Anda di halaman 1dari 18

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK DERIVAT

LAPORAN FORMULASI MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN


MINYAK JARAK DALAM PEMBUATAN SABUN





Disusun oleh:
Utiya Listy Biyumna
121710101119


THP C




JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Minyak kelapa sawit merupakan suatu trigliserida (senyawa gliserol
dengan asam lemak). Sesuai dengan bentuk bangun rantai asam lemaknya,
minyak kelapa sawit termasuk golongan minyak asam oleat-linolenat. Minyak
kelapa sawit berwarna merah jingga karena kandungan karotenoid (terutama -
karoten) berkonsistensi setengah padat pada suhu kamar (Mangoensoekarjo S,
2003). Minyak kelapa sawit memiliki karakteristik yang unik dibandingkan
dengan minyak nabati lainnya. Komposisinya terdiri dari asam lemak jenuh
50%, MUFA 40%, serta asam lemak tak jenuh ganda yang relatif sangat sedikit
( 10%). Tingginya asam lemak jenuh pada minyak kelapa sawit menyebabkan
minyak kelapa sawit memadat pada suhu ruang (Darnoko, 2003). Minyak kelapa
sawit dapat dijadikan sabun dengan adanya penambahan minyak lain salah
satunya minyak jarak.
Minyak jarak merupakan jenis minyak yang memiliki komposisi trigliserida
yang mirip dengan kacang (Hambali et al,2006). Asam lemak yang dominan
terdapat pada minyak jarak adalah asam oleat dan linolenat yang merupakan
asam lemak tidak jenuh. Asam oleat memiliki satu ikatan rangkap, sedangkan
asam linoleat memiliki dua ikatan rangkap. Tingginya asam lemak tidak jenuh
pada minyak jarak ini menyebabkan minyak jarak berbentuk cair pada suhu ruang.
Asam oleat dan linoleat memiliki titik cair yang rendah, yaitu 14
o
C untuk oleat
dan 11
o
C untuk asam linoleat (Ketaren,1986).
Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri
dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan
sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi
kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau
lemak hewani. Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses
netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk
sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh
gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali,
sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali
(Qisti, 2009).
Minyak kelapa sawit dan minyak jarak mempunyai sifat fisik yang berbeda.
Kandungan asam lemak jenuh yang tinggi pada minyak kelapa sawit membuat
minyak kelapa sawit memadat pada suhu ruang, sedangkan pada minyak jarak
kandungan asam lemak tidak jenuhnya tinggi yang membuat minyak jarak
berbentuk cair pada suhu ruang. Oleh karena itu, dilakukan beberapa formulasi
minyak kelapa sawit dengan minyak jarak untuk mengetahui formulasi yang tepat
dalam pembuatan sabun.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk
Mengetahui formulasi minyak kelapa sawit dengan minyak jarak dalam
pembuatan sabun.
Mengetahui daya buih dan warna dari masing-masing formulasi
pembuatan sabun.







BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit merupakan suatu trigliserida (senyawa gliserol
dengan asam lemak). Sesuai dengan bentuk bangun rantai asam lemaknya,
minyak kelapa sawit termasuk golongan minyak asam oleat-linolenat. Minyak
kelapa sawit berwarna merah jingga karena kandungan karotenoid (terutama -
karoten) berkonsistensi setengah padat pada suhu kamar (Mangoensoekarjo S,
2003).
Minyak kelapa sawit merupakan bahan baku untuk keperluan pangan
(minyak goreng, margarin, lemak) tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan
nonpangan (gliserin, sabun, detergen, bahan bakar) (Hadi, 2004). Minyak kelapa
sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid
sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus
dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit
akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan
lainnya.
Minyak kelapa sawit memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan
minyak nabati lainnya. Komposisinya terdiri dari asam lemak jenuh 50%,
MUFA 40%, serta asam lemak tak jenuh ganda yang relatif sangat sedikit (
10%). Tingginya asam lemak jenuh pada minyak kelapa sawit menyebabkan
minyak kelapa sawit memadat pada suhu ruang (Darnoko, 2003).

