Anda di halaman 1dari 23

1

Fauziah Andiani
102013225
Kelompok F10
andiani_fauziah@yahoo.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna utara No.6 Jakarta 11510. Telepon : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731
www.ukrida.ac.id
Pendahuluan

Anatomi ginjal
Kedua ren terletak retroperitoneal pada dinding abdomen, masing-masing di sisi kanan dan sisi kiri
columna vertebralis setinggi vertebra T12 sampai vertebra L3. Setiap ginjal panjangnya 6 - 7,5cm, dan
tebal 1,5 2,5 cm. pada orang dewasa beratnya kira-kira 140gram. Bentuk ginjal seperti kacang dan
sisi dalamnya atau hilum menghadap ke tulang punggung. Sisi luarnya cembung. Pembuluh-pembuluh
ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Di atas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar
suprarenal. Setiap ginjal dilingkupi kapsul tipis dari jaringan fibros yang rapat membungkusnya, dan
membentuk pembungkus yang halus. Di dalamnya terdapat struktur-struktur ginjal. Warnanya ungu
tua dan terdiri atas bagian kortex di sebelah luar, dan bagian medula di sebelah dalam. Bagian medula
ini tersusun atas lima belas sampai enam belas massa berbentuk piramid, yang disebut piramis ginjal.
Puncak-puncaknya langsung mengarah ke hilum dan berakhir di kalises. Kalises ini
menghubungkannya dengan pelvis ginjal. Struktur halus ginjal terdiri atas banyak nefron yang
merupakan satuan fungsional ginjal. Ren dexter terletak sedikit lebih rendah daripada ren sinister
karena besarnya lobus hepatis dexter. Masing-masing ren memiliki facies anterior dan facies posterior,
margo medialis dan margo lateralis, extremitas superior dan extremitas inferior. Ke arah kranial
masing-masing ren berbatas pada diaphragma yang memisahkannya dari cavitaspleuralis dan costa
XII. Lebih ke kaudal facies posterior ren berbatas pada arteria subcostalis dan vena subcostalis, serta
nervus iliohypogastricus melintas ke kaudal dengan menyilang facies posterior ren secara diagonal.
2

Hepar, duodenum, dan colon ascendens terletak ventral terhadap ren dexter, sedangkan ren sinister di
sebelah ventral berbatas pada gaster (ventriculus), splen (lien), pancreas, jejenum, dan colon
descendens. Pada tepi medial masing-masing ren yang cekung, terdapat celah vertikal yang dikenal
sebagai hilum renale, yakni tempat arteria renalis masuk, dan vena renalis serta pelvis renalis keluar.
Hilum renale sinisrum terletak dalam bidang transpilorik, kira-kira 5cm dari bidang median, setinggi
vertebra L1. Di hilum renale vena renalis terletak ventral dari arteria renalis yang berada ventral dari
pelvis renalis. Hilum renale memberi jalan ke suatu ruang dalam ren yang dikenal sebagai sinus
renalis, dan berisi pelvis renalis, calices renales, pembuluh, sarah dan jaringan lemak yang banyaknya
dapat berbeda-beda.
Jaringan ikat yang meliputi ren dikenal sebagai fascia renalis, terpisah dari capsula fibrosa renalis oleh
lemak perirenal (corpus adiposum perirenale) yang di hilum renale sinambung dengan lemak dalam
sinus renalis. Di sebelah luar fascia renalis terdapat lemak pararenal (corpus adiposum pararenale)
yang paling jelas di sebelah dorsal ren. Gerak ren pada pernapasan diselaraskan oleh corpus adiposum
perirenale dan corpus adiposum pararenale. Fascia renalis memancarkan berkas-berkas kolagen
melalui jaringan lemak, dan dengan demikian bersama dengan pembuluh-pembuluh ren dan ureter,
memantapkan kedudukan ren. Fascia renalis meluas ke arah kranial untuk meliputi glandula
suprarenalis (adrenalis). Kaudal dari ren fascia renalis beralih menjadi jaringan ikat yang
menghubungkan peritoneum parietale pada dinding abdomen dorsal. Perlekatan fascia renalis secara
klinis penting karena perlekatan itu mencegah meluasnya abses perinefrik (masa nanah sekeliling ren).
Misalnya, fascia di hilum renale melekat erat pada pembuluh-pembuluh ren dan ureter, sehingga
biasanya mencegah meluasnya nanah ke sisi yang lain. Demikian pula, nanah tidak dapat meluas ke
kaudal karena perlekatan fascia renalis pada dinding abdomen dorsal.
Setiap ginjal diperkirakan ada 1 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. Setiap nefron
terdiri dari tubulus renalis, glomerulus dan pembuluh darah yang menyertainya. Setiap tubulus renalis
adalah tabung panjang yang bengkok, dilapisi oleh selapis sel kuboid. Tubulus renalis dimulai sebagai
kapsula bowman, mangkuk berlapis ganda yang menutupi glomerulus, terpuntir sendiri membentuk
tubulus kontortus proksimal, berjalan dari korteks ke medula dan kembali lagi membentuk ansa henle,
terpuntir sendiri kembali membentuk tubulus kontortus distal, dan berakhir dengan memasuki duktus
koligentes.
3

1. Glomerulus adalah gulungan kapilar yang dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda disebut
kapsul bowman. Blomerulus dan kapsul bowman bersama-sama membentuk sabuah korpuskel
ginjal.
a. Lapisan visceral kapsul bowman adalah lapisan internal epitelium. Sel-sel lapisan visceral
dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti kaki), yaitu sel-sel epitel khusus di sekitar kapilar
glomerular.
1) Setiap sel podosit melekat pada permukaan luar kapiler glomerular melalui
beberapa prosesus primer panjang yang mengandung prosesus sekunder yang
disebut prosesus kaki atau pedikel
2) Pedikel berinterdigitasi (saling mengunci) dengan procesus yang sama dari podosit
tetangga. Ruang sempit antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi disebut filtration
slits (pori-pori dari celah) yang lebarnya sekitar 25nm. Setiap pori dilapisi selapis
membran tipis yang memungkinkan aliran beberapa molekul dan menahan aliran
molekul lainnya
3) Barier filtrasi glomerular adalah barier jaringan yang memisahkan darah dalam
kapilar glomerular dari ruang dalam kapsul bowman. Barier ini terdiri dari
endotelium kapiler, membran dasar (lamina basalis) kapilar, dan filtration slit
b. Lapisan arietal kapsul bowman membentuk tepi terluat korpuskel ginjal
1) Pada kutub vaskular korpuskel ginjal, arteriola aferen masuk ke glomerulus dan
arteriol eferen keluar dari glomerulus
2) Pada kutub urinarius korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi aliran yang masuk ke
tubulus kontortus proksimal
2. Tubulus kontortus proksimal, panjangnya mencapai 15mm dan sangat berliku. Pada
permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epitelial kuboid yang kaya akan
mikrovilus (brush border) dan memperluas area permukaan lumen
3. Ansa henle. Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai descenndens ansa henle yang
masuk ke dalam medula, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan), dan membalik ke
atas membentuk tungkai ascendens ansa henle.
a. Nefron korteks terletak di bagian terluar korteks. Nefron ini memiliki lekukan pendek yang
memanjang ke sepetiga bagian atas medula
4

