Anda di halaman 1dari 13

Pure Plant Oil, Pemurnian Secara Fisika

Proses ini terdiri dari proses degumming, bleaching, dan deodorisasi. Proses pemurnian secara fisika
ini lebih sederhana daripada proses secara fisika, namun peralatan yang digunakan lebih rumit.
Untuk proses degumming dan bleaching hampir sama dengan proses secara kimia. Berikut ini
flowchart dari proses pemurnian secara fisika.

Yang membedakan proses fisika dan kimia adalah pada proses pemisahan FFA-nya, dalam kimia
proses yang digunakan yaitu neutralisasi dengan menambahkan zat kimia (larutan caustik),
kemudian terjadinya reaksi kimia antara FFA dan larutan caustic menjadi sabun. Sedangkan, dalam
fisika proses yang berlangsung dengan pemanasan dan kondisi vakum agar minyak tidak rusak pada
suhu tinggi.
Proses deodorisasi adalah proses destilasi vakum dengan steam pada temperatur dimana FFA dan
zat pembau dihilangkan untuk memperoleh minyak yang tidak berbau. Zat pembau adalah FFA,
aldehid, keton, peroksida, alcohol, dan komponen organik yang lain. (OBrien, hal 153)
Kondisi temperatur pada umumnya 250-280 oC dan kondisi vakum sekitar 2 torr 10 torr. Namun
semuanya harus dihitung dulu untuk menentukan kondisinya dengan pasti, tentu saja dengan
menggunakan perhitungan dew point minyak untuk memisah dengan FFA. Dalam buku Seader dan
Enerst halaman 17 dijelaskan bahwa semua steam akan menguap lewat overhead (tidak ada
kondensasi internal) dalam kondisi steady state, dimana sistem berada dalam kondisi titik dew point.
Proses deodorisasi ini dapat berlangsung secara batch, semi kontinyu, dan kontinyu. Selain itu,
kolom destilasi vakum yang digunakan untuk deodorisasi ini untuk tempat kontaknya dapat dengan
menggunakan tray maupun packed kolom. Semua spesifikasi ini tergantung pada kapasitas, biaya,
dan kegunaan. Pada umumya, bila diameter kolom kurang dari 1 meter, maka lebih ekonomis bila
menggunakan packed kolom.
Keunggulan pemurnian secara fisika ini yaitu:
Physical refining sesuai untuk minyak dengan FFA tinggi atau minyak kelapa sawit dan minyak sekam
padi.
Looses pada chemical refining, sangat tinggi, terutama minyak dengan FFA tinggi diproses secara
fisika (tanpa proses caustic). Proses-proses yang dilakukan yaitu degumming, bleaching, dan
deodorisasi, dengan kondisi operasi pada umumnya 0,5 torr vakum, dapat mengurangi FFA hingga
dibawah 0,1 % dan jernih tanpa bau.
Keuntungan physical refining adalah tidak menghasilkan sabun (seperti dalam proses kimia) yang
membutuhkan proses lebih lanjut. Namun langsung menghasilkan DFA (distilled fatty acid) by
product yang dapat langsung digunakan oleh pabrik sabun. Dan juga tidak memerlukan air pencucian
yang sangat baik untuk plant water treatment, sehingga bebas polusi.
(http://oiltekcanada.com/oilref.htm)
Mungkin untuk lebih sederhananya akan diterangkan dengan gambar di bawah ini.

