Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Potensi industri yang semakin berkembang pesat memberikan sumbangan
bagi perekonomian Indonesia melalui barang produk dan jasa yang dihasilkan,
namun di sisi lain pertumbuhan industri telah menimbulkan masalah lingkungan
yang cukup serius. Buangan air limbah dari industri mengakibatkan timbulnya
pencemaran air sungai dapat merugikan masyarakat yang tinggal di sepanjang
aliran sungai, seperti berkurangnya hasil produksi pertanian, menurunnya hasil
tambak, maupun berkurangnya pemanfaatan air sungai oleh penduduk. Namun
Seiring dengan makin tingginya kepedulian akan kelestarian sungai dan
kepentingan menjaga keberlanjutan lingkungan serta dunia usaha maka muncul
upaya industri untuk melakukan pengelolaan air limbah industrinya melalui
penerapan installasi pengolahan air limbah sehingga mampu meminimalkan
limbah buangan industri.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas limbah industri merupakan hal yang
paling penting untuk dikelola karena limbah industri mempunyai dampak yang
sangat buruk bagi kehidupan mahluk hidup maupun alam sekitar. Pada
kesempatan ini kami mencoba untuk menjelaskan bagaimana cara pengolahan air
limbah buangan dari pabrik elektoplating. Salah satu industri yang menghasilkan
limbah tergolong bahaya ialah industri elektroplating, yakni industri pelapisan
material logam seperti pada material besi dan baja untuk memberikan permukaan
yang lebih keras dan mengkilap serta memberikan perlindungan dari korosi atau
karat pada material besi dan baja.
Limbah yang dihasilkan dari proses elektroplating merupakan limbah
logam berat yang termasuk dalam limbah B3 bahan beracun berbahaya!. Limbah
logam"logam berat yang dihasilkan pada proses elektroplating terdiri dari limbah
krom heksa#alen atau $r%I! dalam bentuk anion $r
&
'
(
"&
dan krom tri#alen atau
$rIII! dalam bentuk kation $r
)3
. Selain itu, didalam limbah elektroplating juga
terdapat kandungan logam besi, tembaga dan mangan. Limbah cair dari industri
*
elektroplating mengandung krom $r!, besi +e!, tembaga $u!, dan mangan ,n!
dengan rata"rata kadar berturut"turut -& ppm, ./ ppm, .. ppm, - ppm dengan p0
limbah berkisar &. 1adar logam berat yang ada pada limbah tersebut melebihi
nilai baku mutu yang ditetapkan oleh 1ep",en L023*2*--3 tentang baku mutu
limbah cair industri. Nilai baku mutu untuk krom $r!, besi +e!, tembaga $u!,
dan mangan ,n! berturut"turut menurut 1ep",en L023*2*--3 yaitu 4,3 ppm, 3
ppm, & ppm dan & ppm. ,engingat bah5a logam berat tersebut mempunyai sifat
toksik dan berbahaya terhadap manusia dan lingkungan maka limbah logam
tersebut harus diolah terlebih dahulu sebelum di buang ke lingkungan agar tidak
membahayakan manusia dan mencemari lingkungan.
Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan untuk mengolah limbah
elektroplating yaitu pengolahan secara kimia5i, yakni dengan menambahkan
senya5a"senya5a kimia kedalam air limbah sehingga dapat mengurangi kadar
logam"logam berat yang ada pada limbah. Pengolahan secara kimia5i yang biasa
sering dilakukan ialah dengan menggunakan metode kogulasi dan flokulasi.
1oagulasi flokulasi merupakan metode yang efektif untuk pengolahan limbah
industri yang mengandung logam berat, karena dengan metode ini akan terjadi
pemisahan antara endapan dan beningan. Pemisahan dapat terjadi karena adanya
gaya tarik menarik antara inti flok yang berasal dari endapan yang terbentuk.
,etode pengendapan dengan koagulasi ini dipilih karena dalam limbah
elektroplating terdapat konstituen kimia seperti kation"kation yang dapat diubah
menjadi bentuk senya5a tak larut dengan menambahkan bahan pengendap. Pada
metode ini biasanya digunakan suatu koagulan sintetik. 1oagulan yang umumnya
dipakai adalah koagulan dari kapur garam"garam aluminium seperti aluminium
sulfat, garam"garam besi seperti ferri sulfat dan P6$ polyaluminium chloride!.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai pengolahan limbah industri
elektroplating menggunakan proses koagulasi dan flokulasi dengan koagulan
Na3P'..
