Anda di halaman 1dari 9

MODUL 3

TERMOELEKTRIK
Fitri. A Permatasari, Vessabu W. Kusumah, Fransiska R. Widiasari, Frans Willy, Kamal D.
Jatmoko, Kezia R. Ulina
10211087, 10211026, 10211098, 10211048, 10211067, 10209026
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
E-mail : fitri.auliapermatasari@yahoo.com
Asisten : Kiagus Aufa Ibrahim/10210024
Tanggal Praktikum : (09-10-2013)
Abstrak
Termoelektrik merupakan fenomena konversi energi panas menjadi energy listrik atau sebaliknya.
Termolistrik dapat dijelaskan menggunakan efek seebeck, efek peltier dan efek Thomson. Pada percobaan ini
dilakukan pengamatan efek seebeck dan efek peltier menggunakan rangkaian alat sederhana. Selain itu,
dilakukan pengukuran nilai koefisien seebeck reversible thermoelectric demonstrator yang digunakan
menggunakan metode efek peltier dan seebeck. Hasil percobaan menunjukan bahwa kedua metode
menunjukan nilai koefisien seebeck yang berbeda. salahsatu metode menunjukan nilai koefisien seebeck
negatif.
Kata Kunci : seebeck, peltier, termoelektrik

I. Pendahuluan
Efek termoelektrik merupakan konversi
perbedaan temperatur menjadi perbedaan
tegangan secara langsung atau sebaliknya.
Perbedaan temperatur menyebabkan muatan (
misalnya elektron) berpindah dari sisi panas
ke sisi yang lebih dingin. Perpindahan
muatan tersebut memungkinkan terjadinya
arus. Dan sebaliknya energi ditransfer ke
material melalui arus sehingga menyebabkan
perbedaan temperatur. Termoelektrik
dijelaskan melalui efek seebeck, efek peltier
dan efek Thomson.
Pada tahun 1821 Thomas Johann
Seebeck, mengamati fenomena
menyimpangnya jarum kompas yang
diletakan di dalam loop tertutup. Loop
tersebut dibuat dari dua buah sambungan
logam yang berbeda dan diberikan perbedaan
temperatur pada sambungannya. Kemudian
Lord Kelvin menjelaskan fenomena ini,
bahwa terdapat beda tegangan diantara
sambungan logam akibat perbedaan
temperatur
[1]
. Beda tegangan tersebut
menyebabkan timbulnya medan magnet
sehingga membuat jarum kompas
menyimpang.
Besarnya beda tegangan yang dihasilkan
akan sebanding dengan perubahan
temperaturnya. Semakin besar perbedaan
temperaturnya maka akan semakin besar
beda tegangan yang dihasilkan. Perbedaan
tegangan yang dihasilkan setiap perubahaan
temperatur disebut dengan koefisien seebeck
yang sesuai memenuhi persamaan 1
[2]
.

(1)
Keterangan :
S = koefisien seebeck (V/K)
V : beda tegangan (V)
T : perbedaan temperatur (K)
Pada tahun 1834 Charles Peltier
Anthanase menemukan proses sebaliknya.
Dua buah kawat logam yang berbeda
disambungkan menjadi sebuah loop tertutup.
Saat loop tersebut dialiri arus listrik, terjadi
perbedaan temperatur pada kedua jenis kawat
tersebut.
Pada umumnya devais termoelektrik
yang digunakan adalah semikonduktor.
Dengan memanfaatkan semikonduktor tipe p
dan tipe n dan rangkaian seperti pada gambar
1, kita dapat membuat termoelektrik dengan
efek seebeck dan peltier yang proses
termoelektriknya lebih baik. Semikonduktor
tipe p berperan sebagai pembawa muatan (
elektron) sementara itu, semikonduktor tipe n
lebih banyak hole nya
[3]
. Hal ini
memungkinkan elektron untuk berdifusi dari
tipe n ke tipe p. Difusi elektron ini akan
disertai dengan perpindahan panas. Untuk
dapat mengalir dari tipe n ke tipe p yang
tingkat energinya lebih rendah, maka aka
nada selisih eenrgi yang diemisikan. Energi
tersebut diemisikan dalam bentuk panas.

