan
perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, misalnya: sebagai
arus kas atau laporan arus dana), catatan, dan laporan lain serta materi penjelasan yang
merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuat ringkasan data keuangan
perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen
dan pihak-pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data
keuangan (Djarwanto, 2004:5).
Menurut Hanafi dan Halim (2007:12) secara umum ada tiga bentuk laporan keuangan
yang pokok yang dihasilkan oleh suatu perusahaan:
a. Neraca
Neraca digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Neraca bisa
digambarkan sebagai potret kondisi keuangan suatu perusahaan pada suatu waktu
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
61

tertentu yang meliputi aset perusahaan dan klaim atas aset tersebut (meliputi hutang dan
saham sendiri).
b. Laporan laba rugi
Laporan laba rugi merupakan laporan prestasi perusahaan selama jangka waktu
tertentu. Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kemampuan
perusahaannya yang sebenarnya untuk memperoleh keuntungan.
c. Laporan aliran kas
Laporan aliran kas atau laporan perubahan posisi keuangan. Laporan ini menyajikan
informasi aliran kas masuk atau keluar bersih pada suatu periode, hasil dari tiga
kegiatan pokok perusahaan yaitu operasi, investasi, dan pendanaan. Aliran kas
diperlukan terutama untuk mengetahui kemampuan perusahaan yang sebenarnya
dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Analisis rasio
Rasio-rasio keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabung-gabungkan angka-
angka di dalam atau laporan rugi-laba dan neraca. Dengan cara rasio semacam ini
diharapkan pengaruh perbedaan akan hilang. Pada dasarnya analisi rasio bisa
dikelompokkan kedalam lima macam kategori (Hanafi dan Halim, 2007:76) yaitu:
Rasio likuiditas
Ada 3 macam cara mengukur rasio likuiditas, yaitu:
1. Current Ratio
Current ratio menunjukkan kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban-
kewajiban keuangannya yang segera harus dibayar dengan menggunakan liabilitas lancar.
Current ratio ini dapat dihitung dengan cara membagi aset lancar (current asset), dengan
liabilitas lancar (current liabilitas) dan formulanya adalah sebagai berikut:
Current Ratio =
Aset Lancar
x100%
Liabilitas Lancar
Jika perusahaan menetapkan bahwa current ratio 2:1 merupakan current ratio
minimum yang harus dipertahankan berarti perusahaan itu telah menetapkan suatu line of
credit yang menunjukkan batas minimum kredit yang tidak boleh dilanggar.
2. Acid-Test Ratio/Quick Ratio
Dengan quick ratio berarti likuiditas perusahaan diukur dengan menggunakan unsur-
unsur aset lancar yang likuid, dengan cara tidak mempertimbangkan yang kurang likuid
seperti persediaan. Quick ratio dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai
berikut:

Quick Ratio =
Kas +Surat Berharga +Piutang
x100%
Liabilitas Lancar



3. Cash Ratio
Rasio likuiditas yang paling menjamin pembayaran liabilitas jangka pendek adalah
cash ratio, sebab yang menjadi penjaminnya hanyalah kas dan surat berharga. Cash ratio
dapat dihitung dengan cara berikut:
Cash Ratio =
Kas +Surat Berharga
x100%
Liabilitas Lancar
Jika ditinjau dari segi penjaminan liabilitas lancar dapat dikatakan bahwa cash ratio
yang tinggi adalah baik, namun jika ditinjau dari segi profitabilitas belum tentu.
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
62

Dikatakan demikian karena semakin banyak perusahaan menyimpan uang kas di tangan
(cash on hand) berarti semakin banyak pula dana yang menganggur.

Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan sumber daya yang
ada pada pengendaliannya. Semua rasio aktivitas ini melihatkan perbandingan antar tingkat
penjualan dan investasi pada berbagai jenis aset. Rasio aktivitas menganggap bahwa
sebaliknya terdapat keseimbangan yang layak antara penjualan dan berbagai unsur aset
yaitu persediaan, piutang, aset tetap dan aset yang lainnya.
a. Inventory Turn Over
Inventory Turn Over =
Cost of Goods Sold
x100%
Average Inventory
Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang
dagangan. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup populer untuk menilai efisiensi
operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen mengontrol modal yang
ada pada persediaan. Average inventory dapat dicari dengan cara menjumlahkan
persediaan awal dan persediaan akhir kemudian dibagi dua. Semakin besar rasio ini
semakin baik, karena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan baik.
b. Fixed Assets Turn Over
Fixed Assets Turn Over =
Net Sales
x100%
fixed assets
Rasio ini mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap,
dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aset tetap. Rasio ini berguna
untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menggunakan asetnya secara efektif untuk
meningkatkan pendapatan. Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik. Artinya
kemampuan aset tetap menciptakan penjualan yang tinggi.
c. Total Assets Turn Over
Total Assets Turn Over =
Sales
x100%
Total Assets
Rasio ini merupakan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka
menghasilkan penjualan atau menggambarkan berapa rupiah penjulan bersih yang dapat
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik.