1.2. Rumusan Masalah
*! Bagaimana cara kerja koagulan Na3P'. dalam proses koagulasi air limbah
elektroplating7
&
&! Berapakah rasio massa koagulan Na3P'. optimum dalam pengelolahan air
limbah elektroplating7
3! Berapakah p0 optimum dari pengelolahan air limbah elektroplating
menggunakan koagulan Na
3
P'
.
7
.! Bagaimana hasil pengolahan limbah elektroplating dengan menggunakan
koagulan Na3P'.7
1.3. Tujuan
*!
8ntuk mengetahui cara kerja koagulan Na3P'. dalam proses koagulasi air
limbah elektroplating.
&!
8ntuk menegtahui berapakah rasio massa koagulan Na3P'. optimum untuk
mengelolah air limbah elektroplating.
3!
8ntuk mengetahui berapakah p0 optimum dari pengelolahan air limbah
elektroplating menggunakan koagulan Na
3
P'
..
.!
8ntuk mengetahui hasil pengolahan limbah elektroplating dengan
menggunakan koagulan Na3P'..
1.. Man!aat
*! 9apat mengetahui pengolahan limbah elektroplating dengan menggunakan
koagulan Na
3
P'
.
dengan pengaturan p0.
&! 9apat mengetahui banyaknya koagulan Na
3
P'
.
optimum yang ditambahkan
ke dalam limbah elektroplating untuk mengurangi kadar logam beratnya.
3! 9apat mengetahui p0 optimum dalam mengurangi kadar logam berat
dengan menggunakan koagulan Na
3
P'
.
.
.! 9apat lebih efisien dan ekonomis dalam pengolahan limbah elektroplating
dengan mengetahui rasio massa Na
3
P'
.
dan p0 optimum.
1.". Batasan Masalah
*! Prinsip kerja koagulasi dan flokulasi dalam pengelolahan limbah
elektroplating.
&! Penggunaan koagulan Na3P'. dalam pengelolahan limbah :lektroplating.
3! Prinsip kerja koagulan Na3P'. dalam mengurangi kadar logam berat krom
dan nikel pada air limbah elektroplating.
BAB II
TIN#AUAN PU$TA%A
2.1. %&agulas'
3
1oagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid bermuatan karena
penambahan bahan kimia sehingga partikel"partikel yang memiliki muatan
tersebut bersifat netral dan membentuk flok kecil, kemudian akhirnya menjadi
endapan karena adanya gaya gra#itasi. 1oagulasi dapat terjadi melalui dua cara
yaitu secara fisika dan secara kimia.
*! Secara fisika
1oagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan yaitu kenaikan suhu
sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel"partikel dengan molekul"
molekul air bertambah banyak. 0al ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi
pada permukaan koloid. 6kibatnya partikel"pertikel tersebut menjadi tidak
bermuatan contohnya darah. Selanjutnya proses pengadukan merupakan
koagulasi secara fisik, contohnya tepung kanji. 1emudian proses pendinginan,
contohnya agar"agar.
&! Secara kimia
Sedangkan secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran
koloid yang berbeda muatan, dan penambahan ;at kimia koagulan. 6da
beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral, yaitu<
a! ,enggunakan Prinsip :lektroforesis.
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel"partikel koloid yang
bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berla5anan. 1etika partikel
ini mencapai elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya
dan bersifat netral.
b! Penambahan koloid, dapat terjadi sebagai berikut<
1oloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif kation!,
sedangkan koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif anion!.
Ion"ion tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua. 6pabila
selubung lapisan kedua itu terlalu dekat maka selubung itu akan
menetralkan muatan koloid sehingga terjadi koagulasi. ,akin besar
muatan ion makin kuat daya tariknya dengan partikel koloid, sehingga
makin cepat terjadi koagulasi.
c! Penambahan :lektrolit.
.
=ika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel koloid
yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif
kation! dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan
mengadsorpsi partikel negatif anion! dari elektrolit. 9ari adsorpsi diatas,
maka terjadi koagulasi.
9alam proses koagulasi, stabilitas koloid sangat berpengaruh. Stabilitas
merupakan daya tolak koloid karena partikel"partikel mempunyai muatan
permukaan sejenis negatif!. Secara garis besar, mekanisme koagulasi adalah<
destabilisasi muatan negatif partikel oleh muatan positip dari koagulan dan
tumbukan antar partikel dan adsorbsi. >aya yang menyebabkan stabilitas partikel,
yaitu<
*! >aya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak terjadi jika partikel"partikel
mempunyai muatan yang sejenis.
