Anda di halaman 1dari 34

Nama : Amalia Hairina

NPM : 1102012018
L.I.1. Memahami dan Mempelajari Sistem Reproduksi Wanita
L.O.1.1. Menjelaskan Makroskopis Sistem Reproduksi Wanita
Genitalia Eksterna :
a. Mons Pubis
Daerah kulit yang menonjol di depan symphisis pubis
Kulit berambut banyak jaringan lemak.
Berisi jaringan lemak, jaringan ikat, pembuluh darah dan saraf-saraf
Meluas ke bwah belakanaglabium mayora.
Rambut kemaluan disebut pubes.
b. Labium Majus Pudendi
Suatu lipatan kulit, ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain
membentuk comissura posterior labiorum majorum, sedang yang ke ventrocrainal
membentuk comissura anterior labiorum majora.
Fascia lateralis memiliki rambut dan bnayka pigmen. Sedangkan, fascia medialis
mempunyai gld. Sebacea yang besar dan tidak mempunyai rambut.
Terdapat jaringan pengikat, lemak dan jaringan menyerupai tunica dartos scorti.
Celah yang dibatasi oleh kedua labia majora disebut rima pudendi.
c. Labium Minus Pudendi
Labium minora ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain membentuk
frenulum labiorum minorum.
Ke ventrocrainal berhubunan satu dengan yang lain membentuk preputium
clitoridis.
Dari labio minora berjalan suatu lipatan kulit ke ventral cranial melekat pada
dataran dorsocaudal glans clitoridis kanan kiri dari linea mediana disebut
frenulum clitoridis.
Tidak ada foliculi rambut dan jaringan lemak.
Banyak pembuluh darah.
d. Vestibulum Vaginae
Daerah yang terletak diantara kedua bulbi vestibuli.
Batas-batasnya yaitu kanan dan kiri oleh labia minora, ventrocranial oleh
frenulum clitoris, dan dorsocaudal oleh frenulum labiorum minorum (frenulum
labiorum pudendi)
Kedalam veestibulum vaginae bermuara urethra, vagina, gld. Paraurethralis, gld.
Vestibularis minor dan gld. Vestibularis major.
e. Ostium Vaginae
Muara vagina disebut juga introitus vaginae.
Diantara introitus vaginae dan frenulum labiorum minorum terdapat fossa
navicularis (fossa vestibuli vaginae).
Di sebelah kanan dan kiri pada fossa naviculare terdapat saluran kedua glandula
Bartholini bermuara.
f. Clitoris
Terdiri dari ujun poksimal corpus cavernosum clitoridis melekat di dataran
medial ramus inferior osis pubis dengan dataran lateralnya.
Ke ventral kedua crura clitoridis bersatu membentuk corpus clitoridis. Terdapat
corpus cavernosum yang membentuk glans clitoridis.
g. Urethra Feminina
Berjalan dari leher kandung kemih menuju ostium urethrae eksternum yang
terletak diantara clitoris dengan vagina.
Disebelah kanan dan kiri lubang kemih terdapat dua lubang kecil dari saluran
yang buntu ( ductus skene atau ductus parauretralis).
h. Perineum
Merupakan area berbentuk belah ketupat
Dibagi oleh ramus inferior ossis pubis dan ramus ossis ischii kanan dan kiri dan
kedua lig. Sacrotuberale.
Terbagi menjadi regio urogenitalis di anterior (ventral) dan regio analis di
posterior (dorsal).










Gambar 1. Genitalia Eksterna Wanita
Sumber : http://uncennursing.blogspot.com/2011/06/sistem-reproduksi-
perkembangbiakan.html








Genitalia Interna :
Gambar 2. Genitalia Interna Wanita
Gambar 3. Genitalia Interna Wanita
Sumber : http://kelas-bidan.blogspot.com/2011/04/anatomi-fisiologi-organ-reproduksi.html

1. Ovarium
Terletak di dalam pelvis dan jumlahnya sepasang
Berbentuk bulat memanjang, agak pipih
Terdiri dari coretx dan medulla (berisi pembuluh darah, limfe dan saraf)
Dilekatkan oleh mesovarium pada ligamentum latum (berupa lipatan peritoneum
sebelah kiri dan kanan uterus. Meluas sampai dinding panggul dan dasr panggul)
Difiksasi oleh :
- Ligamentum suspensorium ovarii (Lig.infudibulopelvicum) :
Ligamentum ini menggantungkan uterus pada dinding panggul antara sudut
tuba
- Ligamentum ovarii propium : menfiksasi ovarium ke uterus.
- Ligamentum teres uteri (lig. Rotundum) : terdapat di bagian atas lateral dari
uterus, caudal dari tuba kedua ligamentum ini melalui canalis inguinalis ke
bagian cranial labium majus.
2. Tuba Uterina (salpinx)
Jumlahnya sepasang kanan dan kiri dengan panjang 10 cm.
Menjulur dari uterus kearah ovarium dengan ujung distal terbuka kedalam rongga
peritoneum disebut ostium abdominale.
Terdiri dari :
- Infudibulum bangunan yang berbentuk seperti corong
- Ampula, bangunan yang membesar dan tempat terjadinya fertilisasi.
- Isthmus, bangunan ynag menyempit.
- Pars uterina tubae ialah bagian yang melalui dinding uterus.
- Ostium uterinum yaitu pintu muara tuba di dalam uterus.
3. Uterus
Organ muscular, berbentuk peer, dibedakan menjadi :
Fascia vesicalis, di dataran ventral menghadap ke vesica urinaria.
Fascia intestinalis, di dataran dorsal menghadap ke usus.
Margo lateralis kanan dan kiri.
Uterus dapat dibagi dalam :
- Fundus uteri, yang terletak pada bagian atas (proksimal ) osteum tuba uterina.
- Corpus uteri, terletak pada bagian tengah uterus yang berbentuk bulat
melebar. Batas antara corpus uteri dan cervix uteri dibentuk oleh isthmus.
Sebelum memasuki cervix terdapat ostium uteri internum.
- Cervix uteri, bagian yang paling sempit dan menonjol kedalam rongga
vagina. Pada bagian ujung distal cervix terdapat banguna ynag menyempit
disebut ostium uteri externum. Rongga di dalam cervix uteri disebut canalis
cervix.
4. Vagina
Berbentuk tabung muskular.
Panjangnya antara 8-12 cm.
Bagian distal cervix menonjol ke dalam rongga vagina, disebut portio vaginalis
cervicis uteri. Bagian cervix proksimalnya disebut portio supravaginalis cervicis
uteri.

Rongga vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis disebut fornix yang
terbagi menjadi :
- Fornix lateralis dextra dan sinistra
- Fornix anterior dan posterior
Tunica mucosa membentuk rugae yang transversal pada dinding ventral dan
dorsal disebut columna rugarum.
Pada virgo intacta introitus vaginae sebagian ditutupi oleh selaput disebut hymen.
Bentuk hymen :
- Hymen anularis (cincin)
- Hymen seminularis (bulan sabit)
- Hymen cribriformis (berlubang-lubang seperti saringan)
- Hymen fimbriatus (dengan tepi seperti jari-jari)
- Hymen imperforatus (tidak berlubang)
Gambar 4. Bentuk-bentuk hymen

5. Jaringan penunjang
a. Ligamentum cardinale sinistra dan dekstra (Mackendrot)
Ligamentum terpenting untuk menahan uterus agar tidak turun.
Berjalan dari cerviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis.
b. Ligamentum sakrouterinum sinistra dan dextra
Menahan uterus agar tidak banyak bergerak
Berjalan melengkung dari dorsal cerviks melalui dinding rectum ke arah os
sakrum.
c. Ligamentum rotundum sinistra dan dextra
Menahan uterus dalam antefleksi
d. Ligamentum pubivesikale sinistra dan dextra
Berjalan dari os pubis melalui kandung kemih dan seterusnya sebagai
ligamentum vesikouterinum ke cerviks.
e. Ligamentum latum sinistra dan dextra
Berjalan dari uterus ke arah lateral dan tidak banyak mengandung jaringan
ikat.
Merupakan bagian dari peritoneum viscerale yang meliputi uterus dan kedua
tuba dan berbentuk sebagai lipatan.

f. Ligamentum infundibulopelvikum
Menahan tuba falopi.
Berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis.
g. Ligamentum ovarii proprium sinistra dan dextra
Berjalan dari sudut kiri dan kanan fundus uteri ke ovarium.