Rasio Solvabilitas
Martono dan Hardjito (2002:58) menjelaskan bahwa rasio yang digunakan untuk
mengukur solvabilitas adalah: debt total asset ratio dan debt to equity ratio. Kedua rasio tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Debt Total Asset Ratio
Rasio ini mengukur seberapa jauh dana yang disediakan oleh kreditur. Rasio yang
tinggi berarti perusahaan menggunakan leverage keuangan (financial leverage) yang tinggi.
Penggunaan financial leverage yang tinggi akan meningkatkan Rentabilitas Modal Saham
(Return On Equity atau ROE) dengan cepat, tetapi sebaliknya apabila penjualan menurun,
rentabilitas modal saham (ROE) akan cepat menurun pula. Resiko perusahaan dengan
financial leverage yang tinggi akan semakin tinggi pula. Rasio ini dapat dihitung dengan
menggunakan formula sebagai berikut:
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
63

Debt Total Asset Ratio =
Total Liabilitas
x100%
Total Aset
2. Debt to Equity Ratio
Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar liabilitas dengan
modal sendiri pemilik perusahaan. Rasio ini bisa dihitung dengan menggunakan formula
sebagai berikut:
Debt Equity Ratio =
Total Liabilitas
x100%
Modal Sendiri

Rasio Profitabilitas
Ada beberapa macam rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas, yaitu:
profit margin, return on total asset (ROA), dan return on equity (ROE).
a. Profit Margin (Marjin Laba Bersih)
Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih
pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa dilihat secara langsung pada analisis
common-size untuk laporan laba rugi (baris paling akhir). Rasio ini bisa diinterpretasikan
juga sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di
perusahaan pada periode tertentu. Rasio ini bisa dihitung dengan menggunakan formula
sebagai berikut:
Profit Margin =
Laba Bersih(sesudah pajak)
x100%
Penjualan
Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba
yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Sebaliknya profit margin yang rendah
menandakan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat penjualan tertentu, atau biaya
yang terlalu tinggi untuk tingkat penjualan tertentu, atau kombinasi dari kedua hal
tersebut. Secara umum rasio yang rendah bisa menunjukkan ketidakefisienan manajemen.
Rasio ini cukup bervariasi dari industri ke industri, sebagai contoh: industri retailer
cenderung mempunyai profit margin yang lebih rendah dibandingkan dengan industri
manufaktur.

b. Return On Asset (ROA)
Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih
berdasarkan tingkat aset yang tertentu. ROA juga sering disebut sebagai ROI (Return On
Investment). Rasio ini bisa dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:

ROA =
Laba Bersih (Sesudah Pajak)
x100%
Total Aset
Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset, berarti efisiensi
manajemen.
c. Return On Equity (ROE)
Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan
modal saham tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang
pemegang saham. Rasio ini dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai
berikut:
ROE =
Laba Bersih (Sesudah Pajak)
x100%
Ekuitas
Meskipun rasio ini mengukur laba dari sudut pandang pemegang saham, rasio ini
tidak memperhitungkan deviden maupun capital gain untuk pemegang saham. Karena itu
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
64

rasio ini bukan pengukur return pemegang saham yang sebenarnya. ROE dipengaruhi
oleh ROA dan tingkat leveragekeuangan perusahaan.

Rasio Pasar
Rasio yang terakahir adalah rasio pasar yang mengukur harga pasar relatif terhadap
nilai buku. Ada beberapa jenis rasio yang bisa dihitung yaitu: PER (Price Earning Ratio),
Dividend Yield, dan pembayarannya dividen (dividend payout). PER melihat harga saham
relatif terhadap earningnya, bisa dihitung sebagai berikut:
Harga Pasar perlembar
PER =
Earning perlembar

Perusahaan yang diharapkan akan tumbuh tinggi (mempunyai prospek baik)
mempunyai PER yang tinggi, sebaliknya perusahaan yang diharapkan mempunyai
pertumbuhan yang rendah akan mempunyai PER yang rendah.
Rasio yang lain adalah dividend yield yang bisa dihitung sebagai berikut:
Dividen perlembar
Dividend Yield =
Harga pasar per lembar

Dari segi investor, rasio ini cukup berarti karena dividend yield merupakan sebagian
dari total return yang akan diperoleh oleh investor. Bagian return yang lain adalah capital
gain, yang diperoleh dari selisih positif antara harga jual dengan harga beli.
Rasio yang terkahir adalah rasio pembayaran dividen. Rasio ini melihat pendapatan
(earning) yang akan dibayarkan sebagai dividen sebagai investor. Rasio ini dapat dihitung:
Dividen perlembar
Rasio pembayaran dividen =
Earning perlembar

Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio
pembayaran dividen yang rendah, dan sebaliknya.

Pengertian Saham
Tandelilin (2001:18) mendefinisikan pengertian saham sebagai bukti kepemilikan atas
aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham. Dengan memiliki saham suatu perusahaan,
maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan,
setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Saham adalah
kepemilikan suatu perseroan yang diwakili dengan saham, yang merupakan tagihan atas
penghasilan dan aktiva perusahaan (Syahrul et al., 2000).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa saham adalah tanda penyertaan
modal terhadap suatu perseroan di mana dengan saham tersebut invsetor dapat mempunyai
hak atas kekayaan perusahaan.
Jenis-Jenis Saham
Ada dua jenis saham yang diterbitkan oleh perusahaan, yaitu:
a. Saham biasa, ialah saham yang tidak memberikan keistimewaan bagi pemiliknya.
b. Saham preferen, mengandung hak untuk menerima deviden terlebih dahulu dibandingkan
pemegang saham biasa dan juga memiliki hak dividen kumulatif, yaitu hak untuk
menerima dividen tahun-tahun sebelum yang belum dibayarkan sebelum pemegang
saham biasa menerima dividennya.
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
65


Tingkat Keuntungan Saham (Return)
Return saham dapat diartikan sebagai keuntungan yang diperoleh melalui pemilikan
saham selama jangka waktu tertentu. Keuntungan atas suatu saham ini dinyatakan dalam
prosentase tertentu terhadap investasi secara matematis, Widiatmodjo (1996:62)
merumuskan sebagai berikut:

Ri,t =
Di,t+Pi,t-Pi,t-1
Pi,t-1
Keterangan:
Ri,t =keuntungan (return) saham i pada periode t
Di,t =dividen saham i yang dibayarkan pada periode t
Pi,t Pi,t-1 =harga saham i pada periode t dan t-1
Rumus di atas mencerminkan tolok ukur keuntungan atas investasi saham yang
besarnya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Keuntungan suatu saham dipengaruhi oleh
besarnya dividen yang dibayarkan dan capital gain dari fluktuasi harga saham.
Tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu saham adalah nilai rata-rata dari
tingkat keuntungan saham tersebut atau dalam statistik disebut mean-nya. Secara matematis
Halim (2005:32) merumuskan sebagai berikut:
E(Ri ) =
n
R
n
j
ij
1

Keterangan:
E(Ri) =tingkat keuntungan yang diharapkan dari saham i
n =banyaknya periode pengamatan dinyatakan sebagai 1,2,3,.....n

Pengertian kebijakan dividen
Dividen merupakan adalah pembayaran dari perusahaan kepada para pemegang
saham atas keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan dividen adalah kebijakan yang
berhubungan dengan pembayaran dividen oleh pihak perusahaan, berupa penentuan
besarnya dividen yang akan dibagikan dan besarnya saldo laba yang ditahan untuk
kepentingan perusahaan (Sutrisno, 2001).
Gitman (2003:593) memberikan definisi kebijakan dividen sebagai suatu perencanaan
tindakan perusahaan yang harus dituruti ketika keputusan dividen harus dibuat. Sundjaja
dan Barlian (2001:232), mendefinisikan kebijakan dividen perusahaan adalah rencana
tindakan dari perusahaan yang harus diikuti bilamana keputusan dividen harus dibuat.

Dividen
Stice et al. (2004:902) menyatakan bahwa dividen adalah pembagian kepada
pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah saham
yang dipegang oleh masing-masing pemilik. Dividen adalah pendistribusian laba secara
proporsional kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.
Besarnya dividen yang dibagikan biasanya tercermin dalam dividend payout ratio (DPR). DPR
merupakan rasio hasil perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia bagi para
pemegang saham biasa, dan secara sistematis dirumuskan sebagai berikut (Warsono,
2003:27).
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
66

Bagi para investor atau pemegang saham, dividen merupakan keuntungan yang
didapat sebagai kontribusi perusahaan atas dana yang diinvestasikan dalam bentuk lembar
saham yang beredar.
Ada beberapa tipe dividen yang didistribusikan kepada para pemegangang saham
(Weygandt dan Kimmel, 2002:602) yaitu:
a. Cash Dividend
Dividen yang dibagikan dalam bentuk uang tunai. Jenis dividen ini merupakan
yang paling umum dan diminati oleh investor. Menurut Gitman (2003) dividen kas yang
dibayarkan merupakan penilaian investor atas suatu saham. Dividen kas mencerminkan
arus kas kepada pemegang saham dan menginformasikan kinerja perusahaan saat ini
dan yang akan datang. Karena retained earnings (saldo laba) adalah salah satu bentuk
pendanaan internal, maka keputusan mengenai dividen dapat mempengaruhi
kebutuhan pendanaan eksternal perusahaan. Dengan demikian, semakin besar dividen
kas yang dibayarkan oleh perusahaan, maka semakin besar pula jumlah pendanaan
eksternal yang dibutuhkan melalui pinjaman hutang atau penjualan saham.
Total dividen tunai
Pengukuran dividen kas =
Jumlah lembar saham
b. Property Dividend
Dividen yang dibagikan dalam bentuk aset perusahaan seperti merchandise, real
estate, investment, dan lain-lain. Jenis dividen ini umumnya dibagikan oleh
perusahaaan tambang yang selalu berpindah-pindah lokasi penambangannya.
c. Liquidating Dividend
Dividen yang dibagikan dalam rangka mengembalikan sebagian investasi kepada
pemegang saham. Jenis dividen ini merupakan satu-satunya jenis dividen yang
membagikan dividen dengan mengurangi agio saham (paid in capital) perusahaan.
d. Stock Dividend
Dividen yang dibagikan dalam bentuk saham di perusahaan tersebut. Jenis dividen ini
biasanya akan dipakai oleh perusahaan yang tidak mempunyai uang tunai yang cukup
untuk membagikan dividen tetapi perusahaan tetap ingin membagikan dividen.
e. Scrip Dividend
Dividen yang dibagikan dalam bentuk notes payable (surat hutang). Jenis dividen ini
sudah jarang dipakai saat ini.
f. Posisi Likuiditas
Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aset yang dibutuhkan untuk
menjalankan usaha, sehingga laba tersebut tidak disimpan dalam bentuk kas. Jadi
meskipun suatu perusahaan mempunyai catatan mengenai laba, perusahaan mungkin
dapat tidak dapat membayar tunai dividen karena posisi likuiditasnya. Perusahaan yang
sedang berkembang walaupun punya keuntungan besar, biasanya mempunyai
kebutuhan dana yang sangat mendesak. Dalam keadaan seperti ini perusahaan dapat
memutuskan untuk tidak membayar dividen.
g. Kebutuhan Pelunasan Hutang
Ketika hutang perusahaan jatuh tempo, perusahaan dapat membayar hutang
tersebut dengan membayar tunai atau dengan memberikan surat berharga lain. Jika
keputusannya adalah membayar hutang tersebut, maka ini biasanya perlu penahanan
laba.
h. Pembatasan Dalam Perjanjian Hutang
Perjanjian hutang, khususnya apabila merupakan hutang jangka panjang
seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen tunai. Larangan
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
67

yang dibuat untuk melindungi kedudukan pemberi pinjaman, biasanya menyatakan
bahwa : (1) dividen pada masa yang akan datang hanya dapat dibayar dari laba yang
diperoleh sesudah penandatanganan perjanjian hutang dan (2) dividen tidak dapat
dibayarkan apabila modal kerja bersih telah ditentukan. Demikian pula, perjanjian
saham preferen biasanya mengatakan bahwa dividen tunai saham biasa tidak dapat
dibayarkan kecuali semua dividen saham preferen sudah dibayar.