Namun, dampak negatif dari teknologi deodorisasi yaitu:
1. degradasi thermal,
2. hidrolisis,
3. trans fatty acid formation,
4. positional isomerisation of PUFA (polyunsaturated fatty acid),
an poly
merisation (dimers).
Namun, sekarang proses deodorisasi ini komersil dan telah banyak digunakan dalam industri refining
minyak goreng. (Galz-dari berbagai sumber)
Sumber : http://sekotheng.wordpress.com
Proses pemurnian secara kimia ini, terdiri dari proses degumming, proses neutralisasi, dan proses
bleaching. Proses ini disebut kimia, karena proses yang dilakukan dengan penambahan bahan kimia.
Dan bila mengolah minyak kelapa sawit sebagai bahan baku, hasil yang diperoleh disebut NBDPO
atau kepanjangan dari Neutralized Bleached Deodorized Palm Oil. Berikut ini flowchart untuk
pemurnian secara fisika pada umumnya
Proses-proses yang terjadi dalam proses ini adalah:
1. Proses Degumming
Degumming adalah proses penghilangan gum (getah). Biasanya menggunakan asam phospat, karena
asam phospat ini dapat mengikat fosfor yang merupakan komposisi getah, kemudian
mengendapkannya. Proses ini disertai pemanasan untuk mengoptimalkan proses degumming,
biasanya pemanasan dilakukan sampai suhu sekitar 60oC. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa
proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air saja.
Pernah dulu, sewaktu tugas akhir, seorang rekan juga melakukan percobaan degumming minyak
jarak dengan menggunakan air dengan disertai pemanasan. Hasil yang menakjubkan gum berasal
dari minyak jarak tersebut mengendap di bawah, dan berwarna putih, dan minyak yang dihasilkan
lebih jernih. Namun, hal ini dirasa kurang efektif karena masih adanya sedikit gum dan waktu yang
dibutuhkan untuk mengendapkan air dan gum-nya membutuhkan waktu yang agak lama.
2. Proses Netralisasi
Netralisasi adalah proses penambahan suatu basa ke dalam minyak untuk menetralkan minyak,
karena sebelumnya minyak mengandung FFA (asam lemak bebas) yang kemudian direaksikan
dengan basa kuat/larutan caustic yang akhirnya membentuk sabun. Basa kuat yang pada umumnya
untuk reaksi ini adalah sodium hidroksida (NaOH) dan potassium hidroksida (KOH). Proses ini disertai
dengan pemanasan sampai suhu sekitar 60oC. Namun, proses ini tidak dapat digunakan untuk FFA
tinggi, karena bila proses pemurnian minyak secara kimia ini dilakukan, hasilnya akan menjadi sabun
semua.
3. Proses Pengeringan
Proses pengeringan pada minyak bertujuan menguapkan terutama air dan mungkin pengotor lain
yang volatile. Minyak hasil dipanaskan hingga >100oC (cukup suhu dimana air akan menguap),
kemudian dalam kondisi vakum rendah. Karena bila masih ada kandungan air, maka memungkinkan
terjadinya hidrolisa, yang bila bereaksi, hasil akhirnya asam lemak bebas dan menjadi digliserida atau
menjadi monogliserida.
4. Proses Bleaching
Bleaching adalah memucatkan minyak atau menghilangkan komponen warna yang tidak diinginkan.
Proses pemucatan ini ada 4 macam:
Pemucatan dengan absorbsi : Biasanya digunakan bleaching earth (tanah pemucat) dan karbon aktif
sebagai absorben.
Pemucatan dengan oksidasi : Proses ini dikembangkan di industri sabun.
Pemucatan dengan panas : Pada umumnya, pada suhu tinggi warna akan menjadi lebih pucat,
karena zat-zat warna akan menguap. Namun proses ini, biasanya kondisi di bawah atmosfir atau
vakum, karena untuk menghindari rusaknya minyak karena suhu yang terlalu tinggi.
Pemucatan dengan hidrogenasi : Hal ini dilakukan dengan penambahan hidrogen, reaksi yang terjadi
adalah reaksi adisi, pemecahan rantai. Misalnya untuk beta karoten yang mempunyai ikatan rangkap
kemudian diadisi, warna menjadi lebih pucat.
Namun yang pada umumnya yang digunakan dalam industri refinery minyak nabati adalah
pemucatan dengan menggunakan absorben, dengan tanah pemucat (bleaching earth) disertai
pemanasan dan pada kondisi vakum.
Kelemahan proses pemurnian secara kimia:
Tidak dapat dilakukan untuk FFA tinggi.
Losses banyak.
Tidak ekonomis untuk kapasitas yang besar, karena membutuhkan bahan kimia dan proses yang
panjang.
Produk samping yang dihasilkan memerlukan treatment yang lebih lanjut, seperti sabun yang
dihasilkan perlu proses lanjut.
Oleh karena itu, ada proses fisika yang lebih simple, tapi menggunakan alat yang rumit. Namun,
kedua proses ini masih digunakan, semuanya tergantung dari bahan baku, kapasitas, dan biaya. (Galz
dari berbagai sumber)
Proses Pemurnian Minyak Nabati Secara Fisika Dalam Industri