Gambar 1. (a)Skema efek seebeck; (b) skema efek
peltier.
[4]


Selanjutnya pada tahun 1851 William
Thomson menjelaskan efek Thomson. Saat
arus listrik dialirkan kepada konduktor yang
memiliki gradient temperatur melebihi
panjangnya, maka konduktor tersebut hanya
dapat menyerap atau melepaskan kalor, tidak
dapat melakukan dua proses bersamaan.
Prinsip termoelektrik menjadi dasar
pengembangan aplikasi lain di kehidupan
sehari hari, seperti refrigerator, termometer,
pendingin ruangan dan lainnya.


II. Metode Percobaan
Pada percobaan ini, digunakan
demonstrator termoelektrik reversible, probe
sensor temperatur, gelas air, seperangkat
computer dengan software logger pro,
multimeter dan catu daya. Demonstrator
tersebut terdiri dari semikonduktor tipe p dan
n yang dihubungan oleh dua buah kaki
logam.
Untuk mengamati fenomena seebeck dan
menentukan koefisien seebeck dari material
yang digunakan, dilakukan dengan cara
menyiapkan dua buah gelas air yang berbeda
temperaturnya. Gelas pertama berisi air
panas, sementara gelas kedua berisi air
dingin. Kedua kaki demonstrator dimasukan
kedalam gelas tersebut. Probe sensor
temperatur yang telah dhubungkan dengan
software logger pro. Probe dipasang di dalam
air dingin, air panas, dan di dua kaki
demonstrator. Pada ujung kaki probe
dipasang multimeter digital. Pengambilan
data dilakukan setiap 5 detik selama 3 menit.
Data yang diambil merupakan beda tegangan
dan perubahan temperatur disetiap probenya.
Pada percobaan ini, diharapkan teramatinya
beda tegangan oleh multimeter akibat
perubahan temperatur air dan logam.
Sementara itu, percobaan efek peltier,
digunakan rangkaian alat komplemen efek
seebeck. Dua buah gelas berisi air dengan
temperatur yang sama. Demonstrator
dihubungkan pada catu daya selama 30
menit. Tegangan catu daya dipilih 5 volt agar
dalam batas aman penggunaan demonstrator.
Setelah 30 menit, maka diamati perubahan
temperatur dua buah gelas air dan dua kaki
demonstrator menggunakan probe sensor
temperatur. Pada percobaan ini, diharapkan
didapat nilai beda tegangan yang berubah
selama pengukuran ( 3menit) dan beda
tempertur antara dua buah gelas air dan kaki
demonstrator.
Pada percobaan ketiga, kita
memanfaatkan efek seebeck untuk
memutarkan kincir. Dengan rangkaian alat
sama seperti pada percobaan 1, namun
ditambah dengan kincir berdinamo yang
disambungkan pada kedua kaki
demonstrator. Pada percobaan ini, akan
teramati kincir yang berputar searah jarum
jam.


III. Data dan Pengolahan Data
Menghitung Efek Seebeck.
1.a Probe diletakan di air
Kondisi Awal :
T
panas
= 322.39 K
T
dingin
= 277.21 K

Gambar 2. Grafik beda tegangan yang dihasilkan
terhadap beda temperatur pada kedua air saat
percobaan efek seebeck.

1.b Probe diletakan di kedua kaki
reversible thermoelektrik demonstrator
Kondisi Awal :
T
panas
= 322.39 K
T
dingin
= 277.21 K

Gambar 3. Grafik beda tegangan yang dihasilkan
terhadap beda temperatur pada kedua kaki saat
percobaan efek seebeck.

