Anda di halaman 1dari 14

Tugas Mata Kuliah Hukum dan HAM

Tanggal 8 Oktober 2013


RESUME TENTANG HAM DALAM TRANSISI POLITIK (PROF. SATYA ARINANTO)

Oleh:
Catur Nugraheni (1006661506)



FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
2013

HAK ASASI MANUSIA DALAM TRANSIS POLITIK
A. Hak Asasi Manusia
1. Pemilihan Istilah Human Rights dalam Universal Declaration of Human Rights
Istilah hak asasi manusia digunakan sejak pembentukan Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) sebagai pengganti istilah natural rights (hak-hak alam) oleh karena
istilah natural rights ini menimbulkan berbagai kontroversi. Selain itu istilah the rights
of Man yang pertama muncul pada masa Ketua Bersama Komisi PBB Eleanor
Roosevelt juga dirasa tidak mengakomodir hak-hak wanita.
2. Asal-Usul Historis Konsepsi HAM
Asal-usul konsepsi HAM dapat dilihat sejak zaman Yunani dan Romawi, hal ini
berhubungan dengan doktrin hukum alam pra-modern dari Greek Stoicism
(Stoisisme Yunani). Pendapat penting yang muncul di era ini antara lain bahwa
kekuatan kerja yang universal mencakup semua ciptaan dan tingkah laku manusia,
sehingga harus dinilai berdasar dan sejalan dengan hukum alam. Menurut Solomon
dan Higgis, para Stois bercirikan keyakinan fanatic terhadap akal budi. Mereka
memperdalam antara antagonisme akal budi dan emosi sebagaimana juga
dibedakan oleh Plato dan Aristoteles.
Stoisisme Yunani yang membentuk dan menyebarkan hukum Romawi
menguatkan eksistensi hukum alam. Hak-hak yang universal berkembang melebihi
hak warga Negara berdasar ius gentium. Ulpianus dari Romawi berpendapat bahwa
bukan Negara, tapi alamlah yang menjamin semua manusia (baik warga Negara
maupun bukan).

3. Kaitan dengan Teori tentang Negara dan Hukum
Menurut J.J. von Schmid, pemikiran tentang Negara dan hukum bukan
mendahului pembentukan dan pembentukan peradaban melainkan gejala sosial
yang menampakkan diri setelah berabad-abad ada peradaban yang tinggi. Kondisi
ini terjadi di Athena (bangsa Yunani) abad ke-5 SM disebabkan oleh:
- sifat agama yang tak mengenal Tuhan (kaidah hukum keramat);
- kondisi geografi Negara ang mendukung perdagangan sehingga bertemu
dengan bangsa-bangsa di sebelah Timur;
- negara yang berbentuk republik, rakyat memerintah diri dengan tanggung jawan
sendiri.
Plato (Yunani) memberikan karyanya terkait hal ini antara lain: 1) Politeia
1
(The
Republic); Politicos (The Statesman); 3) Nomoi (Law). Pemikiran ini bertujuan untuk
membentuk negara yang ideal, bebas dari para pemimpin yang tiding tidak
bertanggung jawab.
4. Dokrin Hukum Alam dan Pemikiran Liberal mengenai Hak-Hak Alam
Pada masa perkembangan pemikiran-pemikiran liberal mengenai hak-hak alam
(sebelum abad pertengahan), doktrin hukum alam yang diajarkan menekankan pada
faktor kewajiban, dipisahkan oleh faktor hak. Doktrin Aristoteles dan Thomas
Aquinas mengakui legitimasi perbudakan yang telah memakan ide utama tentang
HAM, inilah yang disebut kebebasan dan kesamaan.
Sejak abad ke-13 sampai masa Perdamaian Westphalia, dan masa
Renaissance ide HAM sebagai hak-hak alam merupakan kebutuhan dan