b. Nefron jukstamedular terletak di dekat medula. Nefron ini memiliki lekukan panjang yang
menjulur ke dalam piramida medula
4. Tubulus kontortus distal juga sangat berliku. Panjangnya sekitar 5mm dan membentuk
segmen terakhir nefron.
a. Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen. Bagian
tubulus yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut
macula densa. Macula densa berfungsi sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh
penurunan ion natrium.
b. Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung sel-sel otot
polos termodifikasi yang disebut sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui
penurunan tekanan darah untuk memproduksi renin.
c. Macula densa, sel jukstaglomerular, dan sel mesangium saling bekerja sama untuk
membentuk aparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan tekanan darah.
5. Tubulus dan duktus colligens. Karena setiap tubulus colligens berdescendens di korteks,
maka tubulus tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus colligens
embentuk ductus colligens besar yang lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba yang lebih
besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks minor. kaliks minor bermuara ke dalam pelvis
ginjal melalui kaliks mayor. Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter mengarah ke kandung
kemih (vesica urinaria).
Arteria renalis dilepaskan setinggi discus intervertebralis antara vertebra L1 dan vertebra L2. Arteria
renalis dextra yang lebih panjang, melintas dorsal dari vena cava inferior. Secara khas di dekat hilum
renale masing-masing arteri bercabang menjadi lima arteria segmentalis yang merupakan arteri-arteri
akhir, artinya ialah bahwa arteri-arteri ini tidak beranastomosis. Arteriae segmentales melintas ke
segmenta renalia. Beberapa vena menyalurkan darah dari ren dan bersatu menurut pola yang berbeda-
beda, untuk membentuk vena renalis. Vena renalis terletak ventral terhadap arteria renalis, dan vena
renalis sinistra yang lebih panjang, melintas ventral terhadap aorta. Masing-masing vena renalis
bermuara ke dalam vena cava inferior. Saraf-saraf untuk ren dan ureter berasal dari plexus renalis dan
terdiri dari serabut simpatis dan parasimpatis. Serabut aferen plexus renalis berasal dari nervi
splanchnici thoracici.
Histologi ginjal
5

Pada bagian awal setiap nefron terdapat sebuah korpuskel ginjal berdiameter sekitar 200 m dan
mengandung seberkas kapiler, glomerulus, yang dikelilingi oleh simpai epitel berdinding ganda yang
disebut simpai (bowman) glomerular. Lapisan internal (lapisan viseral) simpai menyelubungi kapiler
glomerulus. Lapisan eksternal membentuk permukaan luar simpai tersebut. Diantara kedua lapis
simpai bowman terdapat ruang kapsular atau perkemihan yang menampung cairan yang disaring
melalui dinding kapiler dan lapisan viseral. Setiap korpuskel ginjal memiliki kutub vaskular, tempat
masuknya arteriol aferen dan keluarnya arteriol eferen, serta memiliki kutub tubular atau perkemihan,
tempat tubulus kontortus proksimal berasal. Setelah memasuki korpuskel ginjal, arteriol aferen
biasanya bercabang dan terbagi lagi menjadi dua sampai lima kapiler glomerulus ginjal. Lapisan
parietal simpai glomerular terdiri atas selapis epitel skuamosa yang ditunjang lamina basal dan selapis
tipis serat retikular di luar. Di kutub tubular, epitelnya berubah menjadi epitel selapis kuboid yang
menjadi ciri tubulus proksimal. Selama perkembangan embrional, epitel selapis pada lapisan parietal
relatif tidak mengalami perubahan, sedangkan lapisan internal atau viseral sangat termodifikasi. Sel-
sel lapisan viseral ini yaitu podosit, memiliki badan sel yang menjulurkan beberapa prosesus primer.
Setiap prosesus primer menjulurkan banyak prosesus (kaki) sekunder, atau pedikel (kaki kecil) yang
memeluk bagian kapiler glomerulus. Badan asel podosit tidak berkontak dengan membran basal
kapiler, tetapi setiap pedikel berkontak langsung dengan struktur tersebut. Pedikel ini saling mengunci
dan membentuk celah-celah memanjang selebar lebih kurang 30-40 nm (celah filtrasi). Suatu
diafragma semipermeabel tipis dengan ketebalan seragam merentangi prosesusyang berdekatan (dan
karenanya menjembatani celah-celah filtrasi). Diafragma celah ini merupakan tipe khusus taut antarsel
dengan protein transmembran besar, nefrin, yang penting baik secara struktural maupun fungsional.
Selain berproyeksi dari membran sel di setiap sisi celah tersebut, molekul nefrin berinteraksi
membentuk suatu struktur berpori di dalam diafragma.
Diantara sel-sel endotel bertingkap dari kapiler glomerulus dan podosit yang menutupi permukaan
luarnya, terdapat membran basal glomerular tebal. Membran ini merupakan bagian yang paling
bermakna pada sawar filtrasi yang memisahkan darah dalam kapiler dari ruang kapsular. Membran
basal ini terbentuk dari penyatuan lamina basal yang dihasilkan kapiler dan podosit dan dipertahankan
oleh podosit. Laminin dan fibronektin pada penyatuan membran basal mengikat integrin podosit dan
membran sel endotelial. Anyaman kolagen tipa IV yang berikatan silang pada matriks proteoglikan
yang bermuatan negatif dapat membantu membatasi lewatnya molekul kation. Jadi membran basal
glomerulus merupakan suatu sawar makromolekul yang selektif yang berfungsi sebagai saringan fisis
6

dan suatu sawar untuk molekul bermuatan negatif. Filtrat glomerulus awal memiliki komposisi
kimiawi yang serupa dengan komposisi plasma darah, kecuali filtrat ini mengandung sangat sedikit
protein karena makromolekul tidak mudah melalui saringan glomerulus. Protein dan partikel lain yang
berdiameter lebih besar dari 10nm atau melebihi 70 kDa, perkiraan massa molekul albumin, tidak
mudah menembus sawar glomerulus. Kapiler glomerulus khas berada diantara dua arteriol (aferen dan
eferen) dengan ototnya yang memungkinkan peningkatan tekanan hidrostatik pada pembuluh-
pembuluh darah ini, yang memperkuat perpindahan plasma melalui saringan glomerulus. Laju filtrasi
glomerulus (GFR) secara konstan diatur oleh input neural dan hormonal yang memengaruhi derajat
konstriksi di setiap arteriol ini. Selain sel endotel kapiler dan podosit, korpuskel ginjal juga
mengandung sel mesangial (pembuluh), yang menyerupai perisit dalam menghasilkan komponen suatu
selubung lamina eksternal. Sel mesangial sulit dikenali pada sediaan rutin dari podosit, tetapi terpulas
lebih gelap. Sel ini dan matriks yang mengelilinginya membentuk mesangium, yang mengisi ruang
kecil diantara kapiler yang tidak memiliki podosit. Fungsi mesangium banyak dan bervariasi, serta
mencakup hal berikut : Penyangga fisis dan kontraksi, fagositosis, sekresi.
Di kutub tubular korpuskel ginjal, epitel skuamosa pada lapisan parietal simpai bowman berhubungan
langsung dengan epitel kuboid tubulus kontortus proksimal. Tubulus berlekuk ini lebih panjang dari
tubulus kontortus distal sehingga lebih sering tampak pada potongan korteks ginjal. Sel tubulus
proksimal mereabsorpsi 60-65%air yang disaring dalam korpuskel ginjal, beserta hampir semua
nutrien,ion, vitamin, dan protein plasma kecil. Air dan zat terlarutnya diangkut secara langsung
melalui dinding tubulus dan segera diambil oleh kapiler peritubular. Sel-sel tubulus proksimal
memiliki sitoplasma asidofilik yang disebabkan oleh adanya sejumlah besar mitokondria. Apeks sel
memiliki banyak mikrovili panjang, yang membentuk suatu brush border untuk reabsorpsi. Karena
selnya berukuran besar, setiap potongan melintang tubulus proksimal biasanya hanya mengandung
tiga sampai lima inti bulat. Pada sediaan histologis rutin, brush border dapat tidak teratur dan
lumennya tampak terisi serabut. Kapiler dan komponen mikrovaskular lain banyak dijumpai pada
jaringan ikat sekitar. Secara ultrastruktural, sitoplasma apikal sel-sel ini memiliki banyak lekuk dan
vesikel di dekat dasar mikrovili, yang mengindikasikan pinositosis aktif. Vesikel pinositotik
mengandung protein plasma kecil (dengan massa molekul kurang dari 70 kDa) yang telah melalui
saringan glomerulus. Vesikel pinositotik menyatu dengan lisosom untuk proteolisis dan asam amino
dilepaskan ke sirkulasi. Sel-sel ini juga memiliki banyak invaginasi membran basal yang panjang dan
interdigitasi lateral dengan sel-sel bersebelahan. Na
+
/K
+
-ATPase (pompa natrium) yang bertugas untuk
7