Pertama-tama bahan baku yang digunakan oleh plant fisika adalah crude palm oil (CPO) dari tangki
penyimpan CPO (storage tank). CPO dialirkan dengan rate 35-60 ton/jam. Temperatur inisial CPO
adalah 40 60 oC. Umpan dipompa melalui sistem yang mengembalikan panas (heat recovery
system), yang plate heat exchanger bertambah menjadi 60-90 oC.
Setelah itu, kira-kira 20 % umpan CPO menjadi slurry dan campur dengan bleaching earth (6 12
kg/ton CPO) menjadi bentuk slurry (CPO + Bleaching earth). Pengaduk dalam tank slurry mencampur
CPO dengan bleaching earth secara sempurna. Kemudian slurry menuju bleacher.
Pada waktu yang sama, 80 % CPO dipompa melalui plate heat exchanger (PHE) dan pemanas steam
menaikkan temperatur CPO menjadi 90 130 oC (temperature yang diharapkan untuk reaksi antara
CPO dan asam fosfat). Kemudian, Umpan CPO dipompa ke mixer static dan asam fosfat dengan dosis
0,35 -0,45 kg/ton. Di dalamnya, pengadukan secara intensif dengan minyak mentah untuk
mempresipitasi gum (getah). Presipitasi gum akan meringankan proses filtrasi nantinya, mencegah
pembentukan scale dalam deodorizer dan panas permukaan. Degumming CPO kemudian menuju
bleacher.
Dalam bleacher, ada 20 % slurry dan 80 % CPO yang didegumming dicampur bersama dan proses
bleaching terjadi. Proses bleaching termasuk penambahan bleaching earth untuk menghilangkan
beberapa impurities yang tidak diinginkan (semua pigment, trace metals, produk oksidasi) dari CPO
dan akan memperbaiki rasa aslinya, bau akhir, dan kestabilan oksidasi produk. Hal ini juga
membantu mengatasi masalah proses berikutnya dengan adsorpsi trace sabun, pro-oxidant metal
ion, dekomposisi peroxide, pengurangan warna, dan adsorb impurities minor. Temperatur dalam
bleacher harus sekitar 100-130 oC untuk mendapatkan proses bleaching optimum untuk periode
bleaching 30 menit. Steam dengan tekanan rendah dimasukkan dalam bleacher untuk
menggerakkan slurry berkonsentrasi untuk kodisi bleaching yang lebih baik.
Slurry mengandung minyak dan bleaching earth kemudian melalui filter Niagara agar bersih, bebas
dari partikel bleaching earth. Temperatur dijaga pada 80 120 oC untuk proses filtrasi yang baik.
Pada filter Niagara, slurry melewati lembaran filter dan bleaching earth terjebak dalam lembaran
filter. Sebenarnya, bleaching earth harus bersih dari filter Niagara setelah 45 menit operasi untuk
mendapatkan filtrasi yang baik. Bleached palm oil (BPO) dari filter Niagara dipompa menuju tank
buffer yang sebagai storage sementara sebelum proses lebih lanjut.
Pada umumnya, dicheck pada filter kedua, perangkap filter yang digunakan dengan filter Niagara
untuk menjamin bahwa tidak ada bleaching earth lolos terjadi. Adanya bleaching earth mencemari
deodorizer, mengurangi stabilitas oksidasi dari produk minyak dan berlaku sebagai katalis untuk
aktifitas dimerizaition dan polimerisasi. Karena itu, beberapa koreksi dapat diambil secepatnya.
BPO keluar dari filter dan melalui rangkaian sistem pengembalian panas (heat recovery system),
Schmidt plate heat exchanger dan spiral (termal minyak: 250-305 oC) heat exchanger memanaskan
BPO dari 80 120 oC sampai 210 250 oC.
BPO panas dari spiral heat exchanger kemudian diproses ke tahap selanjutnya dimana FFA dan
warna dikurangi dan lebih penting, menghilangkan bau menghasilkan produk yang stabil dan bau
yang berkurang.
Dalam kolom pre-stripping dan deodorizing, proses deacidification dan deorization terjadi secara
bersamaan. Deodorisasi pada temperature tinggi, vakum yang tinggi, dan proses destilasi vakum.
Operasi deodorizer dengan alat: 1. Dearasi minyak, 2. Memanaskan minyak, 3. Steam strips minyak,
4. Mendinginkan minyak sebelum meninggalkan sistem. Semua material adalah stainless steel.
Pada kolom, minyak umumnya dipanaskan kira-kira 240 280 oC di bawah vakum. Vakum kurang