1
Dilatarbelakangi keprihatinan atas para pemimpin negaranya yang haus akan harta, kekuasaan
dan gila hormat.
berkembang sejalan dengan praktek dalam masyarakat. Pada masa ini penguasa
gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum alam.
Plato berpendapat bahwa negara harus dipimpin oleh filsuf agar tercapai
kondisi ideal, namun konsepsi ini tidak terlaksanakan mengingat tak ada manusia
yang sempurna. Dalam karyanya Politicos dan Nomoi ditekankan bahwa hukum
adalh hal terpenting untuk mengatur kehidupan dan menyelenggarakan
pemerintahan.
5. Pengaruh Pemikiran Thomas Aquinas dan Beberarapa Pemikiran Lain
Ajaran Thomas Aquinas (1224/25-1274) dan Hugo Grotius (1583-1645) yang
berkembang di Eropa bersama piagam HAM, seperti Magna Charta, Bill of Rights,
dn Petition of Rights menunjukkan bahwa masyarakat telah mengakui adanya hak-
hak yang kekal dan tak dapat dicabut oleh siapapun. Pemikiran Aquinas sebagai
puncak Skolatisisme merujuk pada metode spekulasi filosofis berlaku dalam aliran-
aliran Barat berdasarkan logika Aristoteles.
6. Pengaruh Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Keberhasilan Intelektual
Sepanjang abad ke-18 (Abad Pencerahan) berkembang keyakinan bersama
akal manusia, pada masa ini hubungan manusia mengarah pada ekspresi akal
pikiran yang komprehensif setelah muncul berbagai penemuan pada abd ke-17
seperti Galileo dan Sir Isac Newton, Materilaisme Aquinas, dan lain-lain.
Ahli yang banyak menyokong pemikiran pada masa ini adalah John Locke
(pemikir hukum alam masa modern). Tulisannya yang berkaitan dengan Revolusi
1688 (the Glorius Revolution) menguraikan hak-hak tertentu dari individu-individu
sebagai manusia karena mereka eksis dalam keadaan alami sebelum mereka
masuk ke masyarakat. Hak-hak tersebut antara lain hak hidup, hak kemerdekaan,
dan hak milik.
7. Pengaruh Pemikiran John Locke dalam Beberapa Dokumen HAM
Pemikiran Liberal bersamaan dengan praktek Revolusi 1688 yang
menghasilkan Bill of Rights memberikan dasar timbulnya gelombang agitasi
evolusioner yang kemudian mempengaruhi Barat (terutama Amerika Utara dan
Perancis).Thomas Jefferson yang terpengaruh pemikran Locke menuangkan
pemikirannya dalam Declaration of Independence, yakni We hold these truths to be
self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator
with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty, and the pursuit of
Happiness.
8. Ide-ide HAM dan Absolutisme Politik
Ide-ide HAM kebanyakan muncul dalam rangka perjuangan melawan
absolutisme politik, karena kegagalan penguasa untuk menghormati prinsip
kebebasan dan persamaan sebagai filosofi hukum alam.
9. Generasi-generasi HAM
Berikut adalah generasi HAM yang dikembangkan oleh Karel Vasak, seorang
ahli hukum dari Perancis,
a) Generasi Pertama
Hak-hak yang masuk dalam generasi ini antara lain hak-hak sipil dan politik,
dipengaruhi oleh filsafat politik individualisme liberal dan doktrin sosial ekonomi
laissez-faire. Posisi HAM lebih ke arah negatif (bebas dari) daripada positif
(hak dari), generasi ini menghargai ketiadaan intervensi pemerintah dalam
pencarian martabat manusia.
b) Generasi Kedua
Hak-hak yang masuk dalam generasi ini adalah hak ekonomi, sosial, dan
budaya yang bersumber dari tradisi sosialis. Sebagai respon atas pelanggaraan
dan penyimpangan kapitalis.
c) Generasi Ketiga
Hak-hak yang masuk dalam generasi ini adalah hak-hak solidaritas sebagai
rekonsepitulasi dari generasi pertama dan kedua.Pasal 28 Universal Declaration
of Human Rights mencakup 6 hak sekaligus. Tiga darinya merefleksikan
kebangkitan Dunia Ketiga. Ketiga hak pertama (Claude dan Weston) adalah:
1) The right to political;
2) The right to economic and social development;
3) The right to participate in and benefit from common heritage of mankind.
Ketiga hak kedua meliputi:
4) The right to peace;
5) The right to a healthy and balanced environment;
6) The right to humanitarian disaster relief.
Keenam hak tersebut disebut hak kolektif dan memerlukan usaha bersama dari
masyarakat.
Empat generai perkembangan HAM menurut Jimly Asshiddiqie:
a) Generasi Pertama
Pemikiran mengenai konsep HAM sejak era enlightment di Eropa
meningkat menjadi dokumen-dokumen hukum internasional yang resmi seperti
Universal declaration of Human Right PBB (1945).
b) Generasi Kedua
Konsepsi HAM mencakup upaya menjamin pemenuhan kebutuhan
ekonomi, sosial, dan kebudayaan, termasuk pendidikan, status politik, menikmati
penemuan ilmiah dan lain-lain.
c) Generasi Ketiga
Tahun 1986 mulai muncul konsepsi HAM mengenai hak atas atau untuk
pembangunan. setiap bangsa berhak untuk ikut dalam proses pembangunan,
berhak menikmati hasil pembangunan di semua bidang kehidupan.
d) Generasi Keempat
Konsepsi HAM dalam generasi ini mencakup pula hubungan horizontal,
hubungan antar masyarakat atau kelompok manusia.
Menurut Prof. Satya Arinanto generasi HAM yang diungkapkan oleh Jimly
Asshiddiqie lebih terkait perkembangan di bidang ketatanegaraan.
10. Universal Declaration of Human Responsibilities
Deklarasi ini bertujuan untuk melengkapi Deklarasi Universal HAM, karena
seharusnya hak diimbangi dengan tanggung jawab. Dalam pembentukannya Helmut
Schmidt melaporkan bahwa Barat menjunjung tinggi kebebasan dan individualism,
sedangkan dunia Timur lebih dijunjung tinggi konsep tanggung jawab dan
komunitas. Konsep kewajiban berfungsi menyeimbangkan antara kebebasan dan
tanggung jawab. Dokumen ini bertujuan mendamaikan berbagai ideology,
kepercayaan, dan pandangan politik yang semula dianggap saling bertentangan.
11. Cairo Declaration on Human Rights in Islam
Deklarasi ini bertemakan peace, interdependence, dan development,
dilaksanakan di Mesir. Deklarasi ini menjadi sumber hukum baru dari peraturan
mengenai penegakan HAM dalam Islam. Pasal-pasal di dalamnya dapat
dibandingkan dengan Declaration of Human Rights, karena isi dari deklarasi ini juga
hampir sama dengan Declaration of Human Rights.
12. Universalisme versus Relativisme Budaya
Menurut Todung Mulya Lubis teori HAM cenderung berlaku di antara 2
spektrum, pertama berdasarkan teori hukum alam pada salah satu ujung spectrum,
dan kedua berdasarkan teori relativisme budaya pada ujung spectrum lainnya. Di
anatar kedua spketrum tersebut terdapat teori yang berlandaskan pandangan
positivis, Marxis, dan agama.
Menurut aliran relativis budaya, tidak ada suatu HAM yang bersifat universal,
teori hukum alam mengabaikan dasar masyarakat dari indivisu sebagai manusia,
karena seorang manusia selalu menajdi produk dari beberapa lingkungan sosial dan
budaya. Menurut Jack Donelly, relativis budaya dapat dibagi menjadi beberapa
kelompok: 1) Radical cultural relativism; 2) Strong cultural relativism; 3) Weak
cultural relativism. Negara-negara non-blok cenderung menganut relativisme
budaya. Relativisme merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah.