DIAPHRAGMA PELVIS
1. Pelvis mayor : berisi saluran cerna, VU, ureter, sistem genitalis
2. Pelvis minor
- PAP (aditus pelvis)
Dibentuk oleh : promontorium, linea terminalis, ala osis sacralis, dan supra
pubis.
a. Conjugate vera : ukuran antero posterior
Jarak antara pinggir atas pubis sampai promontorium, penting untuk
menentukan dapat todaknya bayi melewati sehingga dapat menentukan
tindak lanjut persalinan pervaginam atau section secaria.
Dengan bantuan conjugate diagonalis (diukur dengan vaginal touch)
sampai promontorium. Conjugate diagonalis(12,5 cm) 1,5 = 11-13cm
b. Conjugate transversa : diukur dari titik terjauh linea terminalis kiri dan
kanan tegak lurus dengan conjugate vera. 13-14,5 cm.
c. Conjugate obstetrica : jarak antara promontorium ke pinggir tengah
simpisis pubis. Bagian aditus pelvis yang paling sempit, 10,6 cm.
- Mid pelvis
Dibentuk oleh : apex arcus pubis, spina ischiadica, ujung os.sacrum.
Paling sempit, bentuk oval, sering terjadi kemacetan pada persalinan.
Ukuran yang penting :
a. Anteroposterior : tepi bawah simp.pubis sampai pertengahan os.sacrum 4.
11,5-12 cm.
b. Transversa : spina ischiadica kanan kiri. 10-10,5 cm
c. Sagittal : anteroposterior dengan potongan transversa
- PBP (exitus
pelvis)
a. Anteroposterior : 9,5-11,5 cm
b. Transversa : tuber ischiadicum kanan kiri. 10,5-11 cm
c. Sagitalis posterior : ujung os sacrum dengan perpotongan antara
anteroposterior dengantransversa.10,5-11cm.

Bidang Hodge: untuk menentukan petunjuk turunnya bagian bawah fetus.
- Hodge I : bidang yang sama dengan PAP
- Hodge II : sejajar H I setinggi pinggir bawah sim.pubis
- Hodge III : sejajar H I melalui spina ischiadica
- Hodge IV : sejajar H I setinggi ujung os sacrum
Gambar 5. Diaphragma pelvis














Gambar 6. Diaphragma Pelvis
Perdarahan :
Arteri iliaca interna -> arteri uterina -> arteri vaginalis. Arteri vaginalis ke arah
fundus kemudian bercabang menjadi :
a. R.ovaricus melalui ligamentum ovarii proprium menuju ovarium
b. A. Ligamenti teretis uteri, mengikuti lig. Teres uteri
c. R. Tubarius mengikuti tuba uterina.
Persarafan :
N.pudendus untuk persarafan genitalia eksterna , n.pudendus masuk ke foramen
ischiadicum sebagai n. Clitoridis. Cabang yang lain: n.hemorrhoidalis inferior utnuk
m.spinchter ani externus dan ke kulit regio analis. N. Perianalis berkahir sebagai
n.labialis untuk labium majus. Plexus hypogastricus superior dan inferior untuk
persarafan genitalia interna.
Pembuluh lympe:
Bagaian proximal mengikuti kembali r.vaginalis a. Uternae ke lnn. Illiaci interni.
Bagian medial mengikuti kembali r.Vaginali a.Vesicalis inferior ke Inn sepanjang
a.Vesicalis inferior ke Inn. Illiaca interni.
Bagian dari vagina distal, dinding vestibulum vaginae, labia minora, labia major.

L.O.1.2 Menjelaskan Mikroskopis Sistem Reproduksi Wanita
Ovarium :
Epitel sel kuboid rendah atau gepeng yaitu epitel germinal
Dibawah epitel germinal adalah jaringan ikat padat yang disebut tunika albuginea.
Ovarium memiliki :
- Korteks di tepi : folikel-folikel, fibrosit dengan serat kolagen dan retikular.
- Medulla di tengah : pembuluh darah,saraf dan pembuluh limfe.
Folikel primordial : folikel terdiri dari oosit primer yang diliputi sel folikel
gepeng.
Folikel primer : sel folikel mulai bentuk kuboid, tidak ada ruang berisi liqour
foliculi dan zona pelusida terbentuk pada akhir fase folikel primer
Folikel sekunder : epitel berlapis kuboid, stroma membentuk teka folikel yaitu
teka interna dan teka eksterna, terbentuk zona pelusida
Folikel tersier : ruang-ruang follicle bersatu membentuk antrum folliculi yang
berisi cairan, sel telur terdeak ke tepi terletak di atas gundukan sel follicular
disebut cumulus oophorus.
Folikel yang mengalami atresia pada semua tahap perkembangan folikel menajdi
folikel atretik.
Ovum : ovum dikelilingi sel granulosa yang membentuk bukit kecil yaitu kumulus
ooforus. Satu lapisan sel granulosa yang berdekatan dengan oosit primer
membentuk korona radiata. Di antara korona radiata dan sitoplasma oosit primer
adalah glikoprotein terpulas asidofilik disebut zona pellusida.
Corpus luteum : sel granulosa hipertropi, bentuknya berubah menjadi pilyhedral,
inti membesar dengan sitoplasma dipenuhi oleh lipd. Terdapat sel lutein granulosa
yang berpigmen kuning dan sel lutein theca.
Corpus albicans : corpus luteum yang berdegenerasi karena tidak terjadi
kehamilan. Corpus albicans bersifat aselular dan dipenuhi serat hialin.






Gambar 7. Ovarium Gambar 8. Corpus Luteum
Tu
ba
Ute
rina
:
E
p
i
t
e
l
selapis silindris bersilia (epitheliocytus ciliatus) dan tidak bersilia (sel sekretorik)
Sel bersilia menciptakan arus ke arah uterus dan menjadi predominan dalam fase
proliperatif.
Sel sekretorik menghasilkan nutrisi
Mukosa terdiri dari banyak plica dan membentuk lumen yang tidak rata.
Gambar 9. Tuba Uterina Gambar 10. Epitel Tuba Uterina
Uterus
Dinding luar yaitu perimetrium, tengah miometrium dan sebelah dalam
endometrium.
Endometrium dilapisi oleh epitel selapis silindris.Dibagi dalam dua lapisan yaitu
stratum basale dan stratum functionale
Terdapat kelenjar uterus di lamina propia.
Terdapat arteri spiralis di endometrium.
Miometrium terdiri dari otot polos, dipisahkan oleh jaringan ikat interstisial
dengan banyak pembuluh darah .
Gambar 11. Uterus pot. melintang Gambar 12. Uterus



Serviks, Kanalis dan Forniks Vagina
Kanalis servikalis dilapisi oleh epitel kolumner tinggi penghasil mukus.
Epitel serviks dilapisi oleh kelenjar serviks ke dalam lamina propia.
Kelenajar serviks yang tersumbat dan berkembang menjadi kista glandular.
Jaringan ikat di lamina propria serviks lebih fibrosa daripada di uterus.
Porsio vagina dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa tanduk.