mentranspor ion natrium secara aktif keluar dari sel-sel ini, terletak pada membran basolateral
tersebut. Mitokondia panjang berkumpul disepanjang invaginasi basal, yang khas untuk sel yang
terlibat dalam transpor ion secara aktif. Karena banyaknya interdigitasi pada membran lateral, batas
diantara sel-sel tubulus proksimal sulit diamati dengan mikroskop cahaya.
Tubulus kontortus proksimal berlanjut sebagai tubulus lurus yang lebih pendek dan memasuki medula
serta menjadi gelung nefron. Gelung ini merupakan struktur berbentuk U dengan segmen descendens
dan ascendens. Keduanya terdiri atas selapis epitel kuboid di dekat korteks, tetapi berupa epitel
skuamosa di salam medula. Di medula luar, bagian lurus tubulus proksimal dengan diameter luar
sekitar 60m, tiba-tiba menyempit sampai sekitar 12m dan berlanjut sebagai segmen tipis
descendens tipis gelung nefron. Lumen pada segmen nefron ini lebar dan dindingnya terdiri atas sel
epitel skuamosa. Dengan inti yang hanya sedikit menonjol ke dalam lumen. Kira-kira sepertujuh dari
semua nefron terletak dekat perbatasan korteks medula sehingga disebut nefron jukstamedular, yang
terutama penting pada mekanisme yang memungkinkan ginjal menghasilkan urine hipertonik yang
pekat. Nefron jukstamedular biasanya memiliki gelung yang sangat panjang dan masuk jauh ke dalam
medula dengan segmen lurus tebal di proksimal, segemen descendens dan ascendens tipis yang
panjang, dan segmen ascendens tebal yang panjang. Gelung nefron dan jaringan sekitar berperan
dalam memekatkan urine dan menyimpan air. Hanya hewan dengan gelung tersebut yang mampu
memekatkan urine sehingga cairan tubuh dipertahankan. Sel kuboid segmen ascendens tebal gelung
tersebut aktif mengangkut natrium klorida keluar dari tubulus dengan melawan gradien konsentrasi ke
dalam jaringan ikat interstisial yang kaya (hialuronat), yang membuat kompartemen tersebut menjadi
hiperosmotik. Sel skuamosa segmen descendens tipis gelung tersebut bersifat permeabel bebas
terhadap air tetapi tidak terhadap garam, sementara segmen ascendens tipis bersifat permeabel
terhadap NaCl tetapi impermeabel terhadap air. Aliran filtrat dengan arah berlawanan (aliran balik)
dalam dua segmen paralel gelung nefron menciptakan suatu gradien osmolaritas pada interstisium
piramida medulal dan aliran darah balik di gelung vasa recta membantu mempertahankan gradien
tersebut. Osmolaritas interstisial yang tinggi menarik air secara pasif dari duktus kolligenns di
piramida medula yang memekatkan urine. Permeabilitas air dalam duktus tersebut ditingkatkan oleh
hormon antidiuretik (ADH) yang dilepaskan dari hipofisis ketika cairan tubuh berkurang. Air yang
disimpan dengan cara demikian memasuki darah di kapiler vasa recta dalam menciptakan kondisi
untuk pemekatan urine disebut efek multiplikasi balik (countercurrent multiplier effect).
8

Segmen tebal ascendens gelung nefron menjadi lurus saat memeasuki korteks, dan kemudian
berkelok-kelok sebagai tubulus kontortus distal. Selapis sel kuboid tubulus tersebut berbeda dari sel
kuboid tubukus kontortus proksimal karena lebih kecil dan tidak memiliki brush border. Karena sel-sel
tubulus distal lebih gepeng dan lebih kecil daripada sel tubulus proksimal, tampak lebih banyak inti di
dinding tubulus distal ketimbang di dinding tubulus proksimal. Sel-sel tubulus kontortus distal
memiliki banyak invaginasi membran basal dan mitokondria tubulus proksimal, yang menunjukkan
fungsi transpor ionnya. Laju absorpsi Na
+
dan sekresi K
+
oleh pompa ion diatur oleh aldosteron dari
kelenjar adrenal dan penting untuk keseimbangan garam dan cairan tubuh. Tubulus distal juga
menyekresi H
+
dan NH
4
+
ke dalam urine tubulus, suatu aktivitas yang penting untuk pemeliharaan
keseimbangan asam-basa di darah. Bagian awal tubulus distal yang lurus berkontak dengan kutub
vaskular di korpuskel ginjal nefron induknya dan membentuk struktur khusus, apparatus
juxtaglomerularis (JGA). Sel struktur tersebut menciptakan suatu mekanisme umpan balik yang
memungkinkan autoregulasi aliran darah dan menjaga ginjal dan menjaga laju filtrasi dengan relatif
konstan. Ditempat kontak dengan arteriol, sel-sel tubulus distal menjadi kolumnar dan lebih erat
terkemas dengan inti apikal, kompleks golgi basal, dan sistem kanal dan pengangkut ion yang lebih
rumit dan bervariasi. Bagian tebal dinding tubulus distal ini disebut macula densa. Bersebelahan
dengan macula densa, tunika media arteriol aferen juga termodifikasi. Sel otot polos membentuk suatu
fenotipe sekretorik dengan inti yang lebih bulat, RE kasar, kompleks golgi dan granula zimoen dan
disebut sel granular juxtaglomerular. Di kutub vaskular juga terdapat sel lacis, merupakan sel
mesangial ekstrasel yang mungkin memiliki banyak fungsi pendukung yang sama dengan sel-sel
tersebut di dalam glomerulus. Sel lacis juga dapat menyebarkan sinyal dari macula densa ke dalam
glomerulus, yang memengaruhi vasokontriksi di tempat tersebut.
Urine mengalir dari tubulus distal ke tubulus colligens, bagian terakhir setiap nefron yang saling
bergabung membentuk ductus colligens yang lebih besar dan lebih lurus, berjalan di tepi piramida
ginjal dan bermuara ke dalam calyx minor. Tubulus colligens dilapisi oleh epitel kuboid yang
berdiameter sekitar 40m. sel-sel ductus colligens yang berkonvergensi berbentuk kolumnar dan
diameter ductus mencapai 200m di dekat puncak piramida medula ginjal. Di sepanjang
perjalanannya, tubulus dan ductus colligens terutama terdiri atas epitheliocytus principalis (principal
cell) yang terpulas lemah dengan sedikit organel dan mikrovili. Batas antarsel sel-sel tersebut jelas
terlihat dengan mikroskop cahaya. Secara ultrastruktural, epitheliocytus principalis dapat terlihat
memiliki lipatan membran basal, yang sesuai dengan perannya pada transpor ion. Sel yang tersebar
9