Pengaruh profitabiltas terhadap kebijakan dividen kas
Daya tarik utama bagi pemilik perusahaan (pemegang saham) dan para calon investor
dalam suatu perusahaan adalah profitabilitas. Dalam konteks ini profitabilitas berarti hasil
yang diperoleh melalui usaha manajemen terhadap dana yang diinvestasikan pemilik dan
investor. Semakin besar tingkat laba atau profitabilitas yang diperoleh perusahaan akan
mengakibatkan semakin besar dividen yang akan dibagikan dan sebaliknya (Sunarto dan
Kartika, 2003).
Profitabilitas diukur dengan menggunakan ROI (Return On Invesment), ROE (Return on
Equity), dan GPM (Gross Profit Margin). Return on investment (R0I) merupakan variabel untuk
mengukur rasio profitabilitas. Jika rasio ROI tinggi maka laba bersih perusahaan yang
diperoleh dari perputaran total investasi akan tinggi. Jika laba perusahaan tinggi maka
proporsi pembagian dividen kas juga akan naik.
Return on equity (ROE) merupakan variabel untuk mengukur rasio profitabilitas. Jika
rasio ROE tinggi maka laba bersih yang diperoleh dari perputaran ekuitas yang dimiliki juga
tinggi. Jika laba perusahaan tinggi maka proporsi pembagian dividen kas juga akan naik.
Gross profit margin (GPM) merupakan variabel untuk mengukur rasio profitabilitas.
Jika rasio GPM tinggi maka laba kotor perusahaan juga akan tinggi. ini berarti biaya yang
dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu produk itu rendah (HPP perusahaan
kecil). Jika laba yang dihasilkan dari penjualan tinggi maka proporsi pembagian dividen kas
juga akan naik.

Pengaruh likuiditas terhadap dividen kas
Menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka
pendek. Rasio likuiditas dapat diukur dengan current ratio. Perusahaan dalam membayar
dividen memerlukan aliran kas keluar, sehingga harus tersedia likuiditas yang cukup
(Sunarto dan Kartika, 2003). Semakin tinggi likuiditas yang dimiliki, perusahaan semakin
mampu membayar dividen.
Current Ratio (CR) merupakan variabel untuk mengukur rasio likuiditas. Jika rasio CR
tinggi maka perusahaan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memenuhi kewajiban
jangka pendek berupa dividen kas. Jika rasio CR tinggi maka investor dapat memperoleh
dividen kas sesuai dengan harapan pada saat berinvestasi.

Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H1 : Rasio keuangan yang terdiri atas rasio profitabilitas dan rasio likuiditas secara bersama-
sama mempunyai pengaruh terhadap kebijakan deviden kas.
H2a : Rasio profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap kebijakan deviden kas.
H2b : Rasio likuiditas mempunyai pengaruh terhadap kebijakan deviden kas.




Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
68

METODA PENELITIAN
Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Non-
probability Sampling, yaitu teknik sampling yang tidak memberi kesempatan (peluang) pada
setiap anggota populasi untuk dijadikan anggota sampel. Teknik Non-probability Sampling
yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling atau sampling pertimbangan.
Adapun Pemilihan sampel pada penelitian ini berdasarkan kriteria tertentu sebagai
berikut:
1. Perusahaan go public dalam sektor otomotif yang telah tercatat sebagai emiten periode
mulai Januari 2009 sampai dengan Desember 2011 secara kontinyu.
2. Perusahaan melaporkan laporan keuangan setiap tahun selama periode 2009 sampai
dengan 2011 tahun fiskal yang berakhir tanggal 31 Desember.
3. Perusahaan yang memiliki laba bersih positif berturut-turut selama periode 2009 sampai
dengan 2011 tahun fiskal yang berakhir tanggal 31 Desember

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
melakukan pengambilan data sekunder yang didapat dari Bursa Efek Indonesia
Definisi Operasional Variabel

Variabel bebas (Independent Variable)
1. Rasio Likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi (dalam jangka pendek
atau satu tahun terhitung sejak tanggal Neraca dibuat).
1) Current Ratio (CR)=
Aset Lancar
x100%
Liabilitas Lancar

2) Quick Ratio =
Aset Lancar Persediaan
x100%
Liabilitas Lancar



2. Rasio Profitabilitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
memperoleh keuntungan melalui semua kemampuan dan sumber yang ada, seperti
kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan dan sebagainya.


1) Profit Margin =
Laba Bersih (sesudah pajak)
x100%
Penjualan

2) Return On assets =
Laba Bersih (sesudah pajak)
x100%
Total Aset

3) Return On Equity =
Laba Bersih (sesudah pajak)
x100%
Modal Sendiri
Variabel Terikat (Dependent Variable)
Dividen yang dibagikan dalam bentuk uang tunai. Jenis dividen ini merupakan yang
paling umum dan diminati oleh investor. Menurut Gitman (2003:590) dividen kas yang
dibayarkan merupakan penilaian investor atas suatu saham. Dividen kas mencerminkan
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
69

arus kas kepada pemegang saham dan menginformasikan kinerja perusahaan saat ini dan
yang akan datang. Karena retained earnings (saldo laba) adalah salah satu bentuk pendanaan
internal, maka keputusan mengenai dividen dapat mempengaruhi kebutuhan pendanaan
eksternal perusahaan. Dengan demikian, semakin besar dividen kas yang dibayarkan oleh
perusahaan, maka semakin besar pula jumlah pendanaan eksternal yang dibutuhkan melalui
pinjaman hutang atau penjualan saham.
Total dividen tunai
Pengukuran dividen kas =
Jumlah lembar saham

