Anda di halaman 1dari 62

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
TB (tuberkulosis) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang organ paru (1).
Selain menyerang paru, TB dapat menyerang organ lain (ekstra pulmonal) (2)
Penyakit TB masih menjadi permasalahan dunia. Berdasarkan data WHO,
diperkirakan telah terjadi 8,8 juta kasus baru pada tahun 2010 (berkisar antara 8,5 9,9
juta) dengan rasio 128 kasus tiap 100.000 penduduk. Diperkirakan, angka prevalensi
TB paru berjumlah 12 juta kasus (berkisar antara 11 juta sampai 14 juta) (3).
Salah satu poin yang terdapat dalam misi MDGs (Millenium Development Goals)
adalah penanggulangan HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lain termasuk TB. Salah satu
tolak ukur keberhasilan program penanggulangan TB adalah angka penemuan kasus
baru, atau yang disebut dengan CDR (Case Detection Rate) (4)

Gambar 1. Case Detection Rate (CDR) Jawa Timur 2009 - 2011 (P2) (Dinkes
Provinsi Jawa Timur, 2012)
Penyakit TB Paru di Indonesia menempati urutan ketiga penyebab kematian umum.
Di Indonesia, penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program
2

pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi,
serta sering mengakibatkan kematian (2)
Berdasarkan Program Penanggulangan TB Nasional, Indonesia menetapkan target
CDR sebesar 70%. Namun, target tersebut masih belum bisa dicapai di seluruh
cakupan daerah Indonesia. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007
di Jawa Timur, prevalensi TB sebanyak 0,2% dan prevalensi di Kabupaten Malang
sebesar 0,4% (5). Hasil penemuan penderita TB paru melalui pemeriksaan dahak tahun
2007, BTA (+) sebesar 725 penderita, diobati sebanyak 1.138 orang, dengan penderita
sembuh sebanyak 510 orang (77,16%). Pada tahun 2011, temuan kasus dengan BTA
(+) semakin meningkat sebesar 1.167 penderita yang terdiri dari 653 (55,96%), dengan
tingkat kesembuhan 698 penderita (87,36%) (2).
Untuk mendukung jalannya program nasional tersebut, maka diperlukan upaya-
upaya khusus, untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran, dan peran
serta masyarakat dengan tujuan utama pemberantasan TB.
Penelitian ini didasari oleh didapatkannya data dari Puskesmas Dau mengenai
pencapaian angka CDR yang sebesar 16%. Angka ini masih jauh dari target nasional
yang sebesar 70%. Ditambah lagi, ditemukannya 2 kasus baru TB dengan BTA (+) di,
dusun Rambaan, desa Landungsari pada tahun 2012. Kedua hal ini mendasari peneliti
untuk melakukan penelitan ini (6) .
Sehubungan dengan masalah tersebut, penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai
faktor yang berhubungan dengan rendahnya CDR TB dengan hasil BTA (+),
diantaranya status pendidikan, perekonomian dan tingkat pengetahuan masyarakat
tentang TB. Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan jumlah
kasus baru TB dengan BTA (+), sehingga dapat dilakukan tindakan pengobatan yang
tepat sasaran serta pencegahan yang sesuai pada lingkungan yang terkena untuk
mengurangi angka morbiditas dan mortalitas akibat TB. (7)










3

1.2 Analisis Situasi

Gambar 2. Peta Desa Landungsari
(Sumber: Kantor Desa Landungsari, 2011)

Desa Landungsari merupakan desa yang secara administratif berada di Kecamatan
Dau, Kabupaten Malang. Secara astronomis Desa Landungsari 721'-731' Lintang Selatan
dan 11010'-11140' Bujur Timur. Lokasinya lebih kurang 35 km dari ibukota kabupaten dan
2 km dengan ibukota kecamatan terdekat. Adapun batas-batas Desa Landungsari adalah
sebagai berikut (7):
Sebelah Barat : Desa Tegalwaru dan Desa Mulyoagung, Kabupaten Malang
Sebelah Selatan : Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
Sebelah Utara : Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
Sebelah Timur : Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
Desa Landungsari terdiri dari 3 dusun, yaitu Dusun Rambaan, Dusun Bendungan,
dan Dusun Klandungan, 12 RW yang masing-masing memiliki 2 hingga 4 RT. Dusun
Rambaan terdiri dari 3 RW yang masing-masing memiliki 2 hingga 3 RT. Masing-masing RT
terdiri atas beberapa kepala keluarga (KK). Pada RT 01 terdapat 78 KK, RT 02 terdapat 74,
dan pada RT 03 terdapat 80 KK. (7)
4












Gambar 3. Peta Desa Landungsari, Dusun Rambaan
(Sumber: Kantor Desa Landungsari, 2011)
Desa Landungsari memiliki fasilitas kesehatan, berupa 1 POSKESDES (Pos
Kesehatan Desa) yang dipimpin oleh seorang bidan desa, 9 POSYANDU yang masing-
masing dipimpin oleh kader, dan 4 Pos LANSIA. (7)

1.3 Perumusan Masalah
1. Bagaimana cara meningkatkan angka CDR (Case Detection Rate) pada desa
Landungsari?
2. Bagaimanakah pengetahuan dan ketrampilan kader mengenai pentingnya deteksi
dini pada TB Paru?
3. Bagaimanakah pengetahuan masyarakat Dusun Rambaan tentang TB Paru dan
pencegahannya?
4. Bagaimana pemberdayaan warga Dusun Rambaan dalam pendeteksian kasus baru
TB dengan BTA (+)?

1.4 Tujuan Kegiatan
1.4.1 Tujuan Umum
Meningkatkan temuan kasus TB paru dengan BTA (+) agar tercapai target
sebanyak 70% sampai dengan akhir tahun 2012.

5

1.4.2 Tujuan Khusus
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang TB paru.
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini TB.
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam menanggulangi TB.

1.5 Manfaat Kegiatan
1. Memberikan wawasan tentang Tuberkulosis kepada masyarakat.
2. Meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat Desa Landungsari pada umumnya dan
Dusun Rambaan pada khususnya.
6

BAB II
RUMUSAN DIAGNOSIS KOMUNITAS


2.1 Menemukan Prioritas Masalah Kesehatan RW 03 Dusun Rambaan Desa
Landungsari

Untuk menemukan prioritas masalah kesehatan, terlebih dahulu dilakukan skoring
terhadap 5 besar permasalahan kesehatan yang ada di Dusun Rambaan Desa Landungsari
pada periode Januari - September 2012. Data permasalahan kesehatan diambil dari data
sekunder yaitu SPM (Standart Pelayanan Minimal) Puskesmas Dau, laporan kepala Desa
Landungsari, laporan bidan Desa Landungsari, kasun Dusun Rambaan, dan ketua RW 03,
yang dikoordinasikan dengan laporan yang masuk ke Puskesmas Dau. Skoring dilakukan
dengan metode NGT (Nominal Group Technique). Dengan mempertimbangkan data
sekunder tersebut diatas, diambil 10 orang yang terdiri dari 4 orang wakil puskesmas
(bidang penyakit menular, dokter fungsional), 4 orang wakil dari kantor desa, dan 2 orang
wakil dokter muda. Berikut tabelnya:

Tabel 1.Skoring Permasalahan Kesehatan di Puskesmas Dau dalam Kurun Waktu
Januari 2012 September 2012
No Problem I II III IV V VI VII VIII IX X Rata-
rata
SKOR
1. Pelayanan kesehatan dasar
pasien miskin target 100%
tercakup 22,69%
6 6 7 5 4 5 7 7 5 6 5,8 3
2. Jumlah kunjungan ibu hamil
(K4) target 95% tercakup 60,4%
5 5 6 8 5 7 5 5 5 4 5,5 5
3. Penemuan kasus TB baru
dengan target 67 kasus (70%),
hanya tercakup 12 kasus (16%).
8 10 9 10 9 9 8 7 7 8 8,5 1
4. Hipertensi menempati peringkat
kedua dari 15 penyakit
terbanyak di Puskesmas Dau
5 5 5 5 6 5 6 6 6 7 5,6 4
7


Dari skoring tersebut, didapatkan bahwa prioritas permasalahan pertama yaitu
penemuan kasus TBC baru dengan hasil BTA (+) dengan target ditemukan 67 kasus
target yang telah dicapai sebanyak 12 kasus (16%). (2)

5. ISPA menempati peringkat
pertama dari 15 penyakit
terbanyak di Puskesmas Dau
7 8 6 8 4 5 6 6 8 8 6,6 2

8

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam melaksanakan penelitian terlebih dahulu dibutuhkan data primer dan data
sekunder. Data sekunder diperlukan di awal, saat menentukan prioritas masalah kesehatan.
Data sekunder yang diambil berupa data dari Puskesmas, profil desa dari kantor desa, data
yang tercatat di bidan setempat, kepala dusun, kepala RW dan kepala RT. Sedangkan data
primer, diperoleh melalui survei pada warga yang dilakukan untuk menganalisis
kemungkinan akar permasalahan yang terjadi di dusun tersebut. Survei dilakukan dengan
cara melakukan wawancara langsung berdasarkan kuesioner terhadap penduduk RW. 03.
Warga RW 03, Dusun Rambaan, Desa Landungsari dipilih atas dasar ditemukannya dua
kasus pada Dusun Rambaan. Mengingat keterbatasan waktu, keterbatasan biaya
pengambilan sampel hanya dilakukan pada RW 03..
Penelitian survei merupakan bentuk penelitian deskriptif, dimana bila populasinya
sekitar 100, sampel yang diambil paling sedikit 30%. Nilai 30 ini juga dapat dibuktikan pada
tabel-tabel pengujian dalam statistika, dimana sampel diatas 30, nilai signifikansinya tidak
jauh berbeda dengan nilai untuk 40 sampel, 60 sampel, dan seterusnya, untuk populasi 100
(8)
Teknik pengambilan sampel yang digunakan terbagi menjadi 2, yakni probability
sampling, dan non probability sampling. Desain pengambilan sampel dengan cara
probabilitas dilakukan jika representasi sampel penting untuk menggeneralisasikan hasil
penelitian secara luas (8). Dalam penelitian ini dilakukan probability sampling dengan
metode simple random sampling. Teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana,
dimana sampel diambil secara acak tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam
populasi. Pengacakan sampel dilakukan dengan menggunakan tabel random sampel. (9).
Berdasarkan hasil survei, maka dapat dibuat Fish bone yang terperinci, mengenai
faktor resiko yang dimiliki warga setempat. Fish bone merupakan diagram tulang-tulang ikan
yang menjelaskan bagaimana suatu permasalahan (misalnya TB pada kasus ini) bisa
terjadi. Fish bone yang ada, dibuat dengan mempertimbangkan faktor 5M (man, money,
material, method, machine), environment, dan time yang selalu menjadi akar permasalahan
kesehatan pada umumnya. Fish bone akan berperan untuk menunjukkan presentase warga
yang mempunyai faktor-faktor resiko tersebut. Ini akan mempermudah dalam penentuan
intervensi yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.
Berikut adalah fish bone untuk permasalahan TB:
9




10

Selanjutnya, dengan mempertimbangkan Fish bone dari prioritas permasalahan
tersebut, dilakukan inventarisasi akar penyebab masalah dan dilakukan skoring dengan
menggunakan metode NGT (Nominal Group Technique) untuk menentukan prioritasnya,
sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