2.2 Minyak Jarak
Minyak jarak mempunyai sifat sangat beracun dan kandungan asam lemak
esensialnya yang sangat rendah, hal yang demikian menyebabkan minyak jarak
pagar tidak dapat digunakan sebagai minyak makanan dan bahan pangan
(Ketaren, 1986). Minyak jarak mempunyai rasa asam dan dapat dibedakan dengan
trigliserida lainnya karena bobot jenis, kekentalan dan bilangan asetil serta
kelarutannya dalam alkohol nilainya relatif tinggi. Minyak jarak larut dalam etil
alcohol 95 %, pada suhu kamar serta pelarut organik yang polar dan sedikit
larut dalam golongan hidrokarbon alifatis. Nilai kelarutan dalam petroleum eter
relatif rendah dan dapat dipakai untuk membedakannya dengan golongan
trigliserol dan lainnya. Kandungan tokoferol relatif kecil, serta kandungan asam
lemak esensial yang sangat rendah menyebabkan minyak jarak tersebut berbeda
dengan minyak nabati lainnya, minyak jarak mempunyai bobot jenis 0,961-0963:
viskositas 0,5.
Minyak jarak pagar mengandung asam lemak, asam risinolat dan asam
liloleat. Minyak jarak berkhasiat sebagai obat udem, obat luka, obat gosok, obat
borok dan penyubur rambut (Supriadi, 2001; Wijayakusuma, 2002). Asam lemak
yang terkandung dalam minyak terdiri dari: 86 %, risinoleat; 8,5 %, asam oleat;
3.5 %, asam linoleat; 0,5-2 %, asam. stearat; 1-2 %, asamdihidroksi stearat
(Ketaren, 1986). Asam-asarn lemak yang terkandung dalam minyak jarak pagar
komposisi terbesarnya yaita asam linoleat 3,5-2% dan asam. risinolat 86%. Kedua
asam tersebut rnerupakan bagian dari hair tonik (Ketaren, 1986)

2.3 Sabun
Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri
dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan
sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi
kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau
lemak hewani. Sabun dikenal luas dan sangat penting sebagai penurun tegangan
permukaan. Karena itu sabun merupakan salah satu jenis surfaktan. Sabun asam
lemak sangat baik menghilangkan kotoran (tanah) dan sangat baik mensuspensi
minyak pada proses pencucian (Rais, 2008).
Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses
netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk
sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh
gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali,
sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali
(Qisti, 2009).
Tabel 1. Syarat Mutu Sabun
Jenis Uji Satuan Standar
Jumlah asam lemak, (b/b)
Kadar tak tersabunkan, (b/b)
Kadar alkali bebas terhitung sebagai NaOH
Kadar air dan zat menguap
Minyak mineral
Bahan tak larut dalam alkohol, (b/b)
%
%
%
%

%
Min 70,00
Maks 2,50
Maks 0,10
Maks 15,00
Negatif
Maks 2,50
Sumber: Standar Nasional Indonesia (2006)

Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur
dengan alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Prinsip dalam proses
saponifikasi, yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan
sabun mentah. Proses pencampuran antara minyak dan alkali kemudian akan
membentuk suatu cairan yang mengental, yang disebut dengan trace. Pada
campuran tersebut kemudian ditambahkan garam NaCl. Garam
NaCl ditambahkan untuk memisahkan antara produk sabun dan gliserol sehingga
sabun akan tergumpalkan sebagai sabun padat yang memisah dari gliserol
(Gebelin, 2005).
Tahap pertama dari proses saponifikasi trigliserida ini adalah mereaksikan
trigliserida dengan basa alkali (NaOH, KOH atau NH4OH) untuk membentuk
sabun dan gliserol, serta Impurities. Lebih dari 99,5% lemak / minyak berhasil
disaponifikasi pada proses ini. Kemudian hasil reaksi dipompakan ke unit
pemisah statis (separator) yang bekerja dengan prinsip perbedaan densitas. Pada
unit ini akan terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan sabun pada bagian atas dan
lapisan Recycle pada bagian bawah. Recycle terdiri dari gliserin, sisa alkali,
sodium klorida, impuritis, air yang secara keseluruhan membentuk lapisan yang
lebih berat dari sabun sehingga berada pada lapisan bagian bawah di dalam
pemisah statis.
Proses selanjutnya adalah penambahan aditif dan pengeringan sabun dalam
unit pengeringan (dryer). Zat aditif yang ditambahkan adalah gliserol, yang
berfungsi sebagai pelembut dan pelembab pada kulit, EDTA yang berfungsi
sebagai surfaktan pada sabun (pembersih dan pemutih) yang dapat mengangkat
kotoran pada kulit. Dan Gliserin (Additive) yang berfungsi sebagai pelembab
(Moisturizer) pada sabun. Zat tambahan ini dicampurkan dalam Tangki
Pencampur yang dilengkapi oleh jaket pemanas untuk menjaga sabun tetap cair
(suhu tetap). Jumlah aditif yang ditambahkan sesuai dengan spesifikasi mutu yang
diinginkan. Tahap berikutnya adalah proses pengeringan sabun. Kandungan air
dalam sabun biasanya diturunkan dari 30 35% ke 8 18% (Riegel, 1985). Unit
pengeringan sabun ini biasanya berupa unit vakum spray chamber.

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat : Laboraturium BIOKIMIA Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Jember
Waktu : 13 Oktober 2014

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari kompor, beaker glass,
sendok, thermometer, cetakan sabun, pipet volum, bold pipet, panci stainless,
plastik wrapping, label, tissu, loyang, pnetrometer, oven, botol timbang, sarung
tangan, gelas ukur, colour reader, lap, stopwatch, pisau.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari minyak kelapa sawit,
minyak jarak, NaOH 70 %, aquadest, pewangi, label dan tissu.


3.3 Skema Kerja



























Formulasi
minyak kelapa sawit : minyak jarak
((40:30); (30:40))

Penambahan 14 ml
NaOH 70 %
Pemanasan sambil diaduk
(70
0
C)
Penambahan 2 ml
pewangi
Pencetakan
Pendinginan pada suhu
kamar (24 jam)
Pengamatan
Sabun padat
Pengadukan hingga trace
3.4 Parameter Penelitian
3.4.1 Daya buih sabun
Daya buih sabun dilakukan dengan cara mengocok cairan sabun hingga
membentuk busa. Kemudian amati seberapa banyak busa yang dihasilkan. Untuk
lebih jelasnya akan dijelaskan dalam diagram alir berikut.










3.4.2 Warna
Pengukuran warna dilakukan dengan menggunakan alat colur reader.
Pengujian warna dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali dengan titik yang
berbeda.




Sabun 1 gram
+ 100 ml air hangat 70C
Pengenceran
Ambil 10 ml
Masukkan pada gelas ukur
Pengocokan 10 menit
Pengamatan
BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Daya buih
No Formulasi
minyak sawit : minyak jarak (ml)
Cairan sabun (ml) Buih sabun (ml)
1 40 : 30 9 24
2 30 : 40 8 22

4.1.2 Warna
No Perlakuan L a b
1 40 : 30 (minyak sawit : minyak jarak)
51,6 6,9 26,3
51,2 6,4 25,6
51,1 7,0 26,3
2 30 : 40 (minyak sawit : minyak jarak)
49,2 7,2 27,0
51,0 6,9 26,4
51,3 7,4 27,5


4.2 Hasil Perhitungan
4.2.1 Warna
No Perlakuan
Rata - rata
L a b
1 40 : 30 (minyak sawit : minyak jarak) 51,3 6,8 26,1
2 30 : 40 (minyak sawit : minyak jarak) 50,5 7,2 27,0



