Anda di halaman 1dari 6

1

Pra-Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO Kelompok 7/S. Ganjil/2014-2015
By Checked Approved
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi


Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Perancangan
Minyak goreng merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki tingkat
konsumsi yang tinggi di masyarakat. Hingga saat ini minyak goreng yang umum
digunakan masyarakat Indonesia adalah minyak kelapa dan kelapa sawit. Permintaan
akan MGS (Minyak Goreng Sawit) di dalam dan luar negeri yang kuat merupakan
indikasi pentingnya peranan komoditas kelapa sawit dalam perekonomian bangsa.
Kebutuhan MGS terus meningkat dari tahun ke tahun seiring bertambahnya jumlah
penduduk, berkembangnya pabrik dan industri makanan, dan meningkatnya konsumsi
masyarakat akan minyak goreng untuk memasak. Menurut survey yang dilakukan oleh
PT. CDMI Consulting produksi minyak goreng Indonesia meningkat dalam 5 tahun
terakhir.
Tabel 1.1 Produksi Minyak Goreng Sawit di Indonesia







(Sumber : CDMI, 2014)

Dari data tersebut, peningkatan rata-rata yang terjadi sebesar 16,5% pertahun. Hal
yang sama terjadi pada ekspor minyak goreng, pada tahun 2009 ekspor minyak goreng
mencapai 4,3 juta ton dengan nilai US$ 2,92 milyar, ditahun 2013 ekspornya telah
mencapai 7,9 juta ton dengan nilai US$ 6.29 milyar (CDMI, 2014).
Pada tahun 2011, Indonesia mampu menghasilkan 23.900 ribu ton atau 40,27%
dari total produksi minyak sawit dunia sebesar 50.894 ribu ton, sementara Malaysia
40.26%, Thailand 2.78%, Nigeria 2,03%, dan Colombia 1,80% (Kementerian Pertanian,
2012).
Minyak goreng adalah salah satu bahan pokok yang menjadi perhatian
Pemerintah karena merupakan bagian penting bagi konsumsi lebih dari 242 juta jiwa
penduduk Indonesia. Berdasarkan data Susenas 2012, konsumsi minyak goreng perkapita
pada tahun 2011 sebesar 8,24 liter/kapita/tahun dan meningkat menjadi sebesar 9,33
liter/kapita/tahun pada tahun 2012. Dalam rangka menjaga keamanan pangan dan
melindungi konsumen seperti diamanatkan dalam Undang Undang Nomor 18 Tahun
2012 Tentang Pangan dan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Tahun
Produksi ( ton/tahun)
2009 7,13 juta
2014 13 juta

2

Pra-Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO Kelompok 7/S. Ganjil/2014-2015
By Checked Approved
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi


Konsumen, minyak goreng dikemas agar memenuhi persyaratan keamanan pangan dan
kemasan harus memuat keterangan yang dimengerti konsumen (Kemendag, 2013).
Berdasarkan pemaparan diatas, pendirian pabrik pengolahan CPO menjadi
minyak goreng atau Refined, Bleached, Deodorized Palm Olein (RBD Palm Olein) akan
memiliki prospek yang sangat menjajikan dalam industri pangan di Indonesia dan Dunia.


1.2 Tujuan Perancangan
Tujuan dari pembuatan Pra- Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO
(Crude Palm Oil) ini adalah untuk mengetahui kelayakan pabrik ini sehingga dapat
menjadi acuan dalam pengambilan keputusan pembangunan pabrik.

1.3 Ruang Lingkup Perancangan
Ruang lingkup dari pra rancangan pabrik pembuatan RBD Palm Olein dari Crude
Palm Oil (CPO) adalah seperti berikut:
Laporan I : Mempelajari studi literatur dan basis perancangan, pada laporan satu
ini berisikan pendahuluan, deskripsi proses yang akan dirancang, latar
belakang dan tujuan serta penjelasan tentang proses yang kita gunakan
Laporan II : Menghitung dan menentukan neraca massa dan neraca energi dari
setiap unit alat yang ada dalam perancangan
Laporan III : Mempelajari spesifikasi peralatan, menghitung dan merancang alat-alat
dalam pabrik seperti reaktor, unit pemisahan, unit perpindahan panas,
alat aliran bahan, sistem utilitas dalam pabrik
Laporan IV : Mempelajari dan menentukan proses piping and instrument diagram
Laporan V : Manajemen pabrik dan menentukan analisis kelayakan ekonomi serta
Executive summary