Tabel 2. Inventarisasi Akar Penyebab Masalah
No Akar
Permasalahan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-
rata
Prioritas
MAN
1. 68% warga
merupakan
kelompok usia
produktif (21-50
tahun)
1 2 2 1 1 2 1 3 3 3 19 1,9 16
2. 30% warga tidak
memeriksakan
diri ke
pelayanan
kesehatan
5 4 6 5 8 7 7 6 5 5 58 5,8 8
3. 20% warga
menganggap
imunisasi BCG
kurang penting
4 5 5 3 6 3 6 5 5 5 47 4,7 9
4. 100% kader
kurang berperan
dalam kegiatan
10 9 9 10 9 9 8 10 8 9 91 9,1 2
5. 17% warga tidak
memeriksakan
dahak secara
sukarela bila
ada yang
terdiagnosis TB
6 8 7 7 8 7 7 7 6 7 70 7,0 6
6. 80% warga
kurang
pengetahuan TB
9 8 10 10 9 9 9 10 9 9 92 9,2 1
7. 7% warga
menganggap
bahwa jika ada
penderita TBC
3 4 2 2 3 5 3 3 4 4 33 3,3 15
11

harus di isolasi
8. 93% warga tidak
mengetahui
cara
mengeluarkan
dan membuang
dahak yang
benar
7 9 9 6 8 8 9 9 8 8 81 8,1 3
METHOD
9. 82% warga tidak
mengikuti
penyuluhan
8 7 5 8 7 8 8 9 9 8 77 7,7 4
10. 50% warga
menganggap
tidak ada tindak
lanjut dari
petugas
kesehatan
setelah
diadakan
penyuluhan
3 3 4 3 3 4 5 5 4 5 39 3,9 11
MACHINE
11. 83% warga tidak
memakai
masker pada
saat batuk atau
sakit.
3 3 4 3 2 4 5 4 4 5 37 3,7 12
12. 70% warga
menganggap
tabung untuk
menampung
dahak sukar
didapatkan
2 3 4 1 3 4 5 5 4 4 35 3,5 13
13. 13% warga
mendapatkan
informasi
kesehatan
melalui leaflet
5 6 7 6 7 6 6 5 6 6 60 6,0 7
MONEY
12

14. 50% warga
memiliki
penghasilan
rendah.
2 2 4 1 3 4 5 5 4 4 34 3,4 14
ENVIRONMENT
15. 80% warga
merupakan
warga asli
(penduduk
tetap)
1 2 1 1 1 1 1 2 3 3 16 1,6 17
16. 40% warga tidak
memiliki rumah
ideal (kepadatan
tidak sesuai
dengan jumlah
anggota
keluarga yang
tinggal, jumlah
ventilasi,
lingkungan
rumah)
4 3 5 3 3 4 5 5 4 5 41 4,1 10
TIME
17. 85% waktu
penyuluhan
kurang tepat
6 7 6 8 7 9 8 7 8 8 74 7,4 5

Setelah dilakukan skoring, didapatkan prioritas akar penyebab masalah, ditentukan
inventarisasi solusi akar penyebab masalah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel
berikut.
Tabel 3. Inventarisasi Solusi Akar Penyebab Masalah
No Prioritas Masalah Solusi
Jangka Pendek Jangka Panjang
1. 80% warga kurang
pengetahuan TB.
Memberikan
penyuluhan tentang
penyakit TB disertai
dengan pemutaran
video singkat agar
warga lebih tertarik dan
lebih mengerti
Memberikan
penyuluhan secara
berkala dengan
sasaran terutama
warga yang beresiko
terinfeksi
13

2. 100% warga menganggap
kader kurang berperan
dalam kegiatan
Mengaktifkan kembali
kader kesehatan di
masyarakat, dengan
memberikan pelatihan
dan edukasi kepada
kader agar dapat
secara rutin
memberikan
penyuluhan kepada
warga
Evaluasi secara
berkala kepada
para kader untuk
meyakinkan bahwa
kader memberikan
informasi yang
dibutuhkan oleh
warga
Advokasi kepada
perangkat desa,
dinas kesehatan
untuk lebih
memperhatikan
kinerja kader, dan
memastikan kader
yang ada telah
berperan secara
maksimal
Meningkatkan peran
kader kesehatan yang
ada di masyarakat
dengan cara
mengikutsertakan
dalam tiap program
yang dilaksanakan
Pembagian pin dan
pocket-book kepada
kader
Advokasi kepada
puskesmas untuk dapat
menindaklanjuti
programa yang telah
dengan cara
mewajibkan kader TB
untuk melakukan
pelaporan skrining TB
secara berkala
3. 93% warga tidak
mengetahui cara
mengeluarkan dan
membuang dahak yang
benar
Memberikan
penyuluhan dan
peragaan mengenai
cara mengeluarkan dan
membuang dahak yang
benar dengan bahasa
yang mudah dimengerti
dan menarik
Memberikan
penyuluhan secara
berkala dengan
sasaran terutama
warga dengan gejala
batuk
14

Pembuatan stiker
ilustrasi mengenai cara
pengeluaran dan
pembuangan dahak
yang benar untuk
ditempel di rumah
warga
Pelatihan senam paru
untuk mendukung
pengeluaran dahak
4. 82% warga tidak mengikuti
penyuluhan
Mengadakan
penyuluhan dengan
bahasa yang awam di
masyarakat, yang
mengedepankan
interaksi 2 arah (role
play), sehingga warga
yang menjadi sasaran
lebih tertarik
Melakukan
dokumentasi seluruh
acara penyuluhan
sebagai referensi
kelompok penyuluhan
selanjutnya atau
tenaga kesehatan lain
Memfasilitasi kader
agar dapat memberikan
penyuluhan secara
langsung kepada warga
5. 85% waktu penyuluhan
kurang tepat
Melaksanakan
penyuluhan pada saat
diadakannya acara
rutin warga
Dokumentasi rundown
acara yang akan
diberikan kepada kader
setempat untuk di
sosialisasikan kepada
penyuluh selanjutnya
Melibatkan kader dalam
sosialisasi acara
Membuat perencanaan
acara (rundown acara)
yang terperinci serta
sosialisasi jauh
sebelum acara
dilaksanakan
6. 17% warga tidak
memeriksakan dahak
secara sukarela bila ada
Memberikan
penyuluhan mengenai
prosedur pemeriksaan
Advokasi kepada kader
setempat dan
posyandu setempat
15

yang terdiagnosis TB dan pelaporan jika
terdapat kasus TB baru
untuk edukasi berkala
mengenai prosedur
pemeriksaan dan
pelaporan jika terdapat
kasus TB baru
7. 13% warga mendapatkan
informasi kesehatan
melalui leaflet
Memberikan leaflet
mengenai informasi-
informasi TB yang
harus diketahui
Advokasi kepada pihak
puskesmas untuk
memperbanyak leaflet
dan membagikan
kepada warga saat
penyuluhan
selanjutnya
8. 30% warga tidak
memeriksakan diri ke
pelayanan kesehatan
Memberikan sosialisasi
mengenai prosedur
pemeriksaan di
pelayanan kesehatan
terdekat
Advokasi kepada kader
setempat dan
posyandu setempat
untuk sering
mengingatkan warga
agar segera berobat
jika sakit
9. 20% warga menganggap
imunisasi BCG kurang
penting
Memberikan
penyuluhan mengenai
imunisasi BCG, akibat
yang akan timbul dan
manfaatnya bagi tubuh
Advokasi kepada kader
setempat dan
posyandu setempat
untuk edukasi berkala
mengenai pentingnya
imunisasi, khususnya
BCG
10. 40% warga tidak memiliki
rumah ideal (kepadatan
tidak sesuai dengan jumlah
anggota keluarga yang
tinggal, jumlah ventilasi,
lingkungan rumah)
Memberikan
penyuluhan kepada
warga mengenai syarat
rumah sehat dan
bagaimana cara
mencapai rumah sehat.
Advokasi kepada dinas
kesehatan dan
peumahan rakyat
untuk melakukan
screening berkala pada
warga tentang rumah
sehat

Setelah dilakukan inventarisasi solusi akar penyebab masalah, kembali dilakukan
skoring dengan menggunakan metode NGT untuk menentukan prioritas solusi yang dapat
dilakukan.


16

Tabel 4. Prioritas Solusi Akar Penyebab Masalah
No Solusi 1 2 3 4 5 6 7 Total
Rata-
rata
Skor
1
Memberikan
penyuluhan tentang
penyakit TB disertai
dengan pemutaran
video singkat agar
warga lebih tertarik dan
lebih mengerti
10 10 9 9 10 9 9 66 9,4 1
2
Memberikan
penyuluhan secara
berkala dengan
sasaran terutama
warga yang beresiko
terinfeksi
5 5 5 5 6 7 7 40 5,7 20
3
Mengaktifkan kembali
kader kesehatan di
masyarakat, dengan
memberikan pelatihan
dan edukasi kepada
kader agar dapat
secara rutin
memberikan
penyuluhan kepada
warga
10 10 9 9 8 8 9 63 9 3
4
Meningkatkan peran
kader kesehatan yang
ada di masyarakat
dengan cara mengikut
sertakan dalam tiap
program yang
dilaksanakan
10 10 9 9 9 9 8 64 9,1 2
5
Pembagian pin dan
pocket-book kepada
kader
9 8 7 8 7 8 7 54 7,7 6
6 Evaluasi secara berkala 5 4 5 5 6 7 7 39 5,5 21
17

kepada para kader
untuk meyakinkan
bahwa kader
memberikan informasi
yang dibutuhkan oleh
warga
7
Advokasi kepada
perangkat desa, dinas
kesehatan untuk lebih
memperhatikan kinerja
kader, dan memastikan
kader yang ada telah
berperan secara
maksimal
6 6 5 5 6 6 7 39 5,5 22
8
Memberikan
penyuluhan dan
peragaan mengenai
cara mengeluarkan dan
membuang dahak yang
benar dengan bahasa
yang mudah dimengerti
dan menarik
8 7 7 7 6 7 7 49 7 11
9
Pembuatan stiker
ilustrasi mengenai cara
pengeluaran dan
pembuangan dahak
yang benar untuk
ditempel di rumah
warga
8 8 7 7 7 7 8 52 7,4 8
10
Pelatihan senam paru
untuk mendukung
pengeluaran dahak
5 6 6 6 7 7 6 43 6,1 15
11
Memberikan
penyuluhan secara
berkala dengan
sasaran terutama
warga dengan gejala
batuk
5 5 6 5 6 6 7 40 5,7 19
18

12
Mengadakan
penyuluhan dengan
bahasa yang awam di
masyarakat, yang
mengedepankan
interaksi 2 arah (role
play), sehingga warga
yang menjadi sasaran
lebih tertarik
7 7 7 7 7 7 7 49 7 12
13
Memfasilitasi kader
agar dapat memberikan
penyuluhan secara
langsung kepada warga
8 7 7 8 7 8 7 52 7,4 7
14
Melakukan
dokumentasi seluruh
acara penyuluhan
sebagai referensi
kelompok penyuluhan
selanjutnya atau tenaga
kesehatan lain
6 5 6 5 6 6 7 41 5,8 18
15
Melaksanakan
penyuluhan pada saat
diadakannya acara
rutin warga
6 6 5 6 6 7 6 42 6 16
16
Melibatkan kader dalam
sosialisasi acara
8 8 8 7 7 8 8 54 7,7 5
17
Membuat perencanaan
acara (rundown acara)
yang terperinci serta
sosialisasi jauh
sebelum acara
dilaksanakan
9 8 7 7 6 7 6 50 7,1 10
18
Dokumentasi rundown
acara yang akan
diberikan kepada kader
setempat untuk di
sosialisasikan kepada
penyuluh selanjutnya
5 5 5 5 6 5 6 36 5,1 29
19 Memberikan 7 7 6 7 7 7 6 47 6,7 14
19

penyuluhan mengenai
prosedur pemeriksaan
dan pelaporan jika
terdapat kasus TB baru
20
Advokasi kepada kader
setempat dan
posyandu setempat
untuk edukasi berkala
mengenai prosedur
pemeriksaan dan
pelaporan jika terdapat
kasus TB baru
6 5 5 6 5 6 7 38 5,4 23
21
Memberikan leaflet
mengenai informasi-
informasi TB yang
harus diketahui
8 8 8 7 8 8 8 55 7,8 4
22
Advokasi kepada pihak
puskesmas untuk
memperbanyak leaflet
dan membagikan
kepada warga saat
penyuluhan selanjutnya
5 6 6 5 6 5 5 37 5,2 26
23
Memberikan sosialisasi
mengenai prosedur
pemeriksaan di
pelayanan kesehatan
terdekat
8 8 6 7 7 7 8 51 7,2 9
24
Advokasi kepada kader
setempat dan
posyandu setempat
untuk sering
mengingatkan warga
agar segera berobat
jika sakit
5 6 5 6 5 6 6 38 5,4 24
25
Memberikan
penyuluhan mengenai
imunisasi BCG, akibat
yang akan timbul dan
manfaatnya bagi tubuh
7 7 6 8 7 7 6 48 6,8 13
20

