Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM STANDARDISASI BAHAN ALAM

PERCOBAAN 10
PEMANFAATAN KROMATOGRAFI LAIS TIPIS DALAM ANALISIS
IDENTIFIKASI JAMU PALSU
Disusun oleh :
KELOMPOK 6C
WIDYA

(10060312090)

FAJRI ZAKIYYATU S

(10060312091)

ACEP SOMANTRI

(10060312092)

YULI KUSMAWATI

(10060312116)

EVA LATIFA

(10060312118)

Tanggal Praktikum

: 21 Mei 2014

Tanggal Laporan

: 28 Mei 2014

Asisten : Airlang Budi P., S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2014
PERCOBAAN 10

PEMANFAATAN KROMATOGRAFI LAIS TIPIS DALAM ANALISIS


IDENTIFIKASI JAMU PALSU

I.

Tujuan Percobaan
(Fajri)
- Memperkenalkan metode KLT untuk mendeteksi adanya bahan kimia obat
-

(BKO) pada jamu


Memperkenalkan metode KLT sebagai bagian dalam standardisasi ekstrak
melalui analisis sidik ragam KLT.

II.

Teori Dasar

(Widya)

Jamu merupakan obat turun temurun yang telah digunakan untuk


pengobatandan diterapkan berdasarkan pengalaman yang berlaku di
masyarakat. Tapi untuk pelayanan kesehatan seperti di puskesmas dan rumah
sakit, jamu yang digunakanharus telah distandarisasi.
Menurut UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, obat tradisional
adalahbahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik)
ataucampuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan
untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.Dan menurut Kontanas 2007,
jamu adalah obat
tradisional dalam bentuk rajangan maupun serbuk, yang siap digunakan
dengan caradiseduh.Obat-obatan dari bahan alam itu dibagi menjadi tiga
kategori, yaitu:1. JamuAdalah obat asli Indonesia yang ramuan, cara
pembuatan,

cara

penggunaan,pembuktian

berdasarkan

pengetahuan

khasiat

tradisional.Pembuktian

dan

khasiat

keamanannya
jamu

hanya

berdasarkan pengalaman atau data empiris bukan ujiilmiah dan uji klinis.2.
Herbal terstandarAdalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dankhasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinis (pengujian
terhadap hewan percobaan)tapi belum uji klinis atau pada manusia meski
bahan bakunya telah distandarisasi.3. FitofarmakaAdalah sediaan obat bahan
alam yang telah dibuktikan secara ilmiah melaluiuji praklinis dan klinis,
dimana bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi.Produk
fitofarmaka

dapat

disetarakan

dengan

obat

moderen

dan

sudah

dapatdiresepkan oleh dokter.Standarisasi jamu dimaksudkan untuk menjamin


kualitas, keamanan dankemanjuran yang teruji secara pra klinis dan klinis,

sehingga dapat diterima di duniamedis secara rasional.Standarisasi jamu


meliputi:Adanya pendampingan terhadap para petani tanaman obatAdanya
pendampingan teknologi budidayaStandarisasi tanah, jenis tanaman, cara
tanam, dan cara panenUji secara praklinis (terhadap hewan percobaan) dan
klinis (terhadap manusia)Dengan standarisasi diharapkan dapat mendorong
perkembangan industri jamu atauobat tradisional dalam negeri, diutamakan
penggunaan produk industri dalam negeriyang berkualitas dan terjamin
ketersediaannya dalam jangka panjang, serta denganharga terjangkau.
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
(Peringatan,Nomor : KH.00.01.43.2773, Tanggal 2 Juni 2008) Tentang Obat
TradisionalMengandung Bahan Kimia Obat terdapat 54 (lima puluh empat)
item prodk obattradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat keras
yaitu :
-

Sibutramin Hidroklorida : meningkatkan tekanan darah (hipertensi),


denyut jantungdan sulit tidur. Tidak boleh diberikan pada penderita arteri
koroner, gagal jantungkongestif, aritmia atau stroke. OT : Sela Kapsul,

Langsing Ayu Sing Ayu Kapsul.


Sildenafit Sitrat : menyebabkan sakit kepala, pusing, dyspepsia, mual,
nyeri perut,gangguan penglihatan, rhinitis, infark miokard, nyeri dada,
palpitasi dan kematian.OT : Bima Kudra Tablet, Ajib Kapsul, dan 6 merek

obat tradisional lainnya terlampirpada lampiran BPOM.