3

Pra-Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO Kelompok 7/S. Ganjil/2014-2015
By Checked Approved
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi


Bab 2. Deskripsi Proses
2.1 Analisa Pemilihan Proses
Proses yang digunakan untuk produksi RBD Palm Olein dari CPO yaitu proses
yang menggunakan dry degumming pada proses degumming, menggunakan bleaching earth
sebagai adsorben (pemucatan secara fisika), dan proses fraksinasi yang digunakan adalah
dry fractionation. Dry fractionation lebih banyak digunakan di industri karena tidak
menggunakanpelarut dan tidak perlu lagi dilakukan pemisahan pelarut pada prosesnya
sehinggalebih efisien dari segi waktu proses dan cost yang diperlukan. Dasar pemilihan ini
dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1Perbandingan proses pada tahapan pembuatan RBD Palm Olein
No Jenis Tahapan Jenis Proses Kelebihan Kekurangan














1














Degumming
process


Dry
degumming
- Menghasilkan Degummed
bleached palm oil (DBPO
yang tinggi
- Biaya murah dan sesuai
digunakan pada physical
refining
- Hanya dapat
digunakan pada
minyak dengan
kandungan
phospatida yang
rendah


Water
degumming
- Dapat digunakan dalam
proses batch atau
continuous
- Air yang digunakan
mengurangi kualitas
minyak
- Minyak berkurang
karena adanya proses
hidrolisis

Acid
degumming

- Dapat menghilangkan
unhydratable phospatida
- Menggunakan bahan
kimia sehingga dapat
merusak minyak dan
menghasilkan limbah
cair

Enzymatic
degumming
- Tidak menghasilkan busa
- Dapat menghilangkan
kadar fosfor dalam jumlah
besar
- Proses menggunakan
enzim sulit untuk
dipantau
EDTA
degumming
- Pemisahan phospatida
sempurna dan
pengerjaannya sederhana
- Biaya produksi
mahal dan
menghasilkan limbah
cair
Membran
degumming
- secara fisika sehingga
tidak ada terjadi reaksi
pada minyak
- Biaya produksi
mahal

4

Pra-Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO Kelompok 7/S. Ganjil/2014-2015
By Checked Approved
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi











2









Bleaching
process

Heat
bleaching
- Biaya produksi murah. Dapat merusak
kualitas minyak
karena suhu yang
digunakan tinggi.





Chemical
oxydation
- Minyak yang terbentuk
akan lebih murni karena
menggunakan senyawa
kimia.
- Baik digunakan dalam
pembuatan sabun
- Kurang efektif karena
akan membentuk
senyawa peroksida
karena proses
oksidasi.
- Warna yang hilang
dapat timbul kembali
jika minyak
teroksidasi kembali

Adsorbtion
- Tidak merusak minyak
karena yang digunakan
adalah adsorben untuk
mengikat impuritisnya.
- Biaya produksi lebih
mahal karena adanya
penambahan
bleaching agents.
3
Fractination
process
Dry
Fractionation
- Tidak menggunakan
senyawa pelarut.
- Tidak menghasilkan
limbah cair.
- Rendemen yang
diperoleh rendah.

Wet
Fractionation
- Menghasilkan rendemen
yang tinggi.
- Menghasilkan
limbah cair yang
apabila terakumulasi
dapat mencemari
lingkungan

2.2 Uraian singkat proses yang dipilih
Tahapan Proses Pengolah CPO menjadi RBDPO yaitu :
2.2.1 Persiapan Bahan Baku
CPO diperoleh dari hasil proses pressing dan ekstraksi di Pabrik Kelapa Sawit
(PKS) yang masih memiliki kadar FFA, resin, gum, protein, fosfatida, pigmen warna dan
bau. Crude Palm Oil (CPO) yang digunakan sebagai bahan baku diperoleh dari Pabrik
Kelapa Sawit yang berada disekitar Riau seperti PT INECDA, PTPN V dan PT
WILMAR
2.2.2. Degumming Process
Tahapan pertama yang dilakukan pada proses degumming yaitu proses
pemanasan CPO untuk menaikkan temperature 30-50
o
C sampai 80-110oC dengan
menggunakan plate heat exchanger dari sumber panas steam. Selanjutnya ditambahkan
asam phospat (H3PO4) yang konsentrasinya 80-85% sebanyak 0.1 %. Tujuan penambahan
asam phospat untuk memisahkan gum berupa phosphatida. Minyak diaduk dengan
menggunakan mixer agar campuran mejadi homogen dimana kondisi operasi berlangsung

5

Pra-Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO Kelompok 7/S. Ganjil/2014-2015
By Checked Approved
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi


pada tekanan 1 atm dan ditambahkan air panas yang berguna untuk proses pemisahan
minyak dengan gum. Hasil proses ini adalah Degummed Palm Oil (DPO).