Menghitung Efek Peltier.
1.a Probe diletakan di air
Kondisi Awal :
T
panas
= 322.39 K
T
dingin
= 277.21 K

Gambar 4. Grafik beda tegangan yang dihasilkan
terhadap beda temperatur pada kedua air saat
percobaan efek peltier.

1.b Probe diletakan di kedua kaki reversible
thermoelektrik demonstrator
Kondisi Awal :
T
panas
= 322.39 K
T
dingin
= 277.21 K

Gambar 5. Grafik beda tegangan yang dihasilkan
terhadap beda temperatur pada kedua air saat
percobaan efek peltier.

Berdasarkan regresi linear dari masing
masing grafik diatas dan mengasosiasikan
persamaan regresi dengan persamaan 1 maka
diperoleh koefisien seebeck untuk setiap
grafik diatas sebagai berikut.
Tabel 1. Nilai koefisien seebeck hasil percobaan
Koeffisien seebeck
(mV/K)
Metode
seebeck
Metode
peltier
Air 3 -55,4
Kaki
material
-1,1 -52,6


Menentukan arah putaran kincir.
Dari hasil percobaan didapat bahwa
kincir berputar searah jarum jam.


IV. Pembahasan
Efek termolistrik merupakan konversi
panas menjadi energi listrik ada sebaliknya.
Pada percobaan ini, kita meninjau efek
seebeck dan peltier pada material campuran
logam dan semikonduktor. Pada material
logam, pita konduksi overlap dengan pita
valensi sehingga memungkinkan elektron
bergerak bebas dari pita valensi ke pita
konduksi dengan energi yang rendah. Saat
material konduktor dipanaskan disalah satu
ujungnya berarti sisi yang panas memiliki
energi yang lebih tinggi dibanding sisi yang
dingin. Energi tersebut digunakan elektron
untuk berpindah ke sisi yang lebih rendah
energinya. Pergerakan elektron menimbulkan
medan listrik di sekitarnya sehingga terdapat
beda potensial diantara kedua ujung logam
tersebut. Nilai beda potensial yang dihasilkan
setiap beda temperatur disebut koefisien
seebeck. Setiap logam memiliki tingkat
energi pita konduksi dan valensi yang
berbeda, sehingga menyebabkan nilai beda
potensial yang dihasilkan setiap perbedaan
temperatur pun berbeda. Oleh karena itu,
nilai koefisien seebeck setiap logam berbeda
dengan logam yang lain.
Sementara itu, efek peltier dibuat dengan
memberikan arus pada kedua ujung material
yang berbeda. Elektron akan berdifusi dari
potensial tinggi ke potensial rendah. elektron
berdifusi sepanjang pita konduksi logam
yang memiliki tngkat energi yang berbeda.
Misalnya tinjau kasus energi pita konduksi
material A lebih besar dibanding energi pita
konduksi material B. Saat material A
dipanaskan, maka elektron berdifusi dari pita
konduksi A ke pita konduksi B. energi yang
dibawa elektron lebih besar dibanding energi
pita konduksi material B, sehingga saat
melewati pita konduksi material B elektron
melepaskan energi kalornya pada air A.
Sebaliknya, saat elektron menuju pita
konduksi material A yang energinya lebih
besar, maka elektron akan menyerap energi
pada air B. Energi yang diterima air di
material B akan digunakan untuk menaikan
temperaturnya, sedangkan energi yang
diambil dari air material A akan membuat
temperatur air A turun.
Reversible thermoelectric demonstrator
yang digunakan merupakan tipe CAT No.
32729 yang merupakan campuran dari
semikonduktor dan logam alumunium pada
kakinya. Devais ini mampu menghasilkan
sekitar 10mV untuk setiap 1 K perubahan
temperatur pada kedua kakinya. Koefisien