diantara epitheliocytus intercalatus yang lebih gelap dengan lebih banyak mitokondria yang membantu
mengatur keseimbangan asam-basa dengan menyekresi H
+
dan menyerap HCO
3
-
. Di medula, ductus
colligens merupakan komponen utama mekanisme pemekat urine. Selsel ductus colligens terutama
banyak mengandung aquaporin, yaitu protein integral yang ditemukan pada sebagaian besar membran
sel yang berfungsi sebagai pori selektif untuk pasase molekul air.
Keseimbangan cairan
Air adalah komponen tubuh manusia yang paling banyak, rata-rata mambentuk 60% berat tubuh, tetapi
berkisar dari 40% - 80% kandungan H
2
O seseorang relatif tidak berubah, terutama karena ginjal secara
efisien mengatur keseimbangan H
2
O, tetapi persentase H
2
O tubuh bervariasi dari orang ke orang.
Penyebab sangat berbeda-bedanya H
2
O tubuh diantara individu adalah variabilitas dalam jumlah
jaringan lemak mereka. Jaringan lemak memiliki persentase H
2
O yang rendah dibandingkan dengan
jaringan lain. Plasma mengandung H
2
O lebih dari 90%-nya. Bahkan jaringan lunak seperti kulit, otot,
dan organ internal memiliki kandungan H
2
O 70% sampai 80%. Tulang yang relatif kering
mengandung H
2
O hanya 22%. Namun, lemak adalah jaringan yang paling kering, memiliki kandungan
H
2
O hanya 10%. Karena itu, persentase H
2
O tubuh yang tinggi berkaitan denga tubuh langsing dan
persentase H
2
O yang rendah berkaitan dengan obesitas, karena komposisi sebagian besar dari tubuh
yang kelebihan berat tersebut terdiri dari lemak yang relatif kering. Persentase H
2
O tubuh juga
dipengaruhi oleh jenis kelamin dan usia individu. Wanita memiliki persentase H
2
O yang lebih rendah
daripada pria, terutama karena hormon seks wanita, estrogen, mendorong pengendapan lemak di
payudara, bokong, dan tempat lain. Hal ini tidak saja menghasilkan bentuk tubuh wanita tetapi juga
menganugerahi wanita proporsi jaringan lemak yang lebih banyak dan kerenanya, proporsi H
2
O yang
lebih kecil. Persentase H
2
O tubuh juga berkurang progresif seiring usia.
Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut (zat terlarut) :
1. Elektrolit : substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan
arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan
kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain atau dengan berat molekul dalam gram.
Jumlah kation dan anion, yang diukur dalam miliekuivalen, dalam larutan selalu sama
Kation : ion-ion yang membentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselulelr
utama adalah natrium, sedangkan kation intraseluler utama adalah kalium. Sistem
10

pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke
dalam
Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular
utama adalah klorida, sedangakan anion intraselular utama adalah ion fofat (PO
4
3-
).
Karena kandungan elektrolit dari plasma dan cairan interstisial secara esensial sama, nilai
elektrolit plasma menunjukkan komposisi cairan ekstraselular, yang terdiri atas cairan
intraselular dan interstisial. Namun demikian, nilai elektrolit plasma tidak selalu menunjukkan
komposisi elektrolit dari cairan intraselular. Pemahaman perbedaan antara dua kompartemen
ini penting dalam mengantisipasi gangguan seperti trauma jaringan atau ketidak seimbangan
asam-basa. Pada situasi ini, elektrolit dapat dilepaskan dari atau bergerak ke dalam atau keluar
sel, secara bermakna mengubah nilai elektrolit plasma.
2. Non elektrolit : substansi seperti glukosa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan
diukur berdasarkan berat. Non elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin
dan bilirubin.
Cairan tubuh didistribusi antara dua kompartemen cairan utama : kompartemen intraselular dan
kompartemen ekstraselular. Cairan intraselular (CIS) adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada
orang dewasa, kira-kira dua per tiga dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25L pada
rata-rata pria dewasa (70kg). sebaliknya, hanya setengah dari cairan tubuh bayi adalah cairan
intraselular. Cairan ekstraselular (CES) adalah cairan di luar sel. Ukuran relatif dari CES menurun
dengan peningkatan usia. Pada bayo baru lahir, kira-kira setengah cairan tubuh terkandung di dalam
CES. Setelah usia satu tahun, volume relatif dari CES menurun sampai kira-kira sepertiga dari volume
total. Ini hampir sebanding dengan 15L dalam rata-rata pria dewasa (70kg). CES dibagi menjadi :
1. Cairan interstisial (CIT) : cairan di sekitar sel, sama dengan kira-kira 8L pada orang dewasa.
Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume CIT
kira-kira sebesar dua kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang dewasa
2. Cairan intravaskuler (CIV) : cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah. Volume relatif
dari CIV sama pada orang dewasa dan anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-
kira 5-6L, 3L dari jumlah tersebut adalah plasma. Sisanya 2-3L terdiri dari sel darah merah
11

(SDM, atau eritrosit) yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting
(sel darah putih dan trombosit). Fungsi darah mencakup :
Pengiriman nutrien ke jaringan
Transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru
Pengirimian antibodi dan sel darah putih ke tempat infeksi
Transport hormon ke tempat aksinya
Sirkulasi panas tubuh
3. Cairan transelular (CTS) : cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh. Pada
waktu tertentu CTS mendekati jumlah 1L. namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak ke
dalam dan keluar ruang transelular setiap harinya..
Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan air dan zat terlarut
1. Membran. Setiap kompartemen cairan dipisahkan oleh membran permeabel selektif yang
memungkinkan gerakan air dan beberapa zat terlarut. Meskipun molekul kecil seperti urea dan
air bergerak dengan bebas diantara semua kompartemen, substansi tertentu sedikit bergerak.
Membran semipermeabel tubuh meliputi :
Membran sel : memisahkan CIS dari CIT dan terdiri atas lipid dan protein
Membran kapiler : memisahkan CIV dari CIT
Membran epitelial : memisahkan CIT dan CIV dari CTS.
2. Proses transpor
Difusi : gerakan acak dari partikel pada semua arah melalui larutan atau gas. Partikel
bergerak dari area dengan konsentrasi tinggi ke area dengan konsentrasi rendah
sepanjang fradien konsentrasi. Energi untuk difusi dihasilkan oleh energi panas. Difusi
juga dapat terjadi karena perubahan potensial listrik yang melewati membran. Kation
akan mengikuti anion dan sebaliknya. Dinding sel terbentuk atas lapisan lemak engan
banyak pori-pori protein yang halus. Subtansi dapat berdifusi melewati dinding sel
dengan mengikuti syarat :
Bila partikel tersebut cukup kecil unuk melewati pori-pori protein, disebut difusi
sederhana
Bila partikel tersebut adalah larut dalam lemak
12

Melalui substansi pembawa (difusi yang dipermudah). Partikel besar terlarut
lemak seperti glukosa harus berdifusi ke dalam sel melalui subtansi pembawa.
Faktor-faktor yang meningkatkan difusi :
Peningkatan suhu
Peningkatan konsentrasi partikel
Penurunan ukuran atau berat molekul dari partikel
Peningkatan area permukaan yang tersedia untuk difusi
Penurunan jarak lintas dimana massa partikel haru berdifusi
Transport aktif : difusi sederhana tidak akan terjadi pada takadanya listrik atau gradien
konsentrasi yang dibutuhkan. Energi diperlukan agar substansi dapat pindah dari area
berkonsentrasi lebih rendah atau sama ke area dengan konsentrasi sama atau lebih
besar. Ini disebut transport aktif, dari subtansipembawa. Banyak zat terlarut penting di
transport secara aktif melewati membran sel, meliputi natrium, kalium, hidrogen,
glukosa, dan asam amino. Tubulus ginjal, sebagai contoh, tergantung pada transport
aktif untuk mereabsorpsi semua glukosa yang difiltrasi oleh glomerulus utnuk
memungkinkan ekskresi urine yang bebas glukosa. Seperti pada difusi yang difasilitasi,
pembawa dapat menjadi berlebihan atau jenuh. Pada kasus glukosa di dalam ubulus
ginjal, saturasi terjadi bila gula darah melebihi kira-kira 180-200mg/dl. Transport aktif
adalah vital untuk mempertahankan keunikan komposisi baik CES dan CIS.
3. Filtrasi : gerakan air dan zat terlarut dari urea dengan tekanan hidrostatik tinggi ke area dengan
tekanan hidrostatik rendah. Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang dibuat oleh berat cairan.
Filtrasi penting dalam mengatur cairan keluar dari arteri ujung kapiler. Ini juga merupakan
kekuatan yang memungkinkan ginjal memfilter 180L plasma per hari.
4. Osmosis : gerakan air melewati membran semipermeabel dari area dengan konsentrasi zat
terlarut rendah ke area dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Osmosis dapat terjadi
melewati semua membran bila konsentrasi zat terlarut pada kedua berubah. Istilah berikut
dihubungkan dengan osmotis :
Tekanan osmotik : jumlah tekanan hidrostatik diperlukan untuk menghentikan aliran
osmotik air
Tekanan onkotik : tekanan osmotik dihasilkan oleh koloid (protein)
13