Vagina
Dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
Lamina propria tidak memiliki kelenjar tetapi mengandung banyak pembuluh
darah dan lomfosit.







Gambar 13. Vagina

L.I.2. Memahami dan Mempelajari Leukorea
L.O. 2.1 Menjelaskan Definisi Leukorea
Leukorea adalah sekret berwarna putih dan kental dari vagina dan rongga uterus
(dorland, 2010). Vagina yang normal selalu berada dalam kondisi lembab dan
permukaannya basah oleh cairan/lendir. Sekret diproduksi oleh kelenjar pada leher
rahim (serviks), dinding vagina dan kelenjar bartholin dibibir kemaluan, menyatu
dengan sel-sel dinding vagina yang lepas serta bakteri normal didalam vagina, bersifat
asam.
L.O.2.2 Menjelaskan Etiologi Leukorea
Fluor albus fisiologik pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah
porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior
vagina.
Fluor albus fisiologik ditemukan pada :
Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, disini sebabnya ialah pengaruh
estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
Menjelang atau setelah haid.
Wanita dewasa apabila dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan
oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina. Hal ini berkaitan dengan
kesiapan vagina untuk menerima penetrasi pada senggama.
Ovulasi, sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.
Kehamilan
Stres, kelelahan
Pemakaian Kontrasepsi Hormonal
Pengeluaran sekret dari kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan
penyakit menahun, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri.
Sedangkan fluor albus abnormal (patologik) disebabkan oleh:
Infeksi
a. Bakteri :
Gonococcus
Penyebab Gonococcus adalah coccus gram negative Neisseria gonorrhoeae
ditemukan oleh Neisser in 1879. N. gonorrhoeae adalah diplokok berbentuk biji kopi,
bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram
negatif dengan ukuran 0,8 1,6 mikro, bersifat tahan asam. Bakteri gonokokkus tidak
tahan terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi
seksual. Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-
10% CO2 dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi
untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin.
Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah, tumbuh optimal
pada suhu 35-37C dan pH 7.2-8.5 untuk pertumbuhan yang optimal.
Pada sediaan langsung dengan gram bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung
dengan pewarnaan gram bersifat gram negative, terlihat diluar dan dalam leukosit,
kuman ini tidak tahan lama diudara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, dan tidak
tahan zat desinfektan
Secara morfologik gonokok terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili
dan bersifat virulen, serta 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen.
Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menyebabkan reaksi radang.
Organisme ini menyerang membran mukosa, khususnya epitel kolumnar yang
terdapat pada uretra, servik uteri, rectum, dan konjungtiva.Gambaran tersebut dapat
terlihat pada pemeriksaan Pap Smear, tetapi biasanya bakteri ini diketahui pada
pemeriksaan sedian apus dengan pewarnaan Gram. Cara penularan penyakit ini
adalah dengan senggama.
Chlamidia trachomatis
Bakteri ini sering menyebabkan penyakit mata yang dikenal dengan penyakit
traukoma. Bakteri ini juga dapat ditemukan pada cairan vagina yang berwarna kuning
seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal.
Dan terlihat melalui mikroskop setelah diwarnai dengan pewarnaan Giemsa. Bakteri
ini membentuk suatu badan inklusi yang berada dalam sitoplasma sel-sel vagina.
Pada pemeriksaan Pap Smear sukar ditemukan adanya perubahan sel akibat infeksi
clamidia ini karena siklus hidupnya tidak mudah dilacak.
Gardanerrella vaginalis
Gardanerrella menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang
dianggap sebagai bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena seringnya
ditemukan. Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk
bentukan khas dan disebut clue cell. Pertumbuhan yang optimal pada pH 5.0-6.5.
Gardanerrella menghasilkan asam amino yang diubah menjadi senyawa amin yang
menimbulkan bau amis seperti ikan.
Treponema Pallidum (Spirochaeta pallida)
Bakteri ini merupakan penyebab penyakit sifilis. Pada perkembangan penyakit dapat
terlihat sebagai kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang disebut kondiloma lata.
Bakteri berbentuk spiral P: 6 15 , L: 0,25 , lilitan: 9 24 dan tampak bergerak
aktif (gerak maju & mundur, Berotasi undulasi sisi ke sisi) pada pemeriksaan
mikroskopis lapangan gelap.
Mati pada kekeringan, panas, antiseptik ringan, hidup beberapa lama di luar tubuh.
Penularan dapat secara kontak langsung yaitu melalui coital STD dan dapat juga
melalui non-coital (jarum suntik) sulit terjadi.

b. Jamur
Candida albicans
Cairan yang dikeluarkan biasanya kental, berwarna
putih susu seperti susu pecah atau seperti keju, dan
sering disertai gatal, vagina tampak kemerahan
akibat proses peradangan. Dengan KOH 10%
tampak sel ragi (blastospora) dan hifa semu
(pseudohifa).
Beberapa keadaan yang dapat merupakan tempat
yang subur bagi pertumbuhan jamur ini adalah
kehamilan, diabetes mellitus, pemakai pil
kontrasepsi. Pasangan penderita juga biasanya akan
menderita penyakit jamur ini. Keadaan yang saling
menularkan antara pasangan suami-istri disebut
sebagai phenomena ping-pong. Gambar 14. Candida Albicans
sumber :
http://www.ppdictionary.com/mycology/albicans.htm
c. Parasit
Trichomonas vaginalis
Parasit ini berbetuk lonjong dan mempuyai bulu getar dan dapat bergerak berputar-
putar dengan cepat. Gerakan ini dapat dipantau dengan mikroskop.
Cara penularan penyakit ini dengan senggama. Walaupun jarang dapat juga ditularkan
melalui perlengkapan mandi, seperti handuk atau bibir kloset.

d. Virus
Virus Herpes simpleks
Virus herpes yang paling sering > 95% adalah virus herpes simpleks tipe 2 yang
merupakan penyakit yang ditularakan melalui senggama. Namun 15-35% dapat juga
disebabkan virus herpes simpleks tipe 1.Pada awal infeksi tampak kelainan kulit
seperti melepuh seperti terkena air panas yang kemudian pecah dan meimbulkan luka
seperti borok. Pasien merasa kesakitan.