26
Advokasi kepada kader
setempat dan
posyandu setempat
untuk edukasi berkala
mengenai pentingnya
imunisasi, khususnya
BCG
6 6 5 5 6 6 5 38 5,4 25
27
Memberikan
penyuluhan kepada
warga mengenai syarat
rumah sehat dan
bagaimana cara
mencapai rumah sehat
6 6 5 5 6 5 5 37 5,2 27
28
Advokasi kepada dinas
kesehatan dan
peumahan rakyat untuk
melakukan screening
berkala pada warga
tentang rumah sehat
5 6 5 5 5 6 5 36 5,1 28
29
Advokasi kepada
petugas puskesmas
untuk dapat
menindaklanjuti
program yang telah
dengan cara
mewajibkan kader TB
untuk melakukan
pelaporan skrining TB
secara berkala
6 5 6 6 6 5 7 41 5,8 17

Berdasarkan skoring di atas, dipilih 17 prioritas intervensi jangka pendek yang akan
dilakukan pada Dusun Rambaan, Desa Landungsari yaitu sebagai berikut:







21

Tabel 5. Prioritas Intervensi Jangka Pendek
No Prioritas
1 Memberikan penyuluhan tentang penyakit TB disertai dengan pemutaran video singkat agar
warga lebih tertarik dan lebih mengerti.
2 Meningkatkan peran kader kesehatan yang ada di masyarakat dengan cara mengikut sertakan
dalam tiap program yang dilaksanakan.
3 Mengaktifkan kembali kader kesehatan di masyarakat, dengan memberikan pelatihan dan
edukasi kepada kader agar dapat secara rutin memberikan penyuluhan kepada
warga.
4 Memberikan leaflet mengenai informasi-informasi TB yang harus diketahui.
5 Melibatkan kader dalam sosialisasi acara.
6 Pembagian pin dan pocket-book kepada kader.
7 Memfasilitasi kader agar dapat memberikan penyuluhan secara langsung kepada warga.
8 Pembuatan stiker ilustrasi mengenai cara pengeluaran dan pembuangan dahak yang benar
untuk ditempel di rumah warga.
9 Memberikan sosialisasi mengenai prosedur pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat.
10 Membuat perencanaan acara (rundown acara) yang terperinci serta sosialisasi jauh sebelum
acara dilaksanakan.
11 Memberikan penyuluhan dan peragaan mengenai cara mengeluarkan dan membuang dahak
yang benar dengan bahasa yang mudah dimengerti dan menarik.
12 Mengadakan penyuluhan dengan bahasa yang awam di masyarakat, yang mengedepankan
interaksi 2 arah (role play), sehingga warga yang menjadi sasaran lebih tertarik.
13 Memberikan penyuluhan mengenai imunisasi BCG, akibat yang akan timbul dan manfaatnya
bagi tubuh.
14 Memberikan penyuluhan mengenai prosedur pemeriksaan dan pelaporan jika terdapat kasus
TB baru.
15 Pelatihan senam paru untuk mendukung pengeluaran dahak.
16 Melaksanakan penyuluhan pada saat diadakannya acara rutin warga.
17 Advokasi kepada petugas puskesmas untuk dapat menindaklanjuti program yang telah dengan
22

cara mewajibkan kader TB untuk melakukan pelaporan skrining TB secara berkala.

Dari prioritas intervensi masalah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa rencana
intervensi yang dipilih untuk dilakukan kepada warga Dusun Rambaan, Desa Landungsari
adalah berupa:
Penyuluhan yang mencakup materi mengenai:
- penyakit TB
- cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar
- imunisasi BCG
- prosedur pelayanan kesehatan
Pelatihan:
- pelatihan kader dengan tujuan untuk mengaktifkan kembali kader kesehatan
- cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar
- senam paru untuk mendukung pengeluaran dahak
Pembuatan media, berupa:
- pocket book berisi informasi dasar tentang TB
- pin untuk kader
- stiker mengenai cara batuk dan mengeluarkan dahak yang benar
- leaflet mengenai penyakit TB
- form skrining TB
Pembuatan dan pemutaran video:
- penyakit TB
- testimoni penderita TB
- senam paru

23

BAB IV
RENCANA KEGIATAN


4.1 Rencana Kegiatan

Dalam merencanakan program intervensi pada warga Dusun Rambaan diperlukan
penentuan permasalahan utama yang menjadi dasar untuk menentukan tujuan umum
kegiatan, sebagaimana ditulis dalam tabel berikut:

Tabel 6. Health Problem dan Goal
Health Problem Goal
Penemuan kasus TBC baru dengan
target 47 kasus baru (70%), hanya
tercakup target 12 kasus (16%).
Meningkatkan temuan kasus TB paru dengan
BTA (+) agar tercapai target sebanyak 70%
sampai dengan akhir tahun 2012.


Selain menentukan health problem dan goal untuk program intervensi, perlu
ditentukan juga kelompok yang akan menjadi sasaran kegiatan. Kelompok sasaran dibagi
menjadi tigakelompok, yaitu kelompok sasaran primer, sekunder, dan tersier. Kelompok
sasaran pada penelitian ini, akan terinci pada Tabel 7.

Tabel 7. Kelompok Sasaran dari Health Problem
Target Group
Primer Warga RW. 03, Dusun Rambaan, Desa Landungsari
Sekunder Kader kesehatan
Pelayan kesehatan (bidan desa, POSYANDU)
Tersier Puskesmas Dau
Pengurus Desa Landungsari

24

Selain menentukan goal dari intervensi yang akan dilakukan, perlu ditentukan juga
objective dari program intervensi warga. Objective ini dibuat berdasarkan faktor-faktor
resiko yang menyebabkan munculnya health problem di warga Dusun Rambaan. Hal ini
akan ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 8. Faktor Resiko dan Objective
Risk Factor Objective
80% warga mempunyai
pengetahuan yang kurang
mengenai penyakit TB.
Meningkatkan pengetahuan warga
mengenai penyakit TB sebanyak 100%
pada akhir program.
20% warga menganggap
imunisasi BCG kurang penting.
Meningkatkan jumlah warga yang
mengimunisasi BCG sebanyak 100%.
17% warga tidak memeriksakan
dahak secara sukarela bila ada
yang terdiagnosis TB.
Meningkatkan jumlah warga yang akan
memeriksakan dahak secara sukarela
bila ada yang terdiagnosis TB sebanyak
100% pada akhir program.
93% warga tidak mengetahui cara
batuk dan mengeluarkan dahak
yang benar
Meningkatkan pengetahuan warga
mengenai batuk dan mengeluarkan
dahak yang benar sebanyak 100% pada
akhir program
30% warga tidak memeriksakan
diri ke pelayanan kesehatan.
Meningkatkan kesadaran warga untuk
memeriksakan diri ke pelayanan
kesehatan sebanyak 100% pada akhir
program.

Tujuan khusus ini perlu dirinci secara lebih detail untuk menentukan sub objective.
Sub objective diperoleh dari contributing risk factor yang menyebabkan risk factor muncul.
Hal ini akan ditunjukkan pada tabel berikut.


25

Tabel 9. Contributing Risk Factor dan Sub Objective

Risk Factor Contributing RF Sub objective
80% warga mempunyai
pengetahuan yang kurang
mengenai penyakit TB.

Predisposing:
82% warga tidak
pernah mengikuti
penyuluhan
kesehatan
Enabling:
95% warga kurang
mendapat
penyuluhan tentang
TB.
75% warga
menganggap kader
kesehatan yang ada
kurang berperan,
terutama masalah
TB.
Hanya 13% warga
mendapatkan
informasi kesehatan
melalui leaflet.
Meningkatkan jumlah
penyuluhan tentang
TB untuk warga
sebanyak 50% pada
akhir program.
Meningkatkan
kehadiran warga
yang mengikuti
penyuluhan sebanyak
50% pada akhir
program.
Meningkatkan
pelatihan dan edukasi
terhadap kader
sebanyak 80% pada
akhir program.
Meningkatkan
kesadaran kader
akan peran serta
dirinya di masyarakat
sebanyak 70% pada
akhir program
Meningkatkan
pengetahuan
kesehatan warga
dengan penyuluhan
menggunakan leaflet
sebanyak 100% pada
akhir program.
20% warga menganggap
imunisasi BCG kurang
penting.
Predisposing:
83% warga tidak
mengetahui
Meningkatkan
pengetahuan warga
mengenai imunisasi
26

mengenai manfaat
imunisasi BCG
Enabling:
100% warga merasa
penyuluhan
mengenai BCG
kurang.
BCG sebanyak 100%
pada akhir program.
.
17% warga tidak
memeriksakan dahak
secara sukarela bila ada
yang terdiagnosis TB.
Predisposing:
80% warga kurang
mengetahui tentang
prosedur
pemeriksaan TB.
Enabling:
82% warga merasa
kurang diberi
penyuluhan
mengenai prosedur
pemeriksaan dahak

Meningkatkan
pengetahuan warga
mengenai prosedur
pemeriksaan TB
sebanyak 100% pada
akhir program.

93% warga tidak mengetahui
cara batuk dan
mengeluarkan dahak yang
benar
Predisposing:
93% memiliki
pengetahuan yang
kurang mengenai
cara batuk yang
benar
Enabling:
80% warga kurang
mendapat informasi
mengenai cara batuk
& mengeluarkan
dahak.
Meningkatkan jumlah
media informasi
mengenai cara batuk
dan mengeluarkan
dahak dengan benar
sebanyak 80% pada
akhir program
dengan penyuluhan.

30% warga tidak
memeriksakan diri ke
pelayanan kesehatan.
Predisposing:
14% tingkat
awareness/kesadara
n yang rendah untuk
Meningkatkan
kesadaran warga
untuk memeriksakan
diri ke pelayanan
27

memeriksakan diri ke
pelayanan kesehatan
Enabling:
82% warga
menganggap
kurangnya
penyuluhan dari
tenaga kesehatan
75% warga
menganggap kader
kesehatan yang ada
kurang berperan,
terutama masalah
TB.
kesehatan sebanyak
100% pada akhir
program.
Meningkatkan
kesadaran kader
akan peran serta
dirinya di masyarakat
sebanyak 70% pada
akhir program


4.3 Metode Kegiatan

Metode kegiatan yang dipilih didasarkan pada prioritas intervensi yang akan
dilakukan pada warga yang telah disusun dan dijelaskan pada BAB III. Metode kegiatan
yang digunakan berupa penyuluhan dan pelatihan kader kesehatan yang diharapkan akan
menjadi kader TB. Metodenya adalah dengan menyuluh beberapa kader yang sudah ada
ditambah dengan beberapa pengurus RT. Diharapkan dengan diadakannya Penyuluhan
dan Pelatihan Kader Anti-Tuberkulosis (PEKAT), akan menambah kesadaran warga
Landungsari khususnya warga Dusun Rambaan untuk memeriksakan diri apabila ada
kecurigaan terkena TB. Dengan meningkatnya kesadaran warga, maka akan meningkatkan
angka CDR-TB di wilayah Puskesmas Dau.

4.3 Strategi Kegiatan
Strategi yang digunakan dalam rangka memenuhi promosi kesehatan, dibagi
menjadi 3 yaitu strategi untuk warga, kader dan Puskesmas. Strategi untuk warga berupa,
intervensi saat kegiatan rutin (setelah acara PKK). Strategi kedua, melakukan penyuluhan
yang menarik dan informatif dengan menampilkan video, role play atraktif serta
mempraktikkan senam paru. Kemudian memberikan stiker dan leaflet, serta doorprize
berupa souvenir untuk warga yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan penyuluhan,.
28

Sedangkan untuk kader, akan dilakukan penyuluhan terlebih dahulu dengan
menampilkan video dan memberikan pocketbook mengenai pengetahuan tentang TB yang
lebih lengkap dan pembagian pin yang menandakan terpilihnya sebagai kader TB.