Teknik Analisis Data
a. Analisis menggunakan regresi linear berganda.
KDK =o+1 ROI+2 ROE+3 GPM+ 4 CR+5 EPS
Keterangan:
KDK =Kebijakan Dividen kas
o =Konstanta
ROI = Return on Invesment
ROE = Return on Equity
GPM = Gross Profit Margin
CR = Current Ratio
EPS =Earning Per Share
b. Uji t (Parsial)
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara
individu (parsial) terhadap variabel dependen. Adapun rumusan hipotesis dengan
menggunakan uji t adalah sebagai berikut:
Ho =b1-4 =0
Ha =b1-4 0
Dengan menggunakan = 5%, maka kesimpulannya:
- Ho diterima bila Nilai sig =5% ,H1 ditolak, Artinya tidak ada pengaruh variabel
indenpendent terhadap variabel dependent.
- Ho ditolak bila Nilai sig = 5% , H1 Diterima, Artinya ada pengaruh variabel
indenpendent terhadap variabel dependent.
c. Uji F (Simultan)
Uji ini bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen secara bersama-sama. Untuk menguji kebenaran hipotesis digunakan
uji F yaitu untuk menguji keberartian regresi secara simultan dengan rumus hipotesis
sebagai berikut:
Ho : b1 =b2 =b3 =b4 =0
Ha : b1 b2 b3 b4 0
Dengan menggunakan =5% , maka kesimpulannya:
- Ho diterima bila Nilai sig =5% ,H1 ditolak, Artinya tidak ada pengaruah variabel
indenpendent terhadap variabel dependent.
- Ho ditolak bila Nilai sig =5% ,H1 Diterima, Artinya ada pengaruah variabel
indenpendent terhadap variabel dependent.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisis Model Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda merupakan suatu persamaan yang menggambarkan hubungan
antara dua atau lebih variabel bebas dengan satu variabel terikat. Regresi linier berganda
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
70

diterapkan pada penelitian ini untuk menguji apakah terdapat pengaruh profit margin, return
on assets, return on equity, current ratio dan quick ratio baik secara simultan maupun parsial
terhadap deviden kas, serta mengetahui besar pengaruhnya.
Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Program SPSS diperoleh hasil
sebagai berikut:

Tabel 1
Koefisien Regresi Linear Berganda


Tabel tersebut menunjukkan persamaan regresi yang dapat menjelaskan ada atau
tidaknya pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat serta dapat
menginformasikan besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari tabel
diperoleh model regresi linier berganda sebagai berikut :
KDK = 27,287 +363,795 PM +2676,585 ROA 447,636 ROE 63,190 CR +11,212 QR
Berdasarkan model regresi di atas dapat dijelaskan bahwa:
a. Nilai a sebesar 27,287
Menunjukkan bahwa jika semua variabel bebas sama dengan nol maka besarnya deviden
kas akan konstan yaitu sebesar 27,287.
b. Nilai b1 sebesar 363,795
Menunjukkan bahwa jika profit margin (PM) meningkat satu satuan maka akan
meningkatkan deviden kas sebesar 363,795 satuan dengan asumsi variabel bebas yang
lain yaitu return on assets (ROA), return on equity (ROE), current ratio (CR), dan quick ratio
(QR) konstan.
c. Nilai b2 sebesar 2676,585
Menunjukkan bahwa jika return on assets (ROA) meningkat satu satuan maka akan
meningkatkan deviden kas sebesar 2676,585 satuan dengan asumsi variabel bebas yang
lain yaitu profit margin (PM), return on equity (ROE), current ratio (CR), dan quick ratio
(QR) konstan.
d. Nilai b3 sebesar 447,636
Menunjukkan bahwa jika return on equity (ROE) meningkat satu satuan maka akan
menurunkan deviden kas sebesar 447,636 satuan dengan asumsi variabel bebas yang lain
yaitu profit margin (PM), return on assets (ROA), current ratio (CR), dan quick ratio (QR)
konstan.
e. Nilai b4 sebesar 63,190
Menunjukkan bahwa jika current ratio (CR) meningkat satu satuan maka akan
menurunkan deviden kas sebesar 63,190 satuan dengan asumsi variabel bebas yang lain
Coeffi ci ents
a
27,287 75,994 ,359 ,722
363,795 235,516 ,255 1,545 ,133
2676,585 794,649 ,723 3,368 ,002
-447,636 368,508 -,238 -1,215 ,234
-63,190 91,143 -,237 -,693 ,493
11,212 144,361 ,027 ,078 ,939
(Constant)
PM
ROA
ROE
CR
QR
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardized
Coefficients
t Sig.
Dependent Variable: KDK a.
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
71

yaitu profit margin (PM), return on assets (ROA), return on equity (ROE), dan quick ratio
(QR) konstan.
f. Nilai b5 sebesar 11,212
Menunjukkan bahwa jika quick ratio (QR) meningkat satu satuan maka akan
meningkatkan deviden kas sebesar 11,212 satuan dengan asumsi variabel bebas yang lain
yaitu profit margin (PM), return on assets (ROA), return on equity (ROE), dan current ratio
(CR) konstan.
Dari model tersebut diketahui adanya pengaruh profit margin, return on assets, return on
equity, current ratio dan quick ratio terhadap deviden kas yang dilihat dari koefisien regresi
0, namun pengaruh tersebut harus diuji lagi dengan uji F dan uji t.