Gambar 15. Herpes Virus
sumber : http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v4/v4c019.html
Human Papilloma Virus
Papovavirus merupakan virus kecil ( diameter 45-55 nm ) yang mempunyai genom
beruntai ganda yang sirkuler diliputi oleh kapsid (kapsid ini berperan pada tempat
infeksi pada sel) yang tidak berpembungkus menunjukkan bentuk simetri ikosahedral.
Berkembang biak pada inti sel.
Human Papilloma Virus merupakan penyebab dari kondiloma
akuminata. Kondiloma ditandai dengan tumbuhnya kutil-kutil
yang kadang sangat banyak dan dapat bersatu membentuk
jengger ayam berukuran besar.
Cairan di vagina sering berbau tanpa rasa gatal. Penyakit ini
ditularkan melalui senggama dengan gambaran klinis menjadi
lebih buruk bila disertai gangguan sistem imun tubuh seperti
pada kehamilan, pemakain steroid yang lama seperti pada
pasien dengan gagal ginjal atau setelah transplantasi ginjal,
serta penderita HIV AIDS.
Gambar 16.
HPV
Iritasi
1. Sperma, pelicin, kondom
2. Sabun cuci dan pelembut pakaian
3. Deodorant dan sabun
4. Cairan antiseptic untuk mandi.
5. Pembersih vagina.
6. Celana yang ketat dan tidak menyerap keringat
7. Kertas tisu toilet yang berwarna.
Tumor dan Jaringan Abnormal
Tumor atau kanker akan menyebabkan fluor albus patologis akibat gangguan
pertumbuhan sel normal yang berlebihan sehingga menyebabkan sel bertumbuh
sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan
perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan
makanan dan O
2
pada sel tumor atau kanker tersebut.
Pada keadaan seperti ini akan terjadi pengeluaran cairan yang banyak dan berbau
busuk akibat terjadinya proses pembusukan tersebut dan sering kali disertai adanya
darah yang tidak segar.
Benda Asing
Adanya benda asing seperti tertinggalnya kondom atau benda tertentu yang dipakai
sewaktu senggama, adanya cincin pesarium yang digunakan wanita dengan prolapsus
uteri dapat merangsang pengeluaran caian vagina secara berlebihan. Jika rangsangan
ini menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari flora normal
yang berada dalam vagina sehingga timbul fluor albus.
Penyebab Lain
1. Psikologi : Volvovaginitis psikosomatik
2. Tidak diketahui : Desquamative inflammatory vaginitis

L.O.2.3 Menjelaskan Klasifikasi Leukorea
Flour Albus Fisiologis
- Normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina.
- Gejala : cairan vagina jernih, tidak berwarna, tidak gatal, dan jumlah cairan
biasanya sedikit.
- Etiologi : timbul dalam keadaan ovulasi, saat menjelang atau setelah menstruasi
akibat rangsangan seksual, saat wanita hamil dan dalam keadaan stress.
- Biasanya ditemukan pada : waktu sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar
kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer, waktu disekitar menarche karena mulai
terdapat pengaruh estrogen.
Flour Albus Patologis
- Gejala : cairan dari vagina keruh dan kental, warna tergantung dari kuman yang
menginfeksi, berbau busuk, terasa gatal, dan jumlah cairan banyak.
- Etiologi : infeksi daerah genital dapat juga disebabkan oleh sakit yang lama,
kurang gizi dan anemia, kuman penyebabnya dapat berupa jamur (Candida
Albicans), bakteri (kuman E.Coli, Staphylococcus), protozoa (Trichomonas
Vaginalis).
- Sekret patalogiknya biasanya terdapat pada dinding vlateral dan anterior vagina.
- Penyebab lain, selain karenan infeksi. Bisa juga terjadi karena iritasi (sabun cuci
dan pelembut pakaian, cairan antiseptic untuk mandi, permbersih vagina, celana
yang ketat atau tidak menyerap keringat). Karena Tumor atau jaringan abnormal
lain, radiasi.

L.O.2.4 Menjelaskan Patofisiologi Leukorea
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa
dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita
sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun
mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang
keluar dari vagina mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas dan mucus
serviks, yang akan bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan
pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara
Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina
dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida
yang toksik terhadap bakteri pathogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina,
produksi glikogen, lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang
menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat
menghambat pertumbuhan bakteri lain.
Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp.
terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel
ragi akan berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang
mempermudah pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotik yang berspektrum
luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang
tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi
seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi
glikogen saat kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan progesterone karena
kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan Candida albicans pada sel epitel vagina dan
merupakan media bagi prtumbuhan jamur. Candida albicans berkembang dengan baik
pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai
menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat immunosupresan juga menajdi faktor
predisposisi kandidiasis vaginalis.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone
menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi
pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis.
Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena pengaruh
bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga bakteri
patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres
dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan
bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial, diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat
menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus
acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella
vaginalis, Mycoplasma hominis dan Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat.
Organisme ini menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH
vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab
timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial.
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis,
anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan dengan
keadaan umum yang jelek , higiene yang buruk dan pada perempuan yang sering
menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat.

L.O.2.5 Menjelaskan Manifestasi Klinis Leukorea
Penyebab Gejala Klinis Pendekatan Diagnosis
Anak-anak
Benda asing (biasanya
kertas tissue
Keluar cairan dari vagina dengan bau
busuk dan bercak vagina
Evaluasi klinis
Infeksi(misalnya
Candida, cacing
kremi,streptokokus,staf
ilokokus)
Pruritus, keputihan dengan eritema dan
pembengkakan vulva, sering kali
dengan dysuria.
Memburuknya pruritus pada malam
hari (menunjukkan infeksi cacing
kremi)
Signifikan eritema dan edema vulva
dengan discharge (menunjukkan infeksi
streptokokus atau stafilokokus)
Pemeriksaan mikroskopis dari
cairan vagina untuk ragi dan
hifa dan kultur untuk
konfirmasi
Pemeriksaan vukva dan anus
untuk cacing kremi
Pelecehan seksual Nyeri vulvovagina, vagina berdarah
atau cairan vagina berbau busuk.
Seringkali,keluhan medis samar-samar
dan nonspesifik (misalnya kelelahan,
nyeri perut) atau perubahan perilaku
(misalnya amarah)
Evaluasi kinis
Kultur seksual
Langkah-langkah untuk
memastikan keselamatan anak
dan laporan pada pihak yang
berwenang jika kekerasan
diduga
Wanita usia reproduktif
Vaginosis bakterial Bau busuk(amis), discharge vagina
abu-abu tipis dengan pruritus dab
iritasi.
Eritema dan edema tidak biasa
Kriteria diagnosis (3 dari 4) :
- Discharge vagina abu-abu
- pH sekresi vagina >4,5
- Bau amis
- Clue cell terlihat selama
pemeriksaan mikroskopis
Infeksi Kandidiasis Infeksi candida vulva dan iritasi
vagina,edema, pruritus.
Discharge yang menyerupai keju
cottage dan melekat pada dinding
vagina.
Kadang-kadang memburuknya gejala
setelah hubungan seksual dan sebelum
menstruasi
Evaluasi klinis ditambah
- pH vagina <4,5
- Ragi atau hifa diidentifikasi
pada preparat basah atau
KOH
- Kadang-kadang kultur
Infeksi Trikomonas Cairan kuning-hijau, vagina berbusa
sering dengan nyeri, eritema dan edema
dari vulva dan vagina
Kadang-kadang sisuria dan dispareinia
Kadang-kadang belanh, bintik-bintik
merah strawberry di dinding vagina
atau serviks
Organisme mortil, berbentuk
buah pir memiliki flagel dilihat
selama pemeriksaan
mikroskopis.
Uji diagnostic cepat untuk
Trichomonas(jika tersedia)
Benda asing Cairan sangatberbau busuk dan sering
berlimpah, eritema vagina, dysuria dan
kadang-kadang dyspareunia
Obyek terlihat selama pemeriksaan
Evaluasi klinis
Semua umur
Reaksi hipersensitivitas Vulvovaginal eritema, edema,pruritus
(sering intens), keputihan
Riwayat penggunaan semprotan
kebersihan atau parfum, air mandi
aditif, pengobatan topical untuk infeksi
candida, pelembut kain, pemutih, atau
sabun cuci
Evaluasi klinis dan hindari
penyebab
Infalamasi (misalnya
radiasi
Keputihan purulent, dyspareunia, Diagnosis ekslusi
berdasarkanfaktor-faktor
pelvis,ooferoktomi,
kemoterapi)
dsiuria, iritasi
Kadang-kadang pruritus, eritema, nyeri
terbakar, perdarahan ringan
Jaringan vagina,tipis
riwayat dan risiko
pH vagina >6
Uji Whiff negative
Granulosit dan sel parabasal
dilihat selama pemeriksaan
mikroskopis
Fistula enterik
(komplikasi persalnan,
operasi panggul,atau
penyakit inflamasi
usus)
Vagina cairan berbau busuk dengan
berlalunya feses dari vagina
Visualisasi langsung atau
palpasi fistula di bagian bawah
vagina