4.4 Media Kegiatan
Media yang digunakan dalam intervensi ini berupa slide presentasi yang berwarna
dengan banyak ilustrasi gambar dan dengan bahasa yang mudah diterima oleh warga, serta
kami tampilkan testimoni dari penderita TB yang telah sembuh. Selain itu dibuat juga stiker
yang berisi cara batuk dan cara mengeluarkan dahak yang benar, yang bisa ditempel di
rumah warga, dan leaflet mengenai pengetahuan TB secara umum, serta pocket book
mengenai pengetahuan tentang TB yang lebih lengkap untuk kader. Kemudian juga
diberikan video inovasi mengenai senam paru untuk warga dan kader agar dapat diterapkan
sendiri oleh warga.

4.5 Jadwal Kegiatan
Kegiatan direncanakan dilakukan selama 3 kali. Karena keterbatasan waktu,
keterbatasan biaya, dan dengan mempertimbangkan lokasi tempat kejadian tuberkulosis
maka dipilih 3 lokasi kegiatan dan dengan mempertimbangkan keaktifan kader di Dusun
Landungsari tersebut, diadakan kegiatan tambahan berupa penyuluhan dan pelatihan kader.

Tabel 10. Jadwal Kegiatan
No. Waktu Kegiatan
1. Kamis, 25 Oktober 2012 Penyuluhan dan pelatihan kader anti-TB
2. Minggu, 28 Oktober 2012 Penyuluhan dan pelatihan warga RT 01 oleh kader
3. Selasa, 6 November
2012
Penyuluhan dan pelatihan warga RT 02 dan RT 03


4.6 Tantangan
Terdapat beberapa tantangan yang didapatkan selama kegiatan antara lain
terbatasnya waktu dan dana dalam melaksanakan program secara holistik meliputi seluruh
faktor resiko, sehingga memaksa kami untuk masuk ke dalam kegiatan yang rutin dilakukan
oleh warga.


29

4.7 Sistem Evaluasi
Berbagai kegiatan yang akan dilakukan di Dusun Rambaan, Desa Landungsari terdiri
atas penyuluhan TB, cara batuk dan cara mengeluarkan dahak yang benar, pelatihan
senam paru, dan kuis interaktif. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan sesuai
rencana kegiatan yang telah ditentukan berdasar metode dan strategi yang telah dijelaskan
sebelumnya. Berikut pada tabel akan dijelaskan sistem evaluasi pada masing masing
kegiatan intervensi warga.
Tabel 11. Sistem Evaluasi Kegiatan Intervensi
KEGIATAN TOLAK UKUR
Penyuluhan tentang TB serta cara batuk dan mengeluarkan
dahak yang benar
Pretest dan posttest
Diskusi (tanya jawab)
Jumlah kehadiran dalam setiap
kegiatan
Pelatihan tentang senam paru



Penayangan video testimoni dari penderita TB yang sudah
sembuh
Antusiasme warga dalam mengikuti
kegiatan (perhatian, aktif bertanya,
mengikuti acara sampai selesai)
Jumlah kehadiran dalam setiap
kegiatan
Antusiasme warga dalam mengikuti
kegiatan (perhatian, aktif bertanya,
mengikuti acara sampai selesai)
Jumlah kehadiran dalam setiap
kegiatan
Kuis interaktif Antusiasme warga dalam mengikuti
kegiatan (perhatian, jumlah warga
yang aktif mengikuti permainan
sampai selesai)
Diskusi (tanya jawab)
Jumlah kehadiran dalam setiap
kegiatan



30

4.4 Metode Kegiatan

Metode kegiatan yang dipilih didasarkan pada prioritas intervensi yang akan
dilakukan pada warga yang telah disusun dan dijelaskan pada BAB III. Metode kegiatan
yang digunakan berupa penyuluhan dan pelatihan kader kesehatan yang diharapkan akan
menjadi kader TB. Metodenya adalah dengan menyuluh beberapa kader yang sudah ada
ditambah dengan beberapa pengurus RT. Diharapkan dengan diadakannya Penyuluhan
dan Pelatihan Kader Anti-Tuberkulosis (PEKAT), akan menambah kesadaran warga
Landungsari khususnya warga Dusun Rambaan untuk memeriksakan diri apabila ada
kecurigaan terkena TB. Dengan meningkatnya kesadaran warga, maka akan meningkatkan
angka CDR-TB di wilayah Puskesmas Dau.

4.3 Strategi Kegiatan
Strategi yang digunakan dalam rangka memenuhi promosi kesehatan, dibagi
menjadi 3 yaitu strategi untuk warga, kader dan Puskesmas. Strategi untuk warga berupa,
intervensi saat kegiatan rutin (setelah acara PKK). Strategi kedua, melakukan penyuluhan
yang menarik dan informatif dengan menampilkan video, role play atraktif serta
mempraktikkan senam paru. Kemudian memberikan stiker dan leaflet, serta doorprize
berupa souvenir untuk warga yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan penyuluhan,.
Sedangkan untuk kader, akan dilakukan penyuluhan terlebih dahulu dengan
menampilkan video dan memberikan pocketbook mengenai pengetahuan tentang TB yang
lebih lengkap dan pembagian pin yang menandakan terpilihnya sebagai kader TB.

4.5 Media Kegiatan
Media yang digunakan dalam intervensi ini berupa slide presentasi yang berwarna
dengan banyak ilustrasi gambar dan dengan bahasa yang mudah diterima oleh warga, serta
kami tampilkan testimoni dari penderita TB yang telah sembuh. Selain itu dibuat juga stiker
yang berisi cara batuk dan cara mengeluarkan dahak yang benar, yang bisa ditempel di
rumah warga, dan leaflet mengenai pengetahuan TB secara umum, serta pocket book
mengenai pengetahuan tentang TB yang lebih lengkap untuk kader. Kemudian juga
diberikan video inovasi mengenai senam paru untuk warga dan kader agar dapat diterapkan
sendiri oleh warga.

4.5 Jadwal Kegiatan
Kegiatan direncanakan dilakukan selama 3 kali. Karena keterbatasan waktu,
keterbatasan biaya, dan dengan mempertimbangkan lokasi tempat kejadian tuberkulosis
31

maka dipilih 3 lokasi kegiatan dan dengan mempertimbangkan keaktifan kader di Dusun
Landungsari tersebut, diadakan kegiatan tambahan berupa penyuluhan dan pelatihan kader.

Tabel 10. Jadwal Kegiatan
No. Waktu Kegiatan
1. Kamis, 25 Oktober 2012 Penyuluhan dan pelatihan kader anti-TB
2. Minggu, 28 Oktober 2012 Penyuluhan dan pelatihan warga RT 01 oleh kader
3. Selasa, 6 November
2012
Penyuluhan dan pelatihan warga RT 02 dan RT 03


4.8 Tantangan
Terdapat beberapa tantangan yang didapatkan selama kegiatan antara lain
terbatasnya waktu dan dana dalam melaksanakan program secara holistik meliputi seluruh
faktor resiko, sehingga memaksa kami untuk masuk ke dalam kegiatan yang rutin dilakukan
oleh warga.

4.9 Sistem Evaluasi
Berbagai kegiatan yang akan dilakukan di Dusun Rambaan, Desa Landungsari terdiri
atas penyuluhan TB, cara batuk dan cara mengeluarkan dahak yang benar, pelatihan
senam paru, dan kuis interaktif. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan sesuai
rencana kegiatan yang telah ditentukan berdasar metode dan strategi yang telah dijelaskan
sebelumnya. Berikut pada tabel akan dijelaskan sistem evaluasi pada masing masing
kegiatan intervensi warga.









32

BAB V
EVALUASI KEGIATAN


5.1 Pelatihan Tuberkulosis Pada Kader (Penyuluhan Kader, Pelatihan Batuk dan
Dahak, Peragaan Senam Paru)

Waktu Pelaksanaan : Kamis, 25 Oktober 2012
Tempat : Rumah Bu Pii(Mantan Ketua Kader) RT 1 RW 3,
Dusun Rambakan, Kecamatan Dau
Peserta : Kader Kesehatan Dusun Rambakan
Tujuan Kegiatan :
1. Meningkatkan pengetahuan kader Dusun Rambakan terkait penyebab,
penularan, serta pencegahan penyakit Tuberkulosis melalui penyuluhan
mengenai Tuberkulosis dan pembagian Buku TB Kader, Leaflet, sticker, serta
PIN Kader anti TB
2. Meningkatkan kesadaran Kader Dusun Rambakan terkait pentingnya
pencegahan Tuberkulosis melalui kegiatan pelatihan perilaku Batuk dan Dahak
yang benar
3. Meningkatkan peran kader Dusun Rambakan untuk berperan aktif dalam
penemuan suspek Tuberkulosis (screening gejala, pelaporan ke petugas
kesehatan desa, advokasi serta membantu pengeluaran dahak untuk warga yang
di suspek), pencegahan penyakit Tuberkulosis, serta berperan sebagai PMO
bagi penderita TB
Jadwal kegiatan :
25 Oktober 2012
17.45 : Berangkat dari Puskesmas Dau menuju Dusun Rambakan RW 3
17.45-18.00 : Berkumpul di rumah ketua kader, persiapan presentasi dan
perkenalan pada para kader
18.00-18.30 : Menuju ke rumah Bu Pii, pembagian dan pengerjaan pretest pada
kader. Dilanjutkan pembagian buku, stiker, pin dan leaflet
18.30-19.00 : Presentasi penyuluhan TB dan Peragaan cara batuk dan dahak
(termasuk pemutaran video senam paru)
19.00-19.10 : Tanya jawab
19.10-19.20 : Post test dan pembagian souvenir pada kader
19.20-19.30 : Persiapan dan kembali ke puskesmas Dau
33

Pencapaian hasil :
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pelatihan kader tentang
TB, dilakukan pre dan post test yang terdiri dari 15 soal. Sebelum dilakukan
penyuluhan tentang TB hasilnya adalah 100% peserta kurang memiliki pengetahuan
tentang TB ( pengetahuan dikatakan baik jika minimal dapat menjawab dengan benar
sebanyak 11 pertanyaan). Sebelum penyuluhan , didapatkan 0% peserta menjawab
benar > 10 soal. Setelah pelaksanaan penyuluhan, didapatkan data bahwa 100%
peserta menjawab benar >10 soal.
Setelah dilakukan penyuluhan, diperoleh hasil sebanyak 100% peserta
memiliki pengetahuan yang cukup tentang DBD. Dari 5 peserta yang mengikuti
penyuluhan, didapatkan data hasil pretest dan postest sebagai berikut:
PRETEST: Jumlah
Jawaban Benar
Peserta
1 -
2 -
3 -
4 -
5 I
6 III
7 I
8 -
9 -
10 -
11 -
12 -
13 -
14 -
15 -

34

POSTTEST: Jumlah
Jawaban Benar
Peserta
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11 I
12 II
13 II
14
15

Pelaksanaan kegiatan :
Situasi pelaksanaan :
Kader tampak antusias dan menyambut dengan baik. Kondisi ruangan terbatas dan
kurang memadai untuk melakukan presentasi dengan LCD, peragaan serta
pemutaran video sehingga beberapa peserta kurang fokus menyimak materi
penyuluhan. Peserta duduk di atas sofa di dalam ruangan menghadap layar
proyektor yang diletakkan di tengah ruangan. Presentator berada di samping
priyektor didepan audience dan mampu menguasai seluruh audience.

35

Analisa Kelebihan :
- Kader Dusun Rambakan tampak sangat antusias dalam menerima materi
penyuluhan yang disampaikan
- Kader Dusun Rambakan juga sangat memperhatikan penyuluhan yang diberikan
sehingga mudah dalam memasukkan informasi tentang DBD. Serta beberapa
kader memberikan masukan serta pertanyaan saat diadakan penyuluhan
- Penggunaan video sebagai media penyampaian materi demo membuat warga lebih
tertarik menerima materi
- Kader Dusun Rambakan memiliki semangat tinggi dan termotivasi untuk ikut
berperan serta dalam screening, penemuan, pencegahaan TB dan PMO di Dusun
Rambakan
Analisa kekurangan :
- Kondisi ruangan yang terbatas memadai untuk menampilkan proyektor LCD
sehingga beberapa peserta kurang fokus menyimak materi penyuluhan
Hambatan :
- Terbatasnya waktu dalam pelaksanaan kegiatan ini dikarenakan waktu penyuluhan
bersamaan dengan malam takbiran.
Peluang :
- Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan kader mengenai penyakit TBC
dan peran serta kader dalam screening, penemuan, pencegahaan serta peran
sebagai PMO.
- Dengan kegiatan ini diharapkan kader yang mengikuti pelatihan dapat meneruskan
wawasan yang telah diperolehnya pada warga sekitarnya.