&! Bergabung dengan molekul air reaksi hidrasi!.
3! Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada
permukaan. Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak
menolak antar partikel lebih besar dari ada gaya tarik massa, sehingga dalam
5aktu tertentu tidak terjadi agregasi. 8ntuk menghilangkan kondisi stabil,
harus merubah gaya interaksi antara partikel dengan pembubuhan ;at kimia
supaya gaya tarik menarik lebih besar.
+aktor ? faktor yang mempengaruhi koagulasi
a! Pemilihan bahan kimia
8ntuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan
terhadap karakteristik air baku yang akan diolah yaitu<
*! Suhu berpengaruh terhadap daya koagulasi dan memerlukan
pemakaian bahan kimia berlebih untuk mempertahankan hasil yang
dapat diterima.
&! p0 nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah yang dapat berpengaruh
terhadap koagulasi. p0 optimum ber#ariasi tergantung jenis koagulan
yang digunakan.
3
3! 6lkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan
koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin
memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui
penambahan bahan kimia alkali atau basa kapur atau soda abu!.
.! ,akin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok.,akin
sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel2flok, oleh
sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi.
3! @arna berindikasi kepada senya5a organik, dimana ;at organik
bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu
selama ;at organik tersebut berada di dalam air baku dan proses
koagulasi semakin sukar tercapai
b! Penentuan dosis optimum koagulan
8ntuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus
ditentukan. 9osis optimum mungkin ber#ariasi sesuai dengan karakteristik
dan seluruh komposisi kimia5i di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal
ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat"saat tertentu dimana terjadi
perubahan kekeruhan yang drastis 5aktu musim hujan2banjir! perlu
penentuan dosis optimum berulang"ulang.
c! Penentuan p0 optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi akan menurunkan p0
air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah
diterangkan diatas. 1oagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung
pada nilai p0 tertentu.
6pabila muatan koloid dihilangkan, maka kestabilan koloid akan
berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Penghilangan
muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit
ditambahkan ke dalam sistem koloid. 6pabila arus listrik dialirkan cukup lama ke
dalam sel elektroforesis maka partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai
elektrode. =adi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode,
sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katode.
/
1oagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek dilapangan adalah
alumunium sulfat A6l&S'.!3B karena mudah diperoleh dan harganya relatif lebih
murah dibandingkan dengan jenis koagulan lain.
2.2. (l&kulas'
9ilakukan setelah proses koagulasi. Setelah proses koagulasi, partikel"
partikel terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga
terbentuk flok, tahap ini disebut flokulasi. +lokulasi adalah suatu proses
aglomerasi penggumpalan! partikel?partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan
ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh proses sedimentasi dan filtrasi.
9engan kata lain proses flokulasi adalah adalah proses pertumbuhan flok partikel
terdestablisasi atau mikroflok! menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar
makroflok!.
+lokulator berjalan dengan kecepatan lambat dengan maksud terjadi
pembentukan flok yang siap untuk diendapkan. 9i dalam proses flokulasi ini
pengadukan dilakukan secara bertahap yaitu dari kekuatan besar kemudian
mengecil supaya flok yang sudah dibentuk tidak terpecah kembali.
,ekanisme ini dimisalkan digunakan pada senya5a Poly Aluminium
Chlorida dimana aluminium atau besi akan bereaksi dengan alkalinitas dalam air.
6lkalinitas adalah kemampuan untuk menetralkan asam. Poly Aluminium
Chlorida bekerja pada inter#al p0 /"- dengan p0 netral adalah (. Ceaksi ini
menghasilkan 6l'0!
3
yang mengendap. Pada reaksi ini akan membebaskan asam
yang menurut p0 larutan dan bereaksi dengan alkalinitas. Pada penambahan
garam 6luminium atau besi, akan segera terbentuk ion"ion polimer dan dapat
terserap oleh partikel"pertikel. P6$ menggumpalkan ;at";at tersuspensi dan
koloid dalam air untuk menghasilkan flok yang belum sempurna, lalu $a'0!
&
berperan untuk mengikat flok"flok yang belum sempurna tersebut menjadi flok"
flok yang lebih sempurna, dengan perbandingan 4,34 ml P6$ dan 4,-4 ml
$a'0!
&
dalam 344 ml air baku pada uji jar test dilaboratorium. $a'0!