L.O.2.6 Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Leukorea
Diagnosis
1. Anamnesis
Usia, jumlah, masa inkubasi/lama terjadinya, paparan PHS, pemakaian antibiotic
(kortikostreroid), hubungan dengan menstruasi ovulasi dan kehamilan, antibiotic
vaginal touche, warna, iritatisi : infeksi, benda asing, neoplasma. Pruritus :
T.vaginalis/ C.albikans. penyakit sistemik, pil KB.
2. Pemeriksaan fisik :
Inspeksi kulit perut bawah terutama perineum dan anus, inspeksi rambut pubis,
inspeksi dan palpasi genitalia eksterna, pemeriksaan speculum untuk vagina dan
serviks, pemeriksaan bimanual pelvis, palpasi pembesaran KGB inguinal dan femoral.
3. Pemeriksaan penunjang
Nilai sekresi dinding vagina (warna, konsistensi, bau), kertas indicator PH (n=4-4,5),
swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10%, kultur (pila
perlu), pewarnaan gram, serologi sifilis, tes PAP.

Diagnosis penyebab infeksi:
1. Trikomoniasis
- Anamnesis:
sering tidak menunjukkan keluhan , kalau ada biasanya berupa duh tubuh vagina
yang banyakmdan baerbau maupun dispareunia, perdarahan pasca coitus dan
perdarahan intermestrual. Jumlah lekore banyak, berbau, menimbulkan iritasi dan
gatal.Warna sekret putih, kuning atau purulen.Konsistensi homogen, basah, frothy
atau berbusa (foamy).Terdapat eritem dan edema pada vulva disertai dengan
ekskoriasi.Sekitar 2-5% tampak strawberry servix yang sangat khas pada
trichomonas.
- Laboratorium: pH>4,5 dan Sniff test (+)
- Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan larutan garam fisiologis terlihat
pergerakan trichomonas berbentuk ovoid, ukuran lebih besar dari PMN dan
mempunyai flagel, leukosit (+) dan clue cell dapat (+)
2. Kandidosis vulvovaginal
- Anamnesis:
keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau. Rasa
gatal/iritasi disertai keputihan tidak berbau atau berbau asam. Keputihan bisa
banyak, putih keju atau seperti kepala susu/krim, tetapi kebanyakan seperti susu
pecah. Pada dnding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses).
Pada vulva/dan vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi,
psuedomembran, fissura dan lesi satelit papulopustular
- Laboratorium: pH vagina <4,5 dan Whiff test (-)
- Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram ditemukan blastopora bentuk lonjong, sel tunas, pseudohifa dan
kadang kadang hifa asli bersepta

3. Vaginosis bacterial
- Anamnesis:
Mempunyai bau vagina yang khas yaitu bau amis terutama waktu berhubungan
seksual, namun sebagian besar dapat asimtomatik. Keputihan dengan bau amis
seperti ikan. Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, homogen,
warna putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding vagina.Tidak ada tanda-
tanda inflamasi.
- Laboratorium: pH >4,5 biasanya berkisar antara 5-5,5 dan Whiff test (+)
- Mikroskopik: clue cell (+) jarang terdapat leukosit

4. Servisitis Gonore
- Anamnesis:
Gejala subjektif jarang ditemukan .Pada umumnya wanita datang berobat kalau
sudah ada komplikasi.Sebagian besar penderita ditemukan pada pemeriksaan
antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana.Duh tubuh serviks yang
mukopurulen.Serviks tampak eritem, edema, ektopi dan mudah berdarah pada saat
pengambilan bahan pemeriksaan.

- Laboratorium: kultur
- Mikroskopik: Pemeriksaan sedian langsung dengan pengecatan gram ditemukan
diplokokus gram negatif, intraseluler maupun ekatraseluler

5. Klamidiasis
- Anamnesis
gejala sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan. Eksudat seviks
mukopurulen, erosi seviks, atau folikel-folikel kecil (microfollicles)
- Laboratorium: pemeriksaan serologis untuk deteksi antigen melalui ELISA
- Mikroskopik: dengann pengecatan giemsa akan ditemukan badan elementer dan
badan retikulat





Diagnosis Banding
Kanker serviks (keputihan warna putih purulent yang berbau dan tidak gatal)
Normal Vaginosis
Bakteri
Vaginitis
Trichomonas
vaginalis
Vulvovaginitis
Candida albicans
Gejala
primer
Tidak ada Sekret, bau
busuk, mungkin
gatal
Sekret, bau busuk,
mungkin gatal
Sekret, gatal dan
seperti terbakar
pada kulit vulva
Sekret
vagina
Sedikit, putih,
flokulan
Meningkat,
tipis, homogen,
putih, abu-abu,
adheren
Meningkat, kuning,
hijau, berbusa,
adheren; petekia
servikal sering ada
Meningkat, putih,
keju lembut seperti
dadih
pH < 4,5 > 4,5 > 4,5 4,5
Bau Tidak ada Sering, seperti Dapat ada, seperti Tidak ada
bau ikan bau ikan
Mikroskopis Sel epitel dengan
lactobacillus
Clue cells
dengan basil
adheren; tidak
ada PMN
Trikomonas motil;
banyak PMN
Preparat KOH
memperlihatkan
tangkai ragi dan
pseudohifa
Pengobatan Tidak ada Metronidazole Metronidazole Antifungi azol
topikal

L.O.2.7 Menjelaskan Tatalaksana dan Pencegahan Leukorea
Apabila keputihan yang dialami adalah yang fisiologik tidak perlu pengobatan, cukup
hanya menjaga kebersihan pada bagian kemaluan.Apabila keputihan yang patologik,
sebaiknya segera memeriksakan kedokter, tujuannya menentukan letak bagian yang
sakit dan dari mana keputihan itu berasal. Melakukan pemeriksaan dengan
menggunakan alat tertentu akan lebih memperjelas. Kemudian merencanakan
pengobatan setelah melihat kelainan yang ditemukan.Keputihan yang patologik yang
paling sering dijumpai yaitu keputihan yang disebabkan Vaginitis, Candidiasis, dan
Trichomoniasis.Penatalaksanaan yang adekuat dengan menggabungkan terapi
farmakologi dan terapi nonfarmakologi.
Tujuan pengobatan:
- Menghilangkan gejala
- Memberantas penyebabrnya
- Mencegah terjadinya infeksi ulang- Pasangan diikutkan dalam pengobatan