Analisis tingkat keberhasilan program :
- Program ini dinilai cukup berhasil karena beberapa faktor:
Kegiatan diikuti secara tertib oleh seluruh peserta yaitu kader Dusun Rambakan
Desa Sumbersekar, sebanyak 5 orang
Jumlah peserta yang hadir ini sudah memenuhi 100% target. Walaupun 1 orang
kader harus meninggalkan acara lebih dulu karena ada acara lain yang harus
dihadiri.
Antusiasme peserta terhadap materi yang diberikan cukup baik, hal ini
dikarenakan penyajian materi yang mudah dimengerti, bahasa yang digunakan
adalah bahasa sehari-hari, dan penyajiannya menarik dengan menggunakan
LCD dibantu oleh pembagian buku dan leaflet bergambar kepada tiap peserta.
36

Pemateri menggunakan teknik diskusi dengan penjelasan singkat dan lebih
banyak menggali pengetahuan dan pengalaman peserta dengan memberi
pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan, kemudian dilanjutkan sesi
tanya jawab.
Penyuluhan dan pelatihan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh
hampir semua peserta, hal ini dibuktikan dari data yang diperoleh bahwa terjadi
peningkatan jumlah peserta yang pengetahuannya baik, yaitu dari 0% peserta
menjadi 100% peserta (hasil pretest-post test).

Pelajaran yang dapat diambil :
Peserta adalah para kader Dusun Rambakan yang sebagian besar belum
menerima pelatuhan tentang penyakit tuberkulosis. Dengan kegiatan intervensi ini
diharapkan dapat menambah wawasan serta meningkatkan peran kader untuk warga
sekitarnya dalam screening, penemuan, pencegahan dan menjadi PMO.

5.2. Penyuluhan Warga tentang Tuberkulosis oleh Kader Dusun Rambakan

Waktu Pelaksanaan : Minggu, 29 Oktober 2012
Tempat :Rumah Bu Pii(Mantan Ketua Kader)RT 1 RW 3,
Dusun Rambaan, Kecamatan Dau
Sasaran kegiatan : Ibu-ibu PKK RT 1 RW 3 Dusun Rambaan, Kecamatan Dau
Tujuan Kegiatan :
1. Memberi pengetahuan tentang TB, cara pencegahan, penanganan, dan
meningkatkan kesadaran masyarakat yang waspada TB melalui penyuluhan dan
pembagian leaflet.
2. Memberikan pelatihan cara batuk dan dahak yang benar serta peragaan senam
paru pada ibu-ibu PKK RT 1 RW 3 Dusun Rambaan, Kecamatan Dau

Target Kegiatan :
Meningkatkan pengetahuan warga mengenai penyakit TB sebanyak 100% pada
akhir program.

Jadwal kegiatan :
28 Oktober 2012
18.30 : Berangkat dari Puskesmas Dau menuju rumah Bu Pii selaku tuan
rumah ibu-ibu PKK
37

18.45-19.00 : Perkenalan, ramah tamah, pembagian dan pengerjaan pretest
pada peserta.
19.00-19.10 : Persiapan presentasi dan presensi
19.10-19.40 : Presentasi penyuluhan TB oleh kader (termasuk peragaan senam,
pemutaran video senam, animasi tuberculosis, dan testimony dari
penderita TB yang sudah sembuh )
19.40-20.00 : Tanya jawab
20.00-20.10 : Post test dan pembagian souvenir pada kader
20.10-20.15 : Persiapan dan kembali ke puskesmas Dau

Pencapaian hasil :
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan penyuluhan tentang TB dan
pelatihan kader anti TB, dilakukan penilaian kualitatif terhadap kader yang menyuluh
serta pre dan post test yang terdiri dari 15 soal. Peserta digolongkan dalam kategori
pengetahuan baik bila mencapai skor 60 Dan dikategorikan pengetahuannya kurang
bila skornya < 60.
Sebelum dilakukan penyuluhan hasilnya adalah 80% peserta pengetahuannya
kurang dan 20% peserta pengetahuannya baik. Setelah pelaksanaan penyuluhan
didapatkan peningkatan jumlah peserta yang pengetahuannya baik yaitu sebesar 80%
dan peserta yang pengetahuannya kurang yaitu sebesar 20%. Dalam penyuluhan
tersebut kader berperan sebagai presentator atau penyuluh, berdasarkan penilaian
kami secara kualitatif adalah sebagai berikut:
NO. KRITERIA BAIK CUKUP KURANG
1 Sikap Penyuluh
2 Kesiapan materi
3 Penguasaan materi
4 Bahasa penyampaian yang
mudah dimengerti

5 Feedback dari peserta

TABEL NILAI PRETEST
PESERTA NILAI PESERTA NILAI PESERTA NILAI PESERTA NILAI
1 33.33 6 80 11 60 16 33.33
2 46.67 7 46.67 12 60 17 46.67
3 53.33 8 53.33 13 53.33 18 53.33
38

4 46.67 9 33.33 14 46.67 19 46.67
5 53.33 10 60 15 53.33 20 53.33


TABEL NILAI POST TEST
PESERTA NILAI PESERTA NILAI PESERTA NILAI PESERTA NILAI
1 73.33 6 86.67 11 60 16 33.33
2 66.67 7 60 12 60 17 66.67
3 60 8 73.33 13 53.33 18 60
4 73.33 9 80 14 46.67 19 73.33
5 80 10 86.67 15 53.33 20 80

Pelaksanaan kegiatan :
Situasi pelaksanaan :
Tuan rumah dan kader penyuluh bersikap ramah dan menyambut peserta dengan
baik. Kondisi ruangan kurang memadai walaupun mampu menampung seluruh
peserta dan penyuluh. Hal tersebut dikarenakan peserta duduk di kursi di dalam
ruangan dan sebagian duduk di karpet yang digelar menghadap layar proyektor yang
diletakkan di tengah ruangan. Presentator berada di depan audience dan mampu
menguasai seluruh audience.
Analisa Kelebihan :
Para warga menanggapi dengan baik materi penyuluhan yang disampaikan
kader serta dapat berdiskusi dengan baik pula dengan peserta penyuluhan
Para kader PEKAT (Penyuluhan dan Pelatihan Kader Anti TB) telah memiliki
pengetahuan dasar tentang TB sehingga mudah memasukkan informasi
Para kader PEKAT (Penyuluhan dan Pelatihan Kader Anti TB) memiliki
semangat tinggi untuk ikut berperan serta meningkatkan angka CDR (Case
Detection Rate) di Desa Landungsari
Antusiasme warga yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan aktifnya
peserta dalam penyuluhan membuat suasana penyuluhan tampak hidup.
Analisa kekurangan :
Kurangnya informasi mengenai kondisi tempat pelaksanaan menyebabkan focus
peserta penyuluhan sedikit terganggu dikarenakan beberapa peserta duduk di
kursi dan beberapa peserta yang lain duduk di karpet atau berdiri.
39

Waktu pelaksanaan pada malam hari (19.00) menyebabkan beberpa rundown
acara dilaksanakan secara terburu-buru dan singkat.

Hambatan :
Tidak seluruh kader Dusun Rambaan yang dilatih pada pelatihan sebelumnya
hadir dalam kegiatan ini.
Terdapat beberapa kader yang hadir namun tidak dapat mengikuti kegiatan
dengan baik dikarenakan kesibukannya.
Waktu pelaksanaan pada malam hari (19.00) menyebabkan beberpa rundown
acara dilaksanakan secara terburu-buru dan singkat.
Peluang :
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan kader dan warga mengenai
penyakit TB dan peran serta tugasnya sebagai kader anti TB sehingga kader dapat
meneruskan wawasan yang telah diperolehnya pada warga sekitarnya dan kader lain
yang saat itu tidak dapat mengikuti kegiatan ini, serta secara tidak langsung
meningkatkan angka cakupan CDR (Case Detection Rate)

Analisis tingkat keberhasilan program :
Program ini dinilai cukup berhasil karena beberapa faktor:
Kegiatan diikuti secara tertib oleh seluruh peserta yaitu kader kesehatan Dusun
Rambaan serta warga RT 1 RW 3 Dusun Rambaan, peserta yang hadir
sebanyak 20 orang.
Jumlah peserta yang hadir ini sudah memenuhi lebih dari 50% target (dari jumlah
total target ibu-ibu PKK di RT 1 RW 3 Dusun Rambaan sebanyak 27 orang)
dikarenakan kegiatan ini dilakukan bersamaan waktunya dengan adanya
pernikahan salah satu warga RT 1 RW 3 Dusun Rambaan.
Antusiasme peserta terhadap materi yang diberikan cukup baik, hal ini
dikarenakan penyajian materi yang mudah dimengerti, bahasa yang digunakan
adalah bahasa sehari-hari, dan penyajiannya menarik dengan menggunakan
LCD dibantu oleh pembagian leaflet bergambar kepada tiap peserta.
Kader menggunakan teknik diskusi dengan penjelasan singkat dan lebih banyak
menggali pengetahuan dan pengalaman peserta dengan memberi pertanyaan
mengenai materi yang telah diberikan, kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab.
Penyuluhan dan pelatihan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh
hampir semua peserta, hal ini dibuktikan dari data yang diperoleh bahwa terjadi
40

peningkatan jumlah peserta yang pengetahuannya baik, yaitu dari 20% peserta
menjadi 80% peserta (terjadi peningkatan 4 kali lipat).

Pelajaran yang dapat diambil :
Peserta adalah para kader kesehatan secara umum, tidak ada kader kesehatan
khusus untuk anti TB, sehingga kader-kader tersebut perlu diberikan pemahaman lebih
mendalam mengenai TB dan tanggung jawabnya dalam berperan meningkatkan
angka cakupan CDR.

5.3 Penyuluhan TB (Tuberculosis), Pelatihan Batuk dan Dahak, Peragaan Senam Paru

Waktu Pelaksanaan : 06 November 2012
Tempat : Rumah bapak RW 3 Dusun Rambaan Desa Landungsari
Peserta : Ibu- ibu PKK RT 2 dan 3 di Dusun Rambaan Desa Landungsari
Tujuan Kegiatan :
1. Memberi informasi tentang tuberculosis
2. Memberikan pelatihan batuk dan dahak
3. Memberikan peragaan senam paru
Manfaat Kegiatan : Masyarakat mengetahui penyebab tuberculosis, mengetahui gejala
dan pencegahannya
Target Kegiatan : Meningkatkan angka CDR Tuberculosis di wilayah cakupan
Puskesmas Dau sampai 70% sampai akhir 2012
Jadwal Kegiatan :
06 November 2012
15.15 : Berangkat dari Puskesmas Dau menuju rumah Bapak RW 03
Dusun Rambaan Desa Landungsari
15.45-16.15 : Persiapan presentasi dan perkenalan diri
16.15-16.45 : Presensi kehadiran dan pembagian pretest pada warga.
16.45-17.00 : Pengerjaan Pretest dan pengumpulan hasil pretest.
17.00-17.35 : Presentasi penyuluhan TB termasuk pemutaran video, pelatihan
batuk dan dahak serta peragaan senam paru
17.35-17.45 : Tanya jawab, kuis interaktif dan doorprize
17.45-18.00 : Post test dan pembagian souvenir pada warga
18.00 : Acara selesai dan persiapan dan kembali ke puskesmas Dau


41

Pencapaian hasil :
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan penyuluhan tentang TB dilakukan
pre dan post test yang terdiri dari 15 soal. Diberikan indikator keberhasilan baik dan kurang,
dikatakan baik jika, peserta dapat menjawab soal 10. Sebelum dilakukan penyuluhan
tentang TB hasilnya adalah peserta menjawab benar < 10 soal adalah 100%. Setelah
pelaksanaan penyuluhan didapatkan data bahwa 81% peserta menjawab benar 10 soal
dan 19% peserta menjawab benar < 10 soal.