Diuresis osmotik : peningkatan keluar urine disebabkan oleh subtansi seperti manitol,
glukosa, atau media kontras yang dikeluarkan dalam urine dan mengurangi reabsorpsi
air ginjal. Diuresis osmotik terjadi pada diabetes melitus tak terkontrol, sebagai contoh,
karena adanya kelebihan glukosa dalam tubulus ginjal. Bila glukosa darah dalam batas
normal, semua glukosa yang difiltrasi oleh ginjal direabsorpsi melalui transport aktif.
Glukosa yang tidak direabsorpsi tetap berada dalam tubulus dan bekerja secara osmotik
untuk menahan air yang jika tidak ditahan akan direabsorpsi. Hasil akhirnya adalah
glukosuria dan poliuria.
5. Konsentrasi cairan tubuh
Osmolalitas : seperti dibahas diatas, perubahan pada konsentrasi cairan tubuh
mempengaruhi gerakan air diantara kompartemen cairan melalui osmosis. Pengukuran
kemampuan larutan untuk menciptakan tekanan osmotik dan dengan demikian
mempengaruhi gerakan air disebut osmolalitas. Osmolalitas juga dapat digambarkan
sebagai pengukuran konsentrasi airan tubuh (rasio zat terlarut terhadap air) karena
besarannya ditunjukkan dalam miliosmol per kilogram air (mOsm/kg). satu osmol
mengandung 6x1o
23
partikel. Osmolaritas, istilah lain yang digunakan untuk
menggambarkan konsentrasi larutan, menunjukkan jumlah partikel dalam satu liter
larutan dan diukur dalam miliosmol per liter. Karena cairan tubuh secara relatif encer,
perbedaan antara osmolalitasnya dan osmolaritasnya kecil, dan istilah sering digunakan
secara bertukaran. Osmolalitas adalah pengukuran yang digunakan untuk mengevaluasi
serum dan urine dalam praktik klinis. Perubahan dalam osmolalitas ekstraselular dapat
mengakibatkan perbuahan pada volume CES dan CIS :
Penurunan osmolalitas CES gerakan air dri CES ke CIS
Peningkatan osmolalitas CES gerakan air dari CIS ke CES
Air akan terus bergerak sampai osmolalitas dari kedua kompartemen mencapai
ekulibrium. Ini merupakan rasional untuk penggunaan manitol intravena (IV) pada
pengobatan edema serebral. Manitol meningkatkan osmolalitas CES, meningkatkan
gerakan air keluar dari sel serebral, sehingga mengurangi pembengkakan serebral.
Osmolalitas CES dapat ditentukan dengan mengukur osmolalitas serum. Natium adalah
determinan primer dari osmolalitas CES. Karena ini terbatas terutama terhadap CES
natrium bekerja untuk menahan air dalam kompartemen tersebut. Kalium membantuk
14

mempertahankkan volume CIS, dan protein plasma membantu mempertahankan
volume spasium intravaskular (SIV).
Tonisitas : molekul kecil seperti urea dengan mudah melewati semua membran dengan
cepat berekuilibrium diantara komparteen dan hanya memberikan sedikit efek pada
gerakan air. Molekul kecil ini disebut osmol tak efektif. Sebaliknya, natrium, glukosa,
dan manitol adalah contoh dari osmol efektif (molekul ini tidak melewati membran sel
dengan cepat dan akan memperngaruhi gerakan air). Dengan demikian osmolalitas
efektif tidak hanya tergantung pada jumlah zat terlarut, tapi juga pada permeabilitas
membran terhadap zat terlarut ini. Tonisitas ada istilah lain untuk osmolalitas efektif
Larutan isotonik : larutan yang mempunyai osmolalitas sama efektifnya dengan
cairan tubuh
Larutan hipotonik : larutan yang mempunyai osmolalitas efektif lebih kecil dari
cairan tubuh
Larutan hipertonik : larutan yang mempunyai osmolalitas efektif lebih besar
dari cairan tubuh.
Ginjal melakukan fungsi-fungsi spesifik berikut, yang sebagian besar membantu mempertahankan
stabilitas lingkungan cairan internal.
1. Mempertahankan keseimbangan H2O di tubuh
2. Mempertahankan osmolaritas cairan tubuh yang sesuai, terutama melalui regulasi kesimbangan
H2O
3. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion CES termasuk natrium (Na
+
), klorida
(Cl
+
), kalium (K
+
), kalsium (Ca
2+
), ion hidrogen (H
+
), bikarbonat (HCO3
-
), fosfat (PO4
3-
),
sulfat (SO4
2-
), dan magnesium (Mg
2+
).
4. Mempertahankan volume plasma yang tepat
5. Membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh
6. Mengeluarkan (mengekskresikan) produk-produk akhir (sisa) metabolisme tubuh
7. Mengeluarkan banyak senyawa asing
8. Menghasilkan eritropoetin, renin
9. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya
15

Sistem kemih terdiri dari organ pembentuk urin (ginjal) dan struktur-struktur yang membawa urin dari
ginjal ke luar untuk dieliminasi dari tubuh. Ginjal adalah sepasang organ berbentuk kacang yang
terletak di belakang rongga abdomen, satu di masing-masing sisi kolumna vertebralis, sedikit diatas
garis pinggang. Setiap ginjal mendapat satu arteri renalis dan satu vena renalis, yang masing-masing
masuk dan keluar ginjal di indentasi (cekungan) medial ginjal yang menyebabkan organ ini berbentuk
seperti kacang. Ginjal bekerja pada plasma yang mengalir melaluinya untuk menghasilkan urin,
menghemat bahan-bahan yang akan dipertahankan di dalam tubuh dan mengeluarkan bahan-bahan
yang tidak diinginkan melalui urin. Setelah terbentuk, urin mengalir ke suatu rongga pengumpul
sentral, pelvis ginjal, yang terletak di bagian tengah medial masing-masing ginjal. Dari sini urin
disalurkan ke dalam ureter, suatu saluran berdinding otot polos yang keluar di batas medial dekat
dengan arteri dan vena renalis. Terdapat dua ureter, satu mengangkut urin dari masing-masing ginjal
ke sebuah kandung kemih.
Kandung kemih yang menampung urin secara temporer adalah suatu kantung berongga berdinding
otot polos yang dapat teregang. Secara periodik, urin dikosongkan dari kandung kemih ke luar melalui
saluran lain, uretra, akibat kontraksi kandung kemih. Uretra pada wanita berukuran pendek dan lurus,
berjalan langsung dari leher kandung kemih ke luar. Pada pria uretra jauh lebih panjang dan berjalan
melengkung dari kendung kemih ke luar, melewai kelenjar prostat dan penis. Uretra pria memiliki
fungsi ganda yaitu menjadi saluran untuk mengeluarkan urin dari kandung kemih dan saluran untuk
semen dari organ-organ reproduksi. Kelenjar prostat terletak di bawah leher kandung kemih dan
melingkari uretra secara penuh.
Setiap ginjal terdiri dari sekitar 1 juta unit fungsional mikroskopik yang dikenal sebagai nefron, yang
disatukan oleh jaringan ikat. Unit fungsional adalah unit terkacil di dalam suatu organ yang mampu
melaksanakan semua fungsi organ tersebut. Karena fungsi utama ginjal adalah menghasilkan urin dan
dalam pelaksanannya mempertahankan stabilitas kompisisi CES, maka nefron adalah unit terkecil
yang mampu membentuk urin. Susunan urin dalam ginjal adalah sedemikian sehingga dihasilkan dua
regio berbeda. Regio luar yang yang disebut korteks ginjal dan tampak granular, regio dalam yang
disebut medula ginjal yang tersusun oleh segitiga-segitiga bergaris (piramid ginjal). Setiap nefron
terdiri dari komponen vaskular dan komponen tubular, dan keduanya berkaitan erat secara struktural
dan fungsional. Tiga proses dasar yang terlibat dalam pembentukan urin, yaitu filtrasi glomerulus,
reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.
16