seebeck yang dihasilkan percobaan 1a, 1b, 2a
dan 2b bernilai berbeda beda. Hal ini
disebabkan karena system yang tidak
terisolasi. Sensor temperatur sangat sensitif,
sementara itu sistem tidak diisolasi sehingga
terdapat faktor temperatur udara. Misalnya
saat dilakukan pengukuran selama 3 menit,
udara mengalami perubahan temperatur
sehingga yang terbaca pada sensor
temperatur bukan hanya sistem (air atau kaki)
melainkan perubahan temperatur di udara
juga yang mengenai probe sensor. Sistem
yang tidak terisolasi juga menyebabkan
adanya perpindahan kalor dari material ke
lingkungan. Selain itu, konsep pengukuran
temperatur adalah kesetimbangan termal
antara probe sensor dengan kaki atau air yang
diukur. Temperatur yang terbaca bergantung
dari kapasitas termal probe sensornya.
Nilai koefisien seebeck akan bergantung
dengan jenis material yang digunakan.
Material semikonduktor mempunyai rentang
koefisien seebeck lebih besar daripada
konduktor. Hal ini disebabkan oleh pembawa
muatan semikonduktor lebih banyak
dibanding konduktor. Nilai koefisien seebeck
pada semikonduktor berkisar dari nilai
negatif sampai positif. Koefisien seebeck
merepresentasikan nilai potensial pada kaki
dingin relatif terhadap nilai potensial pada
kaki panas. Berdasarkan hukum
termodinamika, energi akan mengalir dari
energi tinggi ke energi lebih rendah. Energi
kalor sebanding dengan temperatur sehingga
kaki dingin memiliki energi lebih rendah
dibanding kaki panas. Pada semikonduktor
tipe n pembawa muatan adalah elektron.
Elektron akan berdifusi dari kaki panas ke
kaki dingin, menyebabkan potensial pada
kaki dingin lebih negatif dibanding potensial
pada kaki panas sehingga nilai koefisien
seebeck akan bernilai negatif. Sebaliknya,
pada semikonduktor tipe p, pembawa
muatan adalah hole. Saat semikonduktor
tersebut diberi beda temperatur maka, hole
berdifusi dari kaki panas ke dingin
menyebabkan potensial di kaki dingin lebih
positif dibanding potensial di kaki panas
sehingga koefisien seebeck akan bernilai
positif. Dengan demikian, untuk material
semikonduktor nilai koefisien seebeck
bernilai negatif merepresentasikan
semikonduktor tipe n, sedangkan koefisien
seeebeck positif merepresentasikan
semikonduktor tipe p.
Pada percobaan ini, divariasikan
pengukuran temperatur pada air yang
digunakan dan pada kaki demonstrator.
Secara teori, untuk mengukur koefisien
seebeck suatu material, maka tinjau
perbedaan tegangan yang dihasilkan dan
perbedaan temperatur pada material tersebut.
Oleh karena itu, metode pengukuran
koefisien seebeck menggunakan nilai beda
temperatur pada kaki lebih baik dibanding
pada air. Temperatur air, tidak dapat
mewakili temperatur pada kaki demonstrator
(material yang dicari nilai koefisiennya).
Walaupun demikian, nilai temperatur yang
terdapat pada kaki belum tentu terdistribusi
homogen, karena demonstrator tersebut
merupakan campuran semikonduktor dan
logam yang tidak diketahui komposisinya.
Oleh karena itu, hasil pengukuran
menunjukan ketidakkonsistenan nilai
koefisien seebecknya. . Pada percobaan 1
didapatkan nilai koefisien positif dan negatif
pada kaki, sedangkan pada percobaan 2
didapatkan nilai koefisien seebeck negatif.
Berdasarkan hasil tersebut, tidak dapat
ditentukan jenis semikonduktor yang