2.2.3 Bleaching Process
Pada proses bleaching dilakukan dengan metode adsorbsi dengan menggunakan
bleaching earth. CPO yang telah mengalami proses degumming dialirkan ke tangki bleacher
dan ditambahkan bleaching earth. Suhu didalam tangki dinaikan sampai suhu 85-90oC
dengan menggunakan sparging steam. Minyak hasil proses bleaching selanjutnya disaring
dengan menggunakan Niagara filter, sehingga mineral logam akan terpisah dan didapatkan
prosuk berupa Degummed Bleached Palm Oil (DBPO).

2.2.4 Deodorization process
Minyak yang telah terpisah dari impuritisnya kemudian dimurnikan dengan
memisahkan kandungan asam lemak bebasnya dengan penguapan. DBPO dipanaskan
pada plate heat exchanger dengan menggunakan steam sampai temperature 240-260
o
C
dengan sumber panas dari boiler dan tekanan vakum 1.7-4,5 mmHg, kemudian DBPO
dialirkan ketangki deodorizer. Setelah minyak DBPO yang dipanaskan mencapai
temperatur yang diinginkan, minyak dimasukkan kedalam tangki vacuum dryer. Didalam
tangki ini terjadi penguapan cairan dan zat-zat yang mudah menguap..Uap asam lemak
bebas akan menguap kebagian atas dan dikondensasikan sehingga suhu mencapai 27
o
C.
Kemudian asam lemak bebas hasil dari deodorizer atau yang di sebut PFAD di alirkan ke
tangki penyimpanan. Dan minyak yang telah di proses disebut RBDPO didingingkan dari
suhu 240
o
C hingga 50
o
C untuk di alirkan ke tangki penyimpanan. Uap yang dihasilkan
dihisap oleh steam jet vacuum system.

2.2.5 Fractionation Proces
Proses fraksinasi terdiri dari dua tahap yaitu kristalisasi dan filtari. Proses
Fraksinasi dilakukan dengan dry fractionation. Proses fraksinasi kering adalah untuk
memisahkan minyak sawit menjadi dua fraksi, yaitu fraksi cair (Olein) dan fraksi padat
(stearin). Proses fraksinasi terdiri dari filling and heating, cooling/chilling, dan filtrasi.
Pertama-tama RBDPO dipanaskan hingga suhu sekitar 65
o
C dengan mengalirkan steam.
Pemanasan RBDPO berfungsi agar kandungan stearin dalam RBDPO tersebut
seluruhnya mencair, selanjutnya masuk ke kristalizer dan didinginkan hingga suhu 35
o
C
menggunakan air cooling yang bersuhu 65
o
C. Kemudian didinginkan lagi sampai 30
o
C
dengan menggunakan air chilling yang bersuhu 35
o
C. Kristalizer ini dilengkapi dengan
pengaduk yang berfungsi untuk mengaduk minyak agar homogen. Setelah itu dilakukan
pemisahan fraksi cair (olein) dan fraksi padat (stearin) dengan melakukan filtrasi
menggunakan filter press. Hasil dari pemisahan ini disebut dengan RBDOL (olein) dan
RBDST (stearin).

6

Pra-Rancangan Pabrik RBD Palm Olein dari CPO Kelompok 7/S. Ganjil/2014-2015
By Checked Approved
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi
Adi Maulana Putra
Jatikta Yuni Harti
Muhammad Rahman
Wyda N Saragi


2.3 Diagram Alir Proses

Gambar 2.1 Skema Pembuatan RBD Palm Olein dari CPO(BPPMD Kaltim,2009)
Badan Perijinan dan Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalimantan
Timur.2009. Investasi Industri Minyak Goreng Kelapa Sawit.
http:/www.bppmd.kaltim.go.id. diakses tanggal 29 September 2014