REVIEW
Tulisan dari Prof. Satya Arinanto mengenai HAM dalam transisi politik ini
sebenarnya cukup lengkap, dimulai dari sejarah pemilihan istilah HAM, sampai pada
perkembangan generasi HAM dan juga dokumen-dokumen HAM yang menjadi
persetujuan dari berbagai negara di dunia. Akan tetapi penulis kurang membahas
kemunculan HAM dari segi jiwa individu secara komprehensif sebelum ia membahas ke
arah yang lebih kompleks.
Dalam buku Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah
2
untuk membahas hak asasi
manusia dalam pemerintahan, dibahas terlebih dahulu bahwa manusia meneruskan
humanisasi hidup yang telah dimulai dalam bidang etika. Oleh karena humanisasi hidup
itu berdasarkan eksistensi manusia sebagai pribadi, maka segala bentuk diskriminasi
berlawanan dengan kewajiban etis ini, baik dalam bidang moral maupun dalam bidang
hukum. Tiap manusia harus diakui martabatnya. Semua yang ada di dunia mempunyai
finalitas, sehingga disamakan dengan kecenderungan alamiah.
Sebagai perbandingan dengan tulisan dari Prof. Satya Arinanto, dokumen-
dokumen resmi menurut Theo Huijbers merupakan saksi untuk menyatakan prinsip-
prinsip keadilan bagi pembentukan hukum dan juga bagi praktek hukum. Dalam tulisan
di atas, berbagai dokumen HAM disebutkan seperti Magna Charta, Bill of Rights,
Universal Declaration of Human Rights, namun isinya tidak disinggung secara
sistematis sesuai dengan keperluan penulisan berdasarkan tema HAM dalam transisi
politik.