Peserta pre-test post test
1 26 46,67
2 40 40
3 40 40
4 33 40
5 60 80
6 33 80
7 33 80
8 60 80
9 60 73
10 60 73
11 60 73
12 53,3 73
13 53,3 73
14 53,3 73
15 53,3 73
16 53,3 73
17 53,3 73
18 53,3 66,67
19 53,3 66,67
20 53,3 73
21 53,3 73

Pelaksanaan kegiatan :
Situasi pelaksanaan :
Pemilik rumah (bapak RW 03) bersikap ramah dan menyambut penyuluhan dengan
baik. Kondisi ruangan yang terbatas dan dibatasi dengan sekat walaupun mampu
42

menampung seluruh peserta dan penyuluh tetapi peserta terpaksa terbagi menjadi
dua kelompok di ruangan sebelah. Penyuluhan diadakan sore hari, peserta duduk
diatas karpet yang digelar di dalam ruangan menghadap proyektor yang diletakkan di
depan ruangan. Presentator berada di depan proyektor di depan peserta dan mampu
menguasai peserta. Peserta terlihat sangat antusias dalam menerima materi dan
tanya jawab saat penyuluhan.
Analisa Kelebihan :
Penyuluhan berjalan lancar dan sangat kondusif. Penyuluhan disampaikan
dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga dapat dengan mudah diterima
oleh warga.
Antusiasme warga yang baik membuat penyuluhan lebih hidup dan beberapa kali
warga melontarkan pertanyaan dan pernyataan terkait dengan materi yang
diberikan
Pembagian leaflet dan stiker membuat warga lebih memahami yang disampaikan
oleh presentator
Hambatan :
Waktu pelaksanaan yang tidak sesuai dengan waktu yang direncakan karena
menunggu warga yang hadir di acara PKK.
Tidak semua warga datang mengikuti kegiatan penyuluhan TB, kegiatan ini
dilakukan bersamaan dengan acara PKK warga RT 02 dan 03 RW 03. Selain itu
Desa Landungsari tidak memiliki tempat yang memadai untuk menyelenggarakan
kegiatan yang dapat menampung orang banyak.
Sulitnya mengatur waktu yang tepat untuk melaksanakan penyuluhan karena
kesibukan warga sehari- hari
Peragaan senam yang dilakukan tidak optimal karena terbatasnya ruangan
Kader tidak bisa hadir dalam acara dikarenakan kesibukan masing-masing
Peluang :
Warga RT 02 dan 03 RW 3 Dusun Rambaan Desa Landungsari sangat terbuka dan
sangat antusias kepada dokter muda yang akan datang ke dusunnya sehingga sangat
memudahkan untuk memberikan intervensi

Analisis tingkat keberhasilan program :
Program ini dinilai cukup berhasil karena beberapa faktor:
Kegiatan diikuti secara tertib oleh seluruh peserta, jumlah peserta yang hadir ini
sudah memenuhi lebih dari 50% target (dari jumlah total target ibu-ibu PKK di RT
02 dan 03 RW 3 Dusun Rambaan sebanyak 30 orang)
43

Antusiasme peserta terhadap materi yang diberikan cukup baik, hal ini
dikarenakan penyajian materi yang mudah dimengerti, bahasa yang digunakan
adalah bahasa sehari-hari, dan penyajiannya menarik dengan menggunakan
LCD dibantu oleh pembagian leaflet bergambar dan stiker kepada tiap peserta.
Penyuluh menggunakan teknik diskusi dengan penjelasan singkat dan lebih
banyak menggali pengetahuan dan pengalaman peserta dengan memberi
pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan, kemudian dilanjutkan sesi
tanya jawab.
Penyuluhan dan pelatihan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh
hampir semua peserta, hal ini dibuktikan dari data yang diperoleh bahwa terjadi
peningkatan jumlah peserta yang pengetahuannya baik, yaitu dari 0% peserta
menjadi 81% peserta (terjadi peningkatan 8 kali lipat).
Ketika dilaksanakan kuis interaktif, semua pertanyaan mampu dijawab oleh
warga yang hadir. Dan warga sangat antusias dalam sesi kuis interaktif yang
ditandai dengan warga yang berebut untuk menjawab kuis.

Pelajaran yang dapat diambil :
Sebelum dilakukan penyuluhan sebaiknya dilakukan survei tempat dan kondisi
ruangan yang akan dijadikan tempat menyuluh sehingga penyuluh mempunyai gambaran
untuk menempatkan posisi proyektor, presentator dan mobilisasi warga agar bisa tercakup
semua dalam penyuluhan.











44

BAB VI

TINJAUAN PUSTAKA




6.1 Tuberkulosis

6.1.1 Epidemiologi
Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis. Berdasarkan data WHO, diperkirakan telah terjadi 8,8 juta kasus baru pada
tahun 2010 (berkisar antara 8,5 9,9 juta) dengan rasio 128 kasus tiap 100.000 penduduk.
Diperkirakan, angka prevalensi TB paru berjumlah 12 juta kasus (berkisar antara 11 juta
sampai 14 juta). (3)
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia paling produktif secara ekonomis ( 15-
50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata rata waktu
kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan
rumah tangganya sekitar 20 30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan
pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan
dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. (3)
Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:
Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara negara
yang sedang berkembang
Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh:
Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan.
Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh
masyarakat, penemuan kasus atau diagnosis yang tidak standar, obat tidak
terjamin penyediannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan
pelaporan yang standar, dan sebagainya).
Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan panduan obat yang
tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis).
Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG.
Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara negara yang mengalami
krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.
Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan
struktur
Dampak pandemi infeksi HIV
45

(10)
Situasi TB di dunia semakin membururk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak
yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22
negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada
tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency).
Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi TV dengan
HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama,
kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin
menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada
akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. (3)
Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien
TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah
pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan pada tahun 2004,
setiap tahun ada 593.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insiden kasus TB BTA
positif sekitar 110 per 100.000 penduduk. (10)

6.1.2 Penularan TB
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya. (11)
6.1.2.1 Cara Penularan
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif
2. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar
3.000 percik dahak
3. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada
dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, semantara
sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan
selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
4. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut.
5. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh
konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.(11)


46

6.1.2.2 Resiko Penularan
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB
paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari
pasien TB paru dengan BTA negatif
Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis
Infection (ARTI) yaitu proporsi yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI
sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk TB dibuktikan
dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. (3)
6.1.2.3 Resiko menjadi sakit TB
Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB
Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata rata terjadi 1.000
terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.
Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya
tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk)
(10)
6.1.3 Gambaran Penyakit Tuberkulosis Paru
Penyakit Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang menyerang paru paru,
penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Miko bakteria adalah bakteri
aerob, berbentuk batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun tidak mudah diwarnai,
jika telah diwarnai bakteri ini tahan terhadap peluntur warna (dekolarisasi) asam atau
alkohol, oleh karena itu dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan asam. (12)
Apabila seseorang terpapar dengan bakteri penyebab tuberkulosis akan berakibat
buruk seperti menurunkan daya kerja atau produktivitas kerja, menularkan kepada orang
lain terutama pada keluarga yang bertempat tinggal serumah, dan dapat menyebabkan
kematian. Jaringan yang paling sering diserang pada penyakit ini adalah paru paru
(95,5%). Cara penularan melalui ludah atau dahak penderita yang mengandung basil
tuberkulosis paru. Pada waktu batuk butir butir air ludah beterbangan di udara dan
terhisap oleh orang yang sehat dan masuk kedalam paru parunya yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru (TB paru). (10)
Mycobacterium Tuberculosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam
keadaan dingin, atau dapat hidup bertahun tahun dalam lemari es. Kuman dapat berada
dalam sifat dormant (tidur). Pada saat ini kuman tersebut suatu saat dimana keadaan
memungkinkan untuk berkembang, kuman ini dapat bangkit kembali. Tanda tandanya
seperti di bawah ini:
Batuk berdahak lebih dari dua minggu
47

Batuk mengeluarkan datah atau pernah mengeluarkan darah
Dada terasa sesak atau nyeri
Terasa sesak saat bernafas
(10)
Adapun masa tunas (masa inkubasi) penyakit tubercukosis paru adalah mulai dari
terinfeksi sampai pada lesi primer muncul, sedangkan waktunya berkisar antara 4 12
minggu untuk tuberkulosis paru. Pada pulmonair progresif dan ekstrapulmonar, tuberkulosis
biasanya memakan waktu lebih lama sampai beberapa tahun. (11)
Beberapa kasus tanpa pengobatan atau dengan pengobatan tidak adekuat mungkin
akan terjadi kumat kumatan dengan sputum positif selama beberapa tahun. Tingkat atau
derajat penularan tergantung kepada banyaknya basil tuberkulosis dalam sputum, vilurensi
atas basil dan peluang adanya pencemaran udara dari batuk, bersin dan berbicara keras
secara umum. Kepekaan untuk terinfeksi penyakit ini adalah semua penduduk. Kepekaan
tertinggi pada anak kurang dari tiga tahun terendah pada anak akhir usis 12 13 tahun, dan
dapat meningkat lagi pada umur remaja dan awal tua. (12)

6.1.4 Morfologi dan identifikasi Mycobacterium Tuberkulosis
1. Bentuk
Mycobacterium Tuberculosis berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan
ukuran 0,2-0,4x 1-4um. Perwarnaan Zheil-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri
tahan asam. (11)
2. Penanaman
Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan
kadang-kadang setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37
0
C, tidak tumbuh pada suhu 25
0
C
atau lebih dari 40
0
C. medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstain-Jensen.
PH optimum 6,4-7,0. (11)
3. Sifat-sifat
Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6
0
C selama 15-20 menit. Biakan
dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam. Dalam dahak dapat bertahan
20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biakan
basil ini dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dalam
suhu 20
0
C selama 2 tahun. Mycobakterium tahan terhadap berbagai chemicalia dan
disinfektan antara lain : phenol 5%, asam sulfat 15% ,asam sitrat 3% dan NaOH 4%. Basil
ini dihancurkan oleh yodium tincture dalam 5 menit, dengan alcohol 80% akan hancur dalam
2-10 menit (11)

48

6.1.5 Pemeriksaan Laboratorium
1. Bahan Pemeriksaan
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diperhatikan waktu pengambilan ,
tempat penampungan, waktu penyimpanan dan cara pengiriman bahan pemeriksaan. Pada
pemeriksaan laboratorium tuberculosis ada beberapa macam bahan pemeriksaan yaitu (1):
Sputum (dahak), harus benar-benar dahak, bukan ingus dan juga bukan ludah. Paling
baik adalah sputum pagi hari pertama kali keluar. Kalau sukar dapat sputum yang
dikumpulkan selama 24 jam (tidak lebih 10 ml). tidak dianjurkan sputum yang
dikeluarkan ditempat pemeriksaan.
Air kemih, urin pagi hari, pertama kali keluar, merupakan urin pancaran tengah.
Sebaiknya urin kateter.
Air kuras lambung, umumnya anak anak atau penderita yang tidak dapat
mengeluarkan dahak. Tujuan dari kuras lambung untuk mendapatkan dahak yang
tertelan. Dilakukan pagi hari sebelum makan dan harus cepat dikerjakan. Bahan
bahan lain, misalnya nanah, airan cerebrospinal, cairan pleura, dan usapan
tenggorokan.
2. Cara pemeriksaan laboratorium
a. Mikroskopik, dengan pewarnaan ziehl neelsen dapat dilakukan identifikasi bakteri
tahan asam, dimana bakteri akan terbagi menjadi dua golongan :
Bakteri tahan asam, adalah bakteri pada pengecatan ZN tetap mengikat warna
pertama, tidak luntur oleh asam dan alcohol, sehingga tidak mampu mengikat
warna kedua. Di bawah mikroskop tampak bakteri berwarna merah dengan
warna biru muda.
Bakteri tidak tahan asam, dalah bakteri yang pada pewarnaan ZN, warna
pertama, yang diberikan dilunturkan oleh asam dan alcohol, sehingga bakteri
akan mengikat warna kedua. Dibawah mikroskop tampak bakteri berwarna biru
tua dengan dasar biru yang lebih muda.
b. Kultur (biakan) Media yang biasa dipakai adalah media padat Lowestain Jensen. Dapat
pula Middlebrook JH 11, juga suatu media padat. Untuk perbenihan kaldu dapat dipaki
Middlebrook JH9 dan JH 12.
c. Uji kepekaan kuman terhadap obat-obatan anti tuberculosis, tujuan dari pemeriksaan
ini, mencari obat-obatan yang poten untuk terapi penyakit tuberkulosis.
(11)