Siproheptadin: mual, muntah, mult kering, diare, anemia hemolitik,
leucopenia,agranulositosis, dan trombositopenia. OT : Ganoderma
Capsule, Neo Gemuk SehatMerk F.Munir TR.993202281, TR.993202282,

TR. 993202283.
Fenilbutason : mual, muntah, ruam kulit, retensi cairan dan elektrolit
(

edema),pendarahan

lambung,

nyeri

lambung,

perforasi,

reaksi

hepersensitivitas, hepatitis,nefritis, gagal ginjal, leucopenia, anemia


aplastik, agranulositosis, dan lain-lain. OT :Pacegin Kapsul Alami
TR.043336341, Akar Baru Cina Tablet, dan 16 merek obattradisional
lainnya terlampir pada lampiran BPOM.

Asam Mafenamat : mengantuk, diare, ruam kulit, trombositopenia, anemia


hemolitik dan kejang serta dikontraindikasikan bagi penderita tukak

lambung/usus, asma danginjal. OT: Chuifong Toukuwan Pil.


Prednison : menyebabkan moon face, gangguan saluran cerna (mual, tukak
lambung),gangguan musculoskeletal (osteoporosis), gangguan endokrin
(gangguan haid),gangguan neuropsikiatri (ketergantungan psikis, depresi
dan

insomnia),

gangguanpenglihatan

(glaucoma)

dan

gangguan

keseimbangan cairan dan elektrolit. OT : SariJagat Manjur Rheumatik


-

Kapsul.
Metampiron : menyebabkan gangguan saluran cerna ( mual, pendarahan
lambung,rasa terbakar), gangguan system saraf (tinnitus dan neuropati),
gangguan darah(pembentukan sel darah merah dihambat, agranulositosis),
gangguan ginjal, syok,kematian. OT : Serbuk Dewa, Kharisma Sehat Pria
Dan Wanita Serbuk, dan 4 merek obat tradisional lainnya terlampir pada
lampiran BPOM.

III.

Alat dan bahan


(Yuli)
a. Alat
- Mikroskop
- Chamber KLT
- Lampu UV 254 dan 365nm
- Penampak bercak
- Pipa kapiler
- Pengering
b. Bahan
- Jamu yang disediakan oleh masing-masing peserta praktikum meliputi
-

jamu pegel linu, jamu encok, jamu rematik


Etanol
Jamu simulasi dari asisten
Plat KLT
Zat kimia pembanding : parasetamol, deksametason, antalgin,
ibuprofen.

IV.

Prosedur Percobaan
(Yuli)
a. Penentuan Eluen
Tiga buah chamber disiapkan kemudian dibuat 3 kombinasi eluen pada
tiga chamber tersebut masing-masing total sebanyak 10 mL. Chamber
dijenuhkan dahulu dengan memasukan kertas saring ke dalam chamber
yang telah berisi eluen dan ditutup dengan plastik. Plat KLT disiapkan
terlebih dahulu dengan memberi tanda batas bawah dan atas masing-

masing 1 cm. Setiap standar ditotolkan pada KLT dengan jarak spot yang
teratur. Hasil totolan dikeringkan, kemudian plat dimasukan ke dalam
chamber yang telah jenuh. Ditungu hingga eluen melewati batas atas. Plat
KLT dikeringkan kemudian dilihat di lampu UV 256 nm. Kemudian
dilakukan analisis apakah semua spot pembanding muncul di plat atau
tidak.
b. Identifikasi Pemalsuan Jamu
Disiapkan jamu simulasi dan jamu yang telah dibeli oleh setia kelompok.
Kemudian dilakukan pengamatan secara visual dan mikroskopis untuk
mendeteksi kemungkinan kristal BKO yang tercampur dalam jamu.
Digambar bentuk kristal tersebut kemudian kristal tersebut dibandingkan
dengan kristal standar yang tersedia. Dibuat larutan sampel dan
pembanding dengan cara melarutkan 10 mg jamu dalam 5 ml etanol dan
pembanding 10 mg dalam 5 ml etanol. Disiapkan larutan pengembang
berupa etil asetat atau pengembang lain yang cocok untuk zat kimia
pembanding yang anda duga dengan mengacu pada pustaka. Ditotolkan
larutan jamu sampel, jamu simulasi dan BKO pembanding ke plat KLT,
kemudian dielusi dengan pengembang hingga batas 1 cm dari ujung plat,
dikeringkan lalu diamati secara visual dibawah sinar UV 254 nm, dan 365
nm. Apabila tidak muncul bercak maka semprot dengan larutan penampak
bercak. Hasil pengamatan yang didapat didiskusikan dan khusus untuk
jamu simulasi, diwajibkan untuk menebak senyawa apa yang terdapat
didalam jamu tersebut.
V.