Pengujian Pengaruh Simultan dengan Uji F
Uji signifikansi model dengan uji F digunakan untuk mengetahui apakah model
regresi linier berganda yang telah didapatkan telah signifikan (telah sesuai untuk
menggambarkan pengaruh simultan variabel bebas terhadap variabel terikat). Uji
signifikansi model ini dapat dilihat pada nilai F hitung yang telah diperoleh dari program
SPSS sebagai berikut:
Tabel 2
Analisis of Varians

Untuk mengetahui variabel-variabel independen berpengaruh secara simultan
(bersama) terhadap variabel dependen digunakan uji F dengan tingkat signifikansi = 0,05.
Jika hasil statistik F pada taraf signifikansi 0,05 berarti variabel-variabel independen
mempunyai pengaruh yang signifikan secara simultan terhadap variabel terikat dan
sebaliknya. Karena nilai sig <0,05 yaitu 0,000 <0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima,
sehingga dapat diambil simpulan bahwa profit margin, return on assets, return on equity,
current ratio dan quick ratio secara simultan berpengaruh terhadap deviden kas.
Hasil penelitian ini berarti mendukung hipotesis bahwa rasio profitabilitas dan rasio
likuiditas berpengaruh secara simultan terhadap deviden kas pada perusahaan otomotive.

Pengujian Pengaruh Parsial dengan Uji t
Uji parsial (uji t) digunakan untuk mengetahui apakah model persamaan regresi telah
signifikan untuk digunakan mengukur pengaruh secara parsial variabel bebas profit margin,
return on assets, return on equity, current ratio dan quick ratio terhadap deviden kas. Dari hasil
pengolahan data dengan menggunakan Program SPSS diperoleh hasil uji t sebagai berikut:
Tabel 3
Uji Parsial (Uji t)
ANOVA
b
737419,4 5 147483,885 8,445 ,000
a
523904,1 30 17463,470
1261324 35
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), QR, ROA, PM, ROE, CR a.
Dependent Variable: KDK b.
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
72


Prodedur pengujian dilakukan melalui uji t dengan membandingkan tingkat
signifikansi dari nilai t dua sisi (/2 =0,025):
a. Uji parsial antara variabel bebas profit margin (PM) terhadap kebijakan deviden kas
(KDK), dengan nilai sig =0,133
Karena nilai sig 0,133 > 0,025 maka H0 tidak berhasil ditolak dan Ha ditolak,
sehingga dapat diambil simpulan bahwa variabel bebas profit margin secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap deviden kas.
b. Uji parsial antara variabel bebas return on assets (ROA) terhadap kebijakan deviden kas
(KDK), dengan nilai sig =0,002
Karena nilai sig 0,002 <0,025 maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat
diambil simpulan bahwa variabel bebas return on assets secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap deviden kas.
c. Uji parsial antara variabel bebas return on equity (ROE) terhadap kebijakan deviden kas
(KDK), dengan nilai sig =0,234
Karena nilai sig 0,234 > 0,025 maka H0 tidak berhasil ditolak dan Ha ditolak,
sehingga dapat diambil simpulan bahwa variabel bebas return on equity secara parsial
tidak berpengaruh signifikan terhadap deviden kas.
d. Uji parsial antara variabel bebas current ratio (CR) terhadap kebijakan deviden kas
(KDK), dengan nilai sig =0,493
Karena nilai sig 0,493 > 0,025 maka H0 tidak berhasil ditolak dan Ha ditolak,
sehingga dapat diambil simpulan bahwa variabel bebas current ratio secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap deviden kas.
e. Uji parsial antara variabel bebas quick ratio (QR) terhadap kebijakan deviden kas (KDK),
dengan nilai sig =0,939
Karena nilai sig 0,939 > 0,025 maka H0 tidak berhasil ditolak dan Ha ditolak,
sehingga dapat diambil simpulan bahwa variabel bebas quick ratio secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap deviden kas.
Dari pengujian parsial dengan uji t di atas, maka dapat diketahui bahwa variabel yang
mempunyai pengaruh secara parsial terhadap deviden kas adalah return on assets,
sedangkan variabel yang lain yaitu profit margin, return on equity, current ratio dan quick ratio
tidak mempunyai pengaruh secara parsial terhadap kebijakan deviden kas.

Interpretasi
Pengaruh profitabilitas terhadap dividen kas
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat pengaruh positif yang
signifikan antara ROA dengan kebijakan dividen kas (KDK). Hal ini menunjukkan bahwa
hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang telah dikemukakan, yaitu rasio profitabilitas
Coeffi ci ents
a
27,287 75,994 ,359 ,722
363,795 235,516 ,255 1,545 ,133
2676,585 794,649 ,723 3,368 ,002
-447,636 368,508 -,238 -1,215 ,234
-63,190 91,143 -,237 -,693 ,493
11,212 144,361 ,027 ,078 ,939
(Constant)
PM
ROA
ROE
CR
QR
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardized
Coefficients
t Sig.
Dependent Variable: KDK a.
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
73

mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dividen kas. Return On Assets (ROA) digunakan
untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan
memanfaatkan aset yang dimiliki. Rasio ini merupakan rasio terpenting di antara rasio
rentabilitas/ profitabilitas yang lainnya. ROA diperoleh dengan cara membandingkan antara
laba bersih dengan total aset. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang
semakin baik, karena tingkat kembalian investasi (aset) semakin besar. Adanya kinerja
keuangan yang baik akan mendorong investor untuk menanamkan sahamnya di suatu
perusahaan sehingga menawarkan kebijakan dividen kas (KDK) yang baik pula. Semakin
besar ROA menunjukkan kinerja yang semakin baik karena tingkat kembalian yang semakin
besar. Semakin tinggi ROA maka semakin meningkatkan daya tarik investor sehingga
investasi saham meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan
perusahaan untuk membagikan dividen kas. Dengan demikian ROA berpengaruh positif
terhadap kebijakan dividen kas (KDK).
Sedangkan dua rasio profitabilitas lainnya yaitu profit margin (PM) dan return on equity
(ROE) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen kas (KDK).
Hal ini menunjukkan bahwa kedua rasio ini tidak mendukung hipotesis yang telah
dikemukakan, yaitu rasio profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dividen
kas. Tidak adanya pengaruh profit margin (PM) dan return on equity (ROE) terhadap
kebijakan dividen kas (KDK) ini karena profit margin (PM) dan return on equity (ROE) secara
umum rasio ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola usaha. Profit margin
yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada
tingkat penjualan tertentu, sebaliknya profit margin yang rendah menandakan penjualan
yang terlalu rendah untuk tingkat penjualan tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi untuk
tingkat penjualan tertentu, atau kombinasi dari kedua hal tersebut. Laba bersih pada rasio
profit margin (PM) yang dihasilkan dihubungkan dengan penjualan, padahal dalam
penjualan masih terdapat unsur-unsur biaya yang dapat mengurangi besarnya pencapaian
laba. Biaya-biaya tersebut misalnya harga pokok penjualan, biaya usaha, biaya pajak, dan
bagi hasil. Besarnya biaya-biaya tersebut merupakan salah satu penyebab tak tentunya laba
bersih yang diperoleh oleh perusahaan untuk membiayai pembayaran dividen kas, sehingga
hal ini menyebabkan profit margin (PM) pengaruhnya tidak signifikan terhadap kebijakan
dividen kas (KDK). Rasio return on equity (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu, dan merupakan
ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Namun meskipun rasio ini
mengukur laba dari sudut pandang pemegang saham, rasio ini tidak memperhitungkan
deviden maupun capital gain untuk pemegang saham, karena rasio ini bukan pengukur
return pemegang saham yang sebenarnya, besarnya ROE lebih dipengaruhi oleh ROA dan
tingkat leverage keuangan perusahaan. Sehingga hal ini menyebabkan return on equity (ROE)
pengaruhnya tidak signifikan terhadap kebijakan dividen kas (KDK).
Menurut Halim (2005:186), ROA memperhitungkan kemampuan perusahaan
menghasilkan suatu laba terlepas dari pendanaan yang dipakai. Sedangkan ROE secara
eksplisit memperhitungkan kemampuan perusahaan menghasilkan suatu laba bagi
pemegang saham biasa, setelah memperhitungkan bunga (biaya liabilitas) dan dividen
saham preferen (biaya saham preferen). Laba yang diperoleh oleh perusahaan dengan
menggunakan aset yang dimiliki bisa dialokasikan ke beberapa pemberi dana. Kreditur
menerima bunga. Bagi perusahaan, biaya liabilitas yang muncul adalah liabilitas dikurangi
penghematan pajak dan bunga karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak.
Beberapa liabilitas seperti liabilitas dagang, liabilitas gaji, tidak mempunyai beban biaya
yang eksplisit, dan karena itu tidak diperhitungkan. Saham preferen menerima dividen
untuk saham preferen. Saham preferen tidak bisa dipakai sebagai pengurang pajak, karena
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
74

itu saham preferen tidak disesuaikan dengan (dikurangi oleh) penghematan pajak. Sisa laba
bersih (yang menjadi numerator) yang tidak dialokasikan ke liabilitas atau saham preferen
menjadi bagian pemegang saham biasa sebagai pemegang hak sisa laba bersih setelah
dikurangi hak pemegang liabilitas dan hak pemegang saham preferen. Demikian juga
dengan pembiayaan aset, bagian aset yang tidak dibiayai oleh liabilitas atau oleh saham
preferen, harus dibiayai oleh saham biasa. Apabila ROA melebihi biaya modal liabilitas dan
biaya modal saham preferen, maka ROE akan melebihi ROA. Sisa kelebihan ROA atas biaya
modal liabilitas dan biaya modal saham preferen menjadi bagian pemegang saham biasa.

Pengaruh likuiditas terhadap dividen kas
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rasio likuiditas yang terdiri atas current
ratio (CR) dan quick ratio (QR) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan
dividen kas (KDK). Hal ini menunjukkan bahwa kedua rasio ini tidak mendukung hipotesis
yang telah dikemukakan, yaitu rasio likuiditas mempunyai pengaruh terhadap kebijakan
dividen kas. Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban-kewajiban jangka pendek. Perusahaan dalam membayar dividen memerlukan
aliran kas keluar, sehingga harus tersedia likuiditas yang cukup. Pada current ratio (CR) dan
quick ratio (QR). Pada current ratio (CR) dan quick ratio (QR) terdapat kas sebagai salah satu
sumber untuk pembayaran dividen, namun besarnya current ratio (CR) dan quick ratio (QR)
tidak hanya dipengaruhi oleh kas saja namun juga oleh beberapa akun seperti piutang dan
persediaan. Kedua rasio ini juga lebih mencerminkan kemampuan aset lancar dalam
membayar liabilitas jangka pendek, bukan pada kemampuan untuk membagikan capital gain
atau dividen kas, semakin besar current ratio (CR) dan quick ratio (QR) maka semakin besar
kemampuan perusahaan untuk melunasi liabilitas jangka pendek, dan sebaliknya semakin
kecil current ratio (CR) dan quick ratio (QR) maka semakin kecil kemampuan perusahaan untuk
melunasi liabilitas jangka pendek. Sehingga hal ini menyebabkan return on equity (ROE)
pengaruhnya tidak signifikan terhadap kebijakan dividen kas (KDK).


SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil beberapa simpulan yang nantinya dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan, yaitu:
1. Dari hasil perhitungan didapatkan model regresi:
Y =27,287 +363,795 PM +2676,585 ROA 447,636 ROE 63,190 CR +11,212 QR
Dari model tersebut diketahui adanya pengaruh profit margin, return on assets, return on
equity, current ratio dan quick ratio terhadap deviden kas yang dilihat dari koefisien
regresi 0, namun pengaruh tersebut harus diuji lagi dengan uji F dan uji t.
2. Berdasarkan hasil uji F diketahui bahwa nilai sig <0,05 yaitu 0,000 <0,05, maka H0
ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa profit margin, return
on assets, return on equity, current ratio dan quick ratio secara simultan berpengaruh
terhadap deviden kas. Hal ini berarti mendukung hipotesis yaitu rasio keuangan yang
terdiri atas rasio profitabilitas dan rasio likuiditas secara bersama-sama mempunyai
pengaruh terhadap kebijakan dividen kas.
3. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa nilai sig pengaruh profit margin terhadap
deviden kas adalah 0,133 >0,025, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel
bebas profit margin secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap deviden kas. Hal
ini berarti tidak mendukung hipotesis yaitu rasio profitabilitas mempunyai pengaruh
terhadap kebijakan dividen kas.
Pengaruh Profitabilitas dan Likuiditas - Sandy dan Asyik
75

4. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa nilai sig pengaruh return on assets terhadap
deviden kas adalah 0,002 <0,025, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel
bebas return on assets secara parsial berpengaruh signifikan terhadap deviden kas. Hal ini
berarti mendukung hipotesis yaitu rasio profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap
kebijakan dividen kas.
5. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa nilai sig pengaruh return on equity terhadap
deviden kas adalah 0,234 >0,025, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel
bebas return on equity secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap deviden kas.
Hal ini berarti tidak mendukung hipotesis yaitu rasio profitabilitas mempunyai
pengaruh terhadap kebijakan dividen kas.
6. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa nilai sig pengaruh current ratio terhadap deviden
kas adalah 0,493 > 0,025, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel bebas
current ratio secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap deviden kas. Hal ini
berarti tidak mendukung hipotesis yaitu rasio likuiditas mempunyai pengaruh
terhadap kebijakan dividen kas.

7. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa nilai sig pengaruh quick ratio terhadap deviden
kas adalah 0,939 >0,025, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel bebas quick
ratio secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap deviden kas. Hal ini berarti
tidak mendukung hipotesis yaitu rasio likuiditas mempunyai pengaruh terhadap
kebijakan dividen kas.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah diambil maka saran-saran
yang dapat penulis ajukan yang berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Disarankan kepada peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian berkaitan dengan
penelitian ini hendaknya menambah jumlah variabel dalam penelitian.
2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya hendaknya menambah periode pengamatan
yang lebih banyak daripada penelitian ini.
3. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah sampel yang lebih
banyak daripada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Z. 2010. Intermediate Accounting. Edisi Kedelapan. Cetakan Ketiga. Yogyakarta:
BPFE.
Djarwanto. 2004. Pokok-pokok Analisis Laporan Keuangan. Edisi Kedua. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: BPFE
Darmadji, Tjiptono dan H. M. Fakhruddin. 2006. Pasar Modal Di Indonesia. Edisi 2.
Jakarta.Salemba Empat.
Financial Accounting Standard Board (FASB). Statement of Financial Accounting Concepts
(SFAC) No.1 .
Gitman, L. J. 2003. Principles of Managerial Finance. edisi 10. Addison
Halim, A. 2005. Analisis Investasi. Cetakan Kedua. Jakarta.Salemba Empat.
Hanafi, Mamduh H dan A. Halim. 2000. Analisis Laporan Keuangan.
------------------. 2007. Analisis Laporan Keuangan, edisi 3. Yogyakarta : Penerbit UPP STIM
YKPN.
-------------------. 2007. Analisis Laporan Keuangan, edisi 3. Yogyakarta: Penerbit UPP STIM
YKPN
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume1 Nomor 1, Januari 2013: 58-76
76

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1:
Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Indrianto, N. dan B. Supomo. 2002. Metodelogi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan
Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta : BPFE
Keown, A. J. 2000. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Buku 2. Jakarta. Salemba Empat.
Kieso, D. E. and W. Jerry J. 2002. Akuntasi Intermediate. Edisi 9. Jakarta. Erlangga.
Martono dan A. Hardjito. 2002. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Ekonosia. Yogyakarta.
Pujiono. 2002. Dampak Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham Pada
Santoso,Agung S. 2005. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividen Kas Pada
Perusahaan GO Publik Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi diterbitkan,
STIE Perbanas Surabaya
Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1
Stice, E. K., J. D. Stice, dan F. Skousen. 2004. Akuntansi Keuangan Menengah, Jilid I. Jakarta. PT
Salemba Empat.
Sudarsi, S. 2002. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividend Payout Ratio Pada
Industri Perbankan Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jurnal Bisnis Ekonomi.
Vol. 9 (Maret) : Hal 76-88.
Sunariyah. 2003. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi 3. Yogyakarta.UPP-AMP YKPN.
Sundjaja, Ridwan S dan I. Barlian. 2001. Manajemen Keuangan Dua. Edisi
Sunarto. dan A. Kartika. 2003. Intellectual Capital: Perlakuan, Pengukuran dan Pelaporan
(Sebuah Library Research). Jurnal Akuntansi & Keuangan. Vol. 5 (1): 35-57.
Sutrisno. 2001. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio. TEMA,
Volume II, Nomor 1, Maret 2001.
Syahrul, N., M. Afdi, dan Ardiyos. 2000. Istilah-istilah Akuntansi Keuangan dan Investasi Kamus
Lengkap Ekonomi. Citra Harta Prima, Jakarta Indonesia.
Tandelin, E. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama. BPFE.
Yogyakarta.
Warsono, 2003. Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi Ketiga, Jilid I, Bayumedia.Malang
Weygant, J. J. dan P. D. Kimmel 2002. Akuntasi Intermediate. Edisi 10. Jakarta
Widiatmojo, S. 1996. Cara Sehat Investasi Di Pasar Modal. Liberty. Yogyakarta.

Beri Nilai