a. Terapi farmakologi
Antiseptik :
Povidone Iodin
Sediaan ini berbentuk larutan 10% povidon iodin dan ada yang diperlengkapi dengan
alat douche-nya sebagai aplikator larutan ini. Selain sebagai antiinfeksi yang
disebabkan jamur Kandida, Trikomonas, bakteri atau infeksi campuran, juga sebagai
pembersih.
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitif
pemakaian harus dihentikan.
Antibiotik
Clotrimazole
Memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri. Untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis
yang disebabkan oleh Candida albicans.
Efek samping : pemakaian topikal dapat terjadi rasa terbakar,eritema, edema ,gatal
dan urtikaria
Sediaan dan posologi : Tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1%
dioleskan 2 kali sehari . Krim vagina 1% untuk tablet vagina 100 mg digunakan sekali
sehari pada malam hari selama 7 hari atau tablet vagina; 500 mg, dosis tunggal.
Tinidazole
Tinidazole adalah obat antiparasit yang digunakan untuk membrantas infeksi
Protozoa, Amuba.
Efek samping : obat ini sama seperti Metronidazole tetapi dengan kelebihan tidak
perlu minum dengan waktu yang panjang sehingga mengurangi efek sampingnya.
Tinidazole sebagai preparat vaginal digunakan untuk infeksi Trichomonas. Biasa
dikombinasi dengan Nystatin sebagai anti jamurnya. Bentuk sediaan yang ada adalah
vaginal tablet.
Metronidazole
Diberikan peroral ( 2 gram sebagai dosis tunggal , 1gr setiap 12 jam x 2 atau 250 mg
3xsehari selama 5-7 hari) untuk infeksi Trichomonas vaginalis.
Diberikan 500 mg 2xsehari selama seminggu dan lebih baik secara mitraseksual.
Untuk infeksi Gardnerella vaginalis
Efek samping : mual kadang kadang muntah, rasa seperti logam dan intoleransi
terhadap alkohol.
Kontra indikasi : pada trimester pertama kehamilan



Nimorazole
Nimorazole merupakan antibiotika golongan Azol yang terbaru. Selain dalam sediaan
tunggal dalam bentuk tablet oral (diminum) juga ada kombinasinya (Chloramphenicol
dan Nystatin) dalam bentuk vaginal tablet.
Penisilin
1. Ampisilin pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna
2. Amoksisilin lebih baik diberikan oral ketimbang ampisilin karena tidak terhambat
makanan dalam absorbsinya.
Efek samping : Reaksi alergi , nefropati, syok anafilaksis, efek toksik penisilin
terhadap susunan saraf menimbulkan gejala epilepsi karena pemberian IV dosis besar
Sediaan dan posologi :
Ampisilin :
- Tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul 125mg, 250mg, 500mg
- Dalam suntikan 0,1 ; 0,25 ; 0,5 dan 1 gram pervial
Amoksisilin :
Dalam bentuk kapsul atau tablet ukuran 125, 250, 500 gram dan sirup125mg/5mL
dosis diberikan 3 kali 250-500 mg sehari
Anti jamur :
Nystatin
Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadap
obat ini termasuk Candida sp. Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi
dengan sifatnya yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan
sebagai obat pemakaian luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati jangan
digunakan pada luka terbuka.
Anti Virus :
Asiklovir
Bekerja menghambat enzim DNA polimerase virus. Sediaan dalam bentuk oral,
injeksi dan krim untuk mengobati herpes dilabia.
Efek samping :
Oral : pusing, mual, diare,sakit kepala
Topikal : Kulit kering dan rasa terbakar dikulit.
Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada ibu hamil.
Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
1. Candida albicans
Topikal
Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 14 hari
Sistemik
Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari
Nimorazol 2 gram dosis tunggal
Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan

2. Chlamidia trachomatis
Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology)
Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari

3. Gardnerella vaginalis
Metronidazole 2 x 500 mg
Metronidazole 2 gram dosis tunggal
Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari
Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan

4. Neisseria gonorhoeae
Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
Amoksisiklin 3 gr im
Ampisiillin 3,5 gram im atau
Ditambah :
Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau
Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
Tiamfenikol 3,5 gram oral
Kanamisin 2 gram im
Ofloksasin 400 mg/oral

5. Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
Seftriaxon 250 mg im atau
Spektinomisin 2 mg im atau
Ciprofloksasin 500 mg oral
Ditambah
Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau
Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

6. Virus herpeks simpleks
Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder

b. Terapi Nonfarmakologi
1. Perubahan Tingkah Laku
Keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di
lingkungan yang hangat dan basah maka untuk membantu penyembuhan menjaga
kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari
katun serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat (Jones,2005). Keputihan
bisa ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang terinfeksi oleh karena
itu sebaiknya pasangan harus mendapat pengobatan juga.
2. Personal Hygiene
Memperhatikan personal hygiene terutama pada bagian alat kelamin sangat
membantu penyembuhan, dan menjaga tetap bersih dan kering, seperti penggunaan
tisu basah atau produk panty liner harus betul-betul steril.Bahkan, kemasannya pun
harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa kemasan
ditaruh dalam tas bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan
terbuka, bisa saja panty liner atau tisu basah tersebut sudah
terkontaminasi.Memperhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil.Setelah
bersih, mengeringkan dengan tisu kering atau handuk khusus.Alat kelamin jangan
dibiarkan dalam keadaan lembab.
3. Pengobatan Psikologis
Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan.Tidak jarang keputihan
yang mengganggu, pada wanita kadang kala pemeriksaan di laboratorium gagal
menunjukkan infeksi, semua pemgujian telah dilakukan tetapi hasilnya negatif namun
masalah atau keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak disebabakan oleh infeksi
melainkan karena gangguan fsikologi seperti kecemasan, depresi, hubungan
yangburuk, atau beberapa masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional.
Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan konsultasi dengan ahli psikologi.Selain itu
perlu dukungan keluarga agar tidak terjadi depresi.
Pencegahan Leukorea
Menjaga kesehatan reproduksi untuk pencegahan keputihan pada wanita diawali
dengan menjaga kebersihan organ kewanitaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam menjaga kebersihan organ kewanitaan, yaitu :
1. Membersihkan kotoran yang keluar dari alat kelamin dan anus dengan
seksama. Membersihkan dilakukan dari depan kebelakang (dari daerah
kemaluan ke arah anus) secara satu arah. Hal ini dilakukan untuk mencegah
kotoran dari anus masuk kedalam vagina.
2. Membasuh secara teratur bagian bibir vagina secara hati-hati menggunakan air
bersih dan sabun yang lembut setiap habis BAK , BAB, dan ketika mandi.
Yang terpenting adalah membersihkan bekas keringat dan bakteri yang ada
disekitar bibir vagina.
3. Gunakan sabun lembut tanpa pewangi saat mandi untuk menjaga keasaman
vagina. Normalnya vagina berbau asam dan kecut dengan pH keasaman
sekitar 4-4,5. Terlalu sering membasuh vagina dengan cairan kimia dan
menggunakan deodoran disekitar vagina akan merusak keseimbangan
organisme dan cairan vagina sehingga memungkinkan terjadinya infeksi pada
vagina (vaginitis).
4. Mengeringkan alat kelamin dengan tisu atau handuk agar tidak lembab setiap
kali setelah mandi atau buang air. Usahakan agar daerah kemaluan dan
selangkangan selalu kering, lebih lebih bila tergolong gemuk karena suasana
lembab sangat disukai oleh jamur. Selalu keringkan bagian vagina sebelum
berpakaian.
5. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina
kering sepanjang hari. Bedak memiliki partikel partikel halus yang mudah
terselip disana sini yang akhirnya mengundang jamur dan bakteri bersarang.
6. Mengganti celana dalam minimal dua kali sehari setelah mandi, terutama bagi
wanita aktif dan mudah berkeringat. Gunakan celana dalam yang kering dan
bila celana dalam keadaan basah segera mengganti celana dalam yang bersih
dan belum dipakai.
7. Tidak memakai celana dalam yang terlalu ketat , karena celana dalam yang
terlalu ketat menyebabkan permukaan vagina menjadi lebih mudah
berkeringat. Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap keringat seperti
katun. Celana dalam dari satin atau bahan sintetik lain membuat suasana
disekitar vagina panas dan lembab.
8. Pakaian luar juga harus diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena
pori porinya sangat rapat, pilihlah seperti rok atau celana bahan non jeans agar
sirkulasi udara disekitar organ intim bergerak leluasa.
9. Ketika sedang haid dianjurkan sering mengganti pembalut terutama pada hari
hari pertama haid. Pembalut perlu diganti 4-5 kali dalam sehari untuk
menghindari pertumbuhan bakteri pada pembalut yang digunakan dan
mencegah masuknya bakteri kedalam vagina. Pembalut yang baik yaitu
pembalut yang berdaya serap baik dan tidak berparfum.
10. Gunakan panty liner disaat perlu dan jangan terlalu lama. Misalnya saat
berpergian keluar rumah dan lepaskan sekembalinya dirumah.
11. Dianjurkan untuk mencukur rambut kemaluan karena rambut kemaluan dapat
ditumbuhi sejenis jamur atau kutu.
12. Hindari pemakaian barang barang yang dapat memudahkan penularan seperti
meminjam perlengkapan mandi. Dianjurkan tidak duduk diatas kloset di wc
umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.
13. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat yang cukup
, hindari rokok, dan alkohol serta hindari stress yang berkepanjangan.