&
bekerja
pada p0 basa sebagai flokulan yang menetralisir p0 asam yaitu P6$ sebagai
koagulan, yang kemudian membentuk flok"flok yang lebih sempurna dan
mempercepat pengendapan dalam penyaringan partikel koloid, yang akan
(
terselubungi oleh koagulan. ,uatan partikel koloid dan hasil hidrolisa akan saling
menetralkan sehingga muatan dari partikel ini mengecil, hingga tergantung dari
p0 serta semacam dosis koagulan, maka besarnya ;at potensial yang akan
diturunkan atau diubah dari sedikit negatif menjadi netral dan akhirnya posif, dan
suspensi ini tidak stabil sehingga terjadi penggumpalan sampai ukuran yang dapat
mengendap. Ceaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah<
6l
&
S'
.
!
3
.*.0
&
')3$a0$'
3
!
&
&6l'0!
3
)3$aS'
.
)*.0
&
')/$'
&
Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan
alum, maka perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida.
Ceaksi kimia penambahan alkalinitas berupa kalsium hidroksida adalah<
6l
&
S'
.
!
3
.*.0
&
' ) 3$a0$'
3
!
&
&6l'0!
3
) 3$aS'
.
) *.0
&
'
+erro sulfat membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar
menghasilkan reaksi yang cepat. 8ntuk itu, $a'0!
&
ditambahkan untuk
mendapatkan p0 pada le#el dimana ion besi diendapkan sebagai +e'0!
3.
Ceaksi
ini adalah reaksi oksidasi"reduksi yang membutuhkan oksigen terlarut air. 9alam
reaksi koagulasi, oksigen direduksi dan ion besi dioksida menjadi ferri, dimana
akan mengendap sebagai +e'0!
3
. 8ntuk berlangsungmya reaksi ini, p0 harus
sekitar -,3 dan kadang"kadang stabilisasi membutuhkan kapur berlebih.
Penggunaan ferri sulfat sebagai koagulan berlangsung mengikuti reaksi<
+e
&
S'
.
!
3
) 3$a0$'
3
!
&
&+e'0!
3
) 3$aS'
.
) /$'
Ceaksi ini biasanya menghasilkan flok yang padat dan cepat mengendap.
=ika alkilinitas alami tidak cukup untuk reaksi, diperlukan penambahan kapur.
Centang p0 optimum adalah sekitar . hingga *&, karena ferri hidroksida relatif
tidak larut dalam rentang p0 ini.
Ceaksi ferri klorida berlangsung pada p0 optimum . sampai *&. +lok yang
terbentuk umumnya padat dan cepat mengendap. Derdapat & perbedaan pada
proses flokulasi yaitu<
*! +lokulasi perikinetik, adalah aglomerasi partikel"partikel sampai ukuran Em
dengan mengandalkan gerakan Bro5nian, biasanya koagulan ditambahkan
untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
F
&! +lokulasi ortokinetik, adalah aglomerasi partikel"partikel sampai ukuran
diatas * Em, dimana gerakan Bro5nian diabaikan pada kecepatan tumbukan
antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan artificial miGing !. dapat
dikurangi dengan proses koagulasi proses destabilisasi! melalui penambahan
bahan kimia dengan muatan berla5anan. Derjadinya muatan pada partikel
menyebabkan antar partikel yang berla5anan cenderung bergabung
membentuk inti flok. Proses koagulasi selalu diikuti oleh proses flokulasi,
yaitu penggabungan inti flok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran
besar.
2.3. Na
3
P)

se*aga' %&agulan
Natrium fosfat adalah istilah umum untuk berbagai garam dari natrium
Na
)
! dan fosfat P'
.
3"
!
.
+osfat juga membentuk anion kental termasuk di", tri",
tetra", dan polifosfat. Sebagian besar garam dikenal bentuk anhidrat bebas air!
dan terhidrasi. Natrium fosfat memiliki banyak aplikasi dalam industri makanan
dan untuk pengolahan air. ,isalnya, natrium fosfat sering digunakan sebagai
untuk mengontrol p0.
Natrium fosfat Na
3
P'
.
! disebut juga DSP trinatrium fosfat! sangat efektif
sebagai ;at pemutih dan menurunkan kesadahan air. 6ir sadah adalah air yang
mengandung ion $a
&),
Na
&),
dan +e
&)
. Ion ini mengendapkan sabun sehingga tidak
berbusa dalam air. Natrium fosfat adalah senya5a kimia ber5arna putih, tidak
mudah terbakar, dan tidak beracun dalam kondisi atmosfer.