2
Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta: Kanisius, 1982), hlm. 299.
Theo Huijbers menjelaskan Magna Charta (1215) membatasi kekuasaan raja
Inggris sekaligus merumuskan hak-hak warga negara, antara lain dikatakan bahwa tak
seorangpun dapat dimasukkan dalam penjara, dirampas hak miliknya, atau dicabut hak
kawulanegaranya tanpa keputusan pengadilan atau hukum negara. Dokumen ini
menjadi inspirasi dari pemikiran John Locke. Dokumen ini sepertinya penting untuk
dibahas isinya karena bagimanapun telah mengantarkan manusia untuk diakui
kewarganegaraannya, ikut berpartisipasi diberbagai kegiatan kenegaraan dan
pemerintahan. artinya hak yang diatur cukup luas, muali dari hak milik.
Dokumen penting lainnya yang perlu juga untuk dimasukkan dalam pembahasan
terkait HAM dalam transisi politik sebagaimana dijelaskan oleh Theo Huijbers adalah
The Virginia Bill of Rights (1776), dokumen tersebut berasal dari pemberontakan
Amerika Utara terhadap kolonialisme Inggris. Dokumen ini berisi mengenai kebebasan
pribadi manusia terhadap kekuasaan negara. Manusia berhak untuk menikmati hidup,
kebebasan, dan kebahagiaan (life, liberty, the pursuit of happiness), dokumen ini
menjadi inspirasi dari Declaration of Independence. Menurut saya HAM dalam transisi
politik ini erat kaitannya dengan hak pribadi terhadap kekausaan negara. Sehingga
jangan sampai dengan adanya kekuasaan negara maka manusia diabaikan hak-hak
pribadi atau individunya.
Penulis cenderung menyukai sejarah yang terjadi pada hukum Romawi atau
Yunani dalam mengupas satu topik permasalahan, akan tetapi kurang dijelaskan
kronologinya secara sistematis, sehingga terkadang kurang bisa ditemukan benang
merah dari topik ataupun sub topik yang sedang dibahas. Akan tetapi sebenarnya hal
ini menunjukkan bahwa penulis sendiri mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap
sejarah mengenai HAM hubungannya dengan transisi politik.
Penulis memasukkan Declaration of Human Rights dalam topik-topik mengenai
HAM dalam transisi politik, terutama dokumen tersebut sebagai cerminan dari HAM
generasi kedua. Akan tetapi dokumen itu sendiri kurang diuraikan secara umum
mengenai sis yang terkandung di dalamnya. Padahal seharusnya dokumen tersebut
dapat digunakan untuk memahami hak-hak asasi manusia kaitannya dengan kehidupan
bernegara termasuk juga hak-hak manusia untuk berpoliti. Berdasarkan penjelasan dari
Theo Huijbers, dokumen ini berpangkal pada keyakinan bahwa tiap-tiap manusia
mempunyai hak-hak tertentu sebagai pribadi dan bahwa negara tidak boleh mencabut
hak-hak itu. Di antara hak-hak tersebut antara lain:
1) Hak-hak kebebasan politik, yang melindungi pribadi manusia terhadap
penyelewengan dari pemerintah;
2) Hak-hak sosial, yakni hak untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok
seperti sandang, pangan, dan papan, dan perawatan kesehatan, pendidkan;
3) Hak sipil dan politik, yang menyatakan hak pridabi manusia untuk menentukan
pemerintahan dan policy pemerintahan itu.
Menanggapi pengaruh hukum alam terhadap hak-hak alam ini, seharusnya
dibahas bahwa aliran terpenting dalam kerangka hukum alam adalah neothomisme.
Aliran ini terinspirasi pada filsafat Thomas Aquinas. Menurut sarjana-sarjana
neothomisme terdapat suatu hukum alam metafisis, sebagaimana direncanakan Tuhan.
Hukum alam dianggap sebagai hukum yang memiliki kekuatan hukum yang real dan
dapat dikenal oleh akal budi manusia. Artinya hukum alam melebihi hukum positif dan
karenanya dapat menghilangkankekuatannya. Seperti dikatakan oleh Radbruch, hukum
alam memecahkan hukum positif (natureecht bricht positives recht).
Berdasarkan tulisan Theo Huijbers tersebut menurut saya mengapa hukum alam
menjadi yang tertinggi karena hukumnya langsung dari Tuhan. Peran tertinggi ada pada
Tuhan, jadi yang berhak menegakkan hak-hak alam itu adalah Tuhan.
Dalam membahas mengenai pengaruh pemikiran Thomas Aquinas, penulis lupa
memaparkan pemikiran-pemikiran penting dari Thomas Aquinas yang memberikan
sumbangsih terhadap teori-teori HAM. Dalam mengartikan hukum Thomas Aquinas
membedakan antara hukum yang berasal dari wahyu (hukum ilahi positif) dan hukum
yang dijangkau oleh akal budi manusia sendiri (hukum alam, hukum bangsa-bangsa,
dan hukum positif manusia. Hukum yang berasal dari wahyu berupa norma moral
agama. Hukum alam yang oleh akal budi manusia ditimba dari aturan alam, dapat
dibagi menjadi dua golongan yakni hukum alam primer dan hukum alam sekunder.
Hukum alam primer dapat disimpulkan dari norma yang umum berlaku bagi semua
manusia. Hukum alam sekunder selalu bersifat abstracto, dapat disimpulkan dari
hukum alam primer.
3