digunakan.
Pada percobaan ketiga, dengan
memanfaatkan efek peltier, didapatkan beda
tegangan yang digunakan untuk memutarkan
kincir. Arah perputaran kincir yang searah
jarum jam merepresentasikan kutub yang
dipasangkan pada kakinya.
Termokopel merupakan salah satu
termometer yang menggunakan metode
elektrik. Termokopel dibuat dari dua
logam berbeda dengan menggabungkan
kedua ujungnya. Salah satu titik sambungan
dijadikan acuan pengukuran temperatur,
sedangkan ujung yang lain, merupakan titik
yang akan diukur temperaturnya. Saat titik
tersebut dikenai temperatur , logam A dengan
koefisien Seebeck S
A
dan logam B dengan
koefisien S
B
akan menghasilkan gaya
elektromagnetik yang berbeda sehingga
menimbulkan beda tegangan yang berbeda
(efek seebeck). Beda tegangan tersebut
dikonversi menjadi nilai cacahan yang
menunjukan nilai temperaturnya.
Salah satu aplikasi sistem
thermoelektrik adalah sistem hybrid pada
kendaraan bermotor. Sistem kendaraan
bermotor pada sistem hybrid adalah
gabungan sistem kendaraan bermotor
dengan motor listrik. Energi listrik untuk
menggerakkan motor, listrik diperoleh dari
altenator dan juga dynamic brake, dimana
energi gerak diubaha menjadi energi listrik.
Keuntungan dari kendaraan hybrid yaitu
dapat mengurangi konsumsi bahan bakar
melalui tiga mekanisme yaitu: 1
pengurangan energi terbuang selama
kondisi ideal atau keluaran rendah. 2
pengurangan ukuran dan tenaga mesin
motor bakar, dalam hal ini kekurangan
tenaga akan dipengaruhi oleh motor listrik.
3 menyerap energi yang terbuang.
Sementara energi panas dibuang pada
kendaraan bermotor yang akan dijadikan
energilistrik. Konsep yang digunakan
adalah konsep seebeck. Apabila terdapat
dua yang sumber temperatur yang berbeda
pada dua material semikonduktor maka
akan mengalir arus listrik pada material
tersebut. Dengan menerapkan teknologi
thermoelektrik ini apabila diterapkan pada
kendaraan bermotor dimana gas buang
pada mesin motor bakar berkisar antara
200-300 derajat C maka dengan adanya beda
temperatur ini akan diperoleh gaya
geraklistrik yang kemudian dapat
digunakan untuk menggerakkan motor
listrik ataupun disimpan didalam baterai.
V. Simpulan
Penentuan koefisien seebeck lebih baik
dilakukan dengan cara mengukur beda
potensial yang dihasilkan pada material dan
beda temperatur yang dihasilkan pada logam
tersebut. Pengukuran lebih baik dilakukan
dalam keadaan system terisolasi agar tidak
terdapat energi yang pindah ke lingkungan.
Koefisien seebeck bergantung pada jenis
material. Semikonduktor tipe p mempunyai
nilai koefisien seebeck positif sedangkan
semikonduktor tipe n bernilai negatif.
VI. Pustaka
[1] Auparay. N, Room Temperature Seebeck
Coeficient Measurement of Metals and
Semiconductors, Oregon State University;
2013
[2] Kasap. S, Thermoelectric Effects in Metal
: Thermocouple, Canada : University of
Saskatchewan; 2001
[3] Miwa K, Development of Seebeck-
Coefficient Measurement Systems Using
Kelvin-Probe Force Microscopy, Jepang :
Shizuoka University. 2013.
[4] Inge. M, Penelitian Bahan Termoelektrik
bagi Aplikasi Konversi Energi di Masa
Mendatang, Bandung : Institut teknologi
Bandung; 2011.
[5]Operating Instruction Reversible
Thermoelectric Demonstrator CP32729,
Cenco Physic.