L.O.2.8 Menjelaskan Komplikasi Leukorea
Infeksi vagina yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebar ke sistem reproduksi
bagian atas sehingga memicu radang, penyumbatan lubang dan saluran sistem
reproduksi. Ini dapat mengakibatkan infertilitas/kemandulan
Infertilitas/masalah kesuburan atau gangguan haid dan penyakit radang panggul
pelvic inflamatori disease: Penyakit radang panggul (PID) mengacu pada infeksi
rahim (rahim), tuba falopi (saluran yang membawa telur dari ovarium ke rahim)
bersama dengan organ reproduksi yang menyebabkan gejala misalnya nyeri perut
bagian bawah. Ini bisa menjadi komplikasi serius beberapa penyakit menular seksual
(PMS), terutama klamidia dan gonore.
PID dapat mematahkan saluran tuba dan jaringan dalam dan di uterus dan
ovarium. PID dapat menyebabkan konsekuensi serius termasuk infertilitas, kehamilan
ekstrauterin (kehamilan di dalam tuba falopi atau di tempat lain di luar rahim),
pembentukan abses, dan nyeri panggul kronis.
eczema dan condylomata acuminata sekitar vulva:
vulvovaginitis: peradangan pada vulva dan vagina.
uretritis, pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi prematur, gangguan
perkembangan dan berat badan lahir rendah (BBLR) terutama akibat bacterial
vaginosis dan infeksi Trichomonas, serta dapat memfasilitasi terjadinya HIV.
Keputihan yang tidak di obati secara tuntas dapat menyebabkan komplikasi berikut
ini: infertilitas atau mandul, peradangan pada panggul, vagina dan saluran kemih,
pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi prematur, ketuban pecah sebelum
waktunya, gangguan perkembangan dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta dapat
memfasilitasi terjadinya HIV.

L.O.2.9 Menjelaskan Prognosis Leukorea
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap
pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan
perawatan kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif
Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata rata 70 80% dengan
regimen pengobatan
Kandidiasis mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %
Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata rata 95 %
L.I.3. Memahami dan mempelajari Pemeriksaan PAP Smear
Gambar 17. Cara Pemeriksaan PAP Smear
Pemeriksaan Pap Smear untuk pertama kali harus dilakukan segera setelah wanita
tersebut mulai melakukan hubungan seksual dan harus diulangi setelah 1 tahun,
karena sel-sel abnormal dapat terluput dari sekali pemeriksaan. Jika tidak didapati
kelainan pada salah satu hasil pemeriksaan Pap Smear, pemeriksaan dapat dilakukan
secara teratur dengan interval 2 tahun sekurang-kurangnya sampai wanita hamil.
Pengertian Pap Smear
Pap Test (Pap Smear) adalah pemeriksaan sitologik epitel porsio dan endoservik uteri
untuk penentuan adanya perubahan pra ganas maupun ganas di porsio atau servik
uteri (Tim PKTP,RSUD Dr. Soetomo/ FK UNAIR, 2000). Sedangkan menurut
Hariyono Winarto dalam seminarnya pada tanggal 05-10-2008 tentang Pap Smear
Sebagai Upaya Menghindari Kanker Leher Rahim Bagi Wanita Usia Reproduksi,
pengertian Pap Test (Pap Smear) adalah suatu pemeriksaan dengan cara mengusap
leher rahim (scrapping) untuk mendapatkan sel-sel leher rahim kemudian diperiksa
sel-selnya, agar dapat ditahui terjadinya perubahan atau tidak.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pap Smear adalah pemeriksaan
usapan pada leher rahim untuk mengetahui adanya perubahan sel-sel yang abnormal
yang diperiksa dibawah mikroskop.
Gambar 18. cara pengambilan sampel
Tujuan Pap Smear
Menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk
infeksi HPV. (Ramli, dkk: 2000). Untuk mendeteksi adanya pra-kanker, ini sangat
penting ditemukan sebelum seseorang menderita kanker. (Hariyono.W, 2008).
Mendeteksi kelainan kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.
Mendeteksi adanya kelainan praganas atau keganasan servik uteri (Tim PKTP, RSUD
Dr. Soetomo / FK UNAIR, 2000).
Syarat Pengambilan Pap Smear
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan Pap Smear adalah
sebagai berikut :
a. Waktu pengambilan minimal 2 minggu setelah menstruasi dimulai dan
sebelum menstruasi berikutnya.
b. Berikan informasi sejujurnya kepada petugas kesehatan tentang riwayat
kesehatan dan penyakit yang pernah diderita
c. Hubungan intim tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelum pengambilan
bahan pemeriksaan.
d. Pembilasan vagina dengan macam-macam cairan kimia tidak boleh dikerjakan
dalam 24 jam sebelumnya.
e. Hindari pemakaian obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina 48 jam
sebelum pemeriksaan.
f. Bila anda sedang minum obat tertentu, informasikan kepada petugas
kesehatan, karena ada beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi hasil
analisis sel. (Republika. C, 2007).

Klasifikasi Pap Smear
Negative: tidak ditemukan sel ganas.
Klasifikasi menurut Papanicolau adalah sebagai berikut :
Kelas I : Hanya ditemukan sel-sel normal.
Kelas II : Ditemukan beberapa sel atipik, akan tetapi tidak ada bukti keganasan.
Kelas III : Gambaran sitologi mengesankan ,tetapi tidak konklusif keganasan.
Kelas IV : Gambaran sitologi yang mencurigakan keganasan.
Kelas V : Gambaran sitologi yang menunjukkan keganasan.
(Tim PKTP RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR, 2000).

Interpretasi hasil pap test menurut Papanicolaou:
Kelas I : Identik dengan normal smear pemeriksaan ulang 1 tahun lagi.
Kelas II : Menunjukkan adanya infeksi ringan non spesifik, kadang disertai:
a) Kuman atau virus tertentu.
b) Sel dengan kariotik ringan.
Pemeriksaan ulang 1 tahun lagi, pengobatan yang sesuai dengan kausalnya. Bila ada
erosi atau radang bernanah, pemeriksaan ulang 1 bulan setelah pengobatan.