Natrium fosfat ber5arna putih berbentuk butiran atau kristal padat dan
sangat larut dalam air menghasilkan larutan alkali. Secara umum natrium fosfat
disintesis dari dinatrium fosfat sehingga sebagian terhidrasi menjadi trisodium
fosfatanhidrat sampai terbentuk trinatrium fosfat Na
3
P'
.
.*&0
&
'!. Natrium fosfat
paling sering ditemukan dalam bentuk bubuk putih, yang sering disebut trinatrium
ortofosfat. Natrium fosfat banyak digunakan dalam pembuatan berbagai macam
sabun dan deterjen.
1egunaan utama dari natrium fosfat adalah sebagai agen pembersih
dengan prinsip koagulan, p0 larutan natrium fosfat *H adalah *&, dan sifat
kelarutannya cukup basa untuk saponifikasi lemak dan minyak. 9alam kombinasi
-
dengan surfaktan, natrium fosfat merupakan agen yang sangat baik untuk
membersihkan segala sesuatu pengotor. 0al ini sangat efektif dengan harga
produksi yang rendah.
Natrium fosfat digunakan karena sifatnya yang akan terionisasi menjadi
anion dan kation. 1ation ini nantinya akan bereaksi dengan alkalinitas dan
mengendap menjadi padatan hidroksida logam yang tidak larut dan akan menarik
kation logam yang berada dalam limbah sehingga koagulan ini efektif untuk
menurunkan kadar logam berat yang terdapat pada limbah elektroplating.
2.. Elektr&+lat'ng
:lektroplating merupakan proses yang digunakan untuk memanipulasi
sifat suatu substrat dengan cara melapisinya dengan logam lain. Proses
elektroplating banyak dibutuhkan oleh industri penghasil benda logam,
diantaranya industri komponen elektronika, peralatan listrik, peralatan olah"raga,
peralatan dapur, dan sebagainya.
Namun demikian proses elektroplating dalam prakteknya masih sulit
dilakukan oleh karena pengendaliannya masih membutuhkan tenaga ahli yang
berpengalaman. 0asil yang diperoleh dalam proses elektroplating dipengaruhi
oleh banyak #ariabel, diantaranya larutan yang digunakan, suhu larutan, durasi
plating, tegangan antara kedua elektroda, keadaan elektroda yang digunakan, dan
sebagainya.
Berdasarkan hasil analisis laboratorium diketahui bah5a air limbah
industri elektroplating mengandung berbagai jenis ion logam berat yang
berbahaya bagi lingkungan khususnya lingkungan perairan sungai. 6ir limbah
industri elektroplating mengandung berbagai jenis ion logam berat seperti ion
kromium $r! #alensi 3 dan /, Dimbal Pb!, Nikel Ni!, Dembaga $u!, Seng In!,
Sianida $N! dan sebagainya. 1andungan ion logam berat pada setiap industri
elektroplating akan berbeda baik jenis ionnya maupun konsentrasinya. 6ir limbah
ini cukup berbahaya jika dibuang langsung ke badan air penerima seperti sungai,
danau, dan laut. 6ir limbah ini dapat mengakibatkan keracunan bagi biota air. 6ir
limbah industri elektroplating dengan kandungan ion logam berat yang melebihi
*4
baku mutu air limbah diperlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke
badan air penerima.
1arakteristik dan tingkat toksisitas dari air limbah elektroplating ber#ariasi
tergantung dari kondisi operasi dan proses pelapisan serta cara pembilasan yang
dilakukan. Pembuangan langsung limbah proses elektroplating tanpa pengolahan
terlebih dahulu ke lingkungan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.
$emaran tersebut dapat mencemari mikroorganisme dan lingkungannya baik
dalam bentuk larutan, koloid, maupun bentuk partikel lainnya. 6palagi dalam
limbah tersebut terdapat kandungan krom %I! yang bersifat lebih toksik karena
sifatnya yang lebih stabil dibandingkan krom III!. 1rom %I! terlebih dahulu
direduksi menjadi krom III! untuk menurunkan toksisitasnya dalam limbah.