Hasil Pengamatan dan Perhitungan

(Eva dan Fajri)

Nama jamu : Armalin


Khasiat : Asam urat, pegal linu, nyeri otot.
Senyawa pembanding : Ibuprofen, Antalgin, Deksametason, Paracetamol
Dari hasil uji mikroskopik pada jamu armalin tidak ditemukan kristal yang
menunjukan keberadaan bahan kimia obat.

(a) Mikroskopik Jamu Armalin


Dari hasil mikroskopik pada jamu simulasi juga tidak ditemukan kristal yang
menunjukan keberadaan bahan kimia obat.

(b) Mikroskopik Jamu Simulasi


Dari hasil KLT dengan menggunakan eluen kloroform : etil asetat (7 : 3) ditemukan tiga
bercak yang dapat terlihat pada sinar UV, dengan nilai Rf sebagai berikut :
Jamu Armalin : tidak menunjukan bercak
Rf jamu simulasi : 2 cm / 7,8 cm = 0,256
Rf Ibuprofen : tidak menunjukan bercak
Rf Antalgin : tidak menunjukan bercak
Rf Deksametason : 2 cm / 7,8 cm = 0,256
Rf Paracetamol : 1,5 cm / 7,8 cm = 0,192

VI.

Pembahasan

(Fajri dan Acep)

Pada praktikum kali ini akan dilakukan percobaan pemanfaatan


kromatografi lapis tipis dalam analisis identifikasi jamu palsu, seperti kita
ketahui bahwa jamu adalah obat tradisional, dimana bahan-bahan yang
terkandung di dalamnya berasal dari tanaman yang memiliki khasiat
farmakologis terhadap tubuh. Akan tetapi, efek dari jamu terhadap tubuh ini
tidak akan langsung memberikan khasiat, mengingat obat-obatan tradisional
ini bekerja untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak sehingga
membutuhkan waktu untuk memulihkannya, berbeda dengan obat-obatan
kimia yang selama ini kita kenal yang langsung memberikan efek

farmakologis pada saat kita meminumnya. Maka dari itu, untuk meningkatkan
kualitas dari jamu itu sendiri, para produsen nakal sering kali memasukkan
bahan kimia obat seperti dekstromethorphan, deksamethason, parasetamol,
ibuprofen, dan lain-lain ke sediaan jamu, sehingga efek dari jamu terhadap
tubuh langsung terasa, jamu inilah yang disebut dengan jamu palsu.
Untuk menguji apakah suatu jamu mengandung bahan kimia obat (BKO),
dilakukanlah pengujian, salah satunya dengan menggunakan metode
kromatografi lapis tipis. Pada pengujian ini, pertama-tama melarutkan sampel
jamu yang dicurigai mengandung BKO, pembanding yang sudah disiapkan
(ibuprofen, antalgin, deksametason, parasetamol), dan satu produk jamu yang
mengandung bahan kimia obat dengan etanol, Digunakannya etanol sebagai
pelarut, karena etanol ini merupakan pelarut universal, dimana kebanyakan zat
dapat larut dengan etanol. Setelah itu dipersiapkan larutan pengembang etil
asetat dan kloroform (3:7), digunakannya etil asetat dan kloroform (3:7)
karena larutan pengembang dengan perbandingan (3:7) ini cocok untuk zat
kimia pembanding, dimana spot yang muncul posisinya tidak terlalu tinggi
dalam fase diam. Lalu sampel dan pembanding ditotolkan pada plat KLT.
Setelah itu plat KLT dielusi hingga batas yang sudah ditandai. Setelah selesai,
plat KLT diamati secara visual dibawah sinar UV. Hasil yang didapat adalah
jamu yang diduga mengandung BKO ternyata hasilnya negatif, dikarenakan
setelah diamati dibawah sinar UV tidak timbul spot pada plat KLT.
Selanjutnya adalah mengidentifikasi jamu simulasi yang telah positif
mengandung BKO. Dari hasil pengujian Kromatografi Lapis Tipis, harga Rf
menunjukkan jamu simulasi tersebut mengandung Deksametason karena
harga Rf baku Deksametason diperoleh sama dengan harga Rf sampel jamu
simulasi dengan menggunakan eluen kloroform : etil asetat (7:3).
Zat kimia berkhasiat (obat) tidak diperbolehkan digunakan dalam
campuran obat tradisional karena obat tradisional diperjual belikan secara
bebas. Dengan demikian dapat berakibat yang kurang baik, ini merupakan
salah satu persyaratan untuk semua bentuk sediaan Obat Tradisional di
Indonesia ialah tidak boleh mengandung bahan kimia obat. Obat tradisional
yang telah ditambahkan BKO umumnya dimaksudkan untuk menghilangkan
gejala sakit segera seperti pada pegal linu dan asam urat, ataupun secara