Kelas III : Ditemukannya sel diaknostik sedang dengan keradangan berat. Periksa
ulang 1 bulan sesudah pengobatan
Kelas IV : Ditemukannya sel-sel yang mencurigakan ganas dalam hal demikian dapat
ditempuh 3 jalan, yaitu:
a) Dilakukan biopsi.
b) Dilakukan pap test ulang segera, dengan skreping lebih dalam diambil 3 sediaan
c) Rujuk untuk biopsi konfirmasi.
Kelas V : Ditemukannya sel-sel ganas. Dalam hal ini seperti ditempuh 3 jalan seperti
pada hasil kelas IV untuk konfirmasi. (Tim PKTP RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR,
2000).
Gambar 19. Alat-alat untuk pemeriksaan PAPSmear
Alat-alat yang diperlukan untuk pengambilan pap test yaitu :
1. Formulir konsultasi sitologi.
2. Spatula ayre yang dimodifikasi dan cytobrush.
3. Kaca benda yang pada satu sisinya telah diberikan tanda/label.
4. Spekulum cocor bebek (gravels) kering.
5. Tabung berisikan larutan fiksasi alcohol 95 %. (Arif Mansjoer, 2000).
Cara pengambilan sediaan :
Sebelum memulai prosedur, pastikan bahwa label wadah specimen diisi, pastikan
bahwa preparat diberi label yang menulis tanggal dan nama serta nomor identitas
wanita.
Gunakan sarung tangan.
Insersi spekulum dengan ukuran tepat, visualisasi serviks, fiksasi speculum untuk
memperoleh pajanan yang diperoleh. Pastikan secara cermat membuang setiap
materi yang menghalangi visualisasi serviks/ mengganggu studi sitologi.
Salah satu dari 4 metode pengumpulan spesimen berikut untuk apusan pap dapat
digunakan :
a) Tempatkan bagian panjang ujung spatula kayu yang ujungnya sedikit runcing/
pengerik plastic mengenai dan masuk ke dalam mulut eksterna serviks dan
tekan. Ambil specimen kanalis servikalis dengan memutar spatula satu
lingkaran penuh.
b) Ujung kapas aplikator berujung kapas dilembabkan dengan normal saline,
insersi aplikator tersebut ke dalam saluran serviks 2 cm dan putar 3600.
c) Insersi alat gosok sepanjang 1-2 cm ke dalam saluran serviks dan putar 90-
1800.
d) Gunakan kombinasi metode untuk metode memasukkan spatula.
Sebarkan sel-sel pada preparat yang sudah diberi label. Apabila sel-sel
dikumpulkan pada spatula kayu, tempatkan satu sisi diatas dekat label diatas
setengah bagian atas preparat dan usap 1 kali sampai ke ujung preparat. Kemudian
balikkan spatula dan tempatkan sisi datar lain dekat label pada setengah bagian
bawah preparat dan usap satu kali sampai ujung preparat.
Segera semprot preparat dengan bahan fiksasi/ masukkan bahan tersebut didalam
tabung berisi larutan fiksasi.(Helen Varney, 2007).
Bila fasilitas pewarnaan jauh dari tempat praktek sederhana, dapat dimasukkan
dalam amplop/pembungkus yang dapat menjamin kaca sediaan tidak pecah.
Dengan pengambilan sediaan yang baik, fiksasi dan pewarnaan sediaan baik serta
pengamatan mikroskopik yang cermat, merupakan langkah yang memadai dalam
menegakkan diagnosis. (Ramli,dkk, 2000).

Konseling pra pap smear yang tepat:
Waktu pengambilan minimal 2 minggu setelah menstruasi dimulai dan sebelum
menstruasi berikutnya.
Berikan informasi sejujurnya kepada petugas kesehatan tentang riwayat kesehatan
dan penyakit yang pernah diderita
Hubungan intim tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelum pengambilan bahan
pemeriksaan.
Pembilasan vagina dengan macam-macam cairan kimia tidak boleh dikerjakan
dalam 24 jam sebelumnya.
Hindari pemakaian obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina 48 jam
sebelum pemeriksaan.
Bila anda sedang minum obat tertentu, informasikan kepada petugas kesehatan,
karena ada beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi hasil analisis sel.
Cara pengambilan kesediaan
Pengambilan kesediaan yang tak adekuat (62 %), bisa terjadi kegagalan skrining (15
%), interpretasi (23 %), dan angka positif palsu (3-15 %). Untuk ketepatan diagnostik
perlu diperhatikan komponen dosenviks dan ektoserviks yang diambil dengan
gabungan cytobrush dan spatula.

L.I.4. Memahami dan mempelajari Thaharah pada Keputihan
Keputihan ini umum dialami oleh wanita. Dalam kitab shahih Bukhari disebutkan,
suatu ketika ada beberapa sahabat perempuan datang bertanya kepada Aisyah
radhiallahu anha tentang batasan berakhirnya haidh. Beliau menjawab :
Jangan kalian tergesa-gesa (menetapkan akhir haidh) hingga kalian melihat cairan
putih
Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya fathul bari menjelaskan bahwa cairan putih
sebagaimana di sebut hadits di atas menjadi salah satu tanda akhir masa haidh.
Selain jenis keputihan di atas, ada pula keputihan yang terjadi dalam keadaan tidak
normal, yang umumnya dipicu kuman penyakit dan menyebabkan infeksi. Akibatnya,
timbul gejala-gejala yang sangat mengganggu, seperti berubahnya warna cairan
menjadi kekuningan hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental, lengket, berbau tidak
sedap, terasa sangat gatal atau panas. Dalam khazanah Islam, keputihan jenis ini biasa
disebut dengan cairan putih kekuningan (sufrah ) atau cairan putih kekeruhan
(kudrah ). Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa
Sahabat bernama Ummu Athiyyah radhiallahuanha berkata:


Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan as-sufrah (cairan kekuningan)
sama dengan haidh
Berdasarkan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan :
1. Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang
mengalami menstruasi. Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban
melaksanakan shalat dan puasa, serta tidak wajib mandi.
2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing.
Oleh karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu,
harus istinjak (cebok), dan membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan
keputihan terlebih dahulu.
Sedangkan apabila cairan keputihan keluar terus-menerus, maka orang yang
mengalaminya dihukumi dharurah/terpaksa, artinya orang tersebut tetap wajib
melaksanakan shalat walaupun salah satu syarat sahnya shalat tidak terpenuhi, yakni
sucinya badan dan pakaian dari najis. Menurut ulama Syafiiyah, ketentuan tersebut
bisa dilaksanakan dengan syarat diawali dengan proses membersihkan, istinjak,
wudhu dan kemudian shalat dilakukan secara simultan setelah waktu shalat masuk.


Daftar Pustaka

Amiruddin, D. 2003. Fluor Albus in Penyakit Menular Seksual .LKiS : Jogjakarta
Butel, J S., Brooks, G F., Morse S A. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick
& Adelberg. Jakarta : EGC.
Eroschenko V P. 2010. Atlas histologi diFiore: dengan korelasi fungsional. Jakarta :
EGC.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23320/4/Chapter%20II.pdf
Ismid I, Sjarifuddin P K, Sungkar S. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Ed 4.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Setiabudi R. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sofwan, A. 2012. Sistem Reproduksi. Jakarta : Bagian Anatomi FKUY.
Wiknjosastro, H. 2008. Ilmu Kandungan Ed.2. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
www.mui.or.id