BAB 5. PEMBAHASAN

5.1 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
Prosedur kerja yang dilakukan dalam proses pembuatan sabun pertama-tama
yaitu minyak sawit dan minyak jarak ditimbang sesuai formula yaitu 40 ml
minyak sawit dengan 30 ml minyak jarak dan formulasi kedua yaitu 30 ml minyak
sawit dengan 40 ml minyak jarak, kemudian dimasukkan ke dalam panci,
dicampur dan dipanaskan menggunakan menggunakan kompor hingga suhu 70
o
C.
Fungsi pemanasan ini adalah untuk memudahkan bahan bercampur dengan NaOH
yang telah dilarutkan sebelumnya. Fungsi pelarutan NaOH ini adalah untuk
memperoleh volume akhir yang besar (James E.Brady, 1999 : 102). Sebelum
dicampur dengan NaOH, suhu masing-masing formulasi diturunkan sampai 40
0
C
agar tidak terjadi reaksi korosi pada panci karena sifat NaOH yaitu basa kuat yang
mampu melelehkan benda seperti besi maupun aluminium. Setelah dicampur
dengan NaOH, segera diaduk hingga trace untuk menghasilkan reaksi
saponifikasi, yaitu suatu reaksi antara trigliserida dengan alkali. Pada saat
penambahan NaOH ini, adonan akan menjadi keras dan lengket yang menunjukan
terbentuknya stok sabun. Pengadukan terus dilakukan sampai homogen.
Pengadukan tidak boleh dilakukan terlalu cepat, karena semakin cepat
pengadukan, busa yang terbentuk saat proses pembuatan semakin banyak. Hal ini
berdampak terhadap penyusutan produk akhir. Lalu ditambahkan pewangi untuk
memberikan aroma harum pada sabun. Setelah itu, sabun dicetak dan kemudian
ditutup plastik wrapping untuk menghindari kontaminasi kotoran dari luar,
mengoptimalkan reaksi yang terjadi di dalam sabun, sehingga teksturnya akan
lebih padat dan untuk meminimalkan penguapan bahan yang mudah menguap,
seperti pewangi dan lainnya. Sabun dibiarkan selama 24 jam yang bertujuan untuk
menetralkan alkali yang terdapat pada sabun. Terakhir sabun diambil sedikit
untuk diamati daya buih dan warna yang dihasilkan.


5.2 Analisa Data
5.2.1 Daya Buih
Dari hasil pengamatan daya buih sabun, dapat terlihat bahwa hasil buih dari
formulasi 40 ml minyak sawit dan 30 ml minyak jarak adalah 24 ml dengan cairan
sebanyak 9 ml, sedangkan hasil buih dari formulasi 30 ml minyak sawit dan 40 ml
minyak jarak adalah 22 ml dengan cairan sebanyak 8 ml. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin banyak minyak sawit yang digunakan, sabun yang dihasilkan
akan memperoleh daya buih yang semakin tinggi, sedangkan semakin banyak
minyak jarak yang digunakan, sabun yang dihasilkan akan memperoleh daya buih
yang semakin sedikit. Hal ini dikarenakan minyak sawit mengandung 41% lemak
jenuh yaitu asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%) dan asam
palmitat (44%), sedangkan dalam minyak jarak mengandung asam lemak oleat
dan linoleat yang tinggi. Asam lemak yang digunakan pada sabun pada umumnya
adalah asam palmitat atau stearat. Minyak adalah ester asam lemak tidak jenuh
dengan gliserol. Melalui proses hidrogenasi dengan bantuan katalis Pt atau Ni,
asam lemak tidak jenuh diubah menjadi asam lemak jenuh dan melalui proses
penyabunan (saponifikasi) dengan basa NaOH atau KOH akan terbentuk sabun
dan gliserol (Riawan, 1990). Sabun yang memiliki kandungan asam palmitat dan
asam stearat akan menghasilkan buih yang lebih stabil. Berikut adalah reaksi
saponifikasi sabun.