dari 10 torr biasanya dijaga oleh ejector dan booster. Panas bleaching minyak terjadi pada
temperatur ini melalui perusakan termal pigmen karotenoid. Penggunaan steam langsung (direct
steam) menjamin pembuangan residu FFA, aldehida dan keton yang tidak diharapkan rasa dan
baunya. Berat molekul yang lebih rendah dari fatty acid yang teruapkan naik ke kolom dan tertarik
keluar oleh sistem yang vakum. Uap fatty acid meninggalkan deodorizer didinginkan dan
dikumpulkan dalam kondensor fatty acid sebagai fatty acid. Fatty acid kemudian didinginkan dalam
fatty acid cooler dan dikeluarkan menuju storage tank fatty acid dengan temperature sekitar 60
80 oC sebagai destilat asam lemak kelapa sawit (palm fatty acid distillate/ PFAD), by produk dari
proses refinery.
Produk bawah (bottom product) dari pre-stripper dan deodorizer adalah refined, bleached,
deodorized palm oil (RBDPO). RBDPO panas (250-280 oC) dipompa melalui Schimidt Heat Exchanger
untuk memindahkan panasnya ke BPO yang masuk dengan temperature rendah. Lalu, melalui
perangkap filter lainnya untuk mendapat minyak akhir (120 140 oC) untuk mencegah earth trace
dari reaching tangki produk. Setelah itu, RBDPO melalui RBDPO cooler dan plate heat exchanger
untuk memindahkan panas ke umpan CPO. RBDPO dipompa ke storage dengan temperatur 50
80 oC. (Galz-dari Refinery of Palm Oil)
Sumber : http://sekotheng.wordpress.com
Indonesia merupakan salah satu penghasil komoditas kelapa sawit terbesar di dunia. Kebutuhan
buah kelapa sawit meningkat tajam seiring dengan meningkatnya kebutuhan CPO dunia, seperti
yang terjadi beberapa bulan terahir ini.
Dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia, menjadikan CPO sebagai pilihan untuk bahan
baku pembuatan bio energi.
Peluang industri pengolahan kelapa sawit (PKS) masih sangat prospek untuk memenuhi pasar dalam
dan luar negeri.
Dengan didukung tenaga ahli yang berpengalaman puluhan tahun di bidang industri pengolahan
kelapa sawit, kami menawarkan Jasa Pembangunan Industri Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) secara
komprehensif (turn key) mulai konstruksi pabrik, mesin pengolahan sampai dengan instalasi
pengolahan limbah.
- Produk yang dihasilkan : CPO
- Bahan Baku : Kelapa Sawit.
- Kapasitas Bahan Baku : mulai 1 ton/jam,5 ton/jam,30 ton/jam, 60 ton/jam, atau sesuai permintaan
Gambar Alat dan Proses Pengolahan CPO (dari Kelapa Sawit Menjadi CPO)
KAPASITAS 30T/24 Jam
1. PALM FRUIT STRIPPER
Mesin ini berfungsi memisahkan buah-buahan sawit dari tandan sawit. Pemisahan buah-buahan
sawit dengan tangan membutuhkan tenaga yang sangat besar.Tetapi dengan bantuan mesin ini
memisahkan buah sawit menjadi lebih mudah dengan proses mekanikal sederhana.
Alat ini terdiri dari suatu lempeng-lempeng melengkung yang disusun dengan jarak tertentu dan
diikat satu sama lain membentuk suatu sangkar dan didalamnya terdapat tangkai-tangkai pemukul
yang dipasang pada sumbu yang berputar.
Tandan dijatuhkan pada bagian ujung atas penebah dan dipukul turun sambil diputar oleh ujung
tangkai pemukul hingga turun. Buah akan terpisah dan turun melalui lubang bawah pada sisi yang
lain.
Mesin ini mampu merontokkan buah yang disterilisai sebaik yang belum disterilisai dengan sama
efektifnya. Kapasitas stripper adalah 2-3 ton per jam. Sehingga satu mesin mampu melayani 2
expeller.
2. OIL EXPELLER dan KETEL PEMASAK
Buah sawit diumpankan ke dalam ketel pemasak yang menggunakan steam dari boiler sebagai
sumber panas. Steam dialirkan melalui jaket tangki pemasak. Steam sebagian juga dimasukkan
langsung ke dalam ketel pemasak sehingga buah sawit lunak dan semua selnya siap mengeluarkan
minyak. Proses ini tidak membutuhkan sterilisasi terpisah, karena sudah dilakukan di ketel pemasak.
Buah sawit yang telah dimasak diumpankan ke kotak pelumat yang berada di bawah ketel pemasak.
Tungkai expeller akan mendorong ke dalam ruang pelumat. Minyak yang keluar akan melalui celah