Lampiran

Tabel 2. Hasil percobaan 1a
V
(volt)
T air
dingin
(
o
C)
T air
panas
(
o
C)
T (K)
0.5437 4.2145 49.3351 45.12
0.5443 4.2437 49.3061 45.06
0.5449 4.1565 49.1901 45.03
0.5455 4.2437 49.1033 44.86
0.5461 4.3305 49.0741 44.74
0.5465 4.3594 49.0163 44.66
0.5468 4.3883 48.9875 44.60
0.547 4.3594 48.9586 44.60
0.5478 4.3016 48.9009 44.60
0.548 4.3594 48.8721 44.51
0.548 4.5036 48.8721 44.37
0.548 4.5036 48.8433 44.34
0.5476 4.4171 48.7568 44.34
0.547 4.4748 48.6706 44.20
0.5464 4.5324 48.6419 44.11
0.5457 4.5324 48.5846 44.05
0.5451 4.5902 48.5846 43.99
0.5449 4.6190 48.5559 43.94



V
(volt)
T air
dingin
(oC)
T air
panas
(
o
C)
T (K)
0.5446 4.6477 48.4698 43.82
0.5446 4.5902 48.3270 43.74
0.5444 4.7051 48.3841 43.68
0.5444 4.5902 48.2414 43.65
0.5443 4.7625 48.2414 43.48
0.5443 4.7625 48.2127 43.45
0.5438 4.6190 48.1558 43.54
0.5436 4.6764 48.0989 43.42
0.5439 4.7338 48.1273 43.39
0.5426 4.6764 48.0137 43.34
0.542 4.7911 48.0421 43.25
0.5415 4.7911 48.0137 43.22
0.541 4.6477 47.9284 43.28
0.5404 4.7625 47.9001 43.14
0.5395 4.8200 47.9001 43.08
0.5386 4.6764 47.8151 43.14
0.5379 4.7625 47.7869 43.02
0.5447 4.5902 48.4126 43.82


Tabel 3. Hasil percobaan 1b (efek seebeck)
V
(volt)
T kaki
dingin
(
o
C)
T kaki
panas
(
o
C)
T (K)
0.5437 13.1224 35.6308 22.0977
0.5443 13.2973 36.0430 22.5084
0.5449 13.2224 36.3348 22.7457
0.5455 13.1724 36.4321 23.1124
0.5461 13.4222 36.6761 23.2597
0.5465 13.3474 36.8473 23.2539
0.5468 13.4471 37.0677 23.4999
0.547 13.4721 37.2886 23.6206
0.5478 13.4970 37.4606 23.8166
0.548 13.4222 37.4854 23.9636
0.548 13.6464 37.6084 24.0632
0.548 13.6961 37.6823 23.9620
0.5476 13.9196 37.8799 23.9862
0.547 13.7706 37.8305 23.9602
0.5464 14.1673 38.0531 24.0599
0.5457 13.8205 37.9789 23.8858
0.5451 13.9692 38.2266 24.1584
0.5449 14.0435 38.2762 24.2574



V
(volt)
T kaki
dingin
(
o
C)
T kaki
panas
(
o
C)
T (K)
0.5446 13.8205 38.2762 24.2327
0.5446 14.0684 38.3754 24.4557
0.5444 13.9444 38.3258 24.3070
0.5444 14.1673 38.4998 24.3814
0.5443 13.8949 38.4749 24.3325
0.5443 13.8701 38.4749 24.5801
0.5438 13.8453 38.5246 24.6049
0.5436 13.8949 38.6241 24.6794
0.5439 13.7210 38.4749 24.7293
0.5426 13.8949 38.5993 24.7540
0.542 13.8701 38.4998 24.7044
0.5415 14.1920 38.4998 24.6297
0.541 14.3156 38.4998 24.3078
0.5404 14.2908 38.4998 24.1842
0.5395 14.3403 38.4002 24.2090
0.5386 14.3403 38.4499 24.0599
0.5379 14.1179 38.4499 24.1096
0.5447 13.9444 38.3010 24.3320