farmakologis menekan rangsang makan pada susunan syaraf pusat seperti


pada obat-obat pelangsing.
Umumnya, BKO yang digunakan adalah obat keras (daftar G) yang
sebagian besar menimbulkan efek samping ringan sampai berat seperti iritasi
saluran pencernaan, kerusakan hati/ginjal, serta gangguan penglihatan. Pada
efek samping ringan, gangguan/kerusakan terjadi dapat bersifat sementara
atau reversible. Pada efek samping berat, bisa terjadi gangguan/kerusakan
permanen pada jaringan/organ sampai kematian. Hal ini jelas disebabkan
kurangnya pengetahuan produsen akan bahaya mengkonsumsi bahan kimia
obat secara tidak terkontrol baik dosis maupun cara penggunaannya.
Deksametason

adalah

glukokortikoid

sintetik

dengan

aktivitas

imunosupresan dan anti-inflamasi. Sebagai imunosupresan, deksametason


bekerja dengan menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi
rangsangan. Aktivitas anti-inflamasi deksametason dengan jalan menekan atau
mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat
akumulasi sel yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit
pada

tempat

inflamasi.

Deksametason

merupakan

obat

golongan

kortikostseroid. Kortikosteroid adalah suatu hormon yang dibuat oleh bagian


korteks (luar) dari kelenjar adrenal. Kortikosteroid terbagi menjadi 2
kelompok,

yaitu

kelompok

glukokortikoid

dan

mineralokortikoid.

Glukokortikoid berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak dan


protein, juga bertindak sebagai anti-inflamasi dengan cara menghambat
pelepasan fosfolipid serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Sedangkan
mineralokortikoid berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air dengan cara
penahanan garam di ginjal. Berdasarkan mekanisme kerjanya, deksametason
digolongkan ke dalam kelompok glukokortikoid.
VII.

Kesimpulan
(Acep)
- Metode kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk mengidentifikasi
-

adanya bahan kimia obat dalam suatu sampel jamu.


Sampel jamu yang bermerk Armalin tidak mengandung BKO.
Jamu simulasi positif mengandung deksametason karena nilai Rf jamu
simulasi sama dengan Rf deksametason.

VIII.

Daftar Pustaka
Tim

Penyusun

(Widya)
Materia

Medika

Indonesia.

1995.

Materia

Medika

IndonesiaEdisi VI. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.


Frans A. Rumate. A.Ilham Makhmud. 2007. Peraturan Perundang-undangan
Bidang Farmasi dan Kesehatan. Fakultas Farmasi

Universitas

Hasanuddin.Makassar.
Didik Gunawan. Sri Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) jilid
1.Penebar Swadaya. Jakarta.

C.P.

Khare.

2007.

Indian

Medicinal

Plants

(Electronic

Version).

SpringerScience Business Multimedia. New Delhi.


Rosani

Tayeb.

Mufidah.

2007.

Penuntun

Praktikum

Farmakognosi

Lanjutan.Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin . Makassar