49

6.1.6 Pencegahan Penyakit TBC-Paru
Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat dan petugas
kesehatan (1)

6.1.6.1 Pengawasan penderita, Kontak dan Lingkungan
1. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan
membuang dahak tidak disembarangan tempat.
2. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan terhadap bayi harus
diberikan vaksin BCG
3. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang
antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat penyakit yang ditimbulkannya
4. Isolasi, pemeriksaan kepada orang-orang yang terinfeksi, pengobatan khusus TBC
pengobatan rawat inap di rumah sakit hanya bagi penderita yang kategori berat yang
memerlukan pengembangan program pengobatannya yang karena alas an alasan
social ekonomi dan medis untuk tidak dikehendaki pengobatan jalan.
5. Dis infeksi, cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, perlu
perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, hundry, tempat tidur,
pakaian) ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.
6. Imunisasi orang-orang kontak. Tidakan pencegahan bagi orang-orang sangat dekat
(keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan lainnya yang terindikasi
dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.
7. Penyelidikan orang-orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga
dengan foto rotgen yang bereaksi positif, apabila cara-cara ini negative, perlu diulang
pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu penyelidikan intensif
8. Pengobatan khusus. Penderita dengan TB aktif perlu pengobatan yang tepat. Obat-
obatan kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum dengan tekun dan
teratur, waktu yang lama (6 atau 12 bulan). Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-
obatan dengan pemeriksaan penyelidikan oleh dokter.
(13)
6.1.6.2 Tindakan Pencegahan
1. Status social ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti
kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
2. Tersedia sarana sarana kedokteran, pemeriksaan penderita, kontak atau suspek
gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak,
suspek, perawatan.
50

3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit
inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.
4. BCG, vaksisnasi, diberikan pertama tama kepada bayi dengan perlindungan bagi
ibunya dan keluarganya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut
berupa tempat pencegahan.
5. Memberantas penyakit TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi, dan
pasteurisasi air susu sapi.
6. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karena menghirup udara yang
tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya
7. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru
8. Pemeriksaan screening dengan tuberculin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti
para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit,
petugas/guru disekolah, petugas foto rontegn.
9. Pemeriksaan foto rontegn pada orang-orang yang positif dari hasil pemeriksaan
tuberculin test.
(14)
6.1.7 Pengendalian, Pengobatan dan Penyuluhan yang dilaksanakan Pada Penderita
TBC
6.1.7.1 Pengendalian Penderita Tuberkulosis
1. Petugas dari puskesmas harus mengetahui alamat rumah dan tempat kerja penderita
2. Petugas turut mengawasi pelaksanaan pengobatan agar penderita tetap teratur
menjalankan pengobatan dengan jalan mengingatkan penderita yang lain. Disamping
itu agar menunjuk seorang pengawas pengobatan dikalangan keluarga
3. Petugas harus mengadakan kunjungan berkala kerumah-rumah penderita dan
menunjukan perhatian atas kemajuan pengobatan serta mengamati kemungkinan
terjadinya gejala sampingan akibat pemberian obat.
(14)
6.1.7.2 Pengobatan Penderita Tuberkulosis
1. Penderita yang dalam dahaknya mengandung kuman dianjurkan untuk menjalani
pengobatan di puskesmas
2. Petugas dapat memberikan pengobatan jangka pendek dirumah bagi penderita
secara darurat atau karena jarak tempat tinggal penderita dengan puskesmas cukup
jauh untuk bisa berobat secara teratur
3. Melaporkan adanya gejala sampingan yang terjadi, bila perlu penderita dibawa ke
puskesmas
(14)
51

6.1.7.3 Penyuluhan Penderita Tuberkulosis
1. Petugas baik dalam masa persiapan maupun dalam waktu berikutnya secara berkala
memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas melalui tatap muka, ceramah dan
massa media yang tersedia diwilayahnya, tentang cara pencegahan TB-paru
2. Memberikan penyuluhan kepada penderita dan keluarganya pada waktu kunjungan
rumah dan memberi saran untuk terciptanya rumah sehat, sebagai upaya mengurangi
penyebaran penyakit.
3. Memberikan penyuluhan perorangan secara khusus kepada penderita agar penderita
mau berobat rajin teratur untuk mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain.
4. Menganjurkan, perubahan sikap hidup masyarakat dan perbaikan lingkungan demi
tercapainya masyarakat yang sehat
5. Menganjurkan masyarakat untuk melapor apabila diantara warganya ada yang
mempunyai gejala-gejala penyakit TB paru
6. Berusaha menghilangkan rasa malu pada penderita oleh karena penyakit TB paru
bukan bagi penyakit yang memalukan, dapat dicegah dan disembuhkan seperti
halnya penyakit lain.
7. Petugas harus mencatat dan melaporkan hasil kegiatannya kepada koordinatornya
sesuai formulir pencatatan dan pelaporan kegiatan kader.
(15)

6.1.8 Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia
Setelah perang kemerdekaan, TB ditanggulangi memlalui Balai pengobatan Penyakit
Paru-Paru (BP-4). Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui
puskesmas. Obat anti tuberculosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH, PAS
dan Streptomosin selama satu sampai dua tahun. Para amino acid (PAS) kemudian diganti
dengan Pirazinamid. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri
dari INH, Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Sejak tahun 1995, program nasional
penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam
pelayanan kesehatan dasar. Di Indonesia, TB masih merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat (10)
Indonesia sampai saat ini, merupakan Negara dengan pasien TB terbanyak ke 3
dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari
total jumlah pasien TB didunia. Tahun 1995, hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
menunjukan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomer 3 setelah penyakit
kardiovaskular dan penyakit saluran pernafasan pada kelompok usia, dan nomor 1 dari
golongan penyakit infeksi. Sampai tahun 2005, program penanggulangan TB dengan
52

strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas, sementara RS dan BP-4/RSP baru sekitar
30%. (10)
6.1.8.1 Kebijakan
a) Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan desentralisasi dengan
kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi : perencanaan,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya
(dana, tenaga, sarana, dan prasarana)
b) Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS
c) Penguatan kebijakan utnuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program
penanggulangan TB
d) penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan
mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga
mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB
e) Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh
seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputi puskesmas rumah sakit
f) Pemerintah dan swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai pengobatan penyakit Paru-
paru (BP4), klinik pengobatan lain serta dokter praktek swasta (DPS).
g) Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi, penggalangan kerja sama dan
kemitraan dengan program terkait, sector pemerintah, non pemerintah dan swasta
dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB)
h) Peningkatan kemampuan laboratorium di berbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk
peningkatan mutu pelayanan dan jejaring.
i) Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien
secara Cuma-Cuma dan dijamin ketersediaannya.
j) Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai
untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program.
k) Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok
rentan terhadap TB
l) Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya.
m) Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam millennium
Develpoment Goals (MDGs)
(10)
6.1.8.2 Strategi
a) peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan
sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas
53

b) Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara
bertahap dan sistematis
c) Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan
advokasi, komunikasi dan mobilisasi sosial
d) Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan
sumber daya.
e) Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervise, pemantauan
dan evaluasi yang berkesinambungan
(10)

6.1.8.3 Kegiatan
a. Penemuan dan pengobatan
b. Perencanaan
c. Pemantauan dan Evaluasi
d. Peningkatan SDM (pelatihan, supervisi)
e. Penelitian
f. Promosi
g. Kemitraan
(10)
6.1.8.4 Analisa Hasil Pencatatan dan Pelaporan
a. Angka Jaringan suspek
Angka penjaringan suspek adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara
100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk
mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu,
dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu. (10)
Rumus :
Jumlah suspek yang diperiksa dahak x 100.000
Jumlah penduduk
Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB.06). UPK
yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk, misalnya rumah sakit, BP4 atau dokter
praktek swasta, indikator ini tidak dapat dihitung. (10)
b. Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara suspek
Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara suspek adalah persentase pasien BTA
positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini
menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien serta kepekaan
menetapkan kriteria suspek. (10)
54

Rumus :
Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan x 100%
Jumlah seluruh suspek yang diperiksa
Angka ini sekitar 5-15%. Bila angka ini terlalu kecil (<5%) kemungkinan disebabkan oleh :
- Penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak orang yang tidak memenuhi criteria suspek,
atau
- Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negative palsu)
Bila angka ini terlalu besar (>15%) kemungkinan disebabkan :
- Penjaringan terlalu ketat atau
- Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).
(10)
c. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara semua pasien TB Paru Tercatat
Proporsi pasien TB Paru BTA positif diantara semua pasien TB Paru Tercatat adalah
persentase pasien Tuberkulosis paru BTA Positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru
tercatat. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang
menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati.(DEPKES RI, 2006)
Rumus :
Jumlah pasien TB BTA Positif (Baru+Kambuh) x 100%
Jumlah pasien TB BTA Positif (Baru+Kambuh) dan jumlah pasien BTA Negatif
Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Bila angka ini jauh lebih rendah, itu
berarti mutu diagnosis rendah, dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien
yang menular (Pasien BTA Positif). (10)
d. Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB
Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB adalah presentase pasien TB
anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat.(DEPKES RI,2006)
Rumus :
Jumlah Pasien TB Anak (<15 tahun) yang ditemukan x 100%
Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat
Angka ini sebagai salah satu indicator untuk menggambarkan ketepatan dalam
mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini terlalu besar dari 15%,
kemungkinan terjadi overdiagnosis. (10)
e. Angka Konversi (Conversion Rate)
Angka konversi adalah presentase pasien TB paru BTA Positif yang mengalami
konversi menjadi BTA negative setelah menjalani masa pengobatan intensif. Angka konversi
dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien, BTA positif baru dengan pengobatan
kategori-1, atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. Indikator ini berguna
55

untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk
mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar (10)
Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif :
Jumlah pasien TB baru BTA positif yang konversi x 100%
Jumlah pasien TB baru BTA positif yang diobati
Di UPK, indicator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara me-
review seluruh kartu pasien BTA psotif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya,
kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negative, setelah
pengobatan intensif (2 bulan). Di tingkat kabupaten, propinsi dan pusat, angka ini dengan
mudah dapat dihitung dari laporan TB11. (10)
Angka minimal yang harus dicapai adalah 80%. Angka konversi yang tinggi akan
diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. Selain dihitung angka konversi pasien
baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA
positif yang mendapat pengobatan kategori 2. (10)
f. Angka Kesembuhan (Cure Rate)
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA
positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien TB BTA positif yang
tercatat. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang
mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori
2. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. (10)
Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1.
Jumlah pasien baru BTA positif yang sembuh x100%
Jumlah pasien baru BTA positif yang diobati
Di UPK, indicator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.0.1, yaitu dengan cara me-
review seluruh kartu pasien baru BTA positif yang mulai berobat dalam 9-12 bulan
sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh, setelah selesai
pengobatan. DI tingkat kabupaten, propinsi dan pusat, angka ini dengan mudah dapat
dihitung dari laporan TB.08. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka
kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan (10)
Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%, maka harus ada informasi dari hasil
pengobatan lainnya, yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan
lengkap,default (drop out atau lalai), gagal, meninggal, dan pindah keluar. Angka default
tidak boleh lebih dari 10%, sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak
boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat, dan tidak boleh
lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. (10)

56

g. Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR)
Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan disbanding
jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detction
Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah
tersebut.(DEPKES RI,2006)
Rumus :
Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 x 100%
Perkiraan umlah pasien TB baru BTA positif
Target Case Detection Rate Program Penanggulangan TB Nasional minimal 70%. (10)
h. Angka Keberhasilan Pengobatan
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase TB BTA positif
yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara
pasoen TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan
dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. (10)