dan jatuh ke bawah. Campuran biji sawit dan serat akan keluar dari samping. Kapasitas ekpeller
adalah 400 kg buah per jam.
3. PEMISAH SERAT dan BUAH SAWIT
Campuran biji sawit dan sabut merupakan produk samping expeller. Pemisahan biji dari sabut
menggunakan alat ini yang dioperasikan manual. Alat ini berupa silinder yang berupa saringan. Sabut
akan menembus saringan dan jatuh ke bawah sedangkan biji akan keluar pada ujung silinder. Sabut
digunakan sebagai bahan bakar boiler sedangkan biji dijual atau di pecah dan diambil minyak
kernelnya.
4. OIL CLARIFIER
Minyak sawit yang didapatkan dari expeller masih berupa minyak kental karena mengandung
partikel padat yang berwujud seperti lumpur dan susah dipisahkan dari minyak. Berbagai metoda
telah digunakan oleh banyak ilmuwan untuk memisahkan padatan dari minyak, tetapi cara yang
paling efektif adalah menambahkan banyak air pada minyak. Penambahan ini akan memisahkan
minyak bening ke atas dan air bersama kotoran ke bawah.
Alat berupa dua silinder, dengan satu silinder lebih kecil berada di dalam silinder yang lebih besar.
Minyak dimasukkan kedalam silinder yang besar melalui bagian bawahnya. Minyak beningan akan
naik ketas, seiring penambahan minyak ke dalam silinder besar. Minyak bening dari silinder besar
selanjutnya mengisi silinder kecil dan dikeluarkan melaui bagian bawah silinder kecil. Minyak ini
kemudian dipanaskan untuk mengurangi kadar air dan didapatkan CPO.
5. FILTER PRESS
Filter press berguna untuk menjernihkan minyak yang telah keluar dari Oil Clarifier. CPO akan
dipompa melalui filter press dan menghasilkan minyak sawit bening.
6. BOILER
Boiler digunakan sebagai pembuat steam yang merupakan sumber panas untuk ketel pemasak.
Boiler yang dibuat dapat menggunakan sabut sebagai bahan bakarnya sehingga dapat menghemat
penggunaan Bahan bakar minyak.
Sumber : http://anekaindustri.com
HPE CPO Mei Dipatok US$ 560/MT
Pemerintah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) Crude Palm Oil (CPO) untuk periode 1-31 Mei
2009 sebesar US$ 560 per metrik Ton. HPE CPO di bulan Mei ini lebih tinggi dibanding April
2009 yang sebesar US$ 515/MT.
Karena HPE CPO yang digunakan di bulan Mei masih di bawah US$ 700/MT maka pajak ekspor tidak
ada alias nol. HPE CPO baru itu tertuang dalam Permendag No 15/M-DAG/PER/4/2009 tertanggal 25
April 2009 dan berlaku mulai 1 Mei 2009.
Mendag Mari Elka Pangestu dalam pengumuman seperti dilansir, Sabtu (25/4/2009) menjelaskan
tarif bea keluar untuk komoditi Kelapa Sawit dan turunannya berpedoman pada harga referensi yang
didasarkan pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum Penetapan HPE. Dimana
harga rata-rata yang dipakai adalah sebesar US$ 634,01/MT.
Berikut HPE kelapa sawit, CPO dan produk turunannya periode 1-31 Mei 2009.
Buah dan kernel kelapa sawit HPE US$ 221/MT
Crude Palm Oil (CPO) HPE US$ 560/MT
Crude Olein HPE US$ 658/MT
Crude Stearin HPE US$ 500/MT
Crude Palm Kernel Oil (CPKO) HPE US$ 564/MT
Crude Kernel Stearin HPE US$ 564/MT
Crude Kernel Olein HPE US$ 564/MT
RBD Palm Oil HPE US$ 669/MT
RBD Palm Kernel Olein HPE US$ 611/MT
RBD Palm Kernel Stearin HPE US$ 813/MT
RBD Palm Stearin HPE US$ 509/MT
RBD Palm Kernel Oil HPE US$ 614/MT
RBD Palm Oil HPE US$ 636/MT
Biodiesel dari Minyak Sawit HPE US$ 710/MT
Sementara Berdasarkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang
penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, maka diputuskan bea
keluar baru.
Terhadap penetapan dan pengenaan tarif bea keluar terhadap barang ekspor berupa kelapa sawit
dan CPO dan produk turunannya, maka berlaku ketentuan:
Untuk harga referensi hingga US$ 700 per ton, maka tarif bea keluarnya adalah 0%
Untuk harga referensi US$ 701-750 per ton, maka bea keluarnya adalah 1,5%
Untuk harga referensi US$ 751-800 per ton, maka bea keluarnya adalah 3%