Filtrasi glomerulus
Filtrasi glomerulus umumnya adalah proses yang indiskriminatif. Kecuali sel darah dan protein
plasma, semua konstituen di dalam darah (H2O, nutiren, elektrolit, zat sisa, dan sebagainya) secara
nonselektif masuk ke lumen tubulus dalam jumlah yang besar selama filtrasi. Sewaktu darah mengalir
melalui glomerulus, plasma bebas protein tersaring melalui kapiler glomerulus ke dalam kapsula
bowman. Dalam keadaan normal, 20% plasma yang masuk ke glomerulus tersaring. Filtrasi
glomerulus adalah langkah pertama dalam pembentukan urin. Secara merata 125ml filtrat glomerulus
setiap menit, jumlah ini sama dengan 180liter (sekitar 47,5 galon) setiap hari. Dengan
mempertimbangkan bahwa volume rata-rata plasma pada orang dewasa adalah 2,75 liter, maka hal ini
berarti bahwa ginjal menyaring keseluruhan volume plasma sekitar 65kali sehari. Jika semua yang
difiltrasi keluar sebagai urin, semua plasma akan menjadi urin dalam waktu kurang dari setengah jam.
Namun hal ini tidak terjadi karena tubulus ginjal dan kapiler peritubulus berhubungan erat di seluruh
panjangnya, sehingga bahan-bahan dapat dipertukarkan antara cairan di dalam tubulus dan darah di
dalam kapiler peritubulus. Proses-proses tubulus yang sangat diskriminatif kemudian bekerja pada
filtrat untuk mengembalikan ke darah suatu cairan dengan komposisi dan volume yang diperlukan
untuk mempertahankan stabilitas lingkungan cairan internal. Bahan terfiltrasi yang tidak diinginkan
dibiarkan tertinggal di cairan tubulus untuk di ekskresikan sebagai urin. Cairan yang di filtrasi dari
glomerulus ke dalam kapsula bowman harus melewati tiga lapisan berikut yang membentuk membran
glomerulus, yaitu diding kapiler glomerulus, membran basal, dan lapisan dalam kapsula bowman.
Secara kolektif, lapisan-lapisan ini berfungsi sebagai saringan molekuler halus yang menahan sel
darah dan protein plasma tetapi membolehkan H2O dan zat terlarut dengan ukuran molekul kecil
lewat.
Tiga gaya fisik terlibat dalam filtrasi glomerulus, yaitu :
1. Tekanan darah kapiler glomerulus adalah tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah di dalam
kapiler glomerulus. Tekanan ini pada akhirnya bergantung pada kontraksi jantung (sumber
energi yang menghasilkan filtraasi glomerulus) dan resistensi terhadap aliran darah yang
ditimbulkan oleh arteriol aferen dan eferen.
2. Tekanan osmotik koloid plasma ditimbulkan oleh distribusi tak seimbang protein-protein
plasma di kedua sisi membran glomerulus. Karena tidak dapat di filtrasi maka protein plasma
terdapat di kapiler glomerulus tetapi tidak di kapsula bowman. Karena itu, konsentrasi H2O
17

lebih tinggi di kapsula bowman daripada di kapiler glomerulus. Timbul kecenderungan H2O
untuk berpindah melalui osmosis menuruni gradien konsentrasinya sendiri dari kapsula
bowman ke dalam glomerulus melawanfiltrasi glomerulus.
3. Tekanan hidrostatik kapsula bowman, tekanan yang di tibulkan oleh cairan di bagian awal
tubulus ini, diperkirakan sekitar 15mmHg. Tekanan ini, yang cenderung mendorong cairan
keluar kapsula bowman, melawan filtrasi cairan dari glomerulus menuju kapsula bowman.
Karena tekanan darah arteri adalah gaya utama yang mendorong darah masuk ke dalam glomerulus
maka tekanan darah kapiler dlomerulus, dan LFG (laju filtrasi glomerulus)
Reabsorpsi tubulus
Sewaktu filtrat mengalir melalui tubulus, bahan-bahan yang bermanfaat bagi tubuh dikembalikan ke
plasma kapiler peritubulus. Perpindahan selektif bahan-bahan dari bagian dalam tubulus (lumen
tubulus) ke dalam darah ini disebut reabsorpsi tubulus. Bahan-bahan yang di reabsorpsi tidak keluar
dari tubuh melalui urin tetapi dibawa oleh kapiler peritubulus ke sistem vena dan kemudian ke jantung
untuk di resirkulasi. Dari 180 liter plasma yang disaring per hari, sekitar 178,5 liter di reabsorpsi. Sisa
1,5 liter di tubulus mengalir ke dalam pelvis ginjal untuk dikeluarkan sebagai urin. Secara umum,
bahan-bahan yang perlu dihemat oleh tubuh secara selektif direabsorpsi, sementara bahan-bahan yang
tidak dibutuhkan dan harus dikeluarkan tetap berada di urin.
Reabsorbsi natrium bersifat unik dan kompleks. Dari energi total yang dikeluarkan oleh ginjal, 80%
digunakan untuk transpor Na
+
, yang menunjukkan pentingnya proses ini. Tidak seperti kebanyakan zat
terlarut yang terfiltrasi, Na
+
direabsorbsi hampir disepanjang tubulus, tetapi dengan derajat berbeda-
beda di bagian yang berbeda. Dari Na
+
yang difiltrasi, 99,5%secara normal direabsorbsi. Dari Na
+

yang direabsorpsi, sekitar 67% di reabsorpsi di tubulus proksimal, 25% di ansa henle, dan 8%
direabsorpsi di tubulus distal dan koligentes. Reabsorpsi natrium memiliki peran berbeda-beda di
masing-masing segmen tersebut, yaitu :
1. Reabsorpsi natrium di tubulus proksimal berperan penting dalam reabsorpsi glukosa, asam
amino, H2O, Cl
-
, dan urea
2. Reabsorpsi natrium di pars ascendens ansa henle, bersama dengan reabsorpsi Cl
-
, berperan
sangat penting dalam kemampuan ginjal menghasilkan urin dengan konsentrasi dan volume
bervariasi, bergantung pada kebutuhan tubuh untuk menghemat atau mengeluarkan H2O
18

3. Reabsorpsi natrium di tubulus distal dan koligentes bervariasi dan berada di bawah kontrol
hormon. Reabsorpsi ini berperan kunci dalam mengatur volume CES, yang penting dalam
kontrol jangka panjang tekanan darah arteri, dan juga sebagian berkaitan dengan sekresi K
+
dan
sekresi H
+

Natrium direabsorpsi di sepanjang tubulus kecuali di pars descendens ansa henle. Di tubulus proksimal
dan ansa henle, terjadi reabsorpsi Na
+
yang terfiltrasi dengan persentase tetap berapapun beban Na
+