BAB III
PEMBAHA$AN
**
Proses pengolahan limbah elektroplating menggunakan natrium fosfat
prinsipnya berdasarkan ada reaksi pengendapan kation logam. 1elarutan fosfat
terutama natrium fosfat yang ditambahkan pada limbah akan membentuk
endapan atau senya5a yang tidak larut. Pada proses pengolahan limbah
elektroplating dengan menggunakan natrium fosfat, selain dapat secara langsung
menyisihkan kandungan logam $r dan Ni didalam limbah, juga terjadi proses
pengendapan yang disebabkan karena adanya gaya tarik inti flok yang berasal dari
endapan yang terbentuk. 0al ini disebabkan karena endapan tersebut berperan
sebagai inti flok yang bersifat elektropositif dan menarik ion '0
"
dan kelebihan
ion P'.
3"
dalam larutan sehingga membentuk flok yang bermuatan negatif yang
juga akan menarik logam"logam lainnya yang masih terdapat dalam larutan.
Logam"logam lain ikut tertarik dan membentuk flok yang lebih besar dan
mengendap. Penentuan rasio massa optimum natrium fosfat yang digunakan
terhadap limbah dalam proses pengurangan kandungan logam berat pada limbah
elektroplating dilakukan dengan metode jar test. Pada makalah ini ditinjau
penurunan kandungan logam krom dan nikel dengan koagulan natrium fosfat.
Penambahan Na3P'. dilakukan untuk mengendapkan krom yang terdapat
pada limbah. Penurunan kandungan krom dapat dilihat pada >ambar 3.*.
,am*ar 3.1. Pengaruh p0 terhadap penyisihan kadar logam krom
1rom pada limbah akan berinteraksi dengan ion P'
.
3"
yang menyebabkan
krom akan mengendap dalam limbah membentuk $rP'
.
. :ndapan $rP'
.
dapat
berperan sebagai inti flok yang bersifat elektropositif dan pada suasana basa akan
*&
menarik ion '0
"
dan kelebihan P'
.
3"
di dalam larutan sehingga membentuk flok
$rP'
.
!
&
3"
yang bermuatan negatif dan dapat menarik kation logam lainnya yang
terdapat dalam limbah. Semakin besar rasio massa koagulan dan limbah, maka
jumlah ion P'
.
!
&
3"
dalam larutan semakin besar dan jumlah flok $rP'
.
!
&
"3
semakin banyak. Pada rasio massa koagulan dan limbah kurang dari (,&/, kadar
krom masih lebih besar dari nilai baku mutunya, dan pada rasio sebesar (,&/
kadarnya telah memenuhi baku mutunya.
Nilai p0 yang semakin besar menyebabkan kadar Ni semakin menurun.
Penurunan kadar Ni telihat secara jelas pada rasio massa koagulan dan limbah
sebesar 4,.3. Pada rasio massa 4,.3 ini kadar Ni sebesar 4,4& mg2L dengan
persentase penyisihan sebesar --,// H. Selain itu, massa koagulan yang semakin
banyak menyebabkan terbentuknya endapan Ni3P'.!&, sehingga kadar Ni
menurun %ogel, *-F3!.
1adar Ni pada harga optimum sebesar 4,4& mg2L telah memenuhi nilai
baku mutunya. Baku mutu Ni menurut 1eputusan ,enteri Lingkungan 0idup No
3* Dahun *--3 tentang Baku ,utu Limbah $air bagi kegiatan industri yaitu
sebesar 4,& mg2L. 8ntuk pengolahan logam nikel dengan penambahan koagulan
Na
3
P'
.
pada proses pengolahan limbah elektroplating dapat dilihat pada >ambar
3.& diba5ah ini<
,am*ar 3.2. Pengaruh p0 terhadap penyisihan kadar logam nikel.
BAB I-
%E$IMPULAN DAN $ARAN
*3
.1. %es'm+ulan
*! Proses pengolahan limbah elektroplating menggunakan natrium fosfat pada
prinsipnya berdasarkan reaksi pengendapan kation logam. 1elarutan fosfat
terutama natrium fosfat yang ditambahkan pada limbah akan membentuk
endapan atau senya5a yang tidak larut.
&! Casio massa koagulan Na
3
P'. optimum untuk mengurangi kadar logam
berat pada limbah elektroplating adalah sebesar (,&/ untuk logam 1rom
dan 4,.3 untuk logam nikel.
3! p0 optimal yang didapatkan yaitu p0 (.
.! Penambahan koagulan Na
3
P'
.
dalam mengelola air limbah elektroplating
dapat mengurangi kadar logam krom dan nikel berturut"turut sebesar
-3,4&H dan --,//H.
.2. $aran
Sebaiknya #ariabel proses pada pengolahan air limbah ini diperbanyak
seperti #ariasi kecepatan pengadukan dan #ariasi 5aktu.
*.