Pemikiran lain dari Thomas Aquinas antara lain mengenai keadilan. Ia membagi
keadilan menjadi:
1) Keadilan distributive, menyangkut hal-hal yang umum, seperti jabatan, pajak,
dan lain-lain;
2) Keadilan tukar menukar menyangkut barang yang ditukar antar pribadi seperti
jual beli;

3
Ibid., hlm. 40.
3) Keadilan legal menyangkut keseluruhan hukum, sehingga dapat dikatakan
bahwa kedua keadilan tadi terkandung dalam keadilan legal ini.
Pandangan Thomas Aquinas terhadap negara sama dengan Aristoteles. Negara
adalah masyarakat yang sempurna (societas perfecta). Dalam masyarakat ini manusia
mendapat perlengkapannya sebagai makhluk sosial. Orang yang tidak memperhatikan
kepentingan umum tidak berlaku sebagai makhluk sosial dan tidak sampai kepada
kesempurnaan hidup.
4

Dalam pembahasan mengenai generasi HAM ini, menurut saya pemikiran yang
diungkapkan oleh Karel Vasak mengenai HAM cenderung menunjukkan bahwa HAM
tercipta sebagai reaksi dari suatu kondisi tertentu, sifatnya lebih banyak dipengaruhi
oleh filsafat atau pemikiran-pemikiran terdahulu dari para ahli seperti liberalism,
individualism, sosialis, dan lain-lain. Sementara generasi HAM hasil pemikiran Jimly
Ashiddiqie cenderung menunjukkan bahwa HAM itu ada cenderung pada kebutuhan
manusia seiring dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang
manusia yang hidup di suatu negara butuh politik, ekonomi, sosial, pendidikan. Negara
juga membutuhkan pembangunan, sehingga manusia yang ada di dalamnya juga
berhak turut serta dan menikmati pembangunan itu. Menurut saya hal ini bukan hanya
berhubungan dengan ketatanegaraan melainkan juga hubungan berbangsa ari indivisu-
individu di suatu negara, seiring kebutuhannya mereka saling berhubungan dan saling
memberikan hak satu sama lain.
Teori mengenai Relativisme Budaya versus Universalisme ini sebenarnya cukp
menarik untuk dipahami, akan tetapi penulis dalam menyajikan topik ini kurang

4
http://www.scribd.com/doc/19539326/Thomas-Aquinas-Dan-Teori-Hukum-Alam-Pembahasan-
Sekitar-Teori-Hukum-Alam-Abad-Pertengahan, diunduh pada tanggal 4 Oktober 2013.
komprehensif, selain itu pemahaman pembaca juga teekendala dengan teori dari
berbagai pemikir luar yang disajikan langsung tanpa diolah oleh penulis berdasrkan
bahasa dan pandangan sendiri oleh penulis. Bab mengenai budaya ini perlu dikupas
secara jelas mengingat kehidupan manusia ini dipengaruhi dan juga mempengaruhi
budaya itu sendiri. Pengimplementasian regulasi mengenai HAM kaitannya dengan
kehidupan politik juga dipengaruhi oleh budaya masing-masing bangsa, sehingga
alangkah baiknya kajian mengenai bab ini lebih diperjelas lagi.