Untuk harga referensi US$ 801-850 per ton, maka bea keluarnya adalah 4,5%
Untuk harga referensi US$ 751-900 per ton, maka bea keluarnya adalah 6%
Untuk harga referensi US$ 901-950 per ton, maka bea keluarnya adalah 7,5%
Untuk harga referensi US$ 951-1.000 per ton, maka bea keluarnya adalah 10%
Untuk harga referensi US$ 1.001-1.050 per ton, maka bea keluarnya adalah 12,5%
Untuk harga referensi US$ 1.051-1.100 per ton, maka bea keluarnya adalah 15%
Untuk harga referensi US$ 1.101-1.150 per ton, maka bea keluarnya adalah 17,5%
Untuk harga referensi US$ 1.151-1.200 per ton, maka bea keluarnya adalah 20%
Untuk harga referensi US$ 1.201-1.250 per ton, maka bea keluarnya adalah 22,5%
Untuk harga referensi lebih dari atau sama dengan US$ 1.251 per ton, maka bea keluarnya adalah
25%.
Harga referensi tersebut ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan
dengan berpedoman pada harga CPO CIF Rotterdam.
Sumber/kutipan dari :http://www.detikfinance.com
HPE CPO April US$ 515/MT
Pemerintah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) Crude Palm Oil (CPO) untuk periode 1-30 April
2009 sebesar US$ 515 per metrik Ton
HPE CPO di bulan April ini lebih tinggi dibanding Maret 2009 yang sebesar US$ 480/MT.
Karena HPE CPO yang digunakan di bulan April masih di bawah US$ 700/MT maka pajak ekspor tidak
ada alias nol.
HPE CPO baru itu tertuang dalam Permendah No 11/M.DAG/PER/3/2009 tertanggal 25 Maret 2009
dan berlaku mulai 1 April 2009.
Mendag Mari Elka Pangestu dalam pengumuman yang dikutip, Sabtu (28/3/2009) menjelaskan tarif
bea keluar untuk komoditi Kelapa Sawit dan turunannya berpedoman pada harga referensi yang
didasarkan pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum Penetapan HPE. Dimana
harga rata-rata yang dipakai adalah sebesar US$ 588,38/MT.
Berikut HPE kelapa sawit, CPO dan produk turunannya periode 1-30 April 2009.
Buah dan kernel kelapa sawit HPE US$ 221/MT
Crude Palm Oil (CPO) HPE US$ 515/MT
Crude Olein HPE US$ 578/MT
Crude Stearin HPE US$ 424/MT
Crude Palm Kernel Oil (CPKO) HPE US$ 512/MT
Crude Kernel Stearin HPE US$ 512/MT
Crude Kernel Olein HPE US$ 512/MT
RBD Palm Oil HPE US$ 588/MT
RBD Palm Kernel Olein HPE US$ 554/MT
RBD Palm Kernel Stearin HPE US$ 764/MT
RBD Palm Stearin HPE US$ 434/MT
RBD Palm Kernel Oil HPE US$ 539/MT
RBD Palm Oil HPE US$ 557/MT
Biodiesel dari Minyak Sawit HPE US$ 613/MT
Sementara Berdasarkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang
penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, maka diputuskan bea
keluar baru.
Terhadap penetapan dan pengenaan tarif bea keluar terhadap barang ekspor berupa kelapa sawit
dan CPO dan produk turunannya, maka berlaku ketentuan:
Untuk harga referensi hingga US$ 700 per ton, maka tarif bea keluarnya adalah 0%
Untuk harga referensi US$ 701-750 per ton, maka bea keluarnya adalah 1,5%
Untuk harga referensi US$ 751-800 per ton, maka bea keluarnya adalah 3%
Untuk harga referensi US$ 801-850 per ton, maka bea keluarnya adalah 4,5%
Untuk harga referensi US$ 751-900 per ton, maka bea keluarnya adalah 6%
Untuk harga referensi US$ 901-950 per ton, maka bea keluarnya adalah 7,5%
Untuk harga referensi US$ 951-1.000 per ton, maka bea keluarnya adalah 10%
Untuk harga referensi US$ 1.001-1.050 per ton, maka bea keluarnya adalah 12,5%
Untuk harga referensi US$ 1.051-1.100 per ton, maka bea keluarnya adalah 15%
Untuk harga referensi US$ 1.101-1.150 per ton, maka bea keluarnya adalah 17,5%
Untuk harga referensi US$ 1.151-1.200 per ton, maka bea keluarnya adalah 20%
Untuk harga referensi US$ 1.201-1.250 per ton, maka bea keluarnya adalah 22,5%
Untuk harga referensi lebih dari atau sama dengan US$ 1.251 per ton, maka bea keluarnya adalah
25%.
Harga referensi tersebut ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan
dengan berpedoman pada harga CPO CIF Rotterdam.