6.2 Analisis Solusi Pemecahan Masalah Kesehatan
Surveilans merupakan kegiatan pemantauan berkesinambungan terhadap beberapa
indikator untuk dapat melakukan deteksi dini adanya masalah kesehatan yang mungkin
timbul agar dapat melakukan tindakan atau intervensi sehingga keadaan yang lebih buruk
dapat dicegah. Manfaat dari pemantauan antara lain :
1. Mengetahui luas dan beratnya masalah pada situasi terakhir
2. Mengetahui daerah yang harus mendapat prioritas
3. Memperkirakan kebutuhan sumberdaya yang diperlukan untuk intervensi
4. Mengetahui target sasaran yang paling tepat
5. Mengevaluasi keberhasilan program
Dalam konteks penanganan TB, maka surveilans memegang peranan yang penting.
Karena dengan adanya surveilans penderita TB, maka sudah merupakan langkah awal
dalam kegiatan program penanggulangan TB. Di samping itu, penemuan dan
menyembuhkan pasien TB yang menular di masyarakat sekaligus merupakan kegiatan
pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyrakat. (10)
Sebelum melakukan intervensi di masyarakat, baik berupa penyuluhan kesehatan
ataupun kegiatan lain yang melibatkan masyarakat, maka perlu dipersiapkan metode
intervensi yang akan digunakan, analisis situasi, dan memilih masalah yang menjadi
prioritas. Dalam proses persiapan ini juga diperlukan adanya suatu alternatif pemecahan
permasalahan. Pencarian alternatif pemecahan masalah ini berguna sebagai pertimbangan
metode trerbaik yang akan digunakan dalam intervensi. (10)
57

Penentuan akar permasalahan yang ada dalam terjadinya masalah berupa rendahnya
cakupan CDR TB di Kecamatan Dau terlebih dahulu dilakukan, dengan tujuan untuk
menentukan intervensi apa yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akar-
akar permasalahan, kami dapatkan dengan cara mengolah data primer yang diperoleh
dengan cara melakukan survei dan kunjungan ke rumah-rumah warga RW.03 Dusun
Rambaan, Desa Landungsari, sebagai daerah sasaran dimana program akan dijalankan.
Pengumpulan data primer dilakukan selama beberapa hari. Setelah proses pengumpulan
dilakukan, data selanjutnya dianalisa dan disimpulkan dalam bentuk diagram fishbone.
Diagram fishbone menunjukkan akar permasalahan serta hubungan antar akar
permasalahan masalah yang diperoleh Akar-akar permasalahan yang kami peroleh
sebagian besar merupakan faktor dari manusia (baik warga atau kader) berupa kurangnya
penyuluhan serta pelatihan bagi kader dan warga, tentang TB itu sendiri dan faktor lain yang
berpengaruh (cara batuk dan membuang dahak).
Mengingat beban masalah TB yang tinggi, maka dalam penanganannya bisa
memerlukan bantuan dari mitra kerja yang telah dipilih. Mitra kerja yang ditunjuk diharapkan
bisa meneruskan program penanggulangan TB. Mitra yang dipilih bisa melibatkan segala
aspek sosial dalam masyarakat, mulai dari organisasi pemerintahan sampai dengan
masyarakat biasa. (10)
Program yang kami lakukan adalah dengan memaksimalkan peran serta masyarakat
dalam peningkatan jumlah penderita TB baru dengan BTA (+). Dengan memberikan
pengetahuan dasar tentang penyakit TB, serta gejala klinis orang orang yang dicurigai
menderita penyakit TB. Setelah diberikan penyuluhan diharapkan warga menjadi aktif untuk
mencari suspek suspek TB di lingkungan sekitarnya dan membawanya ke Puskesmas
untuk dilakukan pemeriksaan .
Pemilihan metode promosi kesehatan ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu waktu,
lingkungan, sasaran, target, serta outcome yang ingin dicapai. Faktor-faktor yang
berpengaruh dalam intervensi yang kami lakukan kali ini antara lain, adanya keterbatasan
waktu, besarnya lingkup sasaran intervensi, jumlah kader kesehatan yang minim dan
terbatas, serta faktor lingkungan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kami memilih metode pelatihan dan penyuluhan
mengenai TB dalam promosi kesehatan dengan konsep PEKAT-WALANG SANGIT
(Penyuluhan dan Pelatihan Kader anti-TB demi mewujudkan Warga Landungsari yang sadar
dan ingat TB). Promosi kesehatan yang dilakukan, dikemas dalam bentuk yang menarik
agar mudah dimengerti oleh sasaran. Promosi kesehatan yang dilakukan disampaikan
dengan bahasa yang mudah dimengerti, disertai dengan pemutaran video-video, kuis
58

interaktif dengan peserta, pemberian hadiah dan doorprize, pelatihan dan peragaan yang
langsung kami lakukan bersama-sama dengan peserta
Cakupan CDR (Case Detection Rate)-TB yang rendah di Kecamatan Dau dapat
disebabkan oleh beberapa hal, yaitu rendahnya pengetahuan warga tentang TB yang
nantinya akan menyebabkan kurangnya kesadaran warga untuk berobat, adanya warga
yang berobat ke pusat kesehatan lain (Rumah Sakit/Dokter Umum), serta asumsi jumlah
penderita TB yang rendah.
Dari ketiga faktor di atas, kami mengangkat permasalahan mengenai rendahnya
pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei yang
telah dilakukan, dimana 95% warga memiliki pengetahuan yang kurang tentang TB.
Intervensi yang dilakukan memiliki sasaran utama warga RW 03, Dusun Rambaan, Desa
Landungsari Kecamatan Dau. Selama intervensi yang dilakukan, kami mengalami beberapa
kendala di lapangan. Kendala-kendala tersebut kebanyakan disebabkan karena
keterbatasan waktu. Waktu yang memungkinkan untuk dilakukannya penyuluhan adalah
mengikuti kegiatan warga dengan harapan kehadiran dapat memenuhi target. Kegiatan
warga yang diikuti hanya berupa kegiatan ibu-ibu PKK yang rutin diadakan setiap minggu,
sehingga intervensi hanya dapat dilakukan kepada ibu-ibu.
Selain itu, hambatan lain yang ditemui adalah kesulitan untuk melakukan intervensi
dengan cakupan yang lebih besar. Sehingga kami harus melakukan intervensi di beberapa
tempat yang berbeda dengan materi yang sama agar bisa mencapai target sasaran minimal.
Munculnya kendala ini disebabkan beberapa hal, antara lain adanya konflik internal antar
warga, sehingga menyulitkan kami untuk
Keberhasilan program intervensi ini bisa dilihat dari peningkatan nilai post test yang
diraih dan dibandingkan dengan nilai pre test serta antusiasme warga selama mengikuti
program penyuluhan. Hasil nilai post test yang meningkat dibandingkan dengan nilai pre test
dapat mencerminkan pengetahuan yang telah didapat setelah mengikuti kegiatan
penyuluhan. Antusiasme warga dapat diukur melalui jumlah warga yang hadir dan juga
tingkat partisipasi peserta selama waktu penyuluhan.
Berdasarkan tingkat keberhasilan yang ada, dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang
telah dilakukan cukup berhasil.







59

BAB VII
KESIMPULAN dan SARAN


7.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan pengolahan data primer, didapatkan masalah utama yang menjadi
permasalahan komunitas Dusun Rambaan Desa Landungsari, yaitu rendahnya cakupan
CDR (Case Detection Rate) Tuberkulosis dalam jangka waktu bulan Januari hingga
September 2012. Dimana terdapat 2 kasus TB baru dalam jangka waktu yang sama.
Dengan demikian dapat ditegakkan diagnosis komunitas pada Dusun Rambaan adalah
cakupan CDR-TB.
Dari data sekunder yang diperoleh melalui survei (wawancara langsung dan
kuesioner) dengan warga Dusun Rambaan, didapatkan hasil berupa prioritas intervensi
yang akan dilakukan pada warga Dusun Rambaan berupa penyuluhan terkait masalah TB,
imunisasi BCG, pelatihan senam paru dan cara batuk dan berdahak yang benar. Kegiatan
dilakukan sebanyak 3 kali dengan objek sasaran kader kesehatan, warga, dan pihak
Puskesmas Dau. Kegiatan intervensi dilakukan dengan mengikuti konsep PEKAT-WALANG
SANGIT (Pelatihan dan Penyuluhan Kader Anti-TB demi mewujudkan Warga Landungsari
Sadar dan Ingat TB).
Dari hasil evaluasi jangka pendek pada intervensi yang telah dilakukan, terdapat
peningkatan pengetahuan dan kesadaran kader dan warga mengenai TB, imunisasi BCG,
alur pelayanan kesehatan, dan keterampilan mengenai cara batuk dan berdahak yang benar
serta senam paru. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan kehadiran warga pada
saat penyuluhan, peningkatan nilai post test sebanyak >50% dari total seluruh warga yang
mendapat penyuluhan, baik oleh kader kesehatan TB maupun penyuluhan oleh dokter
muda, serta antusiasme warga dalam mengikuti penyuluhan, sehingga dapat disimpulkan
bahwa intervensi yang dilakukan telah berhasil dan memuhi target sasaran.

7.2 Saran

Kegiatan pemberdayaan kader anti-TB yang telah dilakukan, dapat terus dipantau
keberhasilannya, terutama dengan adanya penyuluhan berkala yang dapat dilakukan oleh
kader pada warga. Kegiatan pemberdayaan kader tidak hanya dilakukan sekali, tetapi
secara berkala untuk meningkatkan peran serta kader yang telah ada dan juga
pembentukkan kader-kader anti-TB lain di desa-desa lain, di Kecamatan Dau, karena
60

masalah cakupan CDR-TB yang rendah merupakan masalah yang terjadi di Kecamatan
Dau. Kami juga menyarankan agar dibuat suatu sistem pelaporan pasien baru suspek TB,
dari kader-bidan/perawat desa-Puskesmas secara berkala, sehingga kinerja kader anti-TB
dapat dievaluasi.
























61

DAFTAR PUSTAKA

1. Pemeriksaan Mikroskopis Tuberkulosis. s.l. : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011.
2. Profil Puskesmas Dau Tahun 2011. Malang : Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, 2011.
3. Tuberculosis. [Online] 2011. [Cited: Oktober 5, 2012.] http://who.int/tuberculosis/.
4. Stalker, Peter. Millenium Development Goals. New York : United Nation Development Programs,
2008.
5. Program Pengendalian Penyakit Menular di jawa Timur. s.l. : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur,
2012.
6. Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Puskesmas Dau Periode Januari-September 2012.
Malang : Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, 2012.
7. Profil Kesehatan Kabupaten Malang. Malang : DInas Kesehatan Kabupaten Malang, 2012.
8. Profil Desa Landungsari. Malang : Kantor Desa Landungsari, 2011.
9. Sakaran, Uma. Research Method For Business. 4. Jakarta : PT. Salemba, 2006.
10. Trochem, Will. Probability Sampling. [Online] 2006. [Cited: Oktober 5, 2012.]
http://socialreasearchmethods.net.
11. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2006.
12. TUBERKULOSIS : Pedoman Penatalaksanaan dan Diagnosis di Indonesia. Jakarta : Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia (PDPI), 2011.
13. Mario C Raviglione, Richard J. O'Brien. Tuberculosis. [book auth.] Dennis L. Kasper, Dan L. Longo,
Eugene Braunwald, Stephen L. Hauser, J. Larry Jameson, Joseph Loscalzo Anthony S. Fauci. Harrison's
Principle of Internal Medicine. 17. New York : Mc Graw Hills, 2008, 158.
14. Windriyani, Anita. Program Penanggulangan TB di Puskesmas. Jakarta : s.n., 2007.
15. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penemuan Penderita TB Paru di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Rye, Awusi. 2, Yogyakarta : Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2009, Berita Kedokteran
Masyarakat, Vol. 25.
16. Munif, Arifin. Pemberantasan TB Paru . [Online] [Cited: Oktober 5, 2012.] http://helping people
ideas.com/publichealth/index.php/2012/09/pemberantasa-tb-paru/..
17. Permatasari, Amira. Pemberantasan Penyakit TB Paru dan Strategi DOTS. Medan : Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatra Utara, 2009.

62