5.2.2 Warna
Dari hasil pengamatan warna sabun, dapat terlihat bahwa warna dari
formulasi 40 ml minyak sawit dan 30 ml minyak jarak memiliki tingkat kecerahan
(L) = 51,3, a = 6,8 dan b = 26,1, sedangkan hasil warna dari formulasi 30 ml
minyak sawit dan 40 ml minyak jarak memiliki tingkat kecerahan (L) = 50,5, a =
7,2 dan b = 27,0. L* mewakili nilai kecerahan warna, 0 untuk hitam dan 100
untuk putih, a* mewakili jenis warna merah dan hijau dan b* mewakili jenis
warna kuning dan biru. Dari data, selisih kecerahan antara keduanya hanya
sebesar 0,8, selisih nilai a sebesar 0,4 dan selisih nilai b sebesar 0,9. Hal ini
menunjukkan bahwa perbedaan kedua warna sabun tidak terlalu signifikan.
Semakin banyak atau semakin sedikit banyaknya formulasi bahan yang digunakan
tidak mempengaruhi warna sabun yang dihasilkan. Dari bahan minyaknya pun,
keduanya memiliki warna kuning yang hampir selaras, sehingga dari kedua
formulasi tidak telalu signifikan perbedaan warnanya.












BAB 6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa:
Formulasi minyak sawit dengan minyak jarak dalam pembuatan sabun yaitu
40 : 30 dan 30 : 40
Daya buih sabun terbaik terdapat pada formulasi 40 ml minyak sawit
dengan 30 ml minyak jarak.
Hasil warna yang dihasilkan dari kedua formulasi tidak terlalu signifikan.

6.2 Saran
Seharusnya asisten lebih mendampingi dan lebih sabar terhadap praktikan
karena praktikan masih tahap belajar, sehingga apabila ada kesalahan mohon
dimaklumi.




DAFTAR PUSTAKA

Darnoko D. S. 2003. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit dan Produk
Turunannya. Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Gebelin, C. G. 2005. Cemistry and Our World. Dubugue. I. A. U.S.A : Wm. C
Brown Publishers.
Hadi, M.M. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Yogyakarta: Penerbit Adicita.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan
Pertama. Jakarta : UI-Press.
Lachman, L. Lieberman, Knig. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi
Ketiga. Jakarta: UI-Press.
Mangoensoekardjo. S. 2003. Manajemen Aagrobisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta:
UGMPress.
Qisti, R. 2009. Sifat Kimia Sabun Transparan dengan Penambahan Madu pada
Konsentrasi yang Berbeda. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Rais, F., Rochadi Baati, Nesrin Damak, Amel Kamaun. 2008. The Use of a
Eutectic Mixture of Olive Pomace Oil Fatty Amides to Easilly Prepared
Sulfated Amides Applied as Lime Soap Dispersant. 85: 869-877.
Riawan. 1990. Kimia Organik. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Riegel,Emil Raymond, 1985. Riegels Handbook of Industrial Chemistry,9
th
Edition, Van Nostrand Reinhold, New York.
Standar Nasional Indonesia (SNI). 1996. Sabun Mandi Cair. Badan Standardisasi
Nasional, Jakarta. (SNI 06-4085-1996).
Wijayakusuma,H.M. 2000. Ramuan Tradisional untuk pengobatan Darah Tinggi.
Jakarta: Swadaya.

LAMPIRAN




LAMPIRAN PERHITUNGAN

Warna
Formulasi 40 : 30 (minyak sawit : minyak jarak)
L = (51,6 + 51,2 + 51,1) / 3= 153,9 / 3 = 51,3
a = (6,9 + 6,4 + 7,0) / 3 = 20,3 / 3 = 6,8
b = (26,3 + 25,6 + 26,3) / 3 = 78,2 / 3 = 26,1
Formulasi 30 : 40 (minyak sawit : minyak jarak)
L = (49,2 + 51,0 + 51,3) / 3 = 151,5 / 3 = 50,5
a = (7,2 + 6,9 + 7,4) / 3 = 21,5 / 3 = 7,2
b = (27,0 + 26,4 + 27,5) / 3 = 80,9 / 3 = 27,0

Anda mungkin juga menyukai