A. Minyak Goreng
Dalam pengunaan sehari-hari minyak digunakan sebagai kebutuhan sebagai media untuk
menggoreng berbagai macam makanan dan masakan. Minyak goreng merupakan sumber
lemak/minyak dan sebagai penghantar panas pada makanan yang digoreng, selain itu juga
memberikan rasa renyak dan guring pada makanan tersebut.

B. Proses Pengolahan Minyak Goreng
B.1 Klasifikasi Minyak
Tujuan utama dari proses klarifikasi minyak adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak
enak, warna yang tidak menarik dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum di konsumsi atau
digunakan sebagai bahan mentah dalam industri. Minyak yang akan dipakai dengan tujuan sebagai
bahan pangan harus melalui proses pemurnian, karena di dalam minyak tersebut masih banyak
mengandung kotoran. Selain itu beberapa jenis minyak mengandung senyawa beracun. Oleh karena
itu perlu juga diberikan perlakuan pendahuluan sebelum pengolahan lanjutan, dengan tujuan :
a.Menghilangkan kotoran dan memperbaiki stabilitas minyak.
b.Proses pemisahan gum
c.Memudah proses selanjutnya

B2. Refeening (Pemurnian)
Merupakan proses lanjutan dari klarifikasi minyak. Pada proses ini juga terjadi pembuangan kotoran
tetapi yang bersifat larut dalam minyak. Pemurnian ini dapat dilakukan dengan berbagai cara :