Tabel 3. Hasil percobaan 2a (efek peltier)
V
(volt)
T air
panas
(
o
C)
T air
dingin
(
o
C)
T (K)
0.1035 28.9796 24.9391 4.0405
.1029 29.0960 25.0320 4.0640
0.1023 29.0261 25.0320 3.9941
0.1015 29.0029 24.9391 4.0637
0.1008 29.1193 25.0784 4.0409
0.1003 29.1193 25.0784 4.0409
0.0995 29.0261 24.9623 4.0638
0.0989 29.1661 25.0320 4.1340
0.0983 29.2126 25.1016 4.1111
0.0978 29.0727 25.0552 4.0175
0.0972 29.0494 24.9857 4.0638
0.0967 29.0494 25.0320 4.0174
0.0960 29.0494 24.9857 4.0638
0.0955 29.0960 25.0089 4.0871
0.0949 29.1893 25.0552 4.1341
0.0943 29.1893 25.0784 4.1110
0.0938 29.2359 25.0784 4.1575
0.1036 28.9796 24.9391 4.0405




V
(volt)
T air
panas
(
o
C)
T air
dingin
(
o
C)
T (K)
0.0933 29.1428 25.0089 4.1339
0.0926 29.2592 25.0784 4.1808
0.0919 29.1893 25.1016 4.0878
0.0912 29.1193 25.0089 4.1104
0.0905 29.2592 25.1247 4.1345
0.0899 29.1661 25.0784 4.0877
0.0893 29.1193 25.0320 4.0873
0.0887 29.0960 25.0320 4.0640
0.0884 29.2126 25.0320 4.1806
0.0880 29.2359 25.1247 4.1112
0.0877 29.1428 25.0552 4.0876
0.0873 29.1428 25.0320 4.1107
0.0867 29.2825 25.1016 4.1810
0.0862 29.2359 25.1016 4.1344
0.0856 29.2126 25.1247 4.0879
0.0852 29.1661 25.0320 4.1340
0.0847 29.2825 25.1247 4.1578
0.0842 29.2592 25.1945 4.0648




Tabel 3. Hasil percobaan 2b (efek peltier)
V
(volt)
T kaki
panas
(
o
C)
T kaki
dingin
(
o
C)
T (K)
0.1036 29.7026 28.7001 1.0025
0.1029 29.6793 28.5372 1.1421
0.1023 29.7960 28.7467 1.0493
0.1015 29.6793 28.6069 1.0724
0.1008 29.7726 28.7234 1.0492
0.1003 29.7726 28.7699 1.0027
0.0995 29.7026 28.6769 1.0257
0.0989 29.6793 28.5604 1.1189
0.0983 29.7960 28.7001 1.0958
0.0979 29.7726 28.7932 0.9794
0.0972 29.7026 28.6534 1.0492
0.0967 29.7960 28.7932 1.0028
0.0961 29.7493 28.7001 1.0491
0.0955 29.7026 28.5837 1.1189
0.0949 29.7259 28.5604 1.1655
0.0943 29.7493 28.5837 1.1656
0.0938 29.7726 28.5837 1.1890
0.1036 29.7026 28.7001 1.0025













V
(volt)
T kaki
panas
(
o
C)
T kaki
dingin
(
o
C)
T (K)
0.0933 29.7259 28.5372 1.1888
0.0926 29.8193 28.5837 1.2356
0.0919 29.9129 28.7699 1.1429
0.0912 29.8193 28.6069 1.2124
0.0905 29.9129 28.7467 1.1662
0.0899 29.9362 28.8165 1.1198
0.0893 29.8428 28.7234 1.1194
0.0887 29.8895 28.7699 1.1196
0.0884 29.7960 28.6069 1.1890
0.0881 29.9129 28.7234 1.1895
0.0877 29.9362 28.8165 1.1198
0.0873 29.8428 28.7001 1.1427
0.0867 29.9129 28.6534 1.2594
0.0862 29.9129 28.6534 1.2594
0.0856 30.0297 28.8863 1.1434
0.0852 29.9129 28.7467 1.1662
0.0847 29.9129 28.7234 1.1895
0.0842 30.0063 28.8397 1.1666