(jumlah total Na
+
di cairan tubuh, bukan konsentrasi Na
+
di cairan tubuh). Di bagian distal tubulus,
reabsorpsi persentase kecil Na
+
yang terfiltrasi berada di bawah kontrol hormon. Tingkat reabsorpsi
terkontrolini berbanding terbalik dengan ingkat beban Na
+
di tubuh. Jika Na
+
terlalu banyak maka
hanya sedikit dari Na
+
yang terkontrol ini direabsorpsi. Na
+
akan keluar melalui urin sehingga
kelebihan Na
+
dapat dikeluarkan dari tubuh. Namun jika terjadi kekurangan Na
+
maka sebagian besar
atau seluruh Na
+
yang terkontrol ini direabsorpsi, menghemat Na
+
tubuh yang seharusnya keluar
melalui urin.
Semua bahan yang direabsorpsi secara aktif berikatan dengan pembawa di membran plasma yang
memindahkannya menembus membran melawan gradien konsentrasi. Setiap pembawa bersifat
spesifik untuk jenis bahan yang dapat dipindahkannya.karena jumlah masing-masing tipe pembawa
yang ada di sel-sel yang melapisi bagian dalam tubulus terbatas maka terdapat batas atas jumlah bahan
tertentu yang dapat secara aktif dipindahkan dari cairan tubulus dalam periode waktu tertentu. Laju
reabsorpsi maksimal dicapai ketika semua pembawa yang spesifik untuk suatu bahan ditempati atau
jenuh sehingga pembawa-pembawa tersebut tidak lagi dapat menangani penumpang tambahan pada
saat itu. Transpor maksimum ini disebut sebagai maksimum tubulus (Tubular maximum, atau T
m
).
Setiap bahn yang jumlahnya melebihi T
m
-nya tidak akan direabsorpsi dan lolos ke dalam urin. Kecuali
Na
+
, semua bahan yang direabsorpsi secara aktif memiliki maksimum tubulus. (meskipun masing-
masing pembawa Na
+
dapat mengalami penjenuhan namun tubulus secara keseluruhan tidak
memperlihatkan maksimum tubulus untuk Na
+
, karena aldosteron mendorong sintesis pembawa Na
+
-
K
+
yang lebih aktif di sel-sel tubulus distal dan koligentes sesuai kebutuhan). T
m
untuk glukosa adalah
sekitar 375 mg/mnt, yaitu mekanisme pengangkut glukosa mampu secara aktif mereabsorpsi hingga
375mg glukosa per menit sebelum mencapai kemampuan transpor maksimalnya. Pada konsentrasi
glukosa normal 100mg/100ml, 125mg glukosa yang tersaring per menit dapat cepat direabsorpsi oleh
mekanisme pengangkut glukosa karena jumlah yang difiltrasi ini jauh di bawah T
m
untuk glukosa.
19

Karena itu, biasanya tidak ada glukosa yang ditemukan di urin. Baru muncul setelah jumlah glukosa
yang difiltrasi melebihi T
m
375mg/mnt. Ketika lebih banyak glukosa terfiltrasi per menit dibandingkan
dengan yang dapat di reabsorpsi karena T
m
terlampaui, maka jumlah yang direabsorpsi maksimal dan
kelebihan glukosa akan tetap berada dalam filrat untuk dieksresikan. Karena itu, konsentrasi glukosa
plasma harus lebih besar daripada 300mg/100ml (lebih dari tiga kali normal) sebelum jumlah yang
difiltrasi melebihi 375mg/mnt glukosa mulai muncul dalam urin.
Konsentrasi plasma dimana T
m
suatu bahan tercapai dan bahan mulai muncul di urin disebut ambang
ginjal. Pada T
m
rerata 375mg/mnt dan GFR 125ml/mnt, ambang ginjal untuk glukosa adalah
300mg/ml. Diatas T
m
, reabsorpsi akan tetap pada laju maksimalnya dan setiap peningkatan lebih lanjut
jumlah yang difiltrasi akan menyebabkan peningkatan sebanding jumlah bahan yang dieksresikan.
Konsentrasi glukosa plasma dapat sangat tinggi pada diabetes melitus, suatu penyakit endokrin yang
berkaitan dengan kurangnya efek insulin. Insulin adalah suatu hormon pankreas yang mempermudah
pemindahan glukosa ke dalam banyak sel tubuh. Ketika penyerapan glukosa oleh sel terganggu maka
glukosa yang tidak dapat masuk ke dalam sel akan tetap berada di plasma, meningkatkan konsentrasi
glukosa plasma. Karena itu, meskipun secara normal tidak terdapat di urin, glukosa ditemukan pada
urin orang dengan diabetes ketika konsentrasi glukosa plasma melebihi ambang ginjal, meskipun
fungsi ginjal tidak berubah.

Sekresi tubulus
Pemindahan selesktif bahan-bahan dari kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus. Proses ini
merupakan rute kedua bagi masuknya bahan ke dalam tubulus ginjal dari darah, sedangkan yang
pertama adalah melalui filtrasi glomerulus. Hanya sekitar 20% dari plasma yang mengalir melalui
kapiler glomerulus difiltrasi ke dalam kapsula bowman, sisa 80% mengalir melalui arteriol eferen ke
dalam kapiler peritubulus. Sekresi tubulus merupakan mekanusme untuk mengeluarkan bahan dari
plasma secara cepat dengan mengekstraksi sejumlah tertentu bahan dari 80% plasma yang tidak
terfiltrasi di kapiler peritubulus dan memundahkannya ke bahan yang sudah ada di tubulus sebagai
hasil filtrasi. Bahan-bahan terpenting yang disekresikan oleh tubulus adalah ion hidrogen (H
+
), ion
kalium (K
+
), serta anion dan kation organik, yang banyak diantaranya adalah senyawa yang asing bagi
tubuh.
20

Sekresi H
+
ginjal sangat penting dalam mengatur keseimbangan asam-basa di tubuh. Ion hidrogen
yang disekresikan ke dalam cairan tubulus dieliminasi dari tubuh melalui urin. Ion hidrogen dapat di
sekresikan oleh tubulus proksimal, distal, atau koligentes, dengan tingkat sekresi H
+
bergantung pada
keasaman cairan tubuh. Ketika cairan tubuh terlalu asam maka sekresi H
+
meiningkat. Sebaliknya,
sekresi H
+
berkurang jika konsentrasi H
+
di cairan tubuh terlalu rendah.
Ekskresi urin
Ekskresi urin adalah pengeluaran bahan-bahan dari tubuh ke dalam uri. Ini bukan merupakan proses
terpisah tetapi merupakan hasil dari tiga proses pertama di atas. Semua konstituen plasma yang
terfiltrasi atau disekresikan tetapi tidak direabsorpsi akan tetap di tubulus dan mengalir ke pelvis ginjal
untuk di ekskresikan sebagai urin dan dikeluarkan dari tubuh. Dari 125ml plasma yang difiltrasi per
menit, biasanya 124ml/mnt direabsorpsi sehingga jumlah akhir urin yang dibentuk rata-rata 1ml/mnt.
Dengan demikian , dari 180liter yang di filtrasi per hari, 1,5 liter menjadi urin untuk di ekskresikan.
Urin menandung berbagai produk sisa dalam konsentrasi tinggi plus bahan-bahan yang diatur oleh
ginjal dalam jumlah bervariasi, denan setiap jumlah yang berlebihan keluar ke dalam urin. Bahan-
bahan yang bermanfaat dihemat melalui proses reabsorpsi sehingga tidak ditemukan di urin.
Perubahan relatif kecil dalam jumlah filtrat yang di reabsorpsi dapat menyebabkan perubahan besar
dalam volume urin yang terbentuk.
Dibandingkan dengan plasma yang masuk ke ginjal melalui arteri renalis, plasma yang keluar dari
ginjal melalui vena renalis tidak mengandung bahan-bahan yan tertinggal untuk dieliminasi di urin.
Dengan mengeksresikan bahan-bahan di urin, ginjal membersihkan plasma yang mengalir melaluinya
dari bahan-bahan tersebut. Bersihan plasma adalah suatu konsep artifisial, karena suatu bahan
diekskresikan di urin, konesntrasi bahan tersebut dalam plasma secara keseluruhan berkurang seragam
akibat pencampuran merata di sistem sirkulasi. Bersihan plasma (clearence) setiap bahan didefinisikan
sebagai volume plasma yang dibersihkan secara tuntas dari bahan bersangkutan oleh ginjal per menit.
Hal ini tidak menunjukkan jumlah bahan yang disingkirkan tetapi volume plasma tempat asal dari
jumlah yang disingkirkan tersebut. Bersihan plasma sebenarnya merupakan ukuran yang lebih
bermanfaat daripada ekskresi urin, yaitu lebih penting untuk mengetahui apa efek ekskresi urin pada
pengeluaran bahan dari cairan tubuh daripada mengetahui volume dan komposisi urin. Bersihan
plasma menyatakan efektivitas ginjal dalam mengeluarkan berbagai bahan dari lingkungan cairan
21