a. Pemucatan
Tujuan pemucatan adalah untuk menghilangkan zat warna yang tidak disukai dalam minyak.
Pemucatan ini dilakukan dengan cara mencampur minyak dengan sejumlah kecil adsorben seperti
arang aktif atau bahan kimia.

Pemucatan dengan adsorben
Adsorben yang digunakan untuk memucatkan minyak ini terdiri dari tanah pemucat dan arang.
Macam-macam adsorben yang sering digunakan adalah, sebagai berikut :
-Bleancing clay
Merupakan bahan pemucat sejenis tanah liat dengan komposisi utama SiO2, Al2O3, H2O. Jumlah
adsorben yang digunakan untuk menghilangkan zat warna minyak tergantung dari macam dan tipe
warna dalam minyak dan sampai berapa jauh warna tersebut akan dihilangkan.
-Arang aktif
Aktivitas karbon bertujuan untuk memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori yang
tertutup sehingga memperbesar kapasitas adsorbsi terhadap zat warna.

Pemucatan dengan bahan kimia
Cara pemucatan dengan bahan kimia banyak digunakan untuk minyak yang akan digunakan sebagai
bahan pangan karena pemucatan dengan bahan kimia lebih baik daripada dengan menggunakan
adsorben. Pemucatan dengan bahan kimia dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
-Pemucatan dengan cara oksidasi
Oksidasi terhadap zat warna akan mengurangi kerusakan trigliserida, akan tetapi asam lemak tidak
jenuh cenderung membentuk perioksida, karena adanya proses oksidasi. Bahan kimia yang
digunakan disini adalah larutan perioksida 30-40% dari jumlah bahan.
-Pemucatan dengan panas
Pemanasan minyak dalam ruangan vacum pada suhu relatif tinggi mempunyai pengaruh pemucatan
yang sangat baik.
-Pemucatan dengan cara reaksi reduksi
Pemucatan dengan cara ini kurang efektif karena warna yang hilang akan timbul kembali jika
bereaksi dengan udara.

c. Deodorisasi
Deodorisasi adalah tahapan dalam proses minyak yang digunakan untuk menghilangkan bau dan
rasa yang tidak enak dalam minyak. Prinsip proses deodorisasi adalah penyulingan minyak dengan
menggunakan uap panas dalam tekanan atmosfer atau dengan keadaan vacum. Senyawa yang
dapat menimbulkan flavor dalam minyak ada dua macam, yaitu :

Flavor alamiah
Flavor tersebut secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak
pada proses pemisahan minyak dengan cara pengepresan. Minyak yang berbau sengit/tengik dan
rasa getir disebabkan oleh thio sianida, senyawa ini banyak terdapat pada bahan yang berasal dari
biji-bijian.

Flavor yang ditambahkan dari kerusakan proses pengolahan
Kerusakan tersebut selama proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, adanya kotoran dalam
minyak dan pada proses pemurnian. Senyawa yang terbentuk merupakan hasil degradasi trigliserida
dalam minyak yang menghasilkan asam lemak bebas, aldehid, keton dan sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses deodorisasi adalah :

a.Suhu dan tekanan vacum
Suhu berhubungan dengan tekanan vacum. Hasil yang dikehendaki dapat diperoleh apabila suhu
dijaga antara 2300C - 2400C.

b.Lama waktu deodorisasi
Dengan menggunakan suatu standar bau dan flavor pada produk akhir proses deodorisasi, maka
deodorisasi pada suhu 2040C memerlukan waktu 3 kali lebih lama dari pada suhu 2300C.

c.Banyaknya uap yang dibutuhkan
Berkaitan dengan tekanan vacum, suhu dan tinggi minyak atau sejumlah minyak dalam deodorisasi.
Ditemukan bahwa konsumsi total uap sebanyak 660 lb/Ton minyak yang diperlukan adalah cukup
untuk membuat vacum dan untuk memastikan dekstruksi peroksida.

d.Tinggi suhu
Cara penilaian kualitas minyak hasil deodorisasi minyak, maka hasil deodorisasi dapat dilakukan
dengan cepat.

B.3 Hidrogenasi
Pada tahapan ini berfungsi untuk mengurangi ketidak jenuhan minyak atau lemak sehingga membuat
minyak menjadi lebih bersifat plastis. Hidrogenasi merupakan proses pengolahan minyak dengan
cara menambahkan ikatan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak sehingga akan
mengurangi tingkat ketidak jenuhan minyak atau lemak. Pemanasan akan mempercepat jalannya
reaksi hidrogenasi. Pada temperatur 4000C dicapai kecepatan reaksi maksimum, juga penambahan
tekanan dan pemurnian gas hidrogenasi. Dalam proses hidrogenasi tersebut, karbon monoksida dan
sulfur merupakan katalisator beracun yang sangat berbahaya.

B.4 Penimbunan
Penimbunan dilakukan dalam tangki timbun dengan menggunakan suhu tertentu agar minyak tidak
membeku.