internal. Laju bersihan plasma bervariasi untuk setiap bahan, bergantung pada bagaimana ginjal
menangani masing-masing bahan tersebut.
Jika suatu bahan difiltrasi tetapi tidak direabsorpsi atau disekresi, maka clearence rate
plasmanya setara dengan GFR
Jika suatu bahan difiltrasi dan direabsorpsi tetapi tidak disekresi, maka bersihan rate plasmanya
selalu lebih kecil dari GFR
Jika suatu bahan difiltrasi dan disekresi, tetapi tidak direabsorpsi maka laju bersihan plasmanya
selalu lebih besar dari GFR
Sifat pars ascendens dan descendens ansa henle
Perbedaan fungsional antara pars descendens suatu ansa henle panjang (yang membawa cairan dari
tubulus proksimal hingga jauh ke dalam medula) dan pars ascendens (yang membawa cairan naik dan
keluar dari mesula untuk masuk ke tubulus distal) sangat penting untuk menciptakan gradien osmotik
vertikal di cairan interstisium medula.
Pars ascendens :
1. Sangat permeable terhadap H2O
2. Tidak secara aktif mengeluarkan Na
+
(yaitu, bagian ini tidak mereabsorpsi Na
+
. ini adalah satu-
satunya segmen tubulus yang tidak melakukannya)
Pars descendens :
1. Secara aktif memindahkan NaCl keluar dari lumen tubulus untuk masuk ke dalam cairan
interstisium sekitar
2. Selalu impermeabel terhadap H2O sehingga garam meninggalkan cairan tubulus tanpa diikuti
secara osmotik oleh H2O
Ginjal memiliki fungsi hormonal, terutama dalam produksi renin, eritropoetin, dan 1-hidroksilasi
vitamin D dari bentuk inaktif menjadi aktif. Apabila fungsi ginjal terganggu secara umum, produksi
hormon ginjal biasanya berkurang sehingga memicu terjadinya anemia (defisiensi eritropoietin) dan
mengeksaserbasi penyakit tulang ginjal. Hormon lain, terutama sisterm renin-angiotensin, berperan
22

dalam mengontrol tekanan darah. Penyakit ginjal seperti iskemia ginjal (misalnya stenosis arteri
renalis unilateral) atau glomerulonefritis biasanya berhubungan dengan hipertensi.
Ginjal mempunyai peranan aktif dalam pengaturan tekanan darah, terutama dengan mengatur volume
plasma dan tonus vaskular (pembuluh darah). Volume plasma dipertahankan melalui reabsorpsi air
dan pengendalian komposisi cairan ekstraselular (misalnya terjadi dehidrasi). Korteks adrenal
mengeluarkan aldosteron. Aldesteron membuat ginjal menahan natrium yang dapat mengakibatkan
reabsorpsi air. Modifikasi tonus vaskular oleh ginjal dapat juga mengatur tekanan darah. Hal ini
dilakukan terutama oleh sistem renin angiotensin aldosteron (RAAS). Renin adalah hormon yang
dikeluarkan oleh jukstaglomeruli dan nefron sebagai respons terhadap berkurangnya natrium,
hipoperfusi arteri renal, atau stimulasi saraf renal melalui jaras simpatis waktu tekanan darah menurun,
renin menstimulasi konversi angiotensinogen (zat yang dikeluarkan hepar) ke angiotensin I. konversi
angiotensin I ke angiotensin II oleh enzim pengubah angiotensin dari paru-paru, meghasilkan
vasokonstriksi umum yang kuat. Mekanusme ini dapat membuat tekanan darah meningkat.
Prostaglandin dan bradikinin merupakan hormon yang dihasilkan ginjal, juga membantu
meningkatkan tekanan darah. Kedua hormon ini dikeluarkan sebagai respons terhadap iskemia ginjal,
adanya ADH dan angiotensin II, serta stimulasi simpatis.
Perubahan mendadak jumlah air atau zat terlarut, misalnya natrium, di dalam kompartemen tubuh
berpotensi mengancam nyawa. Ketahanan bergantung pada kemampuan kita melaakukan kompensasi
terhadap berbagai perubahan mendadak tersebut dengan mengaktifkan mekanisme komeostatik yang
dirancang untuk memulihkan konsentrasi air dan zat terlarut ke tingkat normal secepat-cepatnya.
Hormon utama yang berperan dalam proses yang mengontrol keseimbangan natrium dan air tersebut
adalah hormon ADH, peptida natriuretik atrium (ANP),angiotensin II dan III, dan aldosteron. Garam
natrium merupakan zat terlarut yang secara osmotis paling aktif dalam cairan ekstrasel (CES). Natrium
dan anionnya menentukan 95% tekanan osmotik plasma dan cairan interstisium. Deviasi konsentrasi
natrium CES dari nilai normal akan merangsang mekanisme yang mengembalikan kadar natrium dan
air ke tingkat normal. Peningkatan konsentrasi natrium CES tidak sengaja merupakan rangsangan kuat
bagi timbulnya rasa haus (sehingga asupan air meningkat), tetapi juga terhadap pengeluaran ADH.
ADH menyebabkan ginjal menahan air. Peningkatan konsentrasi natrium juga menyebabkan
penurunan reasorpsi natrium oleh ginjal, akibat berkurangnya pembentukan aldosteron melalui sistem
renin-angiotensin. Reaksi terhadap peningkatan beban natrium ini dirancang untuk mengurangi
23

kelebihan beban natrium di dalam tubuh melalui proses pengenceran. Penurunan natrium CES
menimbulkan efek yang sebaliknya. Untuk mempertahankan CES dan intravaskular yang normal,
konsentrasi natrium tubuh total harus normal. Efek vasokontraksi angiotensin II dan ADH serta efek
vasodilatasi ANP memungkinkan ukuran atau kapasitas jaringan vaskular berubah-ubah untuk
mengakomodasikan peningkatan (melalui vasodilatasi) dan penurunan (melalui vasokontriksi) volume
cairan intravaskular. Pemeliharaan volume ciaran vaskular yang normal memastikan bahwa jaringan
mendapat perfusi adekuat darah arteri yang kaya oksigen dan zat gizi, tetapi tidak sampai tahap
menyebabkan jumlah plasma berlebihan. Penambahan berlebihan tersebut dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah dan akhirnya kongesti jantung dan paru.
Kesimpulan
Daftar pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011.h.
2. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2002.h.37
3. Mescher AL. Histologi dasar janqueira. Edisi ke-12. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2011.h.255-260
4. Sloane. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2